Tahukah kau apa yang aku inginkan di setiap malam? Hanya kau.


flashback on

Hari itu, hari pertama salju turun di bulan desember merupakan hari dimana kedua insan itu di pertemukan.

Luhan yang saat itu adalah seorang pelajar tingkat akhir di Sebit junior high school sedang duduk di dalam sebuah kafe sambil menyeruput segelas hot chocolate. Awalnya ia ingin membeli bubble tea, minuman favoritnya sejak kecil. Namun mengingat dinginnya udara malam itu, Luhan pun membatalkan niatnya dan memilih menghangatkan dirinya di sana.

Kedua mata indahnya masih terus mengagumi salju-salju yang terus berjatuhan, sampai akhirnya kedua mata itu menangkap seseorang yang sedang berjongkok tak jauh dari kafe. Tubuh orang itu terlihat bergetar, tanda bahwa ia kedinginan, namun Luhan tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena sejak tadi orang itu hanya menunduk.

Merasa iba, Luhan pun memesan satu gelas hot chocolate lagi, lalu membawanya keluar dari kafe. Menghampiri sosok yang sejak tadi masih diam dalam posisinya.

"Hei" itulah kalimat pertama yang di ucapkan Luhan seraya mengguncang tubuh sosok itu. Menyadari ada seseorang yang berdiri di sebelahnya, sosok itu kemudian mendongak dan sorot matanya yang tegas bertabrakan dengan tatapan Luhan yang begitu lembut.

"Ambil ini, kau terlihat kedinginan" ujar Luhan seraya menyodorkan segelas hot chocolate yang berada di tangannya. Sosok itu masih diam, namun matanya tidak berhenti menatap Luhan yang saat itu rambutnya berwarna coklat gelap.

Melihat pria itu masih tidak bergerak, Luhan meraih tangan nya yang sudah mulai sedingin es dan meletakkan gelas hangat tadi di tangannya. "Kau bisa mati kedinginan, oleh karena itu minumlah selagi panas"

"Terima kasih" akhirnya suara laki-laki itu terdengar. Ia kemudian berdiri lalu mulai menegak minuman yang Luhan berikan dengan damai.

Luhan baru menyadari pria ini lebih tinggi dari dirinya, lalu kemudian Luhan tersenyum simpul melihat pria itu begitu menikmati minuman yang ia berikan. "Sama-sama. Lain kali ketika salju turun, berteduhlah di tempat yang hangat. Jangan malah meringkuk seperti tadi"

"Siapa namamu?" Pria itu bertanya dengan suara yang berat namun terdengar mengalun seperti melodi di telinga Luhan.

"Xi Luhan. Tapi teman-teman ku biasa memanggilku Luhan" Luhan memberikan jeda lalu mengulurkan tangan mungilnya "dan namamu?"

Pria itu menatap tangan Luhan yang terulur lalu meraihnya dan menggenggamnya erat. Membuat ia merasakan sesuatu yang aneh ketika kulit Luhan bersentuhan dengan kulitnya. "Sehun. Namaku Oh Sehun"

"Nama yang bagus" ujar Luhan tanpa melepaskan tangan mereka berdua.

"Terima kasih" jawab Sehun sopan

Mereka berdua berakhir berbincang di tempat itu, saling mengenal satu sama lain lebih dalam. Dan tanpa masing-masing ketahui, mereka berdua berharap. Bahwa suatu hari mereka akan bertemu lagi. Lalu bercanda tawa seperti yang mereka lakukan sekarang.

Flashback off


"Selamat pagi, Luhan" ujar ibunya seraya mengecup kedua pipi Luhan pelan, kebiasaan mereka sejak Luhan masih berusia tiga tahun.

"Pagi eomma" sahut Luhan sambil tersenyum manis lalu menatap ayahnya yang sedang membaca koran di meja makan. "Pagi juga, appa"

Mendengar ada yang memanggilnya, Tuan Xi menoleh lalu menutup korannya dan meletakkannya di meja. Setelahnya ia tersenyum hangat dan meminta Luhan untuk duduk di sampingnya.

"Nanti sore kau ingin langsung ke rumah Keluarga Oh bersama Sehun atau pergi bersama kami?" Ujar ayahnya membuka topik pembicaraan.

"Tentu saja bersama ayah! Karena aku tidak mau merepotkan Sehun dan aku begitu merindukan kalian berdua." Jawab Luhan tanpa berpikir dua kali. Tentu saja ia tidak mau berangkat bersama Sehun, dan Sehun pasti tidak mau berangkat bersamanya.

"Kau sepertinya sudah sehat, Lu?" Kini ibunya ikut bergabung dalam pembicaraan ayah dan anak itu.

"Eh? Maksudnya?"

"Kau kembali cerewet seperti biasa" ujar ibunya mengusak surai hitam Luhan lembut.

"Syukurlah kalau begitu. Aku berangkat dulu ya, eomma appa. Sampai nanti" Luhan kemudian bangkit dari duduknya setelah berpamitan kepada kedua orang tuanya.


"Sehunna~" ujar Irene manja sambil terus menarik-narik lengan Sehun. Sementara Sehun nampak acuh dan memilih terus mengotak atik ponselnya, berharap ada sesuatu yang bisa membuatnya meninggalkan Irene sekarang juga.

"Jangan mengacuhkan ku, Sehunna~" Irene mengerucutkan bibirnya lalu melanjutkan ucapannya. "Aku ini kekasihmu~"

Mendengar kata 'kekasih' di sebut, Sehun langsung menoleh dan menatap Irene sangat tajam. Membuat Irene menghentikan kegiatannya karena ketakutan dengan tatapan itu.

"Mengapa mulut mu itu tidak bisa berhenti bicara?" Ia kemudian menghempaskan tangan Irene yang melingkar di lengannya agak keras. "Dan yang kau harus ingat, Irene. Kau hanya kekasih pura-pura ku. Jadi jangan berharap lebih"

"Apa ini karena Luhan?" Tanya Irene saat Sehun mulai beranjak pergi. Sehun sempat berhenti ketika nama Luhan di sebut, karena kejadian kemarin saat di kedai bubble tea masih teringat begitu jelas di otaknya.

Sehun mencoba menampik semua rasa khawatirnya kepada Luhan mengingat kondisinya kemarin. Karena bagaimana pun ia masih membenci Luhan. Ketika ia melihat sosok mungil itu, bukan kenangan indah mereka yang akan terputar di benaknya. Melainkan bayangan bagaimana Luhan membunuh Zitao dengan keji.

Sehun mengacuhkan pertanyaan Irene dan terus melangkah pergi. Sampai akhirnya kedua mata elangnya menatap sosok tinggi yang nampak tidak asing baginya.

Sehun mengingatnya. Dia adalah sosok yang Sehun temui di toilet bersama Luhan tempo hari. Sosok yang baginya terlihat agak aneh dan menyembunyikan sesuatu. Namun sayangnya Sehun melupakan namanya.

Dan sekarang sosok itu sedang berjalan cepat menuju suatu tempat. Dengan ponsel yang sedang ia dekatkan ke telinga kanannya. Entah mengapa Sehun melihat orang itu terlihat begitu gelisah. Terbukti dari ia selalu menoleh ke belakang, ke kanan, ataupun ke kiri. Seolah-olah takut ada seseorang yang mengikutinya.

Hal itu membuat kedua kaki jenjang Sehun tergerak, mengikuti perlahan sosok itu. Berharap sosok itu tidak menyadari keberadaannya. Hingga akhirnya ia melihat sosok itu memasuki ruang olahraga. Dan Sehun hanya berdiri di depan pintu ruangan itu yang terbuka sedikit. Mencoba mendengarkan apa yang sedang sosok itu bicarakan.

"Apa yang terjadi, Siwon Hyung?"

Siwon? Sehun sepertinya pernah bertemu dengan seseorang yang bernama Siwon. Namun ia lupa dimana. Salahkan saja ia yang begitu pelupa.

"Kau masih menutup rapat mulutmu itu, bukan?"

"Jangan khawatirkan aku. Asal mulutmu itu masih tertutup rapat, aku pasti akan baik-baik saja"

Apa yang ia bicarakan? Batin Sehun kebingungan.

"Baiklah, ku tutup teleponnya. Sampai jumpa" tepat setelah kalimat tersebut berakhir, Sehun langsung membalikkan tubuhnya lalu berjalan agak cepat meninggalkan tempat itu.

Dan sepertinya dewi fortuna sedang berpihak kepada Sehun. Karena setelah Kris keluar, ia tidak menemukan siapa-siapa di sekitarnya. Dan ia hanya melangkah santai menuju kelasnya.


"Kau akan pulang sekarang, Lu? Bukankah makan malamnya masih agak lama?" Tanya Kyungsoo ketika melihat Luhan sudah mulai membenahi barangnya.

"Aku akan mengunjungi suatu tempat terlebih dahulu"

"Aku tidak boleh ikut?"

Luhan menatap Kyungsoo lalu menepuk pundak laki-laki yang lebih pendek daripada dirinya itu pelan. "Ini urusanku. Kau pulang saja bersama-" Luhan mengedarkan padangannya ke sekeliling dan kedua matanya menangkap Kai yang baru saja akan keluar kelas. "Kai! Ya Kai. Kau pulang saja bersama dia!"

Mendengar namanya di panggil, Kai menoleh lalu mendapati Luhan yang kini sedang berjalan menuju dirinya bersama Kyungsoo yang ia tarik.

"Kai, bisakah kau antar Kyungsoo ke rumah? Aku ada urusan sebentar" pinta Luhan penuh harap sementara tangannya terus ditarik oleh Kyungsoo.

"Tidak masalah" jawab Kai akhirnya dan Luhan merasakan cengkraman Kyungsoo di tangannya mengeras.

"Baguslah!" Luhan kemudian melepas tangan Kyungsoo lalu mendorongnya ke arah Kai. "Aku pulang duluan. Sampai jumpa besok"

Tepat setelah Luhan pergi,Kai kemudian meraih tangan Kyungsoo dan menggenggam nya erat. Tanpa mempedulikan tatapan tajam Kyungsoo kepadanya.

"Apa-apaan kau ini" pekik Kyungsoo tidak suka sambil terus berusaha melepaskan tangannya yang kini di tarik kai -mungkin menuju parkiran.

"Mengantar kau pulang" jawab Kai tanpa menghentikan langkahnya.

"Siapa yang mau kau antar bodoh!" Ujar Kyungsoo agak keras. Namun Kai tetap berjalan seolah-olah telinganya tuli.

"Lepaskan aku, Kim Jongin!" Kai berhenti kemudian membalikkan badannya. Membuat dirinya kini bertatapan dengan Kyungsoo yang mukanya sudah merah padam. Entah karena marah atau mungkin malu.

"Kau berisik"

"Ya aku berisik! Lepaskan aku!" Namun Kai tetap diam menatap Kyungsoo yang sedang meronta-ronta. Mencoba melepaskan tangannya.

"KAI!"

"..."

"HEI BODOH TULI, LEPASKAN!"

"Demi tuhan, Kim Jongin! Lepaskan a-hmmph!" Ucapan Kyungsoo terhenti ketika bibir tebal Kai mendarat manis di bibir tipisnya. Kyungsoo ingin mendorong Kai, namun entah mengapa tangannya terasa begitu lemas sekarang. Dan melihat Kyungsoo tidak melawan, Kai mulai melumat bibir itu pelan dan tak lama melepaskannya.

"Akhirnya kau diam" ia tersenyum. "Ayo kita pulang, sekarang"

Dan Kyungsoo tidak menolaknya. Entah apa yang terjadi pada dirinya, ia pun tak tahu.

Malah ia merasa dirinya gila. Karena ia berharap bibir tebal itu akan kembali menyentuh bibir mungilnya. Dan berharap sesuatu yang lebih terjadi pada keduanya


"Luhan Hyung? Dia sudah pulang sejak tadi" ujar wonwoo kepada Sehun yang kini sedang berada di depan kelas Luhan.

Sehun sengaja datang karena ia mendengar dari orang tuanya bahwa keluarga Xi akan berkunjung malam ini. Dan ia ingin meminta Luhan untuk tidak memberi tahu apa-apa tentang perilakunya kepada Luhan selama ini.

"Apa ia pulang bersama Kyungsoo?" Tanyanya lagi dan Wonwoo menggeleng sebagai jawaban.

"Tapi sepertinya ia pulang naik bus hari ini" ujar Wonwoo memberi tahu.

"Bus?" Dari yang Sehun tahu, Luhan biasanya pulang bersama temannya. Baik menumpang, atau ia yang membawa mobil.

"Tadi pagi ia menanyakan padaku dan Mingyu tentang rute bus. Entah untuk apa tujuannya. Jadi aku berfikir mungkin ia pulang menggunakkan bus" jelas Wonwoo.

"Ah, terima kasih infonya" ujar Sehun lalu berjalan meninggalkan kelas Luhan. Mencoba berjalan ke halte bus untuk menemui Luhan.


Sehun menemukannya. Ia menemukan Luhan sedang duduk di halte bus sendirian.

Dengan langkah perlahan ia mendekati sosok yang pernah menjadi bagian indah dalam hidupnya. Sosok yang dulu selalu tersenyum begitu manis kepadanya. Sosok yang selalu berdiri di sampingnya.

Sehun baru menyadarinya. Luhan terlihat lebih kurus sekarang. Apa ia menderita karena sikap Sehun kepadanya? Karena yang Sehun tahu ia sudah berhasil mengambil hati sosok itu. Dan itulah yang membuat Zitao pergi meninggalkannya.

Mengingat Zitao, membuat rasa marah dalam diri Sehun bangkit lagi. Ia mengepalkan tangannya erat, lalu kembali berjalan menuju Luhan. Sebelum akhirnya bus datang dan Luhan masuk ke dalam bus itu dengan langkah santai. Entah apa yang mendorong Sehun, ia ikut masuk ke bus lalu duduk di belakang Luhan. Dan Luhan tidak menyadarinya.

Bus mulai melaju membelah jalanan siang itu. Sehun melihat Luhan terus melamun sambil terus menatap keluar jendela. Sampai akhirnya Luhan berdiri, tanda bahwa ia akan turun. Dan Sehun agak terkejut ketika mendapati dimana mereka sekarang.

Tempat pemakaman Zitao.

Sehun terus berjalan mengikuti Luhan. Dan Luhan masih tidak menyadarinya. Ia melihat Luhan membeli bunga lalu kembali berjalan menuju Zitao. Dan kini Luhan sudah berdiri di depan makam yang bertuliskan 'Zitao' di nisan nya.

"Halo Zitao, apa kabar?" Ujar Luhan lalu duduk di samping makam itu. Sementara Sehun bersembunyi di balik salah satu pohon, mencoba mendengarkan apa yang akan Luhan katakan.

"Ini aku, Luhan. Kau masih mengingatku bukan? Teman bermainmu saat di China dulu. Apa kau sudah melupakan kenangan kita?"

"Ini sudah lebih dari seratus hari kau meninggalkan kami. Dan kau tahu? Sehun masih begitu mencintaimu. Aku sering melihatnya termenung sendirian di beberapa tempat kosong di sudut kampus. Walaupun-" Luhan menghembuskan nafasnya agak keras. "Walaupun ia sudah bersama Irene sekarang, namun kau lah satu-satunya orang yang masih memiliki hatinya. Ia begitu hancur tanpamu"

"Jangan salahkan aku" Luhan nampak mengusap nisan Zitao. "Aku- aku begitu payah. Aku tidak bisa terus berada di sisi Sehun. Aku tidak bisa mengembalikan senyumnya yang dulu selalu terpampang ketika ia membicarakan dirimu. Aku tidak bisa mengembalikkan Sehun yang ceria seperti dulu"

"Sehun- ia sangat membenciku" Luhan merasakan setetes air meluncur mulus di pipinya. Dan Sehun yang melihatnya mulai merasakan sesuatu yang aneh menguasai dirinya.

"Ia tidak pernah menyapaku dengan suara lembutnya. Ia tidak pernah tersenyum ketika aku berada di sekitarnya. Ia tidak pernah ada di sampingku lagi ketika aku merasa duniaku akan runtuh. Ia sudah berubah, tao-ah"

"Namun semuanya berbeda di mimpiku" Luhan tersenyum di tengah-tengah tangisannya. "Di dalam mimpiku, ia masih sama seperti Sehun ku yang dulu. Ia masih tersenyum dan suara nya sangat lembut. Ia selalu merengkuh ku erat dan mengucapkan-" Luhan menghentikan ucapannya ketika ia merasakan perih di dadanya. Air matanya sudah tidak bisa ia tahan lagi.

"Aku merindukan sehunku..." ujarnya lirih.

Luhan begitu terpukul. Kenyataan Sehun membencinya begitu membuatnya hancur. Kenyataan orang yang ia cintai kini berubah membuatnya ingin mati saja.

Merasakan air matanya semakin deras, Luhan menghapusnya cepat dengan kedua tangannya yang bebas. "Mengapa aku menjadi cengeng seperti ini? Maafkan aku"

Sehun melihat semuanya. Sehun mendengar semuanya. Ia tidak buta ataupun tuli. Ia melihat Luhan begitu menderita dan terpukul karenanya. Ia mendengar Suara Luhan yang bergetar ketika menyebutkan namanya.

Dan itu semua membuat ia merasakan sesuatu yang aneh. Ia ingin segera kesana, lalu merengkuh Luhan. Menghapus air mata yang masih terus mengalir dari kedua mata rusanya. Mengatakan kepada Luhan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Namun diantaranya dan Luhan seolah ada tembok yang menghalangi mereka. Dan suara hatinya kalah dengan egonya yang begitu keras.

Keheningan masih menyelimuti sekitar mereka. Luhan masih enggan melanjutkan kalimatnya, dan Sehun juga masih betah berada di tempatnya. Sampai suara Luhan terdengar lagi.

"Zitao-" ia memberikan jeda di kalimatnya. "Andai saja saat itu aku yang pergi, tentu semuanya tidak akan se rumit ini. Sehun dan kau pasti sudah menjadi pasangan paling bahagia sekarang."

"Andai saja saat itu aku tidak datang terlambat, kita pasti masih bisa pergi ke Cina bersama sekarang. Aku merindukan kampung halaman kita berdua" Luhan tersenyum tipis.

"Haruskah aku menyusulmu juga?"


update! Ehehe

aku ngucapin banyak terima kasih kepada kalian yang masih nunggu cerita ini! Makasih juat review, favs and follows nyaa! Itu ngebuat aku makin semangat lanjut ff ini.

Maaf telat update, lagi UAS nih. Maaf juga kalo aneh:(

Kritik? Saran? Pm aja yakk. 사 랑 해