Disclaimer : Masashi Kishimoto.
Warning : AU, OOC, lots of — symbol, bahasa monoton bin LEBAY (alias menggelikan), serta kejelekkan-kejelekkan lainnya. Don't like don't read, I've warning you.
Dibuat untuk "Infantrum Black and White Challenge" dari Blackpapillon-nee. Saya ambil set WHITE//Fluff. Romance.
This chapter is for WHITE Day theme.
Enjoy! XD
5日間
by dilia shiraishi
CHAPTER FIVE : White Day
.
SIING~…
Hening menguasai masa yang bergulir cepat di antara napas manusia. Hanya terdengar sedikit gemericik air sisa hujan deras dan suara serat kain lap bergesek dengan permukaan licin gelas bening. Di sanalah dia berada sekarang, melakukan semua pekerjaan mencuci piring dalam diam. Sibuk dengan lamunannya sendiri.
Sang ibu yang sedari tadi mondar-mandir memperhatikan sikapnya tak ia hiraukan. Bahkan ia mungkin malah tak menyadari kehadiran wanita itu. Ia terlalu sibuk. Terlalu sibuk hanya untuk menggubris keadaan yang terjadi di sekitarnya. Apa yang ia pikirkan sekarang jauh lebih penting.
Tak pernah sekalipun terlintas dalam benak, tentang adanya kemungkinan tersebut. Terlalu mengada-ada, berlebihan, dan dramatis. Seperti mengkhayal dan berimajinasi tinggi tanpa menyadari. Namun itulah fakta sebenarnya. Realita yang melingkupi hidup bagai harapan tak terjangkau tangan—padahal dekat. Dekat sekali, melebihi pemandangan yang terlihat di pelupuk mata.
.
.
-
-
.
.
INO menyengir garing, mencoba mencairkan suasana yang entah mengapa jadi terasa hambar dan kaku. Bagai sayur tanpa garam. Bagai sedang dalam kolam buaya. "Err-iya, dia ini sahabatku dari kec—"
"Pacar."
Satu kata penuh makna tersirat itu mampu membuat tiga pasang mata di sana melotot. Membelalak dengan drastis hingga tampak seperti akan keluar dari tempatnya. Seakan dunia berhenti berputar; hanya terdengar suara dengung tak berarti di telinga mereka—tepatnya di telinga Ino.
Dentuman gema berulang-ulang terpantul di pikiran gadis pirang tersebut. Ia masih terlongong, memikirkan apa maksud dari kata tadi karena mendadak otaknya serasa mati. Tak bisa berpikir sama sekali, hanya merasakan pening luar biasa menyerang sel-sel otak. Namun secara bersamaan, rasa senang menyelinap diam-diam jauh di lubuk hati. Ketika akhirnya bisa berpikir jernih, Ino terpaku. Tak bisa bergerak dalam keinginan untuk bicara.
B-bagaimana? Apa yang orang ini bicarakan tadi? Belum cukupkah pengakuan Sai tentang ia sudah bertunangan hingga ia harus terkaget lagi? Hah? Apa sekarang takdir sedang hobi mempermainkan dia??
Orang yang tadi bicara menghela napas panjang-panjang. Terdengar putus asa, "Kenapa kalian semua diam seperti itu? Ada yang salah?"
Ino menelan ludah ketika mendengar Shikamaru berbicara enteng tanpa beban seperti ini. Jelas ada yang salah!! Ia bercanda ya? Apa sekarang sudah tanggal satu April? Apa Ino sedang dikerjai karena hari iseng sedunia bernama April Mop itu? Atau sekarang hari ulang tahunnya hingga semua orang berubah jahil? Atau… tadi hanya kesalahan telinga yang mendengungkan harapan terdalam hatinya? Atau… atau… tadi ada angin lewat yang mengusik suara rendah Shikamaru?
Apa pun itu, Ino akan memercayainya. Seaneh apapun penjelasan dari semua ini, ia akan berusaha memercayai. Ya, pasti hanya khayalan. Fatamorgana, salah dengar, delusi, imajinasi, ilusi, atau bahkan visi dan misi. Yang pasti ini bukanlah kenyataan. Ia sedang di alam mimpi. Dan suatu saat nanti akan terbangun dalam keadaan terengah-engah.
Akhirnya dengan persepsi seperti barusan, Ino memilih untuk tertawa hambar. Yakin kalau semua yang baru saja ia dengar tidak nyata, "Hahahaha… Shika, jangan bercanda!" ia berujar seraya memukul lengan orang yang dimaksud, meski harus mengulurkan tangan dan memajukan tubuh untuk melakukannya.
Sekarang mata semua orang tertancap pada sang gadis pirang, membuat ia membuang pandangan untuk berkelit. Terdengar dengusan dari arah depan sebelum kemudian terucap singkat kalimat klise, "Aku tidak sedang bercanda."
Rasanya Ino ingin pingsan saja. Pingsan dan tahu-tahu sudah sampai di langit ke tujuh, membumbung tinggi bersama gumpalan kapas tebal dengan kebahagiaan terpancar luar biasa.
"Oh, benarkah? Ino, kau tak pernah cerita padaku soal ini." Suara penuh konspirasi serta menyelidik dari Sai membuat Ino berpaling. Dia mendapati mata Sai dan tunangannya berkilat penasaran.
Sekali lagi Ino meneguk ludah, kebingungan menyiapkan jawaban demi menjadi pemuas dahaga rasa penasaran dua sejoli di sana. "Maaf, aku tak memberitahumu sebelumnya Sai. KARENA AKU PUN BARU TAHU SEKARANG!!" Ino melonjak dari duduk, berteriak kencang ke seantero café. Menyebabkan orang-orang di sana memandang ia dengan raut terganggu. "A-ah, gomen! Gomen, minna-sama…"
Orang-orang kembali pada kesibukan masing-masing sesudah mencibir pada sang gadis. Menganggap teriakan Ino tadi hanya sekedar kucing lewat.
Sementara Sai mengerutkan alis heran, "Baru tahu bagaimana maksudmu?" kembali ia bertanya sembari menatap Ino tepat di manik mata. Mempertanyakan jawaban jujur darinya.
"Err-" Ino kehabisan ide sekarang. Tangannya mulai berkeringat dingin lagi, tanda kegugupan sudah mulai lewat batas kewajaran. Tentu saja, ia baru mendengar sesuatu yang mengejutkan. Tak bolehkah ia berlaku hiperbolis dengan menjadi patung di tempat?
"Memang baru aku beritahu sekarang." Shikamaru menjawab ketika dilihatnya Ino memilih bungkam. Meski Sai dan sang tunangan tampak makin tak mengerti apa yang terjadi, ia tidak mau peduli. "Sudahlah. Lebih baik cerita dimulai tentang kalian. Aku bahkan belum mengenalmu." Shikamaru mengedik pada Sai.
"Oh, benar juga." Sai menepuk kening sembari duduk di sofa samping Ino, tak lupa mengajak tunangannya turut serta. "Kenalkan, aku Sai. Teman Ino ketika ia kuliah di Korea."
Shikamaru mengangguk-angguk—melempar pandangan pada Ino yang menyengir kuda. Merasa bersalah belum mengenalkan mereka berdua. "Iya, dia sahabatku di sana. Orang yang sangat berjasa untuk membuatku tetap hidup…," …selain kau, Shika. Lanjutan kalimat itu ia telan bulat-bulat. Belum berani mengutarakan. "Dan Sai, orang ini Shikamaru. Sahab—"
"Pacar." Shikamaru menyela.
Ino menggigit bibir bawahnya, "Uhm, yah 'pacar' atau apa pun itu." ia meneguk ludah sekali lagi. "Oke, Sai. Giliranmu. Masa' kau belum mengenalkan tunanganmu pada kami, sih?"
Dan Sai hanya mengangkat bahu, menyerahkan perkenalan sepenuhnya pada sang tunangan. Gadis di sampingnya balas tersenyum dan menarik napas. "Shikamaru, kau masih mengingatku kan?" ia justru melempar tanggung jawab pada pemuda berwajah malas itu.
Serta merta Ino melongo, "Kau sudah kenal dia, Shika?"
Shikamaru mengangguk, "Dia Temari. Yang waktu itu harus kujemput sehingga meninggalkanmu. Narasumber utama untuk artikel 'History' di majalah yang harus kuwawancarai. Dia arkeolog(1) yang menetap di Korea." Paparnya cuek. Tak menyadari perubahan raut wajah Ino.
Ya, mata sapphire tersebut melotot kaget mendengar fakta baru lagi. Berkali-kali ia dikejutkan oleh pembicaraan mereka ini—Sai sudah bertunangan, Shikamaru menyebutnya 'pacar', dan sekarang Temari-temari yang selama ini menghantui pikirannya ternyata adalah tunangan Sai itu?
Oh, Kami-sama… Apa ada lagi yang bisa membuat Ino terkena serangan jantung mendadak? Jangan sampai, cukup tiga hal di atas saja. Dia sudah tidak kuat kalau harus ada kejutan lain. Terlalu tiba-tiba dan memaksa.
Ingin rasanya Ino menerjunkan diri ke dalam jurang sekarang juga. Semua ini terlalu mengejutkan—meski pada kenyataannya adalah hal menyenangkan.
"O-oke. Jadi Temari ini ternyata adalah tunangan Sai ya? Hahaha, kalian hampir membuatku gila. Sebaiknya aku pulang dulu. Kalian tahu? Kepalaku ingin meledak rasanya. Kita lanjutkan pembicaraan kapan-kapan, dan Shika, aku butuh bicara denganmu sore nanti."
Kemudian tanpa menoleh lagi, Ino berlari secepat yang ia bisa. Kemana saja, asal bisa menenangkan hatinya yang mendadak dipenuhi kegembiraan dan rasa lega luar biasa. Ia ingin menangis, lagi-lagi tangis bahagia.
.
.
-
-
.
.
LAMUNAN Ino terhenti sudah ketika ia dengan cepat menggeleng-gelengkan kepala. Menghilangkan semua pemutaran ulang kejadian tadi dari benak. Sekarang sudah waktunya untuk minta penjelasan dari Shika. Apa yang direncanakan pemuda itu hingga bisa berkata seperti tadi, sih? Ya ampun…
Bergegas Ino mengelap tangan yang masih basah dan meminta izin pada sang ibu untuk pergi keluar sebentar. Setelah mengambil mantel, ia langsung mengayunkan langkah menuju jalan itu. Dia yakin Shikamaru sudah menunggu di sana.
.
.
"JADI, jelaskan semuanya."
Shikamaru mendongak menatap Ino yang terengah-engah mengambil napas setelah berlari cukup jauh. Ia memalingkan wajah, tampak segan mengungkapkan semua seperti yang diminta Ino.
"Ayo."
"Iya, iya. Sabar sedikit kenapa, sih? Duduk saja dulu." Ia menepuk bangku batu di sebelahnya—mengajak Ino untuk ikut duduk. Gadis pirang itu melakukannya tanpa suara, pandangan mata masih sengit tertuju pada Shikamaru. "Eh… aku bingung harus menjelaskan apa, Ino."
Yang diajak bicara memutar bola mata, "Tentang yang tadi. Semuanya—kenapa kau menyebutku… err-euhm, ohokhokp-pacarohok…," ujarnya tergagap. Yah, bagaimanapun kata tersebut masih terdengar asing di telinga Ino yang sudah terlalu biasa dengan status 'sahabat sejak kecil' dan bukannya 'pacar'. Belum untuk waktu yang setiba-tiba ini, "…dan tentang Temari juga."
Otomatis dahi Shikamaru berkerut, "Temari? Bukankah kau sudah tahu? Dia tunangan si Sai temanmu tadi."
"Bukan! Bukan yang itu!" Ino balas mengibaskan tangan tak sabar. "Maksudku, kenapa kau tak menjawab pertanyaanku tentang Temari sebelumnya, kalau ternyata ia bukan apa-apamu?"
Batuk.
Batuk.
Dehaman.
Keringat dingin.
Gugup.
"Entah…," keluarlah satu kata yang mampu membuat Ino seketika mengamuk.
"Shikaaaaa~!!! Aku serius! Kalau kau memang tidak punya hubungan khusus dengannya, kenapa kau tidak langsung menjawab pertanyaanku? Kenapa kau justru membuatku tampak seperti orang bodoh?" tukas gadis tersebut frustasi. Tangan bersedekap dengan alis berkerut dalam.
Shikamaru tampak salah tingkah, namun beberapa saat kemudian ia berhasil menguasai diri. "Karena aku sibuk berpikir kenapa kau bertanya seperti itu."
Ganti Ino yang terdiam.
Batuk.
Batuk.
Telan ludah.
Dehaman.
Remas tangan.
Keringat dingin mengucur.
Sikap tubuh janggal.
Gugup luar biasa.
"I-itu… yah, tentu aku ingin tahu apa-apa saja yang berhubungan denganmu! Kau tahu kan, kita sudah lama tak bertemu? A-aku pasti sudah ketinggalan banyak berita—contohnya tentang pacarmu. Bisa saja kan, kau tak menceritakan apa-apa soal pacarmu padaku?" ia mencoba mengelak.
"Dan apa tepatnya alasan yang membuatku harus menceritakan apa-apa soal pacarku (kalau memang aku punya)?" lagi-lagi Shikamaru membalikkan pertanyaan, membuat Ino makin tak berkutik.
"Karena kita sahabat?" jawab Ino gugup, membuat Shikamaru menatapnya sengit; tahu kalau ia tak sedang bicara jujur. "O-oke, karena aku… umm, ehem, jealous-uhuk sama dia." Ia berujar pada akhirnya. Sedikit tidak rela dan malu, namun apa boleh buat. Hingga tak dapat dielak, semburat merah mulai mewarnai pipi.
"Jealous? Untuk?" lagi-lagi Shikamaru balik bertanya—seakan sedang berusaha memberi umpan.
Wajah Ino segera berubah raut menjadi putus asa, ia merasa dikerjai habis-habisan. "Shikaa~ tolong jangan buat aku ingin mati seperti ini. Kau membalikkan pertanyaanku tanpa menjawab satu pun yang kutanyai," katanya parau setelah mendesah perlahan.
"Lalu bagaimana?"
Kali ini Ino meraung saking frustasi, "ARGH! Kau kan jenius! Pikir sendiri lah!!" ucapnya sambil menginjak kaki Shikamaru sekeras yang ia bisa. Membuat rintihan mengusik ketenangan di jalan itu.
"Merepotkan, kau tahu? Kupikir kau sudah mengerti tanpa harus diberitahu." Shikamaru menghela napas panjang. Ikut merasa putus asa.
Ino melepas ikatan di rambut pirangnya, lalu mengacak-acak rambut tersebut sampai ia terlihat seperti orang sinting tersasar di hutan. "GYAAA~!!! Nyatanya aku tidak tahu, maka aku minta penjelasan! Ugh, aku benar-benar bisa gila kalau begini!!!" ia menuding lelaki di sampingnya.
"Bukannya sudah?"
"ARGHH!!! KUBUNUH KAU, SHIKA!"
.
.
Setelah adegan berdarah itu usai dengan kemenangan telak dari Yamanaka Ino, mereka berdua tampak membisu. Tak bicara satu sama lain. Bukan, bukan karena tak mau. Tepatnya mereka tak bisa—memar di wajah Shikamaru membuatnya sulit bicara. Dan tenggorokan Ino terasa kering setelah berteriak-teriak memarahi lelaki tersebut. Sempurna sudah penderitaan mereka.
"…," Ino berusaha bicara namun tak ada suara yang berhasil keluar. Ia mencubit pipinya sendiri, rasa ingin mati kembali menghinggapi dirinya kini. Sungguh, di saat penting begini kenapa selalu saja ada kejadian menyebalkan? Padahal ia sedang butuh alasan, bukan kebisuan jangka panjang akibat berteriak seperti orang tak waras.
Huh.
"Ohok hok hok!" Ino membatukkan diri berulang-ulang. Berharap dengan cara itu kekeringan yang mendera tenggorokan dapat menghilang. Namun seperti yang sudah ia duga; bukannya berkurang, serak yang menyebalkan tersebut justru makin menyiksa. Menguasai dan menenggelamkan kembali asa yang tadi sempat melingkupi Ino.
Shikamaru menoleh pada gadis itu sembari memegang kedua pipi yang bengkak karena ulahnya, "Sepewinyakiwabuwuhiswiwahaw, akupuwanduwukawaubegiwu.(2)" ia beranjak pergi dari tempat duduk setelah menggumamkan kalimat tak jelas di telinga Ino. Namun sebelum langkahnya benar-benar menjauh, Ino sudah menarik mantelnya kuat-kuat. Menyebabkan Shikamaru tak bisa melanjutkan perjalanan untuk sejenak.
"Jangan. Coba. Coba. Kabur. Atau kau betul-betul akan ku bunuh." Ino bersuara rendah penuh penekanan. Menyeramkan. Kental pemaksaan. Menyebabkan Shikamaru mau tak mau menelan ludah, dan akhirnya menuruti kehendak gadis itu. Ia kembali terduduk di bangku batu samping Ino.
Kemudian keadaan mendadak kembali dikuasai sunyi.
Kali ini mencekam. Masing-masing dari mereka ingin segera kabur dari suasana ini namun tak bisa, karena masing-masing dari mereka saling mencengkram lengan. Tak bisa bergerak. Kaku.
Sementara bunyi desing angin yang lewat membelai wajah mereka. Melambaikan rambut panjang Ino hingga dalam sekejap saja rambut itu berantakan. Meski sudah diikat kencang (sekali lagi) sebelumnya.
Dengan menghela napas Ino membetulkan letak poni yang awut-awutan, membenahi kunciran dengan asal, sambil berusaha mengembalikan pita suara yang seakan menghilang. Padahal baru saja ia berhasil bicara dengan nada menyeramkan pada Shikamaru, mengapa sang suara begitu cepat enyah?
Shikamaru pun mencoba melakukan sesuatu yang setidaknya bisa menghalangi kantuk. Salah satunya dengan memijat pipi, siapa tahu dengan begini ia dapat bicara biasa kembali? Bukannya bicara aneh dengan suara penuh huruf 'w' seperti tadi.
"Ah, bisa!" secara bersamaan mereka berseru kencang. Senang karena berhasil melakukan yang mereka inginkan. Lalu mereka saling menatap—memandang satu sama lain, lirik sana sini, sebelum kemudian tersenyum sejenak. Dan tak lupa tertawa dalam hitungan yang sama. Kompak.
"Ahahaha, kau jelek sekali Shika!" Ino memegangi perutnya yang geli tiba-tiba. Entah kenapa ia merasa ingin sekali tertawa padahal tak ada hal lucu yang harus ditertawakan. Oh, ada. Orang di hadapan dia sekarang begitu lucu. Wajahnya memar-memar dan tampak benjol di segala tempat. Rambutnya juga berantakan akibat Ino acak-acak saat mengamuk tadi.
"Hahaha, kau tak sadar kalau dirimu sendiri jelek? Sana berkaca! Rambutmu itu!" ganti Shikamaru menunjuk-nunjuk dramatis rambut Ino yang lebih tampak seperti rambut singa—oh, padahal Ino sudah membenahinya tadi, kan?—.
Dan sampai beberapa saat kemudian mereka masih tertawa, hingga masing-masing menghela napas panjang dan menghentikannya. Desau angin lagi-lagi terdengar di antara lirikan-lirikan yang mereka lakukan.
"Oke, aku mengerti maksud kata-katamu tadi, Rambut Nanas." Ino kemudian memecah keheningan. Ia menjulurkan lidah pada Shikamaru.
"Ohya? Baguslah. Dasar gadis merepotkan, jangan sampai suatu saat kau bertanya tentang hal ini lagi." Pemuda nanas itu balik mengejek. Membuka peperangan baru yang bisa saja berakibat fatal pada dirinya sendiri.
"Ih, jangan kepedean! Aku tak akan bertanya lagi. Cih, si muka malas-jelek!"
"Kupegang kata-katamu, blonde gembel."
"APPPAAAA???! Mata super sipit!!"
"Huh, babi."
"Kurang ajaaaaar!!!!" ketika mendengar kata barusan, otomatis Ino menggeram seraya bergegas mengejar Shikamaru yang sudah berlari terlebih dahulu. Ketika gadis itu berhasil menangkap sang pemuda, tanpa ampun segera dipraktekkannya jurus taekwondo yang dulu sempat ia pelajari di Korea.
Dollyo chagi, tendangan melingkar ke arah depan. Oh, sungguh malang nasib Shikamaru. Pasti memar-memar di tubuhnya akan semakin bertambah…
"Eh, iya! Ampun, Ino! Ini merepotkan!!"
"Tak akan kuampuni!!! Memang aku pikirin kalau merepotkan?! Rasakan ini!!"
"HUWAAA~!!!"
Dan suara-suara teriakan bersahut-sahutan itu terdengar hingga ke pelosok jalan sepi tersebut. Jalan yang ketika musim gugur dipenuhi daun-daun berserak. Yang ketika musim dingin tertutupi butiran putih tebal—salju. Yang ketika musim semi digenangi keindahan semilir bunga yang mekar. Yang ketika musim panas mendapat limpahan hangat cahaya matahari. Tempat dimana kenangan indah mereka tersimpan rapi—terus bergulir dalam hati, seiring musim yang berganti.(3)
.
-
.
"BENAR-BENAR ya, mereka itu. Padahal kupikir mereka akan jadian dengan romantis. Tapi apa-apaan tadi? Tak ada romantisnya sama sekali." Sakura menggeleng-geleng pasrah seraya menyuapkan tempura(4) dari kotak bekal yang sedang ditekuninya ke mulut.
Naruto menyengir lebar mendengar komentar tersebut, "Hahaha, kan khas mereka, Sakura-chan. Justru kalau romantis aku tak bisa membayangkan. Hii… pasti Shikamaru menjijikkan sekali jika harus bicara gombal macam itu, kan??" ia mencari persetujuan dengan mengedikkan kepala pada Sasuke yang sibuk melahap tomato sandwich-nya.
Sasuke menghela napas melihat isyarat Naruto, "Hn."
"Yah, iya juga sih. Tapi masa' jadiannya begitu saja? Tak menarik." Sakura masih mengomel tak suka. Tidak puas. Sesekali ia mencoba mencuri pandang ke arah Shikamaru dan Ino yang berlari semakin jauh dari kawasan jalan ini, berharap tiba-tiba terjadi sesuatu yang berbeda.
"Kurasa adegan romantis yang ingin kau lihat itu akan terwujud setelah ini." Ujar Sasuke menanggapi asal-asalan—hanya untuk menghentikan omelan Sakura. Sudah cukup telinganya terasa berdengung karena sedari tadi mendengar ocehan dari Naruto, tak usah pakai ditambah-tambahi lagi. Cerewet.
Naruto mengernyit tak percaya, "Hah? Bagaimana kau bisa tahu, Teme?"
"Insting?"
Dan Naruto segera menimpuk Sasuke dengan sumpit, "Sotoy, ah!" dia berkata bersungut-sungut, namun tak lama kemudian wajahnya kembali cerah. "Ah, tapi apa mereka tak tahu ya, kalau bukan cuma mereka yang sering ke sini? Sampai berani teriak sekencang itu."
"Kau sendiri hobi berteriak-teriak, Dobe."
Naruto kembali menimpuk Sasuke, kali ini dengan sandal yang entah ia dapat darimana. "Aku tak tanya kau ya?!!" ia berucap sambil merangsek mendekati Sasuke, siap berdebat dan saling mengejek seperti biasa.
Namun dengan segera Sakura menghentikan perkelahian yang baru saja akan dimulai itu, "Sudahlah, jangan mulai lagi deh. Kalau soal yang tadi kau bilang, Naruto… Yah, mereka mana tahu kalau di belakang jalan favorit mereka itu ada taman tersembunyi? Ini kan, tempat rahasia kita bertiga." Sahutnya sembari tersenyum, tak lupa dia menuangkan jus tomat di masing-masing tiga gelas kertas untuk mereka.
.
.
.
ANGIN semilir menerbangkan beberapa butiran salju kecil hingga bertebangan—sebelum jatuh membentur bumi. Suasana jalan itu masih sama, walau ini adalah bagian lain darinya. Nyaman dan terasa damai.
Dan di sanalah mereka sekarang, tertidur dengan pose yang cukup manusiawi namun dengan wajah kelewat bereskpresi—bahasa kasar : penuh iler—. Sang pemuda tidur tengadah dengan bersandar pada batang pohon yang mulai bersalju, sedang sang gadis turut tidur di sampingnya. Tidak, tidak bersender pada pohon. Tapi bersender pada pundak lelaki tadi.
Hening. Hanya terdengar suara dengkur halus pertanda tidur mereka cukup nyenyak. Tentu saja, wajah mereka pun menampakkan kebahagiaan tak terkira, kalau mau dihiperboliskan.
Yah, sudahlah. Lebih baik jangan mengganggu mereka, bukan?
.
Selamat tidur kalian berdua…
Shikamaru, dan Ino…
.
.
OWARI.
Jumlah kata : 2.804 (story only) di Ms. Word.
Keterangan
(1) Arkeolog : Ahli dari ilmu pengetahuan yang mempelajari segala hal dari zaman purba guna menyusun sejarah dan pengetahuan dari zaman itu.
(2) Sepertinya kita butuh istirahat sejenak, aku pulang dulu kalau begitu.
(3) Kalimat-kalimat yang di-italic udah pernah ada di chapter dua. Pengulangan untuk penegasan.(?)
(4) Tempura : Makanan Jepang berupa makanan laut, sayur-sayuran, atau tanaman liar yang dicelup ke dalam adonan berupa tepung terigu dan kuning telur yang diencerkan dengan air bersuhu dingin lalu digoreng dengan minyak goreng yang banyak hingga berwarna kuning muda.
---
Astajim, akhirnya fic ini selesai dengan gaje. Nggak ada pernyataan cinta secara langsung atau hal-hal keren lainnya. Huahaha, sepertinya writer's block kembali menyerang dan membuat saya buntu ide hingga ngetik chapter akhir yang sungguh aneh kayak gini.
Huhuhu TT^TT Ampuni saya… Saya juga nggak puas dengan akhir yang begini. Aneh banget, weird, gaje, abal, dan segala hal yang buruk-buruk lainnya. Udah gitu dimananya kerasa White Day, cobaaaa? Hah? Hah? (mulai gila)
Maapkan saya atas kejelekkan fic ini, saya terima di-flame kalo memang perlu kok… Dx Dan maap saya nggak bisa reply ripyu-ripyu dari Anda semua. Penggunaan komputer dibatasi, nih... (halah)
.
Arigatou for reading, minna-san…
.
Jakarta, 29th March 2009. 20:14 WIB
dilia shiraishi
