Disclaimer : Masashi Kishimoto.

Warning : AU (yeah, saya baru nyadar kalo fic ini AU. '=.=), OOC, Ino's POV, lots of symbol, bahasa monoton bin lebay, serta kejelekkan-kejelekkan lainnya.

Dibuat untuk "Infantrum Black and White Challenge" dari Blackpapillon-nee. Saya ambil set WHITE//Fluff. Romance.

This chapter is for Secret Joy theme.

Enjoy! XD


5日間

by dilia shiraishi

CHAPTER FOUR : Happiness


.

PAGI kembali menyapa. Membuatku terbangun dari tidur—yang kurasa cukup lelap— sambil mengerjap-ngerjapkan mata sebentar. Kemudian aku terbengong sejenak, berusaha mengumpulkan nyawa yang seperti terpencar hingga membuatku lemas dan tak bertenaga. Mungkin pengaruh dari olahraga kemarin juga. Sudah lama sejak aku tak pernah berolahraga berat seperti itu. Paling-paling hanya jogging bersama Sai.

Ah ya, Sai. Aku belum meneleponnya lagi. Katanya dia juga akan ke Jepang dalam jangka waktu dekat ini. Tapi aku tak tahu kapan tepatnya.

Maka dengan memaksakan tubuhku yang masih terlalu lemas, aku mengambil ponselku dan mencari nama 'Sai' di list contact. Setelah menekan tombol 'call' aku menempelkan ponsel ke telinga. Menunggu diangkatnya teleponku dengan mendengarkan nada sambung.

Ukh, lama sekali.

"Moshimoshi?"

Akhirnya terdengar juga suara datar dari seberang sana. Membuatku tersenyum senang, rasanya kangen juga mendengar intonasi lurus-lurus saja dari dia. "SAI!" aku berseru kencang-kencang, tak bisa menyembunyikan rasa senangku.

"Ah, hei. Ino?" ia tertawa kecil di sana. "Ada apa? Tumben menelepon?"

Aku mendengus, "Jangan menyindirku begitu. Aku punya banyak hal yang lebih penting dari meneleponmu, tahu." Ucapku sambil kembali protes ketika mendengar ia tertawa lagi. "Katanya kau mau ke sini? Kapan?"

"Err-mungkin hari ini. Tiketnya sudah siap." Sai menjawab pendek. Khas dia sekali.

"Wew, jadi hari ini? Apa perlu aku menjemputmu?" aku kembali melayangkan pertanyaan seraya mencoba bangkit dari posisi duduk silaku. Mengambil handuk dan bergegas siap-siap untuk mandi. Sakura pasti akan protes jika aku masih bau dan tampak berantakan seperti ini—padahal hari sudah menjelang siang. Apalagi banyak yang harus kulakukan.

Terdengar Sai seperti berpikir di seberang, "Kurasa tak perlu. Nanti temanku akan menjemput."

Aku mengangguk-angguk—meski tahu Sai tak akan melihatku, "Ya sudah. Ngomong-ngomong… kau punya teman disini? Kenapa tak pernah memberitahu? Siapa tahu aku kenal, kan?" aku memberondong Sai dengan pertanyaan lagi. Seingatku Sai tak punya teman di Jepang—meski sebenarnya ia lahir dan tinggal beberapa tahun di sini. Setidaknya yang kuketahui begitu, sih.

Sai kembali terdiam sejenak, tapi aku tahu di sana ia sedang tersenyum. Yah, anggap saja aku punya penglihatan menembus ruang dan waktu hingga tahu ia sedang melakukan apa di seberang. Iya, ini memang konyol sekali. Maaf, aku sekarang sedang bertransformasi jadi orang jayus rupanya.

"Nanti aku akan mengenalkannya padamu. Kau pasti terkejut."

Aku mencibir pada ponselku, "Ohyaaa? Awas kalau aku tak terkejut sama sekali. Traktir." tuturku dengan nada meremehkan.

Sai tertawa lagi, "Akan kupastikan kau terkejut, dan sudah tentu kau yang akan menraktirku." Ia membalas dengan nada tak kalah mengejek. Membuatku mendengus geli.

"Oke, kuingat itu. Ah, sudah dulu ya Sai… kurasa pulsaku sudah akan habis, nih." Aku mencoba mengakhiri pembicaraan itu—karena yah, memang pulsaku tinggal sedikit sekali saat ini. Apalagi aku interlokal untuk meneleponnya.

"Hm. Nanti kukirimi pulsa, deh." Dan dengan tawa kecil serta ucapan terima kasih, aku menutup telepon seraya menaruh ponselku di meja kecil dekat tempat tidur. Untuk sejenak aku memandang ponsel itu, masih teringat pembicaraan sederhana kami barusan—yang entah kenapa bisa membuatku sedikit bersemangat. Rasanya nyaman sekali sudah menelepon Sai dan mengetahui bahwa ia baik-baik saja.

Setelah menghela napas lega, aku cepat-cepat memasuki kamar mandi. Tak ingin Sakura yang sudah berseru daritadi benar-benar mengomeliku panjang lebar. Huh, dia sekarang jadi terlihat seperti ibuku saja.

.

.

"INOOOO~!!! Mandinya lama banget sih?! Cepetan bantuin aku masak!!!" teriakan Sakura terdengar membahana di seluruh rumah yang sepi ini. Membuatku sedikit menutup telinga karena memang bunyi itu memantul hingga ke kamar mandi. Hebat sekali suara Sakura itu.

Haahh… kenapa aku malah jadi memikirkan hal tak penting begitu sih?! Aku menghela napas untuk keseratus kalinya setalah menyahut pada Sakura. Sesudah membuka pintu kamar mandi, aku beranjak ke kaca sembari meraih sisir. Menyikat rambut pirangku yang panjang dan semakin awut-awutan bentuknya. Mungkin kapan-kapan aku harus memotong rambut merepotkan ini.

…-err?

Eh? Hei! Kenapa aku jadi terdengar seperti si Kepala Nanas itu, sih??! Oh, tidaaak!!! Huwaaa~!!!!!! Menyeramkan sekali, jangan sampai aku jadi seperti dia. Lebih baik mati saja. Aku memang suka pada Shika—sangat malah—, tapi bukan berarti aku mendambakan jadi mirip sepertinya!

Aduh, kenapa juga aku sampai sewot hanya karena hal seperti ini? Sepertinya otakku benar sudah korslet semenjak Shika memberiku kalung lima ribu yen itu.

Aku menggeleng-gelengkan kepalaku gusar. Menghilangkan pikiran aneh tentang diriku yang menjelma menjadi Shika. Dan menggantinya dengan pemutaran kembali benang-benang memori peristiwa kemarin malam.

Ketika mendapati kalung ini di genggamanku, aku seperti orang ling-lung. Terdiam kaget dengan mata membelalak mengerjap, tak bisa memberikan respon apa-apa. Hmm.. sepertinya cukup wajar. Mengingat kalung itu adalah benda yang sangat aku inginkan—namun harganya begitu membuatku syok— yang mana diberikan oleh Shika, cowok yang sudah kusukai sejak zaman Meganthropus Palaeojavanicus masih berkeliaran di dunia ini. Wajar saja kalau aku sampai terpaku di tempat begitu.

Oke, mungkin penggambaran tentang rasa sukaku terlalu berlebihan. Tapi aku memang sudah lama sekali menyukainya. Meski aku tahu, ia pasti sudah punya yang lain. Dan sudah seharusnya aku melupakan segala perasaan ini.

Tapi… memang tak boleh ya, aku merasakannya sedikit lebih lama?

Merasakan hangatnya menyukai seseorang, berdebar ketika sedang bersama ia. Yah, meski sekali lagi—mungkin Shika sudah punya yang lain. Mungkin, sih. Dan dengan pemikiran 'mungkin' itulah maka aku masih berani menyukainya. Tidak pantas memang, tapi bagaimanapun sulit sekali untuk melupakan begitu saja orang yang masih menempati posisi terbanyak di hatimu. Terlebih ia masih sering berkeliaran di dekatmu.

Oh, atau mungkin terbalik—justru kau yang masih berkeliaran di sekelilingnya. Mencoba optimis kalau-kalau masih ada kesempatan untuk bersamanya.

Ukh, aku kembali berpikiran aneh. Lebih baik sekarang aku segera membantu Sakura saja. Aku pun akhirnya mengayunkan langkahku, pergi menjauhi cermin yang memantulkan bayangan kalung kristal itu dengan indahnya.

Sungguh, bukan maksudku untuk merusak hubungan orang. Aku hanya tak ingin menyerah. Itu saja.

.

.

"Jadi… masak apa, Saku?" aku mendekati Sakura yang masih sibuk berkutat dengan buku masak. Memilih makanan apa yang harus dibuat.

Sakura menolehkan kepala, terlihat sekali wajahnya tiba-tiba berubah ganas. Pasti kesal karena aku lama sekali hanya untuk sampai ke dapur. Namun ia segera mendesah, sedang tak ingin marah-marah padaku sepertinya. "Aku juga bingung. Kalau katamu bagaimana? Kita cuma punya sedikit bahan makanan. Gaji kerja magangku sudah hampir tak cukup untuk membeli banyak bahan." Ia mengedikkan bahu.

Aku jadi terdiam. Rasa bersalah menyergap relung hatiku. Pasti gara-gara kedatanganku ke sinilah yang membuat uang hasil kerja Saku jadi cepat abis. Sebelum aku hadir di sini, ia bisa bertahan dua bulan lebih dengan uang kerja sebulannya. Mendadak rasa tak enak muncul memenuhi benakku.

Sakura sudah lama jadi yatim piatu, dan dengan seenaknya aku memutuskan tinggal di sini. Menyusahkannya—karena dengan begitu ia harus membeli bahan makanan berlebih.

Walaupun Sakura yang mengajakku tinggal disini, sudah seharusnya aku tak menyusahkan dia kan? Huh, aku harus mendapatkan pekerjaan sekarang juga kalau begitu. Atau segera mendatangi keluargaku untuk menjelaskan segalanya dan tinggal di sana kembali. Sehingga aku tak akan menjadi beban untuknya lagi.

Tapi aku bahkan tak tahu harus bilang apa jika bertemu keluargaku nanti! Aku… takut. Takut untuk menjelaskan situasi sebenarnya. Mereka pasti akan murka… tapi bagaimanapun…

"Gomen…," kata itu terucap begitu saja dari mulutku tanpa terpikir. Membuat Sakura menatapku bingung—namun kemudian ia langsung tersenyum sambil menepuk lembut pundakku.

"Tak apa, Ino. Aku tak pernah merasa kau menyusahkan, sungguh."

Ternyata Sakura memang hebat.

.


.

"HUFFT…," aku menghela napas panjang-panjang untuk kesekian kali. Sungguh aku benci saat-saat aku jadi seperti ini. Penakut. Padahal aku sedang berdiri di depan teras rumahku sendiri. Tapi mendadak pikiranku jadi kosong. Segala hal yang akan kubicarakan rasanya menguap begitu saja ketika sudah menginjakkan kaki di sini.

Kami-sama… tolonglah hamba-Mu yang nista ini…

Akhirnya setelah menimbang-nimbang beberapa saat, aku memutuskan untuk memberanikan diri. Tak ada gunanya kalau aku terus berdiam di sini. Sampai lumutan pun semua tak akan jadi jelas.

Tok tok tok.

Ketukan sarat keragu-raguan itu akhirnya aku perdengarkan juga. Ini memang harus kulakukan. Mau tidak mau aku harus menjelaskan semuanya, bagaimanapun keluargaku harus tahu. Lagipula jika disembunyikan terus, tetap tak akan bertahan lama. Suatu saat mereka pasti akan tahu—entah bagaimana caranya.

Setelah menunggu beberapa saat dengan perasaan tak menentu,—dimana tanganku sudah berkeringat dingin karena terlalu gugup— akhirnya pintu di hadapanku terbuka. Dari sana menyembul wajah yang sudah familiar bagiku. Wajah yang sudah mulai dipenuhi keriput halus, namun tak mengurangi aura anggun yang menguar darinya. Ibu.

Mata sosok itu membelalak, kemudian dengan cepat dibukanya pintu lebar-lebar hingga menjeblak terbuka. "Ino! Ini benar-benar Ino, kan? Ya ampun, apa kabar nak? Kenapa tidak bilang Okaa-san kalau sudah pulang ke Jepang?? Kaa-san kangen sekali, Ino...," dan ibu segera memelukku erat, seperti tak mau aku pergi darinya. Aku yang sedang terbengong tentu saja kaget dengan kelakuan beliau—namun tetap saja aku ikut membalas pelukan itu. Lebih erat bahkan.

Dengan sedikit rasa terharu yang tak terbendung, aku mulai bicara. "Gomen, Kaa-san… Aku… Kepulanganku ini tiba-tiba. Aku bahkan bingung kenapa bisa ada di sini. Huhuhu, tapi yang jelas aku juga kangeeeeen sekali pada Kaa-san."

Ibu membelai rambutku lembut, air mata terlihat sudah menggenang di sudut matanya. Siap terjatuh ke bumi kapan saja. "Kalau begitu lain kali kamu harus beritahu, Kaa-san. Ini terlalu penting untuk tidak diberitahu pada keluargamu, nak." Ia kemudian mengecup keningku. "Jadi… Okaerinasai, Anakku sayang…"

"T-tadaima, Kaa-san…," aku memeluknya lagi sambil terisak kecil. Mendadak rasa haru seakan memenuhi rongga dadaku. Sesak sekali. Sesak yang menenangkan, yang memaksaku untuk benar-benar mengeluarkan air mata yang selama ini kutahan. Aku… benar-benar rindu rumah. dan sekarang aku tiba di sini, rumahku. Lega rasanya…

Setelah berpelukan lama sekali—kurasa lebih dari dua puluh menit— ibu mengajakku masuk ke dalam, memberiku tisu seraya menyodorkan kue-kue kering kesukaanku yang biasa diletakkan di meja tamu.

"Kaa-san… Kalau aku menceritakan yang terjadi sebenarnya hingga aku bisa sampai di sini…—apa Kaa-san akan marah?" tanyaku di sela-sela kegiatan makan. Drop cookies yang sedang kupegang, kusuapkan perlahan ke mulut. Menggigitnya hingga timbul suara 'krak' kecil yang terdengar menggema di telingaku. Gugup lagi.

Ibu tersenyum ketika menyadari kegugupanku, beliau mengambil kedua tanganku yang sudah bebas kue ke dalam genggamannya. "Tentu tidak, nak. Ibu akan coba untuk tidak marah, tapi yang penting… kamu harus jujur."

Serta merta aku ikut tersenyum sembari mengangguk. Kemudian mengalirlah cerita itu. Ceritaku selama melanjutkan kuliah di Korea, saat-saat bahagia, saat-saat menyebalkan,—yang mana aku punya fans setia namun wajahnya super-duper 'eww'(1)— saat-saat dimana aku ingin bunuh diri,—memang bodoh, tapi aku sempat mengiris nadi karena itu. Dikucilkan seluruh sekolah dan hanya dipercaya oleh Sai dan fans buluk itu? Yeah, maaf saja kalau aku tak bisa untuk terus tough.— serta saat dimana aku putus asa dan memilih kembali. Ke rumah. Ke Jepang.

Aku mengakhiri pemaparanku dengan helaan napas berat. Jujur, aku masih takut untuk menebak-nebak bagaimana reaksi ibu ketika mengetahui ini. Aku bukan pulang karena liburan. Bukan juga karena aku sudah sukses—apalagi sudah lulus. Tapi aku pulang karena aku lelah. Ukh, ini tentunya akan mengecewakan ibu. Aku… takut… aku tak mau ibu sampai merasa seperti itu.

Yah, mungkin karena paranoid itulah sekarang aku sedang memejamkan mata dengan bodohnya.

Tapi di luar dugaan, ibu kembali mengelus rambut pirangku. "Maaf, Ino… Maaf karena Kaa-san tak pernah tahu apa-apa tentang dirimu. Maaf, karena Kaa-san tak bisa berbuat apa-apa dan tak ada di sampingmu ketika kau harus menerima fitnah-fitnah itu. Maaf, nak… Sungguh, Kaa-san pun bingung karena nomor teleponmu di sana tak bisa dihubungi, begitu pun nomor ponsel. Jadi Kaa-san sama sekali putus komunikasi denganmu…," beliau menggeleng lemah. Tersenyum patah sebagai wujud kesungguhan penyesalannya.

Kembali keharuan menyeruak dalam dadaku. Kebahagiaan seakan menari-nari mengiringiku, membuat aku kembali menangis gembira. Tak pernah menyangka kalau reaksi ibu justru seperti ini. Kelegaan benar-benar meluap, hingga semua beban akhir-akhir ini menguap begitu saja.

"Kaa-san… aku… cinta Kaa-san… Sayaaaaang sekali." Ujarku memeluknya lagi. Erat-erat dan tak mau dilepaskan. Ibu pun melakukan hal yang sama, dengan sabar ia mengelus-elus punggungku. Menenangkanku yang mulai menangis histeris bak anak kecil. Ya mau bagaimana lagi, dari dulu bisa dibilang tangisanku memang keras. Sudah bawaan dari lah—

"Cinta Kaa-san? Kalau Otoo-san, bagaimana?"

Terdengar suara berat dari arah belakangku—menyebabkan aku menoleh dengan sukses, mencari tau siapa yang bicara. Too-san. Berdiri di sana dengan senyum terkembang. Ukh, rasanya aku ingin terbang ke bulan saja saking bahagianya.

.

.


"HOI, Shika!!"

Aku berlari-larian ke arah lelaki nanas yang menoleh ketika mendengar suaraku barusan. Ia tersenyum tipis sambil melambai padaku.

"Hoi." Katanya menepuk pundakku begitu aku sampai.

"Hey. Sepertinya kita sering bertemu akhir-akhir ini, ya?" aku tersenyum lebar-lebar padanya. Tak menyembunyikan kesenangan yang masih menaungi diriku sampai sekarang.

Dia tertawa, "Ada apa tadi?" tanyanya mengajakku berjalan kembali menyusuri trotoar yang sudah berwarna putih pucat. Yah, kau tahu lah. Yuki(2).

"Hah?" otomatis aku memasang wajah pongo. Maksudnya apa? Tadi? Memang ada apa dengan tadi? Untuk apa dia bertanya tadi? Dan kenapa aku malah balik nanya?

Shikamaru mengangkat bahu, "Iya. Ada apa tadi? Kau kelihatan sumringah begitu."

"Eh?" aku masih tak merubah ekspresi wajahku; tetap pongo-bahagia. Great, wajahku pasti kelihatan jelek sekali sekarang. Ah, tapi apa salahnya? Bengongku ini beralasan. Maksudku, bagaimana Shika bisa tahu aku sedang bahagia? Ohya, tentu saja dia tahu. Wajahku menunjukkan segalanya. "Euhm, ternyata kau bisa baca pikiran orang ya?" sahutku terkekeh.

Shika hanya mengedikkan bahu sekilas, masih memberikan tatapan bertanya.

"Ah, tadi aku baru menjelaskan semuanya pada keluargaku. Dan itu membuatku… merasa damai. Haha."

"Oh, begitu. Yah, kalau tentang keluargamu sih, aku sudah tidak heran. Kau pasti senang berlebihan kalau menyangkut mereka." Katanya sambil mengangguk-angguk.

Aku menyodok rusuknya, "Enak saja senang berlebihan!" tukasku sok ngambek. "Ngomong-ngomong… sedang apa kau, disini?" aku mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru hanya untuk mendapat kepadatan di setiap senti karena di sepanjang jalan ini penuh jejeran toko. Apa yang membuat Tukang Tidur di depanku ini sudah berkeliaran ketika jam baru menunjukkan pukul sepuluh, eh?

"Mengambil foto." Ia mengangkat sedikit kamera yang tergantung di lehernya. "Merepotkan memang, tapi mau bagaimana lagi? Katanya untuk pemuatan artikel 'Life'."

"Oh… aku tak menyangka kau benar-benar jurnalis. Masa' kerjaanmu hanya mengambil foto saja, sih? Bagaimana dengan beritanya?"

Shika mendengus cuek, "Berita sudah ditangani Kiba. Sekarang aku bertugas mengumpulkan foto saja." Ia menjawab singkat. Sok Sai, ah. Kenapa dia jadi tidak seperti Shika yang biasa ya?

"Oh, oke." Setelah aku menyahut begitu, pembicaraan berakhir. Aku hanya mengikuti kemana orang ini berjalan, ikut berhenti ketika ia memotret. Berusaha merendengi jalannya ketika ia dengan tergesa berlari mengejar target. Sungguh kurang kerjaannya diriku ini.

Dan kemudian semua selesai. Shika sudah mendapat semua foto yang ia butuhkan dan sekarang kami sedang duduk di sebuah café bernama Mr. Pancake. Nuansa khas pedesaan Inggris menyambut kami ketika mulai memasuki pelataran café itu. Samar-samar terdengar nyanyian merdu diiringi musik klasik dari dalam ruangan. Aku dan Shika masing-masing duduk di sebuah sofa kecil berhadapan. Sofa ini empuk, bermotif merah dengan gradasi hitam. Sebuah meja sejajar pinggangku menjadi pemisah kedua sofa ini. Yang jelas terlihat, café ini sederhana namun nyaman.

"Traktir ya?" aku menukas cepat mendahului Shika yang baru akan membuka mulut. Kulihat ia menarik napas tak terima namun akhirnya memilih diam tanpa protes. "Haha, mukamu jangan begitu! Jelek sekali, tahu." Aku melanjutkan sambil memanggil mbak pelayan di sana.

"Kau minta traktir, Ino. Tentu saja aku begini, seharusnya kau tahu benar itu. Uangku sudah habis terkuras untuk membeli kalungmu—err-dipakai, kan?" Shika melirik pada leherku yang tertutup kerah kemeja.

"Ah, ya. Pasti kupakai." Ujarku sembari mengeluarkan kalung kristal yang sebelumnya terlapis baju. "Maaf, ya sampai membuatmu kehabisan uang."

"Huh, merepotkan." Dengusnya geli. "Tak usah sok menyesal begitulah. Ngeri melihat kau begitu. Janggal."

"Sial kau!" ujarku menimpuknya dengan manik-manik yang entah kenapa bisa ada di kantung mantelku. Ia hanya tertawa. "Umh, Shika…," ragu-ragu aku menggigit bibir.

"Hm? Ada apa?"

"Boleh bertanya?"

"Langsung saja. Kita sudah kenal berapa tahun, sih?"

Aku meremas jari-jemariku, keraguan kembali menguasai pikiran. Bimbang. Tapi aku penasaran sekali. Tanya, tidak, tanya, tidak, tanya, tanya, tidak, tidak, tanya… Huh, baiklah. Dengan sekali tarikan napas aku bicara lirih, "Temari itu… pacarmu?"

.

.

-

-

.

.

SUNYI mencekam.

Ada apa iniiii???! Kenapa mendadak atmosfernya jadi tak enak begini, sih?! Apa aku tadi salah bertanya? Huaaaa~!!! Kalau begitu lebih baik tadi aku tak bertanya saja. Baiklah, akan kutarik kembali kata-kata anehku tadi.

"O-oke, Shika. Kalau kau tak mau jawab juga tak apa. Kau tahu? Itu tadi hanya pertanyaan main-main. Gaje sekali, cuma muncul tiba-tiba di kepala. Yah—"

"Eh? Ino, kan?"

Aku menoleh cepat. Sepertinya aku kenal suara tadi. Bukan, bukan Shika. Dia belum membuka mulut kok. Lagipula tak mungkin dia memotong ucapanku, dia itu tipe pendengar yang baik. Bukan, bukan aku juga! Masa' aku bicara 'aku'? Lalu siapa? Aku kenal sekali, sepertinya. Uhm, mungkinkah itu suara… "SAI?! Eh? Kau sudah sampai? Kenapa bisa ada di sini? Kok tak mengabari? Dan siapa itu?" berondongan pertanyaan seperti di telepon tadi pagi kembali menyambut pemuda datar ini. Tapi ia hanya tersenyum sebagai jawaban.

"Iya, aku sudah sampai. Tentu bisa, aku sudah ada di Jepang. Aku sudah meneleponmu, tapi tidak kau angkat-angkat. Oh, ini tunanganku."

Aku melongo. Lama sekali. Namun tanganku tetap bergerak meraba saku untuk mengambil ponsel. Benar, ada lima miss called dan satu message dari Sai. Tapi bukan ini yang membuatku melongo. Tapi kata terakhirnya tadi. Dia bilang apa? Tadi aku seperti mendengar dia bicara soal tunangan. T-tunangan? TUNANGAN?? Te u tu en a na a eng a en, betulan? A-ap apa..? B-bagaimana? KOK?! GYAAA~!!!

Kebingungan plus kekagetan plus penasaran tingkat tinggi melandaku. Orang ini benar berkata 'tunangan' kaaaaan? Kok tak pernah cerita? Curang! Sementara aku mati-matian berjuang agar bisa bersama Shika, dia malah sudah bertunangan! Argh! Sahabat macam apa, ituuuu?

"T-tunangan?!"

Sai mengangguk, "Ya, maaf aku tak pernah memberitahumu selama ini." Selingan untuk menghela napas. "Kau sendiri? Bersama siapa?" Sai mengedik pada Shika yang sedari tadi menatap kami dengan pandangan ngantuk. Ya ampun! Aku bahkan melupakan keberadaannya, untung saja dia tak keburu tidur.

Aku menyengir garing, mencoba mencairkan suasana yang entah mengapa jadi terasa hambar, kaku. Bagai sayur tanpa garam. Bagai sedang dalam kolam buaya. "Err-iya, dia ini sahabatku dari kec—"

.


TSUZUKU.

Jumlah kata : 2.829 di Ms. Word (story only)

Keterangan

(1) You know what I mean.

(2) Yuki : Salju (dalam bahasa Jepang).

---

.

Pertama kalinya, saya meng-cliffhanger ini fic. Sebodo amatlah, udah kehabisan ide saya. Ngetik ini aja jam 00.09.(curhat colongan) Ah, akhirnya tinggal satu chapter lagi!! Yosh, semangat! Walaupun saya udah kalah dari author-author lain yang udah dengan gemilang menyelesaikan challenge ini, sih. Selamat buat Dani-nii, Archan, dan Tante Konoha~ Omedetou gozaimasuuu~

Dan buat adek ipar saya alias Yuki-chan, noh liat! Namamu masuk ke dalam cerita ini! (gaje)

Eniwei pengen nanya, ini tema-nya kerasa nggak ya? Maksud saya sih, 'secret joy' dari kekeluargaan di antara para anggota Yamanaka. Eh, tapi emang itu 'rahasia' ya? O.o Dan untuk warning aja, chapter berikutnya mungkin bakal panjang. Dx

Review reply :

Shizuka-nee : Iya, aku juga belum pernah ngerasain cemburu macem Ino. Itu Cuma ngarang-ngarang aja. '=.= Huahaha, ini kan AU. Masa' Saskay di bawa kabur Orocchan ,sih? :P Hah? Masa sih, keliatan brotherly? Oh, tidaaaak~!!! Gagal sudah aku membuat romens ShikaIno.(pundung) Gomen, nee. Disini aku malah nekenin fluff pas Ino ketemu ibunya bukan romens antara Shika dan Ino. Huhuhu. TwT Makasih ya, nee~

kakkoii-aniki : Iya, Ino cinta banget sama Shika. Wah, jangan nganggep Shika punya niki, deh. Shika mah buat Ino. Aniki sama mas-mas di sana aja! (nunjuk kuli bangunan –dibantai-) Huahaha, biasalah Ino suka berlebayan. Oke, makasih ripyunya niki~ Ripyu lagi! (maksa)

Chika-nee : Huahaha, aku juga bingung sama scene sebelum Shika ngasih Ino kalung. Nggak ada hubungannya! (menertawai diri yang baka) Makasih atas kritiknya, nee~ Berjuang lanjutin Secret Of My Heart! XD

Empi-nee : Wuah, neechan akhirnya dateng! (pelukpeluk) Oh, adegan basketnya keren? (sujud syukur) Kupikir itu aneh banget. Cie cie… siapa tuh, pemain nomor 9 yang menawan hati? Cerita dong, nee~ hihihi. :) Makasih banyak atas fave dan ripyunya!! Lagi? (ngarep)

Archan : NYAA, SISTA DATENG! (joget gaje) Iya, sama. Aku juga bingung, apa lebih baik ini fic dijadiin angst aja? (ngaco) Enggak, Shika buat Ino ajaa~ Makasih Archaaan~ Eniwei, aku udah ripyu Remembrance lho. Archan ripyu ini lagi, ya? XD

Kristi : Tauk tuh, Shika. Biasalah orang playboy.(Shika : FITNAH! FITNAH!) Wuah, makasih banyaaaak~ (pelukpeluk) Do'anya juga makasih ya. Aku bakal cepet nyelesein betaread fic-mu deh. :P

Dani-nii : Masa? O.o Padahal chapter dua kan, lebih panjang dari yang kemaren? Iya, itu basket. Oh iya bener, disitu bahkan nggak ada tulisan basket sama sekali.(swt) Enggak kok, Saskay emang dari dulu udah rakus.(Saskay : FITNAH!) Makasih ya, nii~ :D

Cha-mai sista : Wuaduh, map ya ngerepotin… T.T Eh? Ternyata ada yang nyadar ada hints SaskaySaku ya? (ngasih tisu ke Cha) Makasih ya, sist.. Hehe, aku udah main ke ficmu kok. Udah diripyu.

Ana-chan : Huaa! Ternyata yang kemarin emang panjang ya? o.o Uwah, makasih banyak Anaaa~!!! (peluk Ana ampe sesek) Ripyu lagi? :3

Mura-chan : Nyaaa~!! Nggak papa kok, santai ajalah. XD Makasih banyaaaak~ Eh? Terasa angst? Tuh kan bener. Seharusnya fic ini aku jadiin angst aja! Temari muncul? Nggak tau juga, nih. Aku nggak tau musti naro Temari dimana. Malah ini udah menjelang chapter akhir. Dx Aku udah ripyu fic challenge-mu. Sekali lagi makasih ya~

Kencana : Wuah, Kencana mampir! (nyuguhin teh dan kue virtual) Hubungan ShikaTema? Nah, itulah yang sedang kupikirkan sekarang. -_- Huehehe (ketawa laknat) makasih yaaa~!

Kyou-nee : Pertanyaan Ino ke Korea ngapain sudah terjawab dengan gajenya. :P Dia ngelanjutin kuliah. Tapi karena balik ke Jepang tanpa pemberitahuan ke ortu, makanya Ino nganggur. Hehe, iya aku lupa. Kupikir semua udah pada tau dribble apa, kan? (ngeles) Iya, huahaha aku baru nyadar itu! Jadi yang lain pulang tanpa bertanggung jawab, sedangkan ShikaIno ditinggalin di lapangan berdua doang. Huahaha (ngakak) makasih banyak atas pengingatnya, nee.

Anakku Nisa : Iya, gaje kan adegan basketnya? '=.= Eh kata siapa? Fic sport Nisa bagus, kok! Ayo lanjutin lagi! Bunda baru muncul seiprit tuh! (maunya) BERJUANG, NAK! Jangan menyerah! Don't give up! Fic challenge-mu bagus lho, bunda do'ain dari sini biar idemu muncul lagi deh. Makasih banyak, naaak~

Miyu-nee : YES YES, Miyu-nee dateng! (nari hula-hula) Infantrum Black and White Challenge itu tantangan yang diselenggarakan di Infantrum ,nee. Yang bikin ini challenge ya Blekpepi-nee, huahaha. (gaje) Ahaha, sudahlah nee… pilih ShikaIno ajalah… (bujuk rayu setan) Makasih…

blekpepi-nee : IYEY NEECHAN DATENG! :) Iya, betul itu. Tapi aku nggak tau juga, sih, soalnya cuma ngarang. Hehe (nyengir kuda) Yeah! Ayo budidayakan ShikaIno~, mereka manis lho nee. Hihi. Tapi SaiIno juga asik, sih. (plin-plan) Eh? Makin dramatis? Be-berarti… aku makin lebay ya? O.O Iya, aku akan berjuang! Satu chapter lagi! Makasih ya nee~ Neechan juga berjuang ya, untuk kuliah dan ficnya. :D

Yuki adek iparku : Fic kuliner? (tampol Yuki ke pangkuan Bondan Winarno) Dek, sungguh aku ingin membuangmu ke jurang. Enak aja nuduh-nuduh ada yuri TemaIno! Aku nggak suka pair itu, bagusan InoSaku! (lha?) I-iya juga ya? (kabur) Eniwei, kau nampang di sini, lho. Yuki. Huahaha. XD Makasih yaa~

Angel-chan alias Uline-chan : Oh, itu kanji ya? (katrok) Uwah, makasih banyaaak~!! Hehe, tunggu ripyuku di ficmu ya. makasih, sekali lagi.

.

(ngelirik review reply yang super panjang) Ah, biarkan. Sankyu atas ripyunya!!! (pelukpeluk semua) Ripyu lagi? O.O