BI sequel
Ch. 2
Jungkook
Jimin
Suga
And other
===BI===
===BI===
===BI===
suga tak bisa memejamkan matanya sama sekali, yang ia lakukan sejak tadi hanya bergerak tak beraturan ditempat tidurnya, padahal seharusnya ia beristirahat, tubuhnya lelah tapi bayangan tentang jimin terus menerus berkeliaran di pikirannya, ia sudah mencoba segala cara untuk bisa tidur, kecuali minum obat tidur, jimin melarangnya.
Ia menyerah, ia tau matanya tak akan mengalah, ia duduk dan menyandarkan punggungnya pada headbed, jam di nakasnya sudah menunjukan angka 11 malam, sudah cukup larut dan suga rasa ia akan terjaga semalaman ini.
Ia menyingkirkan selimutnya dan berdiri, beranjak keluar dari kamarnya menuju dapur untuk membuat susu, dulu jimin selalu bilang kalau ia selalu membuat susu saat susah tidur, suga tidak tau apakah hal itu berlaku juga untuknya atau tidak, setelahnya ia beranjak kearah kamar jungkook untuk melihatnya sebentar, jungkook sudah terlelap, mungkin karena efek obatnya.
Suga masih merasa penasaran mengapa jungkook menangis tadi pagi, ia sama sekali tak mau bercerita dan suga tidak ingin memaksanya, mungkin hal itu berkaitan dengan jimin. Suga tau betapa menyesalnya jungkook pada jimin, tapi suga juga tau bahwa jungkook masih sangat mencintainya hingga ia meninggalkan semuanya hanya untuk kembali ke rumah kecil ini yang bahkan tak ada setengahnya dari rumah keluarga jungkook, ia menolak kembali dan melepas statusnya sebagai anak bungsu keluarga yang terhormat, jungkook bilang sendiri padanya.
"aku tidak menginginkan apapun selain jimin hyung…sekalipun aku tak lagi menjadi bagian dari keluargaku, walaupun aku diabaikan oleh mereka, aku hanya ingin menebus kesalahanku dengan berada disini, menjaga rumah kami "
Dan suga paham maksud jungkook berkata seperti itu, rumah yang mereka tinggali saat ini adalah rumah keluarga jimin yang hampir menjadi milik orang lain karena hutang keluarga, jungkook menebusnya dengan uang tabungannya sendiri, sejak saat itu jungkook dan jimin tinggal bersama dirumah ini, dan bagi jungkook rumah kecil ini adalah segalanya, karena jimin menghabiskan sebagian hidupnya di sini, dan menghabiskan waktunya untuk bersama jungkook.
Ada banyak hal yang berubah dari rumah ini sejak jimin tak ada, ada begitu banyak foto – foto jimin yang terpajang ataupun hanya diletakkan dan disandarkan karena kurangnya tempat, jungkook melukis di teras belakang, melukis sosok yang sama, rumah kecil itupun juga tak sehangat dulu lagi, suga merasakan kekosongan saat ia sendiri seperti ini.
Jungkook tak masuk sekolah lagi, ia jarang keluar dari rumah ini dan hanya berkutat dengan lukisannya atau menonton video-video mereka yang bahkan suga sudah hafal isinya, suga sempat khawatir akan masa depan jungkook, Ia mungkin tak selamanya bisa menjaga jungkook seperti ini, apalagi dengan statusnya sebagai public figure yang cukup dikenal membuatnya hanya memiliki waktu yang sedikit untuk bersama jungkook.
Jungkook hanya akan keluar saat ia ingin menjenguk jimin, atau saat hujan turun, hidupnya seperti zombie, ia seakan menjalani hidupnya tanpa gairah, tubuh jungkook mengurus karena ia jarang makan, suga tidak tau harus bagaimana membuat jungkook kembali seperti dulu, jungkook masih sangat muda dan suga tau pikian-pikiran apa yang ada di otaknya saat merasa benar-benar frustasi.
Suga menyesap susunya, dan meringis karena rasanya terlalu manis, kalau jimin yang membuatnya enak, suga jarang membuat makanan atau minuman sendiri, ia lebih sering dimasakkan oleh jimin dan ia juga tak terlalu suka minuman berasa selain coffe.
"kau bahkan terus membayang jimin, bagaimana kami bisa melupakanmu?"
Lirihnya, ia menatap cangkir susunya sendiri dan melingkari permukaan gelasnya dengan telunjuknya.
Suga tiba-tiba terdiam, ia tiba-tiba mengingat si rambut merah yang ada dikonsernya kemarin, jimin juga memiliki warna rambut merah, dan jimin juga selalu datang ke konsernya untuk mendukungnya, tapi jimin tak pernah membawa banner namanya.
"ah, aku benar-benar bisa gila"
===BI===
Jungkook sedikit terkejut saat ia membuka pintunya ada suga yang membawa nampan berisi makanan, suga pun begitu. Ia memperhatikan jungkook dari ujung kepala hingga kaki, jungkook terlihat rapi.
"kau mengagetkanku, kau mau kemana?"
Tanya suga, ia masuk untuk meletakkan nampannya sedangkan jungkook masih dipintu
"aku ingin menjenguknya…" jawabnya
"kau sudah baikan?"
Jungkook mengangguk ragu, ia memang belum benar-benar sehat tapi cukup mampu untuk berjalan, lagipula ia merindukan jimin.
"makanlah dulu, aku akan mandi"
Ujar suga tiba-tiba
"aku mengantarmu, aku juga ingin menjenguknya"
Imbuhnya saat jungkook menatapnya penuh tanya, sudah agak lama suga tak ke makam jimin, jadwal konser dan juga penggarapan album barunya membuat ia kesulitan menemukan waktu yang tepat, suga bahkan baru bisa beristirahat setelah subuh, suga ingin bercerita juga pada jimin, kemarin dia hanya melihatnya sebentar sebelum membawa jungkook pulang karena tak sadarkan diri, ia belum sempat bercerita.
===BI===
Jungkook tak berkomentar apa-apa saat mereka sampai di dekat pemakaman dan suga mengeluarkan gitar dari bagasi, ia hanya melihatnya sebentar sebelum akhirnya suga dulu yang mengatakan alasannya.
"orang-orang mungkin akan menganggapku kurang normal, tapi aku hanya ingin jimin mendengar lagu baruku"
Meskipun suga tau alasannya ini konyol, ia tak peduli, suga tau kalau yang ada hanyalah tanah berisi jasad dan tak mungkin mendengar apa yang ia nyanyikan, tapi sejak suga debut hingga sekarang, jiminlah orang pertama yang akan mendengar lagunya. Jungkook tak menjawabnya, ia memegang bunganya dengan hati-hati.
Saat mereka sampai dimakan jimin, jungkook dan suga melihat ada bunga krisan layu diatas pusara jimin, dan sebuah surat didalam plastic yang terikat di tangkai bunga, jungkook bergerak mengambil surat itu dan membukanya, suga yang juga ingin tau pun mendekat dan membaca sebaris kalimat pendek disana.
' apa kabar… jimin ah'
Suga tak mengerti, jungkook pun begitu, tak ada tanda siapa yang menulisnya, setaunya pun jimin tak memiliki teman dekat selain dirinya, jimin hanya dekat dengan keluarganya, dirinya dan jungkook, jimin anak tunggal, suga juga tau mana mungkin salah satu teman sekolahnya jimin, mereka bahkan sepertinya tak peduli jimin sudah meninggal.
Suga meletakkan gitarnya dan menyuruh jungkook menunggunya sebentar sementara ia beranjak mencari seseorang, penjaga makam yang mungkin saja tau siapa yang sudah datang ke makam jimin, ia berlari menghampiri seorang pria setengah baya yang tengah menata bunga tak jauh dari makam jimin.
"permisi, ahjussi"
Tegurnya, pria itu menoleh dan menatapnya dengan tanya
"kemarin, atau kapanpun itu…disana"
Suga menunjuk kearah jungkook, lebih tepatnya makam jimin
"apakah ada seseorang yang datang kesana ?"
Lanjutnya, pria paruh baya itu terdiam beberapa saat, mengingat kembali siapa yang datang kemarin, kemudian ia mengangguk setelah berhasil menemukan ingatannya itu.
"ya..ya.. ada, anak muda dengan rambut merah dan dia membawa bunga krisan "
Rambut merah…
Suga terpatung sesaat, ia kembali lagi mengingat sosok pemuda berambut merah yang Ia kira hanya khayalannya saja, ia mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan foto jimin.
"apakah…orang ini?"
Tanya suga ragu, tidak tau mengapa, padahal jimin sudah meninggal, tak mungkin orang meninggal bisa hidup, ia bahkan melihat sendiri saat peti mati jimin memasuki tanah, ia sendiri yang memberikan setangkai red tulip dan menggenggamkannya di tangan dingin jimin.
"aku tidak terlalu mengingatnya… tapi mereka terlihat mirip"
Entah mengapa, suga merasa tulang kakinya melemah, hingga ia hampir roboh jika saja jungkook tak datang dan menahan tubuh limbungnya.
"kau kenapa hyung?"
Suga menelan ludahnya, ia menatap jungkook lama, ia berharap anggapannya ini salah, jimin sudah mati, dan hanya kebetulan saja seseorang mewarnai rambutnya merah seperti jimin, suga tak percaya hingga ia melihatnya sendiri.
===BI===
Sosok berambut merah itu bergelung di atas kasurnya, matanya tak lepas menatap foto yang ia pandangi sejak beberapa waktu lalu, matanya sudah basah dan memerah, tapi dadanya masih merasa sesak jika mengingat apa yang ia dengar dari taehyung, seakan – akan ada yang ingin ia keluarkan dari rongga dadanya, ia merasa marah namun tak tau harus melampiaskannya kepada siapa.
Tangannya menggenggam erat sprei kasur hingga tak berbentuk lagi dan mengerang tertahan, mengapa hal yang tak adil itu harus terjadi hingga menghancukan hidupnya? Kenapa semua orang diam saja saat sosok yang ia rindukan ini disakiti?.
Andai saja ia lebih dulu mengetahuinya, ia tak akan membiarkan satupun orang menyentuhnya sedikitpun bahkan hanya sehelai rambutnya saja.
Pintu kamarnya terbuka, dan seorang laki-laki dengan rambut cokelatnya masuk, menghampirinya dan memegang pundaknya.
" kau harus keluar, jimin ah"
===BI===
Suga menutup mulutnya rapat-rapat, bahkan saat jungkook menanyainya dan terlihat khawatir padanya, ia tak bicara apapun sejak dimakam, ia tak sempat melaksanakan niatnya bernyanyi di makam jimin. Pikirannya berputar-putar pada apa yang ia dengar dari penjaga makam, suga sulit mempercayainya, jimin telah meninggal, suga tak bisa menganggap bahwa ini hanya kebetulan.
Selama ini ia hanya tau bahwa jimin adalah anak tunggal, jimin tak pernah mengungkit bahwa ia memiliki saudara kembar atau tidak, suga juga tak pernah bertanya pada orang tua jimin.
Suga membaringkan tubuhnya yang terasa lelah, tidak hanya tubuhnya saja bahkan pikirannya pun juga, suga pikir sebaiknya ia tunda dulu album barunya.
Jungkook tak bertanya apa-apa tentang keberadaan bunga dan surat yang ada dimakam jimin, ia dengan tenang mengatakan bahwa siapapun yang datang ia berterima kasih karena telah peduli dan menuliskan kalimat pendek itu, jungkook sudah tau bagaimana kehidupan jimin di sekolah, disapa oleh seseorang adalah hal yang sangat jarang bagi jimin.
Ketika ponselnya berdering dan layar ponselnya menampakkan nomor si hwan, ia sebenarnya malas mengangkatnya, si hwan adalah salah satu director yang bertanggung jawab pada lagu – lagunya dan juga teman dekatnya, suga benar-benar tidak ingin berurusan dengan pekerjaan saat ini, tapi setelah beberapa kali mengabaikannya dan si hwan terus menerus menelfonya ia jengah juga, dan akhirnya menjawabnya dengan ketus.
"kumohon jangan menggangguku dulu, aku sedang tidak ingin-"
"ya! Dengarkan dulu aku sebelum kau menutupnya"
Potong si hwan, ia terdengar serius sekarang ini
"kau mungkin sulit mempercayai ini, tapi aku menyaksikannya dengan mata kepalaku sendiri… jimin… temanmu park jimin… "
Dan kata selanjutnya membuat suga tak bergerak selama beberapa detik, hingga ia mengakhiri telefonnya secara sepihak dan mengambil coatnya di kursi kemudian bergegas keluar.
===BI===
Si hwan tak mengedipkan matanya sama sekali dari layar datar di depannya, menonton video yang bahkan sudah ia lihat beberapa kali, kukunya ia gigiti karena hal tak masuk akal ini, ia yakin setelah suga tau hal ini suga pasti langsung datang.
Dan sesuai dugaannya, suga datang, membuka pintu ruangannya dengan keras menimbulkan kekagetannya, nafasnya terengah-engah, suga berlari secepat mungkin, dan ia bergegas menghampiri si hwan.
tanpa perlu mengatakan apa-apa, si hwan memindahkan laptopnya mengarah kepada suga dan memutar kembali video yang sejak tadi ia tonton.
"aku sedang melihat video-video dari peserta audisi untuk menjadi trainee, direktur memberikannya pagi ini, dia… bukankah dia jimin temanmu yang sudah meninggal?"
Suga tak bisa menjawab, kali ini ia benar-benar merasa tak percaya, orang yang di video ini memiliki suara, rambut dan wajah yang sama, bahkan nama dan marganya benar-benar sama hingga suga tak yakin apakah ini nyata atau tidak.
"apa kau memiliki data-data pesertanya juga?" tanyanya
Meskipun ia bimbang, setidaknya ia harus mencari tau, apakah orang ini adalah jiminnya atau bukan.
===BI===
saat jungkook keluar dari kamarnya, ia menemukan suga yang tengah duduk termenung di ruang tengah, meskipun layar televisi menyala tapi ia tak menontonnya,ia hanya terpaku pada selembar kertas yang ia letakkan dimeja, ia bahkan tak tau kalau jungkook menghampirinya dan baru tersadar saat jungkook duduk disampingnya.
Suga segera melipat kertas itu dan tersenyum pada jungkook, sejak tadi ia tak berhenti memikirkan bagaimana kalau orang ini benar-benar jiminnya atau bagaiman ia harus bereaksi jika ternyata orang ini adalah saudara kembarnya jimin, tapi sebelum ia memastikannya sendiri, jungkook tak boleh tau apapun mengenai hal ini.
"kau belum tidur?" tanyanya
"aku sulit untuk tidur"
"kau mau susu?"
Biasanya jimin menawarinya seperti itu saat ia tak bisa tidur, mendengarnya dari orang lain terasa berbeda.
"tidak, kau payah membuatnya"
Suga mencebik, tapi kemudian ia tiba-tiba terdiam menyadari sesuatu, ia menoleh dan menatap jungkook, jungkook tak pernah lagi mengatakan hal-hal seperti itu sejak jimin meninggal, jungkook jarang bicara dan tak pernah menolak atau menerima apa yang suga tawarkan.
"hyung, ku pikir, sebaiknya aku sekolah lagi"
Ucap jungkook tiba-tiba, ia tau suga melihatnya dengan terkejut sekarang, tapi seharian ini ia sudah memikirkannya.
"jimin hyung pasti tidak suka kalau aku putus sekolah… aku tidak ingin dia marah"
Lanjutnya, ia menunduk, memainkan jari-jarinya.
"kau tidak keberatan kan… kalau aku… hhh…aku ingin jimin hyung bangga melihatku"
Ujung matanya mulai basah dan matanya juga sudah memerah, ia menggigit bibirnya sendiri, jika dulu ia melakukan kesalahan yang menyakiti jimin dan tak bisa ia tebus lagi dengan apapun kini, setidaknya ia ingin membuat jimin bangga padanya, dengan hal kecil seperti ini.
"baiklah…kau teruskan lagi sekolahmu"
Jungkook merasa berterima kasih karena suga masih mau tersenyum padanya sepeti saat ini dan mengerti keadaannya, suga yang selalu berada disisinya dan menjaganya meskipun suga taka da hubungan darah dengannya, jimin beruntung memiliki sahabat sebaik suga.
===BI===
TBC
Aah, gue seneng kalian suka ma sequelnya
Sebenernya juga gue agak bingung mau lanjut apa enggak, tapi setelah liat review kalian itu jadi penyemangat buat gue.
Yah.. gue rasa kalian udah nebak lah siapa sih si rambut merah ini
Iya kaann?
Atau masih ada yang bingung?
Kayanya banyak amat yang suka si kookie menderita kek gitu ya…
Tunggu aja update annya ya
Thanks untuk kalian yang udah review dan nge fav ff ini
Big hug buat kalian semua _
#BOW
