aku tidak sanggup lagi


"Luhannie..." ujar sebuah suara sangat lirih membuat sosok mungil yang sedang menyembunyikan wajahnya di antara kedua lututnya mendongakan wajahnya, mencoba mencari sosok yang baru saja memanggil namanya. Kedua mata indah itu kemudian menangkap sosok wanita cantik yang mengenakan baju serba putih sedang menatap lembut ke arahnya. Luhan mengerjabkan matanya beberapa kali, terkejut menatap sosok yang kini sedang berjalan mendekat ke arahnya sambil tersenyum manis. Senyum yang sama seperti terakhir kali Luhan melihatnya. Senyum yang selama ini Luhan rindukan.

"Eo..eomma..hiks.. eomma..." Luhan berdiri lalu berlari menghabur ke pelukan wanita yang selalu menjadi sandarannya ketika ia sedang hancur berantakan.

"Eomma.. hiks.. kau kembali... hiks.." Luhan terus menangis, menumpahkan segala rasa rindunya di pelukan hangat sang ibu. Menangis karena bahagia bisa melihat ibunya kembali datang kepadanya.

"Rusa kecilku, Luhan" ujar wanita itu seraya mengusap punggung Luhan perlahan, sambil sesekali mengecup pucuk kepala anak satu-satunya itu.

"Eomma.. jangan tinggalkan aku lagi... aku takut hiks...aku.. aku kesepian...aku.."

"Luhan, dengarkan aku" potong ibu Luhan lalu melepas pelukannya dan menggenggam kedua tangan Luhan. "Kau bisa Luhan. Kau bisa hidup bahagia. Eomma yakin" wanita itu meyakinkan Luhan yang kini sedang menunduk sambil terus menggelengkan kepalanya pelan. Tanda bahwa ia sudah tidak bisa bertahan lagi. Tanda bahwa ia tidak bisa hidup sendirian.

"Luhan tatap eomma" wanita itu kemudian menangkup wajah Luhan, memaksa anaknya itu untuk menatap dirinya. Wanita itu tersenyum miris menyadari wajah anaknya kini sangat tersiksa. Air mata tidak berhenti mengalir dari kedua matanya. Hidungnya sudah merah juga bibirnya terus bergetar menahan tangisnya.

"Hiduplah dengan bahagia, Lu. Hiduplah dengan baik. Eomma dan appa mu sangat mencintaimu. Kami akan terus menjagamu, walau kau tidak bisa melihat kami." Luhan memejamkan matanya erat ketika sang ibu mengusap pelan wajahnya, takut kehangatan itu akan hilang ketika ia membuka matanya. Takut jika ibunya kembali meninggalkannya sendirian.

Kedua mata rusa itu kembali terbuka lebar saat merasa kehangatan di wajahnya perlahan menghilang. Ia kemudian semakin panik ketika melihat tubuh ibunya menjauh dan perlahan memudar dengan wajah yang masih tersenyum menatapnya.

"Tidak.. eomma.. tidak..." Luhan bergumam sambil berusaha mengejar ibunya yang semakin menjauh.

"Jangan... jangan tinggalkan aku.. eomma... tidak.." Luhan berusaha menggapai tangan ibunya namun hasilnya nihil. Bayangan ibunya justru semakin memudar membuat Luhan berseru panik, berusaha membawa ibunya kembali. Berusaha membuat ibunya tidak pergi lagi.

"Kembali.. kem- EOMMA!"


"...EOMMA!"

"Luhan? Ada apa? Kau baik-baik saja?"

Kyungsoo menatap Luhan prihatin. Kondisinya saat ini sangat berantakan. Keringat mengalir dari pelipisnya. Kedua mata nya juga di kelilingi oleh lingkaran hitam, membuat Luhan yang sudah terlihat kacau semakin kacau lagi keadaannya. Dan ini sudah berlangsung selama satu minggu lamanya. Sejak kedua orang tua Luhan pergi, membuat Luhan kini menjalani hidupnya sendirian.

"Apa aku tertidur lagi di kelas?" Tanya Luhan setelah menyadari apa yang terjadi sebenarnya kepada Kyungsoo yang duduk di sebelahnya.

Kyungsoo mengangguk lalu berkata "Kau sakit? Kalau memang iya, aku akan mengantarmu pulang"

"Tidak, aku tidak apa-apa"balas Luhan lalu mengibaskan tangannya beberapa kali seraya menggeleng. "Aku hanya kurang tidur tadi malam" pemuda cantik itu kemudian tersenyum lalu mengambil sebuah buku catatan dari tas nya.

"Selalu seperti itu" gumam Kyungsoo sambil menatap Luhan yang kini terlihat sibuk mencatat sesuatu. "Oh ya, Luhan. Apa kau sibuk siang ini?"

Mendengar pertanyaan dari Kyungsoo, Luhan kemudian menoleh dan memasang wajah berfikir. "Sepertinya tidak," ia kemudian menatap Kyungsoo penuh arti "Apa kau akan mengajak ku jalan-jalan?" Tanyanya semangat.

"Ya, tapi bukan aku yang mengajakmu" jelas Kyungsoo membuat dahi Luhan berkerut samar. Luhan hendak bertanya sebelum akhirnya Kyungsoo melanjutkan "Dia yang mengajak aku pergi" Kyungsoo menunjuk sosok yang baru saja masuk ke dalam kelas dengan tangannya. Sosok yang kini sedang tersenyum hangat kepada mereka- ah lebih tepatnya kepada Kyungsoo. Luhan ingin sekali mengejek Kyungsoo ketika melihat Kyungsoo hanya tersenyum malu-malu dengan rona merah yang menjalar di kedua pipi putihnya.

"Lalu..."

"Lalu apa?" Tanya Kyungsoo tanpa mengalihkan pandangannya dari Jongin yang kini sedang berbincang dengan beberapa temannya.

"Heol, sepertinya kau benar-benar jatuh cinta" gumam Luhan yang langsung mendapat tatapan tajam dari Kyungsoo. "Kenapa? Memang benar bukan? Kau bahkan terus menatapnya ketika aku sedang mengajakmu bicara" Jawab Luhan kesal namun berusaha menahan tawanya karena melihat Kyungsoo yang terlihat sangat berbeda.

"Tidak, aku tidak jatuh cinta" Kyungsoo mencoba menyangkal. "Luhan hentikan itu! Wajahmu terlihat menjijikan" Kyungsoo pura-pura memasang wajah ingin muntah membuat Luhan tidak bisa menahan dirinya lagi dan tertawa terbahak-bahak.

Mereka sedang asik mengejek satu sama lain, sampai akhirnya sebuah suara bariton menyapa mereka berdua. Membuat sosok yang satu menyapa nya dengan girang sementara yang satunya hanya menjawab dengan gumaman singkat karena kini jantungnya berdegub sangat kencang, seolah akan keluar dari tempatnya.

Luhan memilih untuk bermain dengan ponselnya, memberikan waktu kepada Jongin dan Kyungsoo untuk memiliki waktu berdua. Jujur saja ia senang melihat sahabatnya senang. Setidaknya melihat Kyungsoo seperti ini membuat Luhan memiliki alasan untuk tersenyum.

"Jadi," Jongin mulai membuka suaranya. "Aku menunggumu jam 4 sore di parkiran, bagaimana?" Tanyanya kepada Kyungsoo.

"Hmm baiklah" Kyungsoo menyetujui lalu menambahkan "Tapi aku mengajak Luhan, tidak apa bukan?"

Jongin nampak berpikir sebentar namun di detik selanjutnya ia mengangguk menyetujui. "Baiklah kalau begitu, aku akan mengajak Kris untuk ikut dan menemani Luhan"


"Oh Kris, kau juga ikut?" Tanya Luhan ketika melihat Kris berjalan menghampirinya juga Kyungsoo dan Jongin yang kini sedang sibuk dengan dunia mereka berdua.

"Ya, Jongin mengajakku saat istirahat tadi" Jawab Kris lalu melirik dua sejoli yang nampaknya tidak menyadari keberadaannya. "Lihat lah mereka. Tentu saja kau membutuhkan teman agar nantinya tidak merasa kesepian ketika pasangan itu sedang tenggelam dalam dunianya" Ujarnya sarkastik. Luhan mengikuti arah pandang Kris lalu melihat Kyungsoo terus tertawa karena sejak tadi Jongin terus mengucapkan lelucon yang bagi Luhan sebenarnya tidak lucu. Merasa ada dua pasang mata yang memandangnya, Jongin kemudian mengalihkan pandangannya dari Kyungsoo lalu menatap dua sosok yang sedang menatap dirinya dengan tatapan aneh.

"Apa?" Melihat Luhan dan Kris masih bergeming, Jongin bertanya lagi dengan nada menantang sementara Kyungsoo hanya diam karena menahan rasa malunya. "Apa yang kalian berdua lihat, bodoh?"

"Kami hanya memandang kalian berdua yang sedang berada di dunia kalian sendiri" Jawab Kris akhirnya dengan nada datar. "Apa itu salah?" Lanjut Kris membuat Jongin diam karena tidak tahu harus menjawab apa.

"Ah sudahlah lupakan. Ayo kita berangkat. Kami sudah menunggumu sejak tadi." Ujar Jongin lalu membuka pintu mobil di belakangnya. "Silahkan masuk, princess" Lanjutnya yang membuat jitakan Kyungsoo sukses mendarat di dahi Jongin.

"Yak!" Jongin meringis pelan sambil mengusap dahinya lalu menatap Kyungsoo yang kini sedang menatapnya jengkel. "Salahkan dirimu yang memanggilku princess! Aku ini namja" Belanya seraya masuk ke dalam mobil Jongin.

"Kurasa panggilan itu cocok untukmu" balas Jongin lalu menutup pintu mobilnya dengan cepat, takut dahinya akan mendapatkan jitakan lagi dari Kyungsoo. Luhan memandang keduanya sambil tersenyum tipis. Sebuah memori kemudian terbayang di benaknya. Memori yang hingga saat ini tidak bisa ia lupakan sedikit pun.

Kejadian di depannya ini seperti melihat dirinya dan pemuda yang sangat ia cintai beberapa tahun yang lalu. Dirinya dan Sehun.

flashback on

"apa kau sudah menunggu lama?" Tanya Sehun setelah turun dari mobilnya dan berjalan menghampiri Luhan yang sedang duduk di bangku halte dengan wajah ditekuk juga sedikit menggigil karena kedinginan. Tanda bahwa ia sudah kesal karena menunggu Sehun yang datang terlalu lama.

"Aku bahkan berniat untuk pulang sebelum kau datang" Jawab Luhan datar namun Sehun tahu kalau pria berdarah Cina itu sedang menahan amarahnya agar tidak meledak sekarang juga. Sehun kemudian tersenyum tipis lalu meraih tangan Luhan, menggenggamnya untuk memberi kehangatan di sela-sela jari Luhan yang mulai mendingin.

"Kau kedinginan" Gumam Sehun lalu meniup kedua tangan Luhan membuat pipi pria cantik itu sedikit memerah bukan karena kedinginan atau marah. Namun karena dirinya merasa malu di perlakukan seperti ini.

"Jadi, apa kau siap berangkat tuan putri?" Tanya Sehun seraya membuka pintu mobilnya kepada Luhan yang justru mendapat tatapan kesal juga pukulan keras di punggungnya.

"Aw, punggungku!" Protes Sehun lalu menatap Luhan yang sedang mengerucutkan bibirnya lucu. "Mengapa kau malah memukulku, Luhan?"

"Salah mu yang memanggilku tuan putri. Aku ini masih namja tulen, Oh Sehun" Gerutunya sebal lalu melepas tangan Sehun yang sejak tadi menggenggamnya.

"Kau memang pantas dipanggil seperti itu" Dan setelahnya Sehun kembali mengaduh kesakitan karena Luhan kini menarik telinganya keras tanpa berniat melepaskannya.

"Bilang apa kau albino!" Pekiknya tidak terima. "Coba katakan sekali lagi dan aku bersumpah tidak akan melepaskan telingamu!" Ancamnya.

"Lepaskan- aw telingaku sakit, Lu" Ujar Sehun merengek. Merasa Luhan tidak akan berhenti, Sehun kemudian menyerah dan berkata cepat. "Baiklah maafkan aku. Aku tidak akan mengulanginya"

Sehun akhirnya bernafas lega sambil terus memegang telinganya yang kini sudah terbebas dari tangan Luhan. Telinga Sehun sangat merah saat ini, membuat Luhan menatap pria yang lebih tinggi darinya itu dengan tatapan iba. Namun tatapan iba itu seketika menghilang ketika Luhan merasakan dahinya dijitak agak keras oleh Sehun, membuat ia meringis kesakitan.

"Rasakan balasanmu!" Sehun tersenyum puas kepada Luhan yang kini sedang mengusap dahinya pelan. "Sudahlah cepat masuk ke dalam mobil. Aku sudah mulai kedinginan" Lanjutnya lalu menunjuk pintu mobilnya yang terbuka dengan dagunya. Tanpa ba-bi-bu , Luhan segera masuk ke dalam mobil Sehun. Memilih untuk berhenti bertengkar karena udara dingin kota Seoul mulai terasa menusuk kulitnya.

flashback off

"..han? Luhan? kau melamun?" sebuah suara berat menyadarkan Luhan dari lamunannya yang membuat jantungnya berdegub kencang hanya dengan mengingatnya saja. Melihat Luhan masih belum merespon, Kris mengibas-ngibaskan tangannya di hadapan wajah Luhan hingga pria mungil itu mengerjabkan matanya berkali-kali. Tanda bahwa ia sudah tersadar sepenuhnya dari lamunannya.

"Oh? Kenapa?" Tanya Luhan linglung

"Kau melamun" Kris kemudian menatapnya penuh selidik "Apa kau iri karena Jongin membukakan pintu untuk Kyungsoo?" Tanyanya kemudian.

"Apa? Tentu saja tidak" sahut Luhan cepat.

"Lalu-ah sudahlah. Sebaiknya kita cepat masuk sebelum kedua sejoli itu marah" Lanjut Kris ketika melihat Jongin kini sedang menatapnya kesal dari balik kaca mobil. "Silahkan masuk, Luhan" Ia kemudian membuka pintu dan mempersilahkan Luhan untuk masuk.

"Aku tidak akan memanggilmu princess seperti dirinya karena aku takut kau memukulku" Tambah Kris sambil tersenyum geli membuat Luhan mau tidak mau ikut tersenyum karenanya.

"Baiklah, terima kasih, Kris" Katanya yang di balas dengan anggukan oleh Kris. Setelah Luhan sudah duduk manis di tempatnya, Kris ikut masuk ke dalam mobil dan mobil Jongin mulai melaju dari parkiran.

Dan tanpa mereka sadari, ada seseorang yang terus memperhatikan kegiatan mereka dari dalam mobil. Ketika melihat mobil Jongin melaju, sosok itu kemudian segera menyalakan mobilnya dan mengikuti mobil Jongin dari belakang.

"Oh, Kita akan kemana, Sehunna?" Tanya sosok yang duduk di sebelah kemudi. "Apa kita akan berkencan?" Lanjut sosok yang ternyata adalah Irene itu antusias.

Sehun tidak menggubris pertanyaan Irene dan lebih memilih untuk fokus menyetir. Fokus mengikuti mobil yang kini sedang membawa Luhan.


"Gulali!" Pekik Kyungsoo dan Luhan bersamaan ketika melihat permen berwarna-warni itu di salah satu stand di sekitar mereka. Kini mereka berempat telah tiba di salah satu taman di tengah kota. Kondisi taman saat it cukup ramai. Banyak stand-stand makanan yang didirikan untuk mengisi perut para pengunjung taman sore itu.

"Kau ingin gulali?" Tanya Jongin yang di jawab dengan anggukan cepat oleh Kyungsoo.

"Baiklah, ayo kita dapatkan gulali untukmu" Katanya lalu meraih tangan Kyungsoo dan menggenggamnya. Ia kemudian menarik tangan Kyungsoo mendekat ke arah stand itu.

Luhan mengikuti keduanya dari belakang dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya. Ia kemudian menoleh ke arah kanan dan kiri, mencoba mencari sosok tinggi yang seharusnya menemaninya sekarang. Bukan meninggalkannya sendirian seperti ini.

Mata Luhan seketika berbinar ketika Kris justru muncul di sebelahnya dan membawa sebuah gulali besar dengan warna yang sangat indah. Kris mengulurkan gulali itu kepada Luhan yang diterima dengan senang hati oleh si pria cantik.

"Terima kasih, Kris" Ujarnya sambil tersenyum semanis gulali dan membawa sepotong gulali ke dalam mulutnya. "Ini sangat manis!" Pekiknya gembira karena memang dirinya sudah lama tidak bisa mencicipi rasa manis makanan itu.

"sama-sama, Luhan" Jawab Kris sambil terus memperhatikan Luhan. "Bagaimana kalau kita menjauh sebentar dari Jongin dan Kyungsoo? Kita biarkan mereka berdua terlebih dahulu" usul Kris yang langsung mendapat anggukan persetujuan dari Luhan. Mereka kedua kemudian berjalan menjauh sambil ters berbincang-bincang.

Di sisi lain, Sehun memandang punggung kedua orang itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Dirinya juga Irene sudah sampai juga di tempat itu tidak lama setelah Luhan sampai disana. Dan selama ini juga, Sehun terus mengikuti kemana Luhan berjalan dengan Irene yang terus menggelayut mesra di lengannya.

"Sehunna! Gulali!" Irene kemudian menunjuk stand itu dengan tatapan penuh harap. "Aku ingin gulali, Sehunna!"

Sehun memandang Irene dengan tatapan risih lalu menghempaskan tangan Irene yang sejak tadi melingkar di lengannya perlahan. Ia masih sadar tempat untuk tidak berbuat kasar kepada Irene. Lagipula ia juga membutuhkan wanita itu untuk alibinya jika tiba-tiba Luhan melihatnya.

"Belilah sendiri" Sehun berkata ketus lalu kembali berjalan meninggalkan Irene.

"Jangan tinggalkan aku~" Ujar Irene manja sambil kembali meraih lengan Sehun untuk di peluk. Namun ketika mendapat tatapan tajam dari si pria, Irene memilih untuk membatalkan niatnya dan berjalan dengan normal di sebelah Sehun.

"Untuk apa ia mengajakku kesini jika tidak membeli apa-apa" Gumam Irene sengaja agak keras agar Sehun mendengarnya. Namun pria itu nampak acuh dan terus melanjutkan langkahnya. Membuat Irene tambah kesal dibuatnya.


"Kris, lihat!" Luhan menunjuk sebuah stand yang menjual aksesoris. Kris mengikuti arah pandang Luhan lalu berkata, "Ingin melihat-lihat?"

"hmm, mau menemaniku?" Tanya Luhan yang di jawab dengan anggukan oleh Kris "Tentu saja"

Luhan berjalan mendahului Kris dan Kris hanya mengikuti dengan langkah santai dibelakangnya. Kedua mata rusa itu memandang aksesoris yang dijual dengan teliti. Membayangkan bagaimana jika salah satu aksesoris itu dia pakai.

"Kris, apakah ini bagus?" Tanya Luhan seraya menunjukkan gelang yang melingkar di pergelangan tangannya.

"Itu cocok untukmu" Kris berpendapat "Apa kau ingin membelinya?"

Luhan ingin sekali menjawab 'Iya' namun ketika melihat harga yang tertera, Luhan mengurunkan niatnya mengingat dirinya harus mulai berhemat karena sekarang ia harus mengurus hidupnya sendiri. Belum lagi ia belum mendapatkan pekerjaan untuk memenuhi kehidupan sehari-harinya. "Tidak, aku tidak ingin membelinya. Aku hanya sekedar melihat-lihat" Ia kemudian meletakkan kembali gelang yang di pakainya di tempat sebelumnya.

"Ayo kita kembali, Kris. Mungkin Jongin dan Kyungsoo sudah mencari kita" Ujarnya kemudian berjalan diikuti dengan Kris di belakangnya.

Setelah mereka sudah pergi agak jauh, seseorang mendekati stand itu lalu meraih gelang yang baru saja Luhan pakai. Tanpa mempedulikan gadis yang kini sedang merengek meminta untuk dibelikan sesuatu olehnya.

"Aku ambil yang ini"


"Kemana saja kalian berdua?" suara Jongin yang pertama terdengar ketika Luhan dan Kris menemukan dirinya dan Kyungsoo sedang duduk di salah satu bangku taman.

"Hanya berkeliling" sahut Kris datar lalu duduk di sebelah Jongin.

"Luhannie..." Kyungsoo berjalan menghampiri Luhan yang berdiri tidak jauh darinya. "Hai Kyungsoo"

Kyungsoo menatap Kris dan Jongin yang kini sedang berbincang lalu kembali menatap Luhan "Apa kau bertemu dengannya?" Tanya Kyungsoo ambigu.

"Dengan siapa?" Tanya Luhan kebingungan.

"bertemu dengan Se-" Kyungsoo menggantung ucapannya lalu menggeleng. "Ah sudahlah, bagus jika kau tidak bertemu dengannya"

Luhan hendak bertanya namun sebelum mulutnya sempat terbuka, Jongin dan Kris sudah berjalan menghampiri mereka berdua dan mengajaknya untuk pulang karena hari sudah mulai malam juga udara di kota Seoul semakin dingin. Luhan menyetujuinya dan pertanyaan yang hendak ia tanya pada Kyungsoo menguap entah kemana. Tangannya bahkan kini sudah di genggam erat oleh Kris dan ia tidak berusaha melepasnya. Walaupun kehangatan yang ia rasakan kini jauh berbeda dari kehangatan yang dulu Sehun berikan kepadanya.


Kyungsoo side.

Kyungsoo sangat antusias ketika Jongin memberikan sebuah gulali kepadanya. Ia meraih gulali itu dengan bahagia lalu memasukkan beberapa potong kedalam mulutnya. Ia juga memberikan Jongin satu suapan, membuat pipinya bersemu ketika jari lentiknya menyentuh permukaan bibir tebal Jongin yang pernah menyentuh bibir tipisnya.

Saat Kyungsoo sedang asik menikmati gulalinya, tiba-tiba kedua matanya melebar melihat sosok yang baru saja melewati dirinya dengan Jongin. Jongin sempat menyerengit bingung melihat perubahan ekspresi Kyungsoo namun ia melupakan sejenak pertanyaan yang hendak ia lontarkan dan membayar gulali yang Kyungsoo sedang makan saat ini.

Kyungsoo melihat Sehun bersama dengan Irene.

Lantas ia mencoba mencari sosok sahabatnya, mencoba memastikan kalau sahabatnya itu tidak melihat Sehun juga ada di taman. Memastikan kalau Luhan baik-baik saja. Namun ia tidak melihat Luhan mapun Kris di sekitarnya. Kyungsoo berjalan perlahan, mencari Luhan di tengah-tengah keramaian dengan tubuh mungilnya. Ia nyaris terjatuh karena tersandung sesuatu namun Jongin dengan sigap menahan tubuhnya.

"Kau nyaris jatuh jika aku tidak menangkap mu" Kyungsoo melihat Jongin kini menatapnya khawatir, membuat Kyungsoo merasa bersalah karenanya. "Maaf"

"Tidak apa" Pemuda itu tersenyum lalu menarik tubuh Kyungsoo agar bisa berdiri tegak. "Siapa yang kau cari?" Tanyanya lembut.

"Luhan. Aku mencarinya" Ujar Kyungsoo sambil kembali menatap sekeliling. "Dia menghilang sejak kita membeli gulali tadi"

Jongin ikut menatap sekelilingnya namun kemudian itu berkata. "Tenang saja. Luhan bersama Kris." Pemuda itu memegang kedua bahu Kyungsoo pelan. "Ia pasti baik-baik saja" Jongin berusaha meyakinkan dengan senyuman lembutnya. Membuat Kyungsoo mau tak mau mengangguk karena merasa dirinya terhipnotis dengan senyuman tampan Jongin.

Kyungsoo segera mengalihkan pandangannya, takut jantungnya berdegub semakin keras jika terus-terusan menatap wajah Jongin. Entah mengapa dirinya sedikit lebih tenang ketika mendengarkan apa yang Jongin katakan.

semoga Luhan tidak bertemu dengan Sehun. batinnya lalu setelahnya ia merasa tangannya di tarik oleh Jongin. Dan pemuda itu mengajaknya untuk berjalan mengelilingi taman di bawah langit senja.


Luhan baru saja merebahkan tubuhnya di kasur empuk apartemennya. Ia memandang langit apartemennya dengan tatapan menerawang. Hari ini terasa begitu menyenangkan baginya. Setidaknya tadi ia bisa sedikit melupakan kehidupan pahit yang beberapa bulan ini jalani. Belum lagi ia begitu bahagia melihat Kyungsoo lebih terbuka, tidak seperti biasanya. Tidak seperti Kyungsoo yang lebih memilih untuk mengerjakan tugas di rumah daripada berjalan-jalan santai seperti ini.

Namun hari ini juga membuatnya menyadari bahwa ia juga sangat merindukan Sehun, sahabat- lebih tepatnya laki-laki yang telah berhasil mencuri hatinya. Entah mengapa selama ia berjalan-jalan tadi, ia merasa Sehun berada di sekitarnya. Mengawasinya dengan tatapan tajam karena khawatir bukan karena membenci Luhan. Luhan kemudian tersenyum miris ketika mengingat bahwa itu semua hanya khayalan Luhan saja. Kenyataannya Sehun masih tetap membencinya.

Luhan segera bangkit dari tidurnya sebelum lamunannya mulai terbang kemana-mana. Ia kemudian meraih ponsel dari dalam tas nya untuk menghubungi Kyungsoo namun kemudian ia mendesah pelan ketika mengetahui bahwa ponselnya mati total. Ia akhirnya memutuskan untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu sambil menunggu baterai ponselnya terisi kembali dan ia bisa mengucapkan terima kasih kepada Kyungsoo karena sudah mengajaknya pergi hari ini.

Luhan keluar dari kamar mandi tidak lama setelahnya, lalu berniat untuk mengecek ponselnya sebelum ia mendengar pintu apartemennya di ketuk dari luar. Luhan kemudian memutar arah menuju pintu apartemen untuk melihat siapa yang datang ke apartemennya malam ini. Luhan terbelalak ketika pintu apartemennya sudah terbuka dan melihat siapa yang datang malam ini.

Dia Jaejoong, Ibu Sehun.

"Bi..Bibi..."

"Luhan.." Nyonya Oh tersenyum lalu menunjukkan paper bag yang ia bawa kepada Luhan. "Mau makan Jajangmyeon bersama?"


"Maaf apartemen ku sedikit berantakan Bi, aku belum sempat membersihkannya akhir-akhir ini" Ujar Luhan sambil membereskan piring-piring yang tergeletak di ruang tengah dan membawanya ke dapur.

"Tidak apa" Nyonya Oh tersenyum tipis sementara Luhan masih sibuk dengan kegiatannya. Kedua mata Nyonya Oh kemudian menangkap sebuah bingkai foto agak besar yang terpasang di dinding. Ia menatap foto keluarga Luhan itu agak lama, membuat rasa bersalah kembali menggerogoti dirinya.

"Nah sudah beres" gumam Luhan puas "Bibi, ayo kita makan" Ujarnya semangat membuat Nyonya Oh tersadar dari lamunannya lalu berjalan menghampiri Luhan yang baru saja mengambil air minum dari dapur.

"Ini untukmu. Bibi membuat itu sendiri." Nyonya Oh mengeluarkan kotak makanan dari dalam paper bag lalu meletakannya di hadapan Luhan dan membukanya. Membuat aroma Jajangmyeon menguar ddan bercampur dengan udara apartemen "Aku harap kau tidak mual hanya karena memakannya" Candanya membuat Luhan terkekeh pelan.

"Tenang saja, Bi. Aku akan menghabiskannya" Luhan tersenyum lalu mengambil sumpit dan mulai menikmati Jajangmyeon nya "Ini sangat enak, Bi!" Puji Luhan tulus.

"Terima kasih atas pujianmu, Luhan" Nyonya Oh kemudian ikut menikmati makanan yang ia buat sendiri. "hmm, tidak buruk juga" gumamnya memuji diri sendiri.

Mereka kemudian berbincang-bincang. Nyonya Oh terus melontarkan beberapa lelucon yang membuat pria cantik itu tertawa. Ia juga menceritakan bagaimana masa mudanya dulu sebelum menikah. Cerita unik yang membuat Luhan terhibur karenanya.

"Benarkah? Paman sampai seperti itu dulu?" Tanya Luhan sambil terkikik geli yang di jawab oleh anggukan oleh Nyonya Oh.

"Percayalah padaku, Luhan. Dulu Yunho bertubuh sangat besar sehingga aku memintanya untuk melakukan diet ketika ia mencoba mendekatiku" Nyonya Oh menggelengkan kepalanya sambil terus terkekeh geli mengingat bagaimana dulu Yunho- suaminya mendekatinya hingga mereka menikah dan memiliki seorang anak tampan bernama Oh Sehun. "Bahkan ia pernah pingsan saat aku memintanya untuk berlari ke kantin dan membelikan aku minuman"

"Astaga, aku tidak bisa membayangkan wajah paman saat itu" Luhan memegang perutnya yang sakit karena terus tertawa.

"Itulah yang di sebut cinta, Luhan" Nyonya Oh berkata dengan wajah serius, membuat Luhan menghentikan tawanya dan menatap sosok paruh baya itu dengan tatapan penuh tanya. "seperti kau dan Sehun"

Luhan tidak mengerti mengapa jika nama pria itu menyapa telinganya, tubuhnya pasti memberikan reaksi yang berlebihan. Seperti saat ini misalnya. Ia tiba-tiba merasakan pasokan udara di sekitarnya menipis. Ia juga merasa seperti memikul sesuatu yang berat hingga membuat tubuhnya sulit untuk di gerakkan.

Melihat Luhan hanya diam, Nyonya Oh kemudian meraih tangan Luhan dan menggenggamnya dengan erat sambil tersenyum hangat, "Percayalah, kau dan Sehun ditakdirkan untuk bersama"

"Tidak, Bi. Sehun sudah mempunyai kekasih. Ia bahkan membenciku" sahut Luhan sangat lirih dan putus asa.

"Aku ibunya, Luhan. Aku yang paling mengenal anakku"

Memang sejak awal tujuan Nyonya Oh datang ke apartemen Luhan adalah untuk menyatukan kembali Luhan dengan anak kesayangannya. Ia tahu ada sesuatu yang tidak beres diantara keduanya. Ia juga datang untuk membawa Luhan pulang ke rumahnya. Seperti apa yang diminta Ibu Luhan sebelum menutup matanya.

"Luhan, dengarkan bibi"

"Bibi datang kesini untuk membawa mu pulang bersama Bibi," Luhan terkejut bukan main mendengar alasan Nyonya Oh datang ke rumahnya. Namun keterkejutannya bertambah saat mendengar alasan lain yang di katakan Oleh Nyonya Oh.

"Karena Ibumu yang memintaku untuk menjagamu. Ibumu, Xi Bo Lin"


"Jaejoong-ah...akh..aku...aku mohon..."

"Kau harus bertahan, harus! Luhan menunggumu di rumah hiks... ia pasti akan..."

"aku..mohon.. jagah anakkuh..."

"Tidak.. kau tidak boleh pergi hiks.. tidak.."

"Maafkan segalah.. kesalahanh kuhh"

"Tidak kau tidak bersalah! berhenti berbicara hiks... yang aneh"

"Sampaikan pada Luhan... aku sangat mencintainya..."

"Dia mengatakan itu, sesaat sebelum ia ditangani dokter dan dinyatakan koma setelahnya" Nyonya Oh berujar lirih, nyaris menangis ketika mengingat bagaimana terakhir Ibu Luhan masih tersenyum ketika dirinya merasakan sakit yang teramat sangat. Sementara Luhan membeku dalam tempatnya. Ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Bayangan ibunya yang tersenyum padanya di ketika malam itu menyeruak masuk ke dalam pikirannya.

Mereka berdua hening sejenak, sampai kemudian suara Nyonya Oh terdengar lagi.

"Ikutlah pulang dengan bibi, Luhan. Bantu Bibi dan Paman menebus kesalahan kami kepada orang tua-mu" Katanya diikuti dengan air mata yang lolos begitu saja dari matanya. "Setidaknya...setidaknya biarkan aku... biarkan aku mengabulkan permintaan terakhir ibumu"

Luhan terdiam sejenak untuk berfikir. Ia bisa saja menerima ajakan Nyonya Oh untuk tinggal bersamanya dan mengabulkan permintaan terakhir ibunya. Namun di sisi lain ia memikirkan reaksi Sehun jika mengetahui Luhan, orang yang notabene sangat pria itu benci tinggal bersama kedua orang tuanya. Apa Sehun akan menuduhnya yang tidak-tidak? Apa pria itu akan mengusirnya jauh-jauh?

Namun melihat Nyonya Oh yang sedang menatapnya penuh harap, Luhan akhirnya memilih menyerah dan memutuskan untuk menerima apapun yang akan terjadi padanya. Ia kemudian menggenggam erat tangan Nyonya Oh dan tersenyum manis kepada sosok itu.

"Baiklah, Bi. Aku akan ikut denganmu"


haloha!

update yeyeye lalaa

Ingatkan padaku untuk ikut membahagiakan Hunhan, bukan cuma Kaisoo hiks /nangis di pundak Jongin/

btw aku mau bilang semangat untuk kakak-kakakku yang UN hari ini. semoga hasilnya memuaskan ya!

Jadi gimana ni? lanjut/end aja mendingan? ehehe

ditunggu ya reviews, favs, dan follownya! pm ku juga terbuka lebar untuk kalian.

maaf jika ada typo. akhir kata aku mau bilang makasih untuk para readersku!

kiss and hugs, jimaeun