Penyakit lama Aomine kumat dan tidak akan ada yang bisa menyembuhkannya, bahkan ponari pun tak akan bisa menyembuhkannya.

Penyakit ini adalah penyakit bawaan dari kecil, penyakit ini tidak menular melalui cairan tubuh atau kontak fisik atau kontak mantan atau kontak bbm apalagi kontak mobil, penyakit ini tidak membajayakan orang sekitar -pengidap penyakit ini sebaiknya harus selalu ditemani.

JANGAN DIJAUHIN.

Kalau kamu jauh-jauh nanti ldr.

Penyakit ini akibat dari pemberian obat tidur saat waktu masih bayi -waktu Aomine masih bayi imut-imut dia pernah diculik lalu diajak ngemis dilampu merah perempatan terdekat, nah biar si Aomine bayi diem dan tidak merepotkan si penculik ini memberi obat tidur, lumayan tampang Aomine waktu bayi ga buluk-buluk banget jadi beberapa orang kasian liat mereka ngemis.

Akibat dari obat tidur itu adalah...


.

Together

Generation of Miracle; Kuroko Tetsuya; Kagami Taiga.

Disclaimer

Kuroko No Basuke belongs to Tadatoshi Fujimaki-sensei and story belongs to Kiriko Saki.

Genre

Humor and Parody

Warns

OOC's, typo(s), absurd, amberegul, membingungkan, Shonen-ai, pair terselubung(?), bahasa gawl, etc

DLDR!

.

.


.

"Murid-murid, kemarin saya memberikan PR fisika 55 soal, tolong kumpulkan sekarang." Ucap sensei yang memampu pelajaran fisika dengan wajah garang, maklumlah, dia sudah dicap guru killer suka ngiler disekolahan ini.

"Sialan, aku belum selesai." Umpat Kagami pelan, "Kumpulkan saja Kagami-kun, daripada kau harus kena hukuman harus membersihkan ilernya." Kuroko menepuk pundak Kagami sembari berdiri untuk mengumpulkan tugas.

Akashi, Midorima, Murasakibara dan Kise mengumpulkan pertama, ya kalau mereka berempat sih jangan ditanya, tiap hari sehabis latihan mereka menyempatkan diri dan hati serta pikiran untuk belajar bersama -alasannya biar masa depan cerah, ya walaupun sepanjang belajar bersama, Murasakibara hanya makan saja.

Kagami melirik kirinya dan matanya langsung melotot habis-habisan. Matanya tidak salah lihat, Aomine dengan percaya diri mengumpulkan tugas fisika, padahal rencananya Kagami ingin mengajak sahabat dimnya itu untuk tidak perlu mengumpulkan tugasnya.

Bah, perkembangan dia.

Karena takut dihukum sendirian, maka lebih baik ia mengumpulkan tugasnya.

Sensei mengecek dan menghitung kertas tugasnya, memastikan semuanya mengumpulkan, lalu saat melihat lembar kesekian yang ia masih ingat siapa yang mengumpulkan itu, sensei mengerutkan keningnya.

"Aomine Daiki..." panggilnya kalem -sekalem suara Akashi saat bersiap-siap meluncurkan gunting coretnerakacoret merahnya. Horror.

Aomine hanya menyahutnya dengan gumaman kecil, "Saya kan meminta untuk mengumpulkan tugas fisika, bukan sertifikat tanah." Sensei menghela nafas sedih, muridnya kok ya pinter banget, sedangkan sekelas hanya menahan tawa, "Bawa ini pulang, nanti dicariin emak kamu lagi." Sensei menangis betina sembari ngiler.

Kagami tahan tawa, padahal tadinya ia mau memuji sahabat gelapnya tetapi tidak jadi karena ternyata yang dikumpulin sertifikat tanah, "Aho, lu kira kita disini lagi lelang tanah?" Kagami tak kuat menahan tawanya lebih lama lagi.

"HAHAHAHAHAHAAA" sekelas tertawa keras dan Aomine tersudutkan, kit ati dia diketawain gini.

Inilah penyakit yang sudah diderita Aomine dan sering kambuh, penyakit pelupa stadium 69.

.

Saat pulang sekolah, Aomine memutuskan untuk pulang duluan, ia masih sakit hati diketawain sama anak sekelas, mana orang yang dia taksir juga ngetawain pula. Ia menahan air mata yang sudah dipelupuk itu.

Sepanjang perjalanan ia hanya tertunduk lesu, ia memikirkan teman sekelasnya yang baru ini sama jahatnya dengan teman sekelasnya yang dulu saat di Touou, padahal ia pindah di Seirin ini guna mencari teman yang tidak akan menertawakan penyakitnya itu.

Ya tapi itulah namanya teman, senang ditanggung bareng-bareng, nelangsa ditanggung diri sendiri.

"Hh" Aomine menghela nafasnya berat, semoga nanti malem ada meteor yang menyambar bumi lalu menyambar kepala teman-temannya agar seketika mereka amnesia parah.

Aomine menangis laki di bawah pohon bringin, "Yaelah, berat amat idup ini...hiks..."

Setelah dirasa cukup lama ia meratapi nasib dibawah pohon bringin ini, ia melanjutkan perjalanan ke barat -kerumahnya maksudnya.

"Tadaima~" ucapnya malas sembari melepas sepatu sekolahnya.

"Loh, dek Daiki," sapa seseorang wanita yang cukup tinggi dan memiliki tubuh langsing sekaligus dada yang waw yang baru dia sadar itu emaknya Satsuki, "eh Momoi-san.."

Ibu Satsuki itu tersenyum lembut, "Dek, ini kantor samsat, kamu udah nyasar kesini 88 kali, yuk saya antar pulang kerumahmu yang beneran."

Aomine nyasarnya parah, ya kali dia sampai tidak bisa membedakan rumahnya dengan kantor samsat yang gede sekaligus luas plus rame itu. (Emang di jepang ada kantor samsat,?)

Ibu Satsuki mengantar Aomine pulang naik odong-odong dari kantor samsat sampai rumahnya.

-3 dekade kemudian-

"Tuh, rumahmu itu yang itu, cat warna biru tua, lain kali jangan nyasar lagi ya, bensin odong-odong itu mahal."

Setelah mengucapkan terimakasih kepada Ibu Satsuki, ia masuk kedalam rumahnya, yang kata Ibu Satsuki ini rumahnya yang beneran.

"Daiki kau sudah pulang." Sapa seseorang dari dalam rumahnya, itu suara ibunya.

"Sudah bu." Sahut Aomine sembari mendekat kearah ibunya dengan tampang aku-abis-dinakalin-temen-sekelas.

Seseorang yang dipanggil ibu oleh Aomine hanya menghela nafas sabar, ya bagaimanapun ini kesalahannya karena waktu Aomine masih bayi ia membiarkan anaknya tidur ditengah lapangan sendirian.

"Daiki, ini ayah bukan ibu."

Aomine hanya cengo.

"Oh, hai ayah, sejak kapan ada disini?"

Aomine senior hanya tersenyum nelangsa, Kami-sama cabut nyawa anakku sekarang, aku sudah lelah dengannya.

Penyakit Aomine Daiki harus segera disembuhkan kalau tidak nanti malah tambah berbahaya.

"Ayah, ini kukembalikan sertifikat tanah milik ayah, aku kira itu adalah pr fisikaku tapi ternyata perkiraanku salah." Setelah menaruh sertifikat tanah diatas meja, Aomine melenggang peegi menuju kamarnya untuk tidur.

Ia sangat lelah hari ini.

Aomine senior menangis sesak didalam dada, astaga anakku.


.

TBC

.


.

hai, maaf untuk apdet yang sangat lama ini, terimakasih karena reader dengan senantiasa mau menunggu fic yang sudah dipenuhi sarang laba-laba ini, terimakasih untuk semua saran dan kritikan.

Maaf untuk segala kekurangan dari fic ini.

Btw, ide ini terinspirasi dari stand up comedy nya...lupa siapa yang stand up pokok ya yg tentang lontong anak pelupa. Hehe... maaf saya nistakan Ahomine ^^