Sasuke menatap Naruto aneh. Maksudnya cemburu? Kan mereka tidak punya hubungan apa-apa kecuali atasan dan bawahan, ah iya, hanya sebatas rekan kerja. Pemuda raven itu menghela nafas sejenak. Akhirnya ia mengalah untuk kembali ke ranjang. Ia menyenderkan punggungnya di headband kasur Naruto. Badannya sakit semua. Ia jadi khawatir dengan rekan setimnya. Bagaimana mereka?

"Aku sudah memulangkan Karin dan Suigetsu. Aku juga sudah memindahkan Juugo ke rumah sakit kantor. Kau tak perlu cemas." Naruto mendudukkan dirinya di samping Sasuke. Ia mengambil baki makanan di nakas, dan menyerahkannya pada Sasuke.

"Makanlah. Aku tahu sejak kemarin kau belum makan." Pria pirang itu menatap Sasuke yang sepertinya malu-malu mengambil makanan yang ia berikan. Hah, ia tabiat bawahannya ini sangat mirip dengan seniornya dulu. Ternyata keluarga Uchiha memang memiliki harga diri yang tinggi.

"Terima kasih." Sasuke memberikan senyum tipisnya dan mulai makan. Tidak menghiraukan Naruto yang tertegun dengan mulut sedikit terbuka. Ia hanya mengamati Sasuke yang makan.

"Kau terlihat menyenangkan kalau tersenyum daripada dengan tatapan tajam yang kau berikan ke semua orang-tuh, kau sudah menatap tajam aku lagi setelah kau tersenyum." Protes Naruto ketika Sasuke menatap tajam dirinya. Pemuda raven itu mendengus. Ia mengalihkan wajahnya dari wajah Naruto, dan fokus pada makanannya.

"Hei, kau tidak perlu malu." Oh, ayolah. Naruto tertawa kecil ketika melihat semburat pink di pipi polisi baru ini. mengerjainya ternyata menyenangkan.

"Bisakah kau diam, Dobe?" dan Naruto kembali cemberut. Ini anak satu tsunderenya sudah tingkat berapa? Jaim banget.

"Hah, Suke-chan. Aku cemburu lihat kau dengan Juugo tadi malam. Kenapa kau pegang tangannya seperti itu?" Sasuke langsung mendongakkan kepalanya kembali. Ia menatap atasannya yang kini memasang wajah serius.

"Itu wajar. Dia yang menjadi figur ayah dalam tim kami." Kata Sasuke santai. Atasannya ini aneh atau apa sih, kan kalau dengan rekan sendiri, khawatir kan tidak buruk. Bisa menunjukkan kekeluargaan. Setidaknya itu yang dikatakan Itachi dulu.

"Itu tidak wajar. Ketika kau bersamaku, kau selalu memasang tampang judes atau sifat tsundere milikmu. Dan aku tidak suka ketika kau tersenyum pada orang lain! Terutama si rambut oranye itu!" Naruto merebahkan tubuhnya di samping Sasuke, sembari melirik pemuda raven itu dari samping.

"Sadar diri sedikit, sih. Rambutmu juga oranye, berarti aku harus menjauhimu." Sasuke masih makan dengan santai, tapi orang di sebelahnya sudah menatap dirinya dengan gemas.

"Rambutku pirang bukan oranye, tolong dibedakan sedikit, Suke-chaaan! Kau membuatku gemas." Mungkin, karena terlalu gemas pada Sasuke, Naruto sampai menangkupkan kedua tangannya di wajah anak buahnya itu. Ia mencubit pipi Sasuke, lalu mendaratkan ciumannya di bibir pink polisi muda itu.

CHU~

Naruto mengemut bibir bawah Sasuke seperti jelly yang sangat lembut dan manis. Batin Naruto bersorak senang ketika Sasuke tidak mendorong tubuhnya atau mendampratnya dengan kalimatnya yang pedas. Justru polisi baru ini hanya diam. Hal itu tentu membuat Naruto lebih bersemangat. Ia menjilat bibir bawah Sasuke, mengemutnya, lalu melumatnya, hingga ia merasakan ada tangan yang mengalung di lehernya.

"Uhmmm..." dan desahan Sasuke itu sukses membuat Naruto menyeringai sempurna. Ia akhiri ciuman itu dengan menggigit kecil bibir atas Sasuke.

"EH?!" dan Sasuke membelalak horor ketika Naruto melepas ciumannya. Tunggu, jadi tadi itu nyata? Oh, oke, ia bisa merasakan darahnya memenuhi wajahnya. Mungkin, wajahnya bisa terlihat sangat merah. terkutuklah kau ketua baka!

"Aku harus ke kamar mandi." Dan Sasuke langsung mendorong tubuh Naruto dan beranjak pergi ke kamar mandi.

BLAM!

Suara pintu kamar mandi yang ditutup dengan keras membuat Naruto tersadar. Ia meneguk ludahnya kasar.

"Kenapa aku bisa kelepasan seperti tadi, sih? Salahkan saja Sasuke yang membuatku gemas." Kata Naruto sembari mengendikkan bahu. Walau hatinya tertawa nista karena melihat wajah bawahannya yang malu-malu.

"Hah, indahnya dunia." Akhirnya pria pirang itu beranjak dari ranjang. Membawa sisa makan Sasuke untuk dicuci. Satu pagi yang indah dari sekian paginya yang membosankan.

Sementara itu, Sasuke yang tengah berada di kamar mandi masih diam sembari menatap cermin di depannya. Ia meraba dadanya. Debaran jantungnya yang kuat masih terasa hingga sekarang. Ia merasa wajahnya belum kembali dengan normal. Tadi, apa alasan pria pirang itu menciumnya? Maksudnya apa? Bukannya tadi mereka hanya berdebat argumen? Ketua Kepolisian Kyoto memang membuatnya gila.

"Itachi-nii, ini maksudnya apa, ya?" dan Sasuke masih bingung dengan perasaannya. Kesal, marah, senang, dan di perutnya seperti banyak kupu-kupu yang berterbangan hingga menggelitiknya.

"Naruto Baka!"

The Most Diferrent

Cast : Sasuke Uchiha & Naruto Uzumaki

Rated : T

Genre : Romance/Drama

Naruto ©Masashi Kishimoto

The Most Different©Almiterlyone

Siang harinya, Sasuke pamit pada Naruto untuk pulang dan beristirahat. Tapi, lagi-lagi pria pirang itu tidak menyetujui. Ia memaksa mengantar Sasuke pulang. Meski pemuda raven itu tahu kalau atasannya berniat mampir di rumahnya. Mungkin, ia akan melepas Manda dan Aora supaya Naruto kapok main ke rumahnya. Seringai licik diam-diam ia sematkan di bibirnya.

Mereka berdua tiba di rumah Sasuke ketika matahari sudah sepenggalah. Dengan segera, pemuda raven itu mengambil kunci dari kandang tikus di teras rumahnya. Ia membuka pintu dan mempersilakan Naruto masuk. Pria pirang itu tertarik dengan gaya rumah Sasuke yang Jepang Kuno sekali.

"Hei, tak ku kira kau suka dengan Jepang kuno. Kau suka sejarah?" tanya Naruto. Sasuke hanya mengangguk dan berjalan ke dapur. Pemuda raven itu berniat membuatkan minuman untuk tamu tak diundangnya itu. ia mengamati Naruto yang masih sibuk melihat-lihat. Biarlah, mungkin kalau pria itu berjalan ke halaman belakangnya, ia akan menemukan dua kandang ular kesayangannya.

"Hei Sasuke," beberapa menit setelah hening cukup lama, Naruto memanggil Sasuke tepat dari belakangnya. Hal itu membuat si raven berjengit kaget. Ketika ia membalikkan tubuhnya, ia hampir berteriak ketika moncong Manda berada tepat di depan hidungnya.

"Manda! Astaga!" Sasuke mengusap dadanya. Ia menatap tajam Naruto yang memberikan cengiran seperti biasa. Pria pirang itu malah sibuk mengusap-usap perut ular dengan garis kebiruan di perut itu dengan rasa tertarik. Ia mengalihkan pandangannya pada Manda. Ular mantan peliharaan Itachi itu malah terlihat senang dengan perlakuan Naruto kepadanya. Tentu saja hal itu membuat Sasuke cemburu. Manda ketika bersamanya terlihat tidak nyaman, nah ini, bersama orang asing yang baru saja ia kenal, langsung lengket seperti itu.

"Kembalikan Manda padaku!" Sasuke menarik ularnya dari gendongan Naruto. Tapi, Manda malah melingkarkan tubuhnya pada lengan Naruto. Sasuke mencebik.

"Ayo Manda, masuk kandangmu." Sasuke berusaha melepaskan lilitan ular itu dari lengan Naruto. Tapi, lagi-lagi Manda tidak merespon. Ia malah semakin mengencangkan lilitannya.

"Manda! Lepas tubuhmu! Kau bisa meretakkan tulang atasanku!" baru setelah Sasuke berteriak, Manda melonggarkan lilitannya. Ular itu dengan segera turun dari tangan Naruto, dan melata ke arah sofa. Melingkar di sana. Sasuke langsung mendekati ulah piaraannya.

"Kau boleh bermain dengan orang lain. Tapi jangan melilitnya seperti itu." Sasuke mengusap-usap kepala ular piton albinonya.

"Sas.." Sasuke menoleh ke arah Naruto. Ia tersenyum minta maaf ketika melihat lengan Naruto yang memerah. Pemuda raven itu menghembuskan nafasnya pasrah.

"Sebentar, akan kuambilkan kompres. Lebih baik kau temani Manda, dan pastikan ularku itu tidak melilitmu lagi." Sasuke segera beranjak pergi, meninggalkan Naruto yang duduk sembari mengusap lengannya yang memerah-bahkan ada beberapa bagian yang membiru.

"Kau benar-benar ular yang bersemangat." Naruto mengusap Manda dengan lembut. Membuat ular itu nyaman.

"Hei, Manda, apa menurutmu aku bisa mengambil hati Sasuke?" tanya Naruto kepada ular piton albino itu. Si ular hanya mendesis-desis sambil menjulurkan lidahnya. Dan itu dianggap tanda setuju.

"Tapi, dia itu judes dan tsundere sekali kalau denganku.." Naruto mencibir. Sementara Manda kembali menjulurkan lidahnya.

"Mungkin aku harus sabar." Pasrah Naruto.

"Naruto, luruskan tanganmu. Aku akan mengompresnya sebentar. Maaf kalau harus kuperban. Manda kalau melilit itu kuat sekali." Sasuke datang membawa satu baskom air hangat. Dengan cekatan, ia meluruskan tangan Naruto, mengompresnya dengan air hangat, dan dioleskan dengan merata.

Sasuke mendiamkannya beberapa menit sembari meracik bahan pereda nyerinya. Ia membasahi kapas dengan salep pereda nyeri, lalu menempelkannya ke lengan Naruto.

"Tahan dengan tanganmu." Naruto menurut. Pria pirang itu memperhatikan Sasuke yang membebatkan perban di lengan kirinya. Ia mengulas senyum lembut. Terlebih, wajah Sasuke sangat dekat dengan dirinya. Ia mengerling pada Manda dan menyeringai tipis.

'Sepertinya kerja samaku dengan Manda sangat berhasil'

...

Malam harinya, Sasuke berangkat ke kantor. Ia mendapat shift malam kali ini. Malam ini mungkin ia tidak akan pulang, mengingat seharian ini ia belum menjenguk Juugo karena atasannya yang luar biasa modusnya. Sasuke baru saja menyadari itu ketika Naruto tidak pulang-pulang sejak siang tadi ia meminta pulang ke rumah. Tapi, syukurlah Naruto pamit pulang ketika ia mendapat telepon dari Ketua Kepolisian Yokohama. Meskipun dalam hatinya ia merasa tidak nyaman ketika Naruto pamit. Entah kenapa.

Ia memarkirkan sepeda motornya di parkiran kantor. Ia mengernyit ketika melihat kerumunan polwan baru di dekat pintu masuk. Sasuke melirik arlojinya. Pukul tujuh malam. Mungkin, ada seseorang yang datang melapor karena kasus tertentu. Akhirnya, ia memutuskan untuk mendekati kerumunan itu. sekedar ingin tahu.

"Sasuke!" pemuda raven itu berbalik arah ketika seseorang memanggilnya. Ia mendapati Karin yang tersenyum manis ke arahnya. Wanita Uzumaki itu melambai ke arahnya. Sasuke hanya mengernyit. Dirinya tidak bisa menahan penasarannya ketika wanita itu berjarak satu langkah darinya.

"Kau sudah sehat? Kenapa kau masuk?" tanya Sasuke, sedikit bingung.

"Sas, aku tahu kau itu pendiam. Tapi, bisakan kalau kau itu memanjangkan sedikit kalimatmu? Ambigu, tahu."decih Karin.

"Hn." Dan Sasuke hanya mengangguk. Ia menepuk bahu Karin dan menunjuk kerumunan para polwan dengan penasaran.

"Sasuke, lebih baik kita pergi." Karin langsung menarik Sasuke menjauhi kerumunan. Pemuda raven itu hanya mengangguk meski di dahinya tercetak kerutan bingung.

"Uchiha Sasuke, hisashiburi!" suara seseorang yang cukup familiar di telinganya membuat Sasuke menoleh, meski tangannya terus ditarik oleh Karin. Wanita berambut merah itu mendengus kesal ketika melihat saudara sepupu berambut raven itu.

"Mau apa kau dengan Sasuke?" Karin menatap Menma tidak suka. Pria Namikaze itu menatap sepupunya yang menatap tajam ke arahnya. Tampak tidak bersahabat.

"Kau terlalu ketus padaku, Karin-chan." Menma menyeringai. Membuat kerumunan polwan yang berdiri di depan pintu utama kantor tersipu malu. Secara, Menma itu seperti versi badas dari Ketua Kepolisian Kyoto yang jelas pria baik-baik. Yah, begitulah wanita.

"Mau apa kau kesini? Kalau tidak ada urusan pergi saja." Kata Karin. Nada yang ia gunakan begitu dingin. Tapi, pria Namikaze itu menyeringai licik. Ia tertawa kecil ketika melihat sepupunya menatap tidak suka ke arahnya.

"Urusanku dengan seseorang di sebelahmu." Kata Menma singkat. Ia tersenyum ke arah Sasuke yang hanya menatapnya datar. Karin saat ini merasa emosinya sudah berada di ubun-ubun dan siap meledak kapan saja. Tergantung bagaimana pria yang berstatus sebagai sepupunya ini bersikap.

"Bisa tinggalkan kami berdua? Oh, ya. aku perlu bantuanmu untuk membubarkan kerumunan gadis-gadis cantik itu." Menma melirik kerumunan para polwan dan mengerling ke arah mereka. Membuat blushing mungkin menjadi hobi Menma.

Karin masih terlihat tak setuju. Ia menoleh ke arah Sasuke. Memberi kode apa yang harus dilakukan. Sasuke melepaskan tangan Karin dari lengannya. Ia mengangguk samar.

"Kabuto senpai menunggumu. Menma ada urusan denganku. Jadi, biar aku yang menyelesaikannya." Kata Sasuke, tidak mau memperpanjang masalah Karin.

"Sasuke?!" Karin akan protes lebih banyak, ketika Sasuke mendorong bahunya pelan.

'tidak apa-apa' dan akhirnya, wanita berambut merah itu beranjak pergi. Meninggalkan Menma dan Sasuke yang masih berdiri berhadapan.

"Aku perlu waktu untuk bicara padamu." Kata Menma. Ia menatap Sasuke yang masih diam. Tidak merespon. Pemuda raven itu akan merespon ketika Menma menggenggam tangannya.

"Tidak di sini."

...

"Naruto-nii!" Karin berlari mendekati Naruto yang tengah berbincang dengan Sai. Pria pirang itu tidak siap ketika Karin menerjangnya begitu saja. Sai yang melihat sikap Karin tersenyum maklum. Ia mengode Naruto untuk undur diri. Dan atasannya itu menyetujui permintaannya.

"Oke, jelaskan padaku kenapa kau lari menerjangku seperti itu." kata Naruto, sedikit jengkel. Karin melepas rangkulannya dan mengatur nafasnya. Berlari dari halaman depan sampai lantai dua kantor memang melelahkan. Terlebih, Kantor Polisi Kyoto ini tidak menggunakan lift.

"Sasuke tengah bicara dengan Menma!" kata Karin di sela-sela ia mengatur nafas.

Mendengar kalimat sepupunya, Naruto langsung panik. Ia menepuk bahu Karin sejenak, lalu berlari seperti orang kesetanan. Ia tidak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan oleh saudara kembarnya itu. terlebih lagi, ia baru saja menerima email dari Menma beberapa hari yang lalu tentang kejutan di dua tempat. Satu, ia sudah mendapat peringatan di Yokohama. Dan sekarang, ia yakin, kejutan kedua akan ada di Kyoto.

Piiiip! Piiiip!

"Halo, Kakashi?! Ada apa kau meneleponku di saat seperti ini? Aku tidak ada waktu-"

"Kaasanmu masuk rumah sakit,"

"Apa? Memang Kaasan kenapa? Jelaskan padaku dengan singkat dan jelas," Kata Naruto.

"Mobilnya disabotase ketika pulang dari seminar di kampus,"

DEG

"Aku akan ke Yokohama malam ini juga." Dan Naruto mematikan ponselnya. Ia urungkan niatnya untuk bertemu dengan saudara kembarnya. Mungkin, pria yang identik dengan dirinya sudah mendengar kabar tentang sang ibu.

"Sasuke, semoga kau baik-baik saja di tangan saudaraku." Naruto berlari menuju parkiran kendaraan yang berada di dekat halaman samping kantor. Ia merogoh kunci mobilnya di saku celananya. Dengan kalang kabut, ia mengendarai mobilnya menuju Yokohama. Tiga jam perjalanan mungkin akan ia persingkat menjadi satu jam.

"Gomenasai, Sasuke." Pria pirang itu memasrahkan nasib Sasuke. Meski ia segan dengan Menma, tapi ia tahu kalau Menma tertarik dengan pemuda raven itu. dan meskipun hatinya terasa terbakar, ia harus mengambil pilihan. Ibunya berada di rumah sakit dengan kasus sama persis dengan kasus kematian keluarga Sasuke. Bagaimana ia bisa tenang kalau seperti itu?

"Karin, beritahu semua petugas shift malam untuk waspada. Kita tengah bersiap dengan kejutan dari Akatsuki." Setelah menutup sambungan teleponnya, Naruto mengendarai mobilnya bak pembalap profesional. Ia mengambil jalan pintas melalui daerah pantai. Tempat Sasuke dan rekan setimnya terkena insiden.

Pria pirang itu mendengus kesal. Akatsuki benar-benar ingin bermain dengannya. Naruto menyeringai. Mereka belum tahu siapa ia sebenarnya. Ia pernah mendengar komentar dari Otousannya...

Kalau Naruto lebih berbahaya daripada Menma

...

"Sepertinya cukup sampai di sini saja, ya, aku bicara. Sudah jam setengah sembilan dan aku harus pergi ke Yokohama. Kaasanku sakit." Menma tersenyum tipis ke arah Sasuke yang menatapnya nanar. Menma tertawa kecil. Ia memajukan tubuhnya ke arah Sasuke.

"Jangan coba-coba." Sasuke mengeluarkan pistol dari sarung di ikat pinggangnya. Ia mengacungkan handgun miliknya tepat di dahi Menma.

"Aku hanya ingin melakukan apa yang ingin kulakukan." Memna mengendikkan bahu, seolah tidak peduli dengan keadaan Sasuke yang tengah gamang. Tapi, pria saudara kembar Naruto itu tidak mengalihkan pandangannya dari polisi baru itu.

"Singkirkan tanganmu dari pinggangku." Desis Sasuke berbahaya. Ia menatap tajam ke arah pria yang duduk di kursi kemudi.

"Kau terlalu agresif, Suke-chan~" nada suara yang digunakan Menma membuat Sasuke langsung memasang siaga satu dengan keadaannya. Ia melepas sabuk pengamannya dan berniat membuka pintu mobil, sebelum Menma menahan tangannya.

"Lepaskan aku Namikaze Menma-san. Kau benar-benar berbeda dengan Naruto." Kata Sasuke dengan berani. Ia menatap tidak suka ke arah Menma yang posisinya jelas sangat menguntungkan. Pria Namikaze itu berada tepat di atas tubuhnya!

"Tidak secepat itu, sayang.." dan hal selanjutnya benar-benar tidak terduga oleh Sasuke. Pria Namikaze itu mendekatkan bibirnya ke bibir Sasuke. Melumatnya perlahan. Refleks, Sasuke langsung mendorong pria di atasnya dengan kasar. Sasuke dengan cepat menusuk Menma di lengan dengan pisau lipat yang dibawanya. Ia menggoresnya cukup tajam.

"Ini balasanku untukmu setelah luka yang kualami tiga bulan yang lalu." Sasuke menahan suaranya untuk tidak bergetar.

"Sasuke.." Sasuke tidak menghiraukan pria di sampingnya itu. ia membuka pintu mobil dan menyetop taksi yang kebetulan lewat. Ia benar-benar tak habis pikir dengan kejadian yang menimpanya dalam waktu satu hari ini.

Di dalam taksi, ia hanya duduk termangu. Matanya mungkin sibuk memperhatikan keramaian kota Kyoto pada malam hari, tapi hati dan pikirannya melayang pada pagi dan kejadian yang baru saja terjadi. Bagaimana bisa ia menjadi korban dalam hal yang sangat konyol seperti ini?

Tadi pagi, seorang Namikaze Naruto menciumnya. Lalu, malam harinya, seorang Namikaze Menma, juga menciumnya. Apa ia serendah itu, hingga dua pria bermarga Namikaze mampu memperlakukannya seperti murahan? Dia adalah Klan Uchiha. Keluarga yang memiliki harga diri tinggi. Bagaimana ia bisa dilecehkan seperti ini?

Sasuke merasakan kepala mulai pusing. Oke, untuk beberapa jam ini, ia harus mengistirahatkan pikirannya. Sasuke mengeluarkan ponselnya dari saku. Mengirim sms absen kepada Karin. Setelah bunyi delieve berbunyi, Sasuke dengan segera mematikan ponselnya hingga mencabut baterai serta sim card tengah tidak stabil malam ini.

"Tuan, Kemana tujuan anda saat ini?" sopir taksi itu menyela Sasuke dengan hati-hati. Takut menyinggung penumpangnya.

"Tolong antar saya ke Pemakaman Militer Nippon." Sasuke berusaha mengatur nada suaranya agar tidak terdengar parau. Ia menghela nafasnya sejenak, lalu menyenderkan kepalanya di sandaran kursi. Mungkin, bercerita kepada orang yang kau sayangi, mampu mengurangi beban mental yang menghujamnya cukup keras.

...

"Kaasan!" pintu kamar nomor 203 itu terbanting dengan keras karena Naruto terburu-buru masuk. Ia melihat Kushina-ibunya yang tersenyum ke arahnya. Ia menoleh ke arah Tousannya. Minato tengah tertidur dengan pakaian kantor.

"Tousan.."

"Sssttt, jangan berisik. Tousanmu sudah menjaga Kaasan sejak kemarin. Jadi, yah, Tousanmu belum tidur sama sekali. Biarkan dia istirahat." Kushina membuat gestur diam dengan jari telunjuk tertempel di bibir. Naruto menghela nafasnya lega.

Pria pirang itu mendekati kaasannya. Ia mendudukkan diri di kursi di samping ranjang sang ibu. Ia menggenggam tangan kiri Kushina sembari diusapkan ke pipinya. Berusaha meredam amarahnya karena perbuatan Akatsuki. Ia tidak akan membiarkan kejadian seperti ini terulang lagi.

"Bagaimana keadaan Kaasan? Apa sudah merasa lebih baik? Kenapa Kaasan tidak memberitahuku atau Menma?" cecar Naruto. Pria pirang itu menjadi sangat cerewet ketika berurusan dengan sang ibu.

Kushina tertawa kecil sebelum ia menjawab, "Kaasanmu baik-baik saja. Hanya retak di kaki kanan, tidak ada yang parah. Tousanmu memberitahu Kakashi. Ia ingin kau dan Menma datang ketika suasana membaik."

"Kenapa Menma belum datang?" tambah Kushina. Naruto hanya diam. Tidak mampu menjawab pertanyaan Ibunya. Ia tidak mungkin mengatakan kalau hubungannya dengan saudara kembarnya itu memburuk akhir-akhir ini. Naruto tahu sifat Kushina. Tipikal ibu yang tidak bisa diam melihat anaknya tidak rukun.

"Tadaima," dan suara huski itu menyeruak di antara Naruto dan Kushina. Menma datang dengan pakaian santai. Celana jeans dan kaos putih serta jaket hitam. Tidak seperti Naruto yang masih berpakaian dinas.

"Naruto, kau belum mengganti seragammu. Ini, kubawakan ganti." Menma melemparkan sebuah kantong kertas berisi pakaian. Naruto menangkapnya. Ia melirik isi dari kantong kertas tersebut.

"Thanks." Ucapnya singkat. Menma mengangguk.

Sembari menunggu Naruto di kamar mandi, Menma dan Kushina menceritakan banyak hal. Pria Namikaze itu tersenyum tipis ketika Kushina menceritakan tentang Naruto yang kalang kabut ketika mendengar kabar ia kecelakaan. Sulung Namikaze itu sesekali menambahi cerita sang ibu sembari menyuapinya melon.

"Sepertinya kalian asyik tanpaku." Kata Naruto sembari mengendikkan bahu. Kushina tertawa pelan. Ia menepuk kursi di sebelah Menma. Naruto menghela nafasnya sejenak, lalu duduk di samping saudaranya.

"Kami membicarakanmu. Kaasan khawatir dengan rencanamu yang akan memburu Akatsuki." Kata Menma santai. Hal itu sontak membuat Naruto menoleh ke arah kembarannya.

"Maksudmu?" pria pirang itu berusaha menekan emosinya yang terasa menggelegak.

"Ya, Kaasan khawatir dengan teror yang diterima Kepolisian Yokohama beberapa waktu lalu. Aku tidak ingin hal itu terjadi di kantormu juga, Naruto." Menma tertawa kecil. Ia kembali menyuapi melon kepada sang ibu.

"Semoga organisasi bernama Akatsuki itu bisa diringkus habis-habisan, supaya tidak merepotkan pria pirangku ini." Kushina berkata dengan penuh keyakinan. Menma hanya menatap datar kaasannya yang terlalu berlebihan.

Tanpa menyadari kalau Naruto mengepalkan tangan kanannya yang berada di samping kaki Kushina. Ia terus memperhatikan Menma yang tengah sibuk menyuapi ibunya.

'Andai saja Kaasan tahu, kalau orang yang menjadi targetku, adalah putra sulungmu, apa yang akan kau lakukan, Kaasan?'

'Terlebih, dia adalah orang yang paling dekat denganku setelahmu...'

...

Sasuke tiba di pemakaman militer pukul delapan malam. Ia meminta izin kepada penjaga makam untuk masuk. Pria tua pensiunan tentara itu tersenyum ramah. Memberi izin kepada pemuda raven yang datang dengan membawa sebuket bunga berpita hitam.

Pemuda raven itu berjalan menyusuri undak-undakan yang cukup panjang. Ia menikmati angin malam yang berhembus dengan tenang menyapu rambutnya. Ketika tiba di persimpangan jalan, ponsel Sasuke berbunyi. Pesan dari Ketua Lee.

From : Ketua Lee

Pastikan jam sebelas malam kau sudah tiba di kantor.

Sasuke tidak membalasnya. Ia hanya mengangguk dan meneruskan jalannya. Ia berbelok ke arah kanan. Menuju tempat yang jarang didatangi orang. Makam polisi dan militer.

Namun sejenak, Sasuke menghentikan langkahnya. Dari kejauhan, ia bisa melihat seseorang tengah berjongkok di dekat makam kakak laki-lakinya. Seseorang yang Sasuke kira perempuan itu memakai jeans hitam dan jaket cokelat milik kakaknya. Tunggu, jaket cokelat?

...

"Aniki, kau beli jaket yang baru?" Sasuke mengamati jaket yang teronggok begitu saja di kasur kakaknya. Pria yang lebih tua dari Sasuke itu keluar dari kamar mandi. Ia melilitkan handuk di pinggang, lalu mendekati Sasuke yang tengah mencoba jaket cokelat itu.

"Hn. Jaketnya bagus, kan?" tanya Itachi. Pria Uchiha itu menyentil dahi adiknya. Membuat Sasuke mencubit pinggang Itachi.

"Jangan mencubitku, kau itu kalau mencubit luar biasa sakitnya." Dengus Itachi.

"Biarin." Dan Sasuke mematut dirinya di depan cermin. "Jaketnya bagus. Tidak terlalu kaku dan tidak membentuk tubuh. Wah, aniki pandai memilih. Ini untukku, boleh?"

"Thank's. Tapi, ini bukan untukmu."Itachi melepas jaket yang dikenakan adiknya.

"Ini urusan orang dewasa." Dan Itachi mengerling jahil ke arahnya. Pria Uchiha itu melipat jaketnya dengan rapi, lalu memasukkannya ke dalam kotak berwarna biru.

"Jelaskan ciri-ciri orang yang akan mendapat jaketmu. Dia pasti buta karena kenal orang sepertimu." Sasuke menatap tidak suka ke arah Itachi. Pria itu tertawa kecil. Ia menjatuhkan dirinya di ranjang dengan menarik pinggang adiknya.

"He! Kau kalau menghina tajam sekali, sih? Kau penasaran dengan orang buta yang kenal denganku itu?" tanya Itachi.

"Tentu. Akan kubuat ia kembali sehat dengan tidak bersamamu. Aku tidak bisa memikirkan bagaimana kalian berdua. Kalau orang itu tahu tabiat kakak yang sebenarnya, pasti sangat mengerikan." Bibir Sasuke melengkung membentuk seringai.

"Hentikan seringaimu itu. Kau mengerikan." Komentar Itachi.

"Cepat beritahu aku." Dan Sasuke kembali dalam mode tsunderenya.

"Oke. Dia berambut merah panjang, dan bermarga Uzumaki." Kata Itachi. Ia terkekeh melihat Sasuke yang diam. Mengernyit tidak suka.

"Kau tidak memberi tahu namanya?" tuntut Sasuke. Pria dengan rambut terikat longgar itu mendengus.

"Kuberi tahu kalau aku sudah resmi dengannya." Dan pembicaraan itu diakhiri dengan kerlingan Itachi.

...

Sasuke terdiam. Keringat dinginnya mengalir dengan deras. Ia memutuskan untuk mencari tempat sembunyi yang cukup aman untuk mengintai. Ia bersembunyi di dekat semak-semak. Memperhatikan seseorang yang seperti tengah menangis, hingga seseorang itu menancapkan pisau lipat ke pusara Itachi, bangkit berdiri, dan beranjak pergi. Meninggalkan Sasuke yang keheranan.

Setelah merasa cukup aman, pemuda raven itu mendekati pusara kakaknya. Ia meletakkan setangkai bungai mawar putih, lalu meletakkan buketnya di pusara sang ayah yang terletak berdampingan. Ia tersenyum ke arah dua pusara itu.

"Aniki..." Sasuke merasa tenggorokannya tercekat. Tidak bisa mengeluarkan suara.

"Otousan..." ia mengepalkan tangannya erat-erat dan menggigit bibirnya.

Pisau lipat yang tertancap di pusara Itachi mengalihkan perhatiannya. Ia berjongkok dan mengambil gagang pisaunya.

"Kuil Shinai?" dahinya berkerut ketika membaca tulisan yang terukir di gagangnya. Mungkin orang itu tinggal di dekat kuil Shinai dekat dengan Desa Konoha. Tunggu, Desa Konoha?

...

TBC

Setelah berhari-hari menghilang, akhirnya saya muncul lagi. Maaf sekali kalau chapter ini tidak sesuai dengan harapan. akhir-akhir ini, saya disibukkan dengan tahun ajaran baru. dan, yeah suasana baru. dan kalau gaya bahasaku rada beda, maaf kalau jadi nggak nyaman. terima kasih.

Silakan bagi yang mau review