Yahh..cuma sedikit cerita tambahan dari chapter satu. Ga suka jangan baca. Silahkan tekan tombol back atau x di pojok kiri layar anda.
.
.
.
Gumiya terbangun dengan cenut cenut luar biasa. Kepalanya goyang dumang.
Yang pertama kali dilihatnya adalah warna putih, so putih hanya souklin―
Krieettt
Bunyi itu memutuskan fantasinya terhadap iklan salah satu prodak deterjen.
Gumiya ngelirik sedikit, melihat pintu terbuka dan memunculkan seseorang di ambang sana.
"?"
.
Aku Cinta Kamu! Extra Chapter!
.
Peringatan : jangan memaksa baca karena ada kemungkinan fanfik ini membuat iritasi mata anda, sekian dan terima kasih.
.
Mari kita kembali dulu di saat Yuuma semaput abis dicalling sama nenek sihir berkedok senpai jambu penganut sekte, Luka. Gak tanggung-tanggung, langsung ngajakin kencan tanpa nego terlebih dahulu. Mungkin Yuuma berpikir Luka-senpai mengajaknya kencan di bawah pohon keramat atau bong cina yang cocok ama imejnya.
Yah, dari awal senpainya emang nyeremin. Wajar Yuuma jadi jantungan pas senpai horrornya itu mengatakan hal romantis dan langsung menyuarakan opininya. Gak Luka banget pokoknya.
"Yuuma berat banget sih." Keluh Muyo. Ia tidak kuat mengangkat temannya sendiri yang satu itu walau mencoba berkali-kali, dan akhirnya memutuskan meminta bantuan pada densus 88 ―gak. Muyo melihat deretan kontaknya lalu menghubungi agen 007. Ia menunggu suara tut tut tut hingga akhirnya pihak penerima mengangkat panggilan daruratnya.
"Halo, Utatane disini. Melayani dengan segenap jiwa dan raga."
Kok ambigu ya.
"Oi, Piko, tolong ban―"
"Maaf, anda salah sambung. Silahkan dicek kembali dan semoga hari anda menyenangkan."
Hampir saja Piko menutupnya jika Muyo gak sesenggukan. Dengan keterangan di bawah layar: INI HANYA AKTING SEMATA
"Oi, lu kenapa Muy."
"Hiks..Yuuma..hiks..."
Ini hanya akting semata. Pura-pura mewek kaya korban pelecehan.
"Yuuma? Kenapa dia?"
"Yuuma, hiks."
"Elu ditusuk Yuuma?"
Tolong diperhatikan, ada penekanan pada kata 'ditusuk'
"KAGAK, KAMPRET. DIA PINGSAN NIH BANTUIN GUE. GUE GA KUAT."
Muyo emosi pengen ngelakban tuh mulut semprul Piko. Terus lemparin jasadnya ke kolam ikan hiu.
"Aku tidak menyangka hubungan kalian sejauh itu. Jadi, dia pingsan walau di 'atas'? Benar, ya. Kau pasti keberatan jika tertindih―"
"KESINI ATAU GUE YANG NGANTER LU KE ALAM SANA"
Muyo udah marah. Sangat kzl.
"Woi! Gagitu juga! Oke, tunggu ya Muy."
Klek.
Dan begitulah.
Sebenarnya apa hubungan mereka bertiga author juga males mikir.
.
Agak susah bagi Piko menyamar. Pasalnya dia bintang iklan. Untuk menghindari hal tak diinginkan, maka ia mengenakan topi pelukis dan kacamata hitam.
Yuuma dibawa ke rumah Muyo setelah itu, deket gang kelinci. Dia dikipasin sama Piko dan Muyo secara gantian di ruang tamu.
Yuuma panggang enak kali ya. Hng kok author jadi napsu..
Yuuma merasakan suatu aroma menusuk hidungnya. Ia lalu tersadar tak lama kemudian.
"Bangun juga lo! Kita cemas tau!" Piko sok baik sambil menutup botol minyak kayu putih caplong. Padahal sebenarnya dia terpaksa, karena Muyo ngancem bakal bakar seragam olahraga Piko yang hanya anak kos-kosan walau sering nongol di iklan.
Dasar gak tau diri. Udah minjem kok ngancem.
"Gue dimana?" Yuuma pandangannya masih remang-remang. Ia melihat Piko yang sedang menatap lurus padanya dan Muyo yang nyengir nista walau cuma sedikiiiiiiiiiiiiiiiiiiiitttt ujung bibirnya yang tertarik ke atas.
Wait.
Yuuma langsung mengambil posisi duduk dari berbaringnya. Dan ia makin horror ketika mendapati ia sedang mengenakan tuksedo putih dan berada di dalam peti. Tak lupa dengan kumpulan mawar putih yang memenuhi spasi.
Pe-peti?
Jangan-jangan, Yuuma telah jadi roh sekarang? Dan hanya dua temannya ini yang hadir di acara pemakamannya?
Backsound gloomy my day langsung terputar dari piringan hitam di sudut ruangan.
Muyo ngakak dalam hati. Dialah dalang dari semua ini, gantiin baju Yuuma pake tuksedo terus ditaruh di peti. Yuuma pasti ngira dia jadi roh.
Yuuma ngecek gigi taring, berharap jadi makhluk abadi bernama vampir. Sayang, kayanya gigi taringnya gak berubah.
"Oh, gue jadi roh?"
Muyo terpingkal tak karuan dalam nurani. Tapi ia menahannya, hingga membuatnya hanya mengulum senyum ngempet tawa.
"Hah? Roh apaan?" Piko ikut bingung.
Ih, sumpah. Ini lucu banget.
"Gue cabut dulu ke rumah sakit." Muyo mendadak udah pergi gitu aja.
.
.
Muyo berkunjung ke rumah sakit sekitar setengah tujuh petang. Dan Muyo cuma punya waktu luang hari ini, besok soalnya dia mau berpetualang mencari kitab moe-moe dua dimensi di Akiba. Ia membawa bunga plastik ―biar hemat. Yah, mawar plastik gak buruk, kan? Daripada dia bawa kembang tujuh rupa, dikira mau nyekar padahal lumut itu belum koit.
Cih, kenapa Gumiya gak mampus sekalian pas jatoh dari ruang broadcast?
Tapi, Muyo juga agak ngeri jika ia membayangkan dirinya berada dalam posisi Gumiya. Ia mengelus punggung sendiri tanpa sadar.
Kesimpulannya, cinta itu menyakitkan. Bukan hanya kokoro pedih dan hilangnya kewarasan, namun juga sampe menyakiti badan. Tuh, buktinya Gumiya yang sekarang tulang punggungnya patah sampai harus dibawa ke rumah sakit.
Tapi, Muyo cukup salut sama manusia lumutan itu. Dia gak nyerah walau badai menerjang, cintaku takkan kulepas~
Ehem.
Muyo tak butuh waktu lama menemukan ruangan Gumiya. Kamar rawatnya bernomor 14 di lantai satu. Muyo tahu darimana? Apakah dia punya intuisi super macam garis darah vonvola?
Ya tanya sama resepsionis dong, heloh.
"Gum, gue masuk." Minta ijin.
"Gaboleh, sempit." Cih tsundere.
Muyo memutar kenop, disana Gumiya masih terbaring akibat punggungnya patah. Ia hanya berucap dengan nada jenaka.
"Gue gak nyangka elo mau jenguk gue."
Gumiya gak ngarep juga sih. Tapi, itu berarti Muyo peduli.
"Kalo bukan karena lu dulu pernah minjemin kancut ke gue, gue juga ga mau."
Kampret.
Sungguh aib yang terlalu.
Muyo ngambil kursi dan duduk di sisi ranjang Gumiya. Ia meraih tangan Gumiya dan memberikannya setangkai mawar plastik sambil berujar genit.
"Tolong terima perasaan gue Gum."
"Gue gak homo, makasih."
"Tolong terima perasaan gue Gum."
"Lu kira ini doragon quest?"
"Tapi lo gak normal. Suka senpai angker"
"Kayak elo normal aja."
Iya sih. Muyo lebih gak waras lagi kalau menurut Gumiya. Jatuh cinta sama dua dimensi? Jangan buat Gumiya masukin kodok ke mulutnya.
Muyo memeluk mawar plastiknya penuh penghayatan. Menatap dengan sendu bak perawan patah hati.
"Inikah balasanmu pada rasa cintaku."
"Gue jijik ama elo."
"Cinta itu buta."
"Gue masih doyan pahanya Megurine."
"Biar buta aja deh lo."
Muyo teringat sesuatu kala Gumiya menyebut nama senpai horror mereka. Ng? Apa ya? Kayanya ada sesuatu penting yang harus disampaikan deh..
Krieett
Pintu terbuka lagi.
"Gumi? Kenapa kau kemari?" Gumiya menyahut pertama kali. Ternyata hanya adiknya yang berkunjung. Gumiya terharu, adiknya masi inget punya kakak absurd kek dia.
(Gumi pun dipaksa sama Ring buat jenguk kakak sendiri. Senista-nistanya saudara, dia tetaplah saudara ―by Suzune Ring)
"Aku yang harusnya bertanya begitu, aniki."
Gumi menatap kakaknya tajam. Gumiya terkekeh "Tak apa, hanya cobaan Tuhan."
Kelihatannya sih Gumiya senyum varokah nan ganteng sekaligus seksi, namun dalam hati ia meringis pedih; Bisa gak ya cobaan dari Tuhan dikorting dikit?
Gumi menutup pintu kembali. Ia membawa rantang untuk Gumiya dan meletakkannya di atas meja nakas.
"Nih, ada lontong opor."
"Baik banget sih adik gue."
"Gak. Gue jahat. Kalau ada yang kurang, bilang aja."
"Ada dek."
"Apa, bang."
"Kurang belaian dari wanita."
".."
"Ka― AAAKH."
Gumiya remuk, 'dibelai' pake kaki adiknya.
Muyo harap dia gak pernah ketemu Gumiya.
Oh, iya. Muyo ingat. Dia ingin menyampaikan sesuatu. Namun ketua klub otaku itu masih sedikit memikirkannya.
.
.
"Pik, gue mau jalan-jalan dulu ya. Bosen."
Siapa yang gak bosen kalo dari tadi cuma perang. Perang melawan kejahatan atau alien sih keren, tapi ini perang bantal sesama temen cowok, horror banget.
Efek jadi jomblo sih.
Piko tak menjawab. Hal itu diterjemahkan Yuuma sebagai; "serah lu dah mo boker di tengah jalan gw juga kagak peduli. Pura-pura gak kenal kelar urusan."
Yuuma melenggang pergi dari tempat si albino berantena berada.
"Ya udah gue duluan."
Piko kemudian beralih pada yosu di gadgetnya.
5 menit kemudian
Piko masih asik maen yosu.
10 menit kemudian.
Pikirannya gak tenang sedari tadi.
Kenapa, ya? Padahal kolor bergambar love miliknya gak hilang, kok. Tapi, kenapa ya? Kaya ada manis-manisnya gitu.
Piko ngelantur, nyebabin dia game over pas asek asek jos main yosu.
"Ah! Gumiya!" Piko lupa. Tadi Muyo pamit ke rumah sakit, kok dia lupa apa tujuan Muyo. Pasti ngejenguk si lumut. Dia menutup pintu sebelum lari-lari india keluar dari rumah Muyo.
Yah, terkadang otak lemot itu lucu.
Namun langkahnya terhenti di dekat gang kelinci. Butuh beberapa detik mencerna lalu berlari sekencang yang ia bisa ke rumah sakit.
.
"Senpai! Tolong hentikan!"
Yuuma mau keluar menghilangkan jenuh, malah menghadapi pintu kematian. Baru keluar dari lubang belut masuk ke lubang buaya.
Kok serem ,ya?
Yuuma beneran takut sekarang, saat senpai angkernya makin berjalan mendekat ke arahnya sambil mengacungkan sebuah gunting merah.
"A-ampun senpai..jangan sakiti saya..."
Yuuma gak lari ―tepatnya gak bisa. Mana mungkin ia melawan nyai Luka, nanti pasti santet berbicara. Yuuma berlutut seketika, bahkan ia rela bersimpuh agar dimaafkan kesalahannya walau tak tau juga salahnya dimana.
Yuuma gak punya pilihan. Setidaknya ia harus melakukan hal yang benar ―menurut asumsinya― sebelum rohnya lepas menuju alam sana.
Yuuma gak mau mati gara-gara ada paku entah darimana berhasil masuk perutnya. Ouch.
Luka, senpai horor yang disebut hanya tersenyum penuh arti. Lalu semakin mendekat pada Yuuma yang kini terpojok di sudut gang kelinci.
"S-sen―"
Kres.
Eh?
Kres kres kres.
Yuuma ngadat.
"Kau tahu, peraturan sekolah tidak membiarkan rambut siswa laki-laki menyentuh telinga."
EEEEEHHHH?!
Terus, ajakan kencan yang kemarin?
Luka senyum bercahaya bagaikan dewi kuan im, "Gak, aku bercanda soal kencan." Tunggu, kok kontras banget, ya? Silahkan kucek mata anda.
Yuuma bernafas lega, tapi kok..ada yang sakit, ya? Dimana? Yuuma gak tahu. Pokoknya sakit banget.
Itu yang namanya cinta, dodol garut.
-―fin?―
Eit, ada omakenya lolololol
Hape Yuuma jatuh dramatis. Ponsel merek nokinokinya terlepas dari genggaman begitu saja. Tak lama kemudian, terdengar suara peringatan kotak masuk. Muyo yang kepo ―atau kurangajar― langsung buka ponsel Yuuma yang wallpapernya Atsuko Maida.
Eh, ngidol juga toh?
"Yuuma-san? Malam ini jangan lupa bahwa kita kencan.
Megurine Luka"
Satu pesan masuk membuat Muyo terbelalak.
Oi! Siapa yang gak kaget bacanya?!
Glek.
Muyo berharap ini bukan merupakan salah satu tanda kiamat kubra. Dengan cepat dimasukkan ponsel Yuuma ke dalam tas pemiliknya.
Muyo kembali mendapati dirinya di rumah sakit, tepat di ruangan Gumiya. Gumi sudah pergi karena masih ada jadwal syuting. Muyo teringat sepintas, maka ia memantapkan diri untuk batuk ganteng sejenak sebelum bersuara,
"Gum..lu gak tau kan kejadian setelah Luka-senpai nganter lu kesini?"
Hening.
Gumiya mengangguk meski masih meringis kesakitan akibat tendangan Gumi pada perutnya. Sesuatu yang berhubungan dengan Luka entah kenapa membuat deritanya sedikit sirna. Dia sedikit bergeser mendekati Muyo yang duduk manis. Gumiya kepo.
Muyo agak gak yakin, tapi dia harus menyampaikan kebenaran. Karena kebenaran hanya ada satu. Dikutip dari anime detektif cebol, Detective Lohan.
"Luka-senpai dan Yuuma rencana kencan malam ini. Gue sempet baca inbox di hapenya si Yuuma, mereka janjian."
Hening.
Masih hening.
Gumiya menggerakkan tangannya. Mengerjapkan mata beberapa kali. Berharap ini hanya mimpi.
"Gum? Lu gak apa-apa, kan?"
Gak apa-apa gundulmu itu. Gumiya meremat bagian kokoro, membuat pakaian pasiennya sedikit berkerut mengikuti tekanan jemari makhluk bryophyta jejadian itu.
"Gum?"
Tanpa terasa likuid bening menelusuri pipinya. Ini seratus juta kali lebih menyakitkan dari sekedar patah tulang.
Yuuma katanya?
Yuuma tetangganya?
Sohibnya dari era zigot?
Yuuma yang sering ngutang sama dia itu? Yuuma yang sering bantuin tugasnya di Osis? Yuuma yang katanya ngedukung perasaannya untuk Luka?
Yang pertama kali dilihatnya adalah putih, seakan menerawang ke langit-langit ruangan. Mencoba menahan bulir bening agar tak jatuh ke seprai.
Krieeett
Sesosok tuyul berantena masuk pada timing yang salah ―dimana pasien dengan papan nama Nakagawa Gumiya sedang berduka karena kokoro lecet.
Gumiya sedikit melirik. Dilihatnya Piko di ambang pintu.
"Gum,gue gak tahu, tapi lo harus tahu―" bingung deh sama kalimatnya, tapi jeda dari Piko membuat entitas hijau memandangnya dengan jejak air mata
"―Yuuma dan Luka-senpai keluar bareng dari gang kelinci. Gue liat sendiri pas jalan kesini."
Garam ditabur pada lukanya. Lengkap sudah.
Hati Gumiya terbegal saat itu juga.
Tamat (lagi) dengan gak elitnya (baca : kampret)
A/n : Ini ending terkampret yang pernah saya tulis *banting hape /loh
Mau ngetik lebih banyak tapi apa daya jemariku udah kaya jeli /emot penguin
thanks for read
siluman panda
