Disclaimer : Masashi Kishimoto.

Dibuat untuk "Infantrum Black and White Challenge" dari Blackpapillon-nee. Saya ambil set WHITE//Fluff. Romance.

This chapter is for Strawberry Jam theme.

Kali ini lumayan panjang. Hehe, enjoy! XD


5日間

by dilia shiraishi

CHAPTER TWO : Hanging Out


.

MINGGU-MINGGU telah berlalu. Musim gugur awal Desember sudah tak bersisa. Digantikan dengan butiran halus putih yang dingin memenuhi setiap jengkal.

Salju.

Benda dingin yang disukai banyak orang-sekarang menggantikan posisi daun-daun berserak kegemaran Ino. Membuat setiap inci jalan menjadi putih-tebal berbungkus salju. Begitu pun dengan pepohonan-daunnya telah tertutup sang butiran putih.

Cuaca sungguh dingin pagi itu. Paling enak adalah berdiam di rumah dengan mantel tebal menatap kaca jendela besar, ditemani secangkir cokelat panas dan apple pie plus madu. Atau menyusup dalam selimut lembut hangat dengan buku dongeng di tangan-tepat di depan perapian.

Yang jelas, jalan-jalan di luar pada hujan salju seperti sekarang, tentu bukanlah ide terbaik yang ada di muka bumi ini.

Namun itulah yang sedang dilakukannya sekarang. Berjalan di luar dengan tubuh masih menggigil meski sudah dilengkapi sweater, syal, dan topi. Rupanya cuaca memang sedang tak bersahabat. Sudah tahu begitu, gadis pirang tersebut tetap saja bersikeras ingin jalan-jalan bersama Shikamaru.

Entahlah, seperti ada yang mendorong di hatinya untuk melakukan ini. Ia jadi merasa tergelitik dan akhirnya menyanggupi ajakan jalan dari pemuda nanas itu. Tapi sekarang… rasanya ia ingin membatalkan janji ini dan mengikuti semua saran enak tadi-yah, namun tentu saja itu tak bisa.

Ia sudah begitu bersemangat ketika menyahut telepon Shikamaru kemarin malam, bahkan ia sudah membuat bekal untuk mereka berdua segala. Dan kemudian dia harus kembali lagi ke rumah setelah sebelumnya dengan semangat '45 menyanggupi ajakan Shikamaru? Seperti tak ada kelakuan yang lebih sopan saja.

Lagipula jika kembali… ia pasti merasa menyesal. Jarang-jarang Shikamaru mengajaknya pergi ke luar. Biasanya, justru ia yang lebih sering memaksa pemuda itu menemaninya. Kesempatan yang langka sekali, bukan?

Maka itulah, sekarang Ino sedang menguatkan hatinya mengarungi lautan putih ini. Meski kakinya terasa sulit bergerak,-tentu saja karena salju yang begitu tebal melapisi- ia tak akan mau kembali ke rumah Sakura sebelum menyelesaikan jalan-jalannya ini.

Ah, ya. Rumah Sakura.

Sementara ini dia tinggal di rumah sahabatnya itu, sampai ia sanggup untuk menjelaskan semua yang terjadi pada keluarganya. Kepulangan ia dari Korea ini mendadak, tak ada pemberitahuan, dan dengan swadayanya sendiri. Ia pulang dengan uang kerja sambilan-yang ia dapatkan setelah kerja keras yang sungguh melelahkan. Itu pun hampir tak cukup untuk biaya pesawat. Gadis pirang itu dengan terpaksa harus meminjam uang dari salah satu temannya di sana.

Teman yang terbilang dekat. Sangat dekat bahkan -menurut orang-orang.

Sai.

Itu nama teman yang ia pinta pinjaman. Rasanya memang malu meminjam uang seperti ini. Ia pun sempat enggan dan berniat mengurungkan. Tapi mau apa lagi? Bagaimana pun ia harus kembali saat itu juga.

Tenang saja, ia pasti akan mengganti semua biaya yang ia pinjam. Tak mungkin Ino lepas tanggung jawab pada satu-satunya orang di negeri rantau yang sangat mengerti dia.

Ya, meski begitu banyak fitnah yang terlontar pada Ino, Sai tetap ada di dekatnya. Percaya pada kebenaran yang selalu Ino coba perlihatkan. Tak pernah meninggalkan Ino di saat gadis itu membutuhkan sandaran.

Orang sebaik itu, Ino tak bisa mengkhianatinya.

Meski sebenarnya sangat mudah bagi Ino untuk membohongi Sai. Meminjam namun tak pernah dikembalikan. Tapi, maaf. Ia bukan orang seperti itu. Mungkin ia memang cerewet, membosankan, dan lain-lain yang buruk, tapi setidaknya ia bukan pengkhianat.

Yang bermulut manis di depan, dan begitu busuk di belakang. Ia tak mau disamakan dengan orang-orang munafik macam seseorang yang sudah dianggapnya sahabat saat di Korea. Ya, sahabat yang kerjaannya menjelek-jelekkan sahabat lainnya. Sahabat macam apa itu? Omong kosong.

.

"Hufft..," Ino menarik napas panjang. Mengingat semua benang memori yang terjalin kusut itu membuatnya tiba-tiba lelah mental. Entah kenapa rasa sakit dikhianati kembali muncul. Dengan segera, Ino menggeleng-gelengkan kepalanya. Tak mau dikuasai kekecewaan lagi.

Ia harus fokus. Hari ini pasti jadi hari yang menyenangkan. Oh, atau mungkin lebih baik disebut harus jadi hari yang menyenangkan. Bagaimana pun caranya. Yang pasti ia tak ingin hari ini berjalan sia-sia begitu saja tanpa kenangan manis, atau malah menjadi hari yang hancur.

Tidak. Harus menyenangkan. Harus. Ya, kan?

.


SHIKAMARU melirik jam yang melingkar di tangan kirinya, jam setengah delapan. Ino terlambat. Oke, sangat terlambat. Mereka janji bertemu di jalan ini jam setengah enam. Dan sekarang sudah sangat lewat dari waktu tadi.

"Hufft…," ia menghela napas. Berusaha sedikit lebih bersabar lagi, Shikamaru lalu kembali mendudukkan dirinya di bangku batu itu. Menyandarkan tubuhnya hingga terasa lebih rileks.

Suasana kemudian hening, hening yang menenangkan. Tempat favorit mereka berkumpul ini memang sebuah tempat yang sarat kenyamanan. Sebuah tempat dimana pohon-pohon berjajar rapi memenuhi pinggir jalan. Jalan yang ketika musim gugur dipenuhi daun-daun berserak. Yang ketika musim dingin tertutupi butiran putih tebal-salju. Yang ketika musim semi digenangi keindahan semilir bunga yang mekar. Yang ketika musim panas mendapat limpahan hangat cahaya matahari. Tempat dimana kenangan indah mereka tersimpan rapi-terus bergulir dalam hati, seiring musim terus berganti.

Pemuda yang khas dengan wajah malasnya itu memejamkan mata. Kembali tenggelam dalam pikirannya, mengenang semua memori yang telah ia lewati bersama kedua sahabat. Membuat ia tanpa sadar tersenyum. Senyum yang damai-yang bahkan ia sendiri tak sadar telah melakukan.

Tak terasa, waktu terus berlalu. Sementara Shikamaru masih sibuk dalam pikirannya sendiri. Mengingat semua kejadian yang telah ia alami.

Tiba-tiba Shikamaru merasakan tepukan halus di pundaknya-hingga ia dengan cepat membuka mata, "Ada apa senyum-senyum sendiri gitu? Udah gila ya?" tampak di penglihatannya seorang gadis berambut pirang-orang yang ia tunggu sedari tadi, sedang nyengir lebar ke arahnya.

"Ino. Kau telat." Shikamaru mengacuhkan pertanyaan awal Ino. Ia menatap gadis itu sedikit sinis. Sudah terlambat dua jam, masih saja bisa nyengir selebar itu? Ya ampun.

Ino menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal, "Err-memangnya sekarang jam berapa? Aku tak bawa jam, jadi tak tahu. Hehe…," gadis itu menjawab kikuk. Sedikit mengedikkan kepalanya ketika harus berbohong. Ya, tak mungkin ia sampai lupa membawa jam. Yang ada justru setiap detik ia selalu melihat jam.

Shikamaru menyipitkan mata-tampak tak percaya dengan alasan Ino barusan, "Oh ya?" ia melirik pergelangan tangan kanan Ino yang dihiasi jam putih dengan indahnya.

Dan gadis pirang tersebut segera kelabakan menyembunyikan tangan kanannya yang justru mengungkapkan dusta. Gagal sudah ia berbohong. Duh, kenapa ia sampai harus lupa melepas jam sebelum memberi alasan, sih? Jelas saja sekarang semburat-semburat merah mulai mewarnai wajah pucatnya.

"Ahh-engh, i-itu…,"

Shikamaru ganti nyengir tak berdosa melihat wajah Ino yang sudah semerah tomat. Membuat siapa saja tergoda untuk tertawa. Lucu sekali, tampak begitu menggemaskan dan seakan meminta supaya pipi merahnya dicubit. "Ahaha, sudahlah Ino. Tapi jangan sampai kau membuatku menunggu selama ini lagi. Ngantuk tau."

Kata-kata Shikamaru tadi membuat Ino dengan segera tersenyum kembali sambil menepuk pundak pemuda itu penuh terima kasih. "Gomen-ne, bukan maksudku untuk telat. Tapi ternyata bikin bekal itu tak semudah yang kukira." Tutur Ino sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal-sedikit putus asa.

Shikamaru mengangkat sebelah alisnya, "Kau buat bekal?" ia bertanya dengan nada heran. Tampak tak biasa dengan perilaku Ino yang menurutnya berbeda.

Ino mengangguk kecil, "Ya… kupikir tak ada salahnya juga membuat bekal. Meski aku tak menjamin rasa dari bekalku ini, sih." Jawabnya sambil menjulurkan lidah. "Ohya, mana Chouji-my big bro?" ia menoleh ke segala arah, mencari sosok pemuda lain yang selalu membawa keripik kentang di tangan itu-namun tak menemukannya.

"Ia memang tak datang. Aku tak mengajaknya."

Jawaban Shikamaru tadi membuat Ino sedikit terbelalak, gadis itu menoleh cepat. "Hah? Tumben sekali kau tak mengajak dia di acara jalan-jalan kita. Biasanya kau justru tak mau kalo kuajak jalan berdua. Katanya takut dikira yang 'iya-iya'?" Ino mengerutkan keningnya sambil membuat tanda kutip dengan kedua tangan.

"Yaah…"

Lagi-lagi kata-kata itu yang terurai dari mulut Shikamaru. Membuat Ino geleng-geleng kepala maklum. Ia tahu, satu kata itu sudah mewakili banyak jawaban bagi Shikamaru. "Err-ya sudahlah, mau kemana kita?" Ino menatap mata mengantuk pemuda di hadapannya.

Shikamaru menguap lebar lalu berkata santai, "Tak tahu."

Dengan segera Ino menjitak kepala sahabatnya itu kencang-kencang begitu mendengar kalimat pendek tadi, "Kau ini! Udah ngajak, tapi nggak tau mau kemana! Errgh, lain kali memang aku tak usah banyak berharap darimu, ya." dia berkata geram sambil menginjak kaki Shikamaru penuh amarah. Membuat pemuda itu sedikit berjengit kesakitan. "Huh. Terpaksa, kali ini kau ikuti aku saja!"

Shikamaru mengangkat alisnya cuek, "Yaah…"

Dan kata sarat makna tersebut memaksa Ino untuk menginjak kaki Shikamaru sekencang-kencangnya sekali lagi.


.

"KENAPA harus selai stroberi, sih?"

Pemuda berambut layaknya nanas itu mengernyit heran menatap Ino yang ngotot ingin membeli selai stroberi untuk teman makan roti bekalnya. Yang ditanyai hanya menoleh sebentar sebelum kemudian kembali menekuni selai-selai di hadapannya.

"Soalnya aku suka."

Shikamaru mencibir, "Memang baru sekali ini aku jalan denganmu? Kau benci selai stroberi, kesukaanmu itu selai nanas." Ia bersedekap seraya menguap kembali.

Ino menghela napas, "Entah. Sekarang aku hanya ingin stroberi. Mungkin ngidam." Ujarnya tak peduli. Ia mengambil satu selai stroberi sekali pakai dari jejeran etalase, membaca komposisinya, lalu bergegas membawanya ke kasir.

"Ngidam? Kau tak sedang hamil, kan?"

Sekali lagi kaki Shikamaru terkena injakan dahsyat Ino. Membuat ia mendadak terjaga dari tidurnya yang baru saja ingin dimulai. "Jangan sembarangan, Kepala Nanas! Mungkin itu juga yang membuat aku jadi benci selai nanas. Soalnya kalo makan itu, jadi teringat kau." Ino mengeluarkan uang dan memberikan pada sang kasir.

"Yaah… Terserahlah." Pemuda itu memilih mengalah. Ia terlalu malas untuk membalas kata-kata Ino. Perdebatan itu pasti akan jadi panjang bila ia masih nekad melakukan penyanggahan.

"Tch." Ino mendengus sambil menggumamkan kata 'terima kasih' pada sang kasir yang ramah melayani. "Ayo, Shika." Ia lalu menarik tangan Shikamaru, membawa sang pemuda ke tempat yang bahkan ia belum tahu dimana.

Kedua sahabat itu kemudian terus berjalan hingga entah kapan mereka sudah sampai di gerai pertokoan yang menunjukkan situasi ramai sudah dimulai-bahkan sejak pagi sekali. Jalan-jalan sempit di sekitar pertokoan itu bahkan nyaris penuh. Membuat Shikamaru menghela napas malas, dan Ino mengangkat bahunya maklum.

"Ternyata masih belum berubah, ya. Ramai…," Ino membalikkan tubuh menghadap Shikamaru sambil mengangkat satu alis tinggi-tinggi.

"Ya," sahut pemuda itu pendek. "Tapi kau yang berubah." Kemudian ia hanya menggumam. Gumaman yang terlalu kecil untuk disadari keberadaannya oleh Ino.

"Err-jadi bagaimana? Kemana kita?" Tanya Ino kemudian. Ia jadi kehilangan ide untuk tempat yang akan mereka tuju. Bagaimana pun sudah lama sekali ia tak berjalan-jalan di sekitar sini. Dan itu membuatnya tak terlalu hapal akan jalan-jalan pertokoan yang dahulu sangat dia ingat di luar kepala.

Shikamaru menyipitkan matanya, "Tadi bukannya aku disuruh mengikuti kemana kau pergi?" ia menguap lebar-lebar. Membuat Ino ingin membekapnya karena takut akan ada lalat yang tergoda memasuki.

"Yaa… Tadi kupikir aku masih ingat jalan-jalan kecil di sini. Tapi ternyata tidak. Yang bisa kuingat hanya tentang adanya café tempat kita sering berkumpul di sekitar sini. Hehe…," jawab Ino sambil menyengir kuda. Menutupi kecanggungannya karena tadi sudah menunjukkan sikap bahwa ia mengingat semua.

Shikamaru menggosok hidung cuek. Ia lalu mengambil tangan Ino dalam gandengannya cepat. "Kalau begitu sekarang kau yang ikuti aku." Ia menyeringai penuh kemenangan. Sementara Ino merasa ingin menjitak kepala sang pemuda nanas begitu melihat raut wajah yang menyebalkan terpampang di sana.

Dan mereka kemudian melanjutkan perjalanan,-melewati kerumunan orang-orang yang sibuk dengan dagangan dan sale diskon mereka. Kebisingan tawar-menawar yang memekakkan telinga sesekali membuat Ino menggerutu pelan, sedangkan Shikamaru memilih diam. Terlalu malas untuk mengomentari hal yang tak penting baginya. Toh, meski menggerutu kebisingan itu tak akan pudar.

Setelah puas mengomel akan keadaan pertokoan, sang gadis pirang bermata sapphire memandangi punggung Shikamaru sayu. Sudah lama ia tak bertemu sahabatnya itu. Sahabat yang sudah ia anggap lebih.

Dulu ia pikir, kalau sudah lama tak bertemu tentu rasa itu akan mulai hengkang. Tapi kenyataannya tidak. Rasa itu masih kuat dalam dirinya. Malah justru semakin membuncah. Membuat ia sendiri tersiksa karena ia tahu, pemuda yang menggandeng tangannya ini pasti sudah memiliki yang lain.

Tapi tak mudah untuk membuang semua rasa yang pernah ada. Atau mungkin lebih pantas disebut masih ada. Meski terpisah jarak, ruang, waktu, atau mungkin dimensi, ia tetap terus memikirkan dia. Dan mungkin alasan kepulangannya kembali ke Jepang selain lelah dikucilkan adalah, dia.

'Dia' menjadi alasan kedua kepulangannya. Ingin bertemu dan menghabiskan hari bersama kembali dengan dia. Ingin menatap seluruh ekspresi malas itu kembali. Segalanya tentang dia. Ino rindu.

Meski Ino tahu ia tak mungkin memiliki… tapi tak apa. Asal dia bahagia, maka Ino akan hidup bahagia. Sulit memang, tapi itu yang harus ia lakukan. Ia tak mau jadi perusak hubungan orang-terlebih orang yang ia sukai.

"Errh…," Ino menggeleng-gelengkan kepala. Berusaha menepis segala pemikiran dan prasangka yang mulai memenuhi otak. Membuat ia jadi tak bisa fokus pada hari yang sudah ditargetkannya untuk menjadi menyenangkan ini.

Serta merta Shikamaru melirik Ino, tatapan matanya menyiratkan pertanyaan tentang ucapan tidak jelas Ino barusan.

"Enggak apa-apa. Hanya sedikit pusing."

Lagi-lagi ia berbohong.

Untung saja pemuda di hadapannya ini sudah memiliki yang lain. Kalau tidak, pemuda itu harus bersama gadis bawel tukang bohong seperti dia.

.


"PENUH." Komentar Ino ketika mereka berdua telah sampai di depan café yang dahulu sering mereka kunjungi bersama. Alis gadis pirang itu berkerut tanda ia tak betah dengan banyaknya jumlah orang yang berjubel di tempat ini.

Shikamaru mengangguk mengiyakan, "Iya. Memang."

Ino menghela napas. "Jadi mau disini saja? Tapi penuh nih… Tidak enak."

"Memang kau mau dimana?" tanya Shikamaru malas. Ia ingin segera duduk dan tidur sejenak, itu saja.

Ino terdiam sebentar-tampak sedang berpikir. "Err-di jalan 'itu'?" ia tersenyum paksa sambil mengingat-ingat lagi tempat bagus yang dulu pernah dikunjunginya. Tapi semua hilang. Ia tak ingat apa-apa, kecuali café ini dan jalan itu. Jalan yang dipenuhi daun berserak ketika musim gugur, dan tertutupi salju ketika musim berubah dingin seperti sekarang.

Shikamaru menatap mata Ino sambil menahan kuapnya, "Tapi ini musim dingin, Ino. Kau bisa masuk angin kalau duduk di tengah salju dan angin kencang seperti di jalan itu."

Jawaban bijak Shikamaru tadi membuat Ino mengangguk-angguk. "Iya juga, sih. Lalu kemana dong?"

"Kita bisa kesana kalau sudah agak siang. Sekarang masih jam sepuluh. Mungkin jam dua belas nanti, jalan itu tak akan sedingin sekarang." Ia menjawab santai seraya membenamkan kedua tangannya ke dalam saku jaket. Rupanya Shikamaru sudah benar-benar kedinginan.

"Oke, kalau gitu… sekarang kita lihat toko-toko saja, ya?" Ino kemudian segera menarik lengan Shikamaru, membawa sang pemuda ke gerai-gerai yang membuatnya tertarik. "Wah, ternyata bagus-bagus juga… Apalagi kalung yang disana! Kristal-nya lucu! Berapa ya, harganya?" dan mulailah sifat asli Ino mengudara. Cerewetnya kembali datang jika sudah berurusan dengan belanja.

Shikamaru hanya mendesah pelan. Namun tak urung ia tersenyum juga, mau tak mau ia jadi senang ternyata Ino tak berubah seperti dalam bayangannya.

Tak lama kemudian Ino sudah menarik Shikamaru menuju toko tempat kalung yang ia sebut-sebut tadi. Memang benar kata Ino, kalung itu indah. Kristal di kalung tersebut bening, tapi jika dilihat dengan perspektif lain, dia akan berubah warna. Ungu.

"Mbak~ Harga kalung ini berapa ya?" Ino menunjuk kalung tersebut. Rona wajahnya menunjukkan ketertarikan yang amat dalam. Ia benar-benar telah jatuh cinta pada kalung ini. Wanita penjaga toko disana kemudian menjawab sopan pertanyaan Ino tadi. Dan seketika Ino merengut ketika mendengarnya. Harga kalung itu mahal-err sangat mahal untuk orang yang masih dililit hutang layaknya ia.

"Jadi mau beli, mbak?" sang penjaga toko kembali bersuara. Lengkungan garis senyum terpatri di wajahnya-menunjukkan bahwa ia penjaga toko yang ramah.

Ino tertegun sebentar, terlihat sangat ragu dengan apa yang akan ia katakan. "Uhm, mungkin kapan-kapan saja… Terima kasih ya, mbak." Ino kemudian cepat-cepat menjauh. Kekecewaan terlihat jelas dari cahaya matanya. Sementara Shikamaru memandang perubahan wajah Ino, alisnya berkerut.

"Lima ribu yen ya?"

.


.

.

"HAAAAH… capeknyaaa~ Akhirnya aku bisa duduk juga." Ino membanting diri untuk duduk di atas bangku batu di jalan itu. Membuat ia sedikit mengaduh karena bantingan yang terlalu keras.

Shikamaru ikut duduk di samping Ino, "Harusnya aku yang bilang begitu. Menamanimu belanja ternyata benar-benar seburuk yang aku kira."

Membuat Ino tampak bersungut-sungut di sampingnya, "Ya sudahlah. Kau lapar? Kita makan saja bekal ini. Tapi aku tak mau tanggung kalau kau sakit perut, ya." Ucap Ino sambil membuka kotak bekal yang sedari tadi digenggamnya dalam keranjang. Ia kemudian mengeluarkan selai-selai stroberi-yang dibeli di minimarket tadi- dan mengoleskannya pada roti tawar. "Kau mau roti dulu, atau langsung bento?"

"Bento saja. Aku lapar."

Dan Ino segera mengambil kotak bekal yang lain seraya mengangsurkannya pada Shikamaru. "Nih. Gomen kalau tak enak. Nanti sampai di rumah langsung makan obat sakit perut saja."

Serta merta Shikamaru tertawa, "Tidak segitunya juga, kali. Tenang saja, kukira masakanmu pasti enak."

Ino menghela napas, "Semoga saja." Ia mencibir pada bento buatannya. "Ngomong-ngomong… kau benar. Aku memang tak suka selai stroberi." Ino menunjuk roti yang sudah ia lumuri selai.

"Yaah…"

"Tapi-," Ino menyela kata-kata yang baru saja ingin diucapkan Shikamaru. "Tapi- akhir-akhir ini aku jadi suka selai stroberi." Ia bertutur sembari menggigit roti beroles itu. "Kukira selain daun gugur, selai stroberi juga punya filosofi hidup."

"Terserah kau." Shikamaru mulai melahap bento buatan Ino. "Hmm, lumayan juga."

Ino jadi tampak sedikit senang, "Oh ya? Baguslah...," ia mengelus dada lega. "Ah, hei! Aku tadi belum selesai bicara lho." Ia menjitak kepala Shikamaru yang tidak tampak merasa bersalah.

Pemuda dengan anting di telinga itu hanya mendengus keras lalu membenarkan posisi duduknya. Tanda bahwa ia mendengarkan semua yang akan Ino bicarakan. Sang gadis tersenyum ketika melihat Shikamaru bersedia memperhatikan dirinya.

"Nah gitu, dong. Jadi begini-stroberi itu kan, buah yang asam-kecut dengan sedikit manis yang membuat orang justru ketagihan akan kesegarannya. Tapi lihat. Begitu stroberi itu dijadikan selai, rasanya berubah manis. Namun meski begitu, masih terasa sedikit asam-yang membuat selai itu masih segar layaknya buah asli. Dan begitu juga hidup." Ino menghela napas sejenak. "Hidup tak selamanya berisi kesedihan, ada juga kesenangan yang terselip di dalam sana. Entah berasal dari apa-keluarga, sahabat, atau orang yang disuka. Tapi hidup juga tak selamanya manis-berisi kebahagian setiap hari. Tapi di dalam kebahagiaan itu pasti terselip suatu kesedihan, kekecewaan, penyesalan-yang tentu saja asam." Ia mengakhiri paparannya sambil tersenyum.

Shikamaru ikut tersenyum mendengar penjelasan Ino. Ia setuju dengan gadis itu-yang memang ahli menemukan filosofi dari objek-objek tertentu. "Ya."

"Yah, masa' segitu doang tanggapannya?" Ino menyodok siku Shikamaru yang dengan santainya sudah mulai menutup mata. "Kau mengantuk karena penjelasanku yang panjang-lebar tadi ya? Membosankan?"

Menghela napas panjang, Shikamaru menggeleng pelan-masih dengan mata menutup. "Bukan. Apa yang kau katakan tadi memang benar-dan err-mungkin tidak membosankan, aku akui."

Ino mengernyitkan dahi, "Lalu?"

"Ini karena aku memang mengantuk, tahu."

Serta merta Ino tertawa sembari memukul perlahan lengan Shikamaru, "Haha… Dasar kau Kepala Nanas-Pemalas-Tukang Tidur!"

.

.

-

-

.

.

HENING.

Tempat itu sunyi senyap setelah beberapa saat yang lalu Shikamaru tertidur. Ino di sampingnya hanya mengunyah perlahan roti berselai stroberi sambil tersenyum. Sesekali gadis tersebut membiarkan angin membelai wajahnya-membuat suhu udara makin rendah dan ia jadi harus merapatkan sweater kuning gadingnya.

Drrt. Drrt.

Getar ponsel Shikamaru membuyarkan lamunan Ino. Membuat ia dengan cepat menoleh ke asal suara dan menatapnya dengan pandangan terganggu. Ponsel Shikamaru yang tergeletak tak berdaya di meja batu itu terus mengeluarkan getaran sampai beberapa menit kemudian. Berusaha tak bersuara, Ino mengambil ponsel tersebut dan membuka kunci keypad-nya.

.

Jemput Temari.

.

Itulah yang tertulis di sana. Alarm pengingat yang disetel Shikamaru agar ia tak terlupa melakukannya-menjemput seseorang-gadis- bernama Temari. Ino menghela napas. Entah kenapa ketika membaca nama Temari di sana, hati Ino terasa teriris. Ia tahu. Pasti Temari ini. Pasti dia…

"Temari…,"

.

Kalau sudah begini… apa hari ini pantas disebut hari yang menyenangkan?

.

.


TSUZUKU.

Jumlah kata : 3.156 di Ms. Word (story only)

Yeah!! Akhirnya chapter dua selesai! Yippiii!!!!! Butuh perjuangan berat nih, buat nyelesein chapter gaje-nan-membosankan ini. (joget-joget ala penari ular)

Soalnya dari kemaren saya iri sama author-author lain yang udah pada nge-post chapter dua buat BnW challenge dengan waktu nggak jauh-jauh dari jarak chapter pertama. Bisaan gitu. TT^TT

Tema yang saya ambil kali ini 'strawberry jam'. Aneh banget sih, fluff-nya nggak kerasa. Tapi nggak apalah. (ngeles) Saya udah bener-bener keabisan ide buat bikin chapter ini kearasa fluff. Dx

Ohya, terima kasiiiiih banget buat yang udah sudi ngeripyu chapter kemarin!! \(^o^)/ Senangnya saya, masih ada yang mau memperhatikan fic abal gini. (nyusut ingus di baju para reviewer) Dan-err ada beberapa ripyu yang udah saya reply lewat review reply. Tapi lebih banyak yang belum dibales. Jadi yang belum dibales, saya ngasih review reply-nya disini aja ya?

.

Tensai-mai anak pungut : Iya, pairnya ShikaIno. Secara bundo nge-fans berat ama tuh pairing... Sai sementara dibuang dulu ke laut. XD (didepak Sai) Nyahaha, terima kasih nak. Bundo tungguin fic kamu yang multichapter, kapan bikiiin? Oneshot mulu. Sekarang itu judulnya 5 Days. Entah nyambung apa kagak ama ini fic. '=.= NejiTen? Insya Allah... :P

foxlady-anakku : Iya, bunda udah baca fic BnW mu. Kapan tuh, dilanjut? Malah bikin fic lemon mulu! Iya, itu huruf katakana (atau hiragana ya? O.O) artinya 5 Days. Makasih ya, naaak~ (peluk-peluk Nisa sampe remuk)

kakkoii-aniki : Iya~ akhirnya ide mendatangiku juga, niki... (nyusut ingus di baju aniki -ditendang-) He? Ino itu dijauhin karena... karena... karena apa ya? O.o Belum kupikirin. (ditimpuk sepatu hak sepuluh senti dengan merk Marie Claire -??-) Maksudnya fic ini dibuat untuk Black and White challange. Hehe, susah njelasinnyaaa. Makasih lho, niki~

Catt-neechan : Oh, neechan naruh cerita abal ini di fave list itu berguna banget! Makasih banyak neechaaaan~ (membungkuk) Err-tapi kayaknya di chap ini pola kalimatnya monoton, deh... TT^TT Iya, neechan pinter! (tabur confetti) Itu huruf buat judul emang artinya 5 Hari. XD

Yuki-chan adek iparku : Iya, multichapter. Eh? (tampol Yuki) Enak aja! Banyak kata daun itu cuma karena temanya 'falling leaves'! Ho oh, kayaknya Ino membuat aib di Korea-makanya dia dikucilin. (dilempar Ino) '=.= Kamu pengen kutendang ya, dek? Ya, suka ngelihat dong~ Yang suka nyapu daun gugur kan, kamu. XD Makasih ya, dek~

Empi-nee : Nggak papa kok, nee... ^^ (seneng karena dipanggil Kanda's wife) Gimana caranya ngajarin neechan? Tata bahasaku disini aja buruk banget. Lagian penjabaran neechan kan jauh lebih keren. (lirik-lirik fic TnM dan Jigonen) Ino dikucilin karena... aku juga nggak tau! Mungkin membuat aib? XP Makasih, nee~

Blekpepi-nee : Ho oh ho oh, emang aku juga ngerasa fluff-nya kurang. Tapi gimana doong? Aku aja nggak begitu ngerti apa itu fluff. (ditakol) Makasih banget ya, nee~ Untuk sudah membuat challange susah ini dan untuk sarannyaa~ Arigatou~ XP

Chika-neechan XD : Heh? Uwah, banyak yang bilang fluff-nya kurang ya? Secara, aku nggak ngerti fluff itu apa, nee. Bisakah neechan menjelaskan? :D Iya, ShikaIno. Ino dicampakkin Sai? Ehehe, disini udah ketahuan enggak, kan? Sai baik hati, kok. XDD Makasih banget atas sarannya neechan~ Ripyu lagi ya! (maksa)

miyu-nee : Huwaaaaa neechaaan~ Makasih... (peluk-peluk neechan) Iya, pair-nya ShikaIno. Nyahaha, amin. Semoga neechan jadi suka lagi ama ShikaIno begitu baca fic ini.. (ngarep) Makasih banyak nee~

Peipei : Terima kasih, sistaaa~ (peluk-peluk) Iya, romens. Eh? Ya ampun, ternyata fluff-nya beneran nggak ada ya? Udah berapa orang yang bilang nggak terasa fluff-nya? (ngitung) Shika tinggal sama Ino? Satu rumah gitu? Enggak kok.. Judul aneh itu artinya 5 Days, sist. XD Makasih yaa~

Kyou-nee : Terima kasih atas do'a neechan buat Ino. Ino disana seneng sekali. (nunjuk Ino yang lagi ngorek sampah) Apa disini udah kerasa? Kayaknya enggak, ya? '=_= Makasih neechaan~

Shizuka-neechan : Nyahaha, nggak apa kok nee. Neechan baca aja udah seneng banget. Makasih ya nee~ Makasih banyak atas saran dan kritiknya. Aku akan berjuang memperbaiki! XD Oh! Dan makasih banget untuk fave-nya juga... Huwee! Terharuuu...

.

Arigatou sudah membaca, berminat ripyu lagi? O.o