Enigma
Disclaimer: Death Note is the property of Ooba Tsugumi and Obata Takeshi.
Summary: Sebagai bagian terbesar dari mozaik hidup Near, L dan Mello adalah keping-keping yang paling berharga untuk dikenang.
Proudly dedicated to my beloved senpai, Rin-chan a.k.a GoodBoyTobi whom I very fond of. Her optimistic heart and massive sense of humor always brighten my day. Sista, hopefully you'll forgive me for screwing up Near's mind a bit in this fic. I can't stand him because he's such an emotionless prodigy. There's must be something lurking underneath, don't you think? XD
Kunjungi infantrumdotcodotnr juga ya, para pembaca! Di sanalah rumah author-author fanfic Indonesia! :D
Enjoy!
With choice we fix, with sympathy we burn;
Each virtue in each passion takes its turn
-Alexander Pope-
1st Act: Tremendous Temptation
…
Sakit?
Ya.
Luka?
Ya.
Dihantui mimpi malam hari?
Ya.
Percayakah pada dunia?
Tidak. Tidak.
Kalau begitu, mari ciptakan dunia kedua. Semesta kita. Dunia kecil kita. Milik berdua.
…
Teka-teki kehidupan bagai pusaran labirin misteri. Harus diurai langkah demi langkah secara sistematis, sebelum manusia bisa berpuas diri, bergelimang kemenangan di akhir pencarian fakta.
Puzzle merupakan elemen teka-teki paling vital dan paling menggugah intelenjesia seorang Nate River—Near—begitu seluruh penghuni Wammy's House memanggilnya akhir-akhir ini. Seolah tak pernah tamat curahan kekaguman yang bisa direguknya manakala susunan magis keping-keping ringan itu menyentuh jemarinya. Lekuk-lekuk anggun melingkar di tepi sisi setiap kepingnya, menunggu keping-keping lain menyatu secara magis hingga membentuk satu kesatuan utuh. Betapa dia menyukai bunyi ketukan yang samar-samar terdengar saat menyusun puzzle satu-persatu. Permainan ini mencerdaskannya tanpa banyak khotbah panjang. Puzzle membimbing Near untuk lebih tenggelam pada keheningan dan mendengarkan desing gerigi kala otaknya berpikir keras.
Sebuah replika Firdaus untuk jiwanya yang diselimuti kekacauan hidup.
Tempat teraman di mana Near dapat mencurahkan segalanya pada keping-keping bersudut tumpul itu tanpa merasa khawatir, dicaci, dimaki, disingkirkan…
Bahkan jejak-jejak beban itu masih menggantung di pundaknya setelah tiba di Wammy's House, sebuah kubu perlindungan paling kokoh di seantero kota Winchester, Inggris. Noda hitam yang tetap saja membekas meski sudah digerus dengan segenap daya. Bukankah manusia semakin terbelenggu masa lalu saat dirinya seolah menjauhkan diri dari memori waktu? Jangan pernah berkelit, satu mili pun, dari apa yang sudah digariskan untuk terjadi. Siapa yang pertama kali mengabadikan pepatah lama itu? Tidakkah dia tahu beban dari makna kalimat itu berat dan melelahkan?
"Dia tidak mau bicara… kalau kutanyakan bagaimana keadaannya, dia hanya menuliskan sesuatu di kertas, atau menggangguk pelan sebagai pengganti 'ya'. Apakah dia menderita autisme atau semacamnya?" tanya salah seorang pengasuh berparas keibuan. Wajahnya cemas luar biasa, dan dia melirik Near yang sedang duduk di karpet ruang bermain dengan gelisah.
Near duduk diam di sudut ruang rekreasi, tampak tenang di tengah-tengah tumpukan lego, mainan pesawat terbang mekanik, dan keping-keping puzzle yang berserakan di karpet. Rambutnya yang seputih salju bersanding sempurna dengan kulit pucatnya yang terkena bias cahaya dari arah jendela. Tubuhnya melengkung—satu lutut ditekuk, punggung sedikit membungkuk saat menyusun puzzle dengan kecepatan nyaris abnormal, rambutnya bergelung, terpilin oleh gerakan melingkar kontinu dari jari telunjuknya.
"Shock… trauma… wajar saja seorang anak merasa tergunjang karena peristiwa tarumatis itu, apalagi hal itu terjadi berulang kali di depan matanya. Luka-luka dan memar di sekujur tubuhnya akan sembuh seiring waktu. Kehilangan daya bicara selama beberapa saat memang hal yang bisa saja terjadi, teapi menurut pemeriksaan, dia baik-baik saja. Setiap orang butuh waktu untuk sembuh, Alicia," balas Watari, mencoba menenangkan. Dia menepuk pundak wanita itu dengan lembut, dan berkata pada Near, "Jika kau ingin bermain dengan teman-teman di luar sana, mereka menunggumu, Near."
Near membuat isyarat dengan telunjuknya dan menggeleng pelan. Watari mengangguk pelan, maklum. Rupanya dia lebih memilih berada di ruangan ini. Sudah ketiga kalinya terjadi hari ini—setiap seseorang mengajaknya bermain, Near selalu menolak halus.
"Baiklah. Jaga dirimu, Nak," kata Watari lembut, menepuk pundak Near dengan jemarinya yang penuh keriput dan berbonggol, lalu bersama Alicia, meninggalkan ruangan dengan langkah-langkah panjang.
Entah beberapa jam berlalu, Near tidak tahu. Melalui jendela yang terbuka, dia bisa melihat anak-anak sebayanya berlari-lari ceria di lapangan rumput, teriakan ceria dan sorak-sorai mereka merambati udara hingga sampai ke kedua telinganya. Wajah mereka berkeringat, berlari ke sana kemari sambil menggiring bola penuh semangat.
Sesekali, salah seorang dari bocah-bocah itu meneriakkan tanda peringatan setiap kali serbuan bola nyaris membobol gawang, sementara yang lain saling mendahului, langkah-langkah kaki kecil mereka menghantam rumput tanpa peduli waktu dan lelah. Begitu sarat vitalitas dan gelora energi.
Mendadak, tanpa direncanakan sebelumnya, namun juga tak terelakkan, kedua pasang mata Near tertumbuk pada satu sosok yang paling lincah di lapangan. Tubuhnya kira-kira lebih tinggi sepuluh senti dari dirinya, rambut sebahunya mengingatkan Near pada untaian benang-benang emas yang terhimpun erat, jatuh di pundaknya dengan luwes dan natural. Sorot matanya bersinar tajam dengan intensitas membara, dan suaranya—meski tidak melengking—bergetar penuh otoritas, seakan semuanya berada dalam kuasanya. Figurnya langsing, dipahat sempurna oleh konstruksi rangka yang melekat kuat. Kulitnya cemerlang; tidak sepucat kulit Near, namun lebih hidup dan berwarna kecokelatan, kontras dengan kaus lengan panjang hitam yang membalut tubuhnya, bersinar dibelai pancaran indah mentari kala senja menjelang.
Near sudah pernah melihatnya sekali pada malam kepindahannya tiga hari yang lalu—1 September 1998—karena kebetulan kamar anak lelaki itu bersebelahan dengan kamarnya. Walaupun tidak pernah bertukar sapa meski sekali saja, Near sudah tahu namanya. Segera setelah dia sampai, Roger kemudian memberitahu semua nama penghuni panti asuhan ini, dan sel-sel kelabu otak Near langsung meregistrasi susunan huruf-huruf asing itu ke dalam memorinya.
Mello.
Begitulah alias yang diberikan oleh Watari saat Mello tiba di Wammy's House setahun lalu.
"Arrghh, Aidan, terus giring bolanya ke tengah lapangan, jangan biarkan Steve memblokirmu—ke sini, Matt—yak, oper padaku—padaku!" komando Mello lantang, dengan lincah berlari dan melompat melewati lawan-lawannya, terus berpacu sementara semua penghambat yang membuatnya terkepung tertinggal jauh di belakang. Mello sama sekali tidak memperlambat lajunya, meski napasnya memburu dan peluh bercucuran membasahi dahinya. Mengikuti naluri liar di dadanya, kakinya dengan cepat menembakkan tendangan, tembakannya menghantam pundak Daniel sebelum jatuh ke area gawang dengan bunyi keras penuh gema kemenangan, sukses membobol penjagaan ketat gawang dalam hitungan detik.
"Yeah, aku berhasil! Hahaha, rasakan akibatnya kalau meremehkanku, Daniel!"
Daniel merengut, menahan nyeri di pundaknya dengan susah payah saat berusaha bangkit dan menjulurkan lidah pada Mello, yang sengaja diabaikannya.
Teman-teman setim-nya bersorak gembira. Mello sendiri melonjak-lonjak, meninju udara, larut dalam euforia yang tak tertahankan. Tawanya merekah, bebas lepas tanpa beban. Dia menyeringai puas saat teman-temannya menepuk-nepuk bahunya, perpaduan sempurna antara kebanggaan dan kepuasan.
Satu momentum penaklukan rintangan itu tidak membuat semangatnya surut. Beberapa saat kemudian, Mello kembali mengontrol jalannya permainan dengan aksi dan ucapannya, dan anehnya, semua bocah itu secara sukarela turut berpartisipasi dalam pola yang diciptakannya. Menurut Near, meski orang-orang itu mencapai kemenangan karena sumbangan intstruksinya juga, tapi jelas saja taktiknya itu ceroboh sekali. Berani, ya, tapi ceroboh.
Jika beruntung mendapati lawan yang separuh kepalanya kosong tanpa strategi, tentu saja teriakan peringatan seperti itu bisa berguna. Namun, bila ada lawan yang lebih kuat mengambil alih tanpa komando langsung, melainkan hanya dengan isyarat dan metode membaca gerakan lawan secara diam-diam, Mello bisa dibuat tidak berkutik. Keberanian itu berbatas tipis dengan kenekatan, dan baginya, Mello sudah melampaui batas krusial tersebut jika dia merasa di atas angin seperti saat ini.
Tetapi kemudian Near menyadari bahwa dia keliru. Meskipun Mello terkesan semaunya dan impulsif, gerakan tubuhnya tidak ada yang sia-sia. Dia mengkalkulasikan secara tepat semua posisi lawan dan persentase keberhasilan dalam waktu yang sangat singkat. Didukung ketahanan fisik dan stamina di atas rata-rata, permainan ini adalah salah satu ajang pembuktian yang mudah.
Kendati hipotesis pertamanya terbukti patah, Near tetap tidak mengerti mengapa dia rela membuang-buang waktu untuk kegiatan melelahkan seperti itu—memperebutkan sebuah bola bundar, lalu bergantian menyerang dan bertahan bersama sepuluh bocah obsesif lainnya. Near tidak paham mengapa wajahnya selalu diliputi kepuasan tak terbatas setiap gaung kemenangan berkumandang untuknya.
Meski begitu, ada sesuatu di sosok Mello yang membuat Near mampu meninggalkan keping-keping puzzle-nya yang berharga hingga tak terjamah selama beberapa saat. Entah karena magnetisme alami atau semata karena setiap gerakan Mello terlihat begitu absurb sekaligus atraktif di matanya, kedua mata Near terus terpaku pada sosoknya hingga akhir pertandingan, hingga bayang-bayang malam menggantung di garis horizon langit.
Near belum bisa menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang melayang-layang di benaknya, bahkan setelah dia memikirkannya selama beberapa saat sementara daun telinganya terus mencuri suara Mello.
Namun, tidak bisa tidak, Near harus tahu mengapa ini bisa terjadi.
Kemudian, satu senyum tipis tergurat di bibir kecilnya, senyum penuh pemahaman yang dibuntuti rasa penasaran.
Tanpa terduga, Mello telah menawan rasa ingin tahunya. Cepat, tangkas, seketika membidik dan merajam dasar nuraninya. Mengguncang-guncang sikap apatis Near yang terdapat di pusat pikirannya hingga terbangun sepenuhnya untuk menghadapi cakrawala berbeda yang disuguhkan Mello.
Near akhirnya paham, tanpa perlu dijelaskan mengapa. Paradigma dunianya mengakui bahwa Mello adalah personifikasi pertama dari teka-teki yang tersembunyi di balik kumpulan keping-keping puzzle tak bernyawa. Dia adalah perwujudan nyata dari misteri abadi yang selamanya bersembunyi di luar jangkauan dunia kecil Near, menunggu untuk ditemukan, diselami, disimak, dikuak kebenarannya. Eksistensinya menawarkan suatu hal yang jauh, sulit dijangkau, menggugah, menantang.
Mello, tak lain dan tak bukan, adalah kepingan enigma pertama yang mampu menyita perhatian dan waktunya.
Bukankah godaan teka-teki yang rumit selalu memikat untuk ditaklukkan?
Author's notes: Ohoho… percikan nyala ketertarikan Near terhadap Mello sudah dimulai! Saya udah lama banget pengen nulis scene Mello main bola dengan keren! XD Sangat khas Mello, bergerak dengan ringan dan lincah, bahkan Near pun menatap kagum. Setelah dipikir-pikir, akhirnya saya memutuskan untuk tetap berpijak pada MelloNear, haha. Kekuatan fanfic dan esai itu sungguh mengagumkan, terlebih lagi pernyataan Obata-sensei di How to Read: "Conversely, since he actually liked Mello, I imagine he spent the most effort making Mello's puppet." Meskipun bersikeras bekerja secara terpisah, tapi keduanya secara rutin saling memberi clue tentang Kira, hingga menciptakan duo yang dinamis dan unbeatable! See? They complete each other, actually.
Hati saya tersentuh saat membaca tulisan Dear Mello yang ditulis Near di belakang foto Mello. Bahkan Mello mengakui kalau Near pasti menjaga fotonya baik-baik. Near yang tidak sentimental itu menyimpan foto Mello bertahun-tahun… seperti suatu kelembutan yang tersembunyi, hanya saja Mello terlalu ambisius dan obsesif untuk mengakuinya, sedangkan Near tidak ingin ambil pusing tentang perasaan. Padahal keduanya saling mengerti dengan sempurna. Ikatan di antara mereka berdua memang sangat intens, sampai saya yang awalnya gak punya maksud yaoi jadi ikut terseret, hohoho. Ah, malah nge-rambling gak jelas… obsesi memang susah dibendung. Terima kasih sudah membaca sampai akhir. Kritik, saran, dan komentar yang membangun selalu ditunggu via review, lho! ;)
~Azureila
