Part 5
Tittle : "1st Love"
Author : Song Haru
Main Cast :
- Do Kyungsoo ( Girl )
- Kim Jongin / Kai
-Wu Kris
-Xi Luhan ( Girl )
-And other
Genre : School, Romance
Rate : T
Disclaimer : Semua cast adalah milik Tuhan, SMent, dan juga orangtua mereka. Tapi Jongin adalah laki Author #Dilemparpisau#
GENDERSWITCH !
TYPO BERTEBARAN !
PLEASE ENJOY !
HAPPY READING ^^
^^ X.O.X.O ^^
.
.
.
.
.
.
.
.
Tidak ada yang lebih menyebalkan dari sebuah liburan dengan seorang musuh. Apalagi jika musuhnya tinggal dalam satu villa yang sama dengan kita, memakan masakan kita, dan mampu membuat otak kita tidak berhenti memikirkannya.
Putusnya Luhan dan Jongin membuat Kyungsoo semakin tidak tenang. Harusnya itu tidak membawa efek apa – apa padanya, tapi kenapa justru efeknya sangat besar ? Semalaman dia tidak bisa tidur. Menghitung seratus domba lompat pagar pun dia tetap masih terjaga hingga akhirnya dombanya capek dan meninggalkan Kyungsoo sendiri.
Esoknya Kyungsoo bangun jam lima, sengaja keluar dari villa untuk menghirup udara segar agar bisa melupakan semua masalah belakangan ini. Dia mengambil sepeda merah berkeranjang, mendorongnya keluar gudang ketika dia melihat seseorang sedang berdiri membelakangi pohon tua di samping villa.
Eh ? Jongin ? Sial, kenapa pagi – pagi begini aku sudah harus bertemu anak itu lagi ? Ya Tuhan, dosa apa yang aku buat hingga selalu dihantui karma ini !
"Yak !" Kyungsoo menegur setengah membentak. "Kau ngapain disana ?"
Jongin menoleh dengan susah payah. "Pipis," jawabnya santai. "Wae ? Kau mau gabung ?"
"Mian. Aku alergi dekat serangga," ejek Kyungsoo. "Dan untuk informasi saja, di abad pertengahan ada penemuan yang dinamakan toilet loh. Lagipula, tumben sepagi ini kau sudah bangun. Biasanya kau tidur seperti orang mati kan."
Jongin meringis sinis. Ditariknya resleting celananya dan berjalan mendekati yeoja mungil itu, mengamati sepeda dan pakaian yang dikenakannya. "Hmm … sepeda mini, novel, tinggal menaruh topi jerami saja dikepalamu dan kau resmi menjadi yeoja cacat mental."
Kyungsoo mendengus, benar – benar malas menjawabnya. Dia mengayuh sepedanya cepat agar bisa terhindar dari Jongin, berusaha sebisa mungkin tidak melihatnya untuk beberapa jam ke depan. Kali ini Kyungsoo ingin ke pantai, tentunya sepagi ini tidak akan ada turis jadi dia tidak perlu khawatir berenang dengan pakaian seadanya.
Tiba – tiba terdengar sebuah bel sepeda dibelakangnya, mendahuluinya dengan cepat dan nyaris membuat dia jatuh sangking kagetnya. Tidak lama kemudian terdengar tawa mengejek seseorang, dari volume dan tekanannya saja Kyungsoo bisa menebak siapa pemilik suara sialan itu. "Ngapain kau mengikutiku sih ?!"
"Kenapa aku harus mengikutimu ? Ini jalan umum kan ?" jawab Jongin santai.
"Pergi sana ke jalan umum lain !" Bentak Kyungsoo.
Jongin mencibir. "Aku mau ke pantai. Surati saja presiden kalau kau mau melarangku kesana."
Dasar !
"Kalau begitu aku yang pergi," sela Kyungsoo, mengerem sepeda dan hendak memutar arah ketika Jongin mendadak juga ikut menghentikan sepedanya.
Dia mengerem dan menoleh pada Kyungsoo. "Mau kemana ?"
"Pasar."
"Kalau begitu aku juga ke pasar."
"Jongin !"
"Kyungsoo !" ujar Jongin menirukan nada tinggi suara Kyungsoo. Menyebalkan sekali !
Kyungsoo membuang muka dan mencoba mengacuhkan namja tan itu. Biar saja Jongin mengikutinya sampai ke neraka sekalipun Kyungsoo tidak peduli. Dia mempercepat laju sepedanya dan berusaha meninggalkan Jongin meski tahu itu tidak mungkin.
Pada akhirnya yang bisa Kyungsoo lakukan hanya mengalah. Dia berharap semoga saja Jongin tidak akan mengganggu rencananya bersantai di pantai untuk beberapa jam ke depan. Berada didekatnya saja sebenarnya sudah membuat Kyungsoo cukup pusing.
Kyungsoo memarkir sepedanya di tengah – tengah pasir dan Jongin membuka tangannya lebar – lebar menyambut udara pantai layaknya anak kecil. Pantai benar – benar sepi, tidak ada siapapun kecuali mereka berdua dan kepiting yang lewat tanpa permisi. Dan meski itu sedikit membuat Kyungsoo takut terutama setelah tahu apa yang bisa dilakukan oleh namja gila seperti Kim Jongin. Tapi entah mengapa dia justru merasa nyaman dengannya. Kyungsoo tidak perlu berpura – pura menjadi gadis manis, dia bahkan bisa marah sesuka hatinya. Hanya Jongin satu – satunya namja yang bisa membuatnya merasakan berbagai perasaan semacam itu.
"Aku tidak akan meminta maaf lagi." Jongin berdiri agak jauh disebelah Kyungsoo. "Dulu, aku ingin menciummu ya kucium saja. Tidak ada yang salah kan. Aku tidak tahu apa yang dijanjikan novel bacaanmu itu, mungkin saja namja bloon yang bakal mengajakmu dansa di bawah sinar bulan atau yang menyanyikan lagu cengeng di bawah kamarmu. Aku hanya ingin kau sekali saja berhentilah bermimpi dan mulai melihat kenyataan didepanmu, Kyungsoo … "
Jongin menghela nafas. "Kenyataan … bahwa aku menyesal kenapa tidak lebih dulu bertemu denganmu daripada Luhan … Kenyataan bahwa aku … ingin sekali menjadi namjachingumu yang pertama, agar kau bisa lupa tentang semua teori – teori bodohmu itu … "
Kyungsoo menoleh memandangnya, rasanya tidak percaya dengan apa yang barusan dia dengar. Jongin berdiri menghadap pantai didepannya. Kyungsoo diam, bernafas dalam – dalam. Jongin kelihatan bagus sekali jika dipotret dari sisi kiri sekarang ini. Mungkin saja Kyungsoo sudah gila, tapi detik ini … dia mulai merasa jika Jongin memang tampan. Bahkan mungkin, namja paling tampan yang pernah dia temui.
Jongin menghela nafas pendek, tiba – tiba saja melepas baju kaosnya dan melemparnya begitu saja ke pasir sementara berjalan mendekati air pantai dan melirik Kyungsoo. "Mau berenang bersama, Nona Do ?" tanyanya.
Kyungsoo menggelengkan kepala, sedikit menjauhkan pandangannya.
"Kau masih takut padaku ?" balas Jongin sambil terus berjalan.
"Aniyo."
"Kalau begitu ayo berenang," pancing Jongin. "Kalau takut, kau bisa berenang jauh – jauh dariku," tawarnya seraya membalikkan badan dan berlari menenggelamkan diri di air pantai tidak lama kemudian. Kyungsoo masih mematung ditempatnya berdiri. Sebenarnya … tempat ini yang memang indah atau justru Jongin yang membuat tempat ini terlihat indah ?
Mungkin usul Jongin benar, kelihatannya menyenangkan untuk berenang meski itu artinya Kyungsoo seperti memasukkan dirinya sendiri dengan sukarela ke sarang buaya. Tapi jika dia berenang agak menjauh dari Jongin, kecil kemungkinan mereka bisa berdekatan,
Setelah beberapa lama berpikir, akhirnya Kyungsoo mengalah juga. Dengan gugup, dia melangkah ragu – ragu masuk ke air pantai. Permukaannya hangat, tapi di dalamnya terasa dingin. Senyum Kyungsoo melebar dan tanpa terasa tubuhnya secara otomatis mulai berenang kesana kemari.
Saat Kyungsoo memunculkan dirinya ke permukaan, menarik nafas, dia melihat Jongin berenang mendekat membuat jantungnya berdebar kencang.
"Kenapa berenang pakai jaket ?" tegur Jongin mengamati pakaian lengkap Kyungsoo.
"Aku … tidak bawa baju renang."
"Kau bisa pakai bra saja kan ?"
"Jongin !"
Jongin tertawa kecil melihat Kyungsoo tersinggung dengan pipi yang merona merah. Lama kelamaan tawanya perlahan hilang dan menjadi sebuah senyuman kecil, dan akhirnya benar – benar diam saat dia sudah berdiri didepan Kyungsoo. Mata tajamnya seolah menghipnotis agar tetap diam di tempat sampai tangannya benar – benar bisa menyentuh pipi yeoja bermata bulat itu.
"Aku ingin menciummu lagi, Kyungsoo … Bolehkah ?"
Badan Kyungsoo gemetaran. Dia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Jongin perlahan mendekatkan kepalanya, dan disaat Kyungsoo mengira Jongin bakal mencium bibirnya ternyata …
Kyungsoo merasakan sentuhan hangat dipipi kanannya. Bercampur dengan air pantai yang perlahan membuatnya berani membuka matanya dan melihat senyum lebar Jongin didepannya. "Dicium sekali saja nangisnya berhari – hari. Mana berani aku mengulanginya lagi ? Lagipula aku sudah pernah bilang kan, mulutmu bau obat nyamuk. Cih."
"Dasar !" Umpat Kyungsoo, melempar air kearah Jongin.
Jongin ketawa ngakak, berenang menjauh darinya. Kyungsoo bisa saja mengejar dan menjitak kepala namja tampan itu, tapi tidak dilakukan. Lebih enak memandanginya saja. Pantai mendadak saja berubah menjadi sebagus ini. Kyungsoo jadi lupa semuanya, termasuk Luhan, Kris, bahkan mimpi – mimpinya tentang pacar pertama. Semuanya hilang seketika saat memandangi keceriaan Jongin disana.
Insting … Apa ini yang dinamakan insting ?
.
.
Jongin berjalan menghampiri Kyungsoo setelah memasukkan ponselnya kembali ke saku celana. "Security villa yang akan mengambil sepedaku."
"Apa tidak apa – apa ditinggal begitu saja ?" tanya Kyungsoo cemas.
"Mau bagaimana lagi ?" Jongin naik ke atas sepeda mini Kyungsoo. "Siapa suruh kau main – main dekat kepiting dan kakimu jadi bengkak sebesar balon begitu ? Sudah, ayo cepat naik," ujarnya seraya memastikan Kyungsoo naik ke boncengan sepeda sebelum dia mengayuhnya perlahan – lahan menjauhi pantai.
Jongin mengayuh sepeda dengan kecepatan sedang, belok ke arah villa dan hendak memasukkan sepeda ke gudang setelah menurunkan Kyungsoo di halaman. Perhatian yeoja mungil itu langsung beralih kaget melihat Kris dan Luhan yang tampak berdiri menunggu di teras. Mereka berdua memandang Kyungsoo serius sekali saat dia dan Jongin jalan mendekat.
Semakin dekat Kyungsoo merasa pandangan Luhan semakin tajam dan marah, aneh sekali.
"Kalian baru bangun ?" sapa Jongin santai, seolah tidak peduli bagaimana cara Luhan memandang tubuhnya dan Kyungsoo yang basah kuyup.
Tapi Luhan mengacuhkan Jongin. Dia malah menatap Kyungsoo. "Ngapain kau pagi – pagi keluar dengan namjachinguku ?"
Kyungsoo tersentak kaget., bingung harus menjawab apa.
"Eh apa – apaan ini ? Status kita kan sudah jelas kemarin !" sela Jongin, membela Kyungsoo. Dia seperti akan menarik lengan Kyungsoo mundur dan menyembunyikannya dibalik punggungnya seperti biasa jika saja Luhan tidak lebih dulu membentak lagi.
"Jadi selama ini kalian selingkuh dibelakangku ? Kalau saja Kris tidak mengadu masalah pertengkaran aneh kalian di restoran kemarin, aku bakal terus dibodohi. Tega banget sih Kyung !"
Kyungsoo menatap Kris yang kelihatan serba salah. Kali ini mulut namja itu beneran harus disegel.
"Kau sudah ngapain saja dengan Jongin ? Pasti kau sudah dihabisi olehnya kan ?"
"Luhan !" bentak Jongin keras langsung didepan mukanya.
Luhan sekali lagi melirik Kyungsoo, seolah menyalahkannya atas pembelaan yang dilakukan Jongin. Luhan kemudian cepat – cepat membalikkan badannya berlari masuk ke villa dengan sedih. Tanpa pikir panjang, Kyungsoo pun menyusul. Dia harus menjelaskan semuanya. Dia harus menjelaskan jika dia tidak pernah sedikit pun berusaha melukai perasaan Luhan.
Sementara itu Jongin melirik Kris tajam, menarik kerah jaketnya dan memojokkannya ke dinding.
"Kurasa ada beberapa hal yang perlu kita bicarakan antar pria disini," ancam Jongin.
.
.
Kyungsoo berlari secepat mungkin menyusul Luhan, tapi yeoja itu langsung masuk kamar dan mengunci pintunya.
"Luhan !" panggil Kyungsoo, mengetuk sekuat mungkin. "Luhan … mianhae … Kau sahabatku, aku tidak mungkin melakukan hal yang jahat padamu … Luhan, tolong buka pintunya … Dengarkan penjelasanku, Luhan … " Ketukan Kyungsoo melemah. Dia merasa bingung. Perlahan kepalanya bersandar ke pintu. Dia merasa jika tindakannya kali ini benar – benar mengacaukan semuanya.
Tapi tiba – tiba pintu dibuka dan Luhan muncul dengan ekspresi keras. "Jangan menangis ! Aku tidak suka melihat tampang palsumu !" sindir Luhan, membuat Kyungsoo buru – buru menelan air mata yang mau menetes keluar. "Selama ini kau pura – pura polos, tapi ternyata ahli sekali merebut namjachingu orang lain ya."
"Bu – bukan begitu , Luhan …"
"Lalu bagaimana ? Apa yang aku lihat belum cukup ? Masih banyak namja lain tapi kenapa yang kau pilih malah mantan pacar sahabatmu sendiri ? Apa kau pikir itu hebat ?"
Kyungsoo menggelengkan kepala. "Kami tidak melakukan apa – apa dibelakangmu, Luhan ! Aku bersumpah !"
"Sebaiknya penuhi sumpahmu itu !" Luhan mendengus marah. "Atau aku tidak mau lagi melihatmu !" Dia dengan cepat membanting pintu, membuat Kyungsoo kaget.
Dada Kyungsoo terasa sesak. Harusnya sumpah itu tidak jadi masalah. Harusnya tidak, tapi anggukan kepalanya terasa sangat berat … Seolah – olah dia berkhianat pada orang lain. Sesaat dia hanya bisa memandang pintu kamar Luhan, lalu membalikkan badan pergi. Meski nantinya ini berlalu, hubungannya dan Luhan tidak akan bisa kembali seperti semula. Begitu juga hubungannya dengan Jongin, atau Luhan dengan Jongin. Banyak orang yang disusahkan hanya untuk pencarian cinta pertamanya.
Kyungsoo melangkahkan kakinya lesu, berjalan turun dari anak tangga, menghela nafas panjang yang putus asa begitu melihat Kris dan Jongin yang sedang duduk di sofa ruang depan. Mereka menatap penasaran dan Kris adalah orang pertama yang langsung berdiri menyambutnya.
"Bagaimana ?" tegurnya sopan.
Kyungsoo memaksakan senyumnya melebar, mencoba menghibur mereka dan dirinya sendiri.
Jongin bernafas berat memandangnya. "Kau baik – baik saja ?"
Kyungsoo mengangguk kecil, berusaha tidak melihat namja itu secara langsung atau dia dengan otak pintarnya bisa membaca kegelisahan Kyungsoo.
"Mianhae, Soo-ya … Aku tidak menyangka kalau reaksi Luhan akan seperti itu. Padahal tadinya aku bermaksud untuk bercanda saja. Mianhae … " Baru kali ini Kris kelihatan serius. Setidaknya ada satu hal baik setelah semua hal buruk yang terjadi.
Kyungsoo terus menghindari tatapan Jongin dan malah merangkul lengan Kris, mencoba mendinginkan ketegangan. "Sebagai ganti minta maafnya, traktir aku makan siang diluar saja."
Kris mengangguk cepat, langsung setuju tanpa banyak tanya.
Mereka berjalan pergi melewati Jongin. Kyungsoo sedikit menoleh memeriksa reaksi namja tan itu dan mendapati kerutan heran diwajah tampannya. Kyungsoo melambaikan tangannya ringan seperti tidak terjadi apa – apa. "Aku tinggal dulu, ya Jongin," pamit Kyungsoo menjauhinya.
.
.
Jongin memandangi kepergian kedua orang itu dengan hembusan nafas tak tenang. Dia dengan cepat menaiki anak tangga. Satu – satunya yang ada dipikirannya adalah bertemu dengan Luhan dan mencari tahu apa yang sudah dibicarakan olehnya dan Kyungsoo sampai membuat Kyungsoo bisa keluar dari villa dengan senyum santai. Tanpa kompromi, Jongin menggedor pintu kamar Luhan dengan keras.
"Luhan ! Keluar !" panggilnya dengan nada tinggi. "Luhan ! Buka pintunya !"
Beberapa kali mengetuk tapi tak ada jawaban ataupun derit pintu yang terbuka.
"Kalau kau tidak buka, akan kudobrak roboh pintu ini ! Luhan ! Kau dengar aku ! "
"Tidak usah berteriak kenapa sih !" bentak Luhan, mendadak membuka pintu dengan marah. Matanya melotot jengkel memandang sosok Jongin yang selalu emosian.
Jongin berkacak pinggang. "Kau mengoceh apa pada Kyungsoo ?"
Luhan mendesis. "Kalian selingkuh dibelakangku, kenapa malah kau justru mencemaskan dia ?"
"Selingkuh ?" Jongin terkekeh. "Sudah kubilang jangan terlalu banyak menonton drama, begini jadinya. Oksigen di otakmu terhambat dan ocehanmu ngawur. Biar aku ingatkan sekali lagi kalau kita sudah putus. The end, goodbye, sayonara, kkeut !"
"Kau membelanya ?"
"Kau ini bodoh ya ? Apa perlu aku tanyakan pada Einstein dulu ?" sindir Jongin kasar.
Luhan menatap sinar aneh yang sebelumnya belum pernah dilihatnya di mata Jongin. Namja itu seperti terbakar emosi yang berlebihan. Dia seperti mampu memukul siapa saja yang diinginkannya saat itu. Tapi melihat hal itu justru semakin membuat Luhan membenci Jongin, membenci Kyungsoo, dan membenci kedekatan mereka berdua. "Kalau begitu aku minta maaf, karena selama ada aku, kau tidak akan bisa mendapatkan Kyungsoo ! Karena Kyungsoo lebih mementingkan aku daripada dirimu !"
Jongin menahan nafas sesaat. "Apa maksudmu ?"
"Apa perlu disimpulkan oleh Einstein ?" sindir Luhan balik. "Aku ini sahabatnya, dan kau … kau hanya mantanku yang kebetulan naksir dia. Jika aku melarang dia dekat denganmu, pasti dia akan menurut."
"Ancamanmu hanya cocok untuk bocah lima tahun !"
"Kita lihat saja ! Aku sangat mengenal Kyungsoo. Anak itu lebih mementingkan orang lain daripada dirinya sendiri. Sekali saja aku pura – pura menangis, pasti dia langsung panik. Baginya, kau tidak ada apa – apanya, Kai."
Jongin mengepalkan tangan erat, menghantam pintu dengan keras. "Brengsek !" gertaknya marah.
"Aku hanya tidak mau sisaku diambil oleh sahabatku sendiri"
"Kau tidak pantas menyebutnya sahabat !"
"Terserah. Aku mau tidur. Dan jika kau bertemu Kyungsoo di bawah, tolong katakan aku sedang menangisi perselingkuhan kalian disini" ejek Luhan, begitu saja menutup pintu dan meninggalkan Jongin dengan kemarahannya.
Nafas Jongin memburu, dia tidak berlari atau berjalan cepat. Hanya mengingat kecilnya kemungkinan perasaannya akan diterima Kyungsoo, nafasnya sudah terasa sesak lebih dulu.
Jongin menghabiskan beberapa jam di kamarnya, mengurung diri di kamar mandi, dan betah membenamkan dirinya di bathtub. Namja tan itu lalu duduk lama di tempat tidurnya, mencoba mengingat beberapa hal manis selama liburan kali ini.
Dia masih ingat bagaimana lucunya Kyungsoo saat pertama kali berkenalan, mengingat semua ejekannya ketika bertengkar, dan mengingat kepanikannya saat melihat Kyungsoo di bawa pergi oleh Myungsoo di pesta. Dan mengingat ciuman malam itu …
Jongin menunduk lemas, mengacak rambutnya yang basah setelah keramas. Dia tahu benar bahwa dia tidak akan menang melawan Luhan. Jongin tahu Kyungsoo lebih mementingkan persahabatan dibandingkan hubungan mendadak dengannya.
.
.
Kyungsoo dan Kris kembali dari restoran saat hari sudah agak sore. Begitu sampai, Kyungsoo langsung saja mengacuhkan namja bule kelewat tinggi itu dan naik ke kamarnya sendiri. Meski Kris terus – terusan menceritakan lelucon sepanjang makan siang mereka tadi, tapi sulit bagi Kyungsoo memaksakan diri untuk tertawa. Pikirannya hanya terfokus pada Jongin saat ini. Apa dia baik – baik saja ? Apa dia marah ? Apa dia …
"Kyung ! Kyungsoo ! " teriakan Kris mengacaukan lamunannya, membuat dia menoleh kaget. Kris berhenti mendadak didepannnya, nagasnya terengah – engah.
"Kenapa ?" tanya Kyungsoo malas.
Kris menarik nafas. "Kurasa aku kurang olahraga, Kyung … nafasku pend …"
"Maksudku ada apa kau memanggilku, Kris ?"
"Oh, i … ini," Kris membuka secarik kertas di tangannya. "Jongin meninggalkan ini di kamarnya."
Kyungsoo melihat kertas itu. Perlahan dia membaca isinya.
Aku pulang dulu. Jaga yang lain.
Jongin
"Barang – barang dan tasnya sudah tidak ada di kamar," ujar Kris. "Jongin sudah pergi."
.
.
.
Tbc
HAHAHHAHAHAAA *ketawaevil*
Idenya berhenti sampai disitu aja .
Tapi dinikmati ya readers ^^
Dan terima kasih banyak sudah setia ngikutin ff ini *benebenerdeepbow*
Ah, sudah lihat w korea magz ? Aku langsung baper berhari – hari ngelihat kedekatan Kaistal -_-
Kalian ada yang baper juga nggak ? Hah ? Biasa aja ? Ah, oke. Haha berarti aku galau sendirian wkwkw
Emosi jadi turun naik gara2 itu huhuuu tapi yoweslah, mereka kan pake script :p diarahin :p :p
Dan aku juga sempat baca ttg isu Kyung – Tante Sojin ; berdoa ajalah semoga itu nggak benar.
Karena secara pribadi dari lubuk hati yang paling dalam sedalam dalamnya, aku NGGAK merestui Kaistal ataupun Kyung – Sojin . XD
Maaf kalau ada diantara readers yng suka kedua couple itu tersinggung karena ucapanku -,- nggak ada mksud bikin kalian begitu kok, aku cuma ngeluarin uneg2 aja biar nggak jadi penyakit kalo disimpen sendiri *ups* *dilemparinpancisamareaders*
Keep review, fav, dan follow ya ^^
Karena baca review dari kalian bikin nambah semangat buat lanjutin ff ini *kecupjidatatuatu*
See u at next chap *lambailambaialatantesyahrinibarengHunBaek*
