Chapter 2 : Death and Life ( Again ? )

Jack In The Box.

" Can we meet again ? "

Hyuga Hiashi yang sebelumnya merasa lega saat mendengar anak sulungnya akan mencoba masuk sekolah kini mengerutkan kembali dahinya. Kepala dari keluarga bangsawan Hyuga itu kembali kekondisi khawatirnya ketika mendapati Hinata pulang dengan wajah yang kembali mendengar dari salah satu pelayannya ketika Hinata kembali wajahnya lebih suram dari saat ia pergi dan ia langsung mengunci diri dikamarnya. Sebagai seorang ayah, Hiashi merasakan rasa khawatir kepada putrinya namun sebagai kepala keluarga ia harus terlihat dingin.

Sistem keluarga bangsawan Hyuga yang begitu mengekang semua anggota keluarga. Dengan pembagian keluarga bangsawan atas dan bawah, bangsawan Hyuga dapat menjadi salah satu bangsawan besar di itu mereka juga menggunakan perbudakan ilegal untuk memperkaya diri. Hiashi yang sebenarnya tak sukapun terpaksa tetap menjalankan semua apa adanya, karena sesuatu yang telah dibangun sulit untuk dirubah.

Berdiri di depan kamar Hinata, Hiashi hanya diam saja disana. Telinga tua dari kepala keluarga itu juga mendengar isakan tangis dari dalam kamar Hinata. Ingin rasanya ia mengetuk pintu dan masuk kemudian memeluk tubuh kecil dari Hinata namun ia tak tahu anak tertuanya itu menderita semenjak kematian dari mendiang istrinya.

Lama, cukup lama Hiashi berdiri disana entah apa yang sedang ia pikirkan. Tapi yang jelas Hiashi begitu khawatir terhadap pelayan mendekari Hiashi dan mengucapkan beberapa kalimat yang terdengar penting. Hiashi mengikuti pelayan itu pergi meninggalkan kamar Hinata yang tertutup rapat.

Aku tak pernah menginginkan semua ini terjadi. Dipandang sebagai seorang pahlawan, dipandang sebagai seorang penghianat, dipandang sebagai orang mulia, dipandang sebagai seorang yang hina, dipandang sebagai teman, dan dipandang sebagai musuh.

Aku dan aku sama sekali tak menginginkan semua itu. Yang aku inginkan hanyalah dapat tidur di siang hari dengan tanpa di usik orang lain. Tidur ditempat yang damai tanpa harus memikirkan lapar bahkan perang sekalipun. Impian yang aneh, tapi aku benar-benar menginginkan hal tersebut.

Saat ini tubuhku diikat disebuah tiang yang begitu tinggi. Mereka mengikat tangan dan kakiku dengan benda yang belum pernah aku ketahui. Namun aku mendengar bahwa benda ini bernama borgol besi. Tak ada pakaian spesial yang aku gunakan, saat ini hanya kain kusut inilah yang menutupi tubuhku. Warna coklat bercampur darahlah warna dari kain ini.

Rambut pirangku yang tergerai berantakan sedikit menganggu penglihatanku, namun dengan samar dapat aku lihat para penduduk memandang ke arahku. Aku tersenyum lembut menatap pandangan yang mereka tunjukan padaku. Senyum ini adalah satu-satunya senyum tulus yang pernah aku tunjukan. Aku tahu apa arti dari setiap pandangan mereka yang tajam itu.

Seorang prajurit yang membawa sebuah kertas dengan pita merah itu berjalan kesamping tempatku. Ia menggunakan sebuah papan kayu agar dirinya dapat dilihat sampai barisan belakang. Dengan suara lantang yang terdengar tegas dia membuka suaranya.

" Semua yang ada disini, hari ini hari yang kita tunggu telah tiba. Surat resmi yang ada ditanganku ini akan menjadi sebuah bukti nasib kita kedepannya. Pedang yang ada ditangan kananku ini merupakan pedang tertajam di kerajaan ini. Dengan kehendak Kami-sama yang ada dilangit akan aku bacakan surat dari kerajaan ini.

... Tahun xxx Kerajaan xxxxxxxx menjatuhkan hukuman mati untuk xxx xxxxx di depan umum..."

Pendengarkanku mulai mengurang, sudah aku duga bahwa ini akhir bagi diriku. Entah kenapa aku tak ingin mendengar kelanjutan dari surat kerajaan itu. Disinikah aku harus berakhir, di umur inikah aku harus bertemu dengan kedua orangtuaku yang berada dilangit. Tampak samar namun terlihat dengan begitu jelas, para penduduk memegang sebuah busur dan anak panah.

Mereka menarik anak panah dan membidik kearahku. Semua penduduk melakukan hal itu, aku tersenyum paling tidak dapat dibunuh oleh orang-orang yang selama ini mengenalku atau membenciku. Prajurit yang membaca surat tadi mundur dan ikut bergabung dalam kerumunan penduduk.

' Hukuman seribu panah.' Hukuman yang pantas bagi orang sepertiku. Aku memejamkan mata karena ini memang sebuah akhir dari hidupku.

" Tembak !"

Jleb... Jleb... Jleb... Jleb... Jleb... Jleb... Jleb... Jleb... Jleb... Jleb... Jleb... Jleb... Jleb... Jleb... Jleb... Jleb... Jleb... Jleb... Jleb... Jleb... Jleb... Jleb... Jleb... Jleb... Jleb... Jleb... Jleb... Jleb... Jleb... Jleb... Jleb... Jleb... Jleb... Jleb... Jleb... Jleb... Jleb... Jleb... Jleb... Jleb... Jleb... Jleb... Jleb... Jleb... Jleb... Jleb... Jleb... Jleb... Jleb... Jleb... Jleb... Jleb... Jleb... Jleb... Jleb... Jleb... Jleb... Jleb... Jleb... Jleb... Jleb... Jleb... Jleb... Jleb... Jleb... Jleb... Jleb... Jleb... Jleb... Jleb... Jleb... Jleb... Jleb... Jleb... Jleb... Jleb... Jleb... Jleb... Jleb... Jleb...

" NARUTO-KUN !" Teriak Hinata bangun dari tidurnya, entah apa yang baru saja ia saksikan dalam mimpinya. Ia menutup raut wajahnya, isakan tangis terdengar dari Hinata yang seperti baru saja mengalami mimpi buruk.

Tok... Tok... Tok... " Hinata-sama... Hinata-sama... anda tak apa-apa?" suara berat dari luar pintu itu terdengar begitu khawatir. Kiba yang mendengar teriakan dari tuannya itu tampak begitu ketakutan apa ada sesuatu hal buruk yang dialami oleh tuannya.

" Hinata-sama tolong jawab saya, biarkan saya masuk." Masih tak ada satupun jawaban dari dalam kamar Hinata. Kiba masih terus mengetuk pintu tuannya tersebut sampai pintu itu terbuka dan menampakkan Hinata dengan pandangan mata yang begitu kusam.

" Anda tak apa Hinata-sama?"

" Aku tak apa." Berjalan meninggalkan Kiba yang kemudian mengikutinya. Menuruni tangga karena kamar Hinata terletak dilantai dua. Hinata berjalan kearah perpustakaan, disaat ia dalam keadaan tak baik seperti ini hanya kamarnya dan perpustakaanlah yang menjadi tempatnya berdiam diri.

Tak heran kenapa ada sebuah perpustakaan di dalam rumah keluarga bangsawan. Hal itu sudah menjadi hal umum dikalangan para bangsawan. Mereka menggunakan perpustakaan sebagai tempat mengenal sejarah keluarga dan apa saja yang harus mereka lakukan.

Tangan kecil Hinata menyentuh gagang pintu perpustakaan yang terasa begitu dingin. Mendorongnya pelan, Hinata berjalan masuk sedangkan Kiba berdiri diluar. Sudah menjadi kebiasaan bagi Kiba untuk menunggu tuannya di luar perpustakaan. Perpustakaan milik keluarga Hyuga hanya boleh dimasuki oleh anggota Hyuga dan bagi orang lain tak boleh memasukinya.

Rak-rak buku yang menjulang kelangit dengan berbagai macam buku dilwati oleh Hinata. Tangannya ia gunakan untuk menutup mulutnya supaya isakan tangisnya tak terdengar. Berjalan dalam keadaan sedih dan air mata yang menetes tanpa harus tahu kapan berhenti. Perpustakaan ini memang luas namun Hinata tak mau ada orang atau anggota keluarganya yang mungkin ada disini mendengar tangisannya.

" Hime, kau kenapa?" Hinata menatap kearah atas ia mendapati seorang yang sangat-sangat ia kenal sejak ia kecil. Seseorang yang telah ia anggap sebagai kakak kandungnya. Pemuda yang berada ditangga yang ia gunakan untuk mengambil buku itu menuruni tangga.

Wajahnya terlihat khawatir mendapati air mata yang mengalir dimata Hinata. Dengan ibu jari tangan kanannya ia mencoba menghapus air mata dari wajah cantik gadis yang ia anggap sebagai adik kandungnya. " Tenanglah, kenapa kau menangis?" Greb... Hinata memeluk pemuda didepannya dengan cepat.

Ia membenamkan kepalanya di dada bidang pemuda yang ia anggap kakak kandungnya itu. Pemuda yang memiliki rambut yang sama panjang dengan Hinata itu mengulas pelan ujung kepala Hinata. Isakan tangis dan rasa basah di bajunya tentu saja ia sadari. Ia tahu Hinata selama 1 bulan ini tampak sedih.

Namun apa yang membuatnya begitu hanya sang kepala keluarga yang mengetahuinya. " Neji-niisan." Pelan tapi pemuda itu dapat mendengar perkataan Hinata. Hyuga Neji anak dari Hyuga Hizashi yang merupakan adik dari Hyuga Hiashi, dan dapat dikatakan Neji merupakan sepupu Hinata. Isakan tangis yang terdengar telah mereda Neji dengan pelan melepas pelukan Hinata.

Dengan tangan kanannya ia memegang pipi milik Hinata. Kedua iris Indigo itu saling memandang, dari pandangan itu Neji dapat tahu bahwa Hinata saat ini tengah merasakan sebuah rasa yaitu rasa kehilangan. ' Hinata, tak kusangka kau bisa sesedih ini.' Neji tersenyum manis kepada Hinata kemudian membuka suaranya.

" Tersenyumlah Hinata, aku memang tak tahu apa yang membuatmu sedih tetapi jika kau terus bersedih kau tak akan mampu dan bisa untuk menjalani kehidupan ini dengan bahagia." Ucapan dari Neji sama sekali tak merubah raut wajah Hinata yang saat ini terlihat bagaikan orang yang sudah mati.

Neji terkejut mendapati jawaban yang diucapkan Hinata, " Aku tak ingin hidup Neji-niisan.", " Apa yang kau maksud Hinata?" Benih-benih air mata kembali menetes dari kedua mata Hinata. Ia kembali teringat dan tentu saja ia tak bisa melupakan pemuda itu, pemuda yang telah mencuri hatinya. Apalagi kemarin dia berjumpa dengan orang yang sama persis dengannya.

Hati Hinata yang semula terasa terobati kembali pecah dengan sebuah senyuman. Dan juga mimpi-mimpi yang begitu menyiksanya selama 1 bulan terakhir. Mimpi yang begitu menyedihkan untuk ia ceritakan, sekedar mengingatpun ia ikut merasakan rasa sakitnya. Bukan mimpi tentang diri sendiri melainkan mimpi tentang 'Dia'.

" Hinata jika kau terus bersedih kau hanya akan membuatnya menangis disana." Sepertinya Neji tanpa sengaja mengetahui apa yang membuat Hinata bersedih. Hinata terlihat kebingungan dalam tangisannya, hanya ayahnya yang tahu kenapa ia bersedih tapi kenapa pemuda yang ia anggap sebagai kakak kandungnya bisa berkata demikian.

" Kau tahu apa Neji-niisan hiks... hiks... kau tahu APA !" Menjatuhkan buku yang dipegang oleh tangan kirinya, Neji memegang pundak Hinata dengan kedua tangannya. Ia menatap dalam kearah mata Hinata. " Aku tak tahu apa yang membuatmu bersedih, namun kau tampak terlihat seperti orang yang ditinggal mati oleh seseorang."

Menjeda ucapannya Neji memantapkan diri untuk menghibur Hinata. Ia tahu dan yakin bahwa sosok yang telah meninggalkan Hinata dari dunia ini pasti tak mau Hinata terus berlarut-larut dalam kesedihannya. Jika orang itu adalah Neji pasti dirinya tak mau Hinata begini.

" Jika kau mencintainya, jika kau menyayanginya, kau tak seharusnya bersedih seperti ini Hinata. Apa kau pikir dia akan tenang di alam sana, tidak Hinata justru dia akan sedih jika kau seperti ini. Begitupun dengan ibumu."

Air mata Hinata berhenti mengalir, Hinata baru tersadar apa yang telah ia lakukan selama sebulan terakhir merupakan hal yang salah. Tak seharusnya ia bersedih seperti ini namun luka dihati yang tahu bahwa kenapa ia bisa meninggalkan dunia inilah yang membuatnya sedih. " Terimakasih Neji-niisan." Hinata tersenyum manis dengan matanya yang memerah akibat tangisannya.

Rona merah menghinggapi wajah putih Neji, ia senang Hinata telah sedikit melepaskan beban atas kehilangannya. " Ini baru Hime yang aku kenal." Neji mencubit pipi Hinata kemudian mengambil buku yang ia jatuhkan tadi. Hinata hanya menggerutu saat mendapati perilaku Neji yang tak pernah berubah.

" Apa kau kesini untuk membaca ?" Neji membuka buku yang ia ambil tadi. Ia memandang ke arah buku dan terkesan seperti menghiraukan keberadaan Hinata. " Tadinya sih tidak, tapi berhubung disini mungkin aku akan membaca beberapa buku untuk mengusir rasa sedihku." Neji tersenyum dibalik buku yang sedang ia baca.

Neji menutup buku tadi dan berbalik lalu berjalan, " Ayo Hime kita cari buku yang cocok untukmu." Hinata mengikuti jalan Neji dari belakang, ia merasa ucapan dari pemuda yang berjalan di depannya itu memanglah beanr. Ibunya dan juga Naruto yang sudah tak di dunia ini pasti akan bersedih saat Hinata menjalani hidup ini dengan kesedihan.