Mengapa ini semua terjadi padaku?


Flashback on

"Sehunnaaa!" Teriak sebuah suara girang di ikuti dengan suara derap kaki yang kian mendekat. Mendengar ada seseorang yang memanggil namanya, sosok tinggi yang sedang berjalan sambil meneguk segelas bubble tea itu pun menghentikan langkahnya lalu menoleh. Ia kemudian mendapati sosok malaikat mungil yang menolongnya di halte tempo hari sedang mengatur nafasnya yang tersenggal-senggal.

"Mengapa kau malah ada disini? Bukannya kau berjanji akan menjemputku hari ini?" Protes sosok yang lebih kecil karena orang yang seharusnya menjemputnya siang ini malah pergi dan terlihat sedang meminum bubble tea dengan wajah tanpa dosa.

Ya, Sehun dan Luhan kini sudah berteman baik sejak beberapa bulan yang lalu. Lebih tepatnya ketika mereka berdua kembali di pertemukan di sebuah kedai bubble tea sederhana di tengah kota.

Saat itu, Sehun menjadi orang yang pertama kali menyadari keberadaan Luhan. Sehun pun berjalan menghampiri Luhan yang sedang duduk sendirian dan beruntunglah Luhan masih mengingatnya. Dan mereka berdua pun berakhir berbincang-bincang, seolah-olah mereka berdua merupakan teman lama yang baru kembali di pertemukan.

"Kau tidak menepati janjimu, Oh Sehun!" Gerutu Luhan sekali lagi dengan bibir yang mengerucut. Ia kemudian berjalan mendahului Sehun yang masih bergeming di tempatnya.

"Dasar manusia es!" Guman Luhan tanpa sadar dengan kedua tangan yang terkepal erat. Bagaimana ia tidak kesal? Ia menunggu Sehun sejak 10 menit yang lalu di depan sekolahnya. Namun sosok itu tak kunjung datang. Bahkan ponselnya pun tidak bisa di hubungi. Dan ketika Luhan menemukan sosok jangkung itu, ia hanya diam dan memandang Luhan datar. Tidak berniat sama sekali untuk meminta maaf kepadanya.

Luhan masih terus berjalan menuju halte terdekat, tidak peduli dengan beberapa bahu orang yang berlalu lalang sudah ia tabrak karena jalannya yang agak terburu. Namun sebelum ia sempat mencapai halte, Luhan merasakan pergelangan tangannya di tarik dan setelahnya ia merasakan sesuatu yang dingin menyentuh telapak tangannya.

Kedua mata rusanya sempat berbinar ketika mendapati bubble tea rasa chocolate yang notabene adalah minuman favoritnya kini berada di genggamannya. Namun ketika melihat senyuman Sehun yang menurut Luhan sangat bodoh, membuat ia kembali mengingat rasa kesalnya kepada pria itu. Ia kemudian mengembalikan gelas itu kepada Sehun dan melipat kedua tangannya di dada, kembali menunggu bus yang tak kunjung datang.

"Maafkan aku.." Sehun akhirnya membuka suaranya yang tidak mendapatkan respon dari Luhan.

"Aku bukan tidak ingin menjemputmu..." Sehun mencoba menjelaskan namun Luhan masih tidak meresponnya dan terlihat acuh dengan pandangan mata yang lurus ke depan. "Tadi aku sudah menunggumu sebelum bel sekolahmu berbunyi. Namun kemudian aku berfikir untuk membeli bubble tea agar kau bisa meminumnya nanti bersamaku"

"Namun ternyata kau justru sudah menemukan ku disini. Dan kau malah marah kepadaku. Memang salahku tidak menghubungi mu terlebih dahulu" jelas Sehun dengan cepat. Sehun memang sudah terbiasa dengan perilaku Luhan. Berteman hampir satu bulan membuat perilaku Luhan yang kekanakan sudah menjadi makanan sehari-hari untuk seorang Oh Sehun.

Melihat Luhan masih bergeming membuat Sehun hanya bisa mendesah frustasi karena ia tidak bisa membujuk rusa kecilnya.

"Kau tidak mau memaafkan ku? Baiklah kalau begitu. Aku akan-"

"Bubble tea ini milikku" Luhan memotong ucapan Sehun lalu merampas segelas bubble tea yang berada di genggaman Sehun lalu meminumnya dengan cepat. Sehun kemudian tersenyum tipis menyadari ternyata Luhan berhasil luluh juga.

"Pelan-pelan saja, Lu. Nanti kau bisa tersedak" ucap Sehun sambil menepuk pelan pundak Luhan.

"Aku belum memaafkan mu" sahut Luhan di sela-sela kegiatan mengunyah bubblenya.

"Kalau begitu kembalikan bubble tea ku" ancam Sehun sambil berpura-pura meraih gelas bubble tea yang sedang Luhan genggam erat

"Tidak mau!"

"Kembalikan padaku, Xiao Lu"

"Tidak ini milikku! Minum saja milikmu sendiri!"

"Tapi tadi kau bilang ka-"

Drrtt drrt

Ucapan Sehun terpotong ketika ponsel Luhan berbunyi dan Luhan mengangkat ponselnya.

"Ya? Ada apa Bibi Jung?"

"..."

"Bicaralah yang jelas, Bi. Ada- apa?!"

Sehun sedikit menyerengit menyadari raut wajah Luhan yang tiba-tiba terlihat suram. Senyuman Luhan seketika menghilang dan wajahnya berubah menjadi pucat. Genggaman Luhan pada gelas bubble tea tadi mengendur, membuat gelas itu terjatuh tidak jauh dari mereka berdua..

"Ada apa, Lu?" Tanya Sehun khawatir ketika Luhan menjauhkan ponsel di genggamannya dari telinganya. Luhan tidak menjawab pertanyaan Sehun namun tiba-tiba tubuh mungil itu bergetar, membuat Sehun panik dan langsung membawa Luhan ke pelukannya. Mengusap pelan punggung pria yang tubuhnya agak lebih mungil daripada dirinya

"Luhan..."

"Se..Sehun.." ujar Luhan hampir tidak terdengar.

"Eo..eomma.." Luhan mulai sesenggukan membuat Sehun semakin panik saja.

"Luhan.. tenangkan dirimu.." Sehun mencoba menenangkan Luhan namun sepertinya tetap sia-sia karena tangis Luhan malah terdengar semakin keras.

"Eomma.. eomma dibawa ke rumah sakit, Sehun..." jelas Luhan di tengah tangisnya yang sudah semakin keras. "Aku.. a.. aku takut.. eomma.. eomma mening.. meninggalkanku..."

Flashback off


Sehun side.

Sehun masih terbayang-bayang dengan wajah Luhan saat ia melihatnya di makam Zitao siang tadi. Terakhir kali Sehun melihat Luhan menangis adalah ketika Luhan dirawat di rumah sakit setelah ia pingsan selama dua hari. Sehun masih mengingat bagaimana orang yang pernah menjadi teman terbaiknya itu memeluk tubuhnya dan menangis bersama. Dan entah mengapa Sehun merasa lega setelah kejadian malam itu.

Suara lirih Luhan saat di makam tadi masih terus terngiang-ngiang di kepalanya. Apakah benar Luhan begitu tersiksa karenanya? Apakah perubahan drastis yang terjadi pada Luhan di sebabkan oleh dirinya? Dan ada satu pertanyaan besar dalam diri Sehun.

Apakah Luhan masih mencintainya?

Sehun kemudian berjalan mendekat ke arah lemari yang berada di sudut kamarnya. Entah apa yang ia pikirkan namun tangannya tergerak untuk membuka laci kecil di lemari itu. Dan setelah laci itu terbuka, nampak beberapa bingkai foto yang nampak sudah berdebu dan ada satu atau dua diantaranya yang kacanya sudah sedikit retak.

Tangan kekarnya kemudian mengambil sebuah foto yang terletak di paling dasar laci itu. Itu adalah fotonya ketika masih kelas dua di sekolah menengah atas.

Bersama Luhan.

Di foto itu keduanya nampak tersenyum bahagia. Luhan terlihat membuat V sign dengan mata yang disipitkan dan Sehun hanya berdiri tegak, namun siapapun yang melihat foto itu bisa menebak kalau keduanya adalah sahabat yang baik.

Sehun memandang foto itu cukup lama, kemudian ia membalik foto itu dan membaca tulisan hampir luntur yang tertulis dengan rapih disana.

"Aku mencintaimu, sahabatku. Oh Sehun."

Itu tulisan tangan Luhan. Sehun masih mengingatnya. Karena saat itu Luhan yang mengajaknya untuk berfoto bersama dengan paksa dan Sehun setuju. Lalu beberapa hari kemudian, Luhan memberikan hasil foto itu kepada Sehun dan meminta Sehun untuk menyimpan foto itu dengan baik.

"Kau harus menyimpan foto itu sebaik-baiknya, Sehunna! Walaupun aku masih bisa memberimu foto itu lagi jika hilang, tapi aku ingin melihat arti persahabatan kita bagimu dari cara kau menyimpan foto ini"

Sehun tersenyum miris membayangkan senyum Luhan saat itu. Persahabatan keduanya dahulu memang bisa di bilang indah. Sangat indah bahkan. Keduanya memang di pertemukan secara tidak sengaja, namun itulah yang membuat persahabatan mereka tidak pernah putus. Pertemuan singkat itulah yang membuat keduanya merasakan kalau mereka saling membutuhkan satu sama lain. Sebagai teman.

Kenangan itu, kenangan yang selalu membuat Sehun tersenyum ketika dengan membayangkannya saja. Namun semua kenangan indah mereka berdua seolah memudar sejak kejadian menyeramkan itu terjadi. Membuat Sehun begitu marah karena tidak percaya Luhan melakukan itu semua. Ditambah lagi dengan kenyataan bahwa Luhan mencintainya yang membuat Sehun semakin geram saja.

Sehun tiba-tiba menjadi emosi. Ia kemudian meletakkan kembali foto itu pada tempatnya dan menutup laci itu agak kencang. Ia memilih untuk berjalan menjauh dan duduk di samping tempat tidurnya sambil mengacak rambutnya frustasi. Ia benar-benar kebingungan sekarang. Ada apa dengan dirinya? Mengapa dia jadi emosional seperti ini?

Sehun masih terdiam di posisinya sampai akhirnya ia mendengar bel rumah keluarganya berbunyi. Sehun berpikir pasti itu adalah keluarga Xi. Dan akhirnya laki-laki itu memutuskan untuk tidak ikut acara makan malam dan memilih untuk berkeliaran di luar.

Namun ketika ia membuka pintu, sosok yang sedang membuatnya kacau itu muncul di hadapannya.

Sehun menatap Luhan yang kini juga sedang menatapnya dengan ragu. Sepertinya Luhan sedang melihat-lihat rumahnya sendirian, terbukti dengan Tuan dan Nyonya Xi yang sudah berjalan terlebih dahulu.

Sehun kemudian berjalan melewati Luhan yang masih diam. Sampai akhirnya suara Luhan terdengar membuat Sehun menghentikan langkahnya.

"Kau tidak ikut makan bersama, Sehun?"

Sehun kemudian membalikkan badannya lalu menatap Luhan dengan tatapan tajam, membuat pria yang lebih mungil memilih untuk menundukkan kepalanya karena merasa ketakutan.

"Kau fikir aku sudi makan di meja yang sama dengan pembunuh sepertimu?"

Setelah mengucapkan kalimat tajam itu, Sehun kembali berjalan meninggalkan Luhan sendirian. Entah mengapa Sehun mulai meruntuki dirinya sendiri karena telah berbicara kasar seperti tadi.


Tujuan pertama Sehun setelah ia berhasil keluar dari rumahnya adalah apartemen teman dekatnya, Chanyeol. Sebenarnya ia bisa saja pulang ke apartemennya. Tetapi kemarin ia sudah berjanji kepada ibu nya bahwa ia akan menginap selama seminggu dirumah lamanya.

Chanyeol cukup terkejut dengan kedatangan Sehun yang tiba-tiba. Dan bukannya menyuruh Sehun masuk terlebih dahulu, ia justru meminta Sehun untuk pergi secepatnya. Alasannya adalah kekasihnya -Baekhyun sedang berkunjung dan ia tidak mau diganggu.

"Baekhyun sedang berkunjung. Aku tak mau ia merasa tak enak karena ada kau dan malah ia yang memilih pulang"

Itu kata terakhir Chanyeol sebelum menutup pintu apartemennya. Membuat Sehun hanya bisa memijit pelipisnya, bingung harus kemana lagi ia sekarang.

Kruyuk~

Sehun memegang perutnya yang barusan berbunyi dan akhirnya memutuskan untuk mengisi perutnya terlebih dahulu. Ia kemudian berjalan menyusuri trotoar sambil sesekali melihat ke kanan ataupun ke kiri , mencari tempat untuk mengisi perutnya yang malang itu.

Kedua matanya akhirnya menangkap sebuah tenda sederhana di pinggir jalan yang tidak begitu ramai. Dengan langkah sedikit terburu karena perutnya sudah terus berbunyi, ia berjalan mendekati tenda yang ternyata menjual ramen itu.

"Ada yang bisa aku bantu anak muda?" Sapa seorang wanita paruh baya ketika Sehun baru saja memasuki tenda itu.

"Aku ingin ramen satu, Bi" pesan Sehun yang di jawab dengan anggukan oleh wanita itu, tanda bahwa ia mengerti dan akan segera membuat pesanan Sehun. Sehun kemudian berjalan menuju kursi yang terletak di sebelah dua orang remaja yang sedang berbincang-bincang.

"Benarkah? Yifan akan datang ke club hari ini?" Tanya salah satu di antara remaja itu kepada remaja yang lainnya. Sehun yang sejak tadi hanya memandang kosong ke meja di hadapannya mulai menajamkan pendengarannya ketika mendengar nama yang tidak asing baginya disebut-sebut.

"Ya, kudengar dari hansol dia termasuk dj terbaik di daerah gangnam. Apakah benar?" sahut sosok yang satunya datar.

"Tentu saja! Kau harus melihatnya saat menjadi dj. Itu sangat keren!"

Yifan? Sehun sering mendengar nama itu sebelumnya. Namun dimana ia mendengarnya? Seingatnya tidak ada teman di kampusnya yang bernama Yifan. Apa mungkin ada seseorang di masa lalunya yang bernama Yifan? Namun siapa dia dan mengapa Sehun tidak bisa mengingatnya dengan jelas jika orang itu merupakan orang yang penting baginya?

Sehun masih bergelut dalam pikirannya sendiri, mengabaikan semangkuk ramen yang telah terhidang di hadapannya. Mengabaikan perutnya yang meraung-raung minta diisi.

Sampai akhirnya kedua remaja yang sejak tadi berbincang itu berdiri dan berjalan keluar dari tenda. Dan entah apa yang dia pikirkan, Sehun justru ikut berdiri dan mengikuti langkah kedua remaja itu. Setelah sebelumnya ia meletakkan beberapa lembar uang di sebelah mangkuk ramennya yang belum ia sentuh sama sekali.

Sehun mengikuti kedua pemuda itu dengan hati-hati, takut mereka berdua menyadari ada seseorang yang mengikuti mereka dan menuduh Sehun yang tidak-tidak. Rasa penasaran benar-benar menguasai dirinya saat ini. Membuat ia terus mengikuti mereka hingga akhirnya kedua pemuda itu masuk ke dalam sebuah gedung yang bersinar terang dengan suara musik yang terdengar agak keras dari dalam gedung.

Sehun melangkah masuk menuju gedung itu, hendak melihat sosok Yifan yang sejak tadi di bicarakan. Siapa tahu ia bisa mengingat siapa sebenarnya sosok yang membuat ia tidak bisa berpikir jernih karena begitu frustasi untuk mengetahui hubungan orang ini dengan dirinya.

Dan tanpa Sehun sadari, ada sosok mungil yang ikut masuk ke dalam karena penasaran apa yang akan di lakukannya di sebuah club malam.


Sehun masih terus melangkahkan kakinya kedalam club malam itu, mencoba mencari sosok laki-laki bernama Yifan yang entah mengapa membuat hatinya gundah hanya dengan mendengar nama itu.

Sampai akhirnya lampu club malam di matikan sejenak, lalu menyala kembali diikuti dengan munculnya sosok jangkung di tengah-tengah panggung lengkap dengan peralatan dj di hadapannya.

"Apakah mungkin dia yang bernama Yifan?" Gumam Sehun di sela-sela riuhnya suasana di sekitarnya ketika musik mulai di mainkan.

Semua orang di sekitar Sehun mulai bernari, menikmati lagu yang di putar dengan keras di ruangan itu. Namun diantara orang-orang yang sibuk dengan kegiatan masing-masingnya itu, Sehun memilih untuk berjalan mendekat ke panggung agar bisa melihat sosok bernama Yifan itu dengan jelas. Redupnya cahaya membuat pria bermarga Oh itu sedikit kesulitan untuk mengamati sosok di atas panggung yang kini nampak berbincang dengan seseorang di dekatnya.

Tinggal beberapa langkah lagi Sehun bisa berada tepat di depan panggung, namun langkahnya justru terhenti ketika merasakan ponsel yang berada di sakunya bergetar. Sehun hendak mengabaikan nya seperti yang ia lakukan sebelumnya, tetapi ponsel itu tak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti bergetar sebelum Sehun mengangkatnya. Membuat ia memilih untuk berjalan mundur, menjauh dari keramaian dan menjawab panggilan itu terlebih dahulu.

Sehun sedikit menyerengit ketika mengetahui bahwa orang yang menghubunginya saat ini adalah ibunya sendiri. Apakah ia akan di marahi sekarang karena malah kabur saat di minta untuk tetap di rumah? Mengapa hal sepele seperti ini tidak bisa di bahas di rumah saja?

"Ya, ada apa eomma?" Tanya Sehun ketika sudah terhubung dengan ibunya.

"Se...Sehun...hiks.. eo..eomma..hiks.."

Sehun seketika menjadi panik ketika mengetahui ibunya menghubungi dirinya dengan keadaan menangis. Ia mencoba mencari tempat yang lebih sepi, lalu meminta ibunya untuk tenang dan menjelaskan semua secara perlahan. Namun ketika mendengar alasan ibunya menangis, Sehun merasa ada sesuatu yang memukul dirinya. Entah mengapa justru bukan ibunya menangis yang ia fikirkan sekarang, namun sosok mungil lain yang mungkin akan sangat terpuruk mendengar kabar mengejutkan ini. Ia kemudian bergegas pergi menuju tempat yang di beritahu oleh ibunya. Hendak melihat apa yang dikatakan ibunya dengan kedua mata nya sendiri.

"Keluarga.. hiks.. keluarga Xi..hiks... keluarga Xi mereka di tusuk orang tak.. orang tak dikenal.. hiks... kedua o.. orang tua Luhan..terancam tidak selamat..."


Luhan terbangun esok paginya dengan rasa pusing di kepalanya. Ia sedikit menyerengit mendapati bahwa kini ia sudah berganti pakaian dengan setelan piyama bergambar rusa yang tidak ia ketahui darimana asalnya. Kedua mata rusa itu kemudian memandang sekitarnya, meneliti setiap sudut ruangan itu. Mencoba mengetahui dimana ia sekarang.

Dan siapa yang membawanya ke tempat ini?

Luhan bangkit dari posisi tidurnya, lalu berdiri dan berjalan menuju jendela besar yang memaparkan pemandangan kota Seoul yang ramai. Kedua mata rusa itu terus mengamati mobil yang berlalu lalang, sampai akhirnya pintu kamar itu di ketuk. Membuat Luhan menghentikan aktivitasnya lalu berjalan mendekati asal suara itu.

Namun ketika membuka pintu, Luhan tidak menemukan orang disana melainkan sebuah paper bag yang di biarkan tergeletak di lantai. Kedua tangan mungilnya kemudian meraih paper bag itu dan membaca sebuah catatan yang ditinggalkan oleh si pengirim.

Pakai baju ini jika kau akan meninggalkan hotel. Bajumu yang sebelumnya sudah tidak layak untuk di pakai.

Aku harap harimu tidak terlalu buruk.

Luhan membolak balik catatan itu, mencoba mencari siapa yang meletakkan paper bag ini di depan pintunya. Tetapi hasilnya nihil. Ia tidak bisa menemukan nama si pengirim.

Luhan kemudian kembali masuk ke dalam hotel, lalu memutuskan untuk mandi terlebih dahulu agar badannya lebih segar. Kemudian ia meraih paper bag yang ia simpan di nakas sebelum mandi dan membukanya. Lalu ia mengenakan baju serba hitam yang terasa begitu pas di tubuhnya.

Bagaimana si pengirim bisa tahu ukuran bajunya?

Luhan lebih memilih untuk mengesampingkan rasa penasarannya dan menghubungi orang tuanya terlebih dahulu. Ia berfikir pasti ibunya khawatir karena ia tidak pulang semalaman tanpa kabar. Namun ketika ia membuka handphone nya, bukan pesan dari ibunya yang ia dapatkan.

Tetapi dari Jaejoong, Ibu Sehun.

Tiba-tiba Luhan merasakan ada sesuatu yang tidak beres disini. Jantungnya mulai berdegub tak beraturan ketika melihat banyaknya panggilan masuk juga pesan yang ia terima dari wanita yang sudah lama ia kenal tersebut.

Luhan hendak membuka salah satu pesannya, namun kemudian ia menerima panggilan masuk dari Ibu Sehun. Ia pun segera mengangkat telepon tersebut.

"Halo? Ada... Bi? Mengapa kau menangis?" Tanya Luhan panik ketika mendengar suara Ibu Sehun yang terdengar sesenggukan.

"Luhan... Luhan cepat datang ke Seoul hospital"

"Seoul hospital?" Luhan sedikit kebingungan lalu kembali bertanya "Siapa yang sakit, Bibi?"

"Appamu.. appamu sudah pergi Luhan.. sekarang kondisi eommamu.. ia kritis...kau harus cepat..piip"

Tanpa menunggu wanita paruh baya itu menyelesaikan kalimatnya, Luhan segera memutuskan sambungannya dengan ibu Sehun. Lalu ia segera beranjak pergi menuju rumah sakit dengan perasaan takut yang menghantui dirinya saat ini.


Luhan segera berlari menuju meja administrasi dengan langkah sempoyongan. Yang ada di pikirannya sekarang adalah bagaimana keadaan eomma yang merupakan satu-satunya harta paling berharga yang ia miliki.

Semua orang yang berada di sekitarnya menatapnya dengan tatapan aneh namun ia tidak peduli. Yang terpenting eommanya baik-baik saja dan bisa terselamatkan tidak seperti appanya yang telah pergi. Yang terpenting ia tidak datang terlambat.

"Ada yang bisa kami bantu?"

"Tolong..." Luhan berujar dengan nada bergetar seperti menahan tangisannya "Tolong beritahu aku dimana ruangan Xi Bo Lin... dimana..."

"Luhan..." ucapan Luhan terpotong dengan suara serak yang Luhan ketahui adalah suara ayah dari Sehun. Ia kemudian berjalan cepat menuju sosok yang kini sedang menatapnya dengan iba.

"Paman.. paman tolong beritahu.. tolong...hiks... eommaa..."

"Tenangkan dirimu, Luhan" ujar Tuan Oh lalu mengusap perlahan bahu Luhan yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri. Ia kemudian menuntun Luhan menuju kamar dimana Nyonya Xi kini sedang terbaring lemah.

Luhan langsung berlari masuk ke dalam ruang eommanya tanpa mempedulikan seseorang yang kini sejak tadi menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan. Sehun sudah ada di rumah sakit sejak malam sebelumnya, menemani ibunya yang takut teramat sangat karena merasa bahwa ia lah yang menjadi penyebab dari kejadian ini.

"Saat itu hari sudah malam. Luhan memutuskan untuk pulang terlebih dahulu karena ada tugas yang harus ia kerjakan, sementara kami masih berbincang-bincang"

Sehun mengingat bagaimana ibunya mulai menjelaskan saat ia tiba di rumah sakit.

"Namun tak lama kemudian mereka memutuskan untuk ikut pulang. Aku dan appa mu meminta mereka untuk tinggal lebih lama lagi. Dan mereka menyetujuinya"

Sehun kemudian berdiri dari duduknya, lalu mengintip apa yang sedang di lakukan sosok yang paling ia benci dari celah pintu yang terbuka sedikit.

"Tapi.. tiba-tiba orang-orang itu datang.. orang-orang yang membawa pisau juga beberapa kayu.. mereka.. mereka mendobrak pintu rumah dengan brutal lalu memaksa masuk ke dalam rumah."

Sehun menatap sosok yang sedang terduduk di kursi sambil menggenggam tangan seorang wanita yang sedang terbaring lemah di kasur dengan berbagai alat yang di pasang ke tubuh itu.

"Ayahmu meminta aku dan Nyonya Xi untuk bersembunyi. ia hendak memanggil Tuan Xi untuk ikut bersama kami.. Namun.. semuanya terlambat... mereka sudah menghampiri Tuan Xi, memukulnya hingga Tuan Xi tidak mampu berdiri lagi.."

"Ayahmu hendak menolong, namun aku menahannya. Aku takut kehilangan ayahmu,Sehun. Kami bertiga bersembunyi sambil terus memperhatikan mereka. Nyonya Xi sudah menangis karena takut terjadi sesuatu pada Tuan Xi"

Tatapan Sehun kini beralih kepada monitor yang menunjukkan denyut jantung ibu Luhan yang semakin melemah.

"Tapi ketika segerombolan orang itu hendak menusuk Tuan Xi dengan pisau, Nyonya Xi segera berlari menuju Tuan Xi dan berusaha melindunginya hingga akhirnya dia yang tertusuk... aku.. eommamu ini.. tidak bisa menahannya.."

"Tuan Xi tentu saja tidak terima dengan apa yang terjadi di hadapannya. Ia kemudian mencoba melawan orang-orang itu. Namun... tenaganya terlalu lemah. Darah sudah mengalir banyak dari kepalanya lalu ia ikut tertusuk... di depan mataku dan mata ayahmu... dan ia meninggal setelah gerombolan itu melarikan diri..."

Kedua mata Sehun seketika membulat karena terkejut. Terkejut karena tiba-tiba garis di monitor menunjukkan garis lurus. Terkejut karena suara panjang mulai memenuhi ruangan tersebut.

Tubuhnya mendadak tidak bisa di gerakkan. Bahkan ketika beberapa dokter masuk ke dalam ruangan itu ia masih terpaku di tempatnya. Bahkan ketika ibunya berlari masuk dan memeluk Luhan untuk menenangkannya, ia hanya bisa diam di tempatnya.

Dan akhirnya semua peralatan yang melekat pada tubuh ibu Luhan di lepas.

Ibu Luhan juga meninggal dunia.


Luhan memandang kosong ke arah dua peti di hadapannya yang kini dihiasi oleh bunga yang beraneka ragam. Kejadian ini sungguh di luar dugaan pria mungil itu. Semuanya terjadi begitu saja, sangat cepat. Membuat Luhan kehilangan kedua orang tuanya hanya dalam waktu kurang dari satu hari.

Luhan menerima banyak ucapan duka dari kerabat juga teman-temannya. Beberapa temannya juga datang termasuk Kyungsoo yang saat ini sedang memperhatikan tubuh sahabat karibnya itu dari balik tembok. Kyungsoo berfikir Luhan membutuhkan waktu sendirian, dan ia tidak ingin mengganggu temannya itu.

"Eomma...appa..." Luhan mulai ber monolog ria.

"Mengapa... mengapa kalian pergi hmm?"

"Mengapa.. kalian pergi tanpa membawaku bersama kalian? Alasan aku hidup hanya kalian" tanpa Luhan sadari sebuah bulir air meluncur mulus dari kedua mata rusanya. Ingin rasanya ia mengutuk takdir. Takdir yang begitu kejam hingga memisahkan Luhan dengan semua orang yang ia sayangi.

"Aku...Aku Lelah... Aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan tanpa kalian..."

"MENGAPA KALIAN MENINGGALKANKU!" Luhan meraung sambil terus menjambak rambutnya yang sudah tidak berbentuk itu.

Kyungsoo yang masih memandang Luhan ikut menangis melihat Luhan yang begitu tersiksa. Ikut menangis karena turut merasakan kesedihan yang Luhan coba pendam sendirian. Karena melihat sahabatnya terpuruk adalah suatu hal yang paling Kyungsoo benci. Melihat sahabatnya menangis dan tidak bisa memeluknya untuk sekedar menenangkannya membuat Kyungsoo merasa gagal menjadi seorang sahabat.

Kyungsoo merasa ia tidak sanggup lagi untuk melihat Luhan. Ia kemudian memilih untuk berjalan pergi meninggalkan Luhan. Matanya sudah memerah. Pipinya sudah basah oleh air mata. Kyungsoo tidak tahu harus kemana ia sekarang. Sampai akhirnya ia melihat Jongin datang ke tempat itu dan kini pemuda berkulit tan itu sedang berjalan menghampirinya. Menatapnya khawatir karena kondisi Kyungsoo yang juga berantakan.

"Kyungsoo... mengapa kau menangis?" Tanya Jongin ketika ia sudah sampai di hadapan Kyungsoo. Namun bukannya menjawab pertanyaan Jongin, Kyungsoo malah menundukkan kepalanya. Mencoba menahan tangisnya yang tak kunjung berhenti. Membuat tubuh mungil itu justru kini bergetar.

Merasakan ada yang tidak beres pada sosok di hadapannya, Jongin membawa Kyungsoo ke dalam pelukannya. Ia tidak peduli jika Kyungsoo justru akan marah dan memberontak di pelukannya. Karena Jongin hanya ingin membantu Kyungsoo untuk menenangkan dirinya.

Namun reaksi Kyungsoo sangat berbeda dari prediksi Jongin. Kyungsoo justru tidak memberontak. Bahkan justru tangisnya meledak di pelukan Jongin. Membuat Jongin bersyukur dan mengeratkan pelukannya pada tubuh Kyungsoo yang terasa pas dengan tubuhnya.

"Aku tidak suka melihat kau menangis" Gumam Jongin tanpa sadar, membuat tangisan Kyungsoo seketika mereda. Kyungsoo kemudian mendongak, menatap mata Jongin yang kini juga sedang menatapnya dengan tatapan teduh. Kyungsoo menebak bahwa apa yang di katakan Jongin barusan hanya untuk menenangkan dirinya saja. Namun ia tidak melihat ada tanda-tanda kebohongan di mata Jongin.

"Mengapa kau tidak suka melihatku menangis, Jongin?" Tanya Kyungsoo tanpa melepas tatapannya dari Jongin.

"Hanya saja.." Jongin tiba-tiba mengecup dahi Kyungsoo cepat. "Kau tidak di takdirkan untuk menangis. Kau di takdirkan untuk terus bahagia. Dan aku yang akan membuatmu bahagia"

Jawaban Jongin itu justru membuat pipi Kyungsoo bersemu lucu. Ia kemudian menenggelamkan wajahnya di dada bidang Jongin, takut jika pria yang lebih tinggi daripadanya itu menyadari kalau ia sangat malu sekarang. Kyungsoo sedikit tersenyum ketika ia mendengarkan jantung Jongin ya berdegub lebih cepat dari tempo jantung manusia pada umumnya. Ia juga merasakan tangan kekar Jongin yang semakin erat memeluknya. Kyungsoo pun memilih untuk menghirup dalam-dalam aroma khas dari laki-laki yang kini sedang ia peluk.

Haruskah ia mulai membuka hatinya?


Sehun yang baru saja kembali setelah membeli minum sedikit menyerengit menyadari ada pasangan yang sedang berpelukan mesra di tempat duka seperti ini. Ia hendak menegur mereka sampai akhirnya ia menyadari bahwa salah satu orang yang sedang berpelukan itu adalah Kyungsoo, sahabat Luhan. Sehun kemudian menyipitkan matanya untuk melihat siapa sosok yang di peluk Kyungsoo saat ini.

bukankah ia orang yang waktu itu mencium Kyungsoo? orang yang kulihat di depan kelasku bersama Luhan dan anak baru itu?

Sehun kemudian mulai mengedarkan pandangannya ke sekeliling, dan benar saja. Ia menemukan sosok jangkung dengan kacamata tebal yang beberapa hari ini sering Sehun lihat bersama Luhan baru saja keluar dari tempat kedua peti orang tua Luhan di letakkan. Apa artinya ia sudah bertemu dengan Luhan?

Sehun kemudian berjalan menuju ruangan di mana Luhan berada saat ini. Ia kemudian menatap sosok yang kini sedang menangis sendirian itu dengan tatapan teduh, bukan tatapan benci yang belakangan ini sering ia perlihatkan pada sosok rapuh itu.

Sesuatu dalam dirinya meminta Sehun untuk masuk dan memeluk Luhan. Untuk sekedar menenangkan dan memberi kekuatan pada pria berdarah Cina tersebut. Namun ego nya mengalahkan segalanya. Membuat ia hanya diam di tempatnya dan mengawasi Luhan dari jauh.

drrt drrt

for: Oh Sehun

seharusnya yang menangis di dalam ruangan itu kau. Oh Sehun

Sehun menatap pesan yang baru saja masuk ke ponselnya kebingungan. Ia hendak mengabaikan pesan itu, namun ponselnya kembali bergetar. Menandakan kalau ada pesan yang baru masuk.

for: Oh Sehun

semua yang kau lakukan pasti akan mendapatkan balasannya.

Sehun semakin kebingungan membaca pesan-pesan dari nomor yang tidak ia ketahui itu. Ia mencoba menatap sekelilingnya, barangkali orang yang mengiriminya pesan berada di sekitarnya. Namun ia tidak melihat apa-apa selain orang-orang yang sedang berlalu lalang atau orang-orang yang sedang bertegur sapa.

Sehun segera membuka pesan yang baru saja masuk, berharap orang itu mengirimkan pesan meminta maaf karena sudah mempermainkan Sehun. Namun bukan pesan seperti itu yang ia dapatkan. Namun sebuah pesan yang tidak ia mengerti maksudnya

for : Oh Sehun

the game has already begun, Oh Sehun

Dan tanpa Sehun sadari, ada seseorang yang sejak tadi memperhatikannya dari sudut ruangan dengan senyum licik yang menghiasi wajahnya.


update!

astaga apa ini /nunduk bareng Luhan

pertama aku mau minta maaf kepada kalian semua yang merasa kurang puas dengan karyaku. Aku masih newbie dan masih butuh belajar untuk membuat ff yang bagus seperti author-author yang sudah terkenal.

365 itu ff pertama yang aku buat dan aku publish. jadi maafkan aku kalau ff ini masih berantakan, acak acakan dan sebagainya /bow

ekhm jadi gimana? Udah mulai nangkep blom sama ceritanya? Luhannya udah cukup tersiksa belom? Chapter ini sengaja kubuat agak panjang, mencoba memenuhi permintaan para readers yang aku cintai:)

jadi gimana? mending next / end aja? Kutunggu pendapat dari kalian

jangan lupa review fav dan follownya ya! pm ku juga terbuka lebar untuk kalian semua

silent reader jangan ngumpet, sesekali coba review lah/plak

okay sekian dari aku

kiss and hug , jimaeun.