Author
Author:Huay semuanyhaaa… Juju balik lageh. Makasih buat yang udah pada review. Tnang" itu suster kok bukan preman blok M. Disini saia pake plot maju mundur. Semuanyah masih saling bersambungan tapi di ceritain agak acak. Jadi, saia ga nulis kapan flashback dan kapan present nya. Terus disini belum ada yaoi sampe naruto udah agak gede. Qta mulai ajah cerita kita. Wokeh?
" Warning. Abuse. Flashbacks. Naruto OOC. Future Yaoi."
Xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Chapter 2 : I'm Alone Again
Xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Sarutobi aka Hokage ketiga sedang terdiam merenungi nasib bocah kecil dihadapannya. Dipandanginya tubuh kecil yang penuh luka dan darah disekujur tubuhnya. Tanpa sadar, ia menghela napas keras-keras untuk kesekian kalinya. Kalau saja ia tidak mengunjungi desa hari ini, bocah dihadapannya ini tak mungkin selamat. Beberapa menit berlalu dalam diam hingga keheningan dipecahkan oleh suara erangan.
Sarutobi segera bergegas menuju asal suara. Dilihatnya Naruto bergerak sedikit dari tempatnya.
" Naruto…," panggilnya pelan. Naruto perlahan membuka matanya. Sejenak Sarutobi sempat melihat kilatan kesedihan di matanya sebelum semua emosi terhapus dari wajahnya. Hatinya mencelos, terlalu banyak yang dihadapi anak ini hingga dalam umurnya yang masih sangat muda ia sudah mampu menutupi emosinya.
" Sandaime-sama…," tegur Naruto begitu ia sadar siapa yang ada di hadapannya. Seluruh tubuhnya masih terasa sedikit sakit namun sudah lebih baik daripada sebelumnya. Beberapa detik kemudian senyumannya tersungging lagi dibibirnya.
" Arigato, Sandaime-sama…," ucap Naruto. Sarutobi hanya tersenyum getir. Perlahan, ia belai rambut pirang Naruto.
" Tidak perlu berterima kasih kepadaku, Naruto," katanya. Masih dalam keadaan berbaring, Naruto menggelengkan kepalanya pelan.
" Tidak, Sandaime-sama selalu menolong saya walaupun saya tidak pantas menerimanya. Jadi, saya harus berterima kasih kepada Sandaime-sama…," jawab Naruto. Sejenak kening Sarutobi berkerut memikirkan kata-kata Naruto.
'Tidak pantas? Apa yang membuat anak ini berpikir ia tidak pantas untuk mendapat pertolongan?'
" Naruto… Mengapa kau pikir kau tidak pantas kutolong?," tanyanya pelan. Ia takut Naruto akan tersinggung dengan pertanyaannya.
" Ah… Suster-suster dipanti asuhan dan para penduduk yang berkata seperti itu. Mereka bilang saya ini monster. Sebelumnya, saya sempat tidak percaya tetapi kini saya tahu yang mereka katakan itu benar," jawab Naruto sopan. Terlalu sopan untuk seorang anak yang masih berumur 5 tahun.
Sekali lagi Sarutobi menghela napas keras-keras. Para penduduk dan suster-suster dipanti asuhan itu telah terlalu banyak menghujani Naruto dengan pemikiran buruk mereka hingga otak Naruto yang masih otak anak kecil akhirnya mempercayainya. Percaya bahwa dirinya lebih rendah dari orang lain. Bahkan meragukan dirinya sendiri.
Dalam hati, ia sedih melihat sikap Naruto yang seperti ini. Selalu memanggil orang dengan sama, seperti ia lebih rendah dari orang lain. Selalu bersikap sopan dan penurut, seperti takut bila ia melakukan kesalahan sedikit saja ia akan mendapat hukuman parah. Selalu memasang senyumannya setiap hari, tetapi bukan karena senang. Semua senyumannya tidak pernah mencapai matanya. Hanya bibirnya yang tersenyum tetapi hatinya tidak. Naruto masih sangat kecil. Seharusnya ia tersenyum dan bermain diluar sana. Bukannya dikucilkan, dimaki dan dipukuli setiap hari. Tetapi yang paling parah, ia percaya bahwa ia pantas mendapat semua perlakuan itu.
Sejak kecil pikirannya sudah dijejali dengan semua opini buruk orang-orang disekitarnya. Seberapa pandainya anak itu, hal pertama yang ia pelajari adalah lingkungannya. Bila ia dibesarkan dengan semua cacian dan dianggap rendah seperti itu, maka satu-satunya hal yang bisa ia lakukan hanyalah mempercayainya. Karena tidak ada yang menyanggahnya. Tidak ada yang memberinya kasih sayang seperti yang seharusnya.
" Sandaime-sama… Apakah semua monster itu tidak punya orang tua?," tanya Naruto memecahkan lamunannya. Ia tertegun sejenak. Hatinya mencelos mendengar Naruto yang menganggap dirinya sendiri sebagai monster. Tetapi, Naruto tidak pernah sekalipun menanyakan orang tuanya.
" Apa maksudmu, Naruto?," tanyanya. Naruto perlahan duduk dari sofa tempat ia berbaring. Ia menatap Sarutobi lurus masih dengan senyuman di wajahnya namun saat itu kesedihan dan genangan air mata di sudut mata Naruto terlihat jelas. Sarutobi membeku, belum pernah ia melihat Naruto menangis.
" Aku tidak punya orang tua, Sandaime-sama… Kalau aku bukan monster, lalu kemana orang tuaku?," ucap Naruto lembut. Sarutobi benar-benar merasa iba kepada bocah dihadapannya ini. Terlihat jelas kesedihan di matanya, tetapi tetap saja ia memasang senyuman bodohnya itu. Tapi senyuman itu malah membuatnya tampak lebih menyedihkan. Senyuman yang lebar namun dengan mata penuh kesakitan dan air mata.
" Kau bukan monster, Naruto…," jawabnya lembut. Naruto hanya menggelengkan kepalanya lagi.
" Kalau aku bukan monster… Kenapa orang tuaku pergi?," tanyanya dengan suara yang lebih kecil. Sarutobi hanya bisa membeku. Ia ingin memberitahu Naruto segalanya, tetapi ia tidak bisa. Ia hanya bisa memandangi Naruto yang kini menenggelamkan kepalanya dan memeluk lututnya erat-erat.
" Mereka pergi… karena tidak tahan padaku bukan?... Sandaime-sama… Apakah aku semenjijikan itu?... Apakah aku... sama sekali tidak pantas mempunyai orang tua?... Aku ini monster… Menjijikan…," kata Naruto. Perlahan-lahan suaranya semakin menghilang berganti dengan isakan. Samar-samar Sarutobi mendengar gumaman disela-sela isakan. Tanpa sadar, bukan hanya Naruto yang menangis tetapi air matanya juga mengalir perlahan di pipinya.
Xxxxxxxxxxxxxxxxxx
Sekali lagi hipotesa Uchiha Itachi terhadap bocah kecil dihadapannya ini benar. Naruto memang mempunyai kemampuan di atas rata-rata. Bahkan bisa dikatakan jenius. Mengajari Naruto pun bukan pekerjaan sulit. Yang ia lakukan hanya menunjukkan beberapa tekhnik kepada Naruto dan ia sendiri yang akan menganalisa cara melakukannya.
Tanpa terasa hari sudah gelap, namun Naruto sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda ingin beranjak pergi. Yang ia lakukan hanya berlatih dan berlatih. Naruto tidak akan bicara jika ia tidak bicara lebih dahulu. Padahal, biasanya ialah yang menjadi si pendiam dalam pembicaraan. Dalam sehari, paling banyak ia hanya mengucapkan 10 kata. Namun, berbeda dengan Naruto. Bocah ini mempunyai banyak hal yang membuatnya penasaran dan ingin terus berbicara.
" Sudah malam… Latihan selesai," kata Itachi dengan nada dingin seperti biasanya.
" Hai. Selamat malam, ANBU-sensei…," kata Naruto masih dengan senyuman di bibirnya. Ia membungkuk kepada Itachi sejenak sebelum berjalan pergi. Saat itu Itachi memastikan dirinya benar-benar tersembunyi sebelum mengikuti Naruto berjalan kerumahnya. Ia penasaran dengan rumah dan keluarga Naruto. Lebih tepatnya, ia penasaran dengan semua latar belakang dan kehidupannya.
Naruto berjalan cepat dan melewati jalan-jalan yang jarang dilalui orang. Beberapa kali matanya menjelajahi sisi-sisi jalan. Mencari tanda-tanda manusia disana. Seakan-akan ia takut bila bertemu salah satu dari mereka.
Naruto terus berjalan hingga ia sampai di kawasan apartemen miskin. Kawasan tersebut sangat kumuh dan kecil. Namun Naruto terus berjalan hingga ia sampai di sebuah apartemen kecil. Pintu apartemen itu dengan mudah dibuka Naruto tanpa kunci. Terlihat kunci pintu itu sudah rusak seperti sudah beberapa kali dirusak orang. Akan tetapi Naruto tidak memperdulikannya sama sekali. Itachi segera berpindah tempat dan mengawasi Naruto dari jendela apartemennya yang pecah.
Dilihatnya senyuman Naruto langsung menghilang dari wajahnya begitu ia melangkah masuk apartemennya. Samar-samar didengarnya Naruto memangil-manggil sebuah nama.
" Shiro-chan… Shiro-chan… dimana kau?...," panggilnya. Itachi semakin bingung melihat apartemennya yang kosong. Tidak terlihat tanda-tanda kehadiran orang tua Naruto. Sepi... Kosong... Tak ada orang lain sama sekali. Ia masih memikirkan orang tua Naruto saat ia mendengar teriakan.
" Shiro-chan!!," teriak Naruto. Itachi segera menggeser posisinya sedikit hingga ia mampu melihat apa yang terjadi di dalam. Saat itu tanpa sadar ia menarik napas kaget.
Di dinding kamar tidur Naruto tergantung kucing kecil berwarna putih yang kini seluruh tubuhnya merah berlumuran darah. Lehernya digantung dengan tali sementara darah menetes dari tubuh kucing itu. Terlihat sayatan yang cukup besar di perut kucing itu.
Tubuh Naruto membeku sebentar melihat kucingnya mati tergantung seperti itu. Perlahan ia berjalan mendekat dan menurunkan tubuh kucingnya yang berlumuran darah. Tidak ada air mata. Tidak ada tangisan. Matanya sama sekali tidak menunjukkan kesedihan. Hanya sorot mata hampa, kosong tanpa nyala kehidupan. Dipeluknya erat tubuh kucingnya. Darah berlumuran di tubuhnya namun Naruto tidak peduli. Ia hanya terus menatap hampa kearah dinding sembari mendekap kucingnya yang sudah mati itu.
Itachi mengikuti arah pandangannya. Ia mendapati sebuah tulisan besar 'MONSTER' yang dituliskan dengan darah. Saat itu ia menyadari, di seluruh dinding apartemen Naruto terdapat bercak darah yang masih baru. Tetapi bercak darah yang sudah menjadi kecoklatan. Matanya menelusuri seluruh permukaan apartemennya. Ia mendapati bukan hanya dinding, tetapi juga lantai, meja dan lainnya. Semua bercak darah itu telah mencoklat dan sepertinya telah berusaha dibersihkan. Sepertinya disana telah terjadi banyak kekerasan.
Itachi kembali memandang Naruto yang masih menatap kosong ke dinding. Ia masih memeluk dan mengelus punggung kucingnya itu. Darah telah menempel di tubuhnya namun ia terus memeluknya seakan itu adalah benda satu-satunya yang ia punya. Matanya sama sekali tidak menunjukkan emosi apa-apa saat ia berbicara. Samar-samar Itachi mendengar kata-kata yang dibisikkan Naruto.
" Shiro-chan… Aku sendirian lagi…."
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Author : Yeee… chapter 2 tamat!! Tadinya mau dimasukkin bagian sasuke tapi kepanjangan. Jadinya sasuke baru ada di chapter 3. Eh, pada review donk!! Menurut kalian gimana?! Review review review!!
