Chapter sebelumnya:

"Percayalah pada saya, Ryu-ryuuzaki.." ucap Ino terbata-bata melafalkan nama L. Oh, bagus. Ino pikir ia sedang terkena gangguan saraf atau semacamnya. Ia sangat yakin tadi. Namun sekarang ia butuh kekuatan penuh untuk menggerakkan bibirnya. Stroke, mungkin?

"Kenapa anda begitu ingin.. melindungi saya?" tanya L ragu-ragu. Karena ini misinya? Bukan. Misinya bukanlah untuk melindungi L. Tapi untuk membantu kepolisian memecahkan kasus KIRA. Lantas, apa kata-kata yang tepat untuk Ryuuzaki? Apa yang harus dia katakan? Mulutnya tanpa di perintah bergerak seenaknya saja. Apa ini gejala Stroke ringan? Bukan, Ino yakin bukan itu.

"Saya..."

Itu bukan gejala Stroke ringan, tapi adalah suatu emosi jiwa yang bangkit setelah sekian lama ia kubur. Bisakah kalian menebaknya?

.

.

Paradise—written by LavenMick Amanda.

Naruto, Owned by Masashi Kishimoto.

Death Note, Owned by Tsugumi Ohba & Takeshi Obata

WARNING!

Abal, Gaje, Typo(s)—maybe, Hurt/comfort, Romance (yang ga kerasa),Crime (maybe), LxIno slight SasuIno, T+ for safe

.

Jika aku telah menyadari keberadaan malaikatku sekarang, apa yang harus kulakukan? Aku takut surga kotor ini juga merenggutnya. Aku tak mau kehilangannya!

.

A fiction for entertain the readers. N'joy!

.

.

"Saya..." ucapan Ino menggantung di udara. Demi Neptunus, ia benar-benar mengutuk dirinya. Kenapa Ino bisa-bisanya berbicara seperti itu? Look, kau menjebak dirimu pada situasi ini.

"..." Dengan sabar, lelaki maniak glukosa di depannya menunggunya untuk mengucap sepatah kata. Ia penasaran, bagaimana seorang mesin pembunuh bisa berkata seperti itu padanya. Mata lebarnya seakan mencari jawaban di manik biru Ino. Mengorek semua kata di balik manik itu.

Oh, L. Kau malah membuatnya semakin bungkam.

"Lupakanlah. Dengar, saya juga manusia yang tak akan membiarkan rekan kerjanya mati karena objek yang diselidikinya.." baiklah, alasan yang cukup... Logis?

"Begitukah? Saya kira Rain-san bukan orang yang peduli akan hal-hal seperti itu.." ucap L.

"Sebagai rasa terima kasih saya karena Ryuuzaki sudah memperdulikan saya waktu saya menulis sebuah nama di Death Note.." ucap Ino. Dasar gadis ini, terlalu percaya diri. Bagaimana kalau L hanya takut di hajar Pain karena telah membuat anak didik kesayangannya mati? Tapi hanya itulah jawaban terbaik Ino di saat seperti ini.

Tunggu, memangnya L tau Pain? Bukankah yang merekrut Ino kepolisian?

Ah, merepotkan.

L tersenyum atas jawaban Ino barusan. Bukan, bukan senyum seringai atau apalah itu namanya. Tapi senyum tulus. Sebuah garis tipis yang dapat membuat hati Ino hangat. Entah kenapa, hati Ino menjadi tenang melihat senyuman L barusan. L lalu menarik lengan Ino, berniat mengajaknya untuk tegak. Ino lalu tegak. L pun kembali jongkok memasangkan sepatu Ino. Oh, how kind-hearted this man.

"Saya telah membuat Rain-san basah kuyup bukan?" tanya L. Lalu Ino mengangkat kakinya menuju high heels-nya. Ino tak mengerti bagaimana bisa L mengaitkan tali high heelsnya. Entah ia belajar dari Internet, entahlah.

"Terima kasih Ryuuzaki-san." Ucap Ino membungkukkan badannya. L mengangguk kecil. Setelahnya, Ino mengikuti langkah L yang menuntunnya menuju kantor penyelidikan. Hanya hening-lah yang menguasai mereka. Ino sendiri tengah bergulat dalam lamunannya.

Sungguh; ia merasa sangat menyesal. Jika memang hipotesis-nya betul, maka dengan membunuh dirinya sendiripun tak cukup. Jika benar L kesepian, maka Ino bersumpah akan bersujud maaf padanya. Ino harap dirinya dapat kembali ke masa lalu, menolak misi pertamanya atau benar-benar menolak mentah ajakan Pain untuk ikut bersamanya. Kenapa? Kenapa ia harus mengambil nyawa ayah L? Harusnya Ino sadar, bahwa ibu L telah mati sebelum peluru tembaga peraknya menembus permukaan kulit ayah L. Tidak, Ino yakin sekali bahwa L adalah anak yang ia temui itu.

Ya, ia mengakui dirinya BODOH. Seharusnya ia bisa menahan diri untuk menarik pelatuk pistolnya. Harusnya ia tidak tumbuh sebagai 'Wanita-Pembunuh'. Cukup ia anak-anak di bumi ini yang menghabiskan waktunya untuk berpikir strategi, atau terus memutar otaknya untuk suatu rencana. Dia tidak ingin L tumbuh seperti ini. Rasa penyesalan Ino terlalu dalam saat pertama ia mengetahui L adalah anak dari orang yang dibunuhnya sebagi misi pertama. Dan tadi, pengakuan L. Pengakuan L bahwa mereka akan segera berpisah. Seperti ada lubang menganga yang terbentuk di hati Ino. Rasanya Ino tak sanggup menangis lagi, karena ia terlalu merasa bersalah. Cukup. Cukup Ino yang tumbuh tanpa kasih sayang orang tua yang membuangnya. Cukup Ino yang tak bisa merasakan tawa menggema bersama orang tuanya.

"Maafkan ibu, Nak. Ibu membuangmu. Ibu membiarkanmu tumbuh sendirian. Suatu saat, percayalah. Ayah, Ibu dan kau pasti akan bertemu lagi, ibu janji."

Samar-samar, ingatan Ino tentang ibunya kembali terputar. Ia sangat ingat; ia sedang tertidur di siang hari, di rumah kayunya. Ia adalah seseorang yang sangat miskin. Ayahnya seorang pejudi gila, dan ibunya seorang pelacur yang tak kenal lelah melayani pelangganya. Semua rezeki yang ibunya punya binasa tak tersisa oleh ulah ayahnya yang gila judi. Namun walau begitu, ia punya ayah dan ibu yang sangat baik dan menyayanginya. Saat ia sedang tertidur, ayah ibunya terpaksa membuangnya. Ini semua demi kepentingan keselamatan Ino. Banyak yang mengincar jiwanya, karena hutang piutang yang tak terlunaskan.

Saat ia terbangun, ia sudah berada di gereja tua. Dirinya yang masih berumur dua tahun—seminggu menuju ulang tahun ketiga tak tahu di mana ia. Ia tak tahu dari mana asal kotanya. Saat badai menerpa, ia menangis sendiri. Isak tangisnya terhenti ketika sebuah tangan kecil menepuk bahunya, dengan senyum tulus ia menanyakan siapa Ino.

"A-aku... Ya- Yamanaka I-Ino.."

Ia ingat. Ia adalah anak yang sangat pemalu kala itu. Lalu anak laki-laki yang berusia enam tahun itu mengajaknya kesuatu tempat. Ia memberi tahu bahwa ia tak boleh menggunakan nama aslinya. Pain—nama orang yang merawatnya. Lalu ia dilatih. Dengan alasan sebagai balas jasa karena Pain telah merawatnya.

Clover.

Nama tumbuhan itu yang Sasuke—anak laki-laki yang menemukannya— sematkan padanya. Seiring waktu, Ino tumbuh menjadi seorang yang periang. Walau Ino periang, Ino selalu konsisten dan tepat dalam pekerjaannya. Ia sering mendapatkan misi bersama Sasuke. Peristiwa saat ia membunuh ayah L pun seiring waktu menjadi rahasia terdalam Ino. Ino selalu memerhatikan L dari kejauhan. Namun, pekerjaan Ino yang makin padat mendesaknya untuk perlahan-lahan meninggalkan L. Alasan kenapa Ino memerhatikan L? Agar memastikan L tetap baik-baik saja. Tak jarang pula Ino memerhatikan L dari balik kerumunan anak-anak di Wammy. Terkadang bocah-bocah di Wammy bingung. Ada seorang anak manis, berjalan-jalan dengan sebuah senapan dan pedang yang tergantung di punggungnya. Saat Roger mencurigainya, saat itu pula Ino mengambil langkah seribu dari Wammy House.

Sampai pada suatu hari, ia menjalani misi bersama Sasuke. Lawannya kali ini adalah organisasi permintahan. Sejauh itu, Akatsuki tergolong aman. Tak ada yang dapat membekukan pergerakan mereka, karena mereka memiliki pion utama. Ya, siapa lagi kalau bukan Ino dan Sasuke?

Ino menjalankan misinya dengan bagus. Setelah mereka menjalankan misi, Ino dan Sasuke bergegas pulang ke markas. Saat dalam perjalanan pulang, gedung pemerintahan itu meledak. Sasuke yang sudah jauh di depan Ino tak dapat menyelamatkan Ino yang bergabung dengan ledakan. Hampir saja Ino tewas, kalau Sasuke tak merelakan jantung dan mata kanannya pada Ino.

"Armonia Justin... To-tolong jag-jaga Ino.."

Dari situlah Ino mengenal Shinigami.

Ino terus menyelidiki apa hubungan Justin dan Sasuke. Di tambah lagi buku itu. Ya, dari sini Ino menarik kesimpulan bahwa buku itulah yang membuatnya bisa melihat Justin. Buku itu dapat membunuh orang dengan hanya menulis dan membayangkan namanya. Lalu, kesimpulan kedua, Ino menyimpulkan bahwa Sasuke telah menukarkan matanya dengan mata spesial, yang harganya setengah nyawa Sasuke sendiri. Shinigami itu memberi tahu Ino banyak hal. Cih.

Lalu, kenapa Ino tak menggunakan Death Note itu sebagai alat-nya? Mudah saja. Menggunakan Death Note sebagai alat adalah hal yang lemah bagi Ino. Menurut Ino, orang yang menggunakan Death Note itu pengecut. Jadilah Ino mengembalikan Death Note itu pada Justin, yang sebelumnya Death Note itu di berikan Sasuke untuknya. Jika kalian bertanya kenapa Ino tak kehilangan ingatan dengan Shinigami itu, sebenarnya Ino menyimpan satu lembar kertas dari Death Note, yang entah ia simpan di antah berantah.

Itulah sepenggal kisah Ino. Setelah Sasuke mati, sikap periang Ino ludes terbakar habis. Ino menjadi seorang yang dingin, dan menutup diri. Ya, semua ini karena Sasuke.

.

"Jadi ini yang namanya Mello dan Near? Mihael Keehl dan Nate River, eh?" ucap Ino. Awalnya Ino menghabiskan malamnya di gedung penyelidikan Kira. Di Kantor itu hanya ada Ino sendiri, sedangkan L berada di ruangan pribadinya. Tiba-tiba saja dua macam mahluk hadir di ruangan penyelidikan Kira yang kosong itu. Mentari mulai menyembul terang di balik tirai kaca ruangan, memberi penerangan pada Ino pecinta ruang yang remang. Tentu saja, Watari mengantar dua mahluk aneh itu.

"!" tersentak, Near dan Mello memandang tajam Ino yang membebaskan mata kanannya dari poni panjangnya yang di jepit kebelakang. Masih dengan rambut yang di ikat tinggi, Ino terlihat santai dengan baju cadangan yang ia bawa. Sebuah kaos hitam berlengan panjang dan celana jins hitam Ino. Berbeda dengan jins hitam kemarin, jins hitam Ino kali ini sedikit longgar. Sangat hitam, seperti mata kanan Ino yang kini tengah di pandang Mello.

"Ini bukan mata saya. Ini mata yang saya dapat dari pendonor." Ucap Ino seakan ia tahu pikiran Mello.

"Jadi kau yang membuat L mendesak kami kesini?" tanya seorang bocah berambut putih yang sedang asyik memelintir helai rambutnya. Tangan kirinya yang bebas meraih sebuah pesawat mainan dan lalu memainkannya.

"Dari mana kau tahu nama kami?" tanya Mello.

"Ya, dan urusan saya tahu nama kalian... Sepertinya L belum pernah menceritakan banyak hal tentang saya pada kalian?" tanya Ino sinis. Ia lalu melangkahkan kakinya menuju sebuah jendela kaca besar yang masih tertutup kain gorden. Tangannya lalu menarik gorden itu, sehingga cahaya matahari dengan mudahnya melenggang masuk menembus benda bening tersebut. Semua mata ruangan itu berputar pada pintu utama ruangan itu, ketika seseorang memutar kenopnya.

"Ah, kenapa tidak langsung memasuki ruangan saya saja?" tanya L muncul dari balik pintu. Ketiga manusia dalam ruangan itu pun keluar sesuai intrusksi detektif itu, menuju ruangannya.

.

"Jadi seperti itu rencananya?" tanya seorang remaja lima belas tahunan. Orang yang duduk bersebrangan menutup matanya dan mengangguk pelan.

"Kalau gagal, saya akan mendesaknya untuk mengakui dirinya." Ucap Ino.

"Raito-kun bukan orang yang mudah mengakui sesuatu, Rain-san." Tutur L menoleh kearah Ino di sampingnya.

"Anda lupa siapa saya?" tanya Ino. L mengerling malas. Ino tersenyum geli di balik maskernya.

"Baiklah, kalau begitu aku mempercayakan ini pada Rain-san." Ucap seorang anak berambut putih sedang memainkan pesawatnya.

"Saya akan pergi ke kantor. Ryuuzaki mau ikut?" tanya Ino. L mengangguk. Mereka lalu berjalan beriringan menuju kantor. Sekilas, Ino menatap L yang lebih bungkuk darinya.

"Hari ini, anda harus ber-akting dengan baik." Ucap Ino. L mengangguk.

"Saya akan meniru kemampuan Amane untuk akting." Canda L. Ino pun tak bisa menahan senyumnya. Tak lama kemudian, mereka sampai di kantor. Saat pintu terbuka, terlihat Matsuda dan Aizawa sedang bertengkar, Soichiro dan Mogi yang sedang membaca sebuah file, dan Light yang memandangi layar di depannya. L mengambil kursi di samping Light.

"Saya akan beri tanda. Jika saya menyentuh poni saya, maka anda harus menghitung empat puluh detik. Anda mengerti?"

Ino pun mengingat percakapannya kemarin, saat L tengah memijit kaki Ino. Ia memberi tahu rencananya, yang langsung di setujui L. Awalnya, L nampak terkejut. Namun Ino segera menceritakan semuanya (minus rencananya bersama Rem dan Ryuk yang akan menyelamatkan Misa) pada L.

Semua suara-suara percakapan di sekitarnya teredam. Ino tenggelam akan lamunannya. Kembali mengingat-ingat percakapannya antara Mello,Near dan L. Saat ia memberitahu bahwa L akan berpura-pura mati. Lalu di lanjutkan Mello yang bunuh diri. Dan akhirnya Near dan Ino-lah yang akan memecahkan kasus ini. Kedua bocah itu masih di sembunyikan. Akan jadi kejutan spesial untuk Light.

Mulai saat ini, Ino tak akan memikirkan berapa bayarannya. Ia juga geram terhadap Shinigami, yang telah merebut Sasuke. Ia geram, karena seharusnya Sasuke tak mati tertulis di Death Note Justin. Argh, andai saja keadannya terbalik (Justin manusia dan Ino Shinigami) sudah pasti Ino akan menuliskan sepuluh nama Justin di Death Note-nya. Sebenarnya satu saja cukup. Kau tahu kan kalau bagaimana sakitnya Ino kehilangan Sasuke? Tak usah di ceritakan kalian sudah tahu, bukan?

Kesadarannya tertarik penuh ketika terjadi pemadaman lampu. Petir menyambar, dan hujan badai pun terjadi. Semua orang di ruangan itu tersentak, begitu terkejut pada sebuah negara hebat Jepang yang ternyata juga tak mampu mengatasi sebuah masalah kecil seperti ini. Alasannya? Pastilah keselamatan.

Ino melirik ke sudut ruangan. Mencari-cari dua mahluk aneh di sana. Hanya ada Ryuk di sana. Tak ada Rem. Shinigami berbalut baju hitam itu tengah asyik menikmati apelnya.

'Ini waktunya!' batin Ino. Lalu Ino membenarkan poninya yang tengah terjepit. Memang, semua orang tak menyadari warna mata Ino yang beda sebelah, minus L di sana. Karena lampu layar yang berubah menjadi warna merah, dan tentunya remang-remang.

"Watari?" panggil L. Tak ada respons di sana. Selanjutnya, hanya tiga patah kata yang tertulis di layar komputer.

ALL DATA DELETION.

"Saya sudah memberi tahu Watari jika terjadi sesuatu." Ucap L.

"Dimana Shinigami Rem?" tanya L melihat ke arah Ryuk, menyadari hanya ada satu mahluk abstrak di sana.

Tiga puluh lima detik...

"Aku tak melihatnya..."

Tiga puluh enam detik...

"Apa maksudnya ini?" tanya Soichiro entah pada siapa. Semua orang di sana tenggelam dalam kepanikan.

Tiga puluh tujuh detik...

Tiga puluh delapan detik...

'Dua detik lagi, L.' Batin Ino sedikit panik. Ia tak tahu apa yang terjadi, namun Ino merasakan kepanikan yang amat sangat.

Tiga puluh sembilan detik...

"Minna-san, Shiniga—"

Empat puluh detik...

DEG!

"RYUUZAKI!" panggil Ino sedikit berteriak menyadari L yang ambruk dari kursinya. Dentingan sendok yang terjatuh dari tangannya menggema jelas, membuat ruangan itu menjadi hening seketika. Dengan cekatan, Ino menangkap L, agar kepalanya tak menyentuh lantai. Sakit juga kalau sampai menyentuh lantai, kan?

"RYUUZAKI!?" teriak L menghampiri Ino dan L. Lalu Ino sedikit menggeser tempatnya berjongkok, digantikan oleh Light yang menopang kepala L.

"Oi, Ryuuzaki? Ada apa? BERTAHANLAH!" teriak Light. Dengan perlahan tanpa ketahuan, Ino meraba pergelangan tangan L yang tak terlapisi apapun. Ino meraba-raba tanda-tanda kehidupan di sana. Menyadari masih ada detak jantung, Ino pun bersyukur dalam hatinya. Ternyata Rem tak benar-benar melakukannya.

Seketika ruangan itu menjadi ribut.

"Biar aku yang mengurusnya. Kalian carilah Shinigami Rem itu." ucap Ino.

"Tolong bantu aku menaikan Ryuuzaki, Raito-san. Saya akan menggendongnya." Ucap Ino berjongkok membelakangi L. Light mengangguk, lalu menaikan L ke punggung Ino. Satu tangan Ino menahan badan L, satu tangan lainnya menahan kedua tangan L yang melingkar di lehernya. Ino lalu mulai tegak dan berjalan.

"Apa perlu bantuan kami, Rain-san?" tanya Soichiro. Ino menghentikan langkahnya.

"Tidak, Soichiro-san. Saya sudah biasa dengan hal ini." Ucap Ino lalu kembali melanjutkan langkahnya. Setelah keluar dari ruangan, Ino berjalan menuju keluar dari gedung.

"Dengarkan saya, Ryuuzaki. Tetaplah seperti ini sampai kita di mobil. Gerakkan tangan kanan anda kalau anda dengar dan mengerti." Bisik Ino sepelan mungkin. Lalu jari L sedikit bergerak. Ino tak dapat menahan senyumnya di balik masker. Rasanya ada sesuatu yang menggelitik dalam perutnya. Ah, selalu seperti ini. Sepertinya Ino harus mengatur jadwal untuk bertemu dengan dokter saraf, mungkin.

Ino lalu melepas pegangan tangan L dan meraih kunci mobilnya yang ada di saku jeans-nya. Menekan tombol untuk membuka kunci mobil lalu membuka pintu depan. Ia lalu menurunkan L di kursi depan mobil. Setelah memastikan Ryuuzaki aman dengan sabuk pengamannya, Ino lalu menutup pintu mobilnya dan berjalan memutari mobil itu. Membuka pintu mobil, dan duduk di samping L. Setelah memastikan dirinya telah memakai sabuk pengaman dengan baik, Ino men-starter mobilnya.

"Ryuuzaki," panggil Ino sambil memasukan gear mobil. Lalu menekan pedal mobil.

"Ah, bagaimana dengan Watari?" tanya L. Ino langsung menekan rem. Oh, rasanya Ino akan menjedukan jidatnya ke stir dengan kuat. Bagaimana ia bisa lupa?

"Ah, saya lupa. Tunggu di sini sebentar." Ucap Ino. Ia kembali memarkirkan mobilnya.

"Saya tak kan mematikan mesinnya. Tunggu di sini. Kembalilah berakting." Ujar Ino. Ia keluar dari mobil. Ino berlari kedalam gedung dan lalu membopong Watari. Oh, Ino akan yakin punggungnya akan pegal setelah ini. Setelah mengangkat 'Ibu-Panda'.

Baiklah, Ino yakin pasti L akan menghabisinya jika menyematkan panggilan itu pada Watari.

Tak butuh waktu lama untuk membopongnya ke mobil Ino. Setelah memastikan Watari aman di kursi belakang, Ino pun memasukan gear mobil dan menekan pedal gas-nya. Untuk sementara, Ino membawa L ke apartemen persembunyiannya yang sudah di siapkan. Bukanlah Hennesey Venom GT-nya yang ia kendarai, melainkan Limousine milik L. Dari mana ia bisa mendapatkan kuncinya? Jangan lupakan siapa Ino.

"Watari, sebenarnya anda tak perlu menghapus semua data." Ucap Ino sambil mengendarai mobilnya. Hening.

"Watari?" panggil L. Tidak ada respon. Pria paruh baya itu masih menutup matanya. Ino pun memutar stir-nya ke kiri jalan. Berniat menepi. Ino pun segera turun dari mobilnya dan berjalan ke belakang mobil itu.

"Watari?" tanya Ino. Ia pun memeriksa denyut nadi Watari. Nihil. Tak ada lagi darah bergerak dalam arterinya. Ino memeriksa bagian sekitar leher. Hasilnya tetap sama.

"Dia... sudah..." bisik Ino pelan menggantung di udara. Tak tahu apa yang harus di katakannya. Otaknya berputar apa kata tepat yang harus di ucapkannya. Ino kembali ke kursi kemudi.

"Rain-san... Watari tak apa, kan?" tanya L. Ia tak mendengar bisikan Ino tadi. Ino pun hanya diam. Masih memikirkannya.

"Dia... sudah aman. Ia tak dapat mendampingi anda lagi." Ucap Ino. Mata L membulat. Tidak mungkin—

"Rain-san... kau bercanda,kan?" tanya L sambil mengguncang pundak Ino. Ino tersenyum gontai.

"Saya akan mengantar anda ke—"

"Mohon izinkan saya untuk mengantar ke tempat peristirahatan terakhir Watari." Ucap L memotong pembicaraan Ino. Ino sendiri tak bisa mengelak. Ia tahu, bagaimana rasanya L kehilangan Ryuuzaki. Ia tahu, bagaimana rasa sakitnya.

Karena ia juga pernah kehilangan seseorang.

Ya, Uchiha Sasuke.

Ino hanya bisa menuruti permintaan L. Ia pun menekan pedal gas-nya.

Mengantar Watari menuju tempat terakhir-nya.

.

Langit menggelap. Tak berniat hujan. Namun gemuruh-gemuruh kecil terdengar sesekali. Akankah hujan badai? Padahal hujan baru kemarin.

Terlihat dua orang manusia dengan berbeda warna rambut menatap nanar pada sebuah nisan di depannya. Mereka menaruh bunga segar di depan makam itu. Setelah menuturkan doa dalam hati, pria berambut gelap masih enggan beranjak dari tempatnya. Ia semakin mendekat dan berjongkok di depan nisan itu; hanya bisa menatap-nya kini. Matanya segerah beralih pada langit yang mulai menurunkan liquid bening tadi.

"Ayo, Ryuuzaki. Kita pulang. Anda akan sakit jika terus berhujan-hujanan." Ucap Ino. Hening. Mulut pria di depannya masih terkatup rapat. L lalu menatap makam kosong yang berada di samping makam Watari. Ada batu nisan yang mencantumkan namanya, namun kosong di bawah nisan itu.

Ino tahu, tentu saja orang sepertinya tahu. Pria di depannya ini berekspresi datar. Namun sebenarnya ia menyembunyikan kesedihan yang sangat dalam. Ino bisa merasakannya. Ino tahu, saat ini pria di depannya membutuhkan sebuah pelukan; atau kehangatan.

Pelukan, atau kehangatan.

Apa-apaan itu?

Oi! Apa yang terjadi pada wanita pembunuh ini?

Ralat.

Apa yang terjadi pada mesin pembunuh ini?

Tak jelas. Abstrak. Jika Ino berusaha melihat kedalam hatinya, hanya ada pola-pola aneh yang tertera di sana. Rasanya sangat kacau, ia tak tahu apa yang terjadi.

Tik..Tik...

Zrash!

Bagus, ia basah kuyup lagi.

L pun tegak menghadap Ino. Wajahnya tengadah pada langit gelap. Sebagian liquid bening itu menghantam wajah pucat itu, sebagiannya lagi menghantam surai hitam berantakannya. Ia terlhat sedang memikirkan sesuatu. Detik selanjutnya, L memandang Ino tajam.

"Saya tahu anda marah atas meninggalnya Watari karena rencana saya, kan?" tanya Ino. L masih hening.

"Tidak. Saya hanya sedih tak bisa melindungi Watari dari Kira." Tutur L. Ada sedikit kelegaan di hati Ino. Namun jantungnya kembali berdegup kencang melihat wajah L yang murung.

"Ryuuzaki. Semua yang akan hidup akan mati.." ucap Ino.

"Wakatta. Tapi seharusnya tidak dengan cara ini." Balas L. Ino pun diam. Tak tahu apa yang harus ia lakukan. Lalu, tanpa kesadaran Ino, Ino melangkah mendekat pada L dan langsung merengkuhnya.

Me-reng-kuh-nya.

'APA YANG KAU LAKUKAN, YAMANAKA?!' tanya batin Ino menjerit. Namun logika Ino terus menahan posisinya. Selama beberapa menit, Ino terus memeluk L yang sejajar tinggi dengan Ino (tapi tentu L jauh lebih tinggi seandainya ia tegap). Namun jantung Ino semakin menggila ketika dua buah tangan membalas pelukannya. Pria dengan jeans biru dan kaus putih itu membalas pelukannya.

L membalaspelukannya.

Waktu terasa berjalan dengan lamban. Mereka berdua menikmati ini; kehangatan dalam bekunya hujan. Mereka berdua saling membiarkan perlakuan masing-masing. Membiarkan sebuah kehangatan itu muncul. Membiarkan kehangatan itu tumbuh.

Ino merasakan sebuah perasaan menggelitik dalam dadanya. Rasa ini asing, namun ia menyukainya. Badan Ino membatu ketika kepala L jatuh pada pundak kananya. Merasakan sebuah cairan hangat mengalir di lehernya. Ino mengusap kepala belakang L perlahan. Meskipun tangannya gemetar, namun ia berusaha membuat L senyaman mungkin. Bukan, bukan gemetar karena dingin. Tapi gemetar karena jantungnya yang terus memompa darahnya berlebihan. Pipi Ino menghangat.

"Sa-saya kira anda butuh sebuah pelukan di-di saat seperti ini." Oh, kenapa ia tergagap? Kenapa ia tak dapat berkata dengan normal?

Cairan yang mengalir di leher Ino semakin banyak. Sangat hangat. Ino pun merapatkan pelukannya pada L. Membiarkan detektif terhebat di dunia itu menangis di pundaknya. Membiarkan detektif itu menumpahkan semua kesedihannya di pundak Ino. Dengan pelan, Ino juga menjatuhkan kepalanya di pundak kanan L.

Oh, how dramatic this couple, huh?

Wait!

Couple?

"Saya memang terlihat lemah, bukan?" tanya L menaikan kepalanya menatap Ino. Namun tangannya masih melingkar di pinggang Ino.

"Tidak. Ini wajar." Ucap Ino. Lalu ia melepas pelukannya.

"Eng... a-ano?" ucap Ino saat L melepas tangannya dari Ino. L lalu buru-buru melepaskan tangannya.

"Ayo kita masuk mobil. Kita basah kuyup." Ajak L. Ino hanya mengikuti langkah L yang menggiringnya keluar dari pemakaman itu.

.

"Rain-san! Bagaimana dengan urusan Ryuuzaki dan Watari?" tanya Matsuda optimis. Ino pun kembali dengan pakaian biasanya. Jaket hitam kulit, celana pendek hitam. Aksesorisnya? Tetap sama. Senjata di sekujur tubuhnya.

"Dia berada di pemakaman pinggir kota. Jenguklah dia besok." Ucap Ino.

"Kenapa besok?" tanya Matsuda lagi.

"Memangnya anda mau menjenguknya hujan-hujanan?" tanya Ino balik yang langsung buat Matsuda ciut.

"Jadi, kita harus memikirkan siapa pengganti L." Ucap Soichiro angkat suara. Semua diam. Hening pun kembali menguasai ruangan itu.

"Kurasa aku akan meneruskan perjuangan Ryuuzaki." Ucap Light. Semua orang serempak setuju dalam ruangan itu, kecuali Ino.

"Saya hanya membantu kasus Kira saja. Jadi saya tak berhak mengatur siapa pengganti L." Jawab Ino pada Aizawa ketika menanyakan kenapa ia diam. Selanjutnya Soichiro menambahkan bahwa mereka akan merasakan kematian L.

Lalu semua perhatian para manusia terpusat pada sebuah layar di depan L. Huruf N tertampang jelas di sana. Semua orang terkejut, namun tidak dengan Ino. Ia tersenyum tipis di balik maskernya. Hatinya tertawa sinis, melihat ekspresi Light.

"Salam kenal, L kedua."

Bingo, Light. Your hell are start from here.

.

—To Be Continue.

.

Huuueeee minna-san!

Maafkan Laven sudah telat-setelat telatnya update fic ini! .

Makasii banget udah yang mau baca dan ripiw, yang ripiw sudah Laven bales nee~

Hehehe, udah Laven banyakin noh romens-nya Lino :D

Oh iya, selamat puasa bagi yang menjalankannya :D

.

.

Fic ini tak kan berkesan tanpa kamu, So Read and Review?

.

.

Salam manis,

LavenMick Amanda.