Enigma
Disclaimer: Death Note is the property of Ooba Tsugumi and Obata Takeshi.
Summary: Sebagai bagian terbesar dari mozaik hidup Near, L dan Mello adalah keping-keping yang paling berharga untuk dikenang.
Proudly dedicated for my beloved senpai, Rin-chan a.k.a GoodBoyTobi whom I very fond of. Her optimistic heart and massive sense of humor always brighten my day. Sista, this time, your wish will finally be granted— L will rule once more! XD
Chapter ini spesial buat semua pembaca yang sudah rela menunggu waktu kemunculan detektif eksentrik kita tercinta, L Lawliet. Jadi jangan todong dan ancam saya lagi lewat review dan PM, oke? Hehe… bercanda… selama todongannya positif dan saya sanggup, saya penuhi. Siapa yang gak mencintai L? I think all of us do. L is everybody's sweetheart, isn't he? :D
Enjoy!
"It's our wits that make us man."
-William Wallace in Braveheart-
3rd Act: Enchanting Enigma
Malam Halloween menghipnotis mata-mata yang terbiasa dengan terangnya cahaya. Kegelapan menjadi instrumen memukau yang mendukung pementasan kolosal parade yang berlangsung di sepanjang jalan utama kota. Beratus-ratus pejalan kaki terbalut bermacam variasi kostum, wajah mereka berpendar ditimpa kilauan lentera labu dan lilin-lilin putih kecil yang berkedip-kedip manakala angin malam kembali menyapu udara.
Seluruh penghuni Wammy's House turut serta dalam arak-arakan ramai itu—diawasi oleh Roger dan para staf sekaligus guru-guru—memamerkan dengan bangga hasil kreatifitas mereka dalam memodifikasi berbagai pola rancangan hingga menjadi kostum terunik. Anak-anak yang berjumlah lebih dari lima puluh itu dibagi-bagi dalam kelompok kecil yang beranggotakan tiga sampai empat anak. Masing-masing kelompok akan berjalan sesuai urutan waktu yang ditentukan hingga mengitari kota, sambil mengumpulkan permen-permen dari setiap rumah yang mereka jumpai.
Tangan-tangan mungil halus milik mereka menggenggam kantung kecil yang berharap diisi oleh pemberian manisan dan permen dari tiap pintu rumah yang diketuk. Bermodalkan senyum manis dan permohonan riang, mereka akan serentak mengucapkan, "Trick or treat!" Si pemilik rumah akan membuka pintu, tersenyum, lalu memberikan beberapa keping permen, manisan, atau cokelat, yang membuat mata setiap anak makin berbinar-binar karena senang. Senyum di wajah mungil mereka merekah lebar, pipi mereka merona kemerahan karena antusiasme. Seolah tak mau kompromi dengan waktu, kaki-kaki mereka ingin langsung melintasi rumah-rumah lain, demi memperkaya perbendaharaan lidah mereka akan beraneka rasa manis yang sarat magnetisme tersendiri.
Tak hanya itu, penduduk lokal di sekitar lingkungan Wammy's House tidak ketinggalan untuk menyuguhkan atraksi yang sanggup menyedot perhatian. Dengan penuh kekaguman, Near dan teman-temannya menyaksikan drama The Flying Dutchman, dimainkan secara andal dan penuh penghayatan oleh remaja-remaja berbakat anggota teater kota Winchester di atas panggung berjalan, diderek oleh mobil-mobil besar pengangkut sayuran yang dipijamkan paman tua baik hati pemilik toko kelontong yang berjarak beberapa blok dari panti asuhan.
Musik latar yang megah dan menghentak-hentak rasa takut dan mengaduk emosi mengalun dari speaker, nada-nadanya bertutur tentang pedihnya ganjaran karena membangkang kuasa Tuhan. Merobek keheningan malam dan membungkam desah nafas manusia-manusia yang berjejal di sekitarnya, menyuguhkan suatu dunia lain yang penuh teror, kepedihan, ketakutan, keputusasaan… ketika si tokoh utama—nakhoda yang arogan—dipaksa berlayar mengarungi samudra hingga kiamat dunia karena terlanjur mengutuk Tuhan ketika badai menghantam kapalnya. Lolongan melengking bergaung di udara ketika si pemeran utama menghayati lakonnya hingga titik terdalam, membuat bulu kuduk berdiri dan rasa dingin menusuk tajam ke sumsum tulang.
Sungguh gemerlap segala bentuk aksi dan atraksi pembunuh waktu ini, hingga Near tidak lagi berpikir bahwa kegiatan seperti ini hanya membuang-buang waktu—seperti yang selalu dikatakan kedua orang itu. Selama hidupnya, Near hanya bisa mengintip pemandangan parade khas Halloween dari jendela kusam berdebu, memicingkan mata menembus kepekatan tirai berwarna gelap yang menjuntai hingga ke lantai. Yang biasa didengarnya kala malam hari bukanlah sorak-sorai orang-orang yang larut dalam keasyikan parade, melainkan teriakan dan jeritan memekakkan telinga dari seorang wanita, ibunya—kalau memang dia adalah ibunya.
Wanita itu berambut kemerahan, berpipi cekung, bibirnya menghitam dan giginya menguning karena kecanduan rokok. Nikotin dan hitamnya ter melunturi nafas dan suara. Near masih bisa merasakan dan mereka-reka dengan jelas bagian mana yang menjadi bantalan empuk dampratan tangan wanita itu; tangan dengan urat-urat nadi berwarna biru yang menonjol di balik selaput kulit tipisnya, tangan yang berhiaskan rangkaian kuku-kuku panjang hingga menyerupai cakar, diwarnai dengan cat kuku menyolok mata.
Rasa sakit kerap menyerangnya secara bertubi-tubi setelah tamparan pertama menghantam pipinya, dan hanya berimbas pada rintihan samar, pertanda air mata yang tidak bisa lagi mengalir. Orkestra nada mencekam ini biasanya ditimpali dengan lenguhan parau sekaligus bentakan keras dari pria kasar yang mengaku-ngaku dirinya sebagai ayah, dengan pakaian berwarna gelap, beraroma seperti kain terbakar, dan nafas berbau minuman keras. Kulit tangannya keruh dimakan cuaca dan usia, jari-jarinya berwarna kemerahan, gempal, dan kasar.
Betapa kontras dengan tangannya sendiri yang kelihatan rapuh, halus, dan seputih pualam. Tangan kedua orang tua seharusnya menjadi perisai, pelindung. Membelai, mengelus, mendekap, dan merengkuh tubuh anak mereka dari ancaman keras dunia luar.
Tapi tidak ada gunanya mengharapkan dunia sempurna sementara kesempurnaan sendiri cuma bersemayam di dalam mimpi. Near harus mengusahakan tangan rapuhnya melambaikan irama keajaiban sebelum jam pasir waktu berhenti berderai. Harapan dan tekad menggantung, menyusup di sela-sela jemarinya. Harapan dan tekad yang semagis lambaian tongkat sihir.
Seperti saat ini.
Tangan kanan Near menggenggam replika tongkat sihir yang dibuatnya dari stik kayu berlapis kertas manila dengan warna biru keperakan. Tangan kirinya menenteng kantung untuk menampung kucuran permen-permen yang akan membanjir nanti. Dia bergelung nyaman di balik kostum hasil modifikasinya. Sebenarnya, beberapa hari sebelum perayaan, Near masih saja bingung akan memakai kostum apa untuk parade menyenangkan ini, mengingat Roger bersikeras semua anak harus ikut. Untunglah, segera saja dia mendapat inspirasi setelah membaca beberapa buku, dan memilih kostum penyihir untuk dikenakan.
Mencontoh kostum dan aksesoris Merlin dalam legenda Raja Arthur, Near mempersiapkan segalanya dengan cepat, dibantu Linda, Cecilia, Aidan dan Matt, yang sudah lebih dulu menyelesaikan kostum mereka. Cecilia mencari-cari topi runcing untuk dikenakan dari tumpukan lama kostum klub teater dan mencucinya dengan sabun lembut agar bersih. Linda membantunya mencocokkan jubah dan Aidan dengan senang hati memberi saran untuk menggunakan jenggot palsu yang dimilikinya, tidak ketinggalan dengan satu set gigi palsu—sengaja dihitamkan untuk memberi kesan gigi yang tanggal— hanya saja Near menolak dengan tegas, meyakinkan bahwa dirinya tak cukup konyol untuk melakukan suruhan Aidan. Matt pun memberikan sentuhan terakhir dengan tongkat sihir dan bros perak yang ditemukannya di koridor lantai tiga. Entah dari mana Matt mendapatkannya, dan bocah periang itu cuma menyahut santai, berkata bahwa Near sebaiknya mengkhawatirkan hal lain daripada soal sesepele itu.
"Sesuai dengan warna rambutmu, Near, dan bros itu akan menyempurnakan penampilanmu. Percayalah!" katanya ringan hati, seakan keefektifan sarannya adalah elemen paling penting.
Alhasil, dengan topi tinggi runcing dan jubah hitam sepanjang mata kaki sebagai penyelubung dari piyama putihnya, dipadukan dengan sepatu hitam (Near butuh waktu 3 jam 45 menit 12 detik untuk menerima kenyataan ini bila dia tidak ingin kakinya terluka di luar), bros keperakan yang tersemat di jubahnya, dan tongkat sihir buatan, Near kelihatan persis seperti penyihir cilik dengan rambut lembut sewarna salju yang jatuh dengan luwes di dahinya.
Mello tampak spektakuler dengan kostum drakula yang didesainnya sendiri. Entah kenapa sesuai sekali dengan pijar matanya yang selalu menyala, pikir Near. Dia berada di barisan terdepan anak-anak yang bersiap-siap turut serta dalam parade Halloween keliling kota yang dimulai pukul tujuh malam ini. Jubah panjang hitam berkerah tinggi melekat sempurna di punggungnya yang tegar, dan dipadukan dengan sarung tangan dan sepatu kulit hitam membuatnya aura yang berpendar di sekelilingnya semakin kelam dan dalam. Near tidak habis pikir bagaimana aura yang melingkupi keberadaan seseorang bisa berubah begitu drastis, seperti yang terjadi pada Mello. Di suatu waktu auranya bersinar dengan semburat keemasan, mempesona, membara, menggelora. Namun layaknya rotasi dunia, sesuatu yang begitu hangat bisa berubah menjadi kejam, merampas, menguasai, menyayat, membakar. Betapa rentan dan tidak stabilnya, penuh guncangan. Meledak-ledak, tak terduga dengan caranya.
Matt yang berdiri di sebelahnya mengundang decak kagum dari sebagian besar anak karena terlihat gagah dengan kostum ala ksatria abad pertengahan: jubah panjang warna cokelat kemerahan yang serasi dengan rambutnya, sarung tangan kulit kecoklatan, dipadukan dengan sepatu bot hitam yang mengikuti alur tungkainya yang panjang, tak lupa dengan membawa replika pedang pendek keperakan. Senyumnya terkembang alami, dan kedua pipi yang masih disertai gurat-gurat kekanakan khas fitur wajahnya yang ramah merona mendengar sanjungan. Matt agak terbatuk, kikuk ketika Mello mengamatinya agak lama dengan pandangan ala observator profesional, sebelum akhirnya Mello tertawa terbahak-bahak sampai terbungkuk-bungkuk. Kecanggungan yang timbul mendadak menguap ditelan udara, dan Matt menaikkan alis, pertanda menantang.
Mello yang awalnya tertawa habis-habisan karena pilihan yang menurutnya sangat tak sesuai dengan suasana Halloween yang seharusnya mencekam, akhirnya mengakui dengan kikikan yang mati-matian ditahannya, dan berkata, "Kurasa tidak buruk juga, Matt. Cocok."
Matt balas mencibir, menyindir Mello yang—menurutnya pribadi—kelihatan seperti maniak obsesif bertaring palsu dengan jubah hitam konyol. Komentar yang terlalu frontal ini ditanggapi Mello dengan melayangkan tinju main-main ke lengan Matt, sementara Matt sendiri sibuk menghindar, berlari-lari kecil, dan begitu mendapat kesempatan emas, langsung membalas dengan pura-pura mencekik leher Mello dari belakang. Mello mengerang dan mengacak-ngacak rambut Matt sambil meronta-ronta. Matt tertawa tergelak-gelak, dan melepaskan Mello setelah sebelumnya memberikan serangan terakhir: menarik jubah hitam Mello hingga miring, membuatnya berantakan.
"Nah, begitu lebih baik, Mello," kata Matt nyengir, matanya berkilat menahan geli.
Mello membetulkan jubahnya dengan gusar dan mendelik marah. Near nyaris saja tersenyum simpul melihat pola tingkah mereka berdua jika dia tidak teringat insiden kecil malam sebelumnya. Ya, jelas sekali Mello tidak menyukai persaingan halus yang Near tawarkan dan bahkan sampai sekarang, tidak sedetik pun bocah itu menatap Near. Mello bisa berlama-lama mencari objek lain untuk mendapatkan fokus penuh atas atensi kedua matanya—yang jelas bukan Near.
"Lihat, kembang api mulai dinyalakan! Parade sudah dimulai!" pekik Jack kegirangan, yang malam itu berpakaian ala Robin Hood, lengkap dengan busur dan anak panah.
Tatapan mereka berdua beradu secara tidak sengaja. Mello membuang muka.
Mungkin, malam ini tidak secerah yang diharapkan hati kecilnya. Dia sudah siap dengan kemungkinan untuk ditinggalkan sendiri atau lebih buruk lagi, sampai Near merasakan sebuah tarikan yang menghentak lengan jubahnya.
"Ayo, Mr. Roger sudah memberi aba-aba agar kita mulai mengikutinya! Pasti akan asyik sekali!" seru Matt antusias. Dengan kedua tangannya, dia menarik lengan jubah Near dan Mello, menuntun mereka berdua maju sehingga sejajar dengan langkah kakinya. Near tertegun sejenak sebelum berjalan mengikuti Matt. Itu artinya mereka akan berada dalam satu kelompok sepanjang malam—jika memang bungkamnya Mello bisa diartikan sebagai pernyataan 'aku tak keberatan'.
Akan tetapi, Near keliru. Mello memuntahkan kemarahannya detik itu juga.
"Matt, kenapa anak ini mesti ikut kita? Dia bisa ikut kelompok lain," Mello memprotes keras.
"Apa masalahnya, Mello? Kelompok lain sudah jalan duluan dari tadi. Lagipula, kita memang harus jalan berparade dalam kelompok-kelompok kecil kecil seperti ini," bantah Matt. "Cepatlah, kita bisa ketinggalan."
"Lebih baik aku jalan sendirian daripada bersamanya," balas Mello. Dia berhenti berjalan. "Aku tidak sudi dia ikut kita."
Matt mengerutkan kening. "Apa masalahnya, sih?" ulangnya heran. "Tunggu—kalian berdua tidak sedang berselisih atau semacamnya, kan?" Matt menatap Mello dan Near bergantian.
"Tidak kok," jawab Near lugas. Dia memang tidak mempermasalahkan kejadian tadi malam dengan Mello. Sebaliknya, Mello yang menyimpan rasa tidak suka.
"Hah, yang benar saja," sanggah Mello marah. "Jangan pura-pura, Near."
"Saya tidak pura-pura, Mello. Saya yakin tidak ada masalah yang serius di antara kita."
Mello mengibaskan tangannya dengan tidak sabar. "Pembohong," desisnya berang. "Pembohong kecil sepertimu harusnya tidak pantas menjadi nomor satu, sungguh memalukan," katanya menghina. "Jangan sombong dengan menganggap aku sudah kalah begitu saja."
"Bukankah ucapan Mello membuktikan kalau Mello semata-mata hanya iri? Salahkah saya karena mencapai posisi itu?" Near balas merespon. "Justru penolakan yang seperti itulah yang membuat segalanya lebih rumit."
"Hentikan, kalian berdua," pinta Matt, dia menghentakkan kaki. "Konyol sekali, jadi hanya gara-gara masalah sepele seperti itu?" Matt menoleh, menatap Mello penuh tanya.
"Sepele?" erang Mello frustasi. "Kau sadar apa yang baru saja kau ucapkan, Matt?" tuntutnya.
"Bahkan kau pun menuduhku yang bukan-bukan," kata Matt, kini mulai kesal dengan sikap antipati Mello. "Kita di sini untuk bersenang-senang, dan tindakanmu tadi merusaknya. Soal Near, bagiku itu sama sekali bukan masalah. Dia meraihnya dengan adil. Tanpa kecurangan sama sekali, apa itu tidak cukup?"
Mello melempar senyum sinis. "Huh, aku bahkan tidak bisa mengenali lagi arti kata teman saat ini. Memuakkan. Oke, kalau kau memutuskan meninggalkan aku dan membelanya, lakukan sesukamu!"
Otot-otot di rahang Matt mengeras. "Kau ikut menyalahkanku?"
"Kau seharusnya sadar pihak mana yang pantas dibela, bila tidak ingin mengkhianati seorang teman," tandas Mello. Dia memutar tubuh dan berjalan meninggalkan mereka.
Tangan Matt mengepal marah, dan secara naluri, dia berteriak,"Hei, tunggu dulu! Tarik kembali ucapanmu, kau akan menyesal, Mello!" Nyaris secepat bayangan, Matt sudah berlari-lari kecil mengejarnya, jubah merah kecoklatannya berkibar-kibar.
Near kembali sendirian.
Waktu terus melaju. Barisan panjang anak-anak Wammy's House tak berhenti berjalan. Langkah-langkah mereka menghentak tanah, semakin menjauh. Bunyi, suara, dan gegap gempita pejalan kaki yang berpartisipasi dalam parade makin menguat. Intensitas, kegairahan dan antusiasme mereka seolah menutup penetrasi dari dunia luar, dari hal-hal yang terpinggirkan. Mereka tak mendengar Near. Tak ada yang menoleh ke belakang untuk memastikan dia baik-baik saja, apakah dirinya ikut dalam rombongan atau tertinggal. Tak ada yang sadar tubuh mungilnya tenggelam dalam arus keramaian. Tak ada yang tahu nafasnya semakin memburu karena panik.
Massa semakin menyemut.
Near terhimpit.
Sesak, pengap, terkukung.
Pusaran warna-warni lampion dan lampu-lampu jalan mengaburkan pandangannya yang sudah terhalangi tubuh-tubuh tinggi yang lalu lalang.
Rasa kalut melandanya.
.
.
.
Pergi! Kau yang dinodai kenistaan hitam. Hidup kami berwarna-warni dan penuh ekspresi, tidak bungkam, tidak bernoda dan bercacat sepertimu. Tubuh kami merasakan kenikmatan duniawi, berbeda dengan tubuhmu yang dilunturi memar dan luka. Wajah kami terangkat tinggi karena bangga dan harga diri, wajahmu hanya menjadi saksi bisu akan jatuhnya harga diri dan memuncaknya rasa malu. Kami menyaksikan pelangi menghiasi cakrawala, dan kau hanya melihat hitam terserak di duniamu.
Kau merasa hitam.
Kau adalah hitam itu sendiri.
Dosa dan noda.
Tanpa harapan, karena merangkak dari kubangan lumpur kotor masa lalu.
Enyah!
Musnah!
.
.
Tapi aku tidak menginginkan hitam! Aku ingin memandang dunia dengan lensa yang berbeda, aku ingin mencoba. Aku yang bercacat mendambakan kesempurnaan. Aku menginginkan putih. Putih yang tanpa noda, bersih, murni. Bebas dari amarah dan prahara. Mampu menangkap keindahan warna apa pun, sanggup menjadi paduan warna-warni dunia lainnya. Aku ingin putih mewarnai duniaku. Aku ingin putih menghapus eksistensi hitam, mengalahkannya. Namun aku tak tahu bagaimana menemukan putih di tengah-tengah pusaran warna yang membutakan mata ini.
Aku hilang ditelan hitam.
Segala bayangan kebenaran perlahan memudar.
Pergi.
Mati…
.
.
.
"Kau tersesat, adik kecil?" tanya seorang pria muda, nafasnya menguar di udara, bau yang ditandai Near selama 7 tahun hidupnya. Bau minuman keras dan asap rokok. Perutnya mulai bergolak.
"Tidak, sa-saya baik-baik saja—"
"Jangan takut, jika kau memang tersesat, kau bisa ikut kami," katanya menyeringai, mengedikkan kepala untuk memberi isyarat kepada teman-temannya. Semuanya bertubuh jangkung dan mata mereka memerah karena mabuk.
Awalnya dia memutuskan untuk tetap tenang, terkendali, memegang kontrol sepenuhnya terhadap situasi seperti ini, sampai salah seorang dari mereka maju, mengulurkan tangan, dengan mudahnya menghimpit tubuh Near yang mungil. Jantung Near seakan terlompat ke tenggorokan dalam satu sentakan menyakitkan saat kedua tangan itu mulai menggerayangi tubuhnya tanpa belas kasihan.
Near berontak mundur seketika.
Keringat dingin mulai menggelayuti pelipisnya. Dia benci sekali merasa lemah, tak berdaya, tanpa kekuatan untuk melawan. Kakinya bagai membeku dan syaraf-syaraf motoriknya tidak mau kompromi.
Terasing dan terpojokkan ke kegelapan.
Buntu.
Near mencengkram replika tongkat sihirnya, berharap keajaiban datang seiring lambaian tongkat, namun sia-sia saja. Dunia tidak terdiri dari fantasi dan mimpi semata. Tubuh-tubuh mereka seolah menjadi dinding penjara yang semakin menyempit, mengurung, membungkam kata-kata dan suaranya. Refleks, Near menyilangkan kedua tangannya di depan dada, nyaris serupa dengan caranya melindungi diri sendiri ketika masih mendekam di rumah, dibelenggu makian dan cercaan kedua orang itu. Kenapa hitam tak pernah berhenti menguntitnya hingga kini?
Kebebasan hanya mimpi semu.
Utopia yang kehilangan waktu untuk berealisasi.
Hitam semakin pekat.
Nafasnya lamat-lamat memendek, tercekat.
Tapi dia mencoba berlari. Dan Near berlari. Tidak peduli dengan reaksi kemarahan yang meluap keluar. Berusaha tidak menghiraukan derap langkah kaki yang mengejarnya.
"Kau benar-benar tersesat! Sama seperti ibumu yang memilih menghabiskan malam di jalanan hanya bermodalkan paras dan tubuhnya! Kami tahu, kami tak pernah lupa pernah menjamahnya!" salah seorang dari mereka berseru. Kemudian terdengarlah lolongan yang mendirikan bulu kuduk. Mereka tertawa liar bagai segerombolan karnivora buas yang sedang berpesta pora.
Kakinya terus maju menjejak tanah. Berayun dan menapak. Jatuh dan bangkit.
Tertatih-tatih dan memaksa kaki berakselerasi lebih membutuhkan banyak energi, terlebih bagi tubuhnya yang tidak terbiasa diburu pemangsa.
Angin malam menampar pipi Near ketika dia berusaha menyibakkan tubuh-tubuh lain. Satu demi satu, secepat mungkin.
Sampai akhirnya dia berhenti. Cengkraman kokoh mengehentikan langkahnya. Near menengadah.
Sepasang bola mata yang dilindungi ceruk cekung balas menatapnya. Kilatan cemerlang timbul dari iris segelap malam. Near hanya bisa balas memandang dalam diam, mencoba mengurai maksud yang tersembunyi di balik tembok-tembok labirin tak berujung yang terdapat di kedalaman kedua bola mata itu. Labirin tanpa akhir ini seolah memerangkapnya, membentenginya dari gangguan dunia luar di sekelilingnya. Dia tak lagi merasa tersesat. Ketakutannya sirna dan kekhawatirannya binasa.
Orang asing ini bisa membaca bahasa matanya. Dia tahu keputusasaan dan rasa kosong yang memenuhi rongga jiwa, ibarat lubang hitam yang menyedot segala warna-warni hidup ke dalam kegelapan kekal.
Near diserbu keyakinan dan pemahaman tak berdasar dalam diamnya.
Kegelapan bola matanya menawarkan teka-teki lain, misteri berbeda yang belum tersingkap, asing dan tak terdefinisikan bila dipahami dengan cara biasa. Anggun dan agung, suci sekaligus sakral seperti dimensi tertinggi yang berada di jagad raya. Puncak semesta dunia lain yang baru saja terlintas di kedua matanya.
Kebebasan maha tinggi, yang tanpa noda maupun cela.
Kesempurnan yang mempunyai ruh nyata.
Bukan hitam.
Melainkan putih.
"Anda…," Near nyaris kehilangan daya untuk berkata-kata, dan semakin dihambat oleh nafasnya yang berpacu cepat, tenggorokannya terasa kering, "siapa?"
Lelaki itu tidak menjawab, malah merentangkan tangannya dan mendorong tubuh Near ke belakangnya tepat ketika gerombolan pemuda pemabuk itu berhasil menyusul. Sebelah pipi Near mendarat di pinggang lelaki jangkung itu. Dia setengah membenamkan wajahnya di kaus putih polos yang membungkus lekuk-lekuk tubuh pelindung asing yang tidak diketahui namanya. Dia masih bisa merasakan jari-jari kurus dan panjang sang lelaki mencengkram bahunya.
"Pengecut," desis pemimpin gerombolan, matanya nyalang, "serahkan anak itu dan biarkan aku bermain-main dengannya sebentar. Toh ibunya—perempuan jalang liar itu—juga sudah sering menjadi mainanku selama ini, dan anak ini bukan pengecualian. Tak akan ada bedanya. Jangan bersikap sok pahlawan."
"Saya tidak mengerti sedikit pun isi racauan kacaumu itu," balas lelaki kurus berambut liar itu tenang, suara baritonnya memberikan kesan kokoh dan stabil. "Anak ini bukan mainan yang bisa kau permainkan seenaknya dalam kuasamu. Saya tegaskan: saya tidak bersikap sok pahlawan. Anak ini tidak akan saya serahkan."
"Persetan!" umpatnya geram, meludah dengan gusar. "Jangan ikut campur, kalau kau masih sayang nyawa!"
"Terserah apa katamu. Saya tidak peduli. Saya menginginkan anak ini."
Mata Near yang setengah terpicing melebar karena rasa tidak percaya. Dia tidak bisa menebak apa yang akan dilakukan orang ini. Menginginkannya? Untuk tujuan apa? Bukankah dia selalu berhasil menjalani takdir sebagai corengan hitam keluarga, anak yang tidak diinginkan, bencana yang dibenci sampai mati?
Segalanya terjadi secepat kilatan detik-detik waktu.
Pria itu mengayunkan tinjunya yang mengepal, dan sang penolong menghindar tepat pada waktunya—setelah sebelumnya mendorong tubuh Near dengan lembut ke belakang—lalu melayangkan tendangan mematikan dengan kecepatan mengerikan yang menghantam tulang iga si penyerang barbar dalam satu momen penentuan. Terdengar bunyi gemeretak tulang dan erangan kesakitan. Lelaki berongga mata cekung memutar tubuhnya dengan luwes, melanjutkan serangan dengan gerakan tajam yang berimplikasi pada patahan geraham belakang. Darah mengucur deras dari bibir si penyerang yang robek parah. Terdengar teriakan dan orang-orang di sekeliling mereka mulai membentuk lingkaran penonton yang antusias sekaligus gelisah, enggan melerai karena menantikan kelanjutan aksi pertarungan.
Namun, adu kekuatan paling memukau pun ada batasnya. Batas itu didobrak sempurna ketika pria muda pemabuk itu tersungkur, dagunya membentur dinginnya aspal. Dia meludahkan dua buah gigi patah yang tersembur bersama kucuran darah dengan gusar. Kroni-kroninya kocar-kacir dan bergegas memapah tubuh itu keluar dari pagar kerumunan. Bahkan setelah aksi yang pasti menguras tenaga untuk ukuran orang normal, sang lelaki tak mengucurkan keringat setetes pun. Dia malah membalikkan tubuh, menerobos tubuh-tubuh lain, menjauhkan diri dari keramaian dan menghampiri Near, kedua tangan mengukuhkan keberadaannya di bahu Near yang ringkih.
"Kau baik-baik saja," ucapnya datar tanpa emosi, lebih terdengar seperti pernyataan daripada pertanyaan.
Near mengangguk, kehabisan kata dan kehilangan kemampuan berartikulasi selama beberapa saat. Dagunya terangkat ketika telunjuk dan ibu jari lelaki itu menyangga rangka wajahnya. Untuk kedua kalinya, mereka saling tenggelam di lautan warna mata masing-masing.
"Kau pasti tersesat begitu jauh hingga dihampiri orang-orang seperti itu."
"Saya terpisah dari rombongan parade," balas Near akhirnya, "tapi bagaimana Anda tahu saya ada di sini?"
"Keramaian mungkin mengaburkan kewaspadaan dan perhatian beberapa pihak, tapi tidak bagi saya. Mata saya tidak terkelabui meski sosokmu tiba-tiba menghilang, walaupun diperlukan kalkulasi yang tepat untuk memprediksi ke mana kau akan berlari pulang."
"Anda mengawasi saya dari kejauhan?"
Satu anggukan tak acuh terlontar sebagai jawaban.
"Kenapa?"
"Sederhana. Saya tertarik pada sosokmu, itu saja."
Kening Near berkerut heran. "Jawaban Anda sungguh ambigu. Terlalu absurb dan penuh ketidakjelasan. Jawaban semacam itu bisa diinterpretasikan dalam banyak arti. "
"Nah," katanya misterius, nada suaranya enigmatis, "bukankah kumpulan teka-teki dan misteri selalu berpangkal dari kekaburan dan ketidakjelasan? Bila kau bisa menarik titik persamaan dari keping-keping puzzle kosong itu, kau akan menyadari bahwa dunia dan penghuninya pun bekerja dengan cara yang sama. Keduanya menunggu untuk dipahami dan dimengerti. Itulah yang harus kau lakukan sekarang, Near."
Rasa ingin tahu Near memuncak. Berapa banyak lagi yang diketahui orang ini tentang dirinya, padahal mereka baru pertama kalinya bertatap muka? Sekonyong-konyong, seperti hantaman yang menyentak belakang kepalanya secepat kilat, Near mendapat ilham. Menguatkan intonasi suaranya, dia berkata, "Anda pasti mengawasi saya secara diam-diam, dan itu tidak mungkin dilakukan tanpa tujuan tertentu. Hanya ada dua kemungkinan: Anda semata-mata ingin tahu atau yang kedua, Anda hanya ingin membuktikan bahwa apa yang Anda ketahui sebelum bertemu saya secara langsung adalah benar adanya."
"Kau sudah selangkah lagi mendekati kebenaran," balasnya, lalu senyumnya merebak untuk pertama kali, bibirnya melengkung dalam satu garis, dan sesaat, bola mata kelamnya yang selalu waspada menampilkan kesan teduh dan damai, lega dan hangat. Kemudian, dia mengamati pakaian Near yang agak acak-acakan. Beberapa kancing di bagian atas bajunya terlepas, memperlihatkan tonjolan tulang selangka yang berlekuk sempurna. Lelaki itu menghela nafas, berjongkok hingga wajahnya sejajar dengan leher Near, dan dengan cepat mengatur agar jubah itu bisa tersemat lebih erat untuk menghindari serbuan dingin angin malam. Kening yang dibingkai juntaian rambut hitam pekat itu berkerut ketika mengamati darah yang mulai membeku merayap turun, membasahi celana katun putih yang dipakai Near. Disekanya kaki Near yang dialiri darah dengan saputangan putih polosnya.
"Tak seharusnya mereka lakukan itu," gumamnya. "Pelecehan seksual itu keji dan biadab, amoral. Terkutuk. Menginjak-injak harga diri manusia."
"Mereka memilih. Dan saya terbiasa tidak punya pilihan, hanya bisa berlari," jawab Near satir tanpa dipolesi tambahan kata-kata lain. Apa gunanya berpura-pura?
Lelaki itu menatapnya sejenak, menimbang-nimbang sambil menggigiti jempolnya. "Bukan tidak punya pilihan. Tetapi kekurangan keberanian untuk membuat pilihan. Takut pada ketakutan itu sendiri. Begitulah manusia."
"Anda bicara seolah sudah mengenal saya lama sekali," sergah Near, rasa takjub menyusup di suaranya yang kini kembali samar.
"Mungkin saya memang berharap seperti itu, karena sesungguhnya waktu saya sangat singkat."
"Siapa Anda sebenarnya? Saya bahkan sudah diselamatkan oleh seseorang yang tidak dikenal, bukankah hal itu irasional sekali?"
Lelaki itu tidak membeberkan identitasnya, malah berkata, "Tidak masalah. Hidup ini sendiri penuh dengan irasionalitas. Kewaspadaan memang penting, tapi kepercayaan, asal diletakkan di pundak orang yang tepat, akan menuntunmu menuju jalan pulang."
Tanpa basa-basi lagi, lelaki itu kembali berjongkok, merendahkan punggungnya dan berkata pada Near, "Naiklah."
Setelah satu kalimat yang sama sekali di luar prediksi itu terekam di memorinya, Near bahkan tidak tahu kenapa dia mau saja menurut. Perasaan nyaman menyergapnya saat punggung lelaki itu menjadi tameng dari serangan dunia luar. Near merapatkan tubuhnya, dan setelah ragu-ragu sesaat, melingkarkan kedua tangannya di leher jenjang lelaki itu, tidak lagi dikuasai rasa jengah. Lengan kurus namun bertenaga yang dimiliknya kini menyangga kedua kaki Near di sisi tubuhnya dengan mulus. Near mendaratkan dagunya di pundak sang lelaki, hidungnya membaui harum manis yang pekat: campuran aroma menenangkan dari permen vanilla dan wewangian musk yang menyegarkan.
Dengan langkah-langkah ringan, lelaki itu membawanya kembali menyusuri parade yang kini masih berlangsung. Wajah pucatnya berganti-ganti rona seiring dengan jatuhnya berbagai bias cahaya dari lampion yang menyala bagai kobaran api. Tidak ada lagi pertukaran informasi, hanya keheningan semata selama menit-menit berlalu sunyi bagai tiupan pasir. Massa yang membludak di sekitar mereka berseliweran tanpa henti, riuhnya dengungan suara mereka mengingatkan Near pada irama nyanyian kumbang musim panas. Anak-anak dan remaja bernyanyi-nyanyi kecil, melantunkan nada-nada kegembiraan karena memperoleh suplai makanan manis yang mampu melambungkan lidah.
Tersentak, seakan teringat sesuatu yang penting, lelaki itu membuka suara, "Bagaimana dengan permenmu?"
Perolehan permen dan manisan terbanyak selalu menjadi rekor paling prestisius dalam Halloween, selain desain kostum. Bukannya Near tidak ingat soal itu.
Near memilih diam beberapa saat sebelum menjawab. "Saya belum mendapatkan satu pun. Tidak masalah, itu bukan prioritas utama."
"Hmm…" lelaki itu bergumam pelan. Sebelah tangannya masih menyangga tubuh mungil Near saat dia merogoh saku jeans pudarnya dengan sigap. Dia menyodorkan sebuah cokelat berbentuk dadu yang dibungkus kertas keperakan ke balik bahunya. "Cokelat bisa merangsang jalannya hormon serotonin dan endorfin, membuat siapa yang memakannya merasa lebih rileks dan tenang. Cobalah."
Nada suaranya seolah tidak menginginkan protes sekecil apa pun. Apa kebaikan dimaksudkan untuk meredakan guncangan emosional hebat yang baru saja terjadi? Near tidak dapat menebaknya.
Lelehan manis cokelat putih membasahi retakan di rongga mulut Near yang sempat kering. Bukan seleranya, namun cukup bisa diterima indra pengecapnya. Aroma manis vanila yang melekat di sekeliling tubuh lelaki itu seolah terjun langsung memenuhi mulutnya. Tak terelakkan, efek cokelat dan penemuan kenyataan itu malah membuatnya perlahan lebih tenang.
Waktu sudah mendekati tengah malam, peralihan menuju suatu hari baru, lembaran yang terus berlanjut dalam buku kehidupan. Massa mulai menyusut, kembali ke peraduan masing-masing, meninggalkan satu momen Halloween yang baru akan terulang tepat setahun lagi. Dari kejauhan, Near bisa melihat rombongan parade dari Wammy's House berbelok pulang dan tanpa bertanya, lelaki itu mengikuti dari belakang sambil tetap menjaga jarak.
Siluet bangunan Wammy's House mulai tampak: gerbang besinya yang tinggi, kokoh, runcing dan mengilap, jendela-jendela yang dihiasi tirai merah anggur, tembok-temboknya yang berdiri teguh, pepohonan yang berderet rapat layaknya pagaran perisai, dan lapangan rumput yang membentang hingga ke barisan perbukitan di belakang gedungnya. Langit terang walau tak berbintang. Kabut tipis melayang-layang di udara menghiasi atmosfer.
"Anda akan pergi setelah ini?" tanya Near pelan, helai rambutnya sedikit menggesek leher lelaki itu ketika dia mempercepat jalannya.
"Apa kau tidak ingin saya pergi?"
Near berkata sambil mencengkram kaus putih lelaki itu, seolah tidak bermaksud melepaskannya. "Tidak untuk saat ini. Anda menyelamatkan saya, tapi saya belum tahu apa pun tentang Anda, bahkan nama Anda masih menjadi teka-teki. Tidak adil sama sekali."
Dia tertawa kecil menghadapi protes kekanakan Near.
"Kau tidak tahu?" tanyanya lembut.
Dentang-dentang lonceng terdengar semakin memecah keheningan, detik-detik menuju puncak malam dan awal pagi pergi tergesa-gesa dengan irama lantang. Desau angin sayup-sayup bertiup, mempermainkan perpaduan helai-helai rambut mereka yang begitu kontras: hitam dan putih.
"Tidak. Tapi saya akan tetap menunggu jawabnya."
Jarum detik waktu bergeser secara pasti menuju angka 12, dan Near menunggu waktu ketika akhirnya lelaki itu membuka selubung rahasia. Dia terus membawanya memasuki gerbang, mendekati panti asuhan yang kini mulai ramai kembali oleh berbagai celotehan dan pekikan riang anak-anak di dalam aula, sementara para pengasuh dan Roger berusaha sebisa mungkin menenangkan keributan kecil khas anak-anak yang dilingkupi suasana riang gembira.
Terdengar tawa riang yang membahana, disusul tepuk tangan dan siulan kagum ketika—Near memicingkan mata agar dapat melihat lebih jelas—Mello mengumumkan hasil perolehan permen dan manisan terbanyak yang didapatnya sepanjang malam ini. Near melihat Matt tidak ambil pusing dengan momen penuh kemenangan itu dan lebih sibuk menekan-nekan keypad game di tangannya, sementara Aidan memperebutkan sebungkus permen jeruk dengan Jack. Rupanya kehilangannya selama beberapa saat belum cukup untuk menimbulkan keributan yang lebih berarti dibandingkan dengan keriuhan saat anak-anak ini menghitung permen, manisan, dan cokelat mereka satu persatu.
Kelelahan dan keletihan menyergap Near tiba-tiba, dan dia menutup mata sejenak, hanya merasakan hentakan naik turun yang ditimbulkan oleh nafas hangat sang lelaki yang stabil berhembus. Di seluruh penjuru kota, lonceng-lonceng di menara jam serentak mengumandangkan terbitnya detik awal mula. Merdu dan jernih.
Kamuflase dan penyelamatan berkedok pun tak lagi berarti.
"Seperti peralihan gelap malam menuju terang pagi, angka dua belas menyimpan kekuatan keduanya. Nama saya merupakan komposisi tunggal karakter huruf kedua belas, sebuah simbol dan lambang; sosok yang harus saya perankan demi dunia dan keadilan."
Suaranya intens dan mantap, "Saya L."
Kedua mata Near tersentak, terbuka dengan siaga, meski dia tetap terdiam membisu, tertegun lama sekali sepanjang sisa perjalanan.
Manifestasi keping kedua dari kumpulan mozaik kehidupan kembali hadir dalam sosok yang bernyawa. Merekat keping-keping kehidupannya yang baru separuh terisi, menggenapinya menjadi satu kesatuan yang utuh.
Selalu tak ada akhir manakala Near mengira perputaran hidup berhenti. Selalu ada awal mula untuk segala sesuatu yang tidak terduga eksistensinya.
Dan kini babak baru itu dimulai ketika lonceng-lonceng gigantis bertindak sebagai pertanda, di saat menentukan ini: pukul dua belas tengah malam. Alias yang bersumber dari huruf kedua belas sesuai urutan alphabet, kode nama yang selalu menjadi bayangan realita dunianya kini hadir secara nyata.
L. Betapa menakjubkannya makna filosofis sebuah nama. Sosoknya mengabadikan momen peralihan, ketika waktu Near akhirnya berdetak dengan gelora yang membumbung semakin tinggi.
Dalam sekejap langsung meloncat mendampingi Mello untuk bergabung dalam kumpulan puzzle terumit sepanjang masa hidupnya. Lelaki ini, L, berkedudukan setara seperti Mello yang ditatapnya dengan pandangan ingin tahu untuk dikuak kebenarannya. Lelaki ini adalah teka-teki itu sendiri, enigma tak terdefenisi, berpijar untuk memancarkan pesona abadi. Misteri yang menghendaki dirinya untuk dimengerti seluruhnya, ditemukan makna dan esensinya.
Untuk pertama kali, Near tersenyum tipis. Tangan Takdir telah menuntunnya, meski melalui bermacam tanda bahaya, menuntunnya menuju L. Tak ada ketinggian yang lebih memukaunya selain keluasan hati dan kecemerlangan pikiran detektif terhebat di dunia.
Lelaki itu telah membuka gerbang kesadarannya, memasung fokus pikirannya, menggugah hidup yang dulu hampa tanpa asa. Eksistensi L menduduki singgahsana dunia logika bersama sosok Mello yang agresif namun atraktif. Keduanya memiliki keluwesan dan keanggunan bergerak seakan mengalir menuruti kehendak alam dunia. Tegak kukuh berdiri sekalipun diterpa badai dan prahara.
Keduanya, tak diragukan lagi, merupakan magnet alami yang begitu menawan hati nurani. Dua jiwa paling berarti, terindah, memukau rasio maupun emosi Near, melengkapi mozaik hidupnya yang dahulu retak dan diisi gelapnya keputusasaan. Betapa menakjubkannya kekuatan waktu, menghantarkan teka-teki paling mengguncang nalar yang bernafas lewat kedua orang ini. Tak percuma waktu membiarkannya menunggu demi sesuatu yang memikat. Pancaran radiasi kedua jiwa mereka ibarat megahnya semburat mega yang perlahan meniti jalan sucinya menuju pagi yang gemilang.
Awal mula asa.
Lembaran baru buku cerita.
Kesempatan kedua dari nirwana.
Tak ada niat untuk menggadaikannya dengan apa pun jua. Bayangan keduanya tak akan mampu lagi terkikis, terlanjur menancapkan akar-akar kokohnya di setiap pembuluh darah, merasuki segenap sirkulasi udara. Keduanya hidup, bernafas, melihat, mendengar, merasa, dan menemukan takhta magis di pusat jiwanya.
Kini lantunan dan notasi emosi serentak digubah ke dalam komposisi lagu yang syairnya bersumber dari bahasa hati, melantukan simfoni paling menggetarkan di rongga dada.
Sejak hari itu, L telah membangun fondasi mimpi di jiwa Near, menyalakan api abadi yang tertidur jauh di lubuk hatinya untuk bangkit meraih langit, dan yang terpenting, mengukir torehan terdalam di dalam memori hidup Near, yang tidak akan pernah mampu dinodai kekejaman waktu dan kerasnya dunia.
Near, sampai bertahun-tahun kemudian, tidak pernah menyesali cara pertemuannya yang begitu absurb dengan figur L yang dikaguminya. Bagaimana mungkin dia menyesal setelah menemukan Firdaus yang sebenarnya, yang menawarkan kebahagiaan sejati tanpa perlu membohongi diri sendiri, di mana jiwanya bisa terbebas sepenuhnya dari kengerian masa lalu? L tidak memandangnya dengan tatapan kebencian dan prasangka. L menyampaikan, lewat kebisuan yang dipahaminya, kalau dia akan membutuhkannya, suatu saat nanti, ketika waktu dan peristiwa membentuk figurnya sendiri yang mampu berdiri stabil, menjadi seorang lelaki seutuhnya.
Kehadiran L telah memaknai hidupnya yang dulu hitam legam, dilunturi prasangka buruk dan tudingan hina, mengubur cacat hingga tak bersisa, menyapukan sentuhan putih bernama kesempurnaan. Kini dunianya tidak lagi timpang dan invalid, melainkan kuat, berpijak atas kehendak untuk bangkit berdiri.
"Yang terpenting, bukan apa yang dipikirkan orang tentang dirimu," ucapnya serius ketika membaringkan tubuh Near yang sudah diobati luka-lukanya di tempat tidur. "Adalah ini," katanya sambil menyentuh dahi Near dengan jari telunjuknya, "yang akan menentukan bagaimana caramu mempertahankan hidup. Tapi yang terpenting, hatimulah yang akan menyelamatkanmu, Near. Meskipun itu artinya kau harus tersingkir dari dunia karena ditolak oleh kumpulan manusia yang ingkar mengakui kebenaran."
"Maksud Anda lebih baik menjadi satu yang benar, meski tersingkir, daripada menjadi bagian dari kepalsuan semua manusia munafik," Near menyimpulkan. Dia menatap L lekat-lekat, mengagumi keindahan pribadi di hadapannya dengan tak habis-habisnya. "Saya akan mencoba."
"Jangan pernah berpikir untuk menghentikan segala usahamu begitu kau sudah memulai langkah pertama," kata L akhirnya. Dia bangkit dari duduknya dan menatap Near dengan seksama. "Kau akan mengerti suatu hari nanti. Ketika akhirnya tiba, mungkin saya akan memerlukanmu untuk melalui jalan itu."
L telah mengajarkannya cara untuk bertahan; hidup dengan vitalitas dan harga diri. Demi kepercayaan yang telah diembankan padanya itulah, dia akan tetap bertahan. L tak pernah berhenti percaya, kemudian dengan bangga diutarakannya hal ini kepada Near sebelum jemarinya yang panjang dan kokoh itu menarik selimut beludru hingga menyelimuti tubuh Near sebatas leher, "Keadilan pasti menang."
Near mengangguk, dikuasai rasa hormat yang tulus atas keteguhan yang dimiliki L.
"L," pangggil Near pelan ketika L hendak beranjak pergi,"… terima kasih."
Sesaat, L terdiam, bungkam. Near menunggu. Dengan canggung, dia mengusap helaian rambut Near yang jatuh menutupi dahinya dan berkata, "Tidak masalah."
Pintu ditutup dan lampu kamar dipadamkan. Near segera dibuai alam mimpi dalam tidur. Tidur yang tidak lagi tertunda kegelisahan.
Kedamaian merentangkan tangannya dengan penuh kasih, memeluk jiwanya yang letih hingga ufuk timur diterangi mentari pagi.
Author's Note: Akhirnya, kita sampai juga di bagian ini. Leganya! karena saya udah merencanakan chapter ini semenjak bulan Ramadhan kemarin. Maaf karena update yang telat, saya tahu saya keberadaan L sebelumnya masih gak jelas dan menggantung. Nah, setelah kemunculannya, bagaimana pendapat kalian semua? Mungkin saya bakal ditimpukin tomat karena menyiksa Near di chapter ini. Tapi bukan karena saya benci Near, lho… justru saya jadi sayang sama karakter satu ini setelah memahaminya. XD
Scene terakhir agak mengingatkan saya pada Dua Sisi Dunia. Eits, bukan dalam artian shonen ai! Cuma persamaan momen yang sama-sama menenangkan, kok. Jujur, saya merasa bersalah karena gak bisa update tanggal 31 Oktober kemarin, hari ulang tahun L. Tugas-tugas menumpuk, masalah di sekolah pun menambah sakit kepala. Saya sudah bersikap gak enak ke orang-orang tertentu, dan di saat yang bersamaan saya juga susah mengendalikan amarah. Terima kasih sekali lagi buat semua review-nya, benar-benar menghibur saya yang saat itu sedang uring-uringan.
Akhir kata, saran, kritik, komentar, segala bentuk tanggapan ditunggu lewat review. Semoga kalian juga menjalani hari-hari yang menyenangkan, ya. :D
~Azureila
