Disclaimer : Masashi Kishimoto.

Warning : OOC, lots of symbol, adegan yang nggak ada nyambung-nyambungnya sama inti tema, bahasa monoton bin lebay, serta kejelekkan-kejelekkan lainnya.

Dibuat untuk "Infantrum Black and White Challenge" dari Blackpapillon-nee. Saya ambil set WHITE//Fluff. Romance.

This chapter is for Wish theme.

Enjoy! XD


Keinginan?

Tak muluk-muluk, hanya satu.

Dia bisa bersamaku.

.

Tapi itu pun aku tak tahu.

Akan terwujud atau terhempas batu.

Yang jelas aku selalu merindu.

Meretas asa dalam kalbu.

.


5日間

by dilia shiraishi

CHAPTER THREE : The Girl and The Necklace


.

INO mendesah.

Sekali, dua kali, tiga, empat, lima, hingga gadis berambut pink di sebelahnya mendengus bosan. "Ino. Berhenti melakukan itu," Sakura berujar sebal. Wajahnya tertekuk-tekuk saking tak tahan dengan kelakuan Ino.

Tapi orang yang diajak bicara tetap termenung. Mengacuhkan—seakan ia tak mendengar apa yang terucap dari mulut Sakura. Membuat gadis itu makin kesal dan mulai menggeram marah.

"Ino, berhenti!"

.

Namun reaksi yang diterimanya selalu sama. Ino tetap bergeming dan melakukan desahan berkali-kali. Membosankan—membuat orang di sekitarnya ingin menampar pipi gadis pirang itu. "Ino, kutampar kau." Sakura berucap lagi. Kali ini setengah mengancam seraya mengangkat tangan kanan-bersiap menampar Ino.

"Saku…," tepat ketika tangan Sakura akan mendarat di pipi Ino, gadis tersebut lebih dulu menoleh. Menatap Sakura dengan pandangan sayu-yang tentu saja membuat Sakura sesegera mungkin menurunkan tangan kembali—refleks. "Aku…-erh."

Sakura menautkan alis, "Ya? Ada apa, Piggy-chan?"

Otomatis Ino mendelik ketika mendengar panggilan Sakura untuknya-tapi ia terlalu lelah hanya untuk menjitak sahabatnya ini, "Haaah… Aku… Shika… -arrgh! Susah menjelaskannya!!" ia mengacak-acak rambut frustasi.

"Ya, ya, ya aku mengerti. Pasti kalian ada masalah lagi, kan?" tukas Sakura menebak dengan nada pasti. Ia menjulurkan tangan meraup keripik manis di hadapannya.

Tapi Ino menggeleng, "Bukan. Bukan masalah seperti yang kau pikirkan." Katanya putus asa. Ia mengambil segenggam keripik yang disodorkan Sakura seraya bersandar pada bantal sofa.

"Memang masalah yang bagaimana?"

"Temari." Jawab Ino singkat—menatap kosong televisi yang menyala tak berguna di depan mereka berdua. Tak didengarkan, dilihat, diperhatikan, atau bahkan diacuhkan keberadaannya.

"Temari? Siapa it—oh!" Sakura mengangguk-anggukkan kepala. Tampak mulai mendapat pencerahan atas masalah yang diderita sahabat pirangnya tersebut. "Jadi si Temari ini orang yang kau maksud waktu itu?"

Ino mengangguk perlahan sembari mendesah lagi. Melakukan kegiatan tadi berulang-ulang hingga ia merasa tubuhnya mulai rileks. "Ya, dia. Shika malah sampai memasang alarm hanya untuk mengingatkan bahwa ia harus menjemput si Temari itu." Ia menghela napas. "Dan akhirnya aku harus pulang sendiri setelah dengan enaknya dia minta maaf harus pergi. Huh."

Sakura menepuk-nepuk pundak Ino, "Yah-kau harus sabar. Aku tak tahu harus berkata apa padamu saat ini. Salah-salah nanti aku malah menambah runyam suasana."

Sekali lagi sang gadis bermata sapphire menghela napas—berat, "Hem. Tapi rasanya penat sekali, perasaanku kosong tapi hatiku perih. Membuatku bingung saja." Ujarnya sambil memukul kepala dengan kedua tangan keras-keras. Berharap dengan begitu, segala rasa pusing yang menyerang kepalanya segera hilang.

Gadis pink disebelah Ino menghentikan gerakannya. "Itu tak akan membuat kepalamu terasa baikan. Yang ada kau jadi bodoh, Ino." Ia berujar seraya menggigit keripiknya. "Saranku sih, kau jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan. Siapa tahu Temari itu bukan orang yang kau maksud? Siapa tahu dia hanya teman biasa Shikamaru, kan?"

"Kau tak perlu pakai cara ketinggalan zaman seperti itu untuk membesarkan hatiku, Saku." Ino menjauhkan tangan Sakura yang melingkar di pundaknya. "Aku yakin sekali kalau Temari itu sudah pasti orangnya."

Sakura mengangkat kedua alis, "Alasan?"

"Shika kelihatan sumringah sekali ketika ia membaca alarm itu. Lagipula instingku bilang begitu."

.

.

"Sumringah—atau senang begitu bukan berarti kalau Temari itu pacarnya, Ino. Aku pun akan tampak gembira jika bertemu Naruto, tapi tetap saja yang ada di hatiku hanya Sasuke-kun." Ujar Sakura kemudian-memecahkan kesenyapan yang sebelumnya berlangsung di antara mereka.

Namun sebentar kemudian, hening kembali mengusik.

Hanya terdengar suara jam dinding yang berdetak keras dengan dentum yang makin menyayat hati Ino—entah karena apa. "Mungkin. Tapi aku tak yakin dengan kata-katamu, Saku. Aku tahu benar bagaimana Shika. Dan dia…uh-sudahlah." Gadis pirang itu mengibaskan tangan. Tak mau lagi membahas hal menyebalkan—racun yang memenuhi pikirannya kini. Ah, ia merasa makin pusing saja kalau begini.

"Itu sih, terserah padamu. Ya sudah, kau istirahat dulu saja. Hitung-hitung bisa menyegarkan pikiranmu." Sakura beranjak membereskan taplak meja yang agak berantakan sambil menarik Ino berdiri dari duduk lemasnya. "Ayo."

"Ya, kuharap begitu."

.


PAGI yang cerah, burung-burung kecil hinggap di ambang jendela rumah Sakura seraya berkicau riang. Menyemarakkan suasana rumah yang tanda-tanda kehidupannya sudah dimulai sedari tadi itu.

Mentari perlahan-lahan mulai muncul dari peraduan—menyembul di antara banyak gumpalan kapas putih, dan menyinari seluruh alam-hingga menembus celah kain gorden pink yang senantiasa menghiasi sebagian jendela di dapur Sakura.

Meski begitu, tampaknya kecerahan pagi tersebut tertutupi dengan adanya salju tebal yang melingkupi sekitar. Tidak meleleh meski matahari terus menyinari dengan intensitas cukup tinggi.

"Saku, apple sautee(1) ini mau diapakan?" Ino bertanya sembari menunjuk potongan apel dalam mangkok di tangan.

Sakura menoleh dari kesibukannya meracik bumbu kare, "Itu dimasukkan ke sini, lalu kau goreng sampai agak kecokelatan." Ia mengerling penggorengan dengan mentega yang sudah meleleh-siap untuk dimasukkan sesuatu.

Ino mengangguk singkat kemudian melakukan sesuai petunjuk dari Sakura barusan-memasukkan semua potongan apel ke dalam penggorengan. Sedikit menimbulkan suara garing yang mampu membuat air liur menetes. Padahal masakan itu sama sekali belum jadi.

"Sementara nungguin apelnya matang, kau siapkan kulit painya dulu sana." Sakura kembali bicara sementara tangannya masih sibuk mengaduk-aduk kuah kare dalam panci. Ino kembali mengangguk sambil menyiapkan kulit pai yang sudah di-oven beberapa saat lalu.

"Isi painya langsung masukkin sekarang, kan?" Ino mengambil isi pai dan menunjukkan ke Sakura. Sekali waktu ia mengambil kesempatan untuk membalik apel yang sudah mulai kecokelatan di penggorengan.

Gantian Sakura yang mengangguk, "Iya, masukkan sekarang saja. Apelnya juga ditiriskan langsung, kita masih punya banyak masakan yang belum dibuat. Ohya, apple chips(2)-nya sudah kau olesi minyak?" ia mematikan api kompor dan mengangkat panci berisi kare mengepul dengan lap.

"Oh iya! Belum, aku lupa! Hehe, maaf…," ujar Ino menepuk keningnya. "Kau sajalah yang melakukannya. Aku belum meniriskan apel." Ia melanjutkan seraya menuangkan isi pai ke dalam kulit. Sakura yang sedikit sewot hanya menggumam mengiyakan. Setelah itu mereka terdiam-tampak berkonsentrasi dengan pekerjaan masing-masing.

Sunyi. Hanya terdengar bunyi mentega tepercik api dan suara olesan kuas Sakura yang sedang melumuri apple chips dengan minyak.

"Nah, sudah." Ino bergumam ketika ia selesai meniriskan apel, begitu juga dengan kulit pai yang sudah terisi penuh dengan adonan isi. Setelah mengelap tangannya menggunakan celemek yang ia pergunakan, Ino menyusun apple sautee yang baru saja ia tiriskan secara perlahan. Membentuknya hingga melingkari pai itu dan menyisakan ruang kosong di tengah. "Apple chips-nya sudah belum, Saku?" gadis pirang itu menoleh pada Sakura-yang sedang memasukkan loyang berisi apple chips ke oven.

"Tentu saja belum, bodoh!" Sakura memukul kepala Ino pelan. "Ini butuh satu jam! Makanya sedari tadi kusuruh kau untuk memanggangnya duluan agar cepat selesai." Ujarnya sambil menggerutu tak jelas. Mengeluhkan kelemotan Ino akhir-akhir ini.

"Sori deh…,' Ino hanya bisa menyengir tak enak sambil menggaruk belakang kepala.

Sakura menghela napas, "Ino, hilangkan sebentar pikiranmu tentang Temari-temari itu. Kalau kau terus memikirkan dia, kau jadi tak fokus." Dia berkata membuat Ino mendongak. "Kau bahkan masih bertanya apple sautee mau diapakan, padahal dulu kau yang mengajariku membuat apple pie, kan?" lanjutnya mengerutkan alis.

Seketika Ino menunduk. Akhir-akhir ini memang ia selalu kepikiran dengan seseorang bernama Temari itu. Bagaimana rupanya, mengapa ia bisa kenal dengan Shikamaru, dan… Ah, sebaiknya ia lupakan saja.

Tapi masalahnya… —bagaimana?

Ia memang selalu ingin melupakan, dan kembali berkonsentrasi pada apa yang sedang ia lakukan sekarang. Tetapi nyatanya ia tak bisa. Lalu ia harus bagaimana?

"Aku mau, Saku." Kata Ino kemudian-setelah ia terdiam beberapa saat. "Tapi aku tak bisa, setiap aku mencoba fokus, pertanyaan-pertanyaan tentang Temari itu kembali memenuhi pikiranku. Bukan aku yang menginginkannya, tapi pikiran tersebut datang sendiri." Ia menghela napas panjang-panjang.

Sakura mendesah, "Oke, aku ngerti. Tapi sebisa mungkin hilangkan saja, ya? Sekarang sambil menunggu satu jam ini, kita masak yang selanjutnya. Apa, nih? Onigiri(3)?"

Ino mengedikkan bahu cuek, "Bolehlah."

.

.


GADIS pirang itu memakai headband-nya—menghalangi poni panjang yang biasa menutup mata, agar tak jatuh hingga mengganggu penglihatan. Ia kemudian meregangkan tangan seraya melakukan beberapa pemanasan kecil—dia tak mau mengalami kram tubuh saat sedang asyik-asyiknya mendribble bola.

"Shika, ayo!" Ino berteriak keras memanggil seseorang dengan wajah mengantuk—hingga membuat yang dipanggil terkaget sambil menoleh kanan-kiri seperti orang ling-lung. Dan ketika sadar sepenuhnya, ia mendekat ke arah Ino dengan raut malas-malasan.

"Merepotkan, kenapa aku harus ikut?"

Ino menginjak kaki Shikamaru kencang-kencang, "Tentu saja! Kita kekurangan orang, tahu! Three on three, bukan two on three!" katanya sambil menunjuk ke seberang lapangan dimana Sakura, Sasuke, dan Naruto sudah siap sedia untuk bermain.

Shikamaru hanya menghela napas, melirik iri pada Chouji yang mengangkat jempolnya sambil makan kripik di pinggir lapangan indoor ini. Menjadi wasit. "Yah, ayo mulai."

Bersamaan dengan itu, Kiba-yang menjadi bagian tim Ino hari ini- maju hingga ia berada dalam wilayah lingkaran tengah, bersiap untuk melompat; merebut bola yang akan dilempar Chouji. Naruto pun melakukan hal yang sama. Ia berdiri di hadapan Kiba—tersenyum lima jari sebelum memajukan kaki kirinya tepat di belakang garis potong lingkaran.

Shikamaru berdiri di samping kanan Kiba, di luar lingkaran. Sementara Ino berdiri di bagian lapangan yang berseberangan untuk mengantisipasi jika Kiba berhasil merebut bola dan melempar ke arah sana. Gadis itu menggulung lengan baju putihnya sambil berdiri dengan tangan siap. Begitu juga dengan Sasuke dan Sakura.

"Siap." Chouji masuk ke tengah lapangan, di antara Naruto dan Kiba yang saling menatap sengit. "Satu, dua, tiga!" ia melempar bola rendah ke udara. Serta merta Kiba dan Naruto melompat tinggi-tinggi, berusaha lebih cepat untuk menggapai bola.

Dan yang mendapatkannya Naruto.

Ia menepis bola oranye itu hingga sampai di tangan Sasuke, membuat Shikamaru dan Ino segera menyebar membuat pertahanan. Kiba tetap di tempatnya sambil menjaga Naruto, menghindari kemungkinan operan yang diarahkan ke pemuda hiper-aktif tersebut.

Sasuke kemudian menoleh ke sekeliling—mencari teman setimnya yang bebas dari penjagaan.

Ketemu.

Sakura.

Setelah memberi isyarat pada Sakura yang mengangguk kecil, Sasuke melemparkan bola keras ke arah sang gadis pink. Namun Ino tahu pergerakan itu. Dengan cepat pula ia berlari menyamping menuju Sakura—menyongsong bola sambil menghalangi Sakura untuk mengambil bola yang sekarang berada dalam kuasanya.

Sakura mengumpat kecil ketika menyadari bola sudah di tangan Ino. Gadis pirang tersebut kemudian bergerak sangat cepat, berkelit dari Naruto yang menjaga ketat pergerakannya. Ia majukan satu kaki kanan—berdiri menyerong melindungi bola yang masih ia dribble. Kemudian dengan sekejap mata berlari menembus penjagaan Sasuke dan melompat untuk melakukan lay up(4).

Masuk.

"YEAHHH!!" Secara bersamaan Ino dan Kiba melonjak senang sambil melakukan highfive. Mencibir pada Sakura yang merasa ingin menjitak keduanya.

"Dua-kosong." Chouji meniup pluit sembari mencatat skor. Sesudah Chouji berkata, Sasuke mengambil bola-keluar dari garis lapangan dengan menghela napas. Mungkin sedikit kesal karena Ino-yang notabene adalah cewek- berhasil lolos dari penjagaannya dengan mudah. Sangat, malah iya.

Ia lalu melempar bola itu ke dalam setelah sebelumnya memeriksa keadaan. Dan bola tersebut dengan sukses di tangkap Naruto—yang kemudian mendribble sang bola hingga sampai ke ujung lapangan tanpa kesulitan. Karena tim Ino memang longgar di penjagaan lapangan sendiri.

"Cih," Shikamaru berdecak sambil berlari secepat yang ia bisa. Menyambar bola yang baru dilempar Naruto ke ring—namun ia terlambat, tentu saja. Bola bergulir manis di bibir ring dan masuk dengan sempurna. Membuat Sasuke, Sakura, dan Naruto gantian mencibir pada tim Ino yang mengumpat—menyesali keteledoran mereka dalam defense(5).

Kembali terdengar suara pluit Chouji membahana. Memberitahukan bahwa skor sekarang seimbang, dua sama.

"Oke, ini baru dimulai." Ujar Ino yang diangguki Kiba, dan ditanggapi kuap oleh Shikamaru. Membuat Ino segera menimpuk pemuda itu dengan kerikil yang ia pungut di dekat kaki.

Kemudian semua terjadi begitu cepat—Shikamaru menguasai bola dan mengopernya pada Kiba dengan bounch pass(6). Sementara Kiba melesat melewati Naruto dan Sakura. Menyisakan Sasuke yang berdiri waspada sambil merentangkan tangan, menghalangi Kiba melakukan shoot.

Kiba mengernyitkan kening, bingung harus bagaimana karena tiba-tiba Sakura dan Naruto sudah berada di sekelilingnya, ikut melakukan defense sempurna. Otomatis pemuda penyuka anjing tersebut terkepung dengan sangat indah.

Sedikit lagi Sasuke berhasil merebut bola yang masih dipantulkan di tanah, namun Kiba langsung mengangkatnya-melemparkan pada Shikamaru yang berdiri di sudut lapangan. Di area three points berlaku.

Tertangkap.

Shikamaru mengedarkan pandangan—terlihat Ino yang mengacungkan jempol sambil tersenyum padanya. Ia menghela napas malas, kemudian memfokuskan pandangan pada ring. Berimajinasi seolah ring tersebut jaraknya sangat dekat-dan dengan ukuran besar.

Setelah yakin, Shikamaru mengangkat kedua tangan. Tangan kanan memegang bola bersiap melempar-tangan kiri menumpu agar bola tak terjatuh ke tanah. Lutut ditekuk dengan kaki kiri di depan.

"SHOOT!" Ino berteriak seiring bola bergulir menuju ring. Kiba hanya terdiam, melihat apa yang akan terjadi pada bola. Sedangkan Sakura, Naruto, dan Sasuke memosisikan diri bersiap merebound(7) bola jika tak masuk.

Tapi…

.

.

-

-

.

.

"HUAHH…," Shikamaru menguap lebar, menyebabkan Ino melemparkan handuk basah ke arahnya—yang langsung menutupi keseluruhan kepala Shikamaru.

"Kalau menguap, tutup mulutmu kenapa sih? Lebar banget tau, kalo dimasukkin lalat bagaimana?" Ino memainkan alis dan ikut mendudukkan diri di samping Shikamaru.

Pemuda itu menghela napas. "Kau tidak pulang? Semua sudah bubar sedari tadi, termasuk Sakura. Memang kau tak barengan dengannya?"

Ino menyipitkan mata menatap Shikamaru, memberi tatapan aneh akan pertanyaan tersebut. "Kalau aku masih di sini, tentu saja aku tak bareng dia. Sepertinya itu tak perlu ditanyakan." Ia menjawab sarkastik. Shikamaru menghela napas.

Kemudian keadaan tiba-tiba hening. Keduanya tak berniat membuka percakapan karena mereka justru sibuk dengan kegiatan masing-masing. Ino mengelap keringat, dan Shikamaru menatap langit. Langit yang malam ini terlihat sedikit berkabut.

Nuansa hitam sudah mulai mewarnai—dengan butiran salju yang kembali menjatuhkan diri ke bumi. Menyebabkan suhu udara yang sudah dingin bertambah rendah saja. Hingga membuat Shikamaru harus memakai mantelnya. Begitu pun dengan Ino.

"Umm, Shika… tadi kau kebagian apple pie-nya kan?" suara Ino memecah kesunyian yang tercipta di antara mereka. Shikamaru menoleh ke arahnya seraya mendesah pelan.

"Tidak. Keburu disambar Naruto dan Kiba."

Ino tertawa kecil ketika mendengar jawaban itu, "Kalau onigiri? Dapat, kan?" ia bertanya sedikit ragu. Memang ketika mereka semua makan tadi, Ino memilih untuk tidak makan dan pergi jalan-jalan di taman sekitar lapangan indoor ini. Jadi ia tak tahu apa saja yang terjadi selama ia pergi.

Sekali lagi Shikamaru mendesah, "Tidak juga. Chouji dan Sasuke menyikat makanan itu sampai tak bersisa." dia mejawab putus asa.

Kali ini Ino melotot, "Ya ampun. Sampai Sasuke juga? Wew." Masih tak percaya, Ino berjongkok di hadapan Shikamaru. Menatap wajah pemuda itu untuk mendapat jawaban.

"Yah, karena onigiri itu ada tomatnya."

Dan Ino menepuk dahinya, "Oh iya! Tadi Sakura yang memaksaku untuk menaruh tomat di sana. Ternyata itu alasannya…," ia mengangguk-angguk puas. Namun seketika alisnya bertaut, "Berarti kau tak dapat apa-apa?"

"Tidak juga. Sakura membagikan orange juice secara adil, sehingga aku kebagian." Jawab Shikamaru sambil mengedikkan bahu. Tak terlalu serius menanggapi pertanyaan Ino yang menurut dia sangat membosankan—tak penting.

"Yah, itu namanya tetap nggak dapat apa-apa! Kalau orange juice kan memang udah dibuat pas dengan jumlah kita. Aku juga dapat." Ino menunjuk termos berisi orange juice miliknya yang masih terasa hangat.

Shikamaru mengibaskan tangan, "Terserah kaulah…," ia menjawab tak peduli. Tak mau membahas hal tak penting itu lebih lanjut. Ia sudah terlalu mengantuk untuk menanggapi, dan err-lapar tentunya.

Lagi, Ino tertawa. Kali ini lebih kencang intensitasnya melihat wajah orang di hadapannya-yang sudah ditekuk seribu. Kebiasaan kalau sedang kesal. "Hahaha, ya sudah. Tapi wajahmu jangan begitu dong!" Ino menepuk pundak Shikamaru ketika tawanya usai.

Pemuda nanas itu mendengus, "Tentu saja wajahku begini. Bagaimanapun aku butuh makan." Jawaban tersebut kembali membuat Ino cekikikan. Ia sampai harus memukul-mukul tanah saking merasa geli. Entah apa yang membuatnya begitu, kalau dipikir-pikir perkataan Shikamaru tadi tak ada yang lucu.

"Nih!" Ino menyodorkan kotak bekal yang terbungkus kain halus berwarna kuning gading. "Aku sudah memprediksikan kau tak akan dapat makanan. Jadi aku simpan untukmu." Jelas Ino ketika Shikamaru menatapnya heran.

"Oh…," hanya itu respon yang terucap. Namun tangan Shikamaru menyambut juga apa yang sudah disodorkan Ino. Tentu saja, ia tak boleh menyia-nyiakan rezeki, bukan?

Ino tersenyum seraya menghela napas. Kemudian ia kembali terduduk di hadapan Shikamaru—kali ini sambil menatap langit. Mengagumi keindahannya yang tak pudar walau kabut tebal membungkus-menutupi sebagian warna biru kehitamannya. Sudah begitu, hari ini malam begitu dingin. Butiran salju yang semakin deras menghujam bumilah yang menyebabkan rendahnya suhu udara. Membuat Ino ingin cepat-cepat pulang saja.

Shikamaru menatap Ino sejenak, kemudian menggeleng aneh dan membuka kotak yang diberikan gadis pirang itu. Onigiri. Sushi.(8) Yakisoba.(9)

Ia mengernyit sejenak, kemudian tersenyum.

.

.

"Hoi, Ino!" Shikamaru mengguncang-guncang bahu Ino yang tertidur, hingga ia membuka matanya. Mengerjap-ngerjap sejenak untuk membiasakan retina dalam menerima cahaya lampu yang tiba-tiba—sebelum mengucek mata dan berpaling pada orang yang memanggil.

"A-ada apa? Hoahm~" Ino menutup mulut ketika kuap itu tak terbendung lagi.

"Kau ketiduran lama sekali." Shikamaru menyipitkan mata. "Nih! Terima kasih." Lanjutnya sambil melempar kotak bekal yang sudah kosong melompong—bersih tanpa bersisa pada Ino. "Ayo pulang."

Sang gadis mengangguk lalu beranjak dari duduk sembari membersihkan bagian belakang celananya yang sedikit kotor. "Ayo."

Dan Ino menarik Shikamaru keluar dari kompleks lapangan itu. Sekali waktu Ino menengadah melihat langit-yang sudah benar-benar terpoles dengan warna hitam. Gelap. Namun tetap terlihat indah dengan bintang-bintang yang gemerlap menyinari polos hitam tersebut. Tanpa disadari, Ino tersenyum kecil.

Shikamaru meliriknya bingung kemudian ikut memandang langit yang tiba-tiba membuat ia teringat sesuatu. Sesuatu yang sedari tadi ingin disampaikannya—namun terus terlupa. Pemuda nanas itu merogoh saku mantel. Dengan menghela napas, ia tepuk bahu Ino yang sedang serius menyeretnya.

Serta merta Ino menoleh, menampakkan raut 'apa-sih-tepuk-tepuk?' pada Shikamaru. "Ulurkan tanganmu."

Ino mengernyit tak mengerti, namun begitu ia tetap mengulurkan tangan sesuai permintaan. "Apa sih? Awas kal—Ap-apa…?" celotehan Ino berhenti ketika ia melihatnya. Antara terkejut dan terlalu senang, ia memandang Shikamaru dan benda yang diberikan pemuda tersebut bergantian. "Shi-Shika… Ini kan…"

"Yah, kupikir kau benar-benar ingin itu."

Ino membelalak seraya menggenggam benda itu erat-erat. Kalung. Kristal. Yang ia inginkan. Harga mahal. Dari Shikamaru. Orang yang ia sukai. Kata kunci dari ini banyak sekali. Dan semuanya merujuk pada apa yang digenggam Ino sekarang-kalung kristal dulu. Yang pernah dia lihat ketika jalan-jalan bersama Shikamaru. Yang ia inginkan tujuh turunan.

Tak bisa dibendung lagi.

Kristal bening tersebut satu-persatu luruh dari matanya, tak bisa ditahan lagi. Isak tangis mulai mewarnai kegelapan malam ini. Setelah sebelum-sebelumnya ia selalu mencoba tegar, mungkin ini akhir dari semua. Ia ingin menangis. Kencang-kencang bahkan. Namun ia tahan agar tetap terkontrol—ia tak mau jika sampai orang-orang di sekitar sini bangun dari tidur dan melemparinya dengan sandal karena merasa terganggu.

Shikamaru yang sedari tadi terdiam segera kelabakan, "I-Ino! Hoi! Kenapa kau menangi—"

"Terima kasih. Terima kasih. Yang terakhir pun tak apa." Tak sampai hitungan detik, Ino sudah menubruk ke dalam pelukan Shikamaru cepat. Masih dengan menangis.

Dan tak lupa masih dengan tangan menggenggam sang kalung erat.

.

.


Keinginan?

Masih sama.

Bersama dia.

Selamanya.

.

Meski tahu tak bisa,

-aku tak mau membuangnya.

Setidaknya, jalan itu masih ada.

Lebar terbuka.

Dan ia berdiri di sana.

Mungkin menunggunya.

.

.

Atau menungguku.


TSUZUKU.

Jumlah kata : 3.034 di Ms. Word (story only)

Keterangan

(1) Apple sautee : Potongan apel yang disusun membentuk lingkaran sebagai isi dari apple pie (selain cream).
(2) Apple chips : Keripik apel—hiasan yang ditaruh pada bagian tengah apple pie.
(3) Onigiri : Bola-bola nasi yang diisi macam-macam di dalamnya. Mulai dari suwiran daging yakiniku, salad tuna, atau bahkan abon.
(4) Lay up : Gerakan memasukkan bola basket dengan satu tangan ke dalam ring (gerakan paling praktis dalam basket).
(5) Defense : Pertahanan.
(6) Bounch Pass : Operan yang dilakukan dengan cara memantulkan bola pada tanah lapangan.
(7) Rebound : Seorang pemain menangkap atau mendapatkan bola pantul yang tidak berhasil masuk yang ditembakkan oleh pemain lain.
(8) Sushi : Makanan Jepang yang terdiri dari nasi yang dibentuk bersama lauk (neta) berupa makanan laut, daging, sayuran mentah atau sudah dimasak.
(9) Yakisoba : Mie goreng Jepang.

---

.

Yeah, gaje sangat. Benar-benar gaje. Tak patut dibaca sama sekali. Terlalu mengerikan dan nggak nyambung sama tema. Iya, temanya nggak kena sama sekaliii~ HUWE! TT^TT

Hah, sudahlah. Telah habis kata untuk menghujat fic abal ini.

Terima kasih pada yang sudah meripyu. Senang sekali rasanya masih ada yang mau baca fic luar-biasa-aneh kayak gini. Arigatou gozaimasuuuuu~!!! Tanpa kalian, udah saya acak-acak ini fic dari kapan tau.-??- Ohya, saya balas ripyunya lewat review reply. Nyampe nggak? O.o

.

Huweeee~ Berminat ripyu lagi? -puppy eyes-