Cerita Sebelumnya :
Sakura Haruno bersama kakaknya menjadi murid baru di Norx East Academy. Di sekolah barunya, Sakura berkenalan dengan Ino, Tenten, Temari, dan Hinata. Saat sedang menuju aula untuk sarapan pagi, Sakura kembali mendengar suara-suara rintihan itu di korodor yang sama, waktu ia mendengarnya untuk pertama kalinya.
~ HORROR IN THE SCHOOL ~
(Chapter 3)
By : Yuuka Akanaru
Aku masih memikirkan suara-suara itu, sampai-sampai sarapan pagi yang dihidangkan dengan mewah itu terasa hambar dilidahku. Aku ingin menceritakan semua ini dengan kakakku tetapi mungkin ia terlalu sibuk untuk hal-hal semacam ini. Tunggu dulu! Bukankah ia juga mendengarnya? Mendengar suara-suara aneh itu? Tapi kenapa? Aku menjadi semakin bingung. Tidakkah dia memikirkannya?
"Hei!" Suara Temari mengagetkanku.
"Ada apa denganmu?" tanya Tenten.
"Aku.... tidak apa-apa..." jawabku. Apakah sebaiknya aku menceritakannya saja?
"Kyaaaaa...! Neji!" Tenten berteriak. Segerombolan anak laki-laki mendekati meja kami.
"Hai! Siapa dia?" Tanya seorang anak laki-laki berambut pirang.
"Aku Sakura, Haruno Sakura." Jawabku.
"Dia murid baru." Ujar Ino. Lalu aku berkenalan dengan lima anak laki-laki itu. Yang baru saja dipanggil oleh Tenten bernama Neji dia masih saudara Hinata, Yang berambut pirang bernama Naruto, Lalu yang berwajah paling putih bernama Sai, Yang berkucir namanya Shikamaru, lalu yang terakhir namanya Sasuke. Dia yang terlihat paling cool dibanding lainnya. Tak lama kemudian jam berdentang.
"Cepat selesaikan sarapannya." Ujar Temari. Lalu kami pergi ke kelas.
O
Pelajaran pertamaku di sekolah ini terasa membosankan. Padahal para guru di sini mengajar dengan cara yang menarik. Apakah aku masih memikirkan suara-suara itu? Ya! Aku masih memikirkannya. Hatiku kembali bimbang, bila kakakku tidak mau mendengar ceritaku apa sebaiknya aku bicarakan hal ini dengan teman-temanku saja, ya? Mungkin mereka mengetahui sesuatu.
O
Uff...! akhirnya kelas biologiku selesai. Kembali terdengar suara jam yang berdentang dari menara. Saat julihat, jam tanganku menunjukkan pukul dua belas siang. Waktunya makan siang, pikirku. Aku mengikuti teman-temanku ke aula.
"Hei! Dari tadi kau melamun terus ada apa denganmu?" tanya Tenten.
"Kalau ada masalah ceritakan saja." Tawar Hinata. Aku hanya tersenyum padanya. Aku cepat-cepat menghabiskan makan siangku lalu menuju ke kamar asrama.
"Mau pergi ke mana?" tanya Naruto.
"Aku ingin istirahat sebentar di kamar asrama sebelum pelajaran tambahan" jawabku. Lalu aku pergi. Aku mulai hapal lorong-lorong dan koridor di sekolah ini.
Saat aku melewati koridor itu, terdengar kembali suara-suara itu. Suara-suara rintihan itu. Entah mengapa kali ini terdengar berbeda, tidak seperti suara-suara sebelumnya. Suara yang kali ini selain memilukan juga sangat menyayat hati. Aku merasa tubuhku gemetar lalu air mata meleleh dipipiku. Aku merasa terhipnotis. Tubuhku terasa lemas, sangat lemas. Lalu, sekelilingku menjadi gelap.
O
Aku merasa kepalaku sedikit pening saat aku mengerjapkan mataku. Aku mendapati diriku terbaring di sebuah ranjang yang serba putih.
"Kau sudah sadar?" terdengar sebuah suara yang lembut di sampingku. Hinata.
"Aku.... di mana?" tanyaku.
"Di ruang kesehatan. Tadi kau pingsan di koridor. Apa yang kau lakukan di sana?" tanya sebuah suara dingin. Sasuke.
"Aku tidak melakukan apapun." jawabku.
"SAKURA!!!" seorang gadis berambut hitam panjang menubrukku. Ternyata Akari, kakakku. Seorang laki-laki berkucir berjalan tenang di belakangnya. Dia laki-laki yang tadi pagi bersama kakakku. Kudengar kakakku memenggilnya Itachi.
"Ada apa denganmu?" tanya kakakku khawatir.
"Aku... tidak apa-apa... Ukh!" Ah! Suara itu! Aku merasa kepalaku sakit. Badanku kembali gemetar.
"Sakura!!!" kakakku mengguncangkan bahuku lalu memelukku. Wajahnya terlihat khawatir. Aku mendengar suara itu. Bukan hanya di koridor itu. Tapi kini aku merasa suara itu terdengar di sekelilingku. Air mataku kembali meleleh di pipiku tanpa kuminta.
"Apa yang terjadi padamu, Sakura!" seru Sasuke. Aku melihat Hinata menatapku cemas.
"Su... suara itu... aku mendengarnya lagi..." ujarku. Kakakku tersentak, kaget.
"Suara itu?" aku melihat wajahnya pucat. "Di koridor itu?" tanyanya. Aku mengangguk.
"Ceritakanlah semuanya!" pinta Itachi.
- Flashback -
Aku berjalan sendirian melewati sebuah koridor di lantai enam. Aku merasa hawa yang aneh setiap kali aku melewatinya. Koridor ini tidak seperti koridor-koridor yang lainnya. Di sini terasa hawa dingin yang ganjil dan.... sunyi. Koridor ini lebih gelap dengan tembok batu yang dingin, saat aku menyentuhnya. Entah mengapa, aku merasakan keanehan bila melawatinya.
Tiba-tiba suara aneh itu terdengar lagi. Suara yang memilukan. Jeritan-jeritan yang membuatku merinding. Terdengar seperti seseorang meninta tolong. Suara anak perempuan yang menjerit ketakutan.
Aku merasaka ada sesuatu yang menarik perhatianku. Ya! Pagar itu! Pintu pagar berkarat itu menutupi sebuah lorong gelap. Lalu, aku merasakan seperti ada sebuah kekuatan yang menarikku untuk masuk ke dalamnya. Tetapi aku berusaha menahannya sebisaku. Cukup! Sudah cukup! Suara-suara ini sudah cukup. Aku tidak mau mendekatiku pagar itu. Jangan paksa aku. Tiba-tiba aku merasa seluruh tubuhku gemetar, air mata meleleh di pipiku tanpa kuminta, tubuh terasa sangat lemas dan sekelilingku menjadi gelap....
- Flashback End -
"Pintu pagar besi katamu?" tanya Itachi.
"Di koridor lantai enam?" tanya Sasuke.
"Ya." Aku mengagguk.
"Tapi.... aku tidak pernah melihat pintu pagar besi di koridor itu." Ujar Hinata.
To be Continued
