Enigma
Disclaimer: Death Note is the property of Ooba Tsugumi and Obata Takeshi.
Summary: Sebagai bagian terbesar dari mozaik hidup Near, L dan Mello adalah keping-keping yang paling berharga untuk dikenang.
Proudly dedicated for my senpai, Rin-chan a.k.a GoodBoyTobi whom I very fond of. Her optimistic heart and massive sense of humor always brighten my day. Sista, hopefully this story will satisfy your never-ending-obsession of Near's presence. XD
Minna-san, ayo seru-seruan bareng sesama author fanfic Indonesia di infantrumdotcodotnr! :D
Enjoy!
"Sebuah nyala hebat menyusul percikan kecil."
-Dante, "Paradiso", The Divine Comedy-
2nd Act: Cryptic Connection
Akhir Oktober 1998 tiba bersamaan dengan berhembusnya angin dingin yang menggigit kulit. Wammy's House yang biasanya kondusif, tenang dan diliputi kedamaian harus rela melucuti semua atribut normalnya demi satu perayaan kolosal.
Halloween.
Satu hari yang bersinggungan erat dengan dunia mistis bagi mereka yang mempercayai peristiwa metafisika. Malam legenda saat setan turun ke bumi untuk memangsa jiwa manusia yang lelah dan tersesat. Namun, bagi jiwa periang anak-anak yang merindukan sekecap manisan dan keriuhan, Halloween sangat pantas ditunggu. Seminggu sebelum perayaan, Near dengan takjub memerhatikan bagaimana dekorasi spektakuler mulai disusun di Wammy's House.
Untaian hiasan menggantung dari langit-langit koridor, dapur semakin penuh sesak, dijejali koki-koki yang berjuang mengatasi repotnya menguleni adonan kue dan manisan, meracik bahan-bahan seperti susu, krim, gula, pemanis, dan sari buah-buahan segar untuk membuat permen. Bau manis pekat mampir menusuk-nusuk hidung, berpadu dengan kesibukan masing-masing anak untuk membuat rancangan kostum yang akan ditampilkan dalam parade keliling kota saat malam Halloween tiba. Labu-labu besar berwarna kuning dipahat, dibentuk dengan lihai sehingga menjadi lampion berpendar.
Bersamaan dengan kehebohan itu, Near semakin sering mendengar celetukan-celetukan antusias dari bibir teman-temannya. Sering kali tertawaan mereka sangat riuh, kadang kala terdengar jeritan dan pekik ketakutan saat beberapa orang mencoba menjahili anak-anak lain dengan mengujicobakan kostum menyeramkan di bawah temaram lampu ruang bermain. Berisik, ya, sangat tidak sesuai dengan suasana standar Near untuk menghabiskan waktu luangnya di sela-sela kegiatan belajar, namun entah kenapa dia merasa damai. Dia mulai menemukan iramanya sendiri semenjak menjejakkan kaki sebagai penghuni Wammy's House.
Near mulai bisa membedakan keritan tiap pintu yang berbeda; dia mulai menghafal anak tangga mana yang berderit kala diinjak, dia tahu kapan koridor biasa disapu dan dibersihkan secara menyeluruh, dia bisa merasakan perbedaan material antara karpet beludru di lantai koridor dan aula, dia menikmati sentuhan kecil angin semilir menenangkan saat membuka jendela yang dibasahi embun setiap pagi. Near bisa mengkalkulasi seberapa keras ketukan di lantai koridor saat anak-anak berlari ribut menuju ruang makan. Nada-nada Wammy's House mulai menyusup masuk dan mengukuhkan keunikannya di pikiran Near.
Tak bisa disangkal, dunia barunya yang ini tidak terlalu buruk—bahkan lebih baik—daripada rumahnya dulu. Dia aman di sini. Tidak ada lagi teror dan intimidasi. Tidak ada lagi pertengkaran destruktif dari duet seorang wanita tuna susila serta pemabuk pengangguran yang dengan teganya membiarkan anak semata wayang mereka meringkuk tanpa kasih sayang di sudut ruangan.
Di tempat ini, dia tidak perlu melakukan tindakan protektif dengan menekuk kedua lututnya karena takut menerima cercaan, pukulan, bentakan maupun siksaan fisik lainnya. Dia tidak perlu khawatir kekurangan makanan dan pakaian karena uang yang makin menipis. Yang terpenting, tempat ini tidak dilimpahi kekerasan dan ketidakwajaran yang dulu menghantui rumahnya, hingga petugas sosial harus mengeluarkannya dari neraka jahanam itu dan membawanya ke tangan Watari.
Near bahkan semakin jarang bermimpi buruk—dikejar-kejar sesuatu yang mengerikan dan tak terlihat—sekarang dia tidak perlu takut pada bayang-bayang gelap saat senja menjelang. Dia tidak perlu khawatir untuk melewatkan waktu belajar di perpustakaan hanya dengan memakai piyama putih panjang longgar yang ditenun dari bahan katun ringan. Bunyi gemerisik akibat goresan pena dan harum lembaran kertas buku yang selalu berada di pangkuannya memberinya suatu perasaan nyaman. Rumah barunya ini menawarkan kehangatan di setiap sudutnya, terpancar dari raut wajah penghuninya dan keramahan derik perapian yang selalu menyala-nyala.
Hatinya telah tertambat di tempat ini.
Tingkat pergaulannya dengan anak-anak lain masih berada di taraf rendah, namun setidaknya mereka sudah saling mengenal. Near sadar betul dirinya bukan tipe kupu-kupu sosial yang dengan mudah menebar tawa dan simpati. Baginya, cukuplah dengan menghormati ruang gerak orang lain, dan dia bisa menjalani hari dengan tenang tanpa keributan. Memang, sesekali mereka juga mengajaknya main di luar, meskipun mereka tahu jawaban apa yang akan Near lontarkan. Bahkan, jika suasana sedang baik, bercanda dan bertukar humor. Respon Near selalu logis dan kering basa-basi, tapi dalam beberapa hal, sikapnya yang seperti itu justru memicu rasa heran. Selera humornya cenderung satir dan ironis, menyebabkan anak-anak sebayanya mengerutkan kening.
Seperti suatu peristiwa yang terjadi pada tanggal 28 Oktober, tiga hari sebelum Halloween. Semua anak sedang mempersiapkan kostum dan aksesoris bersama-sama di aula serba guna. Di tengah-tengah kesibukan itu, Jack berkata, "Bayangkan jika dunia ini di ambang kehancuran, kalau boleh memilih untuk memilih makanan kematian, apa yang akan kalian pilih?"
Near masih belum menunjukkan tanda-tanda akan merespon, sementara jawaban yang lain saling menimpali, riuh-rendah.
"Coklat! Hanya itu yang kubutuhkan!" teriak Mello tanpa berpikir dua kali dari tengah ruangan.
"Mungkin burger, ya, ya… dan keripik kentang juga, dan jangan lupakan milkshake untukku!" sambung Daniel yang sedang berkutat dengan lem dan gunting.
"Aku sih nggak butuh yang seperti itu. Justru aku akan berpikir untuk menyelamatkan leherku lebih dulu," kata Matt cuek, asyik dengan game terbaru yang sedang menyita konsentrasinya di sebelah Mello. "Tapi," sambungnya lagi, "aku tetap akan membawa semua game-ku. Mati pun tidak akan tenang tanpa mereka."
Kalimat yang sekilas terdengar semaunya itu disambut oleh tertawaan eskpresif dari anak-anak lain.
Matt mengedikkan kepala, nyengir santai pada Mello. Selera memang berkata banyak soal karakteristik, meski jawaban yang keluar termasuk aneh dan tidak biasa.
"Kalau aku pasti bakal memilih pasta dan pizza," timpal Linda riang, jari-jarinya sibuk menjahit potongan-potongan kain yang sudah diberi pola. "Kalau kau bagaimana, Aidan?"
"Roti manis dengan keju leleh hangat," jawab Aidan khidmat, menganggukkan kepala.
"Es krim dengan cacahan kacang almond dan pudding vanilla!" celetuk Cecilia spontan.
Akibat rentetan kata-kata yang tampak tak berujung, atmosfer semakin ramai, sampai akhirnya Jack bertanya penasaran pada Near, "Kau sendiri bagaimana, Near?"
Near mengangkat kepala, tangannya masih sibuk menyusun keping-keping puzzle kosong, dan menjawab lugas, "Saya tidak membawa apa pun. Apa yang Aidan bicarakan itu terlalu abstrak dan kabur. Kita tidak hidup di dunia khayal sampai harus dipusingkan oleh pilihan seperti itu. Fokus pada kenyataan saja masih sering kesulitan."
Kedua mata Mello menyipit saat menatap Near lekat-lekat. Ada sesuatu yang asing, tak terdefinisi oleh rantai kata-kata saat kedua bola mata mereka bertumbukan, menelusuri, menyelidiki, meneliti sosok masing-masing dengan penuh minat, meskipun tak terucap gamblang.
Semuanya terdiam sejenak, sampai Linda tak mampu lagi menahan desakan kata-kata, "Ya ampun, Near, santai saja. Kan cuma berandai-andai, dasar kau ini."
Near mengangkat bahu dan kembali menekuri dunia pribadinya.
Laporan penilaian hasil belajar mereka selama bulan Oktober diumumkan pada tanggal 30 Oktober, sehari sebelum Halloween.
Sebentar lagi, Roger akan langsung datang dan menyampaikan hasil penilaian. Pria tua baik hati itu bisa saja menyuruh salah satu stafnya untuk menggantikan dirinya, tapi dia tidak melakukannya. Roger selalu berpendapat bahwa terjun langsung ke dunia anak-anak didik yang dibinanya adalah suatu kebanggaan sebagai seorang pembimbing.
Hal ini membuat sebagian kepala-kepala mungil menunduk gelisah, cemas memikirkan hasil tes, sementara yang lain mencoba mengalihkan ketegangan dengan bersikap lebih ceria daripada biasanya, mengeraskan suara mereka dan bercanda-canda konyol. Kelompok yang pasrah memilih duduk tanpa banyak berharap, berdoa dalam hati sambil menyilangkan jari di bawah meja.
Praktis, hal itu menyisakan golongan terakhir yang cukup stabil berdiri di pijakan sendiri. Mello salah satunya.
"Lihat saja, aku pasti jadi yang teratas, seperti biasanya," katanya pongah sambil menyeringai lebar, seolah kemenangan sudah tergenggam di tangannya. Mello berjalan pasti menuju kelas yang sudah didatangi kumpulan anak-anak lain dengan langkah kaki cepat, punggungnya tegak, dadanya membusung.
Matt berlari-lari kecil untuk menjejeri langkahnya dan membalas cepat, "Percaya diri sekali, Mello. Bukannya akan lebih baik untuk menyombongkan diri setelah posisimu sudah pasti?"
Keduanya mengambil tempat duduk di depan Near, yang sedang duduk menekuk satu lutut sambil memainkan rambutnya. Matt memberinya sapaan sekilas, tapi Mello terus saja duduk dan segera memulai perdebatan yang tadi sempat terhenti.
"Apa percaya diri itu salah? Keyakinan pada diri sendiri adalah kekuatan, apalagi aku sudah bersumpah akan terus berusaha demi menjadi kandidat yang pantas sebagai pewaris L!" desis Mello lewat gigi-giginya yang bergemelutuk.
Gerakan jemari Near terhenti sesaat. L? Dia belum pernah bertemu pemilik nama seunik itu di tempat ini, namun dia tahu bahwa orang-orang selalu menyebut nama tersebut dengan penuh kekaguman dan penghormatan, meski sosoknya tidak pernah terlihat, seolah dia hanya penegak keadilan yang hidup di dunia bayangan.
Watari hanya sempat memberitahunya sekali dalam kunjungannya yang singkat beberapa minggu lalu. "Mungkin kau akan bertemu dia suatu saat nanti. L sendiri adalah aset paling berharga yang pernah dilahirkan oleh didikan Wammy's House. Dia dihargai karena prestasinya sebagai detektif, apalagi L bermental kuat dan punya kemampuan deduksi yang luar biasa. Lagipula, usianya terbilang pantas untuk menjadi seniormu, Near. Kalau semua kesibukannya sudah mereda, L pasti akan kembali ke Wammy's House untuk menjenguk bibit-bibit muda seperti kalian."
Nama yang hanya terdiri dari huruf tunggal yang kelihatan tanpa makna itu sudah memenuhi benak Near semenjak pertama kali dia mendengarnya. Sosok L yang menyimpan abstraknya teka-teki, tak ayal lagi menumbuhkan benih-benih kekaguman bocah lelaki itu. Jika saja mereka sempat bertemu, Near berharap bisa belajar banyak dari L tentang berbagai hal di dunia luar. Dia tidak akan membiarkan L melihat kenaifan bocah semata di dalam dirinya.
"Terserahmu, Mello, aku hanya mengatakan apa yang ada di benakku, kok," tukas Matt, menyilangkan kedua tangan di belakang kepala.
Mello hendak membalas, namun gaung detak sepatu pantofel milik Roger membuat perhatiannya teralih. Dengungan percakapan mulai mereda saat pria tua itu masuk.
Roger memegang setumpuk kertas dan berkata, "Kuucapkan terima kasih atas usaha kalian semua dalam proses belajar selama sebulan ini. Beberapa sudah mencapai standar yang ditetapkan, sebagian masih harus berusaha keras. Tetapi ingatlah selalu anak-anakku, bahwa usaha yang kita lakukan pasti akan berbuah manis bila dijalani sepenuh hati. Segala sesuatu yang baik pasti mendapat imbalan setimpal. Seperti hukum Fisika, aksi setimpal dengan reaksi."
"Bingo! Itu prinsip yang dilontarkan oleh Isaac Newton, Sir," celetuk Matt polos, dan semuanya tertawa kecil.
Matt selalu saja nyaman dengan spontanitasnya. Mungkin hal itu jugalah yang membuatnya terbilang akrab dengan Mello yang gampang meledak-ledak dan sulit diprediksi.
Roger tersenyum simpul.
"Nah, pertama-tama, aku akan mengumumkan peringkat tertinggi, peraih skor penilaian paling sempurna dari semua kalkulasi hasil tes." Roger berdehem, lalu mengumumkan dengan suara penuh wibawa, "Peringkat pertama diraih oleh…," dia membaca nama yang tertulis di kertas paling atas dengan mantap—hampir semua anak menahan napas—,"… Near."
Serentak, setiap kepala berpaling menatap Near, si anak baru yang langsung merajai sisi akademis. Near terhenyak sesaat ketika semua mata tertuju padanya, pandangan mereka seolah ingin menembus sejauh-jauhnya. Mello menggeretakkan gigi, dahinya berkerut dalam. Matt bersiul pelan.
"Maju ke depan, Near dan ambil hasil perjuanganmu selama ini," ucap Roger, memberi sedikit dorongan.
Near meluruskan lututnya, lalu bangkit dari kursi. Berusaha agar tidak menginjak piyama putihnya, dia berjalan ke depan kelas. Tatapan penasaran sekaligus kekaguman dialamatkan padanya secara bertubi-tubi, namun ada satu yang berbeda. Mello. Bahkan Near bisa merasakan tatapan Mello yang panas menggelegak, marah yang bercampur kesal. Cemburu. Iri. Tidak terima begitu saja.
Dada Mello serasa terhimpit. Setelah sekian lama terpisah dari kehidupan lama, rajaman pedih menyayat, menghampiri rongga dadanya, menyergap tanpa ampun. Dia, yang selalu bertekad mengalahkan semua yang menghalangi ambisinya, yang rela tidur beralaskan kertas koran bulukan di emperan toko kala jalanan malam mulai sepi dan meredup, Mello yang tak jarang berkelahi sampai mengucurkan darah hanya demi sekerat roti dan sisa makanan untuk bertahan hidup hari demi hari.
Tanpa mengeluh, dia bekerja semampunya, melompat dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain, apa saja yang bisa memberinya uang serta alasan untuk berharap, tak putus-putusnya berkeyakinan usahanya akan mendatangkan hasil. Hatinya hanya mendambakan agar bisa hidup sekehendaknya, tidak ada lagi kekangan dan batas-batas, bebas lepas, mengejar segala yang menjadi hasrat terdalam, bagai burung yang mengepakkan kedua belah sayap tanpa ragu, anggun sekaligus penuh kebanggaan.
Mello mengharamkan dirinya untuk takut pada ketakutan, tak peduli dengan penindasan geng-geng jalanan pemeras yang biasa mengancam, maupun eksploitasi besar-besaran yang dilakukan oknum-oknum tertentu—mengambil anak-anak jalanan yang tanpa pendidikan, tujuan, rumah untuk pulang—lalu menjual mereka yang tidak berdaya ke rumah bordil, mengirim jiwa-jiwa polos hingga menghitam di dunia bawah tanah yang melibatkan obat-obat bius ilegal, narkoba, bahkan tak jarang menimbulkan tindakan penuh nafsu dan kesesatan: pelecehan seksual.
Mello selalu berhasil hidup di rimba raya yang tidak mengenal ampun itu, dimana yang terbaik dan terkuat yang akan melihat dunia keesokan hari, dan hari berikutnya, begitulah seterusnya. Dia belajar membentengi diri lewat manipulasi emosi, hingga tiba waktu yang tepat baginya untuk kabur. Mello benar-benar melakukannya, sendiri berlari melawan malam, hanya berbekal keberanian dan semangat untuk menjalani hidup agar jangan berakhir dalam kesia-siaan yang menyengsarakan.
Betapa berlikunya jalan yang ditempuhnya hingga selamat di titik kehidupan ini, fase tenang dan damai setelah pendakian menanjak yang menguras energi. Setelah menemukan tempat yang paling tepat, semangat dan determinasinya semakin meningkat, berpijar tanpa jeda. Yang terpatri di pikirannya hanya bagaimana untuk menjadi yang terbaik, meninggalkan semua kenangan buruk di belakang dan memulai lembaran baru. Dunia mutlak berada dalam genggaman keoptimisan.
Namun apa yang tengah terjadi? Muncul satu elemen hidup tidak terduga yang mengusik hati, sosok dari dunia lain yang bahkan tidak layak untuk dicurahi perhatian istimewa. Namun, kehadirannya tak tersangkalkan, kuat dalam kerapuhannya, mengukuhkan dirinya di dalam pikiran Mello, memasungnya lekat, tak ingin lepas. Ya, anak itu yang telah menimbulkan riak-riak kecil yang kemudian berubah menjadi desir ganjil di relung jiwa.
Near.
Mello tidak paham. Tidak mengerti. Dan sesungguhnya, dia tidak berharap akan mengerti. Buang-buang waktu, begitu pikirnya dulu. Kini, Mello mau tak mau harus menarik kembali ucapannya. Sesungguhnya, pikirannya tidak mau kompromi sama sekali, terus menerus memproyeksikan bayangan punggung Near, matanya, suaranya, kecemerlangan pikirannya, dan sikapnya yang dingin dan datar—apa menariknya? Tidak berarti apa-apa dibandingkan dirinya—benar kan?
Roger menepuk punggung Near dengan sikap kebapakan penuh rasa bangga. "Selamat, Nak."
"Terima kasih, Sir," jawabnya sopan, lalu berjalan kembali ke bangku.
"Pasti ada kesalahan," geram Mello menyanggah, tidak terima jika tersingkir ke kursi kedua.
"Peringkat kedua ditempati Mello, disusul Matt di peringkat ketiga. Kalian berdua, majulah," pinta Roger lagi.
Mello bangkit dengan tidak sabar, dan nyaris saja merenggut kertas hasil belajarnya dari tangan Roger jika Matt tidak menyikut rusuknya.
Kemudian, tepukan riuh mulai membahana. Suatu bentuk apresiasi sekaligus pengakuan tulus dari sesama teman.
Namun, Near menyimpulkan, Mello tidak akan menikmati tepukan meriah ini seperti yang biasa dia lakukan. Near telah menyalib jalannya dan merampas singgahsana abadinya hanya dalam tempo sebulan.
Kekalahan bagaikan pukulan telak dan mematikan bagi harga diri dan ego seorang Mello. Menduduki posisi nomor satu adalah segalanya, tersingkir jatuh ke nomor dua hanya pantas dialami seorang pecundang yang menyedihkan.
Fondasi kepercayaan dan kegigihan yang susah payah dibangun Mello seiring waktu berjalan seketika luluh lantak dalam satu momen. Hanya tersisa puing-puing sarat luka, pertanda harga diri yang tersayat-sayat pedih.
Pukul sembilan malam, setelah selesai makan malam dan membaca sebentar di perpustakaan, Near mendapati Mello yang sedang berjalan menyusuri koridor menuju ke kamar tidurnya. Wajahnya kusut tak karuan, bibirnya yang biasa menyeringai puas tertekuk dengan pahit ke sudut. Ketika akan membuka pintu kamarnya yang terletak bersebelahan dengan kamar Mello, dua pasang mata mereka kembali bersiborok. Sedetik, intens, menyala, membakar jiwa.
"Mello," Near memulai, pertama kalinya menyebut nama Mello secara langsung, "Saya—"
Mello menoleh, dan secepat kilat memotong kalimat Near, "Kali ini, kau yang beruntung. Tapi camkan ini, aku akan merebutnya kembali. Lihat saja nanti."
Lalu hening dan sunyi.
Near menyelipkan jari ke sela-sela rambutnya, memainkannya sambil melempar pandang serius tanpa ekspresi, yang membuat Mello jengkel setengah mati. Mello menggigit bibir, menahan diri sebisa mungkin agar tidak kehilangan kendali. Near terlihat begitu rentan, rapuh, seolah semua kata bermakna kekuatan ditarik dari aura dirinya. Mello bisa saja menyudutkannya sekarang, membenturkan tubuh kecil itu ke dinding, menikmati bunyi ketukan tulang-tulang saat terhantam keras ke belakang, menghimpitnya dengan tubuhnya sendiri, merutuk, mengancam, menumpahkan segala rasa frustasinya hingga tak bersisa. Jika dia cukup beruntung, Near tidak akan berani macam-macam dan Roger tak perlu tahu apa pun tentang kejadian ini. Ya, pantas dicoba. Mello yakin bisa menikmati reaksinya.
"Mello?"
"Kau tahu, Near, aku terbiasa dengan kehidupan yang keras," kata Mello dengan suara rendah, namun menyiratkan tanda bahaya.
Dia berjalan mendekati Near, hingga bayangan tubuhnya yang lebih menjulang menutupi berkas bayang-bayang tubuh Near sendiri. Near mundur hingga punggungnya beradu dengan dinding. Terperangkap oleh Mello. Mata lawan mata. Matanya menyusuri fitur wajah Near yang terpahat halus, mencari titik-titik emosi yang mungkin terlukis di sana. "Aku tidak akan kalah hanya karena hal sepele seperti ini, apalagi kalah dari orang menyedihkan sepertimu."
"Mello," Near berkata setelah keheningan yang menyesakkan, "bukan ini yang saya inginkan."
"Apa maksudmu?"
"Mello boleh mengatakan apa saja sesukanya, tapi saya tidak punya niat untuk mengusik dirinya sedikit pun. Tidak ada yang perlu disalahartikan. Mello hanya merasa tidak aman, bukankah begitu?"
Mello mengernyit. "Hah, tahu apa kau tentang aku?" balasnya, lebih lantang dari sebelumnya.
Near tidak bergeming. "Salahkah jika saya mengatakan kebenaran?"
"Jangan berlagak seakan-akan kau tahu segalanya, dan jangan menghakimiku seperti itu!"
Tiba-tiba saja, Mello sudah merenggut kerah piyama putih Near dengan satu sentakan mematikan hingga dia tidak sempat melakukan tindakan preventif. Near agak tersengal, kendati tidak kehilangan ketenangan. Sebaliknya, mata Mello semakin nyalang, nafasnya berkejar-kejaran cepat. Near mengulurkan tangan, mendaratkan cengkaraman lemah tangan kanannya di pergelangan tangan Mello, tanpa suara memintanya berhenti. Bagai tersengat jelatang, Mello menyentakkan tangan, melepaskan Near yang kemudian perlahan merosot ke lantai. Keduanya terpaku, seakan tidak percaya apa yang barusan terjadi, seperti kriminal yang tertangkap basah saat melanggar batas-batas yang seharusnya tabu.
Mello memutar kenop dan membuka pintu, lalu membantingnya menutup dengan satu hempasan yang memekakkan telinga. Near masih bisa mendengar langkah-langkah kaki Mello menginjak-nginjak bumi, meledak dalam amarah dan ketidakpuasan.
Near mencengkram erat pinggiran piyama putih yang dipakainya. Sengatan jemari Mello masih membekas di lehernya. Tak ingin lepas…
Gambaran keceriaan Halloween yang akan berlangsung besok seolah sirna. Near disergap kedinginan ketika kembali mengingat api yang membara di bola mata milik Mello.
Author's note: Kita bertemu lagi, teman-teman! Alur chapter ini mungkin agak lambat bagi yang mengharapkan aksi cepat, tapi saya pribadi suka sekali dengan atmosfernya. Near mulai bisa menerima kehidupan barunya di Wammy's House. Segar juga rasanya menulis percakapan yang benar-benar bernuansa anak-anak, meski Near akhirnya tetap menanggapi dengan gaya satirnya.
Persaingan antara dua jenius pun resmi dimulai. Seseorang yang terbiasa berada di posisi puncak akademis, lalu disalib tiba-tiba oleh orang asing, pastinya kesal, kan? Apalagi kalau orang itu sama sekali gak masuk kategori saingan sebelumnya. Saya pernah ngalamin kejadian kayak gitu di sekolah (kira-kira saat seumuran Mello juga) jadi tahu bagaimana rasanya. Namanya juga anak-anak, sering kali sisi egoisnya lebih mendominasi dan tanpa sadar jadi merasa benci, padahal mungkin diri sendiri masih belum berusaha, hehehe…
Masa lalu Mello sudah saya jabarkan di sini. Kehidupan masa lalunya keras dan suram. Ini sekedar imajinasi, soalnya saya selalu gregetan melihat sikap Mello yang cenderung ekstrim dan gak takut menantang bahaya. Giliran Near, sabar saja… chapter 3 akan menyingkap kabut misteri satu persatu, jadi nantikan dengan setia, ya. Saya akan berterima kasih sekali bila Anda semua bersedia memberi komentar, kesan, saran, maupun kritik yang membangun melalui review. Terima kasih sudah membaca sampai akhir dan sampai jumpa di chapter selanjutnya!
~Azureila
