Kau menuduhku, menyumpahi ku dengan sejuta kata-kata tajam mu. Apakah kau membenciku?
Luhan terbangun dengan rasa sakit yang teramat sangat di kepalanya. Hal pertama yang ia lihat adalah warna putih, sampai akhirnya aroma obat-obatan menyeruak masuk ke dalam indra penciumannya. Membuat ia tersadar kini ia sedang berada di rumah sakit.
"Luhan? Kau sudah sadar?" terdengar suara lemah dari samping tubuhnya. Luhan sontak menoleh, lalu mendapati Kyungsoo -sahabatnya- sedang menatapnya dengan tatapan sendunya. Kantung hitam terlihat menghiasi sepasang mata itu.
"Kau tahu? Kau sudah tertidur selama dua hari, bodoh" ujar kyungsoo parau.
"Dua hari?" Tanya Luhan nyaris tak percaya.
"Ya, kau tertidur layaknya putri tidur" kyungsoo kemudian terkekeh pelan. "Aku sendiri bingung apa yang penculik itu lakukan padamu hingga kau tidak sadarkan diri. Namun aku bersyukur kau baik-baik saja"
"Bagaimana dengan Zitao?"
Luhan merasakan ada sesuatu yang janggal ketika ia melihat ekspresi Kyungsoo yang mendadak berubah menjadi muram. Kyungsoo tidak langsung menjawab, ia malah terlihat mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Keheningan mulai mendominasi ruangan itu. Baik Luhan maupun Kyungsoo masih sibuk dengan pikirannya masing-masing. Sampai akhirnya suara Kyungsoo terdengar lagi.
"Zitao-" Kyungsoo merasakan sesuatu menahan suara di tenggorokannya. Air mata yang sudah ia tahan sejak kemarin tidak bisa ia bendung lagi.
Kyungsoo menangis.
Kenyataan bahwa Kyungsoo menangis membuat Luhan semakin panik saja. Di satu sisi ia bingung mengapa Kyungsoo menangis. Di sisi lain ia semakin khawatir dengan keadaan Zitao mengingat kondisi nya yang bisa dibilang tidak baik ketika Luhan menemuinya kemarin.
Luhan perlahan menepuk pundak Kyungsoo, lalu berkata pelan, "Kyungsoo.. Jangan-"
"Zitao sudah pergi" sela Kyungsoo di tengah isakannya. "Ia pergi, Luhan! Ia pergi! Zitao pergi!" Raungnya frustasi.
Seluruh pergerakan Luhan terhenti mendengar penuturan Kyungsoo yang terasa menghantam keras hatinya. Fakta bahwa Zitao sudah pergi seolah menghempaskannya ke dalam jurang yang begitu dalam.
Apa berarti kemarin usahanya sia-sia?
Bayangan ketika Zitao terduduk lemas dengan tubuh di penuhi darah perlahan menghantui pikiran Luhan. Ia masih mengingat segalanya dengan jelas. Bagaimana Zitao menatapnya ketakutan. Bagaimana Zitao menyerukan nama Luhan dan memintanya untuk pergi.
Di tengah-tengah semua pikiran yang masih berputar-putar di kepalanya itu, sebuah nama menyeruak masuk ke dalam pikirannya. Membuat rasa paniknya semakin besar saja.
Bagaimana dengan Sehun?
Pada malam harinya, Luhan memilih untuk sendirian di rumah sakit. Ia sudah meminta Kyungsoo pulang sore tadi. Walaupun sahabatnya itu sempat menolak, namun Luhan tetap memaksanya. Kyungsoo terlihat begitu kelelahan dan jika Luhan memaksanya untuk tetap di rumah sakit, sama saja dengan ia menyiksa Kyungsoo secara perlahan.
Luhan sudah mendengarkan semuanya dari Kyungsoo. Bahwa Zitao meninggal tepat setelah ambulan yang membawa keduanya tiba di rumah sakit.
Kyungsoo juga mengatakan bahwa Luhan dan Zitao di temukan setelah seorang pria yang tidak Kyungsoo ketahui namanya berlari panik menemui Kyungsoo yang saat itu sedang sibuk membuat lagu untuk Ujian tengah Semester.
Dan yang terakhir Kyungsoo katakan adalah Sehun yang terlihat begitu panik dan menyerukan nama Zitao berulang kali seraya memeluk sosok itu erat, setelah ia menemukan Zitao sudah terkapar tak sadarkan diri. Mendengar apa yang Kyungsoo katakan membuat Luhan merasakan nyeri di hatinya, namun ia mencoba mengabaikannya.
Luhan masih tenggelam dalam pikirannya sendiri, sampai akhirnya ia mendengar pintu kamarnya di ketuk. Belum sempat ia menjawab, perlahan pintu kamar itu terbuka dari luar. Lalu menampakkan sosok Oh Sehun yang terlihat begitu berantakan.
Luhan tersenyum begitu tulus ketika melihat Sehun berjalan mendekat dengan ekspresi wajah yang belum pernah Luhan lihat sebelumnya.
Ada kesedihan teramat sangat terpancar dari wajah pria berkulit pucat itu, di ikuti dengan ekspresi yang terlihat begitu kebingungan. Ia terlihat begitu kacau, namun ia berusah menyembunyikannya dengan senyum tipis yang ia tampakkan.
"Hai putri tidur, kau sudah sadar?" Ujar suara bariton itu seraya mengusak surai hitam Luhan.
"Mengapa semua orang memanggil ku putri tidur" Luhan menggembungkan pipinya lucu, mencoba menghibur Sehun walaupun hanya sedikit, "Aku ini namja"
"Jangan banyak bicara, kau masih sakit"
"Jangan memerintahku. Kau bahkan terlihat lebih berantakan, Tuan Oh" Ujar Luhan sementara Sehun hanya tersenyum menanggapi, lalu memilih duduk di kursi yang berada di samping tempat tidur Luhan.
"Hei" ujar Luhan seraya mencubit pipi yang terlihat lebih tirus itu. "Aku tidak suka kau berubah menjadi pendiam seperti ini" lanjutnya lalu mengubah posisinya menjadi duduk dan menghadap Sehun.
"Oh Sehun" Luhan menatap kedua bola mata itu dalam seraya menangkup kedua pipinya "Kita hadapi ini bersama, ya? Bukan hanya kau yang merasakan kehilangan, aku pun juga"
Sehun masih bergeming. Ia hanya menatap kedua bola mata Luhan kosong tanpa mengucapkan apapun. Membuat Luhan semakin sakit saja melihat orang yang notabene masih ada di dalam hatinya terlihat tidak memiliki semangat hidup seperti ini.
"Aku tahu kau ingin menangis sekarang. Oleh karena itu menangislah. Jangan pendam itu sendirian" suara Luhan terdengar semakin lembut.
Dan bagaikan sihir, pertahanan Sehun runtuh seketika. Ia meneteskan air matanya perlahan, lalu tidak sampai hitungan menit air mata itu bertambah banyak.
Kepergian Zitao begitu memukulnya. Kepergian sosok yang ia puja itu membuatnya ingin mati saja. Kepergian sosok itu menghancurkan sebagian besar dirinya.
Ingin rasanya Sehun mengutuk takdir. Takdir yang begitu kejam yang telah memisahkan dirinya dengan orang yang begitu ia cintai. Namun ia menyadarinya, ia hanya manusia biasa yang harus menerima segalanya dengan lapang dada.
Luhan mendekap erat Sehun, mencoba merasakan kesedihan yang Sehun rasakan. Mencoba membantu Sehun mengurangi kesedihannya.
Di tengah suasana haru itu, Sehun kemudian berujar lirih.
"Jangan tinggalkan aku, Luhan"
"Hasil penyelidikan sudah keluar, Tuan"
Dua hari setelahnya, Sehun mendapatkan panggilan dari kantor polisi yang mengatakan bahwa dalang di balik semua kejadian ini sudah di temukan.
Polisi melakukan penyelidikan pada pisau yang pada hari itu tergeletak di sebelah Zitao, yang terbaring tidak jauh dari Luhan. Dan penyelidikan ini atas perintah Oh Sehun sendiri.
Mengapa demikian? Karena Zitao hanya seorang yatim piatu yang tinggal bersama neneknya sebelum ke korea. Oleh karena itu, pihak keluarga tidak meminta penyelidikan lebih lanjut, dan memilih untuk pasrah pada apa yang terjadi.
Berbeda dengan Oh Sehun yang berniat membalaskan dendam pada orang yang berani membunuh Zitao. Kata balas dendam selalu terngiang-ngiang di benaknya, membuat ia semakin geram di buatnya.
Sehun duduk di hadapan polisi itu, lalu memberikan tatapan agar polisi itu segera memberi tahunya 'hasil penyelidikan' yang bisa di bilang cepat sekali di dapatkan.
"Anda pasti bingung mengapa hasil penyelidikan bisa keluar begitu cepat bukan?" Ujar sang polisi sambil membuka berkas yang di bawanya. Sehun hanya diam, menunggu sang polisi melanjutkan penjelasan.
"Selain barang bukti yang kami temukan kemarin" polisi itu terlihat menyipitkan matanya untuk melihat lebih jelas. "Seorang pria asal kanada, Kris memberikan penjelasan yang bisa di bilang cukup mengejutkan"
Alis Sehun terangkat satu. Nama Kris terdengar begitu asing di telinganya. "Siapa dia?" Tanya Sehun penasaran.
"Dia mengaku sebagai salah satu murid baru di sekolah anda Tuan" polisi itu menghembuskan nafas sebelum melanjutkan. "Dia datang kemarin lusa dan mengatakan bahwa ia melihat pembunuhan Zitao dengan kedua bola matanya sendiri"
"Setelah ia memberitahu kami siapa orang yang membunuh Zitao, kami langsung mencari sidik jari orang yang bersangkutan untuk di cocokan dengan sidik jari yang ada di pisau"
"Dan ternyata sidik jari orang yang di beritahu Kris cocok dengan sidik jari yang terdapat di gagang pisau. Menurut penjelasan Kris juga, alasan si pembunuh melakukan ini karena adanya rasa cemburu yang di rasakan si pembunuh." polisi itu mengakhiri penjelasan.
Sehun masih tidak bisa mencerna semuanya dengan baik. Di sisi lain ia senang karena sebentar lagi ia bisa membalaskan dendamnya. Namun ia merasakan ada sesuatu yang tidak beres disini.
Di tengah-tengah itu semua, sang polisi kemudian menyebutkan sebuah nama. Sebuah nama yang membuat rasa marah itu kembali menyerang.
Luhan sedang membereskan baju-bajunya, dengan Kyungsoo yang masih terus berceloteh mengenai lagu yang baru saja ia buat. Luhan sendiri sampai kewalahan menanggapi Kyungsoo.
Hari ini Luhan sudah di perbolehkan pulang dari rumah sakit, karena luka yang ia terima tidak begitu berat. Oleh karena itu suasana hatinya sangat baik sekarang. Ia bahagia karena tidak harus berdiam diri di rumah sakit lagi.
"Kau sudah berjanji akan menemaniku ke makam Zitao bukan?" Tanya Luhan seraya menutup tas nya.
Kyungsoo mengangguk. "Kau sudah menanyakan itu ribuan kali, Luhan" ujar Kyungsoo kesal yang hanya di balas oleh kekehan kecil dari pria bermata rusa itu.
Mereka masih terus berbincang, sampai akhirnya pintu kamar Luhan terbuka cepat dari luar. Luhan dan Kyungsoo serempak melihat ke arah pintu yang menampilkan Oh Sehun dengan tatapan tajamnya.
"Sehunna! Aku su-akh" ucapan Luhan terhenti ketika kerahnya di tarik dengan kencang oleh Sehun, membuat lehernya seperti di cekik. Kyungsoo sudah mencoba untuk melepaskannya, namun Sehun malah menghempaskan tubuhnya dengan kasar ke lantai.
"A-apakh yangh kauhh-akh" pekik Luhan seraya menggenggam celana panjangnya erat untuk melampiaskan rasa sakitnya.
"Pembunuh" desis Sehun tajam tanpa melepaskan tangannya dari kerah Luhan. Luhan tampak tidak mengerti dengan ucapan Sehun. Cengkraman di kerahnya yang begitu keras membuatnya merasa kesakitan dan tidak bisa berpikir dengan baik.
"DASAR KAU PEMBUNUH SIALAN! MATI KAU!"
Haloo! Update hehe. Aneh ya? Maaf banget ya kalau gak sesuai yang kalian ingin. Tapi ya inilah aku apa adanya #plakk
Oke ditunggu aja ya untuk kelanjutannya
Keep reading& reviews!
