Chapter sebelumnya:

"Bisakah Misa keluar? Saya butuh berbicara dengan Raito dan Ryuuzaki..." ucap Ino. Misa yang tak ingin mendapat deathglare Ino pun keluar dengan hati yang dongkol. Tentu saja, harusnya ia bisa menikmati banyak waktu bersama Light. Manik biru Ino membuntuti Misa sampai keluar dari ruangan itu, dan matanya menutup bersamaan pintu ruangan yang tertutup itu. Otaknya berpikir keras bagaimana cara memancing Light berbicara.

"Baiklah Raito-san. Saya ingin menanyakan barang apa sajakah yang anda simpan di kamar anda? Sebutkan semua barang yang menurut anda sangat berbahaya untuk di ketahui. Katakan pada saya di mana anda menyimpannya..."

Paradise © LavenMick Amanda

Naruto © Masashi Kishimoto

Death Note © Tsugumi Ohba & Takeshi Obata

Warning!

Abal, Gaje, Typo(s)—maybe, Hurt/comfprt, Romance (yang ga kerasa),Crime, LxIno slight SasuIno, T+ for safe.

.

Aku pernah dengar bahwa surga memiliki seorang malaikat untuk seorang manusia. Apakah mitos itu juga berlaku untuk surga ini? Apakah dunia ini benar-benar surga? Atau hanya kelihatannya saja surga? Jika dunia ini benar-benar surga kenapa aku tak bisa menemukan malaikatku? Atau malaikat itu belum saatnya datang?

.

Hanya sebuah fiksi hiburan. So, N'Joy it!

.

Sang surya yang berada di atas kepala merangkak perlahan hari itu. Langit bersih dari gumpalan kapas, yang karenanya sebagian manusia yang di bawahnya merasa kepanasan. Namun tiga manusia yang sedang berjalan masuk ke pekarangan sebuah rumah tak begitu memperdulikan panas yang menyengat mereka. Dua diantara mereka adalah laki-laki yang satunya menggunakan kaos putih panjang dan satunya lagi mengenakan kemeja putih berlapis jaket biru. Seorang wanita berada di samping kanan mereka. Wanita yang menggunakan kaos jersey putih berlengan panjang yang menutupi setengah paha mulusnya. Celana hitam pendek yang tak begitu kelihatan dan sepatu kets paduan biru gelap dan putih menjadi pelengkapnya. Rambutnya ia ikat seperti biasa, dengan masker yang masih setia menutupi sebagian wajahnya. Sebuah ransel yang tak di ketahui apa isinya pun menjadi pelengkap penampilannya.

"Tadaima..." ucap pria berambut coklat melangkah masuk pada suatu rumah.

"Okaeri nii-san!" jawab seorang gadis ceria.

"Sayu-chan, mereka teman-temanku. Tolong buatkan teh untuk mereka, kami akan mengerjakan tugas kuliah bersama-sama," ucap kakak laki-laki dari gadis yang bernama Sayu itu.

"Yuki Hana desu ka..." ucap Ino tersenyum lebar menampilkan deret giginya yang putih di balik masker, setelah membungkuk.

"Hideki Ryuga desu ka." Ucap L datar sambil membungkuk juga. Alis Sayu mengernyit menandakan kalau ia sedang bingung.

"Ehehehe, Sayu-chan... Namanya memang sama seperti artis terkenal itu. Tapi bisa dipastikan kalau Kakek Panda ini bukan artis terkenal itu, kok!" ucap Ino menjelaskan sambil menunjuk L dengan jempol. Sayu lalu mengangguk sambil tersenyum. Mereka lalu naik ke kamar Light yang berada di lantai dua.

"Sejujurnya saya terseinggung dengan julukan yang anda alamatkan pada saya tadi." Ucap L langsung mengambil tempat duduk di atas kursi komputer Light.

"Sumimasen, Ryuuzaki. Itu hanyalah akal-akalan saja bahwa Sayu-san tak menganggap semua teman-teman kakaknya aneh." Balas Ino. Light pun duduk di samping Ino yang duduk di atas tempat tidur Light sambil membuka jaketnya. Memang tak ada ekspresi yang aneh di wajah Light, bagi Ryuuzaki. Tapi mata Ino yang sudah peka terhadap peluru paling kecil di dunia yang berada enam meter menuju ke arahnya, jadi mudah saja baginya untuk menyadari air muka Light yang berubah.

'Kalau saja aku menolak untuk di interogasi, pasti Rain mencurigaiku sebagai Kira. Rain sialan!' batin Light geram.

"Ngomong-ngomong, apakah semua nama Rain-san berbeda disetiap orang baru yang anda temui?" tanya L sambil mengambil sebuah permen di dalam saku celananya. Lalu setelah memisahkan permen dengan bungkusnya, makanan yang hampir delapan puluh persen terdiri dari glukosa itu pun dengan indahnya tenggelam dalam mulut sang detektif dunia itu. Ino yang melihat adegan di depannya hanya memandang malas pria dengan rambut acak-acakan.

"Ya." Ucap Ino seraya mengangguk. Lalu sebuah ketukan pintu menarik mereka dari dunia mereka yang tengah terjebak dalam keheningan. Selanjutnya, seorang perempuan yang di penuhi oleh garis-garis penuaan pun masuk kedalam ruangan yang berisi tiga orang dengan IQ sangat tinggi.

"Ano, maaf mengganggu. Ini aku membuatkan teh untuk kalian.." ucap wanita itu sambil tersenyum.

"Oh, tidak perlu repot-repot, bibi. Kami juga belum memulai tugas kami. Apakah bibi ibunya Raito-kun?" tanya Ino bersikap (pura-pura) manis di depan ibu Light. Ibu Light tersenyum sambil mengangguk, sebagai jawaban dari pertanyaan Ino tadi.

"Baiklah bibi, kalau begitu perkenalkan diriku. Aku Yuki Hana, dan anda bisa panggil dia Ryuga," ucap Ino memperkenalkan diri sambil tersenyum memamerkan gigi-giginya yang putih, di balik maskernya. Setelah itu ia menunju L sambil memperkenalkan diri sang detektif itu.

"Ah, Hana-chan orang yang sangat ramah dan ceria. Kalau begitu salam kenal, Hana-chan. Baiklah, kalau begitu silahkan dilanjutkan tugasnya." Ucap ibu Light yang berlalu. Sedangkan Light dan L hanya bergeming.

"Rain-san benar-benar pintar berakting rupanya," ucap Light. Lalu tangannya meraih secangkir teh dari nampan yang di letakkan ibunya di atas meja belajar Light. L juga mengambil secangkir, tinggalah cangkir Ino yang belum tersentuh.

"Rain-san tak meminum—"

"Nanti aku minum." Potong Ino atas ucapan L. Kembali, pria dengan gelar detektif terhebat itu hanya menelan kesal.

"Jadi, tunggu apa lagi, Raito-kun? Kau bisa menunjukannya pada kami." Ucap L pada Light. Ino pun menyeringai di balik maskernya. Let the show begin, Light!

"Naaaah, Raito. Bukankah ini masalah besar bagimu?" tanya seorang mahluk bersayap. Matanya bulat besar, dan mulutnya selalu tersenyum. Terlihat seperti joker*, sepintas.

'Saya tak tau apa yang Rain-san lakukan. Namun saya percaya kalau Rain-san berniat untuk mengungkap keberadaan Kira. Saya yakin.' Batin L.

"Baiklah. Aku ada menyimpan majalah –tiit- di rak buku itu." ucap Light sambil menunjuk salah satu map hitam besar. Ino lalu mendekati rak yang berisi puluhan map itu, dan menarik salah satu map yang di tunjuk Light. Memang benar ada beberapa majalah —tiiiit— di tempat yang ditunjuk Light. Selanjutnya ada beberapa benda 'terlarang' yang benar-benar di tunjukkan Light.

"Baiklah kalau begitu. Saya mengerti." Ucap Ino. Batin Light pun tertawa penuh kemenangan. Kau takkan bisa menemukan Death Note itu, Rain.

"Tapi izinkan saya memeriksa satu tempat." Ucap Ino. L hanya duduk diam memerhatikan gerak gerik Ino. Mengerti akan situasi yang bingung, L mengambil bagian.

"Raito-kun, bisakah anda memberi saya gula? Teh ini kurang gula." Ucap L menatap cangkirnya yang baru berkurang sedikit.

"Baiklah, tunggu di sini." Ucap Light. Ia lalu keluar kamarnya untuk mengambilkan L gula.

"Apa yang anda rencanakan, Rain-san?" tanya L. Ino lalu menaruh telunjuknya di depan mulutnya, menandakan kalau ia menyuruh L untuk bungkam. Lalu Ino mengeluarkan sebuah penyadap yang berukuran sangat mini (seukuran nyamuk, mungkin?) dari saku celana pendeknya. Ia lalu mengambil handphone Light yang terletak di atas meja di samping tempat tidurnya dan membuka pelindung baterai telepon genggam itu. Ia menyelipkan penyadap suara itu pada lubang kecil antara baterai dan badan handphone itu sendiri. Ino lalu mengeluarkan tisu dari sakunya dan mengelap semua sisi handphone Light. Gunanya? Tentu saja untuk menghilangkan jejak sidik jari Ino di sana.

Ia kembali meletakan ponsel Light seperti semula. Ino kemudian meraba-raba telinganya. Tepat saat Ino kembali duduk di kasur Light, pintu pun terbuka menampilkan sesosok pria yang tampangnya membuat kaum hawa tunduk sepenuhnya pada pria itu.

"Ini, Ryuuzaki.." ucap Light memberikan semangkuk kecil gula pada L. Light pun duduk di samping Ino.

"Bagaimana, Rain-san? Kau menemukan sesuatu yang mencurigakan?" tanya Light. Ino menggeleng pelan. Walaupun kau memeriksanya sampai ke sudut lemariku, kau takkan menemukannya, Rain!

'Bila kau mengira aku akan menemukan Death Note itu, kau salah, Raito.' Batin Ino puas.

"Raito-san, apa nama mahluk yang berada di sudut kamarmu itu?" tanya Ino menunjuk ketempat dimana Ryuk berdiri. Jantung Light pun berdetak cepat, Ryuk tercengang di tempatnya, L mengikuti arah telunjuk Ino.

"Saya rasa tidak ada sesuatu mahluk di sana, Rain-san." Ucap L pada Ino.

"Tapi saya melihatnya..." ucap Ino masih menunjuk Ryuk. Ryuk pun terkekeh pelan, sedangkan sebiji peluh besar mengalir dari dahi sang empu kamar.

"Namamu... Ryuk?" ucap Ino. 'Bagaimana Rain tahu tentang Ryuk? Apakah ia menyentuh buku itu? Tidak mungkin. Aku yakin sudah memberinya pada Misa, dan tak ada sobekan kertas di kamarku. Bagaimana Rain bisa tahu nama Ryuk?'batin Light cemas.

Jelas saja, Ino merupakan ancaman bagi Light sebagai Kira.

.

"Rain-san, saya ingin anda menceritakan tentang tadi.." ucap L pada Ino. Mereka kini sedang dalam perjalanan pulang dengan motor ninja milik Ino. Tak usah kau pedulikan kenapa Ino mengendarai motor ninja. Ia memilih motor itu karena pekerjaannya yang menuntutnya tepat waktu. Yah, Ino akui memang kendaraan beroda dua itu memang memiliki tenaga yang lebih. Ia juga tak perlu menunggu untuk kemacetan total yang sering terjadi di Jepang. Ino pun membelokan arah stir motornya ke arah yang berlawanan dari markas besar untuk kasus Kira.

L sendiri? Pemuda yang memaksakan kakinya itu untuk duduk dengan 'normal' itu mengatakan kalau ia sependapat dengan Ino tentang lalu lintas yang merepotkan.

"Saya rasa kita menuju arah yang salah, Rain-san." Ucap L di balik helm-nya. Ino hanya diam. Matanya bergerak liar menatapi jalanan dari balik helm-nya. Tak lama kemudian, Ino berhenti pada sebuah café di pinggir kota. Ia melepas helmnya, setelah memarkir motornya.

"Apa yang akan kita lakukan di sini, Rain-san?" tanya L turun dari motor Ino. Ia lalu melepas helm-nya, yang ia letakkan di atas tempat duduk Ino.

"Bukankah anda ingin penjelasan saya tentang kejadian tadi siang? Saya akan menceritakannya. Maaf saya tak bisa menceritakannya saat di markas," ucap Ino menatap L. Kakinya lalu menuntun langkah L masuk pada café yang menawarkan pemandangan danau itu. Semarak lampu menghiasi café tersebut. Langit yang sudah gelap sejak beberapa menit yang lalu menambah kesan indah café tesebut. Mereka memang agak lama di rumah Light tadi, karena Ino masih ingin memeriksa beberapa tempat di kamar Light. Ino mengambil tempat duduk di pojok, yang tersudut dan dapat memerhatikan keindahan danau. L sendiri duduk dengan cara 'khas'nya.

"Anda akan memesan apa, Ryuuzaki?" tanya Ino sambil membuka buku menu yang di bawakan pelayan yang datang.

"Teh dengan ekstra gula," ucap Ryuuzaki yang langsung dicatat pelayan tesebut. Setelah mengatakan bahwa Ino tak memesan apapun, pelayan itu pun pergi.

"Jadi, akan saya jelaskan kejadian tadi siang, Ryuuzaki. Saya harap anda dapat menyimpan rahasia ini." Ucap Ino membuka pembicaraan yang di jawab Ryuuzaki dengan anggukan.

"Saya mempunyai seorang teman. Dia juga Kira." Ucap Ino yang membuat L sedikit tersentak. Namun L tetap bungkam membiarkan Ino berbicara.

"Dulu, saya dan dia sangat dekat. Dia adalah seorang yang sangat baik. Namun sikap baiknya hanya di tunjukkan pada saya, selebihnya ia adalah orang yang dingin." Jeda Ino membiarkan pelayan menaruh pesanan L di atas meja yang memisahkan jarak mereka berdua.

"Kira itu, mempunyai satu buku yang mereka gunakan untuk membunuh. Buku itu di miliki oleh seorang Shinigami," ucap Ino. L menyeruput teh-nya pelan.

"Ia juga membunuh penjahat, namun dengan alasan bunuh diri. Bukan serangan jantung. Ia juga tidak membunuh sebanyak Kira yang sekarang. Ia memiliki sebuah mata Shinigami yang harganya setengah nyawa teman saya." Ucap Ino yang membuat L tersentak. Mata Ino sendiri menerawang ke pemandangan luar yang hanya di lapisi oleh kaca bening.

"Apa guna mata Shinigami itu, Rain-san?" tanya L mengernyit.

"Bisa melihat nama asli, dan sisa umur orang yang yang di lihat wajahnya." ucap Ino dengan nada rendah. (Laven merinding -...-)

"Saya rasa Kira sudah melihat nama anda, Ryuuzaki.." lanjut Ino. L pun menaruh cangkir teh tersebut.

"Siapa menurut anda Kira itu? Dan apakah anda mempunyai mata Shinigami tersebut?" tanya L.

"Dulu, saya mengalami kecelakaan pada misi saya. Hampir saja saya mati... kalau saja teman saya itu tidak menyelamatkan saya. Kira teman saya menyelamatkan saya dengan mendonorkan jantung dan matanya." Ucap Ino dengan sendu.

"Jadi dengan kata lain, anda memiliki memiliki mata Shinigami teman anda?" tanya L penuh selidik.

"Ya. Tapi, hanya mata kanan saya saja, tidak dengan mata kiri saya. Karena hanya mata kanan saya yang mengalami kebutaan. Ada masanya mata Shinigami ini tak berfungsi.." ucap Ino menutup kedua matanya.

"Jadi... itulah kenapa anda menutup mata kanan anda dengan poni anda?" tanya L lagi. Ino pun menatap L lalu mengangguk.

"Apakah anda juga dapat melihat nama Shinigami?" tanya L. Ino menggeleng lalu kembali menatap keluar jendela, dimana sebuah danau besar di kelilingi lampu taman yang indah.

"Jadi bagaimana cara anda mengetahui nama Shinigami tersebut?" tanya L.

"Saya mengetahuinya saat Raito-san tengah asyik bercumbu berdua dengan Misa-san. Memang tidak terlalu jelas apa yang mereka bicarakan. Namun aku mendengar Misa mengatakan 'Apa kita tidak meminta bantuan Ryuk saja untuk membunuh Rain-san?'. Mulai dari situ saya kecurigaan saya menguat bahwa mereka berdua adalah Kira. Mereka berbincang seperti itu saat kita keluar dari kamar Misa. Mungkin saja Raito-san sudah menyembunyikan Death Notenya di Misa-san," ucap Ino. L pun mengangguk mengerti.

"Apakah anda juga melihat nama saya?" tanya L. Ino menggeleng.

"Saya menghargai hal yang menurut saya adalah privasi anda sebagai detektif," ujar Ino.

"Arigato, Rain-san." Ucap L. Hening pun kembali hadir di setiap inci di antara mereka.

"Lalu... bagaimana langkah anda selanjutnya?" tanya L mengusir hening.

"Saya punya satu rencana. Tapi saya butuh rekan anda dari Wammy House," ucap Ino menarik garis bibirnya.

"Maksud anda?" tanya L terkejut.

"Saya butuh Near dan Mello. Dan jangan menanyakan pada saya bagaimana cara saya mengetahuinya." Desis Ino.

"Baiklah, saya akan hubungi Roger." Ucap L datar. Tak saya sangka, Rain-san sampai mengetahui keberadaan saya sejauh itu.

"Saya rasa ini sudah terlalu lama kita pergi. Ayo kembali ke markas." Ucap Ino. L mengangguk. Setelah membayar pesanan L tadi, mereka pun melangkah keluar dari café itu. Tak ada yang memulai pembicaraan menuju parkir. Mereka berdua terlalu larut dalam pikiran masing-masing. Sampai akhirnya Ino tersandung batu yang entah dari mana munculnya, membuatnya kehilangan keseimbangan. Ino sudah menutup matanya rapat-rapat. Beberapa detik telah berlalu. Namun badan bagian depannya tak merasakan sesuatu yang keras atau menyakitkan. Ia kembali membuka matanya, dan manik biru itu terbelalak kaget ketika sebuah tangan menahan bahu dan perutnya dari belakang.

"Ryu-Ryuuzaki?" ucap Ino menarik tubuhnya. Kalau saja ia tak menggunakan masker, mungkin sudah terlihat semburat merah di sana. Hei, walaupun Ino seorang yang dingin dan cetus, ia juga wanita normal!

"Anda tak apa? Bisa kacau kalau anda tersandung ketika ada bom yang meledak di depan anda. Lagipula, anda terlihat pucat." Ucap L. Blush! Semburat yang tertutup topeng itu makin menebal. L lalu mengambil kunci motor dari tangan Ino. L sedikit tersentak menyadari tangan Ino yang dingin.

"Apa yang anda lakukan, Ryuuzaki?" tanya Ino.

"Setidaknya ucapkan terima kasih pada saya."

"Terima... Kasih."

"Saya akan mengendarai motor anda. Bahaya dengan kondisi anda yang sekarang kalau mengendarai motor." Ucap L menaiki motor Ino. Setelah men-starter motornya, Ino lalu naik ke motor dengan gerakan yang di paksakan. Motor pun mulai berjalan.

"Saya tak menyangka Ryuuzaki dapat mengendalikan motor dengan baik.." ucap Ino memegang bahu L sebagai tumpuannya.

"Insting.." ucap L. Baru saja dikata, tiba-tiba L menarik rem dengan tiba-tiba, yang membuat Ino maju kedepan sambil memeluk pinggang Ryuuzaki. Wajah Ino memerah sepenuhnya. Memang sebelumnya ia sering dekat dengan pria lain. Tapi tidak pernah ia merasakan perasaan ini, perasaan yang sudah dua puluh tahun tak hinggap di batinnya.

Waktu yang lama, bukan?

"Saya tak merasa risih dengan anda yang memeluk saya. Saya kira agar anda tidak jatuh?" ujar L sambil kembali menarik gas motor.

"Ungh, Terima kasih, Ryuuzaki..." ucap Ino.

"Untuk?"

"Lupakanlah.." ujar Ino salah tingkah. Untung saja L tidak punya dua mata di belakangnya. Kalau punya? Habislah harga diri Ino.

Sungguh, Ino merasa ada yang janggal di dadanya. Seperti ada rasa yang asing, namun jujur ia menyukainya. Dalam seumur hidup, baru kali ini ia diperhatikan. Memang, Pain sebagai orang yang 'memungutnya' memerhatikan kesehatannya. Namun terasa berbeda dengan L. Ia merasa L adalah orang yang tulus.

Tunggu!

'Memungutnya'?

"Kita sudah sampai, Rain-san," ucap L. Lalu Ino turun dari motor dan menaruh helmnya di motor. Setelah memberikan kunci motor, L masuk ke gedung itu dengan Ino yang mengikutinya dari belakang. Hening terus menguasai keduanya. Di lantai awal, di lift... sampai akhirnya suara pintu lah memecah keheningan. Setelah menjelaskan dengan semua orang di sana, L membawa Ino ke ruang istirahat, di mana ada beberapa ranjang untuk istirahat di sana.

"Tunggu di sini, Rain-san." Ucap L. Beberapa menit kemudian, L kembali membawakan segelas susu hangat.

"Minum lah." Ucap L. Ino hanya diam terhenyak. Matanya membulat mendapati aroma dari susu itu. Kesadarannya perlahan memudar, namun Ino menahannya.

'Aroma ini... Haruskah aku memberi tahu diriku?' batin Ino. Samar-samar, Ino merasakan sesuatu yang hangat mengalir dari hidungnya.

"Ada apa, Rain-san?" tanya L bingung. Ia duduk di tepi ranjang itu. Matanya tetap menunggu Ino meraih gelas susu yang ia letakkan di samping meja Ino.

"..." tidak ada respon.

"Oh saya lupa. Apa saya harus keluar dulu? Saya lupa kau takkan menunjukan wajah anda kepada siapapun, termasuk saya, bukan?" Tanya L yang akan beranjak. Namun sebuah tangan menahannya.

"Tetaplah di sini. Saya akan menjelaskan sesuatu." Ucap Ino. L kembali duduk.

"Ini kali pertamanya saya membuka masker saya di depan orang sejak dua puluh tahun belakangan," ucap Ino mengangkat tangannya ke belakang, meraih tali masker hitam yang di gunakannya. Ino pun perlahan membuka maskernya. Ryuuzaki dengan setengah mati menunggu Ino membuka maskernya. Matanya membulat melihat pemandangan di depannya. Bercak-bercak darah keluar dari hidungnya.

"Jangan risau. Ini memang selalu terjadi saat saya Anemia**" ucap Ino mengusap darah di hidungnya dengan sebuah tisu yang di keluarkannya dari saku celananya. L pun terhenyak melihat muka Ino.

"Saya seperti mengenal wajah anda. Namun saya lupa di mana saya menemuinya..." ucap L dengan alisnya yang mengerut. Mencoba mengingat-ingat di mana ia pernah bertemu Ino.

"Saya sudah duga perihal ini." Ucap Ino tersenyum kecut.

Baiklah, sepertinya Ino akan menangis setelah dua puluh tiga tahun ia tak menangis.

.

—To be continue.

.

*Joker= Joker itu nama pemeran antagonis yang main di film Batman :D

**Anemia= Anemia itu nama penyakit kekurangan darah

.

Hueeh, cupek banget Laven,

Akhirnya chapter 2 kelar juga..

Jreng Jreng Jreng Jreng, si Sasu udah muncul :D

Ituloh, yang di bilang temen Ino itu, yang donorin itu loh...

Tapi tenang, bukan artinya Cacunyam ga muncul di fiksi ini, muncul kok! ^o^

Ciiiat, Laven kira pasti banyak yang penasaran,,

Tenang senpai, pasti Laven penjelasan di Chapter 3 nanti :3

Dan Near sama Mello mungkin akan muncul di chapter depan!

Baiklah, Review sudah di balas, karena semuanya login.

Sampai jumpa di chapter depan! :D

Special thank's for:

Semua pembaca, dan kamu yang belum menampakan diri.

.

Fiksi ini takkan berkesan tanpa kehadiranmu, jadi Read and review, please?

.

Salam manis, semanis senyumnya Ryuuzaki,

LavenMick Amanda.