Aku memang rapuh, namun aku akan berusaha menjadi kuat demi dirimu.
"Luhan, jangan keras kepala. Kita ke rumah sakit sekarang" ujar Kyungsoo tegas melihat kondisi Luhan yang masih sama seperti kemarin. Lemas dan tidak bersemangat. Respon Luhan pun masih sama seperti sebelumnya. Hanya menggeleng lemah lalu kembali menyembunyikan wajahnya.
"Ada apa?" Tanya Kai yang baru datang dan berdiri di samping Kyungsoo yang sedang melipat tangannya di dada dengan ekspresi wajah kesal.
Kyungsoo tidak suka dengan Kai. Entah mengapa laki-laki itu begitu mengganggunya. Namun kali ini ia lebih mengesampingkan egonya karena kondisi Luhan yang begitu memperihatinkan.
"Luhan..." Kyungsoo mendesah pelan tanpa melepaskan tatapannya dari Luhan "Kondisinya tidak jauh berbeda dari kemarin"
"Dia sakit?" Tanya Kai polos dan langsung mendapat tatapan tajam dari Kyungsoo.
"Sudah tau mengapa bertanya, bodoh" jawab Kyungsoo kesal lalu berjalan meninggalkan Kai dan Luhan menuju kursinya. Kai kemudian berjalan menuju Kyungsoo dan duduk di sampingnya. Sementara Kyungsoo memilih untuk membaca novel yang ia bawa dari rumah.
Melihat Kyungsoo yang nampak mengacuhkannya, Kai bergumam pelan "sepertinya kau tidak menyukai kehadiranku" ia kemudian mengalihkan pandangannya dari Kyungsoo dan menatap lurus ke depan. "Apa yang telah aku lakukan padamu? Apakah aku pernah menyakitimu? Kita bahkan baru bertemu" Lanjutnya lebih kepada dirinya sendiri. Karena ia yakin Kyungsoo masih mengacuhkannya dan tidak mendengatkannya.
Namun dugaannya salah. Walaupun Kyungsoo tidak menatapnya, namun Kyungsoo mendengarkan semuanya. Ia bukan tipe orang yang tidak peka terhadap lingkungan sekitarnya.
"Karena aku merasa ada yang aneh dari kau, jongin" gumamnya nyaris tak terdengar.
Luhan baru saja keluar dari perpustakaan dengan setumpuk buku di tangannya. Kyungsoo sebenarnya sudah menahannya. Namun karena Luhan memaksa, Kyungsoo akhirnya menyetujuinya dengan syarat Luhan harus ikut dengannya ke rumah sakit saat pulang nanti. Dan mau tidak mau Luhan menyetujuinya. Karena ini demi Sehun.
Setumpuk buku yang kini berada di tangannya merupakan buku yang di minta Irene kemarin. Dan ia mendapatkan pesan dari Sehun kalau Irene meminta buku itu saat jam istirahat. Dan Luhan pun bergegas pergi ke perpustakaan.
Luhan sudah melihat Sehun dan Irene yang duduk di salah satu kursi depan kelas Sehun, dan Luhan memilih untuk berhenti sejenak lalu mengatur nafasnya. Kedua insan itu nampak berbincang-bincang, walaupun Irene terlihat lebih antusias sementara Sehun menanggapinya sedikit. Luhan memutuskan kembali berjalan mendekati keduanya, sampai akhirnya Irene menoleh karena merasa seseorang berjalan ke arahnya.
"Luhan! Kau sudah tiba" ia tersenyum manis lalu menatap buku yang berada di tangan Luhan. "Apa itu buku yang aku minta kemarin?"
Luhan hanya mengangguk menanggapi, sementara Sehun menatap keduanya datar. Luhan memilih untuk tidak menatap Sehun dan hanya fokus kepada Irene.
"Ternyata benar katamu, chagi. Luhan adalah sahabat yang terbaik" Irene menatap Sehun lalu mengeratkan pelukannya di lengan Sehun, membuat Luhan yang melihatnya merasakan sakit di dadanya. Irene kemudian kembali menatap Luhan yang mulai terlihat kesusahan. "Apa buku itu sangat berat untuk laki-laki sepertimu?"
"Tidak" jawab Luhan cepat.
"Lalu mengapa kau terlihat begitu tersiksa? Kau ini laki-laki macam apa" ujar Irene tajam tanpa memperhatikan raut wajah Luhan yang berubah. Luhan kemudian menatap Sehun yang terlihat acuh dan tidak berniat membantunya. Benar-benar berbeda dari Sehun yang sebelumnya.
Luhan hendak melempar semua buku yang berada di tangannya lalu berjalan cepat meninggalkan kedua orang tersebut. Namun yang ia lakukan malah tersenyum lalu berkata pelan penuh penyesalan "Maafkan aku, lain kali tidak akan seperti ini lagi"
"Baguslah jika kau tahu kau salah" Irene tersenyum penuh kemenangan. "Tapi tiba-tiba aku tidak berniat membaca buku-buku itu. Bagaimana jika kau mengembalikannya ke perpustakaan,Luhan?"
Mata Luhan membulat sempurna mendengar pernyataan Irene yang begitu kurang ajar menurutnya. Namun ia belum sempat berkata apapun karena Irene segera menarik Sehun pergi dan meninggalkan Luhan sendirian.
"Luhan hanya sakit biasa, namun dia harus ber istirahat jika ingin lekas sembuh"
Sekarang Luhan dan Kyungsoo sedang berada di rumah sakit untuk memeriksa kondisi Luhan. Mereka hanya pergi berdua walaupun sebenarnya Kai ingin ikut bersama mereka.
"Ini resep obatnya" sang dokter memberikan secarik kertas pada Kyungsoo "silahkan di ambil di bagian farmasi"
"Terima kasih, dok. Kalau begitu kami permisi" Ujar Kyungsoo seraya tersenyum lalu berdiri dan berjalan menuju Luhan yang terbaring di tempat tidur. "Ayo Luhan, kita pergi"
Luhan membuka kedua matanya perlahan lalu menatap Kyungsoo yang juga sedang tersenyum menatapnya. Melihat itu membuat kedua sudut bibir pria mungil itu ikut terangkat. Luhan kemudian mengangguk pelan lalu duduk dan akhirnya pergi keluar bersama Kyungsoo.
"Tapi aku ingin tetap kuliah, kyungsoo-ahh" ujar Luhan merajuk setelah mendengar Kyungsoo memintanya untuk istirahat di rumah selama dua hari. Kyungsoo tetap bergeming dan terus fokus mengendarai mini coopernya.
"Kyungie, jangan mengabaikankuu" Luhan membuat suaranya terdengar lebih merajuk.
"..."
"Kyungsooo"
"..."
"Do Kyungiee"
"..."
"Poro-"
"Ya Tuhan, Luhan! Berhenti merajuk karena kau begitu mengganggu konsentrasiku! Apakah kau ingin kita berakhir di rumah sakit?" Sahut Kyungsoo kesal tanpa menatap Luhan yang kini mengerucutkan bibirnya lucu. Sepertinya sifat manjanya kembali muncul, dan Kyungsoo senang karena Luhan yang dulu, sikap Luhan yang manja kepadanya kembali muncul di saat-saat seperti ini.
"Huh! Menyebalkan sekali kau ini"
"Kau lebih menyebalkan" balas Kyungsoo tak mau kalah.
"Terserah"
Mendengar nada Luhan yang berubah, Kyungsoo akhirnya menatap Luhan yang kini nampak menatap kosong ke luar jendela. Melihat itu membuat Kyungsoo yakin kalau temannya itu pasti sedang marah padanya.
"Kau marah?" Tanya Kyungsoo akhirnya. Luhan hanya menggeleng sebagai jawaban tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan raya.
"Lalu kau mau apa?" Kyungsoo bertanya sekali lagi. Luhan tidak langsung menjawab pertanyaan itu. Dia nampak berpikir sejenak sampai akhirnya kedua mata rusa itu nampak berbinar.
"Aku ingin bubble tea! Aku merindukannya"
Mobil mini cooper itu sudah tiba di kedai bubble tea yang biasa Luhan kunjungi dahulu. Bersama Sehun tentunya. Hampir setiap hari mereka kesana lalu menikmati bubble tea bersama, sambil menatap langit senja yang begitu indah.
Awalnya Kyungsoo sempat menolak, mengingat kondisi Luhan yang sedang tidak begitu sehat. Namun karena melihat Luhan yang nampak begitu menginginkannya, mau tidak mau Kyungsoo membelokkan mobilnya menuju kedai bubble tea yang Luhan maksud.
Kedua manusia itu berjalan masuk ke kedai bubble tea yang nampak tidak begitu ramai itu. Dan bagaikan film, memori Luhan dan Sehun berputar di kepala Luhan.
Ketika Sehun menariknya masuk ke dalam kedai dan mentraktirnya 2 gelas bubble tea.
Ketika Sehun membersihkan noda bubble tea di wajahnya.
Ketika Sehun dan dirinya bercanda tawa.
Ketika keduanya merayakan ulang tahun Luhan yang ke enam belas. Begitu sederhana namun bahagia.
"Selamat ulang tahun, Hyung. Aku berharap kita akan terus bersama sampai kita mati. Aku mencintaimu seperti aku mencintai kakakku sendiri. Terima kasih sudah mengisi hidupku dengan tawa dan candamu, Luhan"
Semuanya masih di ingat Luhan dengan jelas. Dan tanpa ia sadari setetes cairan bening meluncur cepat di pipi nya. Ia sangat merindukan masa-masa indahnya dengan Sehun. Dan rasanya pada Sehun masih sama seperti dulu. Walaupun ia berusaha untuk menghapusnya.
"Ini chocolate dan taro bubble tea nya" ujar sang pelayan memberikan kedua gelas bubble tea itu pada Kyungsoo. Kyungsoo kemudian tersenyum lalu mengucapkan terima kasih. Dan setelahnya ia berjalan menghampiri Luhan yang duduk di dekat jendela.
Belum lama mereka menikmati bubble tea sore itu, Kyungsoo mendapatkan telepon dari ibunya dan memintanya menjemput adiknya di sekolah. Tentu saja Luhan menyetujuinya dan dengan terpaksa Kyungsoo pergi meninggalkan Luhan sendirian.
Luhan masih disana, menatap senja seperti yang ia lakukan dahulu. Bedanya kali ini ia sendirian, tidak ada Sehun yang duduk menemaninya.
Luhan tenggelam dalam dunia nya sendiri. Ia tidak mempedulikkan sekitarnya, bahkan ketika seseorang berjalan mendekatinya dan duduk tepat di belakangnya.
Ia ingin menangis. Luhan ingin menumpahkan semua kesedihannya disana. Namun ia memilih untuk menahan tangisannya yang berganti dengan isakkan memilukannya.
Di sela-sela itu, ia bergumam pelan. Menyebutkan nama yang begitu berharga baginya. Menggumamkan nama itu dengan suara memilukan. Nafasnya tersekat seolah pasokan oksigen di sekitarnya menipis. Dadanya terasa sesak seolah bisa meledak kapan saja.
"Oh Sehun... Sehun... aku... merindukanmu... Sehunna ma-maafkan a-aku..."
Hari sudah sore dan Sehun kini sedang berada di mobilnya, mengemudikan kendaraan itu entah kemana. Pikirannya kosong, dan ini semua karena Luhan.
Bayangan saat pria mungil yang dulu nya adalah sahabat terbaiknya begitu tersiksa tadi siang kembali menyeruak masuk ke otaknya.
Bagaimana Luhan nampak begitu kesusahan membawa tumpukkan buku yang di minta Irene. Bagaimana Luhan nampak begitu pasrah saat Irene memarahinya. Bagaimana tadi ia menatap Sehun dengan tatapan penuh harap. Dan yang terakhir adalah wajah Luhan yang begitu pucat sejak kemarin.
Sehun memukul stir mobilnya frustasi. Bagaimana bisa ia memikirkan Luhan ketika pria itu juga yang menyebabkan ia menderita seperti ini?
Sehun masih bingung harus pergi kemana, sampai akhirnya suatu tempat terpikirkan olehnya. Dan tanpa berpikir dua kali, ia segera melajukan mobilnya ke tempat itu.
Sehun baru saja ingin turun dari mobilnya saat ia melihat Kyungsoo sedang berjalan menuju mobilnya. Ia kemudian mengalihkan pandangannya ke dalam kedai bubble tea dan akhirnya tahu apa alasan Kyungsoo datang kesana.
Disana ada Luhan, sedang tersenyum begitu manis namun wajahnya terlihat masih pucat dengan matanya yang terlihat sayu.
Sehun kemudian turun dari mobil tepat setelah mobil Kyungsoo menghilang dsri pandangannya dan masuk ke dalam kedai dengan santai. Kondisi kedai itu tidak begitu ramai dan tatapannya tertuju pada Luhan yang masih duduk menatap jendela.
Sehun mengingatnya. Itu adalah tempat dimana ia dan Luhan biasanya menikmati bubble tea bersama. Namun saat memori itu mulai berputar di kepalanya, ia segera membuang jauh-jauh pikiran itu dan berjalan menuju kasir untuk memesan bubble tea.
Namun seolah ada magnet tersendiri dari pria berdarah Cina itu, Sehun berjalan mendekati Luhan yang nampak bergetar dan duduk tepat di belakangnya. Sepertinya Luhan tidak menyadari keberadaannya, karena pria itu tetap diam pada posisinya. Tidak ada pergerakan selain suara isakannya yang terdengar di telinga Sehun.
Sehun merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya. Entah apa yang terjadi, namun mendengar Luhan yang masih terus terisak membuatnya ingin datang menghampiri Luhan lalu memeluknya seperti dulu. Menenangkannya dan mengatakan semua baik-baik saja.
"Oh Sehun..."
Mendengar namanya di panggil tubuh Sehun membeku seketika. Apa Luhan menyadari keberadaannya?
"Sehun..." Luhan berujar sekali lagi. Sehun masih diam, tidak berniat untuk menoleh ke arah Luhan.
"Aku..." Luhan memberikan jeda di antara kalimatnya. "Merindukanmu..." Luhan terisak hebat namun ia berusaha menahan suaranya. Sehun merasakan dadanya sesak mendengar Luhan yang terdengar begitu putus asa.
" Sehunna ma-maafkan a-aku..."
Sehun akhirnya mencoba memastikan apakah Luhan menyadari keberadaannya. Namun ia akhirnya bernafas lega karena melihat Luhan yang masih menunduk di tempatnya. Ia kemudian kembali memutar tubuhnya dan memilih untuk fokus ke bubble tea nya.
Namun baru ia meneguk beberapa kali, ia mendengar sebuah ponsel berdering yang ia yakini adalah ponsel Luhan. Ia kemudian menajamkan pendengarannya untuk mendengar dengan siapa Luhan berbicara.
"Eomma" Sehun mendengar nada bicara Luhan di ubah menjadi bahagia untuk menutupi kesedihannya.
"Aku? Aku sedang di kedai bubble tea. Ada apa eomma?"
"Sehun?" Luhan terdengar diam sesaat. Wajar saja jika ibu Luhan mengenal Sehun, karena mereka sudah saling kenal cukup lama. Dan orang tua Luhan dan Sehun adalah teman baik.
"Dia sedang ada tugas di kampus...apa? Siapa yang menjemputku?... ah aku belum menghubungi Sehun eomma, nanti akan kucoba... eum, akan kusampaikan pada Sehun. Kututup ya?"
Sehun mendengar Luhan menghembuskan nafasnya kasar lalu berdiri dari tempatnya. Ia kemudian berjalan pelan menuju pintu tanpa menyadari Sehun yang masih menatapnya.
"Eomma! Appa!" Pekik Luhan girang ketika mendapati kedua orang tuanya sedang duduk di ruang keluarga. Kedua sosok itu tersenyum menyambut kedatangan Luhan. Luhan langsung memeluk kedua orang tuanya yang sudah jauh-jauh datang dari Cina itu.
"Kapan kalian tiba?" Tanya Luhan antusias seraya duduk diantara kedua orang tuanya.
"Tadi siang" jawab ibunya lembut. "Awalnya aku meminta appa mu ini untuk memesan tiket yang lebih pagi. Tapi kau tahu kan dia itu begitu pemalas?"
"Aku tidak malas," balas ayah Luhan tidak mau kalah.
"Tapi kemarin kau seperti itu!"
"Aku tidak seperti itu!" Luhan hanya bisa mengulum senyumnya mendengar kedua orang tuanya berdebat. Ia begitu bahagia melihat keluarganya bahagia seperti ini.
"Tapi, Luhan. Kau terlihat begitu pucat" sang ibu kemudian memegang kening anak tunggalnya itu "suhu badanmu juga agam tinggi. Kau sakit? Dan dimana Sehun?"
Mendengar nama Sehun di sebut, senyum di wajah Luhan perlahan menghilang. Namun ia kembali tersenyum untuk menyembunyikan kenyataan pahit hidupnya dari orang tuanya. Kenyataan bahwa Sehun yang dulu jauh berbeda dengan yang sekarang.
"Aku sudah bilang bukan? Sehun sedang sibuk dengan tugasnya" jawab Luhan seadanya. Kedua orang tuanya pun hanya mengangguk menyetujui tanpa bertanya apapun lagi.
"Baiklah kalau begitu kau istirahat. Agar besok kau sehat dan bisa ikut bersama kami" Ujar ibunya tersenyum.
"Besok kalian akan pergi kemana?" Tanya Luhan penasaran.
"Rumah keluarga Oh tentu saja" sahut ayahnya lalu mengusak surai hitam Luhan. "Sudah lama appa dan eomma tidak bertemu mereka"
"Oh" hanya kata itu yang keluar dari kedua belah bibir Luhan. Ia kemudian berdiri dan melangkahkan kakinya menuju kamarnya sendir. Meninggalkan kedua orang tuanya yang kembali berbincang-bincang.
From: kyungie
Sudah kau minum obatnya, tuan putri?
Luhan terkekeh pelan membaca pesan dari Kyungsoo yang terlihat seperti ibu yang begitu mengkhawatirkan anak satu-satunya.
For: kyungie
Aku sudah meminum obatnya seperti yang kau minta, eommaaa. Jangan khawatir lagi, ne?
Setelah menekan tombol send, Luhan kemudian meletakkan ponselnya di nakas lalu bersiap untuk memejamkan kedua matanya. Namun belum sempat kedua mata itu terpejam, ponselnya kembali berbunyi. Menandakan ada sebuah pesan yang masuk. Ia pun kembali meraih ponselnya dan sedikit menyerengit ketika melihat orang yang mengirim pesan tidak ia ketahui siapa.
Karena penasaran dengan apa yang dikirim, Luhan pun membuka pesan itu yang ternyata adalah sebuah foto.
"Sehun!" Pekik Luhan tanpa disengaja setelah melihat dengan jelas gambar yang barusan masuk ke ponselnya.
Gambar itu adalah foto Sehun yang nampak di coret-coret dengan spidol merah oleh pengirimnya. Lalu ada tulisan yang berbunyi "selamat tinggal" membuat tubuh mungil itu bergetar karena ketakutan. Ia takut ada seseorang yang mencelakai Sehun. Namun siapa dia? Mengapa ia mengirim foto ini kepada Luhan? Pertanyaan itu terus berputar-putar di kepalanya.
Luhan memilih untuk menutup ponselnya, lalu menyembunyikan dirinya di balik selimut tebalnya. Mencoba berpikir positif dan menampik semua kemungkinan buruk yang ada. Mencoba menenangkan hatinya yang mulai merasa panik.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Apa kau sudah mengirim pesannya?"
"Ya, sudah"
"Apa dia sudah melihatnya?"
"Mana kutahu, bodoh. Memangnya kau pikir aku paranormal?"
"Aku tidak bodoh"
"Ya, kau jahat bukan bodoh"
"Benar sekali hahaha"
"Tawamu terdengar begitu menyeramkan"
"Aku memang menyeramkan!"
"Dan kau bangga?"
"Tentu saja. Inilah aku yang sebenarnya"
Update!
Sorry ini late bgt dan malah tambah absurd:( semoga aja masih ada yang nungguin ya ehehehe.
So keep reading and review!
