Chapter sebelumnya:

"Jangan risau. Ini memang selalu terjadi saat saya Anemia**" ucap Ino mengusap darah di hidungnya dengan sebuah tisu yang di keluarkannya dari saku celananya. L pun terhenyak melihat muka Ino.

"Saya seperti mengenal wajah anda. Namun saya lupa di mana saya menemuinya..." ucap L dengan alisnya yang mengerut. Mencoba mengingat-ingat di mana ia pernah bertemu Ino.

"Saya sudah duga perihal ini." Ucap Ino tersenyum kecut.

Baiklah, sepertinya Ino akan menangis setelah dua puluh tiga tahun ia tak menangis.

Paradise © LavenMick Amanda

Naruto © Masashi Kishimoto

Death Note © Tsugumi Ohba & Takeshi Obata

.

WARNING!

Abal, Gaje, Typo(s)—maybe, Hurt/comfort, Romance (yang ga kerasa),Crime (maybe), LxIno slight SasuIno, T+ for safe.

.

Jika aku menyakiti malaikatku sebelum menyadari keberadaannya, apakah yang akan dilakukannya? Apa ia akan marah padaku?

.

Sebuah fiksi untuk hiburan. Let's N'joy this fiction!

.

"Hal ini?" tanyanya bingung.

"Saya—"

Tok...Tok...

"Ryuuzaki, ada buku baru yang di temukan.." ucap Watari masuk. Ino memalingkan wajahnya ke arah lain, di mana Watari tak dapat melihatnya.

"Buku?" ucap Ryuuzaki bingung.

"Ada dua fakta yang saya dapati di sini. Misa yang teledor menyimpan buku Raito, atau ini memang rencana Raito. Jika ini rencana Raito, saya memikirkan dua hal. Hal pertama adalah buku Death Note itu asli, dan Raito-san menyobek beberapa halaman untuknya, atau itu adalah buku palsu." Ucap Ino masih memalingkan wajahnya.

'Analisa Rain-san benar-benar cepat..' batin L.

"Baiklah, kalau begitu saya akan kesana sebentar lagi, Ryuuzaki." Tutur L yang di sambut kepergian laki-laki berumur itu. Detektif yang tangannya tak lagi terpaut pada rantai yang juga dikenakan Light pun menatap Ino kembali.

"Pergilah, Ryuuzaki. Kita akan lanjutkan percakapan tadi setelah kasus ini selesai..." ucap Ino. L pun mengangguk dan berjalan pergi dari kamar itu. Selanjutnya Ino termanggu sendiri di temani kamar luas dengan empat tempat tidur kecil di sana. Beberapa lampu ruangan berwarna jingga menjadi penerangan di sana. Pikirannya menerawang pada ingatan dua puluh tahun lalu, di mana ia berada di misi pertamanya.

Flashback

"Sasuke-nii, aku takut..." rengek seorang anak kecil berambut pirang pendek. Mata birunya menatap sendu jalanan di bawah kakinya. Seorang anak laki-laki berumur lima tahunan itu pun bergeming, tak tahu respon apa yang harus ia berikan pada gadis bermanik biru itu.

"Setidaknya kau sudah berlatih menembak selama seminggu ini, dan kau sudah menyamai kehebatanku," ucap anak laki-laki berambut raven tersebut. Ia lalu menghampiri anak perempuan yang dua tahun lebih muda itu. Kakinya melangkah pelan menuju anak pirang yang beberapa langkah di belakangnya. Mereka sedang ada di pemukiman warga. Wajah polos itu tengadah pada anak laki-laki di depannya, yang beberapa senti lebih tinggi darinya.

"Beruntung kan kau sudah di rawat Pain-nii? Ini adalah misi pertamamu, Ino-chan. Bersemangatlah! Aku akan menyayangimu, kau juga kan?" ujar Sasuke —nama bocah itu. Mata kelam itu berbinar menyemangati gadis kecil di depannya. Perlahan namun pasti, gadis kecil di depannya menyunggingkan sebuah senyum—senyum yang hanya ia berikan untuk Sasuke. Mereka kembali berjalan menuju sebuah rumah. Matahari yang memang tak muncul di musim salju, membuat mereka harus mengenakan jaket tebal yang benar-benar membatasi pergerakan mereka.

Gadis bermanik biru itu sungguh ingat, bagaimana sang ketua organisasi gelap itu mengatakan padanya bahwa ini adalah misi pertamanya; membunuh seorang gembong narkoba. Sah-sah saja memang, karena Ino—gadis kecil itu sudah setuju bahwa Pain akan membawanya kepada Surga, di mana ia tak kan merasakan sakit lagi. Dia adalah seorang anak yang tebuang di jalanan. Namun, Pain dengan baik hati memungutnya, melatihnya menjadi 'Mesin-Pembunuh'.

"Ino-chan? Kapan kau akan menembaknya?" tanya Sasuke kecil.

"Tunggu, aku ingin melihat sesuatu. Sebentar saja.." ucap Ino melewati beberapa butir salju yang akan terjun kekepalanya. Ia lalu mendekati jendela rumah—yang tak terlalu tinggi, membuatnya dapat memerhatikan apa yang terjadi di dalam rumah itu.

Matanya pertama kali terfokus pada seorang anak kecil, berambut hitam mencuat dengan kaos tebal ala musim dingin dan celana panjang berwarna biru. Pintu depan rumah itu terbuka, menampilkan seorang pria tua mengenakan jas, yang jalannya sedikit terseok-seok. Ia membentak istrinya, entah apa yang dilakukan pria itu. Anak dengan rambut hitam itu membuat segelas susu dan dari analisa Ino, ia berusaha menenangkan ayahnya dengan menarik-narik lengan baju ayahnya dengan tangannya yang kosong.

"Ayah, tenang lah dulu, aku buatkan susu untuk ayah!" itulah yang dapat Ino tangkap dari pendengarannya. Dengan mudah ayah anak itu menampik gelas susu yang ditawarkan padanya, sehingga gelas susu yang terbuat dari kaca itu pecah. Aroma susu itu menguar sampai Ino dapat menciumnya. (Jendela itu sedikit renggang, jadi ada celah di sana).

Manik Ino membulat ketika laki-laki yang mungkin mabuk itu membanting kepala istrinya, sehingga ada darah yang merembes di organ tubuh yang terdiri dari tengkorak itu. Wanita itu sudah tak lagi bernyawa, meninggalkan anaknya yang masih membatu dengan kejadian barusan. Baru saja laki-laki itu hendak meraih kepala anak itu (yang mungkin ia juga akan membantingnya), Ino menodongkan pistolnya di balik kaca jendela itu. Saat pria itu sudah meraih rambut anak itu, dengan cepat Ino menarik pelatuk pistol itu, yang dengan tepat mengenai jantung pria yang membelakanginya itu. Dengan seketika, pria itu ambruk.

Entah apa yang mendorong, Ino meninggalkan pistolnya dan segera melangkah memasuki rumah itu. Kaki-kaki kecilnya tak mengindahkan panggilan Sasuke yang menyuruhnya untuk pergi. Ia mendobrak pintu itu dan langsung masuk ke dalamnya. Dengan mudah ia dapat menemukan anak itu. Ia pun melangkah mendekat. Aroma susu yang tumpah di dekatnya menguar.

"A-ano... aku mendengar ada keributan di sini... siapa namamu?" tanya Ino. Anak yang lebih tua tiga tahun darinya itu tegak.

"Aku... Rein Lawliet.." ucap anak itu lantang. Namun jelas, Ino masih menangkap raut ketakutan di sana.

"Aku Yamanaka—"

"INO! Apa yang kau lakukan? Pain-nii akan marah!" bentak Sasuke memotong pembicaraan Ino. Ia langsung menyeret tangan Ino keluar dari rumah itu. Ino sempat melihat anak itu, dan otaknya berusaha mengingat detail wajah anak itu.

"Kita akan bertemu lagi, Rein!" ucap Ino sebelum pergi.

Akan kuingat aroma ini, Rein.

.

End of Flashback

.

Pagi itu, sebuah pagi berembun. Matahari yang tak kelihatan karena awan menumpuk menghadang jalur sinarnya, namun masih sempat menarik seorang gadis pelan dari lelapnya. Selimut yang menutup sampai sebatas hidungnya ia singkirkan. Ia mencoba duduk, dan memijit pelipisnya yang agak pusing. Perlahan-lahan, ia mengumpulkan kesadarannya yang tercecer. Baru ia sadar, kalau ia tak mengenakan masker. Sebuah sapu tangan terlipat manis di meja sampingnya. Ia meraba-raba sakunya, mencoba mencari benda petak yang dapat menghubungkannya satu sama lain. Setelah mendapatkannya, ia bergerak duduk di tepi ranjang. Terdapat sebuah jendela besar yang masih tertutup tirai putih di sana. Ia menekan tombol di benda itu, berniat menghubungi seseorang.

"Ya Clove? Ada apa?" tanya seorang di sebrang.

"Bawakan saya masker. Masker yang saya pakai ini kotor."

"Kau benar-benar memperbudakku."

Tiit.

Sambungan diputuskan.

Begitulah caranya berkomunikasi. Ia meraih sapu tangan di mejanya. Membentuk pola segitiga, dan menutup mulut dan hidungnya dengan sapu tangan yang lebar itu. Bagus, sekarang ia sudah terlihat seperti ninja. Untung saja jersey yang ia gunakan sejak kemarin mengurangi kesan 'ninja'nya.

Ino—nama gadis itu. Ia mencoba tegak. Baru ia sadar bahwa ikatan rambutnya telah lepas—entah mahluk apa yang melepasnya. Setelah menyadari bahwa ikat rambutnya telah putus, ia menghela nafas pelan. Ia meraih jepit yang berada di belakang kepalanya, dan menjepit poninya kebelakang. Terlihatlah manik yang berbeda warna. Manik kanannya berwarna hitam. (kalian ingat kan kalau 'teman' Ino mengorbankan matanya? Yak, si Sasuke)

Dengan pelan ia berjalan menuju ruang di mana semua anggota yang menyelidiki kasus Kira. Ia pun mengaktifkan sebuah earphone tanpa kabel di telinga kirinya, dan mengaktifkan satu earphone lainnya (yang juga tanpa kabel) di telinga kanannya. Di telinga kirinya untuk penyadap yang Ino tinggalkan di handphone Light, sedangkan kanannya untuk menghubungkannya pada markas. Jika kalian menanyakan kenapa Ino tak menggunakan earphonennya untuk menghubungi Pain tadi, ia yakin Pain tak ada di markas, melainkan di kamar wanita. Oh kalian ingat kan dia pria hidung belang?

"Oh, Rain-san sudah bangun ya?" tanya seorang laki-laki bermata coklat dan berambut hitam yang Ino yakini adalah Matsuda.

"Hn.." jawab Ino pendek.

"Kau tak memakai maskermu, Rain?" tanya Light. Ino menggeleng.

"Kotor." Ucap Ino singkat. Lalu Ino menulis sebuah surat kecil. Pena dan kertas? Ia comot seenaknya dari Matsuda.

'Kapan mereka datang?' tulis Ino. Lalu ia menunjukannya pada L.

"Besok.." ucap L berbisik sepelan mungkin. Ino memasukan kertas itu ke saku celananya.

"Bisa saya lihat buku yang baru di temukan itu, Raito-san?" tanya Ino. Light mengangguk dan memberikan buku itu. Ino mengamati buku itu, dan mendekatkan wajahnya ke buku itu. Matanya memicing mengamati tempelan antara kertas buku dan sampul buku itu. Lalu Ino menjauhkan buku itu, tampaklah Ryuk dan Rem yang sedang berdiri di sudut ruangan.

"Buku itu di temukan di tempat Misa syuting kemarin.." ucap Misa yang duduk di samping Light.

"Artinya Misa adalah Kira kedua?" ucap L memakan biskuit pandanya.

"Sudah kukatakan Misa bukanlah Kira!" ucap Light dengan nada tinggi, sedangkan Misa hanya menatap kagum Light di sampingnya. Tau kan kalau Misa sangat haus perhatian Light?

"Saya akan membuktikan ini. Jika benar Misa adalah Kira, ia bisa terkena hukuman seumur hidup. Bukan, hukuman mati, mungkin." Ucap L meremukkan biskuit pandanya, lalu menelannya. Mata Ino memicing. Saat Ino memalingkan wajahnya ke tempat Ryuk dan Rem. Mata Rem sedikit membulat. Ino pun berpikir keras, ada apa dengan Rem. Apa yang tengah di pikirkan Shinigami itu?

"Saya ingin bicara dengan Rem dan Ryuk." Ucap Ino. Ia lalu melangkah keluar ruangan dan menutup pintu, yang diikuti dua mahluk bermuka aneh yang tembus melewati dinding.

"Apa yang akan kau tanyakan?" ucap Ryuk. Lalu Ino menunjukan apel yang entah ia dapatkan dari mana.

"Bukankah Shinigami suka apel?" tanya Ino. Ia menggiring kedua mahluk bersayap itu ke atap gedung bertingkat dua puluh lima itu. Langit sedikit mendung kala itu, menunjukan bahwa liquid bening akan segera turun.

"Jadi... apa yang ingin kau bicarakan, Rain?" tanya Rem ambil bagian.

"Apa kalian tahu Armonia Justin?" tanya Ino. Rem tersentak, sedangkan Ryuk meracau tak jelas.

"Dari mana kau mengetahuinya?" tanya Ryuk.

"Jangan-jangan kau... anak kecil itu?" tanya Rem. Ino mengangguk mantap.

"Aku tak begitu ingat namamu, tapi aku ingat remaja yang bersama Justin itu. Uchiha Sasuke, kan?" tanya Rem memastikan. Ino mengangguk sebagai konfirmasi. Ino lalu melempar apel di genggamannya, yang langsung di tangkap oleh Ryuk. Dengan tiga gigitan, apel itu lenyap di tangan Ryuk.

"Sekarang saya ingin tanya pada Rem. Apa anda peduli dengan Misa?" tanya Ino yang membuat Rem tersentak. Ryuk menyeringai mendengar pernyataan Ino.

"Ne, Rem... Kau dan dia berbeda..." ucap Ryuk terkekeh.

"Saya tak butuh komentar anda!" ucap Ino setengah emosi. Ryuk pun ciut di tempatnya.

"Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Rem. Ino pun duduk pada pagar pembatas gedung itu.

"Saya memang bukan ahlinya membaca ekspresi muka Shinigami... Tapi jika saya samakan dengan manusia, anda tersentak bukan bahwa apa hukuman yang akan di dapati Misa?" Tanya Ino. Rem pun menunduk, menatap atap lantai di bawahnya.

"Ya.."

"Bukankah anda berencana untuk membunuh Ryuuzaki?" tanya Ino lagi. Mata Rem membulat.

"Dari mana kau tahu, Rain?" tanya Rem balik.

"Tentu saja, dari ekspresi anda tadi.. Bukankah Misa akan bebas jika L mati?" ucap Ino. Rem bergeming di tempatnya.

"Begini, saya menawarkan perlindungan untuk Misa. Saya akan membuatkan buku palsu untuk anda, yang di gunakan untuk menuliskan nama Ryuuzaki nanti." Ucap Ino.

"Untuk itu, saya pinjam buku Death Note kalian." Lanjut Ino.

"Apa ini bukan jebakan?" tanya Ryuk.

"Tidak. Tapi saya harap kalian dapat menjaga rahasia ini, Ryuuzaki sekalipun. Saya akan melindungi Misa dalam kasus ini. Saya akan pastikan ia tak masuk penjara. Bagaimana, Rem? Ryuk?" tawar Ino.

"Aku sih terserah Rem.." ucap Ryuk melirik Rem. Rem mengangguk.

"Semoga kau dapat di andalkan.." ucap Rem memberikan bukunya pada Ino yang langsung di sambut Ino. Alis Ino mengernyit ketika Ryuk tak kunjung memberi bukunya. Tangannya hanya mengambang di udara.

"Mungkin kau akan jadi pasir kalau terus menyelamatkan Raito," ancam Ino yang membuat Ryuk tak kunjung memberikan bukunya.

"Aku akan memberikan apel sebanyak yang kau mau jika kasus ini berhasil." Ucap Ino yang langsung menerima buku Ryuk. Bibir Ryuk yang memang sudah terbentuk tersenyum semakin lebar tentang apa yang Ino katakan.

"Setuju!"

.

Kriekk...

"Rain-san..." sapa ayah Light, Soichiro. Ino mengangguk sekilas, lalu duduk di sofa yang berada di dalam ruangan itu.

"Rain-san, bagaimana menurutmu tentang aturan tiga belas hari ini?" tanya L mendekati Ino yang tengah duduk itu. Ino pun menoleh kepada Ryuuzaki.

"Saya kira itu aturan palsu." Ucap Ino yang membuat semua orang di ruanga itu tersentak, minus L dan Light.

"Bagaimana bisa kau percaya kalau itu palsu?" tanya Light.

"Karena di buku kedua tidak ada tulisan seperti itu.." ucap Ino.

"Bagaimana peraturan itu robek, Rain?" tanya Misa.

"Kalau kalian tidak percaya saya akan menuliskan satu nama di sini." Ucap Ino meraih pena yang tergeletak di meja L. Lalu ia merobek kertas Death Note dan menulis sebuah nama.

'Amane Misa, mati dua puluh hari setelah namanya di tulis'

"RAIN-SAN! JANGAN BERTINDAK GEGABAH!" bentak L. Namun sebelum L menggapai tangan Ino, Ino sudah terlebih dulu menyelipkan kertas itu di saku celananya.

"Saya akan pulang sebentar untuk membersihkan diri." Ucap Ino setelah mendapat pesan di earphone-nya, bahwa Pain sudah menunggu di bawah. Bisa di katakan, Pain itu asisten pribadi Ino.

"Bagaimana kalau itu asli, Rain-san?" tanya L.

"Saya akan mati, dan Raito-san adalah Kira. Mudah kan?" tanya Ino. Light pun menatap Ino geram. Namun sebelum Light berkata, Ino sudah pergi dari sana. Semua orang di situ masih melongo akan tindakan Ino. Light sendiri masih gelisah akan tindakan Ino. Bagaimana kalau ketahuan? Ia sudah merelakan waktunya untuk di kurung selama lima puluh hari!

"Dimana anda?" tanya Ino lewat earphonenya.

"Di bumi," canda Pain. Sungguh, memang Pain adalah orang yang serius dan baik terhadapnya. Namun sikap jahilnya memang sering muncul tiba-tiba, yang membuat Ino ingin menyumpalnya dengan camilan L.

"Saya serius.." tutur Ino menghela nafas

"Bukankah kubilang aku di bawah?"

"Mobil yang mana?"

"Mobilmu, Hehehehehe.." ucap Pain terkekeh ringan.

"APA? Kenapa kau gunakan mobilku?" gerutu Ino geram. Untung saja koridor itu lenggang, jadi Ino tak perlu menghawatirkan gerutunya. Ino pun melangkah cepat menuju mobilnya, tak mempedulikan orang sekitarnya yang memandang aneh. Ia pun langsung menuju pada sebuah Hennesey Venom GT abu-abu kesayangannya.

"Keluar kau! Biar aku yang menyetir." Ucap Ino menarik tangan Pain keluar. Memang begini, Ino tak pernah membiarkan seseorang menyentuh mobil sport kesayangannya, dan jangan tanya Pain dari mana ia mendapatkan kunci mobilnya. Pain punya dupiklat kunci apartemen mewah Ino.

"Oi, Oi, jangan amatiran begitu, kau bisa tenang saat kau di caci maki oleh orang atau bom yang tiga detik lagi akan meledak. Tapi dengan aku menyentuh mobilmu? Ayolah Cloe sayang~" goda Pain. Ino pun meninju muka Pain dengan tangan kirinya, yang sukses membuat ketua Akatsuki itu pingsan di tempat. Memang, hanya Ino lah yang dapat membuat ketua mesum itu diam di tempat.

"Dasar rongsokan!" ucap Ino sambil menekan pedal mobil, yang membuat mobil itu melaju dengan kecepatan 120 km/h.

.

Seorang gadis terbalut baju hijau ketat dan celana putih pendek tengah duduk di sofa besarnya. Karpet bulu tebal pun menjadi alas tumit kakinya yang telanjang. Hidungnya yang tak terlapisi apapun mengendus kuat meresapi bau selimutnya yang kini ia peluk. Ia suka bau ini. Tidak, bukan bau harum. Namun dapat membuatnya gila jika seminggu tanpanya.

Baiklah, selimut-nya merupakan hal pertama yang terpenting baginya.

Tiba-tiba earphone telinga kirinya berbunyi.

"Rem, apa kau bisa membunuh L besok?" tanya Light dalam earphonenya. Oh, pasti penyadap di handphone Light.

"Bagus," ucapnya lagi. Apapun yang terjadi, pasti Light sedang berada di gedung untuk kasus Kira sendirian. Untung saja, sebelum Ino pergi ia sudah menukar semua Death Note di gedung. Dengan kata lain, dua buku Rem dan dua buku Ryuk yang asli ada padanya. Fufufu~ kau terlalu bodoh, Raito.

"Saya butuh kerja sama kalian. Jika Rem memulai menulis nama Ryuuzaki, Ryuk akan makan apel. Mengerti?" tanya Ino yang di jawab anggukan oleh dua Shinigami tersebut.

Samar-samar, Ino kembali mengingat percakapannya dengan kedua mahluk astral tersebut. Tubuhnya tersentak ketika mengingat suatu hal.

And how stupid this girl, Ino lupa memberi tahu Ryuuzaki tentang rencananya ini.

Segera Ino menyambar handphone-nya yang tengah terletak di meja kaca sampingnya, dan kemudian berbaring pada sofa itu sambil menekan-nekan nomor tujuannya. Sontak, ia merasakan jantungnya memompa darah lebih cepat dari biasanya. Entah kenapa, Ino juga tak bisa mendefinisikan perasaan itu.

"Dengan Ryuuzaki di sini~ Ada apa Rain-san?"ujar seorang di ujung telepon.

"Apa Ryuuzaki masih di kantor?" tanya Ino.

"Tentu. Ini masih sore, kan? Ada yang Rain-san ingin bicarakan?" tanya Ryuuzaki lagi.

"Ya. Anda bisa ketaman pinggir kota? Cukup Watari yang mengetahuinya. Ini sangat rahasia." Ucap Ino. L pun menyetujui ajakan Ino. Setelahnya, Ino pun mengganti pakaiannya dengan jaket kulit berwarna putih. Ada bulu halus yang meramaikan bagian leher. Ino lalu menggunakan celana jins hitam dan memakai kacamata hitam. Tak lupa, ia juga mengenakan masker hitamnya. Bagus, kini ia terlihat seperti teroris. Ia juga mengikat rambutnya tinggi, dengan poni yang setia menutupi sebagian wajah bagian kanannya.

Merasa cukup, ia meraih high heel's hitam bludru-nya. Setelah memastikan bahwa ia mengenakannya dengan baik, ia meraih handphonenya dan kunci mobil kesayanganya. Segera ia naik kemobilnya, tak ingin membuat mata panda itu menunggu. Jika kalian menanyakan kenapa memilih mobil, Ino mengira awan yang sedari tadi pagi selalu terpajang di langit. Ia menatap jam yang tertata manis di tangannya, sudah jam tiga rupanya.

Ino menginjak pedal mobilnya santai. Taman pinggir kota tidaklah jauh dari rumahnya. Karena apartemen Ino sendiri berada di pinggiran kota. Itu juga salah satu alasan mengapa Ino membutuhkan ninjanya untuk mencapai tengah kota dengan cara menyalip kecepatan penuh.

ZRAASSHH!

Sesuai dugaan Ino, hujan pun turun dengan derasnya. Untung saja dia bawa payung. Ia menekan rem saat lampu rambu-rambu lalu lintas di depannya menunjukan warna merah. Handphone-nya yang terletak di saku jins-nya pun bergetar tanpa ringtone yang menyambilinya.

"Ada apa, Ryuuzaki?" tanya Ino.

"Maaf Rain-san, saya tidak bisa pergi ke sana karena hujan di sini cukup deras" ucap L. Ino mengerling matanya malas.

"Baiklah, saya yang kesana. Saya akan sampai sekitar dua puluh menit lagi," ucap Ino menaksir. Well, Ino pun memutar mobilnya menuju arah yang berlawanan. Lima belas menit telah berlalu, Ino telah sampai ke gedung dimana ia bekerja sekarang. Cukup bersyukur jalanan lenggang karena beberapa orang memilih untuk menikmati teh-nya di rumah dari pada berjalan-jalan. Setelah mengunci pintu mobilnya, Ino pun sedikit berlari memasuki gedung di depannya. Lalu ia pun bergegas menuju ruangan Ryuuzaki. Tidak menggunakan payung? Menurutnya itu hanya merepotkan. Kan jaraknya hanya sepuluh meter?

Kriiiek...

"Ah, Rain-san!" sapa Matsuda.

"Rain-san, lihat berita di tv.." ucap Soichiro menunjuk pada layar tv di ruangan itu. Haah~ tentang kasus Kira lagi. Mata Ino menjelajah pada setiap inci ruangan itu. Ia tak menemukan Ryuuzaki. Ino pun melangkah keluar. Namun sebuah suara menghentikannya.

"Rain-san akan kemana?" tanya Light.

"Saya mau ke wc. Memangnya Raito mau ikut?" tanya Ino balik. Sebenarnya ada nada jahil di sana, yang langsung membuat Misa cemberut di samping Light. Lalu Ino kembali melanjutkan langkahnya.

Ino mencari ke ruangan Watari. Watari yang sebagai asisten L menyatakan ia tak tahu keberdaan detektif panda itu. Ino mencari ke seluruh lantai, dan ia tak sama sekali tak menemukan L. Hampir saja Ino akan menelpon Ryuuzaki, kalau saja ia tak ingat tentang konsekuensinya. Bisa saja handphone Ryuuzaki tertinggal di ruangan penyelidikan dan Light yang mengangkatnya. Dan alhasil, pemuda bermata hazel itu mencurigai Ino, tentang rencananya.

Ino teringat satu tempat; atap. Memang sih bukan sebuah tempat yang bagus untuk bersantai atau apalah. Tapi tak ada salahnya kan Ino memeriksanya? Ino pun mengambil payung yang entah punya siapa di samping ruang penyelidikan, dan langsung menuju atap gedung tersebut. Bagus, sekarang ia menyesali kenapa ia tak bawa payungnya.

"Apa yang anda lakukan di sini, Ryuuzaki?" bingo, Ino memang menemukan Ryuuzaki di atap. Ino memayungi L yang sedang basah kuyup di sana.

"Ah, apakah Rain-san sudah lama menunggu saya?" tanya Ryuuzaki.

"Saya baru datang. Apa yang Ryuuzaki lakukan? Kenapa hujan-hujanan?" tanya Ino. Ryuuzaki pun bergeming.

"Akhir-akhir ini suara lonceng itu terdengar semakin jelas.." ucap L. Ino mengernyit bingung.

"Lonceng? Namun saya tak mendengar apapun.." gumam Ino bingung.

"Sungguh? Suaranya terus berdentang... Ini sangat aneh.." jeda L. Ino pun diam membiarkan L melanjutkan kata-katanya.

"Mungkinkah suara gereja? Pernikahan? Atau mungkin—"

"Apa yang anda katakan? Jangan berkata hal-hal tak penting. Ayo masuk.." ucap Ino memotong kata-kata L. Entah mengapa, ada sedikit rasa sakit yang menyusup ke ulu hatinya. Melihat pandangan L yang sendu, membuat Ino secara tak sadar membiarkan air matanya berlinang. Dan bodohnya lagi, dia membiarkan payungnya jatuh. Ino benar-benar menahan tangisannya. Ada rasa bersalah yang sangat besar di hatinya, bahkan sampai membuat bahu Ino lemas. Rein...Lawliet...

"Maaf.." ucap L.

"Semua yang kukatakan memang tak masuk akal... Jangan dipercaya.." ucap L. Ino memandang L sendu. Ia merasa L akan pergi jauh, entahlah.

"Itu benar.." ucap Ino pelan.

"Apa Rain-san pernah berkata jujur sejak kau di lahirkan?" tanya L.

Hening.

Sedetik...

Dua detik...

"Delapan puluh persen hidup saya adalah kebohongan, dan saya selalu melangkah bersamanya.." ucap Ino.

"Tapi, ini adalah misi pertama yang berhubungan dengan hal baik. Saya akan melakukan kejujuran di misi ini.." lanjut Ino.

"Sudah saya duga.." ucap L. Ino pun diam.

"Ayo masuk, kita basah kuyup." Ajak L yang di ikuti Ino.

.

"Tadi itu lebat sekali.." ucap L mendatangi Ino yang masih sibuk dengan mengeringkan dirinya. Ino melepas high heel's nya.

"Lagi pula Ryuuzaki seperti anak kecil, main hujan-hujanan.." cibir Ino yang duduk di anak tangga.

"Rain-san benar. Maafkan aku." Ucap Ryuuzaki memandang punggung Ino. Lalu L menghampiri kaki Ino dan meraihnya.

"Apa yang anda lakukan?" tanya Ino terkejut. Oh, bukan karena L adalah pria mesum. Kalau karena alasan itu Ino bisa dengan mudah menghabisinya. Tapi Ino terkejut karena... ah bahkan ia tak tahu alasannya.

"Membantu Rain-san. Rain-san sudah menyeka diri sendiri." Ucap L.

"Ryuuzaki tak perlu melakukannya.."

"Saya bisa memijatmu. Ini untuk menebus kesalahan saya. Saya ahli dalam hal ini," tutur Ryuuzaki yang mulai memijat kaki Ino.

"Terserah Ryuuzaki saja.."

"Hai'." Ucap Ryuuzaki.

"Ugh." Lenguh Ino saat Ryuuzaki agak kuat memijitnya.

"Anda akan segera pulih.." ucap L. Manik biru itu mengerling malas ketika rambut L meneteskan liquid bening di punggung kakinya. Ino meraih handuk di lehernya dan menarik kakinya dari L. Lalu Ino turun dan duduk di anak tangga ketiga.

"Ryuuzaki masih basah.." ucap Ino sambil mengusapkan handuknya lembut pada wajah dan rambut L. Ia menatap L yang berjongkok satu anak tangga di bawahnya. Tatapan Ino melunak sejenak, memandang pria berkantung mata paling parah di bumi ini, Ino rasa.

"Maaf.." ucap L.

"Jangan terus mengatakan kata-kata itu." ucap Ino.

"Sedihnya.." ucap L.

"?" Ino tersentak akan ucapan Ryuuzaki.

"Kita akan segera berpisah.." ucap L. Ino pun membatu di tempatnya. Bibirnya bergetar. Ino tak tahu apa macam perasaan yang tengah menguasai dirinya. Atau ini penyakit? Artinya Ino harus segera mengatur jadwal untuk ke dokter. Namun, Ino merasakan suatu perasaan yang membuatnya hancur, dan sangat sedih. Karena belum pernah merasakan ini, otak Ino berpikir keras apa yang terjadi.

"Maksud anda... anda akan mati?" tanya Ino. L tersenyum. Bukan seringai seperti biasanya, namun sebuah senyum tulus. Seakan senyum itu mengatakan 'Ya'.

TIDAK. Ino tak akan membiarkan L mati dalam kekalahannya melawan Kira. Itu MUTLAK.

Ino lalu memegang bahu L, mencengkramnya dengan lembut, tepatnya. Matanya menerawang ke dalam obsidian di depannya. Mencari suatu kebenaran di balik sana.

"Saya bersumpah tidak akan membiarkan anda mati. Setidaknya anda mati pun, anda harus mati dalam kemenangan melawan Kira." Ucap Ino penuh penekanan, yang membuat L tersentak.

"Anda tak dapat mengatur kematian saya, Rain-san." Ucap L pasrah. Pandangan Ino pun mengeras.

"Percayalah pada saya, Ryu-ryuuzaki.." ucap Ino terbata-bata melafalkan nama L. Oh, bagus. Ino pikir ia sedang terkena gangguan saraf atau semacamnya. Ia sangat yakin tadi. Namun sekarang ia butuh kekuatan penuh untuk menggerakkan bibirnya. Stroke, mungkin?

"Kenapa anda begitu ingin.. melindungi saya?" tanya L ragu-ragu. Karena ini misinya? Bukan. Misinya bukanlah untuk melindungi L. Tapi untuk membantu kepolisian memecahkan kasus KIRA. Lantas, apa kata-kata yang tepat untuk Ryuuzaki? Apa yang harus dia katakan? Mulutnya tanpa di perintah bergerak seenaknya saja. Apa ini gejala Stroke ringan? Bukan, Ino yakin bukan itu.

"Aku..."

Itu bukan gejala Stroke ringan, tapi adalah suatu emosi jiwa yang bangkit setelah sekian lama ia kubur. Bisakah kalian menebaknya?

.

—To Be Continue.

.

AAAAA! Akhirnya chapter 3 update minna!

Ciat ciat, mulai muncul nih romens-nya.

Jangan risau readers, ini bakal happy end kok. :3

Nah nah, kayaknya ini bakal lebih dari 4 chp, karena biasanya Laven buat 4 chp mulu T.T

Oh iya, adegan segelas susu itu terinspirasi dari sebuah fiksi di Death Note, judulnya Laven lupa/ditabok

Tapi Laven udah kasi tau authornya kok ^o^y

Makasii banyak buat yang udah Ripiw cerita gaje ini :D

.

.

Fiksi ini tak'kan berkesan tanpa kehadiranmu, maka itu Read and Review?

.

.

Salam manis,

LavenMick Amanda