Disclaimer © Fujimaki Tadatoshi

WARNING: OOC, AU, Typo, Fem!Kagami, OC(s)

.

.

.

"Daiki bawain bekal gue, ntar gue susul," Kagami berkata sambil meletakkan bekalnya ke meja Aomine.

"Mau kemana lu?" tanya Aomine sambil membuka kotak bekal Kagami.

Kagami menggeplak kepala Aomine. "Jangan dimakan! Gue mau ke ruang OSIS buat liat pengumuman siapa yang diterima jadi anggota," Kagami kemudian menghilang dari pandangan Aomine.

Aomine kemudian dengan berat membawa dua kotak makan siang ke atap sekolah tempat dimana mereka sering menghabiskan jam istirahat mereka. Setelah sampai, Aomine duduk di tempat teduh untuk segera menikmati makan siangnya. Tanpa menghiraukan peringatan Kagami, Aomine membuka kotak bekal Kagami yang lebih besar dan lebih banyak isinya dari punyanya. Aomine sudah memakan tiga buah sosis berbentuk bunga ketika tiba-tiba aura gelap mengerubunginya.

"Taiga?" Aomine menanyai Kagami yang berjalan dengan pundak merosot dan sangat pelan seperti zombie di film-film horor. Kagami yang sudah mendekati Aomine kemudian mendudukkan bokongnya di sebelah Aomine.

"Napa lu?" Aomine mencoba bertanya ke Kagami yang memadang Aomine dengan pandangan mata kosong. Aomine bahkan bisa melihat jiwa Kagami keluar dari mulutnya.

"Heh—!" Aomine segera menjejalkan sosis di sumpitnya untuk mencegah jiwa Kagami keluar dari tubuhnya.

"Napa lu? Oi!" Aomine mengguncang-guncang tubuh Kagami untuk menyadarkan cewek yang sedikit lebih tua darinya itu.

"Nama gue nggak ada," Kagami akhirnya menjawab pelan yang membuat Aomine mendekatkan kepalanya agar mendengar Kagami lebih jelas.

"Apaan?"

"Nama gue nggak ada," Kagami mengulangi masih dengan setengah jiwa.

Aomine mengangguk-angguk. "Yah lu belum beruntung, coba lagi tahun depan," Aomine dengan entengnya memberi saran. Aomine kemudian akan kembali makan siang sebelum macan betina menerjangnya yang membuatnya terjengkang ke belakang dan menjatuhkan bekalnya dengan Kagami mencekik lehernya.

"Hah tahun depan? Tahun depan lu bilang? Ini kesempatan terakhir gue buat deketin Midorima dan lu bilang buat coba lagi tahun depan?" Kagami berteriak tepat di depan muka Aomine.

"Sakit Baka, lepasin…" Aomine mencoba melepaskan tangan Kagami di lehernya.

"Tahun depan kita udah kelas tiga, udah nggak ada waktu buat main-main dan pasti akan sibuk ujian-ujian, lu pikir tahun depan masih bisa?!" Kagami tidak menghiraukan permohonan Aomine untuk berhenti mencekiknya.

"Oke oke gue minta maaf! Lepasin gue, gue mau mati…" Aomine bisa merasakan nyawanya mengucapkan selamat jalan satu persatu.

Kagami akhirnya melepaskan Aomine dan mojok dengan memeluk lututnya yang tertekuk. Aomine kemudian mengawasi teman sejak bayinya itu dan menyumpit nugget ayam. "Oooi Baka, makan yuk…" Aomine mengarahkan sumpitnya ke mulut Kagami. Kagami melirik Aomine sebelum membuka mulutnya dan menerima suapan Aomine.

"Kampret ada pasirnya!" Kagami cepat-cepat meminum air di botolnya.

"Tadi waktu lu nyekik gue isinya jatoh," Kagami membelalakkan matanya ke Aomine. "Jadi daripada buang-buang makanan gue suapin ke lu aja. Lu kan belum makan siang," dan Aomine KO setelah Kagami menonjoknya.

.

Kagami pulang sendirian dengan langkah gontai. Biasanya dia pulang bareng Aomine tapi yang bersangkutan tertangkap oleh Momoi makanya dia dipaksa untuk latihan basket. Kagami menghela napas. Padahal dia sudah menantikan saat-saat menjadi salah satu anggota OSIS, bukan karena dia cinta sekolah dan ingin membuat sekolahnya menjadi lebih baik atau omong kosong yang lainnya tapi karena dia akhirnya bisa bekerja sama dengan Midorima paling tidak seminggu sekali kalau ada rapat OSIS. Selama masa sekolahnya dia tidak pernah sekelas dengan Midorima sekalipun. Malah sialnya, mulai dari TK, SD, SMP (kecuali kelas delapan) sampai SMA sekarang dia selalu sekelas dengan Aomine. Ini adalah kesempatan terakhirnya tapi dia malah tidak masuk menjadi anggota yang akan bekerja dibawah Midorima.

Kagami melihat jam tangannya sudah menunjukkan pukul tiga sore. Orang tuanya sedang tidak di rumah sekarang berarti nanti dia akan ikut makan malam di rumah Aomine. Ketika Kagami akan mengambil smartphonenya dan menanyakan mamanya kapan mereka akan pulang, ada seseorang yang memanggil namanya. Kagami menoleh dan melihat Midorima berlari ke arahnya. Dia sudah mengenakan seragam basketnya dengan peluh yang bercucuran.

"Kagami," Midorima tiba di depan Kagami dan mengambil napas sebentar.

"Hai," kata Kagami mencoba mencari tahu apa yang Midorima inginkan.

"Aku dengar ibumu orang Amerika?"

Kagami mengerutkan kening, apa yang diinginkan Midorima dengan tanya soal ibunya?

"Kenapa?" Kagami bertanya heran.

"Kamu bisa bahasa Inggris?"

"Maksudmu dalam pelajaran?" Kagami memastikan, meskipun dia lancar berbicara karena mamanya sudah mengajarinya sejak dia kecil, kalau dalam pelajaran dia masih mendapat nilai di bawah rata-rata.

"Tidak perlu dalam pelajaran tapi kamu lancar berbahasa Inggris kan?"

Kagami mengangguk.

"Bagus. Kita ternyata masih kekurangan anggota jadi kamu diterima menjadi anggota OSIS. Kamu bisa membantu di seksi bahasa Inggris nanti," Midorima menjelaskan dan memperbaiki kacamatanya.

Kagami menarik napas kaget. "Benarkah?"

"Ya," Midorima mengangguk.

"Oh makasih makasih makasih," seru Kagami dengan gembira dan tanpa berpikir dia maju dan memeluk Midorima. Kagami baru sadar perbuatannya ketika orang di pelukannya menjadi kaku. Kagami mendongak dan melihat Midorima mukanya memerah dan menunduk melihat Kagami. Kagami kemudian cepat-cepat melepaskan pelukannya dan membuang mukanya yang terasa panas.

"Ehem jadi…" Kagami mengutuki dirinya sendiri.

"Jadi besok adalah rapat rutin pertama OSIS, jangan lupa untuk datang," kata Midorima cepat. "Oke aku harus pergi."

"Oke aku akan datang besok!" teriak Kagami ke punggung Midorima yang menjauh. Kagami kembali mengeluarkan smartphonenya kali ini untuk memberitahu Aomine kalau dia berhasil menjadi anggota.

.

.

.

"Baka ayo pulang sebelum Satsuki nemuin gue," Aomine berkata sambil mencangklong tasnya.

"Oh lu pulang aja dulu, gue ada rapat," jawab Kagami.

Aomine memincingkan matanya ke Kagami yang berbunga-bunga. Kemarin semalam suntuk Kagami tidak mau diam soal dia yang diterima menjadi anggota OSIS dan Midorima sendiri yang memberitahunya. Aomine sampai harus menyeret Kagami untuk pulang agar akhirnya dia bisa mendapat ketenangan.

"Ciee jadi anggota OSIS," Aomine mencie-ciekan Kagami.

"Berisik!" Kagami kemudian segera bergegas menuju ruang OSIS.

"Haaah gue harus pulang sendiri," gumam Aomine dan berjalan keluar kelas untuk pulang.

.

"…jadi aku harap kita semua bisa bekerja bersama dan saling membantu. Tidak ada ketua atau wakil ketua atau anggota disini, kita semua adalah teman yang sedang belajar bersama. Mohon kerja samanya." Midorima membungkuk setelah selesai melakukan pidatonya sebagai ketua dan untuk membuka rapat kali ini.

"Mohon kerja samanya!" semua anggota membalas membungkuk dan Kagami berseru paling keras diantara yang lain yang membuat anak disebelahnya memandangnya aneh.

"Baik, sebelum rapat dimulai mari berdoa agar rapat kali ini berjalan lancar, berdoa dimulai," Semua orang menundukkan kepala untuk memulai berdoa. "Berdoa selesai, sekarang kita akan rapat mengenai ulang tahun sekolah yang akan sebentar lagi dilaksanakan…"

Kagami hanya tersenyum-senyum selama rapat dilaksanakan. Dia tidak menyangka akhirnya dia bisa seruangan dengan crush nya dalam waktu yang lama, Kagami tidak henti-hentinya berterima kasih kepada Tuhan Yang Maha Penyanyang. Di dalam seksi bahasa Inggris ini Kagami bersama satu anak laki-laki dan satu anak perempuan kelas dua dan satu anak laki-laki dan satu anak perempuan adik kelasnya. Kagami belum terlalu kenal dengan mereka tapi terserahlah yang penting dia bisa bertemu Midorima seminggu sekali selama rapat rutin.

"Jadi karena acaranya akan diadakan dua minggu lagi kita bisa mempersiapkan ide-ide untuk mengisi acara," Kagami mendengar suara Midorima memberikan intruksi. "Kalian semua bisa menyumbang ide padaku atau Yamanaka-san."

Kagami melihat orang yang ditunjuk Midorima, Yamanaka-san adalah wakil ketua. Kagami belum terlalu tahu tentang dia tapi Kagami yakin kalau dia adalah orang pintar. Mungkin dia sama Midorima bisa berdiskusi tentang pelajaran kalau tidak sedang rapat dan mereka bisa menghabiskan waktu bersama lebih banyak.

'Oh tidak,' Kagami berkata dalam hati, dia bisa punya saingan disini. Kagami kemudian menggelengkan kepalanya, dia tidak boleh berpikiran negatif sekarang.

"Nanti aku yang akan membeli perlengkapan untuk acaranya, tapi aku mungkin akan memerlukan bantuan. Siapa yang mau—"

"Aku!" Kagami dengan kecepatan cahaya mengangkat tangannya untuk mengajukan diri sebelum Midorima bahkan belum sempat menyelesaikan kalimatnya.

Midorima memandangnya heran dari seberang begitu pula dengan anggota-anggota yang lain. Kagami bisa merasakan wajahnya memerah tapi dia tetap mengangkat tangannya.

"Oke Kagami, kamu akan membantuku untuk membeli perlengkapan," putus Midorima. Kagami mengangguk dan menurunkan tangannya.

"Oke semuanya mengerti? Ada pertanyaan?" Midorima memandangi seluruh ruangan dan ketika tidak ada tanda-tanda akan ada yang bertanya Midorima menutup rapat. "Terima kasih sudah datang untuk rapat kali ini, sebelum kita menutup rapat mari berdoa dahulu, berdoa dimulai…"

Ketika berdoa selesai dan semuanya mengucapkan selamat tinggal, Kagami yang sedang mengambil tasnya dihampiri oleh Midorima.

"Hei,"

"Midorima? Ada apa?" Kagami bertanya, mendongak untuk menatap Midorima. Midorima ternyata sangat tinggi, mungkin bahkan lebih tinggi sedikit dari Aomine. Kagami yang 180 cm dan sudah paling tinggi dari cewek-cewek yang lain masih harus mendongak jika ingin melihat wajah Midorima.

"Kamu ada LINE? Nanti biar gampang kalau ada butuh," kata Midorima mengeluarkan smartphonenya.

"Oh ya," Kagami mengeluarkan smartphonenya dengan jantung berdetak kencang.

"Apa ID Line nya?" Midorima sudah mulai mengetik di smartphonenya.

"Um kagamitaiga, tanpa huruf kapital dan spasi," Kagami kemudian berkeringat dingin ketika dia mengingat profile photo nya adalah Aomine yang sedang tidur ngiler. Dia menggunakan itu untuk membalas Aomine yang menggunakan fotonya waktu masih TK dan ingusan beberapa hari yang lalu dan lupa untuk menggantinya. Kagami akan segera mengganti ketika tiba-tiba Midorima berkata lagi.

"Oke sudah aku add,"

"Oke, aku accept…." ternyata ketika Kagami mengaktifkan smartphone, dia mendapat notifikasi kalau baterainya low dan harus di charge. Pasti ini gara-gara si Ahomine, tadi dia menggunakan smartphone Kagami untuk main game. Kagami memastikan Aomine tidak punya nyawa lagi kalau dia pulang nanti.

"Oh maaf hapeku lowbat, nanti kalau pulang pasti langsung aku accept," Kagami berkata sedikit cemas.

"Oh ya nggak apa-apa," Midorima menjawab. "Kalau begitu aku pulang dulu."

"Oke hati-hati," Kagami melambai sambil tersenyum lebar.

.

.

.

Setelah pulang sekolah Aomine langsung menuju ke rumah Kagami. Tadi waktu si Baka tidak masuk, rasanya kelas menjadi sepi karena tidak ada yang teriak-teriak dan nyembur-nyembur di depan mukanya. Aomine tidak menyangka Kagami bisa sakit juga, cewek yang sering mengajaknya hujan-hujan dulu waktu mereka kecil. Aomine sampai di depan rumah tetangganya dan memencet bel. Tak lama kemudian wanita dengan rambut merah yang mirip Kagami membukakan pintu dan tersenyum ke Aomine.

"Ah Daiki-kun, mau menjenguk Taiga?" ibunya Kagami langsung menyuruh Aomine masuk.

"Iya, bagaimana keadaannya?" Aomine bertanya setelah membuka sepatunya.

"Panasnya sudah turun dibanding tadi pagi, langsung saja ke kamarnya Daiki-kun," Aomine mengangguk tapi sebelum dia akan menuju kamar Kagami, ibunya menepuk pundaknya dan tersenyum manis. "Jangan lupa pintunya dibuka…"

"O-oke," Aomine kembali mengangguk. Meskipun Aomine sudah biasa keluar masuk kamar Kagami, tapi orang tuanya selalu menyuruh untuk membuka pintunya agar mereka tidak melakukan yang anu-anu dibalik pintu yang tertutup. Ya kali Aomine mau melakukan yang anu-anu sama Kagami.

Aomine mengetuk pintu sekali dan memasuki kamar Kagami. "Baka, gue masuk nih…" gumamnya meskipun dia yakin kalau Kagami pasti sedang tidur.

Dan benar saja, dia bisa melihat Kagami tidur dengan selimut menutupi hampir seluruh tubuhnya dan pipinya yang memerah karena demam. Rambut panjang Kagami yang biasanya selalu dikuncir menjadi tergerai di sekeliling bantal yang ditidurinya. Aomine meletakkan tasnya di sudut dekat meja belajar Kagami dan menghampiri sahabatnya itu. Setelah mendekati ranjang Kagami, Aomine membungkuk dan meletakkan keningnya di kening Kagami untuk mengetahui suhu tubuhnya.

Tiba-tiba saja, mata Kagami terbuka dan Aomine bisa langsung melihat kedua bola mata merah Kagami.

"Daiki?" bahkan suara Kagami yang biasanya keras, sekarang menjadi lemah.

"Ternyata orang bodoh bisa sakit juga," komentar Aomine masih menempelkan keningnya.

"Jangan buat gue bangun dan nendang lu pulang," kata Kagami sebelum batuk-batuk yang membuat Aomine segera menjauhkan wajahnya dari Kagami.

"Sori sori…" kata Aomine kemudian duduk di bawah lantai di samping ranjang yang Kagami tiduri.

"Lu belum pulang ke rumah?"

Aomine mengistirahatkan kepalanya di dekat muka Kagami. "Belum. Abis pulang langsung kesini,"

"Kangen kan lu sama gue?" Kagami mencoba tersenyum sombong tapi terhalang oleh batuknya yang datang tiba-tiba.

"Lu kali yang kangen sama gue dan pingin cepet-cepet masuk agar bisa ketemu gue lagi," balas Aomine.

Kagami mengeluarkan suara muntah palsu. "Ngapain gue pingin ketemu lu kalo tiap hari udah liat wajah lu yang tidak sedap dipandang,"

"Bilang aja kalo gue ganteng," Aomine berkata narsis.

"Iya diliat dari belakang," kata Kagami.

Aomine mendecih. "Tadi Midorima nyariin lu,"

Kagami yang mendengar nama Midorima tiba-tiba langsung bangun dengan mata berbinar-binar. "Kenapa kenapa?"

Aomine memandang Kagami heran. "Langsung sembuh lu denger Midorima,"

"Berisik! Kenapa dia nyariin gue?"

"Katanya ada rapat mendadak sepulang sekolah jadi dia nyariin lu buat diajak rapat,"

"Oh..." Kagami kemudian kembali berbaring. "Kirain..."

Aomine memandang muka Kagami yang agak kecewa. "Lu udah minum obat belum?" tanyanya untuk mengalihkan pembicaraan.

"Udah." Kagami menjawab pelan.

"Ya udah istirahat sana, biar besok masuk dan bekal lu gue makan lagi," seringai Aomine.

"Kampret lu." tapi Kagami tetap memejamkan matanya dan menuruti perintah Aomine untuk istirahat.

Aomine duduk sebentar menunggui sampai Kagami benar-benar tertidur sebelum mengambil tasnya dan keluar untuk pulang.

"Cepet sembuh Baka." katanya sebelum keluar dan mengelus rambut merah Kagami.

"Daiki-kun sudah mau pulang?" Aomine dihadang oleh ibunya Kagami ketika dia sampai di ruang tamu.

"Iya, Taiga lagi tidur," jawab Aomine.

"Maaf tapi bisakah kau menjaga Taiga sebentar lagi, aku harus beli sesuatu. Sebentar saja please…" ibunya Kagami menangkupkan tangannya memohon.

"Baiklah." Aomine tinggal tidur disini daripada di rumah.

"Terima kasih, Daiki-kun mau makan malam apa nanti? Aku akan memasakkan spesial untukmu,"

"Umm terserah deh," jawab Aomine.

"Oke, bye-bye…"

Aomine pun kembali masuk ke kamar Kagami dan menggelar futon disamping tempat tidur Kagami untuknya tidur.

.

.

.

"Ada yang jatoh," Kagami mengambil sesuatu yang jatuh dari loker Aomine ketika mereka baru berangkat sekolah besama. "Eh surat cinta… lu dapet surat cinta nih,"

Aomine menerima surat dengan amplop warna merah muda dari Kagami dan segera membukanya.

"Dari siapa?" Kagami ikut melongokkan kepalanya untuk melihat surat di tangan Aomine.

"Kobayashi Yuuko?" jawab Aomine. "Lu tau siapa dia?"

Kagami menggelengkan kepalanya kemudian ikut membaca surat cinta Aomine. "Whoa dia ngajak lu ketemuan."

"Lu ikut ya ntar," Aomine menatap Kagami.

"Hah, ngapain gue ikut? Lu mau gue jadi obat nyamuk?"

"Obat nyamuk, semprotan nyamuk terserah lu. Yang penting lu ikut ya?" Aomine berjalan mengikuti Kagami yang sudah berjalan duluan menuju kelas.

"Nggak."

"Ayolah Taiga, ntar gue traktir Maji kalo pulang," Aomine mencoba membujuk.

"Nggak." Kagami mencoba melepaskan Aomine yang sudah mulai menggelayuti lengannya.

"Um… kalo gitu gue kerjain PR lu selama seminggu,"

"Lu mau bikin nilai gue tambah jeblok lagi?"

"Taiga…"

"Kagami-senpai!"

Mereka berdua berhenti dan menengok melihat siapa yang memangil Kagami.

"Suzuki?" Kagami mengamati adik kelasnya dan salah satu anggota di seksi bahasa Inggris OSIS, cowok enerjetik dengan rambut pirang cerah.

"Senpai udah dapat bagian tugas buat acara ulang tahun?" tanya Suzuki.

"Udah, nggak ada perubahan kan?"

"Nggak, kemarin—"

"Eh lu Minggu ada acara nggak?" Aomine secara tiba-tiba memotong kalimat Suzuki.

"Hah?" Suzuki gantian memandang Aomine.

"Minggu ada acara nggak? Kalo nggak ada temenin Taiga keluar,"

"Aho—!"

"Oh ya aku nggak ada acara," Suzuki menjawab dengan semangat. "Kagami-senpai mau kemana?"

"Nggak kemana—"

"Green Garden, lu tahu kan? Ntar lu langsung kesana aja sekitar jam 9." Aomine menjawab.

"Oh oke."

Kagami akan membantah tapi bel tanda masuk sudah berbunyi dan Suzuki pamit untuk kembali ke kelasnya.

"AHOMINE!"

Aomine tanpa basa-basi segera berlari sekuat tenaga sebelum mendapat terkaman dari macan yang sedang mengamuk.

.

"Balikin! Balikin! Balikin! Balikin! Balikin!" Kagami sedang berada di tengah-tengah nggebukin Aomine menggunakan tutup kotak makan siang buat mengembalikan sumpitnya ketika ada seseorang menghampiri mereka.

"Aomine-kun?"

Mereka berdua menghentikan perang mereka untuk melihat siapa yang memanggil Aomine. Cewek ini berparas cantik dengan rambut hitam panjang tergerai dengan hiasan pita merah muda di kepalanya. Dia juga mempunyai kaki jenjang dengan kaos kaki selutut.

'Tipenya Aho banget nih,' kata Kagami di dalam hati ketika melihat dada si cewek.

"Ya?" Aomine membalas masih sambil memakan bekalnya Kagami.

"Eh itu… a-aku yang mengirimu surat tapi pagi," mulainya. "K-Kamu sudah membacanya?"

"Oh udah." Lagi-lagi Aomine menjawab sambil lalu. Kagami ingin menggeplak Aomine karena tidak peka.

"Jadi kamu mau berkencan denganku Minggu nanti?"

"Ya, ketemuan di Green Garden kan? Gue langsung tunggu disitu ntar,"

"Oke, terima kasih." cewek itu membungkuk dan melirik Kagami yang duduk di sebelah Aomine sebelum berlari pergi yang ternyata sudah ditunggu teman-temannya yang lain.

"Gue kayak pernah liat dia," kata Aomine memandangi kepergian Kobayashi Yuuko.

Kagami berpikir sebentar sebelum kemudian mengingat sesuatu. "Iyalah dia kan kapten tim cheerleader. Gue bakal heran kalo lu nggak pernah liat dia,"

"Ya gue kan cuman murid biasa bukan murid hits jadi nggak tau anak-anak populer,"

Kagami memutar bola mata mendengar jawaban Aomine. "Tim cheerleader kan juga latihan kalo tim basket latihan. Makanya jarang sering bolos,"

"Meskipun sering bolos tapi tetep the only one—"

Kagami keburu menutup mulut Aomine dengan onigiri sebelum dia sempat menyelesaikan kalimatnya.

.

.

"Taiga, you wanna come with me to mall?" ibunya melongokkan kepalanya ke kamar Kagami ketika dia sedang bersiap untuk menjadi obat nyamuk si Aho. Untung masih ada Suzuki yang bisa diajak pergi kalau Aomine sedang kencan bareng ceweknya.

"No sorry Mam, I already have plan with Daiki," tolak Kagami.

"Oh okay then," ibunya menghampiri Kagami. "Are you guys on a date?"

"What? No!" Kagami menjawab cepat. "I only accompany him to Green Garden and then we part ways."

"Why?"

"You don't need to know," jawab Kagami kemudian keluar dari kamarnya untuk menjemput Aomine yang mungkin masih tidur meskipun Kagami sudah memberinya pesan berkali-kali. "Okay I'm off. Bye Mam." Kagami kemudian mencium pipi ibunya sebelum berangkat.

"Be careful!"

"Bye Pap." Kagami pamit ke papanya ketika melewati ruang makan dan papanya sedang sarapan.

"Mau kemana?" tanya papanya.

"Keluar bentar." jawab Kagami sambil lalu dan menuju rumah Aomine disebelah rumahnya.

Ayahnya Aomine membukakan pintu ketika Kagami selesai mengetuk. "Hai Taiga-chan, mencari Daiki?"

"Ya, dia masih tidur?" Kagami masuk dan melihat ibunya Aomine sedang memasak.

"Iya, tidak pernah Daiki bangun pagi kalau libur. Masuk aja Taiga-chan,"

Kagami mengangguk dan berjalan menuju kamar Aomine. "Pagi Makoto-san,"

"Pagi Taiga-chan," ibunya Aomine balas menyapa. "Mau kemana pagi-pagi?"

"Ketemuan temen sekolah," jawab Kagami. "Aku akan membangunkan Daiki."

Setelah ibunya Aomine mengangguk, Kagami segera memasuki kamar Aomine tanpa mengetuk dan melihat selimut dengan gumpalan besar di dalamnya. Kagami membuka jendela di dekat ranjang Aomine untuk mempersilakan sinar matahari pagi memasuki kamar Aomine.

"Aho bangun!" Kagami membuang selimut yang digunakan Aomine dan melihat temannya meringkuk dengan rambut biru pendeknya acak-acakan.

"Ahomine Daiki bangun sekarang!" Kagami berteriak tepat di telinga Aomine yang membuatnya membuka matanya sedikit.

"Apaan sih Baka, baru jam berapa sekarang?" gumamnya.

"Udah jam sembilan, lu pasti udah ditunggu cewek lu." Kagami berkata dan melipat selimut Aomine. Dia kemudian mengambil smartphone Aomine yang daritadi berisik notifikasi dan melihat tiga pesan darinya dan banyak pesan dari teman kencannya yang menanyakan dia dimana sekarang. "Nih liat dia udah ngirim lu banyak banget pesan. Cepetan bangun dan mandi."

Dengan menggerutu Aomine akhirnya bangun dan menuju kamar mandi yang tertempel di kamarnya. Kagami meletakkan kembali smartphone Aomine dan mengambil punyanya di tas yang mendapat pesan masuk. Ketika membukanya ternyata dari Suzuki yang memberitahu kalau dia sudah sampai dan menunggu Kagami di dekat jalan masuk. Kagami membalas oke dan menyuruhnya untuk menunggu sebentar kemudian keluar untuk menunggui Aomine di dapur membantu ibunya memasak.

.

"Udah penuh, cepetan!" Kagami berlari mengejar kereta yang penuh dan hampir menutup dengan Aomine dibelakangnya masih sambil menguap malas.

Mereka akhirnya masuk tapi mendapat tempat terjepit di dekat pintu masuk.

"Lu sih mandi lama banget," omel Kagami ketika mereka sudah aman berada di kereta dan sudah berangkat.

"Iyalah mau ngeceng harus wangi. Emang lu nggak pernah mandi?" Aomine kemudian mendekatkan wajahnya ke Kagami. "Jangan-jangan lu nggak mandi sekarang?"

Kagami akan memberi Aomine pelajaran ketika tiba-tiba kereta berguncang sedikit yang membuat kepalanya Kagami terbentur pintu kereta.

"Aduh," kata Kagami sambil mengelus-elus kepalanya.

"Sini." Aomine kemudian menarik tangan Kagami untuk berdiri di depannya sementara dia bersender di pintu. Dia lalu mengarahkan kedua tangannya di sekeliling tubuh Kagami untuk mencegahnya agar tidak terjatuh.

Kagami merasakan pipinya menghangat dengan posisinya saat ini. Aho bisa juga menjadi gentleman jika dia mau. Kagami kemudian tersenyum dan menyenderkan kepalanya di dada Aomine.

"Oi jangan tidur," kata Aomine sambil menunduk untuk melihat Kagami yang malah memejamkan matanya dan mengeratkan pelukannya ke punggung Aomine.

"Baka bentar lagi sampai, bangun." Aomine mengguncang-guncang tubuh Kagami di pelukannya untuk membangunkannya.

"Hm?" Kagami mengucek matanya dan memandang Aomine.

"Bentar lagi sampai," jawab Aomine.

Kagami melepaskan dirinya ketika kereta memperlahan kecepatan sebelum kemudian berhenti. Mereka turun dan berjalan menuju tempat perjanjian mereka.

"Kagami-senpai!" mereka melihat Suzuki melambaikan tangan untuk memberitahu keberadaanya.

"Sori lama, lu udah daritadi?" tanya Kagami ketika mereka sudah sampai di depan Suzuki.

"Nggak juga sih," jawab Suzuki.

"Yuk langsung jalan," ajak Kagami tapi Aomine memegang lengan Kagami.

"Tunggu bentar, gue belum nemu Kobayashi,"

"Cari aja," kata Kagami.

"Bantuin…"

"Nggak." Kagami menolak. "Yuk Suzuki,"

"Bentar…"

"Aomine-kun,"

Akhirnya teman kencannya menghampiri Aomine dengan senyuman di wajahnya.

"Oke gue pergi." Aomine akhirnya melepaskan tangan Kagami yang bisa membuatnya pergi.

.

"Kagami-senpai mau kemana setelah ini?" tanya Suzuki setelah mereka pisah sama Aomine.

"Huh, nggak ada rencana sih. Lu?"

"Oh kalo gitu aku mau beli perlengkapan tulis,"

"Situ ada mall tuh, nyari sana aja," ajak Kagami.

Suzuki mengangguk dan mereka mulai memasuki mall.

"Lu bikin manga?" Kagami bertanya ketika melihat Suzuki membeli perlengkapan manga seperti kertas naskah, tinta, drawing pen (dan pena lain yang Kagami tidak tahu namanya), kuas dan lain-lain.

"Oh ya, masih belajar juga sih. Aku sebenarnya kalo nggak diterima di OSIS mau ikut klub manga." jawab Suzuki.

"Oh…" Kagami mengangguk-anggukkan kepalanya.

Setelah mereka mengelilingi mall dan juga Kagami yang sudah mendapat album terbaru musisi favoritnya, akhirnya karena sudah siang mereka memutuskan untuk istirahat di food court mall.

"Kagami-senpai yakin bisa menghabiskan burger itu sendiri?" Suzuki bertanya tidak percaya ketika melihat Kagami memesan bertumpuk-tumpuk burger.

"Oh ya, ini gue lagi diet makanya cuma beli segini," jawab Kagami sebelum membuka bungkus burger.

'Buset, kalo nggak diet nih satu food court mau dibeli semua?' Suzuki hanya menyuarakan ketidakpercayaannya di dalam hati.

"Lu beli banyak banget?" kata Kagami menunjuk tas perlengkapan manga Suzuki.

"Iya, ini temenku juga ada yang nitip,"

"Coba liat dong gambaran lu,"

"Oh…" Suzuki mengeluarkan kertas di tasnya dan memberikannya ke Kagami dengan malu-malu. "Maaf kalo jelek,"

"Ini… gue?" Kagami melihat gambaran seorang gadis yang sedang duduk yang Kagami yakini sebagai ruang OSIS dengan cahaya mengelilinginya. Kagami tidak akan percaya kalau itu adalah dia kalau gambaran itu tidak terdapat warna-warna pastel yang lembut. Seperti warna rambutnya yang merah gelap dan cokelat kehitaman di ujungnya, matanya yang berwarna merah, seragam sekolah mereka dengan blazer hitam dan rok hitam, tasnya yang berwarna biru gelap, kuncirnya yang berwarna hitam dan juga gelang pemberian Aomine yang berwarna biru.

"Iya. Aku membuatnya waktu pertama kali kita rapat OSIS," jawab Suzuki dengan pipinya yang memerah.

"Bagus…" Kagami juga dapat merasakan pipinya memerah saat mengembalikan kertas Suzuki.

"Oh itu buat Senpai aja," kata Suzuki. "Kalau Senpai mau."

"Makasih," kata Kagami dan menyimpan gambaran dirinya di tas.

Ketika Kagami akan kembali memakan burgernya, smartphonenya berbunyi menandakan telepon masuk.

"Aho? Kenapa?" Kagami bertanya ketika dia sudah tersambung dengan Aomine.

"Dimana lu?"

"Maji dalem mall deket Green Garden,"

"Jangan pergi dulu, tunggu gue disitu."

"Ap—" Kagami melihat layar smartphonenya dan melihat Aomine sudah memutus sambungan. "Stupid Aho." gumamnya sambil memasukkan smartphonenya kembali ke tas.

"Tadi itu Aomine-senpai?" tanya Suzuki.

"Iya, dia mau kesini," jawab Kagami. Mungkin kencannya kali ini membuatnya bosan jadi dia akan menghentikannya meskipun baru sebentar. Dan Aomine selalu bingung kenapa dia tidak pernah punya pacar dalam waktu lama. Memang Aho.

Tak berapa lama kemudian mereka melihat cowok tinggi dengan jaket biru menghampiri mereka. Dia kemudian duduk di kursi kosong dan langsung meminum soda Kagami tanpa persetujuan pemiliknya.

"Udah bosen?" tanya Kagami yang sudah hapal dengan kebiasaan sohibnya ini.

"Hm…" jawab Aomine tidak jelas kemudian mengambil salah satu tumpukan burger Kagami tapi tangannya langsung ditampik oleh Kagami.

"Pesen sendiri," suruh Kagami.

"Lu, pesenin gue tiga teriyaki burger," Aomine malah menyuruh Suzuki.

"Hah?"

"Jangan Suzuki, tetep duduk situ." suruh Kagami. "Lu Aho pesen sendiri sana,"

"Baka pelit." ejek Aomine sebelum dia dengan berat hati bangun lagi dari duduknya dan memesan makanan.

"Kalian dekat sekali ya?" Suzuki berkomentar dari seberang.

"Hm? Iyalah, orang dari bayi udah tetanggaan," jawab Kagami.

"Asik dong ya?"

"Well kadang-kadang Aho bisa jadi aho beneran, tapi ya gitu lah…" Kagami memandang Aomine yang masih memesan dan menjadi tersenyum mengingat kebersamaan mereka selama ini.

.

Setelah mereka selesai makan siang, menonton film dan sekali lagi keliling-keliling mall kali ini untuk menemani Aomine membeli photoset idolnya, mereka semua yang memang sudah capek memutuskan untuk pulang.

"Kagami-senpai, untukmu," Suzuki menyerahkan es krim cokelat untuk Kagami ketika mereka berjalan keluar dari mall.

"Makasih,"

"Punya gue?" Aomine menjulurkan tangannya ke Suzuki.

"Aku cuma beli satu buat Kagami-senpai," jawab Suzuki.

Aomine menggerutu ke Kagami yang tersenyum puas sebelum dia mencopet es krim di tangan Kagami dan langsung berlari.

"Aho!" Kagami langsung berlari mengejar Aomine yang sudah berlari dengan tertawa terbahak-bahak.

"Kagami-senpai!" Suzuki mengikuti berlari di belakang Kagami.

Kemudian karena takdir atau memang ini adalah bukan hari keberuntangannya, tiba-tiba ikat sepatu Kagami terurai sendiri dan dia menginjaknya ketika berlari.

"Kagami-senpai!" mendengar teriakan Suzuki, Aomine menghentikan larinya dan melihat ke belakang, ke Kagami yang sedang tersungkur dan Suzuki yang mencoba membantunya bangun.

"Taiga?" Aomine berlari menuju Kagami untuk mengecek keberadaannya. "Lu nggak papa?"

"Oh yeah lutut gue berdarah dan gue nggak bisa bangun, gue baik-baik saja gue sehat!" kata Kagami sambil memijat-mijat lututnya.

"Biar aku belikan obat merah dan perban, tunggu disini sebentar!" Suzuki berkata dengan panik.

"Nggak usah Suzuki, ntar gue obatin di rumah," Kagami menarik lengan kemeja Suzuki untuk mencegahnya benar-benar pergi membelikan alat-alat P3K.

"Kalau pulang gimana?" Suzuki bertanya dengan cemas.

Kagami memandang Aomine. "Tenang aja, Aho bakalan gendong gue sampe stasiun,"

"Hah? Nggak mau, lu berat Baka!" Aomine menolak mentah-mentah.

"Emangnya salah siapa sampe gue nggak bisa jalan? Lu harus tanggung jawab!"

"Tanggung jawab? Kita belum nganu lu udah minta tanggung jawab?"

Aomine mendapat benjolan di kepalanya karena pertanyaannya barusan. "Udah cepetan jongkok!"

"Kagami-senpai aku bisa membantumu," kata Suzuki.

"Nggak usah, rumah lu kan nggak searah sama rumah gue. Ntar lu kemaleman sampe rumah," tolak Kagami.

"Oh ya makasih udah mau bantu Baka," Aomine berkata.

"Aho!" Kagami mencubit pipi Aomine sampai membuatnya kesakitan.

"Oke oke, lepasin!"

Aomine kemudian berjongkok agar Kagami bisa menaiki punggungnya.

"Sejak kapan lu transformasi jadi badak? Ugh!"

"Udah cepet jalan, bye Suzuki…" perintah Kagami sambil melambaikan tangannya ke Suzuki yang juga melakukan hal yang sama.

"Sampai ketemu besok!"

Akhirnya Aomine harus menggendong Kagami sampai stasiun sebagai akhir kencannya sore itu.

.

.

.

"Tai-chan…"

Cewek cantik dengan rambut merah muda panjang berlari ke arah Kagami sambil melambaikan tangannya.

"Ada apa menyuruhku menemuimu?" tanyanya ketika sudah sampai di depan Kagami.

"Itu… lu hari Minggu ada acara nggak?" kata Kagami sambil membuang mukanya yang memerah.

"Free sih, kenapa?"

"Ke rumah gue ya, gue butuh bantuan," jawab Kagami.

"Bantuan apa?" tanya Momoi lagi.

Kagami menyuruh Momoi untuk mendekat agar Kagami bisa membisikinya.

Momoi tersenyum lebar. "Tentu saja aku akan membantumu Tai-chan…" Momoi kemudian memeluk Kagami.

"Makasih Satsuki-chan,"

"Sama-sama," jawab Momoi. "Buat apa kamu butuh itu?"

"Itu… gue akan belanja bareng… Midorima," jawab Kagami.

"Ooooo…" Momoi tersenyum jahil dan mencolek-colek Kagami. "Bagaimana hubunganmu dengan Midorin?"

"Biasa aja, mungkin dia nggak suka sama gue," jawab Kagami.

"Jangan berpikiran negatif dulu Tai-chan, kamu kan belum menanyakan perasaannya juga," kata Momoi sambil mengelus-elus lengan Kagami untuk menenangkannya.

Kagami mengangguk dan tersenyum ke Momoi.

"Baiklah, gue mau ke toilet. Ntar kita lanjut lagi." kata Kagami sebelum pergi meninggalkan Momoi yang melambaikan tangannya dengan ceria untuk menuju ke kamar mandi.

"Ah udah bel," Kagami cepat-cepat mengeringkan tangannya dan segera berlari keluar menuju kelasnya.

"Kagami Taiga-san…"

Kagami membelalakkan matanya melihat orang yang menghadangnya ketika dia baru kembali dari kamar mandi.

.

.

.

A/N: Sori kalau misalnya kepanjangan(?) /

AoKagaKuroLover: Pairingnya diliat aja ya ntar… :v

suira seans: "Pelangi Ciptaan Fujimaki-sensei" oh ya itu lebih tepat kayaknya lol. Kejar masih dalam proses penulisan, ditunggu aja ya :)

Terima kasih reviewnya… :D

Dan buat kamu-kamu yang sudah nge fav, follow atau yang cuma singgah sebentar juga makasih… :)