Chapter 9

Salahkah aku jika masih mencintaimu?


"—ti bajumu dan.. astaga Luhan" Nyonya Xi menghentikan ucapannya ketika justru objek yang dia ajak bicara hanya melamun, tidak mendengarkan apa yang ia katakan.

"Luhan.." Panggil Nyonya Xi, namun Luhan tetap bergeming dalam posisinya. Entah apa yang lelaki mungil itu pikirkan namun ia sudah seperti itu sejak pulang ke rumahnya beberapa jam yang lalu. Hanya diam , melamun , dan menjawab seadanya jika orang tuanya berbicara kepadanya.

Merasa Luhan tidak baik-baik saja, Nyonya Xi berjalan mendekati putra satu-satunya itu. Mengelus pundak Luhan perlahan. Membuat Luhan tersadar dari lamunannya karena merasa ada yang menyentuhnya.

"Apa yang sedang kau pikirkan, rusa kecil?" Tanya Nyonya Xi setelah duduk dan mensejajarkan dirinya dengan Luhan "Apakah kau keberatan berbagi dengan Eomma-mu ini?" Lanjutnya sambil mengusap pipi Luhan yang terlihat semakin kurus akhir-akhir ini.

Luhan masih diam dan hanya memandang Ibunya dengan tatapan kosong. Ia ingin berbagi ceritanya dengan Ibu yang sangat ia cintai ini. Sangat ingin malah. Namun Luhan memilih untuk memendamnya sendirian, tidak ingin membuat Ibunya lebih khawatir jika mendengarkan yang sebenarnya.

Nyonya Xi tersenyum memaklumi ketika Luhan hanya diam dan tidak mengatakan apapun padanya. Mungkin masalah ini menyangkut hati putra cantiknya itu. Dan mungkin Luhan masih belum siap menceritakannya.

"Baiklah, tak apa jika kau masih belum siap menceritakan apa yang mengganggu pikiranmu akhir-akhir ini" Ujar Nyonya Xi akhirnya. "Tapi kau harus segera bersiap-siap. Sebentar lagi kita akan ke rumah keluarga Oh. Eomma menunggumu di ruang tamu"

"Eomma…" panggil Luhan sangat lirih namun bisa di dengar oleh Nyonya Xi yang baru saja akan menutup pintu kamar Luhan.

"Ya? Ada apa sayang?" sahutnya lembut dengan senyum yang menghiasi wajah cantiknya.

"Jangan tinggalkan aku…" Ujar pria yang masih duduk di kasurnya dengan kepala yang menunduk.

Mendengar ucapan Luhan membuat perasaan aneh perlahan menguasai wanita paruh baya itu. Ia kembali berjalan menghampiri Luhan dan memeluk anaknya kesayangannya itu sangat erat. Seolah ia akan berpisah dengannya sebentar lagi. "Mengapa kau berfikir eomma akan meninggalkanmu,sayang?"

"Aku.. aku hanya takut"

Nyonya Xi melepas pelukannya dan menatap wajah Luhan dengan seksama. Anak itu benar-benar terlihat menderita. Ada apa sebenarnya dengan Luhan? Apa yang membuat ia begitu tertekan?

"Eomma akan selalu disini. Eomma akan selalu menemani Lulu dan mendoakan yang terbaik untukmu sayang. Jadi berhentilah menangis dan merasa khawatir. Karena eomma tidak suka melihat kau menangis"


"Selamat datang Tuan Xi dan Nyonya Xi, Keluarga Oh sudah menunggu di ruang makan. Mari saya antar" ujar Bibi Choi, yang Luhan ketahui adalah kepala rumah tangga di rumah keluarga Oh. Luhan sangat merindukan Bibi Choi. Karena setiap Luhan bermain ke rumah Sehun, Bibi Choi justru akan membawa Luhan ke dapur dan mengajaknya memasak bersama.

"Luhan!" Pekik Bibi Choi agak keras karena terkejut melihat sosok yang sudah lama tidak ia lihat berjalan masuk ke rumah keluarga Oh sambil tersenyum kepadanya.

"Selamat malam, bibi. Kau masih mengingatku?" sapa Luhan hangat sambil tersenyum begitu manis.

"Tentu saja aku mengingatmu!" Bibi Choi kemudian berjalan mendekati Luhan dan memeluk pria itu sangat erat. Membuat tubuh Luhan yang sangat ringkih dan lebih kurus tenggelam di pelukan Bibi Choi yang berbadan agak besar. "Oh Tuhan. Aku sangat merindukanmu asal kau tahu"

"Aku juga merindukanmu, bibi"

"Oh, maafkan aku Tuan dan Nyonya Xi" Ujar Bibi Choi kikuk ketika menyadari bahwa kedua orang tua Luhan masih berada disana dan menunggu Bibi Choi untuk mengantar mereka ke ruang makan. "Ruang makan ke arah sini"

Luhan berjalan mengikuti kedua orang tuanya dan Bibi Choi yang berjalan mendahuluinya. Ia kemudian memandang ke sekelilingnya, memperhatikan setiap sudut rumah itu. Rumah yang dulu selalu ia kunjungi di akhir pekan atau ketika Sehun memintanya untuk membantunya mengerjakan tugas. Rumah itu tidak berubah sama sekali. Hanya saja kini ada satu bingkai foto yang agak besar di pajang di dekat ruang keluarga.

Itu adalah foto Sehun yang sedang tersenyum sangat hangat. Senyum yang selama ini Luhan rindukan. Luhan menebak foto itu di ambil ketika Sehun berada di tingkat akhir di sekolah menengah atasnya. Terbukti dari wajahnya yang masih sangat polos, berbeda dengan Sehun yang sekarang jauh terlihat lebih dewasa.

Luhan masih terdiam memandangi foto itu, sampai akhirnya pintu yang berada di sebelah foto itu terbuka. Luhan sedikit terkejut ketika mendapati Sehun lah yang keluar dari ruangan itu dengan kemeja hitamnya.

Sehun hanya melihat Luhan sekilas, lalu berjalan melewati Luhan dengan santai.

"Kau tidak ikut makan bersama, Sehun?" Terdengar Luhan bertanya kepada Sehun yang sedang berjalan menuju pintu keluar. Sehun menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya menatap Luhan yang juga sedang menatapnya ragu.

"Kau fikir aku sudi makan di meja yang sama dengan pembunuh sepertimu?" Kalimat itu terlontar begitu saja dari mulut Sehun dan setelahnya laki-laki berkulit pucat itu kembali berjalan menjauhi Luhan yang seperti akan menangis mendengar ucapan Sehun yang menohok hatinya.

"Kau berhasil menghancurkanku Sehunna. Kau berhasil"


Sudah hampir tiga jam Keluarga Oh berbincang-bincang dengan Keluarga Xi. Makan malam sudah berakhir sejak setengah jam yang lalu dan disini lah mereka sekarang. Di ruang tamu dengan Luhan yang nampak sibuk dengan handphone nya.

"Sebenarnya kemana perginya Sehun, Jaejoong-ah?" Tanya Nyonya Xi membuat Luhan diam-diam menghentikan kegiatannya dan mulai mendengarkan percakapan dua wanita paruh baya itu.

"Entahlah, aku pun tidak tahu kemana perginya anak itu" Nyonya Oh mendesah pelan sambil memijat pelan pelipisnya. "Handphone nya pun tidak bisa ku hubungi"

"Apakah kau tahu kemana Sehun pergi, Luhan-ah?" Tanya Nyonya Oh kepada Luhan, dan Luhan hanya menggeleng sebagai jawaban. Bagaimana bisa ia tahu kemana Sehun pergi sementara alasan perginya laki-laki itu adalah dirinya sendiri? Luhan kembali menunduk, membayangkan wajah Sehun yang begitu membencinya. Mengapa rasanya susah sekali bagi Luhan untuk juga membenci sosok itu?


"Kau yakin ingin pulang sendirian?" Tanya Nyonya Xi kepada Luhan yang saat ini sedang bersiap-siap.

"Eum… Eomma lanjutkan saja dulu berbicara dengan keluarga Oh. Ada tugas yang harus aku selesaikan di rumah" Jawab Luhan sambil menatap ibunya. Luhan merasakan sesuatu yang aneh ketika melihat ibu yang sangat ia sayangi ini. Entah mengapa ia tiba-tiba merasa khawatir akan terjadi sesuatu padanya jika Luhan pergi meninggalkannya.

"Aku menyayangimu, eomma" Ujar Luhan lirih.

"Aku juga menyayangimu, rusa kecil" Ujar Nyonya Xi seraya mengusap surai gelap pelan.

"Sampai bertemu nanti, eomma" Teriak Luhan ketika akan keluar dari perkarangan rumah keluarga Oh sambil melambaikan tangannya. Nyonya Xi ikut melambaikan tangannya sambil ikut tersenyum.


Luhan memilih untuk naik bus ke rumahnya. Namun langkahnya terhenti ketika ia melihat siluet yang tidak asing baginya sedang memasuki tempat yang Luhan ketahui adalah sebuah club malam. Bukannya kembali berjalan menuju halte, justru Luhan lebih tertarik untuk mengikuti sosok itu ke dalam. Mencari tahu apa yang sosok itu lakukan.

Luhan mengabaikan tatapan beberapa laki-laki yang memandangnya sejak ia masuk ke dalam club tadi. Tujuannya hanya mencari Sehun. Namun ia masih belum melihat sosok tegap itu sejak tadi.

"Kau sendirian, cantik?"

Luhan sedikit tersentak ketika suara asing itu menyapa telinganya yang di lanjutkan dengan tangan kekar yang melingkar di pinggangnya. Tubuhnya menegang dan entah kenapa sulit digerakkan. Ia sangat takut sekarang.

"Kau akan jadi milikku malam ini" Ujar suara itu sekali lagi dan sebelum Luhan bisa mencerna apa yang di katakannya, ia merasa pergelangan tangannya di tarik cukup keras. Membuat usaha Luhan untuk memberontak sia-sia.

Luhan di bawa ke sebuah ruangan yang sepi dan tidak begitu besar. Luhan terus berjalan mundur ketika sosok yang berada di depannya terus berjalan mendekat dengan tatapan lapar. Ia begitu ketakutan saat ini. Seluruh tubuhnya bergetar dan Luhan merasa hidupnya akan berakhir ketika punggungnya bertabrakan dengan tembok. Membuat ia tidak bisa pergi kemana-mana lagi.

"Kau tidak perlu takut, sayang" Ujar sosok itu menyeramkan sambil mengelus pipi Luhan yang sudah memejamkan matanya perlahan. "Pastikan kau mendesahkan nama Daehyun ketika kau merasakan kenikmatan"

Laki-laki yang ternyata bernama Daehyun itu kemudian merobek kemeja Luhan kasar membuat Luhan topless sekarang. Luhan terbelalak ketika laki-laki di depannya ini mulai menjilati lehernya seduktif, membuat Luhan mati-matian berusaha menahan desahannya.

"seseorang tolong aku.."

"Kau sangat cantik" Ujar laki-laki itu sekali lagi.

"Sehunna…. Tolong aku…."

Brak!

Bugh!

Luhan membuka matanya perlahan dan hal pertama yang ia lihat adalah tubuh Daehyun yang sudah berbaring tak berdaya. Luhan pun bernafas lega dan berniat berterima kasih kepada siapapun yang menolongnya namun tiba-tiba dunianya perlahan menjadi gelap dan tubuh mungil itu terjatuh di pelukkan seseorang.


update! akhirnya aduh maafkan aku:(

entah masih ada yang nunggu ff ini atau nggak tapi aku harap ada sih /plak

maafkan jika chapter ini kurang atau bahkan gak memuaskan:( sebenernya chapter ini mau aku buat agak panjang dan mulai masuk ke inti cerita. tapi kayaknya agak gak nyambung jadi aku putuskan untuk memulai masalah intinya di chapter selanjutnya. tapi tenang ajaa, update selanjutnya gak akan lama kok ehehe.

jadi gimana? mending aku lanjut atau end aja? kutunggu review favs dan follow dari kalian ya ehehe

kritik? saran? pm aku terbuka untuk kalian semua!

kiss and hugs , jimaeun

(special thanks for tetsuya kurosaki yang udah mengingatkan aku untuk melanjutkan ff ini. hope you like it!)