Masih adakah harapan untukku?


Luhan berlari tergesa-gesa menuju apartemen yang berdiri megah di tengah kota. Jaket yang ia kenakan kemudian ia rapatkan, agar tubuh mungilnya tidak mengigil kedinginan. Ini semua karena pesan Sehun yang memintanya untuk datang sekarang juga ke apartemen nya. Luhan yang saat itu sedang mengerjakan tugasnya pun tanpa berpikir panjang langsung pergi menuju apartemen Sehun.

Ia berdiri sejenak di depan pintu yang ia ketahui adalah pintu apartemen Sehun. Luhan mengatur nafasnya yang masih menggebu-gebu sebelum akhirnya ia memutuskan untuk menekan bel yang terletak di samping pintu.

Luhan merasakan sesuatu yang janggal terjadi ketika pintu besi itu tak kunjung terbuka dari dalam. Ia mencoba mendorong pintu itu dan berhasil. Pintu apartemen Sehun tidak terkunci dan hal pertama yang Luhan lihat adalah kegelapan yang mendominasi apartemen Sehun.

Luhan memberanikan diri untuk masuk, dan mencari saklar lampu yang ia pikir tidak jauh dari pintu masuk. Namun ketika ia menemukan saklar itu, lampu hanya menyala redup. Membuat rasa takut mulai menyelimuti dirinya.

"Sehun?" Luhan berujar di tengah keheningan. Suasana di sekitarnya semakin mencekam dan ia berniat untuk pergi kembali ke rumahnya. Namun niatnya itu ia urungkan ketika ia melihat pintu balkon yang terbuka lebar. Dengan langkah ragu ia mendekati pintu itu, namun hasilnya nihil. Sehun tidak ada disana.

Luhan menatap sekitarnya dengan takut. Ia baru menyadari bahwa apartemen Sehun berada di tingkat yang cukup tinggi. Kedua matanya menatap ke arah jalanan yang terbentang luas di kota Seoul dan rasa takut teramat sangat yang sudah ia pendam kembali menyelimutinya.

Luhan takut ketinggian.

Tubuh mungil itu bergetar takut di iringi dengan nafasnya yang kian memendek. Mendadak kakinya tidak bisa ia gerakkan. Ingatannya kembali melayang ke beberapa tahun yang lalu, awal ketika ia menjadi takut ketinggian. Peluh mulai membasahi dirinya, dan Luhan memutuskan untuk mundur beberapa langkah untuk kembali masuk ke apartemen Sehun. Namun langkahnya terhenti ketika ia mendengar pintu apartemen terbuka, dan suara yang asing menyapa pendengarannya.

"Aku mencintaimu, Sehun. Lupakan ia dan jadilah milikku"

Luhan tersentak mendengar pernyataan yang mulai membunuhnya perlahan. Dengan segenap kekuatan yang ia punya, ia memutar badannya untuk melihat siapa yang datang. Matanya terbelalak ketika ia melihat dua orang yang ia yakini salah satunya adalah Sehun berada di posisi yang sangat dekat. Ia tidak tahu apa yang mereka lakukan, karena kurangnya cahaya yang menyinari apartemen itu.

Luhan merasakan tubuhnya oleng saat itu juga, dan kakinya tiba-tiba terasa lemas. Pria berwajah cantik itu kemudian terduduk di lantai balkon, dengan perasaan yang campur aduk. Takut dan sakit hati.

Di tengah dinginnya angin yang menerpa kota Seoul, Luhan tergeletak lemas disana. Dengan pintu balkon yang terbuka sedikit, ia menggumamkan nama Sehun berkali-kali. Sampai akhirnya kedua mata itu terpejam erat, dan kesadaran Luhan pun menghilang.


"Dimana ponsel sialan itu?" Gerutu Sehun sambil terus berjalan mengelilingi apartemennya.

"Apa yang sedang kau cari, Sehun?" Ujar seseorang yang sedang duduk di bar dengan segelas air di tangannya. Sehun tidak mempedulikan ucapan sosok itu kemudian berjalan menuju kamarnya. Namun nampaknya sosok itu tidak menyerah. Ia berjalan menyusul Sehun yang nampaknya semakin kebingungan.

"Aku bertanya apa yang sedang kau cari." Ujar sosok itu sekali lagi.

"Ponsel" balas Sehun tanpa menatap sosok itu. "Untuk menghubungi taksi yang akan mengantarmu pulang"

"Kau tidak akan mengantarku?" Sosok itu menyerengit tidak suka. Sehun kemudian menghentikan kegiatannya dan menatap sosok itu dengan alis terangkat satu.

"Haruskah aku mengantarmu?"

"Tentu saja harus!"

"Memangnya kau siapa?" Balas Sehun dingin. Sosok itu sempat terkejut namun dengan cepat ia mengendalikan dirinya.

"Aku adalah kekasihmu, Oh-"

"Sejak kapan kau menjadi kekasihku?" Potong Sehun yang kemudian berjalan mendekati sosok itu dengan tangan terlipat di dada. "Asal kau tahu saja, bodoh. Banyak orang yang sudah menyatakan cintanya di hadapanku dan aku menolaknya. Bisa-bisanya kau berpikir aku menjadi kekasihmu hanya karena kalimat aneh yang kau ucapkan tadi" ujarnya tajam.

"Oh Sehun!" Pekik sosok itu tidak suka.

"Bisakah kau tidak berteriak? Bahkan suaramu terdengar begitu aneh" Sehun kemudian membuka pintu kamarnya dan menunjuk ke arah pintu apartemennya. "Kalau urusanmu sudah selesai, kau bisa keluar, Irene"

Irene menatap kesal Sehun lalu berjalan menuju bar untuk mengambil tas nya. Ia kemudian berjalan keluar dari apartemen tanpa mengucapkan apapun.

Blam!

Sehun mendengus mendengar pintu apartemennya di bating keras dari luar. Ia kemudian kembali kepada kegiatan awalnya, mencari ponselnya yang tak kunjung di temukan. Namun saat ia mencoba mencari lagi ponselnya dari awal pintu masuk, matanya melihat benda yang ia ketahui bukan miliknya.

Sepasang sepatu.

Sehun mengangkat sepatu itu ke udara, mengesampingkan pencarian ponselnya. Sepasang sepatu itu begitu menarik perhatiannya, dan sepertinya ia pernah melihat sepatu itu di suatu tempat.

Apa ada yang memasuki apartemennya?

Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling lalu bernafas lega ketika ia melihat ponselnya terletak tidak begitu jauh dari rak sepatu. Ia sendiri lupa mengapa ia bisa meletakkan ponselnya disana. Karena setahunya, terakhir ia meletakkan ponselnya di atas nakas.

Ia meraih benda persegi panjang itu dan menyalakan layarnya. Ia sedikit terkejut ketika mendapati pesan masuk yang ternyata dari Luhan. Ada urusan apa sampai pria yang paling ia benci itu menghubunginya?

Aku akan kesana sebentar lagi.

Kesana? Kening Sehun berkerut samar. Apa yang laki-laki ini bicarakan sebenarnya? Sehun kemudian memeriksa beberapa pesan yang ia kirim dan betapa terkejutnya ia ketika mendapati semua pesannya telah di hapus oleh orang lain.

Sehun merasakan sesuatu yang aneh menguasai dirinya. Entah mengapa namun ia sedikit khawatir terlebih mengingat sepatu yang masih ada di genggaman nya.

Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling, lalu berjalan ke setiap sudut apartemennya. Matanya menatap tajam ke segala arah sampai akhirnya kedua mata elangnya tertuju pada pintu balkon yang sedikit terbuka. Dengan langkah mantap ia berjalan dengan niat menutup pintu itu. Namun langkahnya terhenti ketika ia mendapati seseorang tergeletak lemas disana.

Dia Luhan. Dengan wajah pucat juga bibir yang mulai membiru. Sehun membeku di tempatnya. Suhu malam ini tidak sehangat biasanya. Dan dari yang ia ingat, Luhan adalah orang yang sangat takut pada ketinggian.

Ia masih enggan bergerak. Hatinya sudah memerintahkannya untuk membantu Luhan. Namun ego nya mengalahkan segalanya.

Tapi dia masih Oh Sehun yang sama. Oh Sehun yang masih memiliki hati nurani. Oleh karena itu, ia kemudian mengangkat tubuh ringkih Luhan, lalu menggendongnya masuk dan meletakannya di sofa apartemennya. Dan tanpa suara, ia masuk ke dalam kamarnya. Meninggalkan Luhan yang masih diam tak berdaya.


Matahari sudah mulai menampakkan cahayanya. Udara yang tadinya dingin kini berganti menjadi udara sejuk yang menenangkan jiwa.

Luhan membuka matanya perlahan, lalu beberapa kali mengerjabkannya. Ia menatap sekelilingnya, dan sedikit terkejut mendapati kini dirinya terbaring di sofa. Masih dengan baju yang sama dengan kemarin.

Ia kemudian berdiri dengan satu gerakan cepat, takut jika Sehun bangun dan akan memarahi dirinya. Namun baru ia ingin mengenakan sepatunya, suara Sehun terdengar cukup keras.

"Bagaimana bisa kau masuk ke apartemen ku?" Suara itu terdengar begitu dingin. Luhan menoleh dengan perlahan, lalu matanya menatap takut ke arah Sehun.

Karena Luhan yang tidak bergerak sedikit pun, Sehun berjalan menghampiri Luhan. Membuat Luhan mundur selangkah karena takut.

"Apa yang kau lakukan di apartemen ku? Ada urusan apa kau disini?" Luhan bingung mendengar apa yang baru saja Sehun katakan. Bukankah ia yang meminta Luhan untuk datang? Mengapa justru Sehun berkata seolah tidak terjadi apa-apa?

Melihat Luhan masih bungkam, Sehun semakin geram saja. Ia mencengkram keras lengan Luhan, membuat si pemilik meringis kesakitan.

"Kau ini tuli atau apa? Mengapa kau tidak menjawab pertanyaanku, pembunuh?" Ujar Sehun kejam.

"Kau- kau yang mintaku datang Se-ahh"

"Apa maksudmu? Siapa yang memintamu datang hah?"

Luhan semakin tidak mengerti dengan apa yang di katakan Sehun. Namun di sisa keberaniannya, ia kembali berujar. "Kau mengirimku pesan untuk datang ke apartemenmu kemarin"

"Hentikan omong kosong mu!" Sehun menghempaskan lengan Luhan hingga pria itu nyaris terjatuh. Namun kini ia mendorong pundak Luhan dengan kasar ke dinding, membuat Luhan kembali merasakan pusing di kepalanya.

"Aku tanya sekali lagi, siapa yang memintamu datang?"

Luham kemudian tersenyum dan menjawab dengan suara nyaris tak terdengar karena suaranya yang hampir habis. "Kau yang memintaku datang dari pesan yang kau kirim kemarin malam" Luhan memberi jeda di kalimatnya "Apa kau perlu bukti?"

Sehun terdiam ketika Luhan mengambil ponsel miliknya dan menunjukkan pesan yang berasal dari nomornya sendiri. Cengkramannya di pundak Luhan mengendur, dan matanya masih menatap pesan itu dengan hati-hati.

Datang ke apartemen ku. Sekarang.

Luhan kemudian menarik ponselnya dan kembali meletakkannya di saku. Luhan merasakan ada sesuatu yang aneh, namun otaknya semakin pusing saja ketika ia memaksakan untuk berpikir.

"Aku-aku harus pulang" Luhan kemudian bergerak menjauhi Sehun. Luhan takut jika ia terlalu lama disini, bisa-bisa ia pingsan di hadapan Sehun. "Ada tugas yang harus aku kumpulkan. Selamat tinggal"

Luhan mengenakan sepatunya asal lalu berjalan keluar dari apartemen Sehun. Sementara Sehun hanya diam, mencoba memikirkan segala kemungkinan yang terjadi.

Luhan mendapatkan pesan dari dirinya sendiri.

Pesan yang ia kirim mendadak mengilang tak bersisa.

Ia menemukan Luhan tergeletak di balkon apartemennya. Padahal ia tahu kalau Luhan tidak mungkin ke tempat setinggi itu.

Sehun yakin ada yang tidak beres disini. Dan entah mengapa ia tergerak untuk menyelidikinya.

Apa ini semua karena Luhan?


"Kau yakin tidak apa-apa?" Tanya Kyungsoo khawatir seraya memegang pundak Luhan. Luhan hanya mengangguk lemas dengan senyuman yang masih menghiasi wajahnya.

Kyungsoo kemudian duduk di samping Luhan, lalu berkata. "Wajahmu pucat"

"Aku tidak apa-apa, kau tidak perlu khawatir" ujar Luhan parau.

"Tapi Luh-"

"Aku ke kamar kecil sebentar" Luhan berdiri dari kursinya. Melihat Kyungsoo hendak berdiri, Luhan kemudian menambahkan. "Kau disini saja, Kyungsoo"

Kyungsoo hanya bisa menatap punggung Luhan yang berjalan menjauh. Luhan terlihat tidak menoleh sama sekali, bahkan ketika Kai masuk ke dalam kelas dan menyapanya. Kai menatap Luhan bingung, lalu ia menatap Kyungsoo yang juga sedang menatapnya. Mereka bertatapan cukup lama sampai akhirnya Kyungsoo memilih untuk berpaling. Memutus kontak matanya dengan Kai.

Kai kemudian berjalan menghampiri Kyungsoo yang masih diam dalam posisinya. Laki-laki berkulit gelap itu kemudian duduk di hadapan Kyungsoo tanpa mengalihkan tatapannya sama sekali. Merasa di perhatikan, Kyungsoo kemudian mendongak. Dan matanya bertemu dengan mata elang Kai.

"Apa?" Tanya Kyungsoo singkat.

"Apanya yang apa?"

"Kau mau apa?"

"Aku mau apa?"

Kyungsoo mendesah pelan lalu memutar kedua bola matanya malas. Apa yang sebenarnya laki-laki ini inginkan?

"Jangan berbelit-belit, Kim Jongin" tukas Kyungsoo. Kai hanya diam lalu memutar badannya menghadap ke depan. Kemudian setelahnya, ia mengeluarkan ponselnya dan tidak mempedulikkan sekitarnya. Membuat Kyungsoo hanya bisa memijat pelan pelipisnya, lalu melanjutkan apa yang ia lakukan sebelumnya.


Luhan membasuh wajahnya beberapa kali seraya melihat pantulan dirinya di cermin. Memang benar apa yang di katakan Kyungsoo tadi. Ia terlihat begitu pucat, dengan bibir yang membiru dan kantung mata di bawah matanya. Pusing di kepalanya juga tak kunjung hilang sejak tadi pagi.

Ini semua karena kejadian di apartemen Sehun tadi pagi. Dan Luhan tidak sempat meminum obatnya karena harus segera pergi ke kampus.

Luhan masih terus memperhatikan dirinya di cermin, sampai akhirnya seseorang masuk ke dalam kamar mandi. Awalnya Luhan hanya diam dalam posisinya, namun ketika mengetahui siapa yang masuk ia tersenyum.

"Hai, Luhan" sapa Kris hangat sebelum Luhan menyapanya.

"Hai, Kris. Apa yang kau lakukan?" Tanya Luhan penasaran.

"Tentu saja pergi ke kamar kecil, apalagi memangnya?" Jawab Kris santai. Mereka berdua kemudian terus berbincang disana. Kris menanyakan bagaimana keadaan Luhan melihat kondisi nya yang begitu menyedihkan. Dan Luhan hanya berkata bahwa ia baik-baik saja dengan senyum yang terpampang di wajahnya.

Blam!

"Sehun..." Ekspresi Luhan berubah ketika melihat siapa yang baru saja masuk dan menutup pintu. Kris mengikuti arah pandang Luhan dan menemukan Sehun yang sedang berdiri menjulang di dekat pintu.

"Sehun?" Kris kemudian membenahi kacamatanya "Kau Oh Sehun? Teman Xi Luhan?"

"Kris-"

"Ternyata benar" Kris menjulurkan tangannya, berniat untuk berjabat tangan dengan laki-laki berwajah datar itu "Aku Kris, fakultas sastra. Senang berkenalan denganmu, Sehun" ujar Kris ramah.

Sehun hanya melirik tangan Kris tanpa minat lalu berjalan melalui Kris dan Luhan. Melihat itu, Luhan kemudian menarik tangan Kris tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Menarik tiang listrik itu keluar dari kamar mandi. Tanpa mempedulikan Sehun yang masih memandangnya.


"Temanmu itu benar-benar dingin" ucap Kris ketika mereka sudah berada di koridor.

"Dia tidak seperti itu sebenarnya. Dulu dia adalah anak yang baik dan sangat setia kepada temannya. Ia sebenarnya hanya bocah ingusan yang-"

"Sepertinya kau tahu banyak mengenai dirinya. Apa kau menyukainya?" Sela Kris yang membuat Luhan menghentikan ucapannya. Luhan mengatupkan bibirnya rapat, namun tetap berjalan di depan Kris.

"Ternyata benar kau menyuka-"

"Dia sudah mempunyai kekasih, Kris. Berhenti berkata omong kosong" sela Luhan sambil masih terus berjalan. Kris agak terkejut mengetahui Sehun sudah memiliki kekasih. Karena setahunya, laki-laki itu belum bisa melupakan Zitao.

Keheningan masih menyelimuti keduanya. Luhan masih berjalan tanpa menghadap Kris sedikit pun. Dan Kris dengan setia mengikuti Luhan di belakangnya.

Mereka masih diam, sampai akhirnya tiba di depan pintu kelas Kris. Luhan meminta Kris masuk dengan lembut dan Kris menurutinya. Kris kemudian mengusak pelan surai Luhan sebelum akhirnya ia masuk ke kelas dan meninggalkan Luhan sendirian.


Sehun sudah tiba di kampus lebih pagi dari sebelumnya. Entah apa yang terjadi, namun ia ingin melihat Luhan datang dengan keadaan baik-baik saja. Mengingat tadi pagi wajah Luhan yang terlihat begitu pucat sebelum meninggalkan apartemen Sehun.

Cukup lama ia menunggu, sampai akhirnya orang yang ia tunggu tiba. Luhan berjalan di koridor dengan langkah setengah di seret. Mata sayu nya menatap lurus ke depan. Keadaan itu membuat semua orang yang melihat Luhan pasti yakin bahwa pria berdarah cina itu tidak baik-baik saja.

Perlahan Sehun berjalan mengikuti Luhan, hingga sosok mungil itu masuk ke dalam kelasnya. Sehun sendiri masih diam, lalu memandang Luhan dengan tatapan datar. Namun ia sedikit menyerengit ketika mendapati Luhan berdiri dari kursinya, lalu kembali berjalan meninggalkan kelas. Dan lagi-lagi Sehun mengikutinya. Ia pun tidak tahu apa yang terjadi padanya yang membuatnya mengikuti Luhan sampai ke kamar mandi.

Sehun tidak berniat masuk awalnya. Tetapi ketika ia hendak berbalik, ia melihat orang yang tidak asing baginya berjalan lalu masuk ke kamar mandi. Sehun pernah melihat sosok itu sebelumnya. Ia adalah orang yang Sehun lihat saat itu sedang berbincang dengan Luhan di depan kelasnya. Bedanya, sosok itu berjalan sendirian. Tidak ada sosok lain yang mengikutinya.

Sehun masih diam di tempatnya karena Luhan yang tak kunjung keluar. Karena penasaran, ia kemudian masuk. Dan mendapati Luhan yang sejak tadi berbincang terkejut karena kedatangannya.

"Sehun..." ujar Luhan pelan. Ia terlihat begitu ketakutan memandang Sehun.

"Sehun?" Kini giliran sosok yang lebih tinggi menyahut. Sehun melihat sosok itu yang terlihat membenahi kacamatanya untuk melihat Sehun lebih jelas. "Kau Oh Sehun? Teman Xi Luhan?"

"Kris-"

"Ternyata benar" Sehun melihat laki-laki itu menjulurkan tangan padanya. "Aku Kris, fakultas sastra. Senang berkenalan denganmu, Sehun" meskipun Kris mengucapkannya dengan sopan, namun Sehun tetap tidak menyukainya. Menurutnya ada yang agak aneh dengan sosok di depannya. Tapi ia tidak tahu apa itu.

Ia hanya menatap tangan itu sebentar, lalu berjalan melewati keduanya menuju wastafel. Setelahnya, ia melihat Luhan menarik Kris keluar dari pantulan kaca, sebelum akhirnya mereka berdua hilang di balik pintu.


Luhan merasakan tubuhnya semakin lemas saja. Materi yang di jelaskan oleh dosennya bahkan tidak bisa di cerna nya. Bergerak pun memerlukan tenaga yang cukup banyak. Sehingga saat Kyungsoo mengajaknya untuk ke kantin, ia menolaknya dengan halus.

Kedua mata itu masih terpejam, sampai akhirnya Luhan mendengar ponselnya berdering. Ia kemudian melirik ponsel itu dengan malas, namun ia bergegas berdiri ketika melihat pesan yang masuk.

Pesan itu dari Sehun. Dan ia meminta Luhan menemuinya sekarang juga.

Luhan kemudian berjalan menyusuri koridor dengan langkah sempoyongan. Dan Luhan bernafas lega ketika ia menemukan Sehun sedang duduk di bangku yang berjejer di koridor. Namun dahinya berkerut samar ketika ia melihat di samping Sehun ada seorang perempuan yang bergelayut mesra pada Sehun.

Merasa di perhatikan, Sehun kemudian berpaling. Dan matanya menatap lurus Luhan yang kembali berjalan mendekatinya. Perempuan di sebelahnya pun mengikuti arah pandang Sehun, dan setelahnya ia tersenyum penuh arti kepada Luhan.

"Ada apa?"

"Oh aku yang memintamu datang, Luhan. Kata Sehun aku bisa meminta bantuan padamu" ujar Irene girang.

"Bantuan?" Tanya Luhan bingung.

"Ya" sahut Irene lalu memberikan secarik kertas pada Luhan. "Bisakah kau mencari semua buku yang ada di list itu. Aku tidak begitu suka perpustakaan kau tahu"

Luhan memandang kertas itu dan melihat semua judul buku yang tertulis disana. "Mengapa aku harus melakukannya untukmu?"

"Tentu saja harus!" Seru Irene girang seraya merangkul lengan Sehun erat. Sehun nampak acuh dan tenggelam dalam pikirannya sendiri. Dan setelahnya, Irene mengucapkan kalimat yang membuat Luhan ingin jatuh saat itu juga

"Karena aku kekasih Oh Sehun, sahabatmu"


update yeyy

sorry yaa update nya telat sehari. Kemaren koneksi sangat bermasalah:(

Okey makasih ya buat semua review,follow, dan fav nya! Itu semua yang ngebuat aku semakin semangat lanjutin ff ini hehe.

Ceritanya udah mulai rumit nih. Tapi aku masih blom ke inti nya. Masih agak jauh mungkin/? Jadi mohon sabar ya. Aku juga lagi berusaha agar ff ini berjalan dengan baik.

Keep reading and reviews!