"Itu... nama laki-laki atau perempuan?" tanya Sasuke dengan wajah polos.
"Kau memang tak pernah peduli dengan masalah wanita—"
"Rain-san?" panggil sebuah suara datar. Mata Ino pun mencari sumber suara itu. Dan iris aquamarine itu membulat takkala melihat siapa yang memanggilnya.
Celaka! Dia...
"Ryuzaki... san?"
.
.
Paradise, written by me.
Naruto, owned by Masashi Kishimoto
Death Note, owned by Tsugumi Ohba &Takeshi Obata.
.
.
Abal, Gaje, Typo(s)—maybe?, OOC maybe, Hurt/Comfort, Romance (maybe?), Crime (maybe?), LIno slight SasuIno.
.
.
Bagaimana jika sang malaikat memberikanku dilema yang menyenangkan...sekaligus menyakitkan?
.
.
N'Joy!
.
.
"Ino?" panggil pemuda itu. Sedangkan yang dipanggil tengah terpaku pada sebuah tempat duduk di sampingnya. "Ino?" panggil pemuda itu lagi, dengan sedikit mengguncang bahu kanan gadis berambut blonde itu. Masih sama, tak ada respon.
"Ino? Ada apa?" tanya Sasuke menarik dagu Ino, memaksa aquamarine itu menatap onyx-nya. Sedikit menelan ludah, tampaknya Ino sudah bisa mengendalikan dirinya.
"Sesuatu mengganggumu?" Tanya Sasuke lagi. Ino menggeleng sebagai jawaban. Ia pun menatap kursi di samping Sasuke, lalu alisnya mengerut. Sasuke menatap Ino dengan sabar, berharap gadis bermarga Yamanaka itu dapat menjelaskan sesuatu pada dirinya.
Tentu saja, ini hal yang sangat aneh. Sudah jelas Ino mendengar sebuah suara memanggil dirinya. Sudah jelas Ino melihat sang pemilik suara yang memanggilnya. Tapi kenapa, saat ia hanya memalingkan pandangannya sebentar, pemuda itu sudah menghilang? Apa ini hanya imajinasi? Apa ini hanyalah sebuah iluminasi? Apa ini akibat nyeri diperutnya? Dan jika ini sebuah iluminasi, kenapa harus pemuda bermata panda —yang menurutnya memiliki kantung mata terparah di bumi ini yang muncul?
—Seharusnya Ino sudah tau, kalau memang untuk beberapa hari ini, pemuda bermata panda itulah yang memenuhi pikirannya.
"Sasuke-nii, apakah yang akan terjadi jika aku menyobek selembar Death Note? Apakah Death Note itu masih berfungsi?" tanya Ino kembali pada misinya.
"Tentu saja. Aku pernah menggunakan trik itu saat aku akan membunuh lawanku. Kenapa? Apa Death Note itu kembali 'terjatuh'?" tanya Sasuke penuh selidik. Ia memandang mata Ino serius, dan Ino balik memandang onyx itu. Tidak seperti dulu, aquamarine-nya tak bisa berhadapan langsung pada manik sekelam malam itu.
"Ya. Death Note itu milik seorang remaja labil yang ingin menjadi tuhan." Jelas Ino. Sasuke pun tersenyum geli mendengar pernyataan sister-in-love nya.
Eh? Sister-in-love?
"Biar kutebak. Kau pasti sedang dalam misi untuk menangkapnya?" tanya Sasuke. Ino hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Tapi, kau sudah tahu 'kan dia seorang remaja? Kutebak kau pasti tahu siapa orangnya. Dan, kenapa kau tak langsung menangkapnya?" tanya Sasuke. Ino pun menyandarkan punggungnya pada sofa dibelakangnya.
"Aku bekerja sama dengan badan kepolisian. Jadi aku harus mengumpulkan bukti lebih banyak, walaupun instingku tak pernah salah, nii-san." Jelas Ino. Sasuke pun mengangguk-angguk sebagai respon.
"Kau tidak boleh sombong, Ino-chan. Tidak menutup kemungkinan kalau instingmu bisa salah." Ucap Sasuke seraya mengacak rambut pirang Ino. Ino pun menggembungkan mulutnya sebagai respon karena rambutnya yang berantakan.
"Sasuke-nii!" ucap Ino merajuk. Sasuke hanya terkekeh geli. Lihatlah, pemuda ini memang satu-satunya orang yang berhasil menggoda Ino dan membuatnya tertawa. Gelak tawa mereka memenuhi ruangan itu. Sudah lama rasanya Ino tak tertawa selepas itu.
"Sasuke-nii, aku harus pulang. Kukira pihak kepolisian akan curiga bila aku pergi berlama-lama." Ucap Ino memakai jaketnya.
"Kuantar kau sampai gerbang?" ucap Sasuke menawarkan diri. Ia pun berjalan beriringan bersama Ino. Saat akan turun tangga, Sasuke pun menggendong Ino ala bride-style. Ino yang tak sigap pun hanya bisa merona atas perlakuan Sasuke. Mau tak mau, Ino melingkarkan tangannya dileher Sasuke dan menyandarkan kepalanya di bahu Sasuke yang kokoh. Ino sangat merindukan kehangatan ini.
'Ciye yang udah lama gak dibelay~'
Baik, abaikan part author diatas.
Ino menutup aquamarine-nya. Telinganya akan merekam jelas bagaimana deru nafas Sasuke yang teratur dan tenang. Hidungnya akan mengingat bagaimana bau maskulin Sasuke yang menguar. Kulitnya akan terus merindukan kehangatan tubuh Sasuke. Ia ingin nii-san nya selalu ada disampingnya.
Tuhan, terima kasih sudah membebaskan Ino dari mimpi buruknya. Terima kasih sudah mengembalikan tawanya. Terima kasih sudah membuat hati Ino kembali hidup. Terima kasih sudah menghapus sejenak imej-nya sebagai pembunuh. Terima kasih sudah menjadikannya sebagai wanita yang 'sempurna' walau hanya sesaat. Terima kasih, tuhan.
"Sampai kapan kau masih ingin kugendong, hm?" tanya Sasuke dengan nada rendah. Ino buru-buru membuka matanya dan turun dari gendongan Sasuke. Setelah berpamitan, Ino langsung menaiki taksi yang kebetulan lewat.
.
.
Drrt... Drrt...
"Ha'i. Dengan Yagami disini?"
"Hello baby. Do you know who is me?"
"Onii-san! Tolong aku! Tolong!"
"Sayu-chan! Kau tidak apa? Dimana kau?"
"Ne, Laito-kun. Sayu-chan aman disini. Setidaknya setelah aku menikmati tubuhnya selama tiga hari. Setelah itu, mungkin lebih baik akan membunuhnya, hm?"
"Apa yang kau katakan? Kembalikan Sayu-chan!"
"Ne, Ne... Berikan dulu Death Note-nya~"
"Aku berada di Los Angeles! Berikan alamatmu!"
"438 RingRoad Cost."
Tuuut... Tuut...
Sambungan telepon pun dimatikan.
Baik. Sang kira sudah mengambil langkah tanpa berpikir panjang. Tidak—ia tidak bisa membiarkan penculik itu tetap menjalankan rencananya tanpa Light yang menghampirinya. Tentu saja jika Light tak menyerahkan death note-nya secepat mungkin maka penjahat itu bisa saja membeberkan rahasia kira.
Dilain tempat, situasi mulai memanas akan L yang curiga atas kepergian Ino.
"Rain-san? Kenapa ada bercak darah pada celanamu?" tanya L. Jantung Ino tersentak, namun Ino langsung dapat menormalkannya. Oh, tidak. L akan mengetahui kalau ia habis bertarung dan mengalami luka yang cukup parah. Bagus, ia mungkin akan langsung dipecat dari kasus ini.
"Bukan darah. Itu anggur." Ucap Ino.
"Lalu bukannya seorang wanita yang habis meminum banyak anggur bukannya mabuk?"
"Saya adalah pembunuh, L-san. Saya sering membuat strategi minum anggur dengan target saya, jadi saya tidak boleh mabuk atau target saya akan tahu kalau saya akan membunuhnya. Lagi pula dari mana anda bisa tahu kalau saya minum banyak?"
"Tentu saja, Rain-san menuang anggur dengan tergesa-gesa karena Rain-san ingin minum lagi dan lagi. Tapi itu tidak mungkin. Harusnya jika Rain-san menuang anggur, tumpahannya ada di celana bagian depan. Bukan celana bagian belakang. Akui saja, Rain-san pasti barusan membunuh orang."
JDERRRR!
Bagian belakang... celana?
Dengan takut-takut Ino memutar kepalanya dan menundukan arah pandangan matanya menuju bokongnya. Matanya membulat melihat apa yang terpapar disana.
"Reaksi anda menunjukan kalau anda setuju dengan apa yang saya ucapkan, Rain-san." Ucap L penuh senyum kemenangan. L pun mendekati Ino dari belakang dan menatap Ino licik. "Anda baru saja membunuh orang, kan? Fufufufu, wanita memang tidak bisa menyembunyikan emosinya dengan baik." Lanjut L menenggelamkan tangannya ke saku jeans-nya. Ino pun menatap L dengan delikan tajamnya.
"L-SAN NO BAKA!" Woah. Emosi Ino benar-benar membara sekarang.
Untuk informasi kalian, bercak darah itu adalah darah menstruasi Ino.
.
'CEKLEK'
"Rain-san terlalu serius meninjuku yah~" ucap L mengusap pipinya. Saat ini ia sedang duduk di sofa kamar Ino.
"Habisnya pandangan anda sama seperti pria nakal. Cih!" ucap Ino membenarkan piyama tidurnya. Ya, ia memakai baju berlengan panjang yang dilengkai tudung kepala bewarna coklat, memakai celana tidur dan membawa selimut yang masih terlipat dengan rapi dipelukannya. Rambut panjangnya ia kesampingkan ke bahu kanannya. Dan jangan lupa, maskernya masih setia menempel disana. Ia tidak akan membuka maskernya sampai L pergi dari kamarnya.
"Tapi ini memar, Rain-san." Ucap L merengek. Ino mendekati L dan mengelus pelan pipi L dengan tangan yang tidak memeluk selimutnya.
"Apa begitu sakit? Maafkan saya, L-san." Ucap Ino. L memandangi Ino dengan pandangan terkejut. Ino yang tak sadar dengan pandangan L masih menyentuh pipi ungu pucat itu.
"Rain-san apa masih ingin memegangi pipi saya? Saya akan tinggal disini jika Rain-san mau," ucap L. Ino menarik tangannya spontan.
Tidak—semuanya terjadi karena reflek Ino. Ino merasa bersalah sudah menyakiti L untuk kesekian kalinya. Bahkan didalam benaknya, ia marah pada dirinya. Apakah ia hanya bisa menyakiti L? Apa dia tidak bisa membuat L tersenyum senang? Pikiran gila pun melintas dipikiran Ino.
'Aku harus menjauhinya setelah misi ini selesai.'
BRUUKK!
"Rain-san! Rain-san!"
Disudut pandang yang berbeda, Light yang berada di Los Angeles tengah menyiapkan nama-nama orang yang akan mati di secarik kertas death note. Ia telah mempersiapkan dua lembar kertas ini jauh hari sebelum L menyelidikinya. Delapan hari sudah ia menginap di Los Angeles. Ia melipat kertas Death Note menjadi kecil dan menyimpan di saku jaket bagian dalam. Light pun keluar dari kamar penginapannya mencari taksi. Hari ini, ia dan Misa akan pergi menyelamatkan Sayu.
"Naaa~ Laito-kun." Ucap Ryuk menumpang taksi Light. Light pun membentuk muka kesal. Dasar bodoh, ia tak bisa berbicara! Supir taksi akan curiga!
'Apa?' tulis Light menggunakan pena ditelapak tangannya.
"Bukankah kau tak curiga dengan dua anak didikan L? Tiga lawan satu, bukan?" tanya Ryuk. Oh, kalau saja Ryuk tidak transparan, Light pasti akan menendangnya dengan sekuat tenaga. Mahluk satu ini, selalu saja menambah beban pikirannya. Misa sendiri tertidur di kursi belakang disamping Ryuk.
'Dasar shinigami bodoh. Tentu saja aku sudah menyiapkan rencana untuk mereka.'
"I'm sorry Mr, we are in the place that you request before." Ucap supir taksi menarik Light dari batinnya. Setelah membangunkan Misa dan membayar tarif taksi, mereka memasuki gedung dimana Sayu ditahan. Gedung itu kelihatan tua, sepertinya pabrik yang sudah pindah.
.
.
"L-san, saya harus pergi!" ucap Ino terbangun tiba-tiba. Matanya menyipit menghalang sebuah intesitas cahaya yang cukup besar memaksa masuk kematanya.
Pagi hari?
Apa yang terjadi dengan dirinya?
Buru-buru ia mengecek ponselnya, memastikan beberapa pesan yang masuk bukanlah pesan penting.
Oi, kami sudah membuat Light ke gedung yang kau inginkan!—Mello (12.40 am)
Oi, dimana kau?—Mello (01.05)
Hei, kau kemana? Kau ingin aku menahannya sampai pagi?—Mello (02.20)
14 Missed Call from Mello
Oh tidak. Dia sangat-sangat terlambat. Ya ampun ini pertama kalinya ia terlambat dalam tugas. Ino langsung menelfon Pain.
"Pain, hubungi pihak Los Angeles untuk segera mengantarkan saya mobil dalam lima menit!" Perintah Ino tanpa basa-basi saat Pain baru saja mengankat telfonnya dan langsung menutup telfonnya saat kalimat terakhir selesai. L bengong didepan laptopnya.
"Anda terlalu terburu-buru. Adakah hal yang sangat penting?" tanya L.
"Kau, tunggu saja disini. Aku akan kembali siang nanti." Ucap Ino mengganti bajunya di kamar mandi dan memasang plattform-nya dengan cepat. Ia lalu pergi dengan membawa ranselnya yang terletak disamping lemari. Setelah menyandangkan tasnnya dan menyisipkan beberapa senjata ditempat tersembunyi di tubuhnya, ia langsung keluar dan menutup pintu kamar. Ralat, membanting pintu kamar.
Ia berlari di sepanjang koridor hotel itu. Dan sialnya lagi, ia berada di lantai 14, dan akan memakan waktu dua puluh menit. Ia langsung menuju ke balkon hotel yang cukup luas dan mengeluarkan parasut tunggalnya. Tanpa pikir panjang, Ino langsung terjun dari lantai 14 tanpa memedulikan peringatan petugas hotel. Selepas ia mendarat, ia langsung memotong tali parasut dan langsung menuju mobilnya yang pas sampai tepat waktu.
"I think that's better if you bring me a Lamborghini, not Ferari. [Kurasa akan lebih baik jika anda membawakan saya sebuah Lamborghini, bukan Ferari.]" Ucap Ino mengambil kunci mobil dari pelayannya yang membungkuk memberikan kuncinya.
"I'm sorry, First Leader. Next time i'll bring you Lamborghini. [Maafkan saya, ketua utama. Dilain waktu saya akan membawakan anda sebuah Lamborghini.]" Ucap Ino men-starter Ferari-nya. Ia menghidupkan GPS mobil dan seenaknya menerobos lampu merah. Ia membuka kaca jendela mobil ketika polisi berusaha mengejarnya dengan kecepatan 120 km/jam. Polisi langsung berhenti mengejar Ino karena polisi tahu kalau dia anggota akatsuki. Namun polisi tidak akan pernah tahu kalau dia ketua utama Akastsuki. Untungnya jalanan Los Angeles agak sepi pagi hari ini.
CKIITTT!
Suara ban berdecit bergesekan dengan aspal. Dalam waktu lima belas meit, ia sudah sampai digedung tua yang dimaksud Mello. Ia memarkirkan mobilnya agak jauh dari gedung yang dimaksud. Iapun mengendap-endap memasuki gedung tua itu.
"HAHAHAHA! KAU JENIUS, NEAR. YA, AKU MEMANG KIRA!" ucap Light dengan gelak tawa jahatnya yang memenuhi gedung tua itu. Tubuhnya terikat disebuah kursi, dengan peluh yang bercecer. Soichiro sendiri mendekati putranya dengan pistol yang siap memuncratkan isinya. Ini dia waktunya!
DORRR!
"Rain-san?"
"Rain-san? Kenapa kau menembak tuan Soichiro?" tanya Matsuda.
"Polisi jepang hanya memperlamban gerak Akatsuki." Ucap Ino ambil memotong tali pengikat Light.
"Rain-san? Kenapa kau membantuku?" tanya Light penuh selidik.
"Karena sejatinya sejak awal aku hanya ingin menghancurkan kepolisian jepang dan memintamu untuk berkerja sama denganku. Death Note itu sangat berguna untuk membantu Akatsuki." Ucap L. Aizawa, Matsuda dan Mogi langsung menyergap Ino. Sialnya, Ino tak dapat menghindar.
"Misa akan membantumu, Rain-chan!" ucap Misa mengambil Death Notenya. Near dan Mello tetap diam disana. Mereka menahan senyuman karena sang kelinci sudah masuk perangkap. Misa lalu menuliskan nama Mogi dan Matsuda di Death Note miliknya. Ino pun langsung menekan titik saraf Mogi dan Matsuda secara diam-diam agar mereka pingsan.
"Selanjutnya, Mello dan Near. Laito-san, maukah anda membantu saya?" tanya Ino mengunci pergerakan Aizawa yang masih sadar.
"Nama asli mereka adalah Mihael Keehl dan Nate River!" ucap Ino. Mello yang terkejut langsung menarik pelatuknya dan menembak Ino didekat jantungnya.
"Rain-san!" ucap Misa khawatir. Ino tersenyum dibalik maskernya.
"Fufufufu~ Kelinci sudah masuk jebakan, ya?" tanya Ino sambil memegangi dadanya yang berdarah. Aizawa pun terlepas dari Ino.
"Apa maksudmu?" tanya Light.
"Tentu saja. Seharusnya anda bisa membedakan yang mana akting, Laito. Baiklah, biar kujelaskan di sisa-sisa nafas saya. Ini semua adalah jebakan saya untuk membuat anda mengeluarkan jiwa 'Kira'. Death Note yang kalian pegang adalah palsu. Yang asli sudah saya serahkan pada Raja Shinigami. Ryuk dan Rem sudah berubah menjadi abu karena melanggar beberapa aturan." Ucap Ino puas. Light pun tersentak dan geram. Ia lari keluar gedung dan meninggalkan Misa.
"Amane Misa. Saya sudah berjanji pada Rem akan membebaskanmu."
"Rain-san, kamu begitu baik!" ucap Misa.
"Jangan berpuas hati dulu. Maksud kalimat saya adalah, saya akan membebaskan anda dari hukuman, rasa sakit dan mempertemukan anda kembali dengan... keluarga anda." Ucap Ino masih bisa menahan sakit di dadanya.
"Rain-san—"
DEGG!
"Selamat tinggal, Amane Misa." Ucap Ino yang berlari mengejar Light. Sebelum ia keluar dari gedung, ia melihat kearah Mello dan Nate sambil melepas maskernya. Ia lalu tersenyum dan mengcungkan jempolnya pada dua manusia itu. Aizawa hanya bengong melihat kecantikan Ino.
Ino pun keluar dari gedung itu dan mengejar Light. Baju kaos panjangnya yang berwarna cyan telah berubah menjadi merah dibagian dadanya. Nafasnya terengah-engah mengejar Light yang naik keatas gedung pabrik itu. Ino pun mengepung pergerakan Light.
Ia pun berlari kearah Light. Sebuah perkelahian menggunakan otot pun terjadi. Ino yang terengah-engah karena kehabisan tenaga memaksakan dirinya untuk dapat mengelak dari serangan Light. Sayu pun datang keatas gedung dan membantu Light melawan Ino.
DEGG!
Apa ini? Kenapa kepalanya dan terasa begitu nyeri?
Selanjutnya, dalam sekali gerakan, pergerakan Ino terkunci.
"Kau cukup cantik juga, Rain-san. Kenapa matamu berbeda warna?" tanya Light penuh nada kemenangan. Sedangkan Sayu sudah siap dengan pistol yang diambilnya dari saku celana Ino.
"Ini karena, mata ini kuambil dari temanku yang menukarkan setengah nyawa untuk mata Shinigami!" ucap Ino. Sebelum Sayu menarik pelatuknya, sebuah suara tembakan menembus jantung Light. Seseorang mengunci pergerakan Sayu.
"Sasuke-nii?" ucap Ino kaku. Sementara luka di dadanya masih merembes. Tubuh Ino hampir saja terjatuh kalau saja sebuah tangan tidak menahannya.
"Rain-san? Anda tidak apa?" tanya L tiba-tiba datang menahan tubuhnya. Ino pun berusaha tegak kembali. Ino pun memeluk L.
"Maafkan saya mengotori bajumu. Maafkan saya tak dapat melindungi tuan Soichiro." Ucap Ino mulai menitikkan air mata. Sasuke yang berada dibelakang L masih menahan Sayu. Ia memandang Sayu.
"Sayu-chan, maaf saya membunuh ayah anda. Saya tidak membunuh ayah anda sepenuhnya karena sebenarnya nama ayah anda sudah tertulis di lembaran kertas Death note. Saya menembaknya pada waktu yang tepat. Jika a...nda ber-tanya pada sa-ya mengapa saya bi-sa mengetahui-nya, i...ngatlah siapa sa-ya..." ucap Ino mulai terengah-engah. Ino menenggelamkan kepalanya lalu berbisik pada L sambil menangis.
"Ryuuzaki-san, maafkan saya sudah mengambil masa kecil anda yang bahagia. Maafkan saya memata-matai anda saat di Wammy House. Maafkan saya karena selalu mengingat aroma susu yang anda buat. Maafkan saya tidak bisa menarik anda dari kesepian dan rasa sakit. Maafkan saya tidak bisa menghentikan a-yah anda pada waktu itu. Ma-afkan saya tidak bi-sa melindungi ibu an-da. Maafkan saya tidak bisa menghindari un-tuk membunuh ayah anda se-bagai mi-si pertama saya. Saya sangat memohon maaf, Ryuuzaki-san. Tidak, saya sangat memohon maaf anda, Lawliet...kun."
Ino pun menarik nafas panjang dan dengan cepat mengambil dua pisau dari saku-nya dan membidik kaki Sasuke. Ino memukul pundak L dengan sangat keras sehingga membuatnya pingsan.
"CLOVE!"
Ia lalu berlari turun dari gedung itu dan keluar. Langkahnya yang terseok-seok dan nafasnya terengah-engah menuju mobil. Setelah dimobil, ia men-starter mobil dan langsung melarikan diri.
Semakin lama kesadarannya semakin memudar. Tidak, ia harus lari dari sini. Ia harus menjauhi L. Didekat L hanya membuat L terluka. Setelah menyetir selama dua jam dengan kecepatan 130 km/jam, ia pun menghentikan mobilnya dipinggir laut. Ia berjalan menuju pinggir jurang. Ia menitikkan air matanya.
"Watashi no daisuki yo, Rein Lawliet..."
BYUUURRR!
.
.
Pada akhirnya aku memilih kematian. Aku lelah hidup dan berjalan di tengah tengah gerombolon mayat menggunakan muka datar. Aku tahu aku tak akan bisa dan tak akan pernah pantas menerima kebahagiaan. Surga hitam ini telah membuatku kebal akan segala rasa kasih sayang. Aku tidak bisa bertahan di surga ini! Malaikat ku yang sangat indah akan hancur. Aku harus pergi. Malaikatku yang sangat baik tidak boleh tersakiti dengan eksistensiku di dunia. Aku, Yamanaka Ino akan diterima di Neraka dengan tangan terbuka.
.
.
THE END.
.
.
Maafkan Laven yang lelet banget updatenya huhuhuhu T.T
Hehe, maafkan yah kok jadi gini /dicekek/
Se-sebenarnya ga bad end kok. Laven buat Happy end, di bonus chapter hehe.
Review-nya ya minna^^
Salam manis,
Lvvnt.
