Part 3

Tittle : "1st Love"

Author : Song Haru

Main Cast :

- Do Kyungsoo ( Girl )

- Kim Jongin / Kai

-Wu Kris

-Xi Luhan ( Girl )

-And other

Genre : School, Romance

Rate : T

Disclaimer : Semua cast adalah milik Tuhan, SMent, dan juga orangtua mereka. Tapi Jongin adalah laki Author #Dilemparpisau#

GENDERSWITCH !

TYPO BERTEBARAN !

PLEASE ENJOY !

HAPPY READING ^^

^^ X.O.X.O ^^

.

.

.

.

.

.

.

.

WAKTUNYA PESTA !

Villa tempat Myungsoo menginap ramai sekali. Ada lebih dari 100 remaja berkumpul disana. Dance, mengobrol, berkelahi, kenalan atau hanya berenang mondar – mandir di kolam samping villanya.

"Kalau ada yang bertanya alamat surga … " Kris sampai berliur memandangi semua koleksi yeoja yang ada di pesta itu. "Ini tempatnya ! Wuuhuuu !" soraknya sambil berlari masuk ke dalam villa lebih dulu, dan dalam hitungan detik saja dia sudah bisa menggombal di depan yeoja – yeoja yang namanya pasti akan dilupakan Kris secepat dia berkedip.

Sementara itu Kyungsoo hanya menguntit di belakang Luhan dan Jongin. Dia gugup sekali, ini pertama kalinya dia ikut ke pesta seramai ini.

"Jangan jauh – jauh," tegur Jongin, dengan paksa menarik Kyungsoo ke sampingnya. "Menempel pada Luhan saja."

Malam itu Jongin sok mengatur seperti biasanya., membuat Luhan jengkel dan langsung menyeretnya menjauh dari Kyungsoo. "Kalau terus – terusan sama Kyungsoo, dia tidak akan belajar bagaimana caranya menggaet namja, Kai. Ayo, kita dance saja di dalam," paksa Luhan.

Kyungsoo memang iri juga melihat mereka pacaran didepannya. Tapi, di sisi lain dia tidak mau ditinggal sendiri. Dia tidak suka keramaian dan paling takut digoda orang yang tidak dikenalnya. Badannya di dorong kesana – kemari, puluhan oraang berjalan lalu lalang dengan tawa keras. Kyungsoo seperti semut kecil yang bisa gepeng jika terus ada di tengah. Dan, satu dorongan membuatnya roboh …

"Eh, Kyungsoo …" sepasang tangan tiba – tiba menangkapnya, tangan kuat milik seorang namja yang paling dipikirkannya selama liburan ini. Myungsoo mencegahnya jatuh, membantunya berdiri kembali. "Baru datang ?" tanyanya setengah berteriak karena musik yang kelewat keras.

Kyungsoo menganggukkan kepalanya, masih mengamati penampilan Myungsoo yang keren malam itu. Dia memakai kemeja garis – garis putih dan menata rambutnya rapi dengan gel. Senyumnya masih tetap memikat seperti biasa. "Mau jalan – jalan ?"

"Apa ?"

"Jalan - jalan !"

"Aku tidak bisa mendengarmu !" jawab Kyungsoo, menggeleng – geleng sambil memegangi telinganya.

Myungsoo tertawa kecil, tiba – tiba saja meraih tangan yeoja bermata bulat itu dan menggandengnya menjauh dari keramaian. Dia mengajak Kyungsoo naik ke anak tangga villanya, terus naik hingga ke lantai 3.

Suasana sedikit tenang, hanya ada beberapa orang disana yang kelihatannya juga memisahkan diri dari keramaian. Beberapa diantaranya memang niat mencari tempat mengobrol, merokok atau hanya untuk melamun.

Myungsoo mendekat. "Musiknya Cuma di lantai satu. Sekarang kau sudah bisa mendengarku kan ?"

Kyungsoo menganggukkan kepalanya sambil tertawa kecil. "Kita mau kemana ?"

"Ada kejutan untukmu," ujar Myungsoo, menggandeng tangannya pelan menyusuri koridor. Ini, pertama kalinya tangan Kyungsoo digandeng mesra oleh seorang namja. Rasanya … hangat sekali …

Myungsoo membukakan pintu sebuah kamar di ujung koridor lantai 3. Bukan kamar sih, mungkin lebih tepatnya sebuah gudang tua. Ditekannya tombol lampu dan membuat gudang itu terang benderang.

"Waah …" Kyungsoo terkagum, melongok ke seluruh pojok gudang. Wajar reaksinya begitu, semua yang ada di gudang ini adalah barang antik yang dikelilingi oleh sarang laba – laba.

"Sudah kuduga, kau pasti akan menyukai tempat seperti ini. Benar kan ?"

"Semua barang ini milik siapa ?"

"Kakekku," jawab Myungsoo, menyentuh debu di pojok jendela. "Kau suka ?"

"Suka sekali ! Semua yang ada disini aku suka. Apalagi cermin itu, mirip seperti properti di film kolosal. Kau sendiri paling suka yang mana ?"

Mendengar pertanyaan Kyungsoo barusan, Myungsoo mendadak diam. Perlahan dia berjalan mendekatinya, memandangnya tajam dan terfokus. "Yang ini …" ucapnya sambil memojokkan tubuh mungil Kyungsoo di tembok gudang. Eh, apa – apaan ini ?

Kyungsoo mulai merasa tidak nyaman, tersenyum kikuk dan bingung. "Ka-kau kenapa ?"

"Bukannya kau suka tempat ini ?"

Kyungsoo mengangguk gugup.

"Memang enak untuk mojok," kata Myungsoo sambil menyeringai.

Mo … Apa ? Mojok ?! Kyungsoo sama sekali tidak berpikiran seperti itu. Dia hanya ingin menghindar dari keramaian di bawah dan melihat bagaimana bagian lain villa ini. Tapi Myungsoo malah semakin mendekat dan mulai berani mngusap pipinya. "Kau cantik sekali, Kyungsoo-ya …"

"Ka-kau … mau a-apa ?" tanya Kyungsoo ketakutan setengah mati. Myungsoo memang namja yang ditaksirnya selama beberapa hari ini. Bahkan dia sudah merencanakan menjadikannya namjachingu dan ciuman pertamanya. Tapi tidak secepat ini dan bukan seperti ini caranya ! Dia tidak mau jika dipaksa begini ! Dia tidak suka !

Tapi sepertinya rasa tidak sukanya datang sangat telat. Saat ini dia hanya bisa memejamkan matanya erat – erat, terlalu takut untuk berteriak. Tolong ! Tuhan tolong !

Lalu mendadak, seperti sebuah jawaban dari teriakan batinnya, tiba – tiba saja pintu gudang di dobrak dari luar. Belum sepenuhnya terbuka tapi setidaknya sudah bisa membuat tangan Myungsoo lepas dari Kyungsoo. Seseorang menerobos masuk dan dengan sekejab mata memukul wajah Myungsoo sampai namja itu roboh.

Kyungsoo tersentak kaget., melotot ketakutan melihat kejadian barusan. Tapi yang membuatnya lebih kaget adalah …

"Do Kyungsoo ! Kemari kau !" Jongin membentaknya dan untuk kali ini Kyungsoo tidak berencana membantah. Dengan cepat dia berlari menjauhi Myungsoo dan bersembunyi di balik punggung Jongin. Dia tidak sempat bertanya bagaimana dan kenapa Jongin bisa datang menolongnya karena saat ini dia bahkan terlalu takut membuka matanya. Terlalu takut dan kecewa … melihat Myungsoo lagi.

Jongin merampas kerah kemeja namja itu dan membanting tubuhnya ke tembok. "Dulu aku sudah memperingatimu untuk menjauhi Kyungsoo kan, hah ! Aku tidak akan segan melaporkanmu ke polisi jika melihat wajah jelekmu lagi didekatnya ! Ingat itu !" ancam Jongin dengan nafas memburu.

Kyungsoo bisa melihat kepalan tangan Jongin yang seolah tidak tahan untuk sekaali lagi menghantam wajah Myungsoo dan membuat namja itu kehilangan setidaknya lima gigi depan meski dia jauh lebih dewasa. Myungsoo menunjukkan mimik menyerah sekaligus jengkel. Dia berjalan melewati Jongin dan Kyungsoo, keluar dari gudang begitu saja, menggerutu beberapa saat ketika melirik Kyungsoo terakhir kali.

Kyungsoo menghela nafas sambil menatap Jongin untuk berterima kasih. "Gomaw …"

"Bodoh sekali sih !" bentak Jongin, spontan membuat Kyungsoo tersentak kaget. Namja berjaket jeans itu melotot marah padanya, membuatnya lebih takut daripada dengan Myungsoo tadi.

"Untung tadi aku melihatnya membawamu ke atas ! Sudah kukatakan jangan dekat – dekat dengan namja cabul itu ! Jika kau diapa – apakan, bagaimana ?!"

"Mi-mian, Jonginah. Habis, kukira dia … baik …"

"Tidak bisakah kau memakai otakmu sekali saja untuk membedakan mana yang baik dan tidak, hah ?!" bentaknya sambil memukul rak disebelahnya. Kyungsoo tersentak mundur, ketakutan karena tidak pernah melihat Jongin semarah ini.

Tidak lama Jongin memandangnya dengan nafasnya yang ngos – ngosan. Dia mendengus jengkel, mengacak – acak rambutnya dan menatap Kyungsoo. "Aku tahu ini pasti ajaran novel – novel picisanmu itu kan ? Pacar pertama, ciuman pertama dan semuanya. Selama liburan ini kau mencari itu teruskan ? Jika sudah dapat, apa sifat bodohmu itu bisa hilang ?!"

Kyungsoo merasa seluruh tubuhnya menegang. Dia takut sekali dengan Jongin yang sekarang. "Aku … "

Belum sempat dia melanjutkan ucapannya, tiba – tiba saja Jongin bergerak maju. Tangannya meraih kepala Kyungsoo, meariknya begitu saja, dan langsung membungkamnya dengan bibirnya.

Mata Kyungsoo yang sudah lebar semakin lebar karena kaget. Jantungnya berhenti berdetak dan tubuhnya jadi mati rasa.

Demi Tuhan … Jongin MENCIUMNYA !

Otaknya amnesia sesaat. Satu – satunya yang dia ingat hanya bibir Jongin yang sangat dingin. Nafas Kyungsoo terasa sesak dan lututnya seketika lemas. Mungkin dia bisa saja jatuh pingsan saat itu kalau Jongin tidak segera berhenti menciumnya.

Namja berkulit tan itu diam sesaat, melepas wajah Kyungsoo yang semula menempel padanya. Jongin bergerak mundur dan menjaga jarak sambil memandangnya yang limbung karena kaget. Kyungsoo belum pernah sedekat itu dengan namja manapun sebelumnya. Tapi lebih parahnya lagi, dia tidak pernah membayangkan jika ciuman pertamanya ternyata Jongin !

Jongin berkata lirih, "Mianhae … " ucapnya ragu.

Kyungsoo hanya diam saja, bingung harus bereaksi seperti apa. Hanya mata bulatnya saja yang tiba – tiba menangis tanpa bisa ditahannya. Dia terlalu kaget, bingung, dan sedih untuk bisa memandang Jongin.

Jongin menatapnya cemas. "Hei, kenapa ? Jangan menangis … aku sudah minta maaf kan ?"

Seluruh tubuh Kyungsoo menggigil dan dia tidak yakin bisa memaafkan Jongin.

Dia menyeka tangisnya, tanpa mengucapkan apa – apa langsung saja berjalan pergi melewati Jongin. Jongin juga tidak berusaha menyusul, Cuma bisa diam melihat Kyungsoo yang kemudian berlari cepat meninggalkannya sendirian di gudang. Jongin kelepasan, malam ini dia tidak bisa menahan diri lagi.

Kyungsoo berlari semakin cepat menuruni anak tangga dengan pikiran kacau. Ciuman pertamanya adalah cinta pertamanya. Tapi bagaimana dia akan tetap percaya dengan teori itu setelah tahu jika ciuman pertamanya berasal dari pacar sahabatnya sendiri ?

Sementara pesta masih berjalan sempurna, hanya Kyungsoo yang berlari cepat meninggalkan villa itu. Berlari sekuat tenaga sambil menggosok – gosok bibirnya dengan jengkel. Ini sungguh tidak adil ! Dia sudah menunggu lama untuk yang satu ini, tapi kenapa Jongin ?!

.

.

.

Tidak terasa sudah empat hari liburan jauh dari rumah. Rasanya Kyungsoo rindu masakan eommanya dan bunyi perut gendut appanya. Apalagi selama empat hari ini banyak kejadian yang sudah membuat otaknya serasa mau pecah.

Semua rencana panjangnya tentang mencari pacar pertama, rusak berantakan. Dia terus mengurung diri di balik selimut seperti biasanya. Dia alasan masuk angin karena pesta semalam, jadi Kris terpaksa tidak mengajaknya untuk rencana turnya. Baguslah, dengan begitu dia bisa menghindar bertemu dengan Jongin. Ah, nama itu lagi. Dieratkannya sellimutnya, dalam gelap dia memegang kembali bibirnya yang masih nyeri karena kejadian semalam. Dia sungguh membenci Jongin !

.

.

.

"Namjachingumu kenapa, Lu ?" tegur Kris, menyenggol lengan Luhan yang masih asyik memotret pemandangan yang mereka datangi siang itu. Luhan menoleh ke arah yang ditunjuk Kris, melihat Jongin yang duduk melamun di sebuah potongan pohon yang tumbang. Sejak datang tadi, namja itu memang sudah memisahkan diri dari yang lain. Merokok pula.

Dengan jengkel, Luhan menyerahkan kameranya ke Kris lalu berjalan malas – malasan menghampiri Jongin. "Sejak kapan kau merokok ?"

Jongin bahkan tidak menoleh. "Bukan urusanmu."

"Kau amnesia ya ? Aku ini yeojachingumu, tentu sikap konyolmu ini jadi urusanku, Kai."

"Oh ya ? Kau kenalan dengan banyak namja lain di pantai kemarin aku tidak ikut campur. Lalu kenapa sekarang kau jadi sok mengatur ?"

Luhan berkacak pinggang. Menatap namja berkaos Baseball di depannya itu. "Sejak kapan kau jadi begini ? Bukannya kita sudah sepakat untuk pacaran yang santai saja. Umur kita bahkan masih sangat muda, main – main boleh saja kan ?"

Jongin membuang rokoknya ke tanah. "Well, mungkin aku sudah bosan main – main," ujarnya seraya berdiri dan berjalan melewati Luhan begitu saja, meninggalkan pacarnya itu acuh.

Luhan memandangi namjachingu menyebalkannya itu menjauh. Dibalikkannya badan dan balik lagi menghampiri Kris di kejauhan, berusaha sebisa mungkin mengacuhkan tingkah Jongin yang aneh.

Sementara itu di villa, Kyungsoo Cuma bisa duduk di depan jendela dan memandangi pemandangan di kebun luar. Dia melirik sekilas tumpukan cokelat yang ada odi meja, seingatnya beberapa hari yang lalu Luhan membawakannya. Katanya dibelikan oleh Jongin.,

Jongin tahu dia suka cokelat.

Perlahan, Kyungsoo mengambil sebungkus dan menggigitnya pelan – pelan. Rasanya manis sekali, sampai dia bisa ingat wajah pemilik cokelat itu. Rambutnya yang berantakan, matanya yang tajam yang suka menyipit jika terkena panas sedikit saja, bibirnya yang tebal namun seksi …

Sambil mengingatnya, di kepala Kyungsoo terngiang beberapa pertanyaan. Apa Luhan dan Jongin berciuman seperti kemarin malam ? apa ciuman kemarin itu sepele bagi Jongin ?

Kyungsoo tidak sempat melamun berlama – lama. Kedua temannya plus Jongin, sudah kembali. Kris kembali memaksanya ikut makan malam di sebuah restoran mewah. Ah, Kyungsoo, kuatkan hatimu di depan Jongin nanti … fuhh

.

.

.

Malam itu Luhan kelihatan cantik sekali dengan semi gaun merahnya, sambil masih repot memakai anting barunya, dia terus saja mengajak Kyungsoo mengobrol.

"Di restoran nanti aku mau cari namja keren, Kyung. Aku dan Kris taruhan siapa yang bisa mendapat kenalan banyak di liburan kali ini," ujar Luhan cekikikan. "Kau mendengarku atau tidak sih, Kyung ?"

"Ah, i-iya Lu … " Kyungsoo mengangguk gugup.

Mana bisa dia berkonsentrasi mendengar omongan Luhan kalau dia terus mengingat kejadian kemarin malam ? Bagaimana jika Luhan sampai tahu masalah ciumannya dengan Jongin ? Pasti Luhan akan menuduhnya yang bukan – bukan dan memutuskan persahabatan mereka. Dan Kyungsoo tidak ingin itu terjadi.

Luhan membuka pintu kamar dan menunggu Kyungsoo menyusulnya. "Disekolahnya, Kai memang paling hot tapi begitu kami pacaran aku baru tahu ternyata dia super membosankan. Dari pertama, aku sudah ada feeling kalau dia sebenarnya tidak serius suka denganku."

"Lalu … ke-kenapa kalian masih pacaran ?"

"Dia single, aku single. Dan kami sama – sama seksi. Kurasa itu yang namanya takdir, Kyungsoo."

"Aku … sungguh tidak mengerti."

"Aduh Kyung … tidak semua orang sepolos dirimu. Anak sekarang mana ada yang percaya dengan cinta sejati ? Aku dan Kai pacaran hanya karena wajahnya yang kelewat ganteng untuk dipamerin. Jika menunggu namja yang tepat, aku bisa keburu kena menopause."

Kyungsoo berjalan di sebelah Luhan menuruni anak tangga sampai ke lantai satu. Dia terus saja bertanya hingga keluar villa. "Lalu, bagaimana kita bisa tahu jika namja yang tepat sudah datang ?"

"Insting."

"Aku … tidak mengerti."

"Kau terlalu banyak mengulang kalimat 'aku tidak mengerti', itu buruk untuk kesehatanmu, Kyungsoo sayang," kata Luhan tidak sabaran.

Insting.

Satu hal yang tidak diajarkan dalam novel – novel yang selama ini dibaca Kyungsoo. Ternyata justru diajarkan oleh sahabatnya sendiri yang namjachingunya pernah mencium Kyungsoo dibelakangnya. Sulit untuk dipercaya. Tapi, kapan dia bisa merasakan insting itu ?

.

.

.

Tbc

Ayeyy, update !

Ada yang nunggu ff ini ? Hahahah *sokpenting* *digeplak*

Pengennya update cepat tapi karena aku nya yang sok sibuk *dilemparmeja* jadinya ngaret deh hihihi.

Untuk Oppa kesayangan, Baekhyun, yang lebih cantik daripada yeoja tulen, selamat ulang tahun … *cipikacipiki* *diamukexoL*

Dan aku mau pamer, kemarin itu pas Oppa cabe ultah, akunya dapat lukisan dia dari temen.

'Baekhyun era overdose' XD

Jadi untuk sekarang aku punya 2 lukisan member exo. Karena yang pertama sudah ada Laki kesayangan, Jongin :* Dan dua-duanya G-R-A-T-I-S sampe kebingkai – bingkainya.

Dan rencananya aku pengen nyari lagi yang dedek Sehun yang makin ganteng tiap hari.

So, ada yang minat buat nyumbang ? *tereakpaketoak*

Atau yang minat buat beli koleksiku ? *yanginiaslicumabecanda*

Exo next door makin bikin penasaran. Well, walau part Jongin cuman dikit. Berharap sih dia punya drama sendiri juga, tapi yang genre-nya yaoi aja lah. Soalnya aku belum siap ngeliat dia deket – deket sama yeoja lagi. Sudah cukup Soohee dan gayung. Hahahaha *dipetengJongin* *diceburinkelaut*

Sekali lagi, terima kasih untuk semua review, fav, dan follow nya ya *deepbowbarengjongin*

See u next time !