Part 4
Tittle : "1st Love"
Author : Song Haru
Main Cast :
- Do Kyungsoo ( Girl )
- Kim Jongin / Kai
-Wu Kris
-Xi Luhan ( Girl )
-And other
Genre : School, Romance
Rate : T
Disclaimer : Semua cast adalah milik Tuhan, SMent, dan juga orangtua mereka. Tapi Jongin adalah laki Author #Dilemparpisau#
GENDERSWITCH !
TYPO BERTEBARAN !
PLEASE ENJOY !
HAPPY READING ^^
^^ X.O.X.O ^^
.
.
.
.
.
.
.
.
"Kyungsoo, kau cantik sekali malam ini," sapa Kris saat membukakan pintu mobil bagian depan untuknya. "Hati – hati, gaunmu berpengaruh fatal buat hormon pria."
Kyungsoo tersenyum simpul menerima pujiannya dengan malu – malu. Dia memang sengaja memakai gaun milik Eommanya dulu, bahannya terbuat dari satin dengan warna kuning tulang dan payet putih dii bagian dekat tulang leher. Dia melirik Jongin yang malam itu kelihatan rapi dengan kemeja putih yang dirangkap dengan jas hitam semi resminya. Entah Kyungsoo sedang kerasukan apa, tapi dia mulai merasa Jongin memang beda dibanding namja biasa seumurannya. Tubuhnya tinggi, dengan kulit tan sexy yang sangat enak dilihat mata.
Jongin meliriknya, baru sadar jika sedari tadi Kyungsoo memperhatikannya. Buru – buru yeoja itu membuang muka dan langsung masuk ke mobil.
Restoran yang di pesan Kris ternyata bagus sekali. Semua perabotan makannya rata – rata terbuat dari Kristal dan mereka dijamu seperti bangsawan Inggris. Saat duduk saja langsung ada empat pelayan membagikan menu. Masing – masing pelanggan mendapat pelayanannya sendiri – sendiri. Musik mengalun dari mini orchestra yang ada di panggung, membuat mayoritas orang rela meninggalkan makanan mereka dan berdansa di tengah ruangan.
"Chocolate mousse dan raspberries anda, Agasshi. Silahkan," ujar salah satu pelayan seraya meletakkan pesanan Kyungsoo di atas meja. Sementara itu Kyungsoo masih seperti bocah yang takjub dengan pemandangan sekitar. Dia seperti ada di alam mimpi, dengan Raja dan Ratu yang berdansa beriringan memutari lantai.
"Jangan melongo terlalu lebar," tegur Jongin membuyarkan lamunan indah Kyungsoo, menggantinya dengan mimpi buruk. Begitu menoleh, namja yang duduk tepat dihadapannya itu sedang memandangnya sinis tanpa kedip. "Mulutmu bau obat nyamuk."
Kyungsoo merengut, balik menunduk, memilih memakan saja makanannya daripada menanggapi sindiran Jongin. Kejadian di villa Myungsoo dulu membuatnya kapok melawan dia.
"Maukah Nona cantik ini berdansa denganku ?" tanya Kris tiba – tiba mengulurkan tangannya ramah pada Kyungsoo. Mata birunya menyala – nyala penuh semangat dan Kyungsoo tidak tega mengacaukannya. Disambutnya tangan namja kelewat tinggi itu dan mengikuti dia berjalan ke tengah lantai dansa, meninggalkan pasangan Jongin dan Luhan yang masih berkonsentrasi dengan makan malam mereka.
Tangan Kris membimbingnya berdansa pelan, memegang pinggangnya, dan memutar tubuh Kyungsoo dengan santainya. "Kyung, tadi Myungsoo dari villa sebelah menitip salam untukmu. Kami ketemu di dekat pantai, katanya dia ingin bertemu denganmu. Anehnya begitu melihat Jongin, dia langsung kabur. Apa dia segitu takutnya dengan si Hitam itu ?"
"Takut sekali," jawab Kyungsoo. "Sangking takutnya jika dia bertemu dengan Jongin lagi dia bakal membuat kapal Nabi Nuh kedua dan transmigrasi disana."
Kris terkekeh. "Kim Jongin, Superman kita hahaa … " guraunya.
Cih, Superman ? Jika Jongin adalah Superman, aku bakal dengan senang hati menimpuk wajah sombongnya itu dengan bongkahan es di kutub.
Saat asyik – asyiknya berdansa, tiba – tiba saja datang seorang pelayan menepuk bahu Kris dan menghentikan dansa mereka. "Maaf, ada telepon untuk Luhan Agasshi dari China."
"Dia disana." Kyungsoo menoleh ke meja yang seharusnya diisi oleh Luhan dan Jongin. Tapi kok … "Tadi…"
"Baru saja kulihat mereka keluar dari pintu samping. Kau saja yang panggil mereka, Kyung," sahut Kris.
"Kenapa aku ?"
"Karena … Aku mau mengajak nona cantik di meja itu untuk berdansa." Kris memandang kearah lain dan tersenyum kepada seorang yeoja bergaun biru tua yang ikutan membalas senyumannya. Dasar, jadi saat berdansa dengan Kyungsoo tadi matanya masih sempat jelalatan ? Dasar playboy, Kyungsoo merutuk dalam hati.
"Ayolah, lagipula kau tidak ada teman dansa kan ?"
Kyungsoo cemberut memandang namja jangkung didepannya. Dasar buaya darat. Tidak menghargai teman sama sekali.
Sejenak Kyungsoo menarik nafas panjang dan menghembuskannya lagi. Hanya memanggil Luhan kan ? Tidak mungkin terjadi hal – hal buruk hanya karena memanggil dia kan ? Meskipun Kyungsoo tahu kalau memanggil dia berarti … harus melihat Jongin juga.
Kyungsoo memisahkan diri dari keramaian restoran, keluar ke halaman belakang dengan sedikit terburu – buru. Di halaman sana, ada banyak orang yang nampaknya sedang menikmati bermesraan atau sekedar mencari kenyamanan untuk merokok.
Kyungsoo berjalan memasuki semak – semak dan disana, di bawah lampu neon yang menjulang tinggi panjang dan kuning, dia melihat pasangan Jongin dan Luhan. Mereka sedang berdiri berhadapan, dan bukan hanya itu saja - mereka juga berCIUMAN !
Seketika dada Kyungsoo terasa sesak.
Dia hanya bisa diam memandangi keduanya yang baru saja selesai ciuman beberapa detik setelah itu. Kyungsoo merasa tenggorokannya seolah hendak merengek panjang karena perih di hidung, entah mengapa tapi sepertinya dia bakalan menangis.
Tapi hei ! Menangis ? Untuk apa ? Menangis karena melihat mereka ciuman di halaman restoran ?
Kenapa Kyungsoo merasa lebih marah dari sebelumnya sampai ingin menusuk perut Jongin dan menjambak rambut sempurna Luhan ?
Luhan tersenyum simpul dan menghapus bekas lipstiknya di bibir Jongin dan memutar kepalanya ke arah lain ketika dia mendadak melihat Kyungsoo.
"Kyungsoo, ngapain disini ?"
Melihatnya kaget, membuat Kyungsoo jadi gagap.
"A … ada telfon untukmu … di … dalam."
"Oh." Luhan merapikan diri, melangkah menjauhi Jongin dengan santai. "Oke." Jawabnya seraya berjalan melewati Kyungsoo kembali ke dalam restoran.
Sekarang hanya tinggal Kyungsoo dan Jongin di semak – semak, masalahnya Kyungsoo tidak ingin lama – lama berdekatan dengan namja itu. Segera dibalikkannya tubuhnya hendak melangkah pergi juga ketika mendengar Jongin memanggil dia. "Nona Do !" tegurnya berjalan menyusul Kyungsoo.
Kyungsoo menoleh dan melihat Jongon menghampirinya, semakin lama semakin dekat dan dia merasakan kemarahan juga kegugupan yang bercampur menjadi satu dalam otaknya. "Apa dunia akan kiamat jika kau memanggil namaku dengan baik ? Apa aku harus mendaftarkanmu ke kelas kejar paket A agar bisa mengeja 'Kyungsoo' ?"
Jongin tersenyum singkat, memandangnya mulai dari bawah sampai atas dengan teliti. "Kau sudah kembali normal rupanya, mulai berani lagi berdebat denganku."
"Kenapa aku harus takut sama amphibi macam dirimu ?"
"Haha … kenapa katamu ?" Jongin menyindir. "Apa kau lupa kejadian bersama dengan amphibi ini di gudang villa waktu itu ?"
Kontan saja wajah Kyungsoo memerah. Jongin memang manusia paling abnormal sedunia ! Bagaimana mungkin dia bisa mengungkit mimpi buruk seserius itu dengan gampangnya !
"Aku benar – benar bisa teriak sekarang kalau kau masih menggangguku lagi," ancam Kyungsoo.
Jongin tersenyum remeh, "Kalau aku bungkam kau sekali lagi dengan bibirku, suaramu tidak akan bisa keluar kan ?"
Tangan Kyungsoo mengepal erat. "Aku jijik dicium oleh orang yang gampang sekali mencium yeoja manapun yang dia mau !"
Jongin diam sebentar, lalu berdecak. "Jadi kau sudah lihat ya ?"
"Maksudmu ?"
"Kau melihat aku ciuman dengan Luhan kan ?" Jongin terkekeh. "Kenapa ? Kau cemburu ?"
Kyungsoo terbelalak. Dia tersinggung, bingung harus menjawab apa. Satu – satunya yang bisa dia lakukan adalah berjalan pergi menghindari Jongin namun tangan namja tampan itu sudah lebih dulu menangkap lengannya. Jongin membalikkan badan Kyungsoo paksa dan membuat dia sekali lagi memandangnya dalam jarak dekat.
Jantungnya berdebar kencang. Namja ini memang tidak bisa ditentang sama sekali !
Jongin menatap yeoja mungil didepannya serius, senyum mengejek diwajahnya sudah hilang. "Itu cuma ciuman perpisahan." Ujarnya pelan dengan tangan yang masih memegang erat lengan Kyungsoo seolah tidak rela mengijinkannya pergi. "Kami sudah putus."
Kyungsoo kaget. "A … apa ?"
"Kami bicara baik – baik dan yang kau lihat tadi hanya ciuman perpisahan."
Meski kaget mendengar berita barusan, tapi Kyungsoo mencoba tetap sadar dan buru – buru menepis tangan Jongin dengan kasar. "Lalu apa hubungannya denganku ? Kenapa kau repot menceritakannya ? Aku tidak mau tahu masalah kalian. Yang jelas kau sudah mencium dia. Titik."
"Aku ?! Hei, si bodoh itu yang menciumku duluan ! Aku bahkan tidak membalas !"
Kyungsoo tersentak kaget. Ngapain dia bilang itu segala ? Dia membalas ciuman Luhan atau tidak, apa hubungannya denganku ? Aku bukan siapa – siapanya, jadi harusnya aku tidak menanggapi penjelasannya. Tapi … kenapa otakku mendadak mendidih karena penasaran ?
Jongin melipat tangannya, menatap Kyungsoo tak sabaran. "Sebenarnya kau ini bego atau hanya pura – pura bego sih ? Apa tampangku mirip maniak yang suka mencium sembarangan ?! Kalau tahu begitu, aku harusnya mencium semua yeoja seksi di pantai saja sekalian !"
Nafas Kyungsoo memburu, makin marah setiap detiknya.
"Kalau begitu cium saja mereka !"
"Thanks atas sarannya ! Akan aku praktekkan secepat mungkin !" Bentak Jongin.
Kali ini Jongin tidak akan bisa mencegah Kyungsoo meninggalkannya. Kyungsoo benar – benar muak melihat wajah ketusnya. Jongin adalah namja paling kurang ajar yang pernah dia temui di dataran ini dan jika Tuhan menciptakannya dua kali, maka Kyungsoo akan dengan senang hati meletuskan yang satunya dengan meriam.
Kyungsoo mendengus jengkel, berjalan secepat mungkin menuju ke restoran sambil menjinjing bawahan dressnya ketika melihat Kris yang menyambutnya di pintu masuk restoran dengan eskpresi bingung. "Apa aku sudah rabun atau memang benar aku melihat kau dan Jongin bertengkar parah disana tadi ?"
"Diam, Kris," sahut Kyungsoo emosi, sana sekali tak menghiraukannya dan berjalan terburu – buru melewatinya begitu saja. Kyungsoo sudah tidak perduli apapun lagi. Rasanya dia ingin cepat pulang dan mengakhiri liburan ini. Biar saja Jongin mati !
Kris mendekati Jongin yang juga sedang berjalan menghampirinya. Dia keheranan melihat mimik wajah Jongin yang sama marahnya dengan wajah Kyungsoo tadi. Sebelumnya dia memang sering melihat mereka bertengkar, tapi tidak dalam kondisi memakai gaun dan setelan rapi seperti malam ini. Kris mengerutkan kening bingung.
"Kau tidak apa – apa, Jong ?"
Jongin menghela nafas panjang, melirik Kris dengan acuh. "Diam saja, Kris."
.
.
.
Tbc
Mohon maaf lahir dan batin, semua !
Chap ini terlalu pendek ? haha .. maafkan ya ^^
Padahal sudah lama banget nggak update dan sekali update ancur huhuuu
Diusahakan next chap bakal update cepat ^^
Dan terima kasih banyak untuk semua review, fav, dan follow nya ^^
Tetap ikutin ff ini ya ^^
Lastly, Review pliss ?
*TebarflyingkissbarengBaekhyun*
