Kenyataan bahwa kau membenciku terasa begitu menyakitkan. Namun melihat kau begitu rapuh, itu jauh lebih menyakitkan.


Luhan berjalan santai menuju kelasnya, sambil sesekali tersenyum dan membungkuk hormat pada dosen yang berlalu lalang di koridor kampusnya. Suasana hatinya sedang cukup baik hari ini, membuat pria bermata indah itu terlihat begitu bersemangat.

Namun rasa bahagia itu tidak bertahan lama. Itu semua di sebabkan karena sosok itu. Sosok yang terlihat sedang berdiri sendirian di depan kelasnya dengan tatapan kosong. Luhan menghentikan langkahnya, lalu memandang Sehun yang terlihat sedang termenung itu.

"Sehun.." gumam Luhan nyaris tak terdengar.

Sehun tidak tahu apa yang terjadi, namun ia merasa seseorang baru saja memanggil namanya. Laki-laki itu kemudian mengedarkan pandangannya ke sekeliling, sampai akhirnya ia menemukan sosok yang menarik perhatiannya juga sedang menatapnya.

Jarak keduanya tidak begitu berjauhan, namun Luhan merasakan seperti ada sesuatu yang membatasi dirinya dengan Sehun. Secara fisik mereka mungkin memang terlihat dekat. Namun bagi Luhan, jaraknya dengan Sehun sangat jauh.

Mereka masih saling memandang satu sama lain, sampai akhirnya Sehun memutuskan untuk memalingkan wajahnya lalu berjalan masuk menuju kelasnya. Luhan tidak mencoba menyapanya, karena ia takut justru Sehun akan membentaknya dan berlaku kasar padanya. Dan ia tidak menyukai sikap Sehun yang seperti itu.

Baru ia ingin melangkah, matanya menangkap sosok yang familiar baginya sedang berjalan ke arahnya sambil tersenyum simpul. Sosok itu tidak berjalan sendirian, tetapi ada sosok lain yang berjalan mengikutinya di belakang.

"Selamat pagi, Luhan" sapa Kris hangat.

"Selamat pagi juga, Kris" balas Luhan lalu beralih menatap sosok di belakang Kris yang terlihat kebingungan. "Dia temanmu?"

Kris mengikuti arah pandang Luhan, lalu menjawab. "Dia sepupuku" kemudian Kris menarik sosok itu mendekat. "Perkenalkan dirimu"

"Namaku Kim Jongin, kau bisa memanggilku Kai" sosok yang ternyata bernama Kai itu mengulurkan tangannya kepada Luhan. Luhan menyambut uluran tangan itu dengan senang hati, lalu menjawab dengan nada bahagia.

"Aku Luhan. Senang berkenalan denganmu Kai-ssi"

Mereka berdua masih diam dalam posisinya, sampai akhirnya suara Kris yang berat membuat keduanya tersadar. Kai melepaskan tangannya dengan kikuk, lalu mengusap tengkuknya. Tanda bahwa ia begitu gugup hari ini.

"Luhan ini fakultas kesenian. Oleh karena itu kau pergi saja bersamanya" ujar Kris seraya menepuk pundak Kai. Kai tidak menjawab. Ia hanya menganggukan kepalanya lalu menatap ke arah lain

"Maafkan aku, Luhan. Kai sudah meninggalkan Korea cukup lama. Sehingga mungkin ia sedang mencoba bersosialisasi"

"Tidak apa" Luhan tersenyum lalu menarik tangan Kai tanpa ragu. "Sebaiknya kita pergi sekarang, Kai. Aku takut jam pertama akan segera dimulai"

Kai cukup terkejut dengan sikap Luhan, namun ia tidak menolak. Bahkan ketika Luhan mulai menarik tangannya dengan paksa, Kai tetap mengikutinya.

Kai merindukan Amerika. Sudah 9 tahun ia tinggal di negeri Paman Sam itu dan berkarya disana. Namun Kris tiba-tiba memaksanya ikut ke Korea dan memintanya melanjutkan kuliah di tempat yang sama dengannya. Itulah yang menyebabkan Kai agak malas untuk beradaptasi.

"Luhan!" Teriak Kris sebelum dua orang itu berjalan lebih jauh. Luhan kemudian menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Kris.

"Sampai bertemu di kantin!" Ujar Kris ceria. Luhan kemudian tersenyum dan mengangguk sebelum akhirnya ia kembali berjalan bersama Kai.

Tanpa mereka sadari, sejak tadi ada seseorang yang memperhatikan mereka. Mendengarkan semua yang mereka bicarakan. Sehun mendadak geram. Bagaimana bisa Luhan terlihat tersiksa bersamanya sementara ia terlihat begitu bahagia bersama sosok jangkung yang baru pertama kali ia lihat ini?


"Wahh dia begitu tampan!"

"Astaga, apakah benar dia pindahan dari Amerika?"

"Lihatlah, kulitnya saja terlihat begitu eksotis. Aku berani bertaruh pasti bentuk tubuhnya sangat indah!"

"Apa dia sudah punya pacar?

Luhan terkekeh geli mendengar semua komentar dari mahasiswi di kelasnya. Ia kemudian menatap Kai yang nampak acuh sambil terus mengutak-atik ponselnya.

"Selamat pagi" Kyungsoo masuk ke kelas dengan wajah berseri-seri. Tidak ada yang menjawab pertanyaan Kyungsoo. Mereka semua sudah terfokus pada Kai walaupun laki-laki itu terlihat bergeming di tempatnya

Kyungsoo mengedarkan pandangannya ke sekeliling, lalu matanya menangkap Luhan yang sedang duduk di kursi yang biasa mereka tempati. Namun Kyungsoo menyerengit tidak suka ketika mendapati kursinya sudah diisi oleh seseorang yang nampak asing baginya.

Kyungsoo berjalan menghampiri Luhan dengan tangan dilipat di dada. Menyadari ada seseorang yang mendekatinya, Luhan kemudian mengalihkan pandangannya.

"Oh Kyungsoo! Selamat-"

"Apa maksudnya ini? Siapa dia? Mengapa dia duduk di tempatku?" Tanya Kyungsoo bertubi-tubi seraya menunjuk Kai yang masih diam dalam posisinya.

"Dia sepupu dari temanku dan aku sudah berjanji akan mengawasinya. Bisakah kau duduk di tempat lain?"

"Kau bahkan lebih memilih dia daripada aku?" Kyungsoo mendengus pelan. "Baiklah, aku tak peduli" Kyungsoo kemudian memutar tubuhnya dan berjalan menuju meja kosong yang agak jauh dari posisi Luhan.

"Di sebelah sini-" ucapan Luhan terhenti ketika ia melihat Kyungsoo membanting tas nya lalu menggunakkan earphone nya tanpa mengatakan apapun. Luhan memilih untuk diam, karena ia tahu Kyungsoo sedang marah padanya.

Sementara Kai? Ia hanya memandangi tubuh mungil itu dalam diam. Jantungnya berdegub lebih kencang semakin lama ia memandang sosok Kyungsoo yang sedang marah itu.

Oh, apakah ini yang disebut cinta pada pandangan pertama?


"Kyungie" Luhan berkata dengan nada merajuk. "Maafkan aku. Aku tidak bermaksud meminta mu untuk berpindah tempat"

Kyungsoo tidak menghiraukan Luhan. Ia masih saja sibuk menyusun buku musik yang baru saja ia kembalikan ke perpustakaan.

Sebenarnya Kyungsoo hanya pergi ke perpustakaan ini sendirian. Ia tidak marah kepada Luhan, hanya saja ia begitu kesal hari ini. Namun sepertinya Luhan begitu khawatir melihat tingkahnya yang agak berubah hari ini.

"Apakah kau marah kepadaku?"

"Aku tidak marah kepadamu, Luhan" Akhirnya Kyungsoo menjawab seraya meletakkan buku terakhir di rak nya. Ia kemudian berdiri menghadap Luhan, lalu melipat kedua tangannya di depan dada.

"Aku hanya sedang kesal hari ini" Lanjutnya lalu berjalan mendahului Luhan.

"Ada apa?" Tanya Luhan penasaran. Lagi-lagi Kyungsoo hanya diam dan sikap itu membuat Luhan semakin tak sabar saja.

"Kyungsoo-ah.."

"..."

"Kyungiee" ujar Luhan sekali lagi. Namun Kyungsoo masih bergeming.

"Do Ky-"

"Astaga , Luhan! Bisa kah kau diam?" Sela Kyungsoo dengan suara agak keras. Semua orang yang berada di sekitarnya serentak menoleh, lalu kembali fokus ke pekerjaannya masing-masing. Luhan sedikit tersentak mendengar nada bicara Kyungsoo yang agak tinggi, namun ia dengan mudahnya mengontrol mimik wajahnya.

"Baiklah, aku menyerah. Tapi bisakah kita tidak membicarakannya disini?" Kini suara Kyungsoo terdengar lebih lembut. Luhan nampak berpikir sejenak sementara Kyungsoo mengambil tas nya yang tergeletak di meja perpustakaan.

"Bagaimana kalau taman?"


Sehun nampak duduk sendirian di taman barat kampus besar itu. Kedua mata elangnya menatap kosong rerumputan yang terbentang luas di hadapannya. Ia kembali mengingat beberapa bulan yang lalu. Ketika ia duduk disini, menunggu Zitao datang untuk mengungkapkan perasaannya.

Lalu ia ingatannya kembali melayang saat ia menemukan Zitao tergeletak tak berdaya. Rasa sakit itu mulai menggerogoti hatinya lagi. Bahkan setelah 3 bulan berlalu, ia masih belum bisa merelakan kepergian Zitao sepenuhnya. Bayang-bayang pemuda bermata panda itu masih terus berkeliaran di benaknya.

Rasa rindu itu perlahan semakin kuat, dan tanpa sadar sebuah cairan bening meluncur sempurna dari matanya. Sehun cukup terkejut menyadari dirinya menangis, lalu ia menghapus air matanya itu dengan kasar. Setelahnya, pria tinggi itu memilih menatap langit yang luas. Berusaha menahan air matanya yang akan menetes lagi.

"Zitao.." gumamnya lirih. Ia masih betah berada di posisinya. Membayangkan wajah Zitao yang sedang tersenyum manis kepadanya. Namun itu membuatnya semakin sakit saja.

Sehun akhirnya memutuskan untuk berdiri dari bangku taman itu. Lalu mengambil tas nya dan berjalan meninggalkan taman yang baginya memiliki banyak arti baginya. Tempat yang seharusnya menjadi tempat yang tidak pernah ia lupakan karena kenangan manisnya.

Dan tanpa Sehun sadari, Luhan berdiri disana. Di balik pohon rindang yang tidak jauh dari tempatnya duduk tadi.

Luhan menyaksikan semuanya. Bagaimana Sehun masih begitu terpuruk karena kepergian Zitao. Bagaimana Sehun menangis karena merindukan sahabat masa kecilnya itu.

Rasa sakit yang selalu ia sembunyikan selama ini kembali menguasainya. Kedua bola matanya memerah menahan tangisannya. Dan isakan kecil pun perlahan keluar dari bibir mungilnya.

Ia merindukan Sehun. Sangat.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Kau yakin? Ia terlihat begitu menderita"

"Aku tidak peduli"

"Tapi-"

"Bisakah kau tutup mulutmu itu? Kita disini bukan untuk bersenang-senang"

"Ya, aku tahu. Namun semuanya berbeda sekarang"

"Apa maksudmu?"

"Abaikan saja"

"Kau begitu aneh"

"Dan kau begitu kejam"


aku berpikir ada yang aneh pada chapter ini. Tapi gapapa lah, aku update haha (yang panjangan masih menyusul yeaa!)

Okedeee setelah membaca reviewww banyak sekali yang menanyakan mengapa Luhan gak di penjara dan kenapa polisi dengan gampangnya polisi menuduh Luhan. Well ditunggu aja ya chingu. Kalo aku kasih tau sekarang maka ceritanya udah gak seru lagi alias terbongkarrr.

Cerita ini aku buat sengaja agak rumit(sok amat ya:") dannn mungkin agak aneh atau tidak sesuai dengan harapan kalian. Tapi aku pun mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnyaa atas review dari kalian!

Keep reading and reviews!