"Hei Sasuke, ini masih Hari Tanabata, kan?" tanya Naruto tiba-tiba. Sasuke yang tengah memandang pemandangan kota Kyoto malam hari, hanya mengangguk.

"Apa yang kau inginkan?" tanya Naruto kemudian. Pria raven yang disampingnya mengalihkan wajahnya dari Naruto. Pandangannya menerawang di jendela.

"Aku tidak tahu. Kau tahu keluargaku, kan?" Sasuke menggunakan nada menyindir. Ia tidak suka arah pembicaraan ini.

"Kau tidak menanyai apa keinginanku?" Naruto menoleh ke arah Sasuke, berniat untuk protes. Tapi, ia tertegun ketika Sasuke tengah memejamkan mata dan menikmati angin malam yang berhembus cukup kencang. Membuat poni yang membingkai wajah Sasuke ikut tergerai, bergoyang bersama angin.

Naruto tersenyum. Ia nyaman bersama pria raven yang berstatus polisi baru ini.

"Keinginanku hanya satu. Melindungimu dari Menma.."Naruto memberanikan dirinya untuk menggenggam tangan Sasuke. Toh, pria raven itu tidak menolak. Sasuke hanya diam tidak merespon.

Naruto menghela nafas. Ia akan melindungi Sasuke dari siapapun yang berani melukainya bahkan seujung kukupun. Ia akan membantu mengungkap kasus kecelakaan Itachi dan Fugaku bersama sang raven. Mendukungnya kalau ia mulai jatuh.

Karena Naruto paham, ia mulai menyukai Sasuke sejak pria itu terlambat di apel pagi hari pertamanya.

.

The Most Diferrent

Cast : Sasuke Uchiha & Naruto Uzumaki

Rated : T

Genre : Romance/Drama

Naruto ©Masashi Kishimoto

The Most Different©Almiterlyone

.

3 bulan kemudian..

Sasuke tengah memberi makan Aora dan Manda di teras belakangrumahnya. Ia memanfaatkan hari libur yang jarang ia dapatkan untuk bersantai dengan hewan peliharaannya. Ular kesayangannya itu tengah memakan tikus-tikus kecil yang Sasuke sediakan dengan lahap. Tak jarang, peliharaannya itu menggesekkan kepalanya di kaki Sasuke, meminta tambah makanan.

"Aora, makin lama kau makin gendut saja." Sasuke menatap ular yang memiliki warna kebiruan di sekitar matanya. Langsung saja, ular albino itu menggoyangkan ekornya untuk menepuk kaki Sasuke, disertai dengan tatapannya yang menajam.

"Oke, Aora, kau menyebalkan. Kau gendut aku malah bersyukur." Sasuke mengendikkan bahunya. Ia mengambil satu tikus putih dan satu tikus hitam.

"Kau mau yang mana?"

SET!

Dengan cepat, Aora menggigit tikus hitam yang berukuran sedikit lebih besar. Ular itu dengan tenang memakan tikus hitam sembari rileks diusap-usap oleh Sasuke.

"Sebentar, aku mau mengeluarkan Manda terlebih dahulu." Sasuke menggeser Aora dan membuka kotak berwarna putih di sampingnya. Manda melata keluar dengan mata tak pernah lepas dari Sasuke. Hal itu membuat Sasuke terkekeh kecil.

"Oke, I know. Kau cemburu dengan Aora? Ini ada tikus hitam kesukaanmu." Sasuke mengambil tikus hitam dari kotak, memegang ekor tikus kecil itu, dan mengayunkannya di depan Manda. Langsung saja, ular piton warna kuning dengan garis keunguan di sekitar perut itu mengangkat kepalanya dan menelan tikus hitam itu bulat-bulat.

"Manda, kau marah padaku." Sasuke akan bergerak menyentuh Manda. Tapi, ular itu malah menghindar dan masuk kembali ke kandang. Pemuda raven itu menatap sendu dua ular peliharaannya.

Dulu, Orochimaru-teman ayahnya, memberikan Aora kepadanya, lalu Manda kepada kakaknya. Mereka berdua selalu menghabiskan waktu memberi makan dua ular albino ini sembari bercerita tentang sekolah, pekerjaan, semuanya.

"Kau rindu Itachi, kan, Manda?" Sasuke menatap Manda yang masih diam di kandang.

"Dia merawatmu lebih baik dari aku merawat Aora." Kini, pemuda raven itu mengangkat Aora ke pangkuannya. Mengelus tubuh ular kesayangannya dengan sayang. Selang berapa menit, Manda keluar dari kandangnya. Ular itu memposisikan tubuhnya di samping Sasuke.

"Aku baru sadar kalau warna matamu itu biru. Jadi mengingatkanku pada seseorang.." Sasuke menepuk-nepuk mantan peliharaan Itachi itu.

TING TONG!

Suara bel mau tak mau membuat Sasuke menoleh ke arah pintu masuk. Ia meletakkan Aora, mengusap kepala Manda sejenak, dan bangkit untuk membuka pintu.

"SASUKEEE!" oh, ia tahu suara siapa. Pemuda raven itu membuka pintu, dan di luar sudah berdiri Juugo, Karin, dan Suigetsu. Dengan pakaian formal kepolisian. Celaka.

"Aku-" belum selesai Karin bicara, Sasuke sudah angkat tangan.

"Oke, aku ganti baju dulu. Kalian tunggu di ruang tamu." Dan tiga rekannya itu mengangguk. Sasuke mempersilahkan mereka masuk dan menunggu di ruang tamu, sementara Sasuke berganti pakaian.

"Rumah Sasuke sederhana, ya. Kukira rumahnya akan mewah seperti anak jenderal lainnya." Komentar Suigetsu.

"Ini rumah hasil jerih payahnya. Yah, dia memang punya selera Jepang kuno." Kata Juugo. Ia melirik Karin yang pucat pasi.

"Hei Karin, kau kenapa?" Juugo memandang rekan kerjanya, heran. Wanita berambut merah itu diam. Tapi, matanya mengarah ke bawah kakinya. Sontak, Juugo dan Suigetsu menoleh ke bawah. Mereka berdua diam. Sejurus kemudian-

"WHAT THE HELL ARE YOU DOING IN HERE?! GO AWAY BAD SNAKE! I HATE YOU!" – Karin.

"I think, i'll die now." – Suigetsu.

"Ularnya cantik..." – Juugo.

-mereka memberi respon yang berbeda-beda

...

Mobil patroli kepolisian itu berisi empat polisi yang berada dalam satu tim. Mobil yang dikendarai Juugo itu melintasi jalan raya di dekat danau dekat pegunungan perbatasan Kyoto. Hari mulai beranjak siang, tetapi hanya beberapa mobil yang terlihat berpapasan dengan mobil patroli ini.

Atmosfer di dalam mobil kepolisian itu terasa sedikit awkward. Sejak pulang dari rumah Sasuke, Karin dan Suigetsu belum angkat bicara. Mereka berdua duduk di kursi belakang mobil dengan tangan masih memegang sebotol air mineral. Sedangkan Sasuke dan Juugo, mereka berdua tengah sibuk membicarakan tentang binatang peliharaan. Terutama reptil.

"Kau tahu, Sasuke? Kapan – kapan kau harus melihat buaya kesayanganku."kata Juugo. Sasuke mengangguk.

"Buaya muara, atau-" Sasuke menoleh ke arah Juugo. Rekan setimnya mengangguk. "Buaya muara, tapi belum ada satu meter. Masih bayi."

"Can you stop that? Tidak usah bicarakan tentang hewan-hewan mengerikan itu. sudah cukup kau membuatku hampir kena serangan jantung karena ular albinomu." Karin menendang kursi di depannya-kursi Sasuke.

"I'm sorry." Kata Sasuke.

"Jangan minta maaf padaku dengan menunjukkan seringaimu itu." ketus wanita berambut merah itu. "Aku sudah kebal dengan ekspresi seperti itu." katanya datar. Sasuke hanya mengendikkan bahu.

"Ngomong-ngomong, apa kalian tahu berita terbaru?" tanya Juugo tiba-tiba. Pria berambut oranye itu melirik ke arah rekan setimnya melalui spion.

"Apa?" Karin merespon.

"Kepolisian Prefektur Yokohama mendapat teror dari Akatsuki. Organisasi itu mengirimkan mayat salah seorang anggota polisi di Yokohama yang telah dimutilasi." Juugo menoleh ke arah rekan timnya.

"Kudengar Ketua Namikaze langsung pergi ke Yokohama, mengingat keluarganya tinggal disana." Kali ini Juugo menoleh ke arah Sasuke. Pemuda raven itu hanya diam. Mungkin mendengarkan atau sibuk dengan pikirannya sendiri.

"Dimutilasi?" Suigetsu menatap Juugo yang sudah kembali fokus ke jalan.

"Kudengar begitu. Saat kejadian teror beberapa hari yang lalu, memang kantor polisi Yokohama tengah lengang karena banyak personil mereka yang membantu korban banjir di dekat Yokohama subway." Jelas Juugo.

"Kenapa kita tidak tahu? Terlebih, kenapa Ketua Namikaze pergi tanpa Ketua Shimura dan Ketua Nara?" tanya Suigetsu.

"Kita sedang mengamankan para murid yang tengah kemah di bumi perkemahan." Jawab Sasuke singkat.

"Tapi, apa ini tidak terlalu berbahaya-maksudku, hubungan Ketua Namikaze dan si Menma itu tidak begitu baik." Suigetsu buka mulut lagi. Ia melirik Karin yang tengah berpikir. "Kau kan sepupunya, kenapa kau tidak ikut ke Yokohama?"

Karin menghela nafas sejenak sebelum angkat bicara. "Naruto-nii melarangku."

Sontak, tiga pemuda di dalam mobil itu tertawa. Karin langsung memandang rekan timnya dengan bingung. Kenapa mereka bertiga tertawa? Memangnya kalimatnya ada yang lucu? Ia dengan kejam menarik rambut Suigetsu dan Sasuke.

"Kalian tertawa karena aku bersikap lembut seperti tadi, hah?! Kau pikir hubunganku sebagai saudara tidak baik hah?! Kau beruntung karena kau memegang kemudi, Juugo! Aku tidak-AWAS!" Karin hendak memarahi Juugo ketika tiba-tiba ada dua mobil sedan yang menyalip mobil mereka-nyaris menyerempet bagian lambung kiri mobil.

"Hentikan mobilnya." Sasuke memberi usul. Juugo mengangguk. Ia menepikan mobil patrolinya. Mereka berempat mengambil nafas sejenak, sebelum menoleh ke arah sedan.

Piiip! Piiip! Piiip! Piiip!

"Suara apa itu?" Karin menatap rekan setimnya, horor. Mereka berempat mengedarkan pandangan ke seluruh body mobil, hingga mereka menemukan sebuah benda seperti mouse komputer, tertempel di pintu belakang.

"Kita harus keluar! Mobil kita dipasangi bom!" dan dengan segera, mereka terburu-buru keluar.

Sial bagi Sasuke. Pintu di bagiannya tidak bisa dibuka. Ia mendorong Juugo untuk keluar dengan cepat.

Piiip! Piiip! Piiiip! Piiiiiip!

"Sasuke!" Juugo menarik tubuh Sasuke keluar dari mobil. Dengan cepat, pria bertubuh besar itu menarik bahu rekan setimnya, dan membawanya berlari.

DUARR!

"TIARAP!"

DUARR! DUARR!

Empat polisi itu tertelungkup di jalan raya yang lengang itu. Karin yang masih gemetar, hanya diam sembari mengatur nafasnya. Suigetsu dengan cepat menghampiri rekan setimnya.

"Daijobu?" [kamu baik-baik saja] Suigetsu mengguncang bahu Karin. Wanita berambut merah itu terdiam. Ia melebarkan matanya ketika ada sebuah mobil yang datang ke arah Sasuke dan Juugo.

"AWAAAS!" Sasuke dan Juugo yang tertimpa materil mobil, dengan cepat menghindar, mobil itu nyaris melindas kepala Sasuke kalau Juugo tidak sempat menarik Sasuke. Namun, hal itu ternyata fatal bagi mereka berdua karena kehilangan keseimbangan, mereka sempat terguling hingga ada pecahan kaca yang menusuk pelipis Juugo dan menggores lengan Sasuke yang baru saja sembuh dari insiden tiga bulan yang lalu.

"Juugo!" Sasuke menepuk-nepuk wajah rekan kerjanya. Ia menoleh ke arah Karin yang berlari ke arahnya.

"Juugo! Buka matamu! Suigetsu! Cepat telepon kepolisian terdekat! Sasuke, kau telepon ambulans!" dua pemuda itu langsung menuruti perintah Karin.

"Ambulans akan datang sebentar lagi / Kepolisian terdekat merespon." Kata Sasuke dan Suigetsu bersamaan.

"Juugo.." Karin mulai menangis.

Sementara Suigetsu sibuk menenangkan Karin, Sasuke tertegun. Ia seolah merasa de javu dengan kejadian ini. Dengan perlahan, ia berjalan mendekati palang pembatas jalan, yang membatasi jalan dengan satu meter bahu jalan dekat danau. Rasanya, ia pernah menyaksikan kejadian yang baru saja ia alami.

DEG!

Dadanya berdebar kencang ketika mengingatnya.

Kepolisian Berduka, Uchiha Fugaku dan Uchiha Itachi tewas kecelakaan.

Sabotase,Jenderal besar Kepolisian, Uchiha Fugaku dan Ketua Kepolisian Tokyo, Uchiha Itachi tewas.

Kronologi kejadian, seperti yang dikatakan oleh narasumber. Mobil yang dikemudikan oleh Uchiha Itachi tengah melaju di jalan yang lengang, di sekitar daerah teritori Kedutaan Korea untuk Jepang. Tiba-tiba, ada sedan hitam yang menyerempet mobil Chevrolet itu hingga sang pengemudi kehilangan kendali dan mobil terguling.

Diduga, mobil yang Uchiha Fugaku dan Uchiha Itachi kendarai telah disabotase, karena adanya unsur bahan peledak sejenis nitrogen di mesin mobil. Tetapi, kedua korban ditemukan tewas empat meter dari mobil. Kesimpulan kami untuk saat ini, dua korban tidak tewas karena terlempar, melainkan tewas karena adanya kecelakaan selanjutnya, terbukti dengan adanya bamper mobil dengan plat nomor lain yang berada tak jauh dari keduanya.

Fakta mengejutkan yang kami temukan adalah kesaksian dari sejumlah pejabat tinggi negara yang mengatakan kalau Ketua Uchiha datang bersama isterinya-Uchiha Mikoto, dan putra sulungnya. Tapi, hingga berita ini disiarkan, istri dari Uchiha Fugaku belum ditemukan.

Kedua tangan Sasuke mengepal. Ia tahu siapa yang menjadi incaran mereka sebenarnya. Sasuke tahu. Tapi, ia tidak tahu siap yang ia maksud 'mereka' dan lagi, ia tidak mungkin kembali ke mansion keluarganya-situasinya terlalu berbahaya dan ia juga belum siap.

Tapi sejenak, ia menoleh ke arah tiga rekannya. Mereka pasti akan terkena imbasnya jika ia tidak segera bertindak. Tapi, mendiskusikannya dengan Naruto, malah akan memperburuk keadaan. Sifat atasannya yang terlalu mencemaskannya itu akan membuatnya berada di posisi sulit. Ia meneguk ludahnya kasar.

Dadanya terasa sesak sekali.

...

Satu minggu sebelumnya...

Kepolisian Kyoto terlihat lengang. Hanya beberapa polisi yang terlihat berseliweran di lobi utama. Salah satunya Naruto. Pria itu berjalan santai dengan tangan kanan menggenggam segelas kopi panas yang masih mengepul. Ia hanya tersenyum ketika beberapa pegawainya menyapanya dengan ramah. Ketua kepolisian itu mengangguk.

Setibanya di depan ruang pelatihan, Naruto menghentikan langkahnya. Di dalam ruangan dengan luas kira-kira setengah lapangan bola itu, para polisi yang dulunya merupakan polisi baru tengah berlatih. Termasuk sepupunya dan pria raven rekan setim sepupunya. Ia melihat Sai tengah sibuk memimpin latihan tembak, sedangkan Shikamaru tengah memimpin latihan fighting.

"Hei, kau tidak masuk, Ketua?" Naruto menoleh dan mendapati Lee sudah berdiri di sampingnya. Pria dengan rambut bob khasnya, tersenyum cerah dengan jempol teracung di depan dada.

"Kau duluan saja," Naruto meneguk kopinya, dan menepuk bahu Lee. Pria yang penuh semangat itu mengagguk dan berlalu pergi dari hadapannya.

Piip! Piip!

"Ya, Kakashi, ada apa?"

"Menma meneleponku tadi." Suara orang yang sudah ia anggap sebagai paman terdengar lesu.

"Apa yang dikatakannya?! Apa dia berbuat macam-macam?!" Naruto tak sengaja meninggikan suaranya. Ia menoleh ke kanan dan kiri, memilih pergi dari koridor. Pergi ke ruangannya. Setibanya, ia langsung mengunci pintu.

"Jelaskan padaku." Kata Naruto serius.

"Dia mendatangi Iruka. Menma tahu kalau aku sedang tidak ada di rumah. Yah, mereka berdua berbicara entah apa." Kakashi menanggapinya dengan santai.

"Apa yang kau maksud? Kenapa kau berkata seolah-olah kau baik-baik saja?!" Naruto merasakan emosinya perlahan naik.

"Yah, tapi kau harus tahu. Kau dan Menma sangat menyayangi Iruka-dan aku tahu itu. Terlebih, Iruka tidak tahu tentang Akatsuki." Mendengar itu Naruto hanya diam. Menunggu Kakashi kembali meneruskan kalimatnya.

"Kalian berdua sudah dewasa. Sudah waktunya untuk memilih jalan hidup kalian sendiri-sendiri." Naruto tahu kalimat itu belum selesai.

"Tapi, kalau kau tahu, Iruka cerita padaku, kalau Menma tengah dalam proyek besar dengan perusahaan anakan yang dibina Kemhan di bidang persenjataan." Suara Kakashi berubah serius.

"Apa kau mencurigai beberapa hal?" tanya Naruto. Pria pirang itu merasa ada yang tidak beres sekarang.

"Ya. Pertama, Menma menandatangani proyek bersama Rinnegan Corp. Kedua, aku mendengar kabar kalau tujuan utama Akatsuki adalah menyelesaikan perselisihan politik antara Kemhan dan Keluarga sepuluh tahun lalu. Dan yang terakhir.." mendengar Kakashi kembali diam, Naruto menggertakkan giginya.

"Dan yang terakhir?" tuntut Ketua Kepolisian Kyoto tidak sabar.

"Aku menemukan botulinustoxin dalam jumlah kecil di bibir Iruka."

"APA?! Bagaimana bisa?! Asal kau tahu, Ketua Kepolisian Yokohama, aku dan timku beberapa bulan yang lalu telah meringkus pelaku pembunuhan yang menggunakan botulinustoxin! Apa Iruka-sensei baik-baik saja?" cemas Naruto. Dia benar-benar tidak menyangka kalau Menma akan bertindak sejauh itu. Satu lagi yang ia herankan.

Kenapa Otousannya tidak tahu hal ini? Bukannya seorang Namikaze Minato pasti mengetahui informasi dengan cepat?

"Satu hal yang masih bisa kusyukuri sampai saat ini adalah Menma tidak melakukan hal aneh pada Paman Minato dan Bibi Kushina." Kata Kakashi.

"Oh, ya Naruto. Sepertinya, kau harus mulai hati-hati saat ini. Kudengar dari Shikamaru-ketika ia tugas di Yokohama, sasarannya adalah Kepolisian Kyoto. Aku tidak habis pikir tentang saudara kembarmu itu."

"Kututup."

Pip!

"Damn it, Moron!"

Ting! Pemberitahuan di laptopnya berbunyi lirih. Dengan segera, Naruto mendudukkan diri di kursinya, dan membuka akun emailnya. Ada satu email yang masuk.

From : ravenkazero

To : sexyblonde

Be prepare for this, My Brother. I think, you already guess what will i do later. But, you must know if i never break my promise.

Sampai jumpa tiga hari lagi. Aku akan memberikan kejutan yang spesial untukmu di dua tempat.

Prepare for it!

Dan Naruto tidak bisa membayangkan apa yang akan menjadi kejutannya tiga hari lagi. Sejujurnya, orang yang paling ia takuti di dunia ini selain kedua orang tuanya adalah saudara kembarnya sendiri.

Namikaze Menma.

...

"Kakashi!" Naruto menghampiri Ketua Kepolisian Yokohama yang tengah berbincang dengan para bawahannya. Pria pirang itu mengangguk sejenak ketika bawahan Kakashi membungkuk padanya. Dan tiga orang itu meninggalkan Kakashi bersama Naruto.

"Apa kondisi kantormu sudah stabil?" tanya Naruto. Pria yang lebih tua itu menghela nafas. Tatapannya masih terlihat malas. Namun, tersirat sedikit kelegaan di matanya.

"Ya. terima kasih atas bantuanmu." Kata Kakashi, menjabat tangan Naruto. Pria pirang itu menghela nafas lega.

"Tapi Naruto, aku masih heran dengan kejutan Menma yang satunya. Ia mengatakan dua tempat bukan?" Kakashi menanyakan hal ini hati-hati. Takut membuat keponakannya ini tambah stres.

"Entahlah. Aku tidak memiliki bayangan sama sekali tentang ini." Naruto melepas topi kebanggaannya. Membiarkan rambut pirang yang ia potong pendek terlihat.

"Tapi, aku merasa khawatir dengan Karin." Kata Kakashi tiba-tiba. Naruto terkekeh kecil.

"Ia sudah kularang untuk pergi ke Yokohama. Situasinya terlalu berbahaya untuknya." Kata Naruto. Tapi Kakashi masih terlihat sangsi.

"Biar kutelepon."

Piip! Piiip! Piiip!

"Paman Kakashi.." Kakashi meloudspeaker ponselnya.

"Kau kenapa Karin?" tanya Naruto, khawatir. Pria pirang dan pria berambut grey itu merasakan firasat tidak enak.

"Naruto-nii, bisa ke kantor polisi sektor perbatasan? Kumohon..."

"Oke, aku kesana."

...

Malam harinya...

Karin dan Suigetsu tertidur di tempat seadanya. Sementara Sasuke hanya duduk diam sembari memperhatikan Juugo yang sejak tadi belum sadarkan diri. Ia menghela nafas perlahan. Luka yang ada di lengannya kembali dijahit. Mungkin, ini akan sembuh lebih lama dibanding luka jahitan yang dulu. Mereka berempat kini berada di klinik polsek setempat untuk mendapat pertolongan pertama. Untung saja, luka yang mereka alami tidak terlalu parah.

Perlahan, Sasuke meraih tangan Juugo. Rekan setimnya yang didaulat menjadi ayah dari tim ini. seseorang yang melindungi dirinya, Karin, dan Suigetsu.

"Terima kasih sudah melindungi kami.." Sasuke meletakkan tangan Juugo dengan perlahan. Ia menjadikan tangan rekan setimnya sebagai bantalan.

"Oyasumi, minna.." dan Sasuke jatuh tertidur karena kelelahan.

...

Keesokan paginya, ia merasakan lelah luar biasa. Tapi, ketika ia bangun, tunggu, ini bukan klinik polsek perbatasan. Sasuke mendudukkan dirinya, dan mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar tidur. Kamar ini didesain minimalis dengan jendela besar di balkon sebagai saluran udara yang masuk ke ruang. Selain itu, tidak ada kesan yang aneh-aneh.

CKLEK!

"Kau sudah bangun?" Sasuke menoleh ke arah pintu. Ia membulatkan mata ketika melihat Naruto berjalan ke arahnya dengan membawa makanan. Sontak saja Sasuke bangun dari kasur. Tapi, ketika ia menapakkan kakinya, lututnya terasa nyeri bukan main.

"Sshhh..." Sasuke mencengkeram kasur kamar dengan erat. Lututnya terasa sangat nyeri. Oke, ia ingat kalau kemarin ia mengalami kecelakaan. Tapi, ia tidak ingat kenapa lututnya bisa sangat nyeri seperti ini.

"Jangan paksakan dirimu kalau belum kuat." Naruto meletakkan makanan di nakas, lalu membantu Sasuke untuk kembali berbaring.

"Kenapa kau membawaku kemari? Dan kenapa aku bisa bersamamu?" tanya Sasuke langsung. Naruto terkekeh.

"Aku sampai di perbatasan jam dua belas malam. Langsung saja aku memindahkan Juugo ke rumah sakit dekat Kepolisian Kyoto dan memulangkan Karin dan Suigetsu ke rumah. Karena aku tidak tahu rumahmu, jadi kau kubawa ke tempatku." Kata Naruto, enteng.

"Kau terlihat lebih baik dibandingkan tadi malam." Kata Naruto tiba-tiba. Membuat kernyitan di kening Sasuke muncul.

"Yah, kau tahu. Aku melihatmu dengan darah cukup banyak, oke." Jelas Naruto. Pria berstatus atasannya itu menyerahkan segelas air putih pada Sasuke. Pemuda raven itu menerimanya, dan bergumam 'terima kasih'

Hening cukup lama karena dua orang itu tidak ada yang membuka mulut. Hingga Naruto buka suara, "Kau tahu Sasuke? Aku melihatmu mengusap tangan Juugo. Dan jujur, aku cemburu."

...

TBC

Maaf kalau terlalu pendek dan belum bisa membalas review. FFn sepertinya eror, dan aku juga ngantuk sekali. Tapi, aku mengucapkan terima kasih kepada para readers yang menyempatkan membaca dan me-review fanfiksi ini.

Gomen, minna. Aku ngantuk banget.

Sunday, 10. 30 p. M

MIND TO REVIEW?