Gumiya terbangun dengan cenut cenut luar biasa. Kepalanya goyang dumang.

Yang pertama kali dilihatnya adalah warna putih, so putih hanya souklin―

Krieettt

Bunyi itu memutuskan fantasinya terhadap iklan salah satu prodak deterjen.

Gumiya ngelirik sedikit, melihat pintu terbuka dan memunculkan seorang yang familiar. Yang sering bikin ngadat otaknya selain matematika―

"Luka-senpai?"

(Thor, bilang aja lu kehabisan ide ampe paragraf kemaren diedit terus dipake lagi)

.

.

.

Aku Cinta Kamu!

Vocaloid punya banyak pihak /heh

Ternyata saya masih bergairah (?) nulis ini..so..happy reading!

Warn : bahasa amburadul tapi gahoel, eyd bahrelwei bahrelwey, typo, dan keanehan lainnya.

.

.

.

.

Gumiya berusaha duduk tapi tak bisa, lalu ia bergeser ke arah berlawanan dari sang pendatang. Ia menarik selimut sebatas dada dan menatap si pembuka pintu dengan tablo (tampang bloon).

Seorang gadis berhelai romantis datang tak diundang, mengenakan dress putih selutut dan sandal santai berwarna serupa dengan belahan dada rendah.

Gumiya ngiler.

"Nakagawa..bagaimana keadaanmu?" Tanyanya, sambil membawa sebuah kotak kecil berbalut kertas kado warna merah.

Mata lu katarak ya mbak, lihat nih remuk gini tulang punggungnya. Noh, noh.

Bagian atas wajah Gumiya menggelap. Kenapa...malah dikasih kado?!

"S-seperti yang kau lihat, Luka-sen―"

"Ini untukmu. Maaf." Luka memberikan kotak itu tadi untuk Gumiya. Dengan senang ―dan takut― Gumiya menerimanya. Apapun dari gebetan adalah benda presyes yang layak disimpan dan diawetkan, ―oke itu kejauhan. Intinya gak bisa dituker pake duit.

Dan..apa Gumiya gak salah denger? Luka-senpai minta maaf sama dia? Oh, Tuhan. Terima kasih karena ia masih hidup hingga hari ini. Huhuhu, Gumiya nangis bombay.

"Aku yang akan membayar biaya pengobatanmu, jadi jangan khawatir." Luka berbicara.

"E-eh, tidak usah kok Luka-sen―"

"Mau atau kupatahkan semua tulangmu?" Tatapan Luka mendadak jadi tajam.

Gumiya cari aman aja deh, daripada zonk.

"E-eh, i-iya..terima kasih, senpai.."

Bunga-bunga cinta langsung bermekaran di sekitar Gumiya. Hati Gumiya feel free dan terasa menghangat.

Eh, hangat?

"―mm!"

"Gum!"

"Woy, lumut! Bangun lo!"

Gumiya perlahan membuka netra. Didapatinya teman-teman absurdnya memandang cemas ke arahnya. Gumiya pengen ngomong samting, tapi kayanya ga jadi. Ya udah lah, yang penting udah sadar.

"Mantep banget anime ini! Nikungnya manteb!" Sebuah suara dari luar ruangan terdengar begitu keras hingga semua di dalam kamar Gumiya bisa mendengarnya.

"Anime apaan tuh?" Piko noleh ke Muyo.

"Almarhumah Zero." Manik Muyo berkilat, cring! Pengetahuannya sebagai otaku tak boleh diremehkan!

Gumiya sekarang tahu rasanya ditikung kaya apa. Oke. Itu sakit banget. Apalagi yang nikung temen sendiri, poinnya plus-plus, tapi sayang gak dapet mobil.

Gumiya pengen cepet-cepet sembuh dari sini rasanya. Dia pengen ngomong ama Yuuma soal masalah ini. Bagaimanapun, harus segera diluruskan agar tak menimbulkan salah paham. Gumiya sadar ia maso, tapi gak gini juga keles. Perih, coeg.

Gumiya hanya memejamkan mata.

Musim panas, tujuh tahun yang lalu

Anak-anak pada sibuk keluyuran maen di pasar ikan Crypton. Ada yang maen engklek, petak umpet, tong setan, sampai maen kartu remi. Mereka biasanya adalah anak-anak dari para pedagang di sini, meski ada juga anak-anak yang terbuang lalu diadopsi oleh para pedagang tempat ini.

Hari itu, bocah tengil berambut ijo lagi lari-lari India, kabur dari pak supir tua bangkenya. Dia tadi bilangnya mau beli kue di pasar sebelah, malah untal-untul sampe ke mari. Okesip. Bocah ijo ini siap mengarungi dunia bersama―

"Hai! Kamu anak baru, ya?"

orang asing?

Seorang anak berambut merah muda nongol. Sedikit lebih tinggi dari si bocah ijo. Apaan sih, sksd banget tuh anak, cuih.

"Ape lo?!" Si Ijo nyolot. Matanya mau keluar kaya barongan. Untung gak melet sekalian.

Si bocah pink hanya tertawa, "Aku Sakaguchi Yuuma. Kau sudah makan siang, belum? Ayo kita makan!" Tanpa seijin empunya, Yuuma menarik tangan bocah ijo tadi. Yang ditarik mulanya memberontak, tapi akhirnya nurut juga. Lagian dia juga laper. Gak ada salahnya makan sama bocah pink itu asal gretongan.

Dih. Modus.

"Aku..Nakagawa Gumiya."

.

.

.

.

"Eh, Yum! Lu mau sekolah kagak?" Tanya Gumiya suatu hari saat mereka makan nasi pindang bersama di pasar ikan Crypton.

"Mau lah tapi ya aku gak punya duit." Yuuma tertawa. Mimpi aja terus. Kenyataan kejem, gan. Yuuma tau Gumiya itu bukan anak terbuang kayak dia, yang tiap hari cuma bisa makan ikan. Gumiya itu penampilannya selalu berkelas nan elegan, keliatan banget anak orang tajir gak ketulungan. Mau berteman dengannya saja, Yuuma udah ribuan kali bersyukur. Kan ada yang beli ikan di tempatnya.

Dih. Modus (2)

"Ikut ujian paket gimana Yum? Ntar daftar di tempat les aku."

"Tapi aku kan gak les di sana, Gumiya."

"Ya udah kamu ikut les bareng aku aja. Biar aku yang bayar." Gumiya berkata dengan percaya diri, mengingat angka belakang nol yang entah ada berapa di buku tabungannya.

Awalnya, Yuuma menolak. Namun berkat kegigihan Gumiya, Yuuma akhirnya mengangguk setuju. Mulai dari sana Yuuma diajari banyak hal sama Yuuma layaknya ayah dan anak. Menempuh berbagai rintangan soal dan menyelesaikan permasalahan. Untung aja Yuuma anaknya cepat paham jadi Gumiya bisa nyante sesekali.

Gumiya pun mendaftarkan Yuuma melalui jalur beasiswa ke sebuah sekolah yang elitnya gak nanggung. Selain faktor tajir, omnya adalah pemilik sekolah ini. Yahud deh. Walau Yuuma terbilang baru mengetahui apa itu materi pelajaran, tapi nyatanya ia bisa mengikuti. Gumiya pun cuma senyum kinclong tiap kali Yuuma menanyakan pelajaran padanya.

Sebagai balas budi, Yuuma pun ikut membantu Gumiya sebisa mungkin, seperti bantu-bantu di osis walau ia bukan anggota resmi. Bahkan ia berada di #GumiyaSquad meski gebetan kawannya sedikit beraura mistis. Intinya Yuuma hanya ingin membalas kebaikan Gumiya. Tanpa Gumiya, tak mungkin ia bisa bersekolah di sekolah , terlebih sekolah elit yang kalau lulus pasti dijamin kerjanya, mantap dah. Yuuma rela ngelakuin apa aja asal sohibnya bahagia. Plis, sinet banget.

Gumiya tidak tahu lagi bedanya realita dan mimpi. Gumiya tidak tahu lagi bedanya lawan dan kawan. Nyesek. Intinya Gumiya sedih karena ada hawa-hawa nikung.

"Jadi, Gum. Lo mau apa kalo Luka-senpai menyukai Yuuma? Dipanggang?" Tanya Piko dengan bijaknya.

Bijak gimana, serem coy!

"Kalo lu butuh ngehajar tuh cowok pink, gue pasti bantu." -ini Muyo. Muy, ngehajar darimana orang lu hobi grepe grepe dakimakura cewek bohay dan loli dua dimensi mulu.

Gumiya puyeng. Temen-temennya naudzubillah semua.

.

.

#skip aja deh males nulis#

.

.

.

Musik jazz mengalir lembut. Lantai dansa tampak berjubel muda-mudi.

Alas bermotif laik papan catur itu terkena sorotan sinar megah dari lampu kristal. Menerangi gelap dengan keromantisan.

Dari sisi berseberangan pada lantai dua, mereka melakukan kontak melalui topeng berbulu. Saling tersenyum penuh makna, sebelum akhirnya melangkah turun seirama ke lantai dansa.

"Gak buruk sih, tapi siapa si wanita dan siapa si cowoknya? Maksudku―namanya?"

Len mengerut tak mengerti sembari merapikan lembar doujin milik Muyo.

"Ini romantis kan! Aku ingin menjadi lelaki romantis, Kagamine!"

"Romantis gundulmu! Ngaca dulu sana!" Len memberinya chop. Membuat Muyo―korban barusan― berguling-guling jyjyq di lantai ruang klub.

"Kagamine! Sakit, tahu!"

"Oya, gimana kabar Nakagawa-senpai? Punggungnya...patah, kan?" Len menelan ludah gugup.

( Sebenernya bukan senpainya )

Muyo langsung berdiri sembari menggigit setangkai bunga mawar plastik―diduga dicomot dari vas di samping akuarium ikan lohan di ruangan. Tunggu, ini sebenarnya di mana, sih?

"Jangan khawatirkan Nakagawa, anak muda! Kekuatan cinta akan menyembuhkannya segera!"

Baru saja mengatakan itu, Len dan Muyo selaku penghuni ruangan―meski sementara― menoleh ke arah pintu yang dibuka seseorang.

"Nakagawa-senpai?!" Len mendadak kasihan melihat kondisi senpai―tapi sebenarnya bukan― yang cukup memprihatinkan.

Nakagawa Gumiya datang pakai tongkat sebagai penyangga.

"Gumiya! Kau jadi kakek-kakek! Bwahahhahaha!" Muyo ngakak.

"Diam kau, otacon! Punggungku sakit apa boleh buat!" Balas Gumiya.

"Gumiya! Terima kasih sudah datang hari ini ―pfftt.." Muyo terpingkal menahan tawa. Gumiya diam saja. Memang Muyo selalu begitu. Jadi ia hanya perlu mengabaikannya.

"Senpai baik-baik saja?" Len menatap nanar.

"Aku bukan senpaimu, tuan Kagamine!" Gumiya ogah menerima perkataan Len barusan.

Jadi, begini ceritanya. Len kan tampangnya uhukshotauhuk, jadi waktu pertama kali masuk ke sini, dia sering dibully sama anak-anak cewek buat crossdress. Saat itulah Gumiya datang menyelamatkannya. Sungguh heroik sekali meski caranya kelewat awesome.

Flashback bentar

"Leen! Ayo pitanya dipakai!"

"Roknya kurang pendek, nih!"

"Stockingnya sudah bagus, kan?"

Len menangis dalam hati saat teman-teman perempuan sekelasnya mengerjai dirinya. Rin ada di kelas sebelah, malu dong kalau Len teriakin kakak kembarnya, kan dia laki. Para siswa laki-laki justru tidak ada yang membelanya. Beberapa dari mereka malah jatuh pingsan karena mengalami mimisan.

Brakk!

Pintu terbuka klise, seorang pujangga lumutan berdiri dengan pose menekuk satu kaki. Lalu mengibas poni seraya berjalan ke arah Len. Para siswi entah mengapa memberi siswa bernametag Gumiya akses. Sementara tangan kanan lumut itu dibentangkan, tangan kiri dilipat. Ia membungkuk penuh penghayatan pada karya Tuhan―sebenarnya karya siswi-siswi di sini.

"Tuan puteri, bolehkah aku mendekapmu dengan hangat malam ini. Melindungimu dari segala dingin yang ada."

Len tak sempat berkata kala Gumiya menggendongnya ala bridal style. Dengan wajah merah menahan malu, Len bingung harus berbuat apa. Bahkan kala Gumiya membawanya keluar kelas.

Siswa yang masih tersisa kokoronya tertusuk panah imajiner. Sementara para siswi pembully keburu pingsan semua, menyusul korban lainnya.

Dengan ini resmi teridentifikasi bahwa semua teman kelas Len di tingkat satu, tidak ada yang beres.

.

.

Mereka berdua berhenti di halaman belakang. Len diturunkan, Gumiya masih pose ganteng, sementara Len kepalanya sudah berasap.

"Bagaimana, nona? Kau suka caraku membawamu?"

Len memberanikan diri mengangkat wajahnya, hendak mengatakan sesuatu. Tapi keduluan,

"Ya, kurasa dengan ini aku akan berhasil! Ganbare, Nakagawa Gumiya! UHUY."

"Ano.." Len mengangkat satu tangan, mau dinotis sejenak.

"Ini semua berkatmu, nona!"

"A-ano..."

"Pantas saja satu kelas memperebutkanmu, kecantikanmu luar biasa! Tapi tidak ada yang lebih cantik dari Luka-sen―"

"Maaf, aku ini laki-laki."

Kini giliran Gumiya tertusuk panah imajiner. Ia melotot ke arah Len, mencari bukti dusta. Len mengambil satu langkah mundur, firasatnya nano nano, Gumiya langsung maju lima langkah mendekatinya.

"Kau? Laki-laki?!"

Lalu Gumiya menyeretnya ke toilet untuk pemeriksaan sebentar.

(Lalu berakhir dengan jeritan keras nan ambigu dari toilet siswa)

Flashback udahan

Dan sejak saat itu, Len memberi hormat lebih pada Gumiya, menganggapnya sebagai senpai (karena telah menyelamatkannya) walau nyatanya lumut itu teman seangkatannya. Di klub ini, mungkin ia bisa menjadi lebih menly.

(Sebenarnya Gumiya bukan anggota klub otaku, tapi dia sering kemari dan Len menirunya)

Menly dari hongkong, ini klub otaku woi, sadar diri dong.

"Muy." Gumiya duduk di sofa merah. Muyo yang tiba-tiba mendapati Gumiya duduk di sebelahnya hanya melirik.

"Apa?"

Gumiya menghela nafas, memantapkan kokoro. Sinar mentari membias dari kaca, menerangi sisi belakang kepala Gumiya.

"Aku menyerah. Soal Luka-senpai."

.

.

.

.

.

Yuuma bingung harus apa. Dia menggigit jari resah.

Tidak! Ia harus melakukannya!

Ia harus menyerahkan hadiah ini untuk Gumiya, sahabatnya!

Tapi saat Yuuma membuka ruang osis hanya ada para cewek di sana.

"Woi, mau apa lu?" Satu kaki nangkring di meja. Siapa lagi kalau bukan ratunya preman Crypton, Hatsune Miku. Jubah kedodorannya sukses bikin efek serem.

Rin yang asik ngemut kiiko memicing tajam. Ring yang sedang menikmati pijatan dari Piko di pundaknya menoleh.

Ini buruk.

Dan..bukannya Piko itu laki-laki?

Yuuma mau ngacir, sebelum seseorang menahan pundaknya.

"Kau mau kemana, Sakaguchi Yuuma?"

Yuuma melolong minta ampun―lagian dia gak tahu salahnya apa.

"AAAAAAaaaaaaaaaa―" Teriakan itu tenggelam seiring tertutupnya pintu keramat ruang osis.

.

.

.

Kaiko mengambil minuman kaleng dari vending machine. Segera ia membuka penutupnya dan menghabiskannya sebelum dilempar ke tong. Ia hanya tidak ada kerjaan saja. Teman-teman ceweknya anggota osis, lagi sibuk katanya membahas festival. Maunya ikut Len yang pamit ke ruang klub. Tapi Kaiko membatalkan niatnya begitu tahu klub yang akan dikunjungi Len adalah klub otaku.

Tidak, terima kasih.

"Kaiko, tumben kita bertemu, ya."

Kaiko mengalihkan atensi. Seorang pemuda berambut biru sepertinya tengah memandang ke arah dirinya.

"Kaito-nii? Senang bertemu." Kaiko hanya mengulas senyum. Kaito terkekeh kecil sebelum memasukkan sekeping koin ke dalam vending machine.

"Bagaimana kabarmu?"

"Baik. Bagaimana dengan ibu?"

"Lalu kabar ayah?"

Mereka berdua tertawa canggung. Perceraian orang tua telah memisahkan mereka dalam jangka waktu lama. Kakaknya itu kini duduk di kelas tiga.

"Ibu baik-baik saja." Kata Kaito kemudian, seraya memungut cola kaleng yang keluar.

"Ayah juga." Kaiko melenggang pergi.

Kaito hanya tersenyum tipis melihat adiknya yang berjalan menjauh kini.

.

.

.

.

"Oi oi oi...Nakagawa Gumiya yang gigih mengejar perempuan angker sekarang menyerah?! Kau kemanakan perjuangan menahunmu, bodoh!"

Diluar ekspetasi, Muyo tersulut emosi.

"Maksudku..dia tidak menyu―"

"Tembak dulu, dan kau akan tahu perasaannya padamu! Meski kau akan ditolak, tapi ini cara pengecut, Gumiya!" Muyo berdiri sambil mengepalkan satu tangannya ke atas. Gak sadar kokoro Gumiya makin remuk mendengarnya.

"Lalu..gue harus gimana? Senpai selalu saja begitu. Gue.."

"Lo laki-laki, kan, Gum?" Muyo pose keurenth.

"Ya iyalah! Nih mau gue tunjukin anu gue?!"

"Kagak napsu!" Sergah Muyo. Ia lalu menunjuk muka tengil Gumiya.

"Jangan menyerah secepat ini, Gumiya!"

"Tapi aku telah melakukannya selama dua tahun..." Gumiya menunduk pilu.

Len tidak tahu harus berkomentar apa, takut semakin merusak suasana.

"Kau harus bersyukur masih punya tujuan hidup Gumiya, jangan seperti―" Muyo menghentikan kalimatnya. Len penasaran, jadi dia langsung nanya.

"Seperti?"

"Hidup seperti Larry! Maa, aku ada kencan dengan para waifuku! Jaa~!"

Muyo yang sekarang pergi dari ruang klub. Len memandang penuh tanya pada Gumiya. Gumiya hanya memutar mata sebelum berbicara,

"Waifunya cuma dua dimensi, kok."

"Oh.."

Sebenarnya bukan itu jawaban yang Len inginkan.

.

.

Udahan ya.

.

.

Balesan review :

m.a : hm ntr apa gak ya hayo tebaq...bhak Gumiya kok ngenes amat/barunyadar #gblk makasih udah mampir!

And, thanks for read!

siluman panda