Aku akan tetap melakukannya, meski hatiku menolaknya mentah-mentah. Asalkan itu membuatmu bahagia.


Mereka berdua kembali bertemu sekitar tiga tahun yang lalu, setelah Luhan akhirnya memutuskan kembali melanjutkan kuliahnya di Korea.

Sehun tentu saja terlampau senang mendengar kabar Luhan kembali. Ia bahkan merengek, meminta Luhan untuk ikut mendaftar di kampusnya. Dan Luhan menyetujuinya.

Sehun yang perhatian dan selalu menemani Luhan kemana pun Luhan pergi membuat sebersit perasaan aneh perlahan muncul dalam hati Luhan.

Berbeda dengan Sehun yang menganggap Luhan hanya sebagai sahabat baiknya, Luhan justru sebaliknya. Ia ingin menjadi lebih dari sahabat Sehun. Ia ingin hubungannya dengan Sehun menjadi lebih special.

Ia ingin terus bersama Sehun. Menjalani sisa hidup mereka bersama di bawah sinar rembulan yang terang sambil saling menggumamkan kata cinta.

Namun sepertinya semua itu hanya bisa menjadi mimpi yang tak akan pernah Luhan raih.

Semuanya berubah sejak hari itu. Hari dimana datang sosok bernama Zitao. Pria cantik asal China yang ternyata teman masa kecil Luhan. Sosok anggun yang memiliki aura tajam dan mampu memikat banyak pria.

Termasuk Sehun.

Kenyataan bahwa Sehun menyukai temannya itu membuat Luhan sedikit merasakan nyeri di hatinya. Belum lagi sikap Sehun yang berubah 180 derajat dari sebagaimana mestinya.

Luhan tidak membenci Zitao. Ia senang dengan kedatangan teman masa kecilnya itu. Namun ia iri dengan Zitao.

Tatapan Sehun yang begitu dalam ketika melihat Zitao melintas di hadapannya. Bagaimana Sehun terus tersenyum ketika menceritakan Zitao di hadapan Luhan. Bagaimana Sehun terus bertanya mengenai Zitao kepada Luhan.

Itu semua membuat Luhan perlahan putus asa. Putus asa untuk memperjuangkan cintanya dengan Sehun yang nyatanya hanya bertepuk sebelah tangan.

Luhan menyadarinya. Ia harusnya tidak berharap lebih dengan apa yang dilakukan Sehun kepadanya. Tidak mengharap cintanya akan terbalas dan hidup bahagia bersama Sehun.

Karena Sehun hanya menganggapnya sebagai sahabat. Tidak lebih.


Matahari masih bersinar terik dan kondisi kampus sedang ramai karena jam makan siang. Luhan memilih untuk membaca bukunya di taman, daripada harus berdesakan di kantin yang di penuhi ratusan manusia.

Lagipula ini salah satu caranya untuk menghindari Sehun dan menghapus rasanya pada namja itu perlahan-lahan.

Sehun memang masih mengajaknya untuk ke kantin bersama. Namun Sehun juga mengajak Zitao. Bahkan ketika di kantin, kehadiran Luhan seolah dianggap tidak ada oleh kedua orang itu. Sehingga akhirnya Luhan memutuskan untuk menolak ajakan Sehun beberapa hari ini.

Luhan masih membaca bukunya, sampai akhirnya ia merasakan sebuah benda dingin menyapa pipi kanannya. Ia sontak terkejut, sudah siap mengomeli siapapun yang melakukannya. Namun sebuah suara yang tidak asing baginya lebih dahulu terdengar.

"Ternyata selama ini kau disini, Lu" ucap Sehun seraya menyodorkan sekaleng soda yang baru saja ia beli di kantin. "Ini untukmu"

"Sehun?" Tanya Luhan dengan bodohnya.

"Ya, ini aku" jawab Sehun lalu duduk di samping Luhan. "Sudah tahu mengapa bertanya, bodoh" ia kemudian mengusak surai hitam Luhan gemas. Luhan hanya mengerucutkan bibirnya kesal lalu membuka minuman yang Sehun berikan.

"Aku butuh bantuanmu, Lu" Ujar Sehun tanpa mengalihkan pandangannya dari Luhan. Luhan tetap diam, menunggu Sehun melanjutkan kalimatnya.

"Aku sangat mencintai Zitao. Kau pasti tahu itu bukan?"

Pertanyaan itu sontak membuat sekujur tubuh luhan menegang. Luhan merasakan tarikan nafasnya memendek, begitu juga dengan jantungnya yang berdegub lebih kencang.

"Ya" hanya itu yang keluar dari mulut Luhan. Bahkan untuk mengucapkan kalimat pendek itu saja ia sudah berusaha keras agar suaranya tidak terdengar bergetar.

Sehun tersenyum kemudian melanjutkan, "Aku membutuhkan bantuanmu, Lu" ia berkata sungguh-sungguh sambil menatap Luhan dalam. Oh tidak, Luhan takut Sehun akan menyadari raut wajahnya yang berubah drastis.

"Apa yang bisa aku lakukan untukmu?" Luhan bertanya dengan seulas senyum yang ia paksakan. Berharap Sehun tidak mengetahui apa yang sebenarnya ia rasakan.

Ia harus siap. Luhan harus siap mendengarkan apa yang akan Sehun katakan. Walaupun seluruh tubuhnya dan otaknya memintanya untuk segera pergi, namun ia menahannya. Ia akan menerima apapun yang Sehun katakan, walaupun itu akan menyakiti hatinya sendiri.

"Katakan pada Zitao aku ingin menemuinya sore nanti. Aku akan memintanya menjadi kekasihku"


"Zitao sudah keluar kelas beberapa menit yang lalu" Daehyun -teman sekelas Zitao- menjelaskan kepada Luhan yang baru saja tiba di kelas Zitao.

"Kudengar dia di panggil seseorang ke ruang olahraga, mungkin mereka akan membahas mengenai wushu" lanjut seseorang yang berada di belakang Daehyun.

"Ah, baiklah. Terima kasih info nya" Luhan kemudian membungkuk memberi hormat dan berjalan menuju ruang olahraga yang terletak di gedung bagian timur.

Luhan berjalan sedikit cepat, takut Sehun menunggu terlalu lama di taman sekolah. Ia masih terus berjalan sampai akhirnya terdengar suara yang ia kenal sedang meringis kesakitan.

"Akh! Sa-sakith"

"Zitao?" Gumam Luhan lalu mendekati asal suara itu. Ia mendekati sebuah ruangan dengan pintu terbuka sedikit yang ia ketahui bukan ruang olahraga. Lantas mengapa Zitao ada di sana?

Langkahnya semakin mantap di iringi detak jantungnya yang berdegub semakin keras. Luhan merasakan ada sesuatu yang tidak beres disini, dan ia akan memeriksanya karena ini menyangkut temannya sendiri.

Perlahan mata rusa itu menelaah dari celah pintu yang terbuka sedikit, dan Luhan begitu terkejut dengan apa yang ia lihat sekarang.

Ada Zitao di sana, jatuh terduduk dengan tubuh yang di penuhi darah. Zitao terlihat begitu kesakitan, dan tampaknya tidak ada orang lain yang berada di dalam ruangan itu.

"ZITAO!" Teriak Luhan seraya masuk menuju ruangan dengan cahaya minim tersebut. Ia tidak peduli dengan kondisi sekitarnya yang semakin mencekam, yang terpenting adalah ia harus menolong Zitao sekarang.

"Lu-LUHAN! PER-PERGI!"

Luhan tidak mengerti mengapa Zitao malah memintanya untuk pergi dengan raut wajah ketakutannya. Namun belum sempat ia berpikir lebih jauh, ia merasakan sesuatu menghantam kepalanya dengan keras.

Lalu seketika dunianya gelap.


Update! Maafin ya kalo masih agak kurang jelas. Aku masih newbie nih, jadi mohon bantuannya hehe

Kira-kira apa yang bakal terjadi sama Luhan ya? Pada penasaran gak? Haha

Ditunggu review nya!