Chapter sebelumnya:
"Saya hanya membantu kasus Kira saja. Jadi saya tak berhak mengatur siapa pengganti L." Jawab Ino pada Aizawa ketika menanyakan kenapa ia diam. Selanjutnya Soichiro menambahkan bahwa mereka akan merasakan kematian L.
Lalu semua perhatian para manusia terpusat pada sebuah layar di depan L. Huruf N tertampang jelas di sana. Semua orang terkejut, namun tidak dengan Ino. Ia tersenyum tipis di balik maskernya. Hatinya tertawa sinis, melihat ekspresi Light.
"Salam kenal, L kedua."
Bingo, Light. Your hell are start from here.
.
Paradise—written by LavenMick Amanda.
Naruto, owned by Masashi Kishimoto.
Warning!
Abal, Gaje, Typo(s)—maybe?, OOC maybe, Hurt/Comfort, Romance (maybe?), Crime (maybe?), LIno slight SasuIno.
.
[Chapter 5 : 'Cause we came to win.]
.
.
N'joy!
.
"Apa? L kedua? Bagaimana dia bisa tahu kalau ada L kedua?" tanya Matsuda entah pada siapa. Semua orang di sana tercengang, pada seorang manusia yang tak jelas wujudnya menelpon markas penyelidikan Kira, dan mengaku dirinya adalah N.
Setelah beberapa percakapan singkat di layar, N memutuskan percakapan mereka. Tampak wajah Light sangat terkejut. Tentu, ia tahu bahwa ia masih melawan L. Keberadaan N adalah sebuah ancaman untuk Light yang berstatus Kira. Ino menyeringai di balik maskernya, ia yakin Light sedang terkejut.
Ino tertawa puas dalam batinnya. Ia ingat sekali bagaimana rencananya tersusun dengan rapi.
'Near harus susun rencana bagaimana cara mendesak Light untuk membuatnya datang dan menunjukan caranya membunuh. Saya akan menyusun rencana untuk meniru Death Note Light. Death Note yang palsu ada pada saya. Dan yang asli pasti ada padanya.'
'Baiklah, Rain-san. Tapi, bagaimana cara Rain-san tahu bahwa itu Death Note palsu?'
'Light tidak sebodoh itu, Near. Pembunuhan tetap berjalan. Selembar atau dua lembar Death Note tak cukup untuk menjalankan misinya. Ini tak akan membutuhkan waktu lama.'
'Lalu kerjaku, apa?'
'Anda akan berpura-pura sebagai pencuri Death Note. Saya akan membantu anda untuk mengambil Death Note. Susunlah rencana agar Light mau mengambil Death Note itu padamu, Mello.'
Jika kalian bertanya-tanya, apa tugas Ino, tugasnya adalah meniru tulisan tangan Light, membantu Mello mengambil Death Note Light, terus berpura-pura berkerja pada Light, menjebak laki-laki berambut coklat itu, lalu menikah dan mempunyai dua anak bersama L.
Menikah dan mempunyai dua anak bersama...L?
Oi Ino, apa yang kau pikirkan! Seriuslah! Baik, kau sudah benar-benar gila!
Kembali, Ino merasakan dadanya menghangat. Suatu perasaan asing itu kembali. Membuat darah Ino berdesir hebat ketika mengingat namanya. Ino benar-benar tak tahu apa nama perasaan itu. Yang ia tahu adalah ia akan segera merona dengan hanya memikirkan L.
"Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Ino bangkit dari alam khayalannya.
"Kita akan-"
DRRT...DRRT...
"Dengan Yagami Laito?" ucap Light mengangkat handphonenya yang bergetar. Lalu mata Light membulat terkejut mendengar pernyataan seseorang yang menelponnya. Setelah beberapa saat bercakap beberapa saat pemuda bermata hazel itu menutup sambungan telfonnya. Misa berada di ruangan itu mendekat pada Light.
"Laito-kun, ada apa?" tanya Misa. Light pun menutup matanya sejenak.
"Sayu...diculik." ucap Light. Semua orang di ruangan itu terkejut, terutama Soichiro.
"Dia akan mengembalikan Sayu, jika ia bisa mendapatkan Death Note itu, pencurinya berada di Los Angeles" tutur Light lagi. Ino pun bergeming.
"Rain-san... bagaimana ini?" tanya Soichiro.
"Kalau begitu, kalian dapat mengandalkan saya. Saya akan menyerahkan Death Note itu pada mereka. Dan membawa Sayu pulang." Tutur Ino.
"Tidak, kita tidak bisa menyerahkan Death Note itu. Makin rumit kasus ini kalau bertambah satu Kira," ucap Light. Mata Ino memicing tajam.
"Jika kau tak berniat menyerahkan Death Note, berarti kau adalah kira." Desis Ino penuh penekanan, terutama di kalimat Kira. Light hanya terdiam, terkena skak mat dari mentri*
"Tidak biasanya kau sangat bersemangat untuk hal ini, Rain-san." Ucap Light penuh selidik.
"Saya hanya mencoba untuk memberi saran terbaik, jika anda memilih adik anda tetap hidup." Jawab Ino. Sial, seharusnya ia tak seceroboh itu!
"Ta-tapi, mereka adalah kelompok pencuri handal." Ucap Aizawa angkat suara. Ino mengatup kelopak matanya sejenak.
"Saya mendapat gelar pembunuh terbaik di dunia." Jawab Ino tajam. Aizawa pun terdiam.
"Baiklah, kalau begitu kami akan mempercayakan ini padamu, Rain-san." Ucap Light.
.
'Para penumpang pesawat XXX tujuan XXX tujuan Los Angeles, Amerika dipersilahkan menaiki pesawat melalui gate 4, Terima kasih."
Begitulah yang didapatkan pendengaran Ino. Langsung saja Ino mengambil tas ranselnya. Tak membawa senjata apapun, Ino masih mengenakan maskernya. Alasannya tak membawa senjata adalah, ia ingat ada markas cabang Akatsuki di sana. Ia bisa memakai berbagai senjata di sana. Ya, dia adalah orang paling berpengaruh di Akatsuki. Tinggal menyebutkan namanya, dan semua anggota Akatsuki tunduk padanya.
Hebat, kan?
Perjalanan jauh pun dimulai. Ino hanya duduk sambil mendengarkan musik dari earphonenya. Ia hanya memakai jersey putih berlengan panjang, celana jeans hitam ketat, dan sebuah sepatu kets berwarna hitam dan beberapa aksesoris berupa manik-manik berwarna emas. Tak lupa tas punggung yang selalu melekat dengan setia di punggungnya. Tak terlalu besar memang, namun isinya yang tak dapat di sebutkan nominalnya.
Yaps, ini akan jadi perjalanan yang melelahkan bagi seorang Ino Yamanaka.
.
Drrrt... Drrrt...
"Dengan Ren disini." Ucap Ino kembali memalsukan namanya. Sebelah tangannya memegang handphone layar sentuhnya, sedangkan yang lainnya menenteng plastik yang berisi beberapa makanan yang ia beli di suatu tempat saat menuju hotel di kota yang sering di beri inisial LA itu.
"Tidak usah menyamarkan nama anda, Rain-san. Saya L." Ucap seseorang di ujung telepon. Ah, tentu saja bocah panda itu pasti pernah sesekali mengutak-atik handphone Ino saat di markas. Tentu saat Ino sedang keluar dari markas sebentar.
"Baiklah, ada apa?" tanya Ino sambil berjalan menuju hotel berbintang empat yang telah di pesannya sebelum berangkat ke Los Angeles tadi.
"Rain-san, apakah Death Note ada bersama anda?" tanya L. Ino mengerling matanya malas. Kakinya berhenti tepat saat lampu rambu lalu lintas menampilkan warna merah.
"Saya yakin anda tahu bahwa Sayu di culik dan penculiknya menginginkan Death Note sebagai gantinya. Anda memantaunya lewat kamera dan penyadap yang telah anda pasang di tempat tersembunyi, kan?" tanya Ino sambil kembali menyebrang jalan. Jika kalian bertanya apakah Ino berjalan dari bandara menuju hotel? Jawabannya tidak. Ino tak ingin membuat kakinya capek. Tentu saja Ino memanfaatkan jasa taxi sampai ia menemukan toko makanan yang menarik.
"Rain-san benar. Padahal saya tak pernah memberi tahu Rain-san tentang hal ini." Ucap L. Ino tersenyum dibalik maskernya. Entah mengapa, ia hanya ingin tersenyum jika mendengar suara L.
Dimana dokter saraf yang bagus yang bisa Ino kunjungi di Los Angeles?
"Jadi, kenapa Ryuuzaki menelpon saya?" tanya Ino. Hening sejenak.
"Saya berada di Los Angeles sekarang." Ucap L.
"Oh? Apa ada urusan penting di sini?" tanya Ino.
"Tidak. Saya hanya ingin mengawasi pergerakan anda." Ucap L. Alis Ino pun mengernyit.
"Jadi anda mencurigai saya?" tanya Ino sambil melangkah masuk ke hotel.
"Saya wajib mencurigai anda. Mana tau anda memonopoli Death Note dan polisi jepang."
"Bye." Ucap Ino dengan sangat tidak sopannya memutus sambungan telepon. Tentu saja, saat ini gadis berambut blonde itu sangat teramat kesal. Bagaimana bisa L mencurigainya? Ia sama sekali tak mempunyai niat seperti yang L katakan!
Ino pun dengan wajah gusar memesan hotel. Tak banyak kata yang ia gunakan. Ino hanya mengangkat tangannya sebagai jawaban tidak saat seorang pelayan menawarkan jasanya untuk mengangkat tas ransel dan plastik makanannya. Ino segera membayar hotelnya untuk lima hari (sesuai yang Light katakan padanya) dan menyambar kunci kamarnya saat resepsionis itu memberikan kunci kamarnya. Belum sempat resepsionis itu mengatakan sesuatu, Ino sudah mengambil langkah pergi menuju lantai tujuh pada hotel itu. Tentu menggunakan lift.
Saat lift berhenti pada lantai tujuh, Ino langsung berjalan cepat-cepat menuju kamarnya. Setelah menempelkan kunci kamarnya pada sebuah layar monitor, Ino bergegas masuk langsung ke kamarnya.
Cukup nyaman. Seperti layaknya hotel-hotel mahal, rapi dan mewah. Terlebih ada kaca yang menampilkan lampu-lampu malam di kota itu. Ya, para gedung berjejer dengan semarak menampilkan berbagai macam lampu.
ZRRRT!
"!" sontak Ino menegang ketika lampu di kamarnya mati. Hebat, ada pemadaman lampu di hotel besar seperti ini.
"Siapa di sana?" ucap Ino. Baiklah. Ino menyesali keputusannya bahwa tidak membawa senjata satupun. Untung saja matanya masih berfungsi dalam gelap. Ditambah lampu-lampu gemerlap dari gedung di luar hotel menambah penerangan dalam kamarnya.
"Saya, Rain-san." Ucap seseorang. Lalu beberapa lampu kecil di ruangan itu menyala.
"Eh? Kenapa anda bisa di sini?" tanya Ino sedikit terkejut dan gugup. Tentu saja Ino terkejut karena ia baru saja memesan kamar hotel ini, dan panda jadi-jadian ini muncul. Kedua, gugup. Entahlah. Tadi ia merasa kesal pada pria di depannya ini. Sekarang sudah gugup saja.
Cinta, ya?
"Saya sudah mengarahkan petugas hotel untuk memberi kunci cadangan pada anda." Ucap L, masih setia dengan kaos putih panjangnya.
"Lalu tujuan anda?" tanya Ino jutek. Ia menyilangkan tangannya.
"Tentu untuk mengawasi kinerja anda." Ucap L. Ino memalingkan wajahnya kesal.
"Itu tujuan utama, atau tujuan kedua?" tanya Ino. L sedikit tersentak.
"Bagaimana kalau tujuan utama saya adalah untuk mengawasi anda karena saya menaruh perhatian pada anda?" tanya L. Giliran Ino yang tersentak.
Tunggu.
Seorang detektif terhebat yang baru mengenalnya sebulan lebih menaruh perhatian padanya.
Garis bawahi beberapa kata penting di atas.
Menaruh perhatian Yamanaka Ino.
Baik, Ino. Jangan kepedean dulu. Manatau ia perhatian padamu karena menurutnya kau pion penting dalam kasus ini.
Pikirkan jawaban untuk pertanyaan L tadi, Ino.
"Saya menghargai perhatian anda kalau begitu." Ucap Ino. Well, tak terlalu buruk. Ino menatap mata L sejenak. Pipinya memanas kala itu. Namun, beruntung maskernya dan lampu yang remang-remang melindunginya dari pengelihatan L.
Bukankah terlihat seperti Tsundere?
"Apakah yang anda pikirkan tentang surga?" tanya L. Ino pun terkejut.
"Surga? Saya kira dunia jahannam ini adalah surga. Surga hitam bagi para penikmat kejahatan." Jelas Ino. Ia lalu menghampiri L dan duduk di sofa di samping L.
"Apakah dunia ini lebih cocok di sebut Neraka?" tanya L lagi. Ia duduk di samping Ino, dengan gaya duduk khasnya.
Mungkin kita sebut itu berjongkok, bukan duduk.
"Bagi para orang polos dan baik, ini adalah neraka." Jawab Ino.
"Menurut saya, dunia ini adalah Neraka. Namun setelah kita menemukan sesuatu yang bahagia, kita bisa menyebutkan dunia ini surga." Ucap L.
"..." hening. Ino tak dapat merespon apapun.
"Boleh saya bertanya, Ryuuzaki?" tanya Ino. L mengangguk.
"Apakah surga ini memiliki malaikat?" tanya Ino.
Hening.
Sedetik...
Dua detik...
Tiga detik...
Tik..Tik.. Tik...
"Ya. Tergantung apakah kita sudah menyadari keberadaannya atau belum." Jawab Ryuuzaki. Ino tersenyum di balik maskernya. Entah mengapa, hatinya selalu menghangat kala L mengeluarkan suaranya.
Drrt..Drrt..
"Irish di sini?" ucap Ino setelah menekan tombol hijau di handphone-nya.
"Hai, masih mengingatku?" tanya seseorang di ujung telepon.
"Apa saya pernah bertemu anda?" tanya Ino balik.
"Tentu saja. Kita kakak-adik yang baik, Ino." Ucap orang itu, yang sontak membuat Ino membeku di tempat. Orang itu baru saja menyebutkan nama asli-nya. Bibir Ino pun kaku, tak dapat mengatakan apapun. Tangannya dingin, dan jantungnya memompa darah lebih cepat. Namun Ino berusaha berwajah se-datar mungkin.
Tidak ada yang tahu nama aslinya selain ayah ibunya, dan orang itu.
Ya, Uchiha Sasuke.
"Kau ingin bertemu?" tanya Ino langsung.
"Ya, aku dan berada di gedung tiga blok dari hotelmu." Ucapnya.
"Dua puluh menit lagi." Ucap Ino memutus sambungan telepon. Lalu kembali memasukan handphonenya ke dalam saku celananya.
"Saya harus pergi sebentar, Ryuuzaki." Ucap Ino.
"Kemana?" tanya L.
"Ke toko bikini. Teman wanita saya menunggu saya di sana. Kami akan mencoba banyak bikini untuk musim panas nanti. Ryuuzaki mau ikut?" tanya Ino jahil.
"Tidak. Saya tunggu di sini saja." Ucap L mengeluarkan beberapa permen.
.
Lampu-lampu gemerlap. Terus mengeluarkan hawa panas, menyinari beberapa gang sempit diantara gedung-gedung terkenal.
Hentakan langkah terus menggema pada sebuah gedung yang memang tak digunakan pada malam itu. Sepatu boot yang hanya menutupi sampai sebatas mata kaki dan berhak 12 cm itu tak membuat suara yang terlalu ribut. Mata biru langitnya yang sendu terus mengawasi keadaan sekitar bak seekor elang yang tengah mencari makanan. Gedung yang sedang ia tapaki ini mempunyai 12 lantai. Sengaja memilih tangga darurat yang sangat sepi; karena sebenarnya ia adalah seorang penyusup yang tengah mencoba menembus keamanan kantor yang aktif 24 jam itu.
Untungnya gadis ini sudah membawa sebuah alat yang memancarkan sinyal gelombang sangat kuat, menyebabkan gangguan fungsi CCTV di gedung itu.
Tap.
"Uchiha...Sasuke." ucap gadis berambut blonde itu memanggil nama lengkap pria didepannya.
Berambut Raven, mengenakan jas, dan sepatu yang mengkilat. Tatapan mata hitam itu mengarah pada seseorang gadis yang memanggilnya beberapa saat lalu. Gadis yang ada beberapa meter didepannya itu. Gadis yang tengah tegak di lantai paling atas, tempat pendaratan helikopter. Gadis yang mengenakan masker, jaket kulit tanpa lengan, celana pendek ketat yang menutupi kulit 15 cm diatas lututnya.
Gadis masa lalunya.
"Ino...Yamanaka Ino." Ucapnya datar. Namun, gadis yang dipanggil Ino tahu bahwa berjuta emosi didalam dada pemuda itu mendesak keluar. Mendesak pemuda itu untuk lebih berekpresi.
Ino pun melangkah mendekat pada pemuda itu. Sebuah langkah pelan dan tenang. Tangannya mengepal tak terlalu erat dan tengah berayun disamping tubuhnya. Sasuke—pemuda didepan Ino pun juga melangkah mendekati Ino. Tepat lima langkah sebelum sambutan tangan Sasuke sampai untuk memeluk Ino, tangan Ino mengepal sangat erat dan melayangkan tinjunya pada pemuda itu.
'BUAAAGHHH'
Sebuah tinjuan yang sangat-sangat kuat untuk ukuran tubuh Ino. Cukup membuat Sasuke hilang kendali atas tubuhnya, dan membuat kesan kebiru-biruan pada pipi kirinya.
"I-ino! Kau—"
Seakan belum selesai dengan serangannya, Ino menarik kuat kerah kemeja Sasuke, membuat setelan jas pemuda itu berantakan dan hampir robek.
"Kemana saja kau selama ini, UCHIHA SASUKE?" ucap Ino sambil menekankan nadanya pada saat memanggil nama Sasuke. Terlihat jelas di mata biru itu, bahwa ada kilat amarah disana. Amarah yang sangat menakutkan.
"Ino, Maafkan aku." Ucap Sasuke. Ino menatap tajam wajah didepannya.
Aneh. Tak ada bekas luka setitikpun disana. Padahal Ino masih ingat dengan sangat jelas bahwa terakhir kali ia melihat Sasuke, pipi kiri pemuda itu terbalut perban karena luka yang sangat parah dulu. Ya, pipi yang baru saja dihantamnya.
"Kau kira mudah menjalani hidup seperti ini?" tanya Ino dengan nada rendah. Sasuke hanya bungkam. Lalu Sasuke pun kembali tegak—yang sebelumnya jatuh terduduk karena hantaman Ino—dan menggenggam tangan Ino yang masih mencengkram kemejanya.
"Kau kira aku ini MONSTER? Yang tahan segala luka dan tak pernah berpikir akan perasaan?" tanya Ino lagi.
Hening.
'BRUKK'
Sasuke pun menarik Ino kasar kedalam pelukannya. Wajah rupawan yang sedari tadi dingin itupun terbenam kedalam leher dan rambut Ino. Mengeluarkan semua emosi yang ditahannya selama ini. Namun Ino—ia tak berniat membalas pelukan Sasuke.
"Ino, maafkan aku atas semua kesalahan yang telah kuperbuat padamu. Aku tak berniat melakukan ini padamu." Ucap Sasuke yang masih didalam leher Ino. Ia mengeratkan pelukannya.
"Sasuke... jika kau ingin aku memaafkanmu..." ucap Ino mengambil jeda.
"Maka keluarlah dari organisasi Habanero dan matilah untukku!" ucap Ino sambil melepaskan pelukannya dengan Sasuke. Tepat setelah itu, sebuah peluru melesat sangat cepat dari belakang Ino dan mengarah pada kepala Ino. Ino masih sempat menghindar, namun ia tak dapat melindungi pipi kanannya dari peluru itu, sehingga peluru itu menggores epidermisnya.
"Hebat juga kau, nona Yamanaka." Ucap seorang laki-laki dari belakang Ino.
"Uchiha Itachi." Ucap Ino melafalkan tenang nama pemuda yang lebih tua beberapa tahun darinya. Pemuda itu berdiri tepat dibelakang Ino, hanya berjarak sekitar 3 langkah.
Tak ingin membuang waktu, Ino pun segera melayangkan tendangannya keatas sambil memutar kaki kirnya kebelakang secara tak terduga. Itachi yang tak bisa mengelakpun harus merasakan tendangan dari gadis itu pada lehernya. Dan tak tanggung-tanggung, Ino memutar seluruh badannya sambil mengayun tangan kirinya pada perut Itachi. Itachi masih bisa menjaga keseimbangan badannya, namun ia yang dapat dua hantaman bertubi-tubi itu juga tak sadar kalau Ino tengah melayangkan hantaman ke perutnya dengan lututnya, sehingga ia terpental cukup jauh.
"Kau adalah musuh besar Akatsuki, Itachi. Sampai jumpa di neraka!" ucap Ino meraih pistol yang ada ditangan kiri Itachi dan langsung menembakan pistol itu sebanyak 3 kali. Tepat pada dahi Itachi satu kali dan jantung Itachi dua kali. Setelah memastikan Itachi tak bernyawa, Ino memutar tubuhnya dan mengarahkan pistolnya pada Sasuke. Sasuke masih tetap berwajah datar.
"Kau ingin menyusul Itachi?" tanya Ino membidik Sasuke yang tanpa senjata.
"Oh ternyata, Itachi tak sendirian." Ucap Ino kembali memutar tubuhnya ke arah belakang dan melepaskan pelurunya pada dua anak buah Itachi yang bersembunyi dibalik kegelapan. Tak pernah meleset, bidikan Ino itu membawa anak buah Itachi pada kematian. Ino lalu kembali pada Sasuke.
"Jadi, bagaimana?" tanya Ino lagi. Sasuke masih tetap datar, namun ada raut kesedihan dibalik sana. Sasuke mengeluarkan pistolnya dan balik membidik Ino. Ino kembali mengarahkan pistolnya ke dada Sasuke.
"We came to win, to fight, to conquer, to thrive. We came to win, to survive, to prospher, to rise. To fly!" ucap Ino pada Sasuke yang langsung diakhiri oleh tembakan yang mengarah pas dibagian perut mereka masing-masing. Mereka masih tegak, seakan tak terjadi apapun dengan mereka.
"Ayo pergi dari sini, Ino." Ucap Sasuke.
Kuyakin kalian masih bingung dengan apa maksud dari semua kejadian ini.
.
.
"Jadi, kau masih kontak dengan Pain?" tanya Ino. Pemuda yang biasa dipanggil Sasuke itu mengangguk.
"Aku masih menjadi anggota Akatsuki, Ino. Walau aku hanya bekerja dibalik layar." Ucap Sasuke sembari mengompres perutnya.
Ino benar-benar geram akan leader Akatsuki mesum itu. Bisa-bisanya ia merahasiakan semua hubungannya dengan Sasuke dan bertindak seolah Sasuke tak ada lagi. Bisa-bisanya paman mesum itu membenamkan jantung lain kepada Sasuke. Bisa-bisanya ia seenaknya melempar Sasuke ke Los Angeles dan menjadi mata-mata rahasia Akatsuki yang berada di Habanero, yang dipimpin oleh kakak angkat Sasuke, Itachi.
"Jangan-jangan, kau juga membantuku waktu dipelabuhan?" tanya Ino mengingat kejadian saat ia tengah bekerja dengan penggila Narkoba, Arui.
"Ya, hanya sedikit. Aku memberikan sedikit obat untuk melemahkan saraf Yoshino dan anak buahnya pada makan siang mereka. Sehingga mereka tak terlalu agresif." Jawab Sasuke tenang. Matanya pun menatap Ino khawatir ketika Ino meringis kesakitan saat Ino juga tengah mengompres perutnya.
"Ada apa, Ino? Bukankah pelurunya sudah dikeluarkan?" tanya Sasuke melepas kompresnya. Badannya yang tak mengenakan apapun (terkecuali celana panjang yang masih sangat rapi) mendekat dan duduk disamping Ino. Sasuke jadi menyesali tindakannya yang menyakiti gadis kesayangannya. Harusnya ia hanya meyakinkan Ino dengan kata-kata, bukan dengan tembakan. Sialnya juga, kenapa ia harus menuruti perintah kakaknya untuk menjebak adik (gadis) kesayangannya?
Tapi, Ino itu orang yang sangat susah percaya tanpa bukti logis. Mungkin ia percaya kalau Sasuke masih hidup, namun ia tak akan percaya kalau Sasuke masih menjadi anggota Akatsuki.
"A-aku tak tahu. Sekarang tanggal berapa?" tanya Ino.
"13 Maret. Kenapa?" tanya Sasuke balik. Ia pun tak begitu mempedulikan perutnya yang sudah membaik.
"Ah, pantas saja." Ucap Ino sambil melihat perutnya. Ia masih mengenakan jaketnya, dan membuka kaos ketat sebatas perutnya saja.
"Pantas kenapa?"
"Aku hamil."
"Apa?"
"Bercanda. Tamu bulananku datang." Ucap Ino menahan tawa. Sudah lama ia tak menjahili Sasuke seperti ini.
"Tamu? Tapi tak ada yang menekan bel rumahku?" tanya Sasuke semakin bingung. Setahunya, memang tak ada masalah dengan bel rumahnya. Jadi saat ditekan, pasti berbunyi.
Lagipula, apakah tamu itu punya kekuatan magis sehingga bisa membuat Ino kesakitan? Atau tamu itu semacam pengantar makanan kesukaan Ino? Tapi darimana pengantar makanan itu tahu Ino berada dirumahnya?
Ya, memang. Ceritanya, Sasuke membawa Ino ke rumahnya.
"Ka-kau memang sangat bodoh." Ucap Ino sambil menjitak kepala Sasuke.
"Memangnya tamu bulananmu siapa?"
"Menstruasi."
"Apa?"
"Mens-tru-a-si, Sasuke-nii!" ucap Ino mulai geram.
"Itu... nama laki-laki atau perempuan?" tanya Sasuke dengan wajah polos.
"Kau memang tak pernah peduli dengan masalah wanita—"
"Rain-san?" panggil sebuah suara datar. Mata Ino pun mencari sumber suara itu. Dan iris aquamarine itu membulat takkala melihat siapa yang memanggilnya.
Celaka! Dia...
"Ryuzaki...san?"
.
—To Be Continue.
.
HUEEEEE MINNA LAVEN KAMBEEK~
Sudah berapa bulan Laven gak melanjutkan cerita ini? T.T
Terima kasih untuk yang sudah RnR!
Reviewnya bales disini aja yah langsung ^^
INOcent Cassiopeia : Ah, iya. Watari meninggal :'( Ta-tapi, Sasuke belum meninggal kok, tuh masih nongol diatas :3 || Ihihihi, ini udah belom romens-nya? Keanya masih hint aja ya T.T || Maafkan dakuh yang sangat lama updatenya, semoga ini memuaskan! Terima Kasih RnRnya!
Z irawan3 : hihihi, saya ngga sanggup nonton ulang, ga sanggup liat L mati || Yaps, Terima kasih untu RnR-nya!
.
Fic ini tak akan berkesan tanpa kehadiran kamu,
So, Read and review?
.
Salam manis,
N
