"Kau bisa membaca pikiran ya?" tanya Sasuke tiba-tiba. Pemuda berambut raven itu seperti sedang siaga dengan tidak memikirkan hal aneh yang dapat dibaca Ketua Kepolisian Kyoto itu.
"Wajahmu terlalu mudah untuk ditebak, polisi baru.." Sasuke benar-benar jengkel. Akhirnya ia hanya diam dan membiarkan Naruto diam sendiri.
"Baiklah, kembali ke pembicaraan utama. Aku ingin meminta keterangan darimu tentang peristiwa tewasnya polisi Uchiha." Nada suara yang digunakan Naruto sudah berbeda jika dibandingkan beberapa menit yang lalu. Mungkin, pria itu masih dalam mode seriusnya. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh pemuda berambut raven itu.
"Kau mau memulainya darimana?" tanya Sasuke, berusaha mengatur suaranya.
"Dari awal. Ceritakan semua padaku." Kata Naruto, tegas sekaligus yakin.
"Sebelumnya, untuk apa kau menanyakan hal ini kepadaku? Apa kau mau-" perkataan Sasuke dipotong oleh atasannya.
"Ya, aku ingin mengungkap kasus itu. Toh, Kepolisian Osaka dan Yokohama sudah setuju dengan usulku. Jadi, kasus ini resmi kubuka dan kuselidiki." Jelas Naruto. Pria tan itu mendudukkan dirinya di bangku kebesarannya. "Jadi, bisa mulai cerita?"
.
The Most Diferrent
Cast : Sasuke Uchiha & Naruto Uzumaki
Rated : T
Genre : Romance/Drama
Naruto ©Masashi Kishimoto
The Different World ©Almiterlyone
.
Matahari mulai mengintip dari celah-celah korden jendela ruangan Sang Kepala Kepolisian Kyoto itu. si pemilik ruangan masih berkutat dengan laptop dan sebuah buku yang cukup tebal. Pria itu terlihat sangat sibuk hingga sepersekian detik kemudian beranjak dari kursinya.
Naruto mendekati Sasuke yang tertidur dengan nyaman di sofa. Pemuda itu terlihat sangat damai dengan selimut oranye miliknya membungkus tubuh polisi baru itu. Ia tersenyum sendu ketika melihat raut wajah itu terlihat gelisah. Dengan perlahan, Naruto menyingkirkan poni yang menutupi mata dan kening Sasuke, mengusap pipi kiri pemuda itu dengan pelan dan hati-hati.
"Selamat tidur, Sasuke." Naruto merapikan selimut pemuda yang berstatus pegawainya dan berjongkok di tepat di depan wajah pemuda Uchiha itu. Menikmati wajah damai dan polos milik pegawainya. Sangat berbeda ketika ia tengah sadar. Terlihat judes dan tidak bersahabat. Akhirnya, pria itu membiarkan Sasuke untuk tidur. Pria itu bangkit dan berjalan menuju kamar mandi, bersiap membersihkan diri.
Dan lagi-lagi Naruto meninggalkan momen yang manis, ketika wajah pemuda Uchiha itu kembali memerah.
...
Naruto dalam perjalanan menuju Yokohama. Ia berangkat cukup pagi setelah memastikan keadaan Sasuke. Ia mengemudikan mobil pribadinya dengan kecepatan diatas normal. Jarak antara Kyoto dan Yokohama cukup jauh jika ditempuh dengan perjalanan tanpa kereta.
Piiip!
"Naruto, kau mendengarku?"
"Ya, katakan saja Polisi Hatake." Jawab Naruto.
"Menma terlibat dengan perkumpulan yang kau selidiki." Ucapan polisi sekaligus pamannya membuat Naruto merasa dunianya runtuh begitu saja. Kakak yang sangat ia hormati terlibat dalam perkumpulan yang bahkan kasusnya belum bisa diselesaikan oleh ketua sebelum dirinya.
"Darimana kau dapat info itu?" tanya pria tan yang tengah mencengkeram kemudi mobil penuh emosi.
"Shikamaru."mendengar nama sahabatnya, Naruto langsung menepikan mobilnya. Bagaimana bisa sahabatnya seolah tidak membiarkan ia ikut andil dalam masalah ini? Seharusnya pria nanas itu membicarakannya terlebih dahulu. Ia berani bertaruh kalau Sai juga tidak mengetahuinya, jika melihat dari sikap posesif pria Nara kepada pacarnya.
"Naruto, tentang kasus Uchiha.."
DEG!
Jantung Naruto terasa berdebar sangat kencang. Ia terbayang ketika Sasuke menceritakan semuanya kepada dirinya malam itu.
"Pihak pusat meminta kau menghentikannya."
"Jangan memerintahku, polisi Hatake." Desis Naruto berbahaya. "Aku tahu kalau kau juga terlibat dalam penyelidikan ini." Pria tan itu mematikan ponselnya dan kembali tancap gas. Perjalanan Kyoto-Yokohama, kali ini akan menjadi perjalanan paling mendebarkan yang pernah pria Namikaze muda ini rasakan.
"Namikaze Menma. Kalau Otousan mengetahuinya, habislah kau.." geram Naruto.
Ia tidak mungkin memimpin perusahaan yang sayapnya sudah lebih lebar dari burung elang itu. Meskipun, ia memutuskan untuk menjadi polisi, ia tetap mengikuti ekonomi pasar dan pemikiran kreatif Namikaze Corp yang dipimpin kakak bengalnya. Walau Menma itu lebih bengal dari Naruto, pria pirang itu harus mengakui kalau kakak kembarnya itu lebih kreatif sekaligus mengerikan jika sudah memiliki sebuah ide.
"Kau benar-benar ingin dihajar, saudara kembarku." Dan mobil yang ditumpangi Naruto melesat cepat.
...
Naruto membuka pintu ruangan makan restoran Jepang itu, dimana para jenderal dan petinggi dari Kementrian Pertahanan sedang duduk dengan keangkuhan masing-masing. Ia sedikit mebungkukkan tubuhnya, memberi hormat dan dibalas dengan tatapan dingin oleh para jenderal dan petinggi. Walaupun tidak semuanya seperti itu, masih ada beberapa yang mau tersenyum dengannya. Salah satunya Menteri Pertahanan itu sendiri, Hiruzen Sarutobi-pria yang pernah menjadi pengawasnya ketika ia masih di akademi.
Naruto memilih duduk di ujung meja makan. Setidaknya ada satu tempat kosong yang disediakan untuknya. Tidak berapa lama setelah ia duduk, Menteri Pertahanan yang sengaja membuat rapat ini pun langsung melirik kearahnya. Pria itu tahu kalau ada yang tidak beres. Kenapa seorang kepala kepolisian sepertinya harus ikut jamuan makan siang seluruh anggota Kementrian Pertahanan? Dan lagi, hal ini membuatnya harus menunda acaranya menghajar Menma.
Polisi Hatake yang saat itu tengah berada di kediamannya memberitahu kalau ia mendapat telepon dari Kementrian Pertahanan di Tokyo. dan sebagai bawahan yang baik, ia menyanggupi undangan itu, dan berangkat menuju Tokyo. dan berakhir seperti ini. Terjebak di antara pertemuan-yang sejujurnya membosankan. Naruto tersenyum seadanya ketika Hiruzen memandang ke arahnya. Tentu saja ia tidak bisa menolak ajakan mantan guru akademinya.
"Selamat datang, Kepala Kepolisian Namikaze." Ujarnya ramah. Hiruzen tersenyum dan menunduk sopan. Masih berjaga-jaga dengan serangan mendadak yang mungkin saja dilancarkan oleh para petinggi yang mungkin tidak suka dengannya.
...
Aku terlihat seperti orang bodoh yang tinggal menunggu waktu sampai para petinggi yang tidak menyukaiku menyudutkanku habis-habisan hari ini. sial! Aku memang bukan orang yang suka kabur dari masalah, tapi kalau seperti ini, aku lebih baik kabur saja.
"Aku senang kau memenuhi undanganku, Naruto." Pak Hiruzen memanggilku dengan namaku. Ia masih tidak bisa melupakan kenakalanku ketika masih di akademi rupanya.
"Kau terlalu basa-basi, Hiruzen." Salah seorang wakilnya menyela pembicaraan kami. Aku menoleh ke arah pria yang di usia paruh bayanya masih terlihat tegas. Shimura Danzo-Wakil Menteri Pertahanan.
"Biarkan aku mengungkapkan rasa rinduku pada muridku yang paling nakal di akademi dulu." Aku tertegun. Pak Hiruzen ini tidak mempermalukanku dengan menyinggung-nyinggung pangkat atau sejenisnya, tapi mengambil masalah ketika aku masih menjadi muridnya. Aku hanya memberikan senyum tipis.
"Hiruzen.." desis pria paruh baya itu. aku hanya menatapnya. Sedikit memberi kode kepada Pak Hiruzen untuk langsung ke pokok masalah.
"Baiklah, Danzo. Kau memaksaku." Menteri Pertahanan itu mengangguk singkat. Ia membuka sebuah dokumen yang berada di dekat piring nasinya.
"Ada sebuah organisasi bernama Akatsuki." Pak Hiruzen mulai bercerita. Ia melirikku sekilas.
"Diduga, organisasi ini terlibat dalam sabotase Uchiha Itachi dan Uchiha Fugaku."
...
"Diduga, organisasi ini terlibat dalam sabotase Uchiha Itachi dan Uchiha Fugaku." Naruto hanya diam mendengarkan ketika Menteri Pertahanan itu selesai dengan kalimatnya. Pria Namikaze itu langsung teringat dengan wajah Itachi-mantan kakak kelasnya, dan Uchiha Fugaku- Jenderal Besar Kepolisian, sekaligus Pemimpin Umum MaBes Kepolisian Jepang di Tokyo.
"Organisasi ini sudah ada ketika aku masih muda. Tapi, baru sekarang ini mereka melancarkan aksinya. Saat itu, kami tidak menyangka kalau Akatsuki akan menjadi bahaya laten bagi negara ini. Dan yang ku khawatirkan adalah kau." Kata Menteri Pertahanan itu. Naruto mengernyit. Seolah meminta untuk dijelaskan.
"Organisasi ini mempunyai markas di sekitar Kyoto. Dan lagi, mereka sudah mulai menyusupkan mata-mata di sekitar daerah Kobe, Osaka, dan Wakayama." Kata Hiruzen. Ia menutup dokumen itu, dan menatap Naruto yang tengah sibuk dengan pikirannya.
"Baik. Saya akan hati-hati. Terima kasih atas saran dari anda." Naruto menganggukkan kepala, sebagai tanda hormat kepada Menteri Pertahanan.
"Oh, ya anak muda." Danzo angkat bicara. Ia menatap Naruto lurus. Hampir saja pemuda itu tidak bisa mengendalikan diri, melihat begitu dingin dan tajamnya mata itu menatapnya. Naruto hanya mengernyit. Menunggu pria paruh baya itu bicara.
"Kau akan menegakkan keadilan, dan menghukum siapapun yang salah, meski itu keluargamu, bukan?" tanya Danzo.
Diam-diam, Naruto mengepalkan tangannya. Ia teringat Menma. Kabar dari Polisi Hatake membuat dirinya tidak bisa konsentrasi dengan baik. Ia hanya diam, berpikir.
"Bagaimana dengan jawabanmu, anak muda?" tanya Danzo. Menuntut Naruto yang tengah berjibaku dengan pikirannya.
"Tentu." Jawabnya, pelan dan tegas.
"Tentu saja saya akan menegakkan keadilan sesuai hukum konstitusi negara ini." kata Naruto. Membalas tatapan dingin Danzo, dengan pandangan tak kalah tajam.
...
Suasana sore di Kantor Kepolisian Kyoto itu terasa lengang. Banyak anggotanya yang tengah pergi penyelidikan ataupun pulang karena shift mereka sudah habis. Ruang kerja yang biasanya ramai itu, terasa sunyi karena hanya Sasuke yang masih duduk di depan komputernya. Seragam kepolisian ia tanggalkan. Sekarang, ia hanya menggunakan celana training selutut dengan kaos biru tua dengan lambang kipas di belakangnya-lambang keluarga Uchiha.
Matanya dengan teliti menelusuri berkas-berkas kepolisian tentang kecelakaan keluarganya. Dokumen yang ternyata tersimpan di setiap komputer itu cukup menguntungkan bagi Sasuke untuk mencari tahu, meskipun tidak selengkap komputer si Ketua.
TING! Pemikiran itu membuatnya memiliki ide yang bagus. Pria raven itu membuka situs kepolisian Tokyo.
"Aku akan mengambilnya." Sasuke mengetikkan beberapa kode biner kepolisian, dan memasukkan password anggota. Setelah identitasnya diketahui, ia menyusup akun Kepala Polisi Tokyo untuk membuka komputer pria pirang itu.
Keringat dingin perlahan membanjiri tubuhnya. Bekerja di suasana sepi ini membuatnya tegang. Ia takut kalau-kalau ada orang yang memergokinya. Sasuke melirik ke arah kamera pengawas. Dimatikan. Oh, syukurlah.
PIP! PIP! Bunyi verifikasi dari komputernya, membuat Sasuke tersenyum tipis. Ia berhasil mengambil dokumen dari komputer atasannya. Sasuke memeriksa berkas-berkas itu. Asli. Dengan segera, ia menyalin beberapa dokumen dengan format pdf, dan keluar dari situs. Ia bisa membacanya nanti. Sekarang, ia harus menyembunyikan file ini terlebih dahulu. Ia tidak mau rekan kerjanya menuduhnya melakukan hal aneh.
Pria raven itu menoleh ke arah jendela. Sebentar lagi, shift kerjanya akan dimulai. Pukul tujuh malam nanti. Ia menghela nafas melihat keadaan langit sore yang menampakkan semburat merah. Sebagian kecil hatinya meraca tercubit dengan pemandangan itu. Biasanya di ketika liburan, ia dan keluarganya bersantai di beranda sembari bercerita. Hal yang tidak mungkin ia lakukan sekarang. Ia berjalan mendekati jendela.
Sasuke menghela nafas berat. Ia menepis pikiran itu jauh-jauh. Air matanya tanpa sengaja luruh begitu saja.
"Kemarin menangis di ruanganku, sekarang menangis sendiri. Dasar cengeng." Suara berat yang-terpaksa-familiar-di-telinganya-Ketua Kepolisian itu membuyarkan lamunannya. Ia sedikit panik ketika Naruto berdiri tepat di dekat komputernya. Tapi, ketika melihat layar monitornya, Sasuke menghela nafas lega.
"Untuk apa kau kemari?" tanya Sasuke. Tidak menatap ke arah Naruto.
"Kau kenapa?" bukannya menjawab, pria Namikaze itu mendekati Sasuke. Ia berdiri di samping sang raven, dan membuat gestur bertanya.
"Setidaknya jawab aku dulu." Kata Sasuke. Matanya menerawang ke arah pemandangan kota Kyoto di sore hari. Naruto terkekeh. Tapi, sejenak kemudian ia merengut. Ia menarik lengan Sasuke.
"Apa yang kau lakukan?!" Sasuke menatap tidak suka ke arah Naruto. Pria Namikaze itu menyorotnya sendu.
Hal yang berikutnya terjadi, mampu membuat Sasuke membelalak tidak percaya. Naruto memeluknya dengan erat. Tubuh yang beberapa senti lebih tinggi darinya itu mendekapnya dengan erat. Ia bisa merasakan hembusan nafas Naruto di bahunya. Terasa berat dan aneh. Bahkan, ia tidak bisa menggerakkan badannya karena terlalu tegang dengan pelukan tiba-tiba ini!
"Dobe...lepas.." Sasuke menggeliat. Agak risih juga dipeluk-peluk. Apalagi, di ruangan ini hanya mereka berdua. Nanti, kalau ada orang yang melihat, ia tidak tahu harus meletakkan mukanya dimana.
"Biarkan seperti ini sebentar. Aku capek." Keluh Naruto. Ia memeluk pria yang berstatus sebagai bawahannya itu dengan erat. Ia menghiraukan tubuh Sasuke yang terasa tegang di pelukannya. Tapi, ia menghela nafas lega ketika Sasuke mulai rileks. Harum kayu manis dari leher putih bawahannya membuat ia nyaman.
"Sasuke, balas pelukanku. Aku butuh pelukan.." Naruto membisiki telinga Sasuke. Ia menahan tawanya ketika Sasuke dengan kaku membalas pelukannya. Naruto kembali menyamankan posisinya. Menikmati pundak Sasuke yang bau kayu manis. Ah, harumnya..
"Sudah belum? Aku pegal berdiri. Ini sudah satu menit setengah." Sasuke menepuk-nepuk punggung Naruto. Pria ini badannya besar juga. Beda dengan dirinya. Pria itu menggoyangkan badan Naruto. Tapi, pria yang menjadi tersangka pemelukan itu malah semakin mengeratkan pelukannya.
"Dobe, aku pegal." Setelah Sasuke menyelesaikan kalimatnya, ia menginjak kaki kanan Naruto. Membuat pria itu mengaduh kesakitan, "Aduh! Kau ini masih menggunakan sepatu olahraga dan menginjak kakiku yang menggunakan sandal.."
Naruto mengusap-usap kaki kanannya yang memerah. Bawahannya yang satu ini memang tidak ada-manis-manisnya sama sekali. Eh, ada yang manis. Bau tubuhnya.
"Dasar dobe." Sasuke tidak menghitung berapa kali ia mengatakan dobe. Tapi, ia yakin hari ini ia sudah mengucapkan kata itu lebih dari satu.
"Sasuke, kau tahu?" Naruto duduk di kursi Sasuke. Ia mengutak-atik komputer milik polisi baru itu. membuat Sasuke diam-diam gugup karena takut ketahuan meretas komputer pria pirang ini. Lebih baik ia pergi secara perlahan supaya tidak diketahui Naruto.
Tiiiiiit! Sebuah verifikasi muncul di monitor komputer. Naruto yang tengah membacanya, langsung menoleh ke arah Sasuke, "Sas, kau bermain starcraft? Lho? Dia kemana?" dan pria itu hanya mengendikkan bahu dengan tingkah polisi yang baru lulus dari akademi itu. lebih baik ia beristirahat di ruangannya.
...
Sebuah mobil Ferrari merah berhenti di depan Kantor Kepolisian Kyoto malam itu. Dari pintu kemudi, keluar seorang pria dengan wajah duplikat Naruto. Hanya warna rambut yang membedakannya. Pria Namikaze dengan rambut hitam spike itu melepas kacamatanya. Tidak ada yang menyangka kalau ia seorang bos di perusahaan sebesar Namikaze Corp. Menma-kembaran Naruto- berjalan dengan langkah santai menuju lobi kantor polisi.
Celana jeans hitam dan kaos lengan pendek warna putih plus jaket kain biru tua membuat pria itu tampak keren. Beberapa polwan muda langsung memerah ketika melihat pria yang satu ini. Jika para polisi baru bertingkah seperti itu, maka tidak dengan Sai. Pria yang kebetulan berada di lobi itu segera pergi menuju ruangan Naruto.
"Naruto!"
BRAK! Pintu dibuka dengan tidak kalem. Naruto yang tengah bersantai di sofanya hanya menatap malas Sai yang tergopoh-gopoh menemuinya.
"Kau menemukan kasus menarik?" tanya Naruto sangsi. Ia meminum tehnya dengan tenang.
"Lebih dari itu. Namikaze Menma datang kesini." Naruto tidak bisa menyembunyikan ekspresi terkejutnya. Ia langsung bangun dari tempat duduknya, dan memakai seragamnya dengan lengkap. Orang yang tengah ia pikirkan dengan sengaja datang jauh-jauh dari Yokohama ke Kyoto untuk bertemu dengannya, cih! Dia sangsi. Pasti ada yang tidak beres.
Kembali ke Menma. Pria Namikaze itu berjalan di tengah ruangan para polisi baru. Dua puluh orang yang tengah sibuk dengan komputer masing-masing itu langsung menoleh ke arah pria itu. Kecuali dua orang. Sasuke dan Karin-wanita ini hafal dengan kelakuan sepupunya. Ia tengah sibuk mengetik laporan kasus yang baru saja datang pagi ini. Ia diminta Ketua Lee untuk menyerahkan laporannya sebelum Naruto pergi ke Yokohama malam ini. Jadi, ia harus bergegas.
Menma melirik pria raven yang seolah sibuk dengan dunianya sendiri. Ia mendekati Sasuke. Bersandar di sekat yang membatasi daerah teritori setiap polisi.
"Kau sibuk?" tanya Menma. Ia memberikan seringai terbaiknya. Yang membuat dua polwan yang ada di belakang Sasuke tersipu malu. Sasuke? Cuek saja. Laporan dengan deadline terbatas ini lebih penting.
"Aku bertanya padamu, Polisi Uchiha Sasuke." Kata Menma, membaca papan nama di dada kanan Sasuke. Pria raven itu tersenyum ketika laporannya hampir selesai.
"Hei.." Menma mengernyit tidak suka ketika Sasuke mengabaikannya. Pria raven itu mengetik hingga ujung paragraf, dan akhirnya laporannya selesai, "Akhirnya, laporanku selesai. Maaf, anda siapa?"
Sasuke mendongak, dan ia mendapati wajah seorang pria yang sangat mirip dengan Naruto. Hanya rambutnya saja yang berbeda. Karin yang ada di sebelah sekat Sasuke menahan tawa.
"Kau berani sekali mengacuhkanku, dan sekarang kau ingin tahu namaku?" tanya Menma, tidak suka. Sasuke hanya mengendikkan bahu. Ia mengklik tombol print, dan mencetak laporannya.
"Aku tidak ingin tahu namamu. Dari wajahmu sudah kelihatan." Kata Sasuke kalem. Ia mengambil penjepit kertas, dan menjepit laporan itu menjadi satu. Menma mengernyit. Tertarik dengan pria raven di hadapannya.
"Kalau begitu, kau tahu siapa aku, hmm, polisi baru?" tanya Menma tenang. Ia menatap Sasuke yang memasukkan laporan ke dalam sebuah stofmap.
"Tentu. Kau adalah.."
"Menma. Untuk apa kau datang kemari?" suara Naruto menginterupsi pembicaraan Menma dan Sasuke. Pria yang berstatus Kepala Kepolisian Tokyo itu berjalan tenang ke arah saudara kembarnya. Orang-orang yang berada di ruangan itu kagum dengan dua orang yang memiliki wajah serupa tapi tak sama itu. Satu dengan pakaian kasual, satu dengan pakaian seragam.
"Oh, hanya menjenguk adik kurangajarnya. Apa itu salah?" tanya Menma santai. Menghiraukan wajah tidak suka Naruto, dan kepalan tangan sang pirang yang sudah menguat. Ia menatap Sasuke tajam. Hingga membuat yang ditatap salah tingkah.
"Sasuke, aku akan membaca laporanmu nanti." Kata Naruto. Pandangannya mengedar ke semua anggota polisi yang berada di ruangan, ia menatap Sai. Pria itu mengangguk.
"Dan untuk kalian semua, kembali bekerja. Untuk satu jam kedepan, jangan ada yang masuk ke ruanganku. Apapun urusannya. Sai akan mengawasi kalian." Naruto melirik ke arah Menma yang menatap malas para polisi.
"Kau, ikuti aku." Pria tan itu berjalan terlebih dahulu. Sebelum Menma beranjak, ia menyempatkan menoleh ke arah Sasuke. "Sampai bertemu lagi, Sasuke."
...
"Hei, Naruto. Malam ini kau dingin sekali pada kakakmu." Menma duduk di sofa tamu Naruto dengan tenang. Ia melepas jaket birunya. Ia tersenyum ketika matanya menerawang ruangan para polisi baru. Ia tertarik dengan seseorang. Orang yang dengan inosennya mengacuhkannya, dan menanyakan siapa dirinya.
"Naruto, polisi Uchiha benar-benar menarik. Ia seperti buku yang ingin dibuka." Kata Menma. Matanya tidak berpindah dari Sasuke.
Beruntung bagi pemuda Namikaze yang lebih tua ini. Ruang kerja Naruto dindingnya sebuah kaca yang unik. Orang yang berada di dalam ruangan itu bisa melihat keadaan di luar, tapi orang luar tidak bisa melihat apa yang ada di dalam ruangan ini. Adiknya pintar juga.
"Untuk apa kau datang ke mari?" Naruto kembali menanyakan pertanyaan yang sama. Ia menatap lurus ke arah sapphire biru yang serupa dengannya. Menma hanya mendecih. Ia terlihat serius.
"Aku tahu kalau kau tengah menyelidiki sebuah organisasi." Mulai Menma. Pria berambut hitam spike itu menatap lurus ke arah Naruto yang juga menatapnya. Dua saudara kembar itu seolah bertarung lewat tatapan membunuh mereka masing-masing.
"Ya." jawab Naruto singkat.
"Hentikan." Kata Menma. Ia berdiri dari sofa yang ia duduki, dan duduk di kursi tepat di hadapan Naruto.
"Apa maksudmu?" tanya Naruto tidak suka. Ia melihat Menma sibuk dengan ponselnya, seolah mengabaikan pertanyaan Naruto.
"Kau mendengar dari Polisi Hatake kalau aku terlibat, kan?"Menma bertanya dengan nada sing a song. Naruto diam mendengarkan.
"Dia selalu satu langkah darimu. Ia tahu kalau aku terlibat. Jadi, aku memintamu untuk menghentikan penyelidikan terhadap Akatsuki." Kata Menma secara gamblang. Ia tidak mempedulikan Naruto yang menggertakkan giginya. Menma tahu adiknya tengah menahan emosinya. Yah, bermain-main dengan adiknya yang serius ini cukup menyenangkan.
"Oh, ya, tujuanku datang kemari hanya satu." Menma memberi jeda. Ia menyeringai ke arah Naruto. Pria Namikaze itu menarik kerah adiknya hingga jarak wajah mereka berdua hanya beberapa senti. Menma menoleh ke arah ruang polisi.
"Memastikan kalau Ketua Kepolisian Kyoto ini lebih berhati-hati dalam berbicara, karena ia mempertaruhkan satu nyawa dari pihak kepolisian dengan Akatsuki.." Menma menyeringai licik. Ia melirik Naruto yang ikut memandang ke satu titik.
Sasuke yang tengah mengobrol dengan Karin.
...
Dua hari kemudian...
"YATTA! Akhirnya ada cuti Tanabata* selama dua hari!" teriakan gembira Karin membuat rekan satu timnya, mendelik tidak suka. Orihime dan Hikoboshi
"Kau senang sekali dengan perayaan ini." kata Suigetsu jutek. Badannya terasa remuk setelah beberapa hari menyelesaikan kasus yang seolah tidak henti-hentinya berdatangan.
"Hei, memangnya kau punya pasangan?" tanya Juugo, penasaran. Setahunya, perayaan ini lebih dominan untuk para pasangan. Dan, setahu dirinya, Karin itu belum punya pacar.
"Kemarin ia baru saja ditembak Kabuto-senpai dari Divisi Forensik."kata Sasuke kalem. Ia bicara tanpa menatap wajah teman-temannya. Kembali mendapat laporan dengan deadline mepet.
"Hah?! Kau serius? Kapan?" tanya Suigetsu, heran. Setahunya, sampai saat ini, Karin selalu bersama mereka, kecuali dua hari lalu.
"Tunggu, ketika kau shift bersama Sasuke itu?! Yang kata polwan-polwan ada Menma datang itu?" tanya Suigetsu, ingin tahu. Dan Karin mengangguk senang. Ia menatap tiga rekannya dengan antusias.
"Oh, pantas para polwan disini tengah sibuk membicarakan Tanabata." Juugo mengangguk paham.
"Jadi, apa rencana kalian saat cuti?" tanya Karin penasaran. Ia menatap tiga rekannya dengan penuh minat.
"Hei, memangnya Naruto mengizinkanmu? Dia kan yang menjadi walimu di Kyoto." Kata Juugo heran. Wanita berambut merah itu tertawa.
"Kau pikir dia akan mengizinkanku begitu saja? Aku punya cara untuk meluluhkan sepupuku." Kata Karin dengan percaya diri. Kali ini, Sasuke ikut memperhatikan wanita Uzumaki itu bicara.
"Aku akan ikut dalam pasukan pengaman di dekat komplek AEON Kyoto Mall. Naruto sudah menyuruh polisi yang bertugas untuk berkumpul di Pos Polisi Minami. Anak-anak kuliah itu menyelenggarakan festifal Tanabata di sekitar kampus. Dan, mereka meminta bantuan kepolisian untuk mengamankan jalannya festifal." Jelas Karin panjang lebar. Ia menaik turunkan alisnya.
"Kalau kau ikut, otomatis kami ikut kalau begitu." Kata Suigetsu. Karin mengangguk.
"Tentu saja. Sasuke juga dipindahkan. Dia yang tadinya di Shimogamo, dipindah bersama kita."
"Kapan aku dipindah?" tanya Sasuke datar. Karin nyengir.
"Aku yang minta, supaya kita berempat sama-sama."
...
Hari Tanabata, 7 Juli, pukul 8 malam...
Naruto minta maaf kepada seluruh anggotanya, karena rencana liburan yang sudah mereka susun selama beberapa hari sebelum Tanabata harus hancur seketika ketika ia mendapat laporan dari Pos Minami kalau ada penyelundupan narkoba di dekat AEON Mall. Hal itu pula yang membuat ia langsung melakukan rapat dadakan. Diputuskan pula untuk membagi beberapa anggota untuk bergabung menjadi dua tim dengan satu ketua. Hal ini ia lakukan untuk meminimalisir dua pikiran karena ada dua ketua yang bergabung menjadi satu.
Sore harinya, Naruto memanggil Sasuke, Karin, Sakura, dan Haku ke ruangannya. Ia meminta kepada empat anggotanya itu untuk menyamar di sekitar lokasi, dan tim pengintai akan mengawasi mereka. Jugo sudah bertindak sebagai orang yang akan membeli narkoba yang diselundupkan di AEON Mall.
"Aku memanggil kalian berempat ke sini untuk menyamar. Terserah mau menjadi apa, asalkan kalian tidak sampai ketahuan. Asal kalian tahu, Akatsuki mengenali wajah beberapa anggota kepolisian-termasuk aku." Naruto memberi wanti-wanti kepada Sasuke dan Karin.
"Tentu saja. Kita punya dua orang baru di tim ini." Sakura mengerling ke arah Karin dan Sasuke yang sama-sama menunjukkan wajah tidak suka.
"Mohon bantuannya, ya.." senyum lembut Haku ke arah Karin dan Sasuke membuat dua orang itu kikuk juga diberi senyum setulus itu.
"Baik senior." Kata Karin sekaligus mewakili Sasuke berbicara.
"Bagus, sekarang kalian berkumpul di pos masing-masing. Aku akan memantau kalian dari ruang CCTV AEON Mall." Kata Naruto.
"Ketua, apa anda sudah menemukan lokasi tepatnya? AEON merupakan kompleks mall dengan lebih dari tiga pusat perbelanjaan." Kata Haku, sedikit khawatir.
"Apa kau tidak percaya dengan Zabuza, Haku?" tanya Naruto, sedikit menggoda bawahannya. Sakura hanya terkikik.
"Baik, kalau begitu. Kalian bertiga bubar. Sasuke, kau tetap disini." Naruto menahan Sasuke pergi ketika pemuda itu berjalan mengikuti tiga orang lainnya.
"Bukankah kau sudah menyuruhku untuk berkumpul, Ketua Namikaze?" sindir Sasuke. Naruto hanya menghela nafas. Ia melepas kalung yang selama ini berada di lehernya. Pria Namikaze itu memakaikannya pada Sasuke.
"Hati-hati.." Naruto memeluk Sasuke sejenak, dan meninggalkan pria raven itu di ruangan Naruto. Kali ini, pria pirang itu beruntung karena ia sempat melihat rona merah di pipi bawahannya itu. Lumayan, ia mendapat keberuntungan sebelum pergi.
...
Sore itu, AEON Mall terlihat sangat ramai dengan hiruk pikuk para warga yang tertarik untuk datang ke festival Tanabata yang diadakan oleh pihak mall. Lantai satu mall jadi terlihat seperti lautan manusia karena saking penuhnya.
Sasuke yang saat itu tengah menyamar, hanya mendengus tidak suka. Ia melirik ke arah Karin yang dengan santainya keep kalem dan matanya awas mengedar ke seluruh penjuru ruangan. Pria raven itu bisa merasakan tatapan orang-orang yang melihatnya. Dia lama-lama risih juga kalau seperti ini. ia ingin menatap Karin minta tolong. Tapi, sepertinya gadis itu terlalu menikmati perannya. Kalau seperti ini, sama saja ia akan diabaikan. Apalagi, dengan earphone yang menyumbat telinga wanita berambut merah itu.
"Kau tidak apa Sas?" tanya Karin, sedikit menahan tawa. Ia ingin tertawa melihat penampilan rekan kerjanya malam ini. Bukan tanpa alasan ia seperti ini. Bayangkan, kimono biru muda dengan corak sakura biru tua itu terlihat pas dipakai orang yang dicap sebagai polisi baru oleh Naruto.
"Kau meledekku?" Sasuke menatap Karin tidak suka. Pria raven itu menghembuskan nafas kesal. Ia masih beruntung jika dipasangkan dengan Haku, karena seniornya yang satu itu pengertian. Nah, ini, meski Karin memang cantik dengan kimono yang serupa dengannya hanya berbeda warna. Kimono putih, dengan corak sakura merah.
"Tidak. Eh, kau melihat Sakura-senpai dan Haku-senpai?" mata Karin kembali mengedar. Ia berdecak kesal ketika tidak menemukan keberadaan dua seniornya. Manusia di lantai satu memang sangat banyak.
"Kau tidak risih, Karin?" tanya Sasuke. Wanita bermarga Uzumaki itu ingin tertawa terbahak sebenarnya, tapi ia tidak tega dengan Sasuke yang terlihat sangat risih menggunakan kimono itu. Ditambah rambur ravennya yang dipasangi wig dan disanggul rendah. Meninggalkan rambut poninya yang membingkai wajah putihnya.
PIIIP!
"Aku melihat target." Earphone keduanya berbunyi. Juugo menghubungi mereka.
"Kau dimana?" tanya Sasuke.
"Aku ada di lantai dua. Kalian kemarilah. Kebetulan restoran tempat kalian menyamar juga ada di lantai dua." Sasuke dan Karing mengangguk mantap. Dengan hati-hati, mereka pergi melalui eskalator. Berusaha tidak mencolok.
"SK, jaga jarak kalian. Aku ingin kalian hanyamengawasi mereka. Haku dan Sakura sudah ada di posisi." Suara Naruto bergema di earphone keduanya. Sasuke mengangguk paham.
Mereka berdua bergegas ke restoran tempat mereka menyamar. Ternyata, Juugo sudah tiba. Pria berambut oranye itu sudah duduk dengan tenang dan menikmati kopinya. Di hadapannya, ada seorang wanita berambut pirang yang sangat cantik.
"Ingat informasi ini." suara Haku terdengar.
"Namanya Shion, 23 tahun." Kali ini suara Sakura. Sasuke mencatat informasi dari seniornya di catatannya.
...
"Kenapa Juugo lama sekali? Kapan kita bisa meringkusnya?" tanya Karin kepada Sasuke. Gadis itu sudah letih mondar-mandir mengantarkan pesanan. Sudah berkali-kali ia mengode Juugo untuk menyelesaikan pekerjaannya, tapi pria itu tidak merespon.
PRANG!
Kaca yang menjadi dinding di lantai dua tiba-tiba pecah. Sekumpulan orang berjubah hitam dengan lambang awan masuk dengan membawa senjata. Karin dan Sasuke yang tengah dalam kondisi tidak siap, hanya berpura-pura tenang. Berusaha tidak mematikan teman-teman mereka yang bertugas.
"Senior, ada kekacauan. Lantai dua." Sasuke mengirim pesan singkat. Berharap para seniornya tahu.
BUKK!
Sasuke reflek menengok ke arah datangnya suara. Ia melihat Karin yang terkulai lemas akibat pukulan di tengkuknya. Sasuke harus minta tolong. Juugo juga sudah bersiaga. Pria berambut oranye itu mendekati Sasuke.
"Kau tidak apa, Polisi Uchiha?" tanya Juugo. Sasuke mengangguk. Ia mengeluarkan pistolnya.
"PERHATIAN! KEPADA SELURUH PENGUNJUNG, HARAP SEGERA KELUAR DARI GEDUNG. KAMI DARI PIHAK KEPOLISIAN KYOTO AKAN MELAKUKAN PEMBERSIHAN DI AREA INI." audiospeaker di seluruh gedung berbunyi bersamaan. Langsung saja, para pengunjung berhamburan keluar gedung. Meninggalkan anggota kepolisian dan sang organisasi buronan.
DOR! DOR! Baku tembak tidak terelakkan. Lantai tiga sudah menjadi ajang baku tembak sejak tadi. Sasuke dan Juugo yang berada di lantai dua juga begitu. Mereka berdua berhadapan dengan bawahan Akatsuki yang menggunakan rompi bergambar awan merah.
"Sasuke, kita harus turun ke bawah. Daerah lantai dua sudah banyak anggota. Tapi lantai satu hanya beberapa anggota bersama ketua Namikaze. Karin tidak apa-apa, dia hanya pingsan. Aku sudah membawanya ke polisi medis untuk pertolongan lebih lanjut."
"Kalau begitu, tunggu apa lagi." Kali ini, Sasuke tidak mempedulikan pakaiannya lagi. Ia dengan berani menendang, menembak, dan menghajar siapapun yang menghalangi jalannya. Pria raven itu bahkan dikeroyok oleh tiga orang. Berusaha meredam emosinya, Sasuke tidak menggunakan pistolnya. Bayangan Itachi dan Fugaku yang memakai seragam polisi muncul di ingatannya. Sasuke memejamkan matanya sejenak, berusaha mengesampingkan ingatan tentang keluarganya. Sekarang, ia tengah bertugas untuk melindungi warga Kyoto.
DOR!
Suara tembakan dari punggungnya membuat pria raven itu langsung berbalik. Matanya membulat ketika melihat Juugo tertembak di bagian bahu. Rekan kerjanya itu ambruk. Meninggalkan Sasuke yang menatap nyalang ke arah pelaku penembakkan.
"Kau, beraninya..." desis Sasuke. Pria itu langsung maju menyerang pria yang menggunakan jubah hitam bergambar awan merah. pria itu tidak membawa senjata apa-apa. Pistol yang digunakan untuk menembak Juugo Sasuke sangat yakin pria itu ambil dari puluhan senjata yang berserakan.
"Kau lumayan." Dua orang pria itu terlibat perkelahian yang sengit. Jika satu memukul, maka satu akan menghindar atau menangkis. Begitu terus hingga beberapa saat, Sasuke menemukan titik lemah sang lawan. Langsung saja pria raven itu menendang pinggang pria Akatsuki itu dengan keras.
Pria Akatsuki itu jatuh tersungkur dengan tangan memegangi pinggangnya. Sasuke menendangnya tepat di lambung. Pria raven itu segera memberi serangan bertubi yang bersarang di perut dan pukulan lurus menghujam jantung.
"Uhuk-shhh..." pria Akatsuki itu terlempar beberapa langkah hingga jubahnya terbuka. Wajah sang pria membuat Sasuke semakin mengepalkan tangannya ingin meninju sang pemilik wajah.
"Hei, Sasuke.."
...
"Evakuasi Karin. Aku akan menyusul ke dalam. Lantai satu sudah aman. Kita harus menemukan rekan kita yang terluka parah." Naruto memimpin evakuasi itu cukup panik. Pasalnya, ia tidak melihat Juugo dan Sasuke keluar bersama Sakura dan Haku tadi. Ia bahkan kehilangan kontak dengan dua polisi baru bawahannya itu.
"Kemana Sasuke dan Juugo?" tanya Naruto kepada Sakura dan Haku yang tengah membantu mengobati rekan-rekan mereka.
"Aku tidak tahu. Terakhir kali kami berhubungan dengan mereka, posisi mereka berada di lantai dua." Jawab Haku. Tangannya sibuk melilitkan perban ke Zabuza.
"Baiklah. Anggota polisi yang masih kuat! Ikut aku ke dalam untuk menyelamatkan para warga yang tersisa dan rekan kita yang masih bisa diselamatkan!" Naruto memimpin dua puluh orang anggota kepolisian yang masih kuat. Ia menyisir area lantai satu hingga ke dalam.
"Kita berpencar. Satu tim tiga orang. dua ikut aku."
"Baik."
Naruto bersama dua anak buahnya naik ke lantai dua. Dengan pistol teracung dengan siaga, menjaga sewaktu-waktu ada serangan tiba-tiba.
"Ketua! Itu Polisi Uchiha!" salah seorang anggotanya menunjuk ke arah Sasuke yang tengah berkelahi dengan seorang laki-laki anggota Akatsuki.
"Kalian bawa Juugo, Sasuke biar aku yang urus." Perintah Naruto. Ia menyangga Juugo. Yang terlihat setengah sadar. Pria pirang itu mengecek peluru yang bersarang di bahu polisi baru itu.
"Tidak dalam. Dia hanya luka ringan." Naruto membantu Juugo berdiri, dan menyerahkan polisi baru itu kepada dua anak buahnya.
"Pergilah." Dua polisi itu mengangguk. Naruto menatap Sasuke yang tengah berkelahi dengan wajah berminat. Ia ingin melihat sampai mana pria raven itu mampu bertahan. Sepertinya, lawan yang dihadapi bawahannya itu cukup menguras tenaga.
Pria Akatsuki itu jatuh tersungkur dengan tangan memegangi pinggangnya. Sasuke menendangnya tepat di lambung. Pria raven itu segera memberi serangan bertubi yang bersarang di perut dan pukulan lurus menghujam jantung.
"Uhuk-shhh..." pria Akatsuki itu terlempar beberapa langkah hingga jubahnya terbuka. Wajah sang pria membuat Sasuke semakin mengepalkan tangannya ingin meninju sang pemilik wajah.
"Hei, Sasuke." Naruto langsung mendekati Sasuke ketika pria Akatsuki itu tiba-tiba beranjak dan menarik bahu Sasuke. Membuat pria raven itu menempel dengan tubuh pria Akatsuki itu. Sasuke membelalak. Ia akan menyikut pria yang seenaknya saja menjadikannya sandera, ketika dua tangannya dicengkeram dengan sangat erat.
"Menma..." geraman lirih keluar dari bibir Naruto. Pria pirang itu menatap tajam ke arah saudara kembarnya.
"Hai adikku." Kata Menma dingin. Ia menatap Naruto tajam. Pria itu terlihat serius sekarang. Pria Namikaze yang lebih tua itu menyeringai.
"Rupanya kau tidak mendengarkan kalimatku kemarin, ya.." Menma mengarahkan pisau ke leher Sasuke. Gesturnya bersiap untuk menebas kepala pria raven itu.
"Lepaskan Sasuke, Menma. Dia tidak ada hubungannya dengan hal ini." Naruto mengepalkan kedua tangannya. Berusaha meredam emosinya. Bagaimana bisa ia kembar dengan pria yang mengerikan seperti ini.
"Oh, ya? Kau sudah melibatkan Sasuke ketika kau menyanggupi permintaan Karin untuk memindahtugaskan Sasuke ke Minami. Jangan kira aku tidak mengawasimu." Desis Menma. Pandangannya yang lurus, menusuk langsung iris sapphire yang serupa dengan dirinya.
"Sebenarnya, semua ini tidak terjadi kalau kau tidak ikut campur dengan organisasi itu, Aniki..." lirih Naruto. Ia melunakkan tatapannya. Walau bagaimanapun, Menma adalah saudaranya. Dan, meskipun mereka memiliki banyak perbedaan, itu tidak mempengaruhi ikatan saudara yang telah terjalin.
"Kau tidak perlu ikut campur urusanku." Bantah Menma. Pria Namikaze itu menatap Naruto Sejenak, sebelum menggoreskan pisaunya secara horizontal ke lengan kiri Sasuke. "AGHHHHH!" cukup dalam, hingga pria raven itu berteriak.
"Itu adalah peringatan bagimu, Namikaze Naruto..." Menma berlari ke arah helikopter yang menunggunya di luar gedung.
Naruto langsung meraih tubuh Sasuke. Pria raven itu terlihat memegangi luka yang terus mengeluarkan darah. Ia menggendong Sasuke ala bridal dan membawanya keluar dari gedung. Pria raven itu memerlukan perawatan sesegera mungkin.
"Naruto..." lirih Sasuke. Naruto tidak memandangnya. Pria itu masih memasang ekspresi serius. Rahang Naruto masih terlihat mengeras. Sasuke hanya diam. Larut dengan pikirannya.
"Atur nafasmu. Sebentar lagi kau akan mendapat perawatan." Kata Naruto datar. Mereka berdua berjalan ke pintu utama. Anggota kepolisian yang ada di luar telah menunggu Naruto dan Sasuke dengan cemas. Bahkan, Shikamaru yang tengah dinas ke Hamamatsu, langsung tancap gas kembali ke Kyoto. Pria nanas itu masih dalam perjalanan sekarang ini.
...
Malam itu, pikiranku sangat kacau. Aku bahkan tidak pulang ke apartemenku, karena terlalu malas. Kejadian di Hari Tanabata ini membuatku merasa malas melakukan apapun. Ditambah kakakku yang kelakuannya membuatku jengkel setengah mati. Bagaimana bisa ia masuk ke Akatsuki dengan santainya, padahal dia adalah seorang bos besar Namikaze Corp?
Ini tidak seperti di film-film, dimana seorang anak merasa tidak disayang keluarganya yang seorang pembisnis. Orang tuaku tidak sekuno itu tousan dan kaasan cukup memahami dua putera bengalnya ini.
Aku menghela nafas. Jika ditanya apa aku marah, aku hanya menjawab tidak. Aku tidak bisa marah pada kakakku. Aku hanya merasa sedih dan kecewa. Menma bertindak seolah kami adalah alter ego. Dia seolah memerankan sisi gelapku, dan tidak membiarkan aku untuk memahaminya.
Aku menghela nafas. Kenyataan kalau ia bergabung dengan Akatsuki sudah cukup untuk menamparku supaya berpikir realistis. Tapi, kalau dia juga mengincar Sasuke-yang notabene tidak terlibat-aku marah. Dia bertindak seenaknya, dengan mempertaruhkan Namikaze dan Sasuke.
Angin malam yang dingin pun, tidak bisa menghilangkan rasa kalutku. Saat aku melihat arloji, sudah pukul setengah dua belas. Sudah dua jam aku berada di ruanganku dengan jendela yang seukuran pintu ini kubuka.
Untuk hari ini, biarkan aku melepas seluruh embel-embel yang dipikul bahuku. Tuntutan Wakil Menteri Pertahanan saja sudah membuatku pusing tujuh keliling.
"Naruto." Aku menoleh. Sasuke masuk ke ruanganku. Ia ternyata belum mengganti pakaiannya. Masih menggunakan kimono biru muda dengan corak sakura biru. Aku hanya diam menatapnya. Ia terlihat salah tingkah. Tapi, Sasuke tahu cara mengatur emosinya supaya tidak terlihat.
Aku baru sadar. Selama ini, ketika ia masuk sebagai polisi baru, aku selalu memperhatikannya. Bukan sebagai bawahan yang perlu bimbingan. Tapi, sebagai orang yang mampu meluluhkanku dengan caranya sendiri. Yah, meskipun dengan sifat ketus dan keras kepalanya yang membuatku gemas.
"Hn.." kali ini, bukan maksudku untuk mengambil trademark kesukaanmu, tapi, saat ini aku hanya terlalu lelah. Itu saja.
Aku membiarkan Sasuke mendekatiku. Ia berdiri di sampingku. Tangan kanannya masih setia memegang perban di lengan kirinya. Melihat hal itu, aku hanya diam. Tidak merespon.
Sasuke, pria itu hanya diam dengan kepala tertunduk dan tangan yang terus terkepal. Aku mulai memperhatikannya. Sedikit khawatir dengan kondisinya. Aku yakin kalau Menma sudah mengatakan hal aneh-terlihat dari raut mukanya. Sasuke menggigit bibir bawahnya.
"Menangis saja. Kau ini laki-laki, tapi cengeng sekali." Dengusku. Aku menepuk-nepuk kepalanya.
"Hei, ngomong-ngomong, rambutmu itu seperti pantat aya-ADUH!" aku mengerang sakit ketika Sasuke dengan santainya mendeplak kepalaku dengan majalah yang ada di meja.
"Aku tidak cengeng." Aku diam mendengarkan.
Sasuke itu lucu. Anak ini membantah kalau ia cengeng. Padahal, aku sudah melihatnya menangis tiga kali. Tapi, bukankah itu lebih baik? aku lebih suka seseorang yang mau berbagi cerita denganku. Itu berarti, dia menyadari keberadaanku.
Perlahan, kutarik tubuhnya semakin mendekat. Melingkarkan kedua tanganku di sekeliling punggungnya. Mungkin, membuatnya sulit bernafas. Tapi, aku juga butuh bernafas dan satu-satunya caraku untuk bernafas saat ini adalah dengan cara ini. Memastikan Uchiha terakhir ini berada di sampingku.
...
Naruto dan Sasuke berpelukan-tidak, Naruto memeluk Sasuke cukup lama. Ia tersenyum ketika merasakan bau kayu manis yang lagi-lagi menguar dari tubuh Sasuke.
"Kau sudah memelukku tiga kali, Pak Ketua.." kata Sasuke, membuka pembicaraan. Naruto terkekeh. Ia kembali menyamankan tubuhnya. Sasuke sangat nyaman dipeluk. Tubuhnya pas di pelukan Naruto. Dan lagi, pria raven ini belum mengganti kimononya. Darah Sasuke bahkan masih tercetak dengan jelas di lengan baju sebelah kiri.
"Hei, Sasuke.." Naruto melepaskan pelukannya. Menatap bawahannya yang juga menatapnya.
"Hn.." jawab Sasuke singkat.
"Apa saja yang Menma bicarakan padamu?" tanya Naruto serius.
"Tidak ada." Sasuke mengendikkan bahu.
"Sama sekali?" tanya Naruto sangsi. Sasuke hanya mengangguk. Kalem.
"Dia hanya bilang, 'Hai, Sasuke' setelah aku menghajarnya. Memangnya ada apa?" tanya Sasuke.
"Hanya itu?" Naruto hampir speechless dengan jawaban Sasuke.
"Ya." oh, baiklah. Lupakan pembicaraan ini. Ia malas berdebat.
"Hei Sasuke, ini masih Hari Tanabata, kan?" tanya Naruto tiba-tiba. Sasuke yang tengah memandang pemandangan kota Kyoto malam hari, hanya mengangguk.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Naruto kemudian. Pria raven yang disampingnya mengalihkan wajahnya dari Naruto. Pandangannya menerawang di jendela.
"Aku tidak tahu. Kau tahu keluargaku, kan?" Sasuke menggunakan nada menyindir. Ia tidak suka arah pembicaraan ini.
"Kau tidak menanyai apa keinginanku?" Naruto menoleh ke arah Sasuke, berniat untuk protes. Tapi, ia tertegun ketika Sasuke tengah memejamkan mata dan menikmati angin malam yang berhembus cukup kencang. Membuat poni yang membingkai wajah Sasuke ikut tergerai, bergoyang bersama angin.
Naruto tersenyum. Ia nyaman bersama pria raven yang berstatus polisi baru ini.
"Keinginanku hanya satu. Melindungimu dari Menma.."Naruto memberanikan dirinya untuk menggenggam tangan Sasuke. Toh, pria raven itu tidak menolak. Sasuke hanya diam tidak merespon.
Naruto menghela nafas. Ia akan melindungi Sasuke dari siapapun yang berani melukainya bahkan seujung kukupun. Ia akan membantu mengungkap kasus kecelakaan Itachi dan Fugaku bersama sang raven. Mendukungnya kalau ia mulai jatuh.
Karena Naruto paham, ia mulai menyukai Sasuke sejak pria itu terlambat di apel pagi hari pertamanya.
TBC/END?
Terima kasih buat yang sudah menyempatkan waktunya untuk memberi kritik dan saran. Oh, ya, fanfiksi itu bagusnya dilanjut atau udahan? Kalau mau dilanjut, boleh aku minta ide selanjutnya? Tulis saja di review atau pm saya. Soalnya, aku belum ada gambaran untuk melanjutkannya.
Jadi, Mohon Bantuannya para author dan reader yang membaca fiksi ini.
Dan bagi para Hatsuki yang belum gabung dengan grup Narusasu facebook, gabung dong! Biar kita bisa sharing bareng-bareng tentang fanfiksi Narusasu atau info lain.
Big Thanks to :
Kita Nakamura :: NaruNeji :: guest ny guest :: GreysonEka Hatsuki :: Lady Spain :: NS Hatsuki :: .Cacuke :: Hwang635 :: namikazehyunli :: Soul and Me :: Sunsuke :: .12 :: Habibah794 :: Naminamifrid :: Hatsuki Anita Anti mainstream :: pajriani2409 :: dieNsL :: Zelobysehuna
MIND TO REVIEW?
