Cerita Sebelumnya:

Dua orang kakak beradik, Sakura Haruno dan Akari Haruno baru saja pindah sekolah di sebuah sekolah berasrama, Norx East Academy. Pada hari pertama mereka di sekolah baru, mereka mendengar suara-suara aneh yang entah dari mana asalnya. Saat mereka menanyakan hal ini kepada Nona Shizune/ Shizune-sama, asisten kepala sekolah ia hanya menjawab "suara-suara tersebut hanya 'rintihan dari masa lalu'". Sakura yang belum merasa puas atas jawaban yang diberikan bertanya-tanya dalam hatinya..........

~ HORROR IN THE SCHOOL ~

(Chapter 2)

By : Yuuka Akanaru

Kami berhenti di sebuah pintu yang besar tinggi dan berlapis pagar besi. Nona Shizune berbalik dan menghadap kami. Di belakangnya berdiri seseorang dengan yang memakai jubah hitam panjang hingga ke lantai dengan ponco yang hampir menutupi setengah wajahnya sehingga kami hanya bisa melihat sedikit bagian hidung dan mulutnya.

"Saya akan meninggalkan kalian di sini. Orang ini adalah kepala asrama. Dia yang akan mengantar kalian ke dalam." Kata Nona Shizune.

"Sebaiknya kau perlihatkan wajahmu." Saran Nona Shizune kepada orang berjubah hitam yang berdiri di sampingnya.

Lalu, sepertinya orang tersebut mengikuti saran dari sang asisten kepala sekolah dan membuka ponconya. Dan kami melihat wajahnya. Ternyata dia seorang perempuan.

"Cantik." Gumamku. Perempuan itu terlihat sangat cantik dengan jubah hitam panjangnya sebagai seorang kepala asrama. Aku melihat rambutnya yang sangat panjang berwarna coklat kemerahan di ikat di ujung bawahnya dengan sebuah pita berwarna oranye yang cukup pannjang. Kulitnya kuning langsat dengan bola mata yang berwarna biru. Juga postur tubuhnya yang tinggi membuat penampilannya semakin cantik. Terlebih lagi dia terlihat muda.

"Saya Kushina, kepala asrama Norx East Academy." Kulihat dia mencoba tersenyum. Tetapi wajahnya terlihat dingin. Lalu, kami mengikutinya masuk ke dalam pintu berlapis pagar besi itu.

O

Kami melewati lorong sempit yang cukup panjang dan diterangi oleh obor-obor yang tertempel di dindingnya.

'TENG! TENG! TENG!.....'

Jam berdentang beberapakali. Tiba-tiba saja para kelelawar terbang berseliweran di atas kepalaku. Aku tidak tahu dari mana arah datangnya para kelelawar tersebut. Kami kembali malanjutkan perjalanan.

Setelah berjalan cukup jauh kami berhenti di sebuah pintu kayu besar dan masuk ke dalamnya. Aku dan kakakku berpisah di sini. Kepala asrama menyuruhku mengikuti seorang perempuan berjubah hitam lainnya dan kakakku dengan yang satunya. Dia tinggi. Dengan rambut pendek berwarna abu-abu keperakan. Di lehernya terlihat bekas luka yang seperti jahitan. Wajahnya terlihat cukup tua. Lalu aku mengikutinya.

O

Sekarang aku sendirian. Duduk di pinggir jendela di samping tempat tidurku. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Tetapi aku tidak bisa tidur sementara teman-teman sekamarku sedang tertidur pulas.

Aku menatap seorang gadis berambut pirang panjang yang tidur di sebelah ranjangku. Hanya dia yang terbangun saat aku datang bersama perempuan tua berjubah yang tidak kukenal mengantarku.

Aku merogoh saku jubahku dan mengambil segulung kertas yang telah kulipat. Aku membukanya dan mencari-cari lokasi saat ini aku berada. Ya, aku menemukannya. Sekarang aku berada di sebuah kamar besar XI-C13 berisi lima orang termasuk aku yang berlokasi di asrama putri bagian XI. Di menara utara lantai tujuh.

Aku turun dari jendela menuju tempat tidurku dan mencoba untuk memejamkan mata. Tetapi suara-suara itu masih saja membayangi pikiranku.

O

"Hei, bangun, anak baru." Seseorang membangunkanku. Aku menggeliat lalu duduk dan mengerjapkan mata. Seorang gadis berambut pirang panjang yang masih mengenakan piama berdiri dihadapanku.

"Eh... kau orang yang semalam..." kataku. Lalu aku melihat tiga anak lainnya. Seorang anak berambut pirang dengan kuncir empat, seorang lagi berambut indigo, dan satunya berambut coklat ia terlihat sibuk dengan rambutnya. Aku melihat jam kecil di samping tempat tidurku. Jam empat pagi.

"Siapa namamu?"tanya gadis berkuncir empat.

"Aku Sakura, Haruno Sakura." Jawabku.

"Temari." Kata gadis tersebut.

"Ino." Kata gadis yang baru saja membangunkanku.

"Tenten." Kata gadis berambut coklat yang sedang berdiri di depan cermin. Ia masih terlihat sibuk dengan rambutnya.

"Emm... aku Hinata." Gadis mungil berambut indigo itu terlihat malu-malu.

Lalu aku bersiap ke kamar mandi.

O

"Mana yang lainnya?"tanyaku pada gadis indigo itu, Hinata. Aku baru saja keluar dari kamar mandi. Lalu aku mengenakan jubah seragamku.

"Mereka sudah ke aula untuk sarapan." Jawab Ino. Kini dia menguncir rambut panjangnya.

Aku mengambil tas jinjingku dan mengikuti mereka berdua.

Saat melewati koridor yang sama waktu aku bersama kakakku dan Shizune-sama, asisten kepala sekolah itu, aku mendengarnya lagi. Suara rintihan memilukan dan teriakan meminta pertolongan. Aku melihat sebuah pagar besi menutupi koridor yang terlihat gelap.

"Ada apa Sakura?" tanya Hinata. Aku sampai kaget mendengarnya.

"Tidak... tidak ada apa-apa...." jawabku. Ada perasaan yang menggelitik hatiku untuk menanyakan hal itu kepada mereka berdua. Tapi hatiku yang lain membantahnya. Akhirnya aku mencoba untuk menahannya.

O

"Aulanya besar sekali." Gumamku.

"HEEEEIII...!!!!" Seseorang berteriak dan melambaikan tangannya. Ternyata Temari.

"Ayo!" Ino menarik tanganku. Aku melihat kakakku di meja seberang.

"Tunggu sebentar." Aku melepaskan lengannya. Lalu berlari ke arah kakakku.

"Kakak!!!" aku memanggil kakakku, Akari. Ia menoleh. Aku berlari ke arahnya.

"Sakura!" Hinata memanggilku.

"Kakak......" Akhirnya! Mungkin aku bisa menceritakan hal itu kepada kakakku. Aku melihat kakak sedang tertawa bersama seorang laki-laki berambut panjang dan dikuncir.

"Adikmu, ya, Akari?" tanyanya.

"Eh... Sakura! Tunggu sebentar ya, Itachi." Ujar kakakku pada laki-laki itu. Akari menarik lenganku, menjauh dari teman-temannya.

"Ada yang mau aku bi...." belum sempat aku menyelesaikan kata-kataku, kakakku langsung memotongnya.

"Tolong, jangan sekarang ya, Sakura! Aku sibuk." Ujarnya singkat lalu meninggalkanku. Dia kembali tertawa bersama teman-teman barunya. 'Sibuk katanya? Sebegitu sibuknyakah kamu sehingga melupakan adik sendiri? Menyebalkan!" batinku.

Lalu aku kembali pada Hinata dan Ino yang menungguku. Dan menuju tempat duduk yang sudah disediakan oleh Temari dan yang lainnya. Tetapi hatiku masih penasaran dengan suara-suara itu.

To be Continued

Bales review dulu, ah!

Zuki g' login : Iya deh, nanti diperbaiki lagi. Terima kasih kritiknya ya!.

Vi-chan Uchiha : Wah, benarkah??? Gak nyangka..... *terharu* - dilempar bakiak –

Quinsi Vinsis : Ya, benar ini Sakura POV. Maaf mungkin ada sedikit kesalahan kata. Nanti diperbaiki lagi.

Nana YazuChi : Terima kasih sarannya. Ini Chapter duanya. Tunggu aja yang ketiganya ya!