Sembilan puluh hari kemudian.

"Luhan?"

"Ya, Sehun?"

"Aku merindukanmu"

"Aku juga merindukanmu, Sehunna. Sangat merindukanmu"

"Aku begitu bodoh kemarin, menuduhmu dan mema-"

"Sstt" Luhan mendekatkan jari telunjuknya ke bibir Sehun. "Tidak baik terus mengingat kesalahanmu di masa lalu kau tahu"

"Tapi-"

"Aku memaafkanmu" ucap Luhan pelan seraya mengusap pipi Sehun lembut. "Jadi berhentilah berkata maaf. Aku membencinya"

Keduanya nampak tersenyum di bawah sinar matahari senja. Danau luas dan taman di sekitar mereka menjadi saksi bisu bagaimana Sehun mulai mendekatkan wajahnya ke Luhan, lalu mengecup bibir Luhan lembut. Ciuman itu begitu sederhana, manis dan tanpa napsu yang berlebihan. Cukup lama mereka menyatukan bibir mereka, sampai akhirnya Sehun melepaskannya terlebih dahulu.

"Bolehkah aku meminta sesuatu padamu?" Tanya Sehun seraya mengusap surai hitam Luhan lembut dengan senyuman yang tak pernah lepas dari wajahnya.

"Sebutkan apa ya kau mau" Luhan ikut tersenyum begitu manis.

"Jangan tinggalkan aku, bahkan jika aku memintamu untuk menjauh dari ku. Tetap bersamaku, disisiku" Sehun kemudian merengkuh tubuh mungil Luhan erat. "Karena aku membutuhkanmu, Xi Luhan"


Luhan terbangun di tengah ruang gelap yang ia ketahui adalah kamarnya.

Mimpi itu datang lagi.

Mimpi yang selalu menghiasi tidurnya selama dua bulan terakhir ini. Mimpi yang membuat ia bangun di tengah malam dengan sebersit rasa hangat di dadanya.

Mimpi itu memiliki arti yang begitu mendalam baginya. Mimpi itu yang membuat ia masih bertahan sampai sekarang. Hanya di mimpi itu, ia masih bisa melihat Sehun tersenyum kepadanya.

Ya, senyuman Sehun kepadanya sirna sejak hari itu. Hari dimana Sehun datang kepadanya dan menuduhnya sebagai dalang dari kematian Zitao. Mencacinya dengan kata-kata kejam yang begitu menusuk hati Luhan. Membuat ia menjadi korban pelampiasan dari kemarahan Sehun.

Sejak hari itu, sikap Sehun kepada Luhan berubah sepenuhnya. Sehun tidak lagi menemani kemana pun Luhan pergi. Sehun tidak lagi membantu Luhan ketika Luhan kesusahan. Sehun tidak lagi merangkul Luhan ketika pria berdarah Cina itu sedang bersedih.

Sehun yang sekarang kini begitu kasar padanya. Suaranya yang dulu lembut ketika berbicara dengan Luhan berubah menjadi suara kejam yang menusuk hati Luhan.

Luhan sempat menyerah, ingin pergi dan hidup bahagia seperti orang lainnya. Namun mimpi itu selalu datang, membuat ia selalu mengurungkan niatnya.

Ia yakin suatu saat nanti Sehun akan membutuhkan dirinya.

Bahkan jika ia harus menunggu sampai ia mati.


"Selamat pagi, Luhan!" Seru Kyungsoo seraya duduk di samping kursi Luhan.

"Oh hai. Selamat pagi, Kyungsoo" balas Luhan yang nampak sedang menulis sesuatu di buku catatannya.

"Apa yang sedang kau lakukan?" Tanya Kyungsoo penasaran.

"Ohh ini" Luhan menutup buku catatannya seraya berdiri dari kursinya. "Bukan apa-apa. Omong-omong ada sesuatu yang harus aku lakukan. Aku pergi duluan ya"

Luhan kemudian berjalan meninggalkan Kyungsoo yang nampak kebingungan. Sebenarnya ia hanya ingin mengunjungi Sehun, memberinya apa yang dimintanya tadi pagi. Luhan sengaja tidak memberi tahu Kyungsoo. Karena setelah tahu perlakuan Sehun yang sudah berubah, Kyungsoo sering melarang Luhan agar tidak bertemu dengan Sehun.

Ya, walaupun Sehun mengatakan bahwa Luhan adalah pembunuh Zitao, Kyungsoo tidak sepenuhnya percaya. Ia memilih untuk terus di samping Luhan dan mendukung temannya itu.

Luhan berjalan di sepanjang koridor kampus sambil terus menghirup udara segar di sekitarnya. Kondisi kampus yang belum terlalu ramai membuat Luhan bisa berjalan dengan damai menuju ruangan kelas Sehun.

Luhan masih terus berjalan, sampai akhirnya ia merasakan tangannya di tarik dengan kasar oleh seseorang. Belum sempat ia mengumpat, semua kata-kata yang hendak ia katakan tertahan di tenggorokannya. Perlahan wajahnya berubah menjadi ketakutan karena melihat Sehun sedang menatapnya tajam.

"Jangan datang ke kelasku, bodoh." Sehun kemudian menyeringai "Kelas ku tidak menerima pembunuh sepertimu" desisnya tajam.

Mendengar kata pembunuh di sebut, membuat Luhan merasakan sesak di dadanya. Ia kemudian menganggukan kepalanya, tanda ia mengerti. Lalu setelahnya ia memberikan buku di tangannya sebelum ia berjalan cepat meninggalkan Sehun.

Sehun hanya memandang kepergian Luhan dengan datar, lalu kembali berjalan menuju kelasnya. Tanpa mereka sadari, sejak tadi ada seseorang yang terus memperhatikan gerak-gerik mereka berdua seraya tersenyum licik.

"Permainan ini belum berakhir, Oh Sehun"


"Aku sudah katakan padamu jangan mendekati Oh Sehun! Mengapa kau begitu keras kepala, Luhan?" Ujar Kyungsoo kesal setelah ia memergoki Luhan baru saja berjalan dari arah kelas Sehun.

"Aku hanya ingin membantunya, kau-"

"Berhenti membantunya ketika ia bahkan tidak peduli tentang dirimu!" Sela Kyungsoo berapi-api.

Beberapa orang sempat menoleh ke arah Kyungsoo, namun ia tidak peduli. Luhan tidak pernah mau mendengar sarannya.

Luhan sedikit terkejut melihat Kyungsoo yang begitu marah padanya. Ia hanya diam, membiarkan Kyungsoo meluapkan semuanya dan menenangkan dirinya sendiri.

"Aku mohon, Luhan. Ini demi kebaikanmu" suara Kyungsoo terdengar lebih lembut. Raut wajahnya juga terlihat lebih tenang, tanpa ada kemarahan yang nampak menghiasinya.

Luhan hanya tersenyum menanggapinya. Tidak menyetujuinya. Ataupun menolaknya.


Kondisi kampus sudah tidak begitu ramai karena sebagian mahasiswa sudah kembali ke kelasnya masing-masing.

Luhan masih disana, duduk sendirian di taman bagian barat kampus, dengan earphone yang bertengger manis di kedua telinganya. Kedua matanya terpejam menikmati alunan musik yang ia dengarkan. Kemeja panjangnya ia lipat hingga siku. Rambut hitam pendeknya ia biarkan dihempaskan angin sore.

Perlahan memori indahnya bersama Sehun terulang lagi. Ada rasa sakit bercampur rasa bahagia yang menguasai dirinya. Ia merindukan Sehun. Ia begitu merindukan sikap pria berkulit pucat itu. Ia begitu merindukan kenangan indah yang mereka pernah jalani bersama.

Ia masih diam di posisinya, sampai ia mendapatkan ponselnya berbunyi menandakan sebuah pesan baru saja masuk. Awalnya ia tidak berniat membukanya. Namun ketika ia melihat nama yang tertera disana, ia langsung membuka pesan itu dengan cepat.

Tempat biasa. Sekarang.

Luhan sudah mengetahui apa itu 'tempat biasa'. Oleh karena itu, ia segera mengambil tas nya, dan berlari cepat meninggalkan taman.

Karena jika ia terlambat, Sehun akan marah kepadanya. Dan ia tidak bisa membiarkan hal itu terjadi.


Luhan sudah sampai ke tempat yang Sehun minta. Kafe dengan suasana modern itu terlihat tidak begitu ramai di siang hari. Luhan segera mengamati tempat di sekelilingnya, sampai akhirnya ia menangkap sosok yang di carinya sedang duduk di dekat jendela membelakangi dirinya.

Ia kemudian berjalan menghampiri Sehun dengan takut, setelah sebelumnya ia merapihkan pakaiannya yang terlihat agak kusut karena harus berlari ke kafe. Belum sempat ia menyapa Sehun, laki-laki itu sudah lebih dahulu berdiri. Lalu kemudian ia membalikkan tubuhnya dan menatap Luhan menakutkan.

"Makhluk tidak berguna" Sehun kemudian mengembalikan buku yang di berikan Luhan tadi pagi dengan kasar. "Kau tahu bukan? Aku tidak suka menunggu lama"

"Ya, Sehun. Aku ta-tahu" cicit Luhan ketakutan."Namun-"

"Sudahlah, aku tidak ingin mendengar penjelasan tak berguna milikmu itu" sela Sehun dingin. Tanpa basa-basi lagi, Sehun kemudian berjalan meninggalkan Luhan yang masih terdiam di tempatnya.

Luhan kemudian duduk di kursi yang tadinya menjadi tempat duduk Sehun. Ia menatap Sehun yang mulai melajukan mobilnya dengan tatapan kosongnya.

Apakah ini memang takdirnya? Merasakan sakit yang tak kunjung hilang. Memendam kesedihan yang ia rasakan sendirian.

"Permisi, boleh aku duduk disini? Kursi lain nampaknya penuh" Luhan tersadar dari lamunannya ketika sebuah suara bariton menyapa pendengarannya. Ia kemudian menoleh ke samping, lalu mendapati seorang pria blasteran sedang tersenyum manis kepadanya.

"Oh ya, silahkan" balas Luhan sopan. Pria itu kemudian duduk dan meletakkan gelas yang ia bawa di meja.

"Apa laki-laki barusan adalah kekasihmu? Apa kalian sedang bertengkar?" Tanya pria itu kepada Luhan. Mendengar kata 'kekasih' di sebut, perlahan pipi tirus Luhan memerah. Perasaan hangat perlahan menyelimuti hatinya. Namun ia kembali terhempas ke realita yang pahit.

Melihat Luhan terdiam, pria itu kemudian berkata lagi. "Oh maafkan aku, mungkin aku keterlaluan ber-"

"Oh tidak-tidak. Bukan itu maksudku" Luhan


mengibaskan kedua tangannya cepat. "Kami hanya teman biasa. Dan dia sedang sedikit kesal hari ini. Oleh karena itu, mungkin kau menganggap kami bertengkar" jelas Luhan dengan senyum yang mengembang di wajahnya.

"Benarkah? Kalian bersekolah di tempat yang sama?" Tanya pria itu semakin penasaran.

"Ya" sahut Luhan. "Kami bersekolah di 'Minguk university'. Hanya saja kami mengambil fakultas yang berbeda"

"Minguk univesity?" Tanya pria itu memastikan. Luhan kemudian mengangguk sebagai jawabannya.

"Aku juga bersekolah di sana, fakultas sastra"

"Benarkah? Aku belum pernah melihatmu disana" Luhan semakin penasaran.

"Ahh. Mungkin karena aku mahasiswa baru disana" pria itu nampak mengulurkan tangannya. "Kalau begitu, namaku Kris Wu. Kau bisa memanggilku Kris. Dan namamu?"

"Luhan. Xi Luhan" Luhan menyambut uluran tangan Kris dengan lembut seraya tersenyum. "Senang berkenalan denganmu, Kris"


"Kau bisa menghubungiku jika kau butuh bantuan" tawar Luhan seraya menyerahkan helm yang ia pegang kepada Kris. "Dan terima kasih atas tumpangannya" lanjut Luhan.

"Tidak perlu sungkan" jawab Kris. "Kalau begitu, aku pergi dulu. Luhan Sunbae"

"Aku sudah katakan, cukup panggil aku Luhan. Kita bahkan seumuran" Luhan terlihat melihat kedua tangannya di depan dada.

"Baiklah, nona Luhan" canda Kris sambil menahan tawanya dengan wajah jahilnya.

"Kris!" Pekik Luhan kesal.

"Baiklah, Luhan. Aku pulang dulu. Sampai bertemu besok" ujar Kris sebelum akhirnya melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Luhan terus tersenyum menatap Kris sampai akhirnya bayangan Kris hilang di ujung jalan.

Ternyata masih ada orang yang bisa ia percaya selain sahabatnya Kyungsoo.


update!

Okeyy setelah membaca review kalian, pertama aku mau bilang makasih. Dannn banyak yang bilang kalo ff nya kependekan. Maaf banget yaaa, soalnya setiap chapter aku buat dalam jangka waktu satu minggu doang. Biar updatenya terpola gitu alias gak telat update. Terus aku lagi sibuk, jadilah aku lanjutin ff ini ketika ada waktu senggang doang:(

Tapi nanti bakal ada yang panjang kok. Jadi ditunggu aja ya kelanjutnyaa! Makasih untuk dukungannya!

Keep reading and reviews!