Fu fu fu.. sampai juga di chapter ini.. Aku bakal mengerahkan seluruh kemampuanku untuk buat kalian bengong! =D bengong gara-gara gak ngerti kali yah? Btw, kayanya rada slightly AU. Enjoy your trip in London..~
Summary: Apa jadinya kalau Earl of Millenium melirik Sebastian dan memanfaatkannya? Akhirnya Earl Ciel Phantomhive harus bergabung dengan exorcist Black Order untuk menyelesaikan semuanya. DGMxkuroshitsuji .. R&R please!
Disclaimer: i don't own-man or kuroshitsuji.. Kalo aku punya kuroshitsuji, aku gak bakal nyiksa fans ku dengan hiatus, kaya Hoshino-sensei.. Sensei!! Apa yang terjadi dengan Kanda.. Jangan keputus gitu dun.. T__T
Mohon maap, penyakit curhat-colongan-disclaimer-ku kumat lagi.. kalo kalian ngerasa itu gak penting, lupakan saja.. m.(V.V).m
* sebelum kalian bingung, Town house adalah rumah di tengah-tengah kota. Biasanya bangsawan mempunya manshion besar di pinggir kota dan Town house di tengah kota. Dalam kuroshitsuji, Town house milik Ciel yang ada di London di urus oleh pangeran dari India, masih inget kan?
The Old Case
Lagi-lagi Ciel yang membuka matanya pertama kali. Kepalanya terasa begitu pusing. Namun itu bukan masalah lagi karena dia menyadari sesuatu yang aneh. Ini.. Town house* milik Ciel? Kenapa kita bisa ada di sini?!
"Lord Ciel.. ini..", Sebastian berusaha mendekat ke Ciel.
"Ya.. ini rumah kita, tapi.. kenapa kita bisa ada di sini?"
"Ini town house-mu Ciel?", Tanya Lavi sambil memegangi kepalanya.
"Ya.. apa Noah-noah itu yang.."
Hihihihihi...
Terdengar tawa anak kecil.. Membuat mereka merinding..
Hihihihihi.. tawa mengerikan ini tidak asing..
"Malam semua.. nampaknya kalian semua sudah sadar..", itu suara Road Camelot! Tapi dia tak nampak dimana pun..
"Road! Dimana kamu?!", teriak Ciel.
"Hihihihi.. dimana aku? Di tempat di mana aku bisa melihat kalian dengan bebas.. karena aku yang membuat tempat ini.."
"Dia membuat tempat ini? Ini suara Road kan?", Lavi mendekat ke Ciel.
"Iya.. aku juga gak ngerti apa maksudnya.", jawab Ciel. Mereka semua mendengarkan baik-baik suara Road.
"Kalian ada di dimensi buatanku. Ciel sendiri pasti sudah tau, kalian berada di London, di town house-nya Ciel. Namun, ini bukan dunia nyata, ini adalah dunia buatanku, dunia yang kubuat mirip dengan London. Intinya, kalian terjebak di genggamanku..", walaupun tidak terlihat, mereka tau Road menyeringai.(A/N: kuharap kalian bisa bayangin, bisa kan?)
"Ini bukan dunia nyata?! Dimensi buatan Road.. Ah tentu saja.. Ini kekuatan Noah of Dream-nya Road. Tch.. sial..", Lavi mengepalkan tangannya.
"Nyahaha.. gak usah panik gitu.. santai aja.. Kita main yuk..?", kata Road bernada.
"Jangan bercanda! Keluarin aja kita dari sini!!", teriak Kanda.
" Uhh.. jangan emosi donk.. Kalau kalian menang, kalian bisa keluar dari sini loh..", mereka semua kaget. Ini memang rencana mereka. Sejak awal Road menjebak mereka agar bisa dijadikan mainan. Tapi.. mau bagaimana lagi.
Setelah Lavi melihat semua orang mengangguk, Lavi menyetujui tawaran Road. "Baik, kami ikuti permainanmu. Tapi kalau kami menang, kembalikan kami ke dunia nyata!"
"Yay..~ gitu donk dari tadi. Kalau kalian menang, bakal kukeluarin dari sini, utuh.. Ngomong-ngomong, kalian gak tanya kalau kalian kalah bakal diapain?"
"Gak perlu, soalnya kita bakal menang.", jawab Kanda dingin. Semua menjawab kata-kata Kanda dengan senyuman.
"Hihihihi.. sombongnya si cowo es.. Pantesan Tyki juga pengen main-main sama kamu", kata-kata Road membuat wajah Kanda makin masam."Tapi sebaiknya aku kasih tau, kalau kalian kalah, kalian bakal jadi mainanku sepuasnya.."
Dengan kata lain, jika Ciel dkk kalah, mereka tak akan bisa kembali ke dunia nyata. Walaupun dunia buatan Road mirip dengan London, tapi orang-orangnya tidak sama, mereka palsu, hati mereka mati. Tidak akan ada lagi HQ, tidak akan ada lagi Komui, tidak akan ada lagi senyuman.. Tidak ada yang menginginkan hal itu!!
"Sekarang aku sebutkan peraturan mainnya. Tugas kalian mudah, kalian cuma harus menangkap Jack the Ripper di kota ini.."
"Jack the Ripper? Hahaha.. apa ini lelucon? Aku sudah pernah memecahkan kasus ini.", tawa Ciel."Pelakunya adalah lady-.."
"Nee..Ciel.. ingat, ini duniaku.. Disini, Tyki yang akan menjadi Jack the Ripper. Dari dulu dia pengen coba peran ini,hihi.. Tugas kalian hanyalah menemukan dan menangkap Tyki..", kata Road.
"Tyki Mikk?! Yang benar saja..", Ciel dan Lavi saling pandang."Apa kita tak mendapatkan petunjuk?"
"Petunjuk? Kalian bakal dapet petunjuk di TKP.. Bukankah itu tugasmu Ciel? Berkeliaran di setiap kasus atas nama Ratu.. hihi.."Anjing ratu", cocok sekali.. Anyway, ayo kita mulai permainannya.."
"KYAAAAAAA...!!!"
Tiba-tiba terdengar teriakan. Bukan dari dalam rumah, berarti dari luar! Dari suaranya, nampaknya seorang wanita berteriak tidak jauh dari sana. Permainan sudah dimulai..
"Tch! Pasti itu korban pertama! Kita harus ke sana!", teriak Ciel.
"Ok..ok.. tenang.. Karena Allen dan Sebastian masih terluka, aku pengen Miranda nemenin mereka. Kanda, tolong ikut kami.", kata Lavi. Semua sudah di atur. Ciel, Lavi, dan Kanda keluar dari rumah itu..
Bulan merasa bosan karena tak ada yang menarik. Dia hanya melihat orang-orang berjalan di bawah sinarnya, semuanya biasa saja. Sampai akhirnya dia melihat tiga orang berlari-lari, nampak begitu tergesa-gesa. Mau apa mereka?
"Harusnya dari sini kan?", tanya Ciel.
"Ya, aku bisa yakin.",jawab Kanda.
Ya. Memang dari situ asalnya, asal teriakan wanita tadi. Wanita yang sekarang tergeletak di jalan dan di kerubungi orang banyak termasuk polisi. Ciel, Lavi, dan Kanda langsung menerobos kerumunan itu.
"Korban pertama..", bisik Lavi.
"Ya, cari petunjuknya..", Ciel memperhatikan wanita itu. Tapi kalian tau? Sama sekali tak ada darah yang terlihat, aneh..
"Pak polisi, apa penyebab kematian wanita ini?", tanya Ciel.
"Jantungnya hilang, lenyap entah kemana. Padahal tak mungkin mengambil jantung tanpa melubangi bagian dada..", polisi itu menggaruk-garuk kepalanya."Satu-satunya luka adalah garis vertikal yang tergores di pipinya."
Ketiga orang itu langsung saling pandang. Mungkin saja itu adalah petunjuk pertama mereka..
"Apa bapak tau siapa pelakunya?", Lavi menanyakan pertanyaan yang bodoh.
"Pembunuh berantai yang di sebut Jack the Ripper.." , tentu saja dialah pelakunya. Satu-satunya pelaku yang disebutkan Road. Pelaku yang harus mereka kejar. Akhirnya, mereka kembali ke town house Ciel.
"Bagaimana bisa Tyki Mikk mengambil jantung korban tanpa meneteskan darah sedikitpun?", tanya Ciel.
"Tyki Mikk adalah pemilik Noah of Pleasure, kekuatannya adalah dia mampu menyentuh semua barang yang ada di dunia ini, kecuali innocence. Contohnya seperti jantung tadi, dia bisa menembus dada korban dan mengambil jantungnya begitu saja..", jelas Lavi.
"Ok, sekarang jadi masuk akal. Nah.. masalahnya garis vertikal ini..", tanya Ciel lagi. Mereka pun terdiam dalam pikiran masing-masing, Kanda hanya bisa menghela napas panjang di pojok ruangan, Ciel dan Lavi adu pandang untuk beberapa saat.
Akhirnya Miranda lah yang angkat bicara."Setauku, kasus Jack the Ripper adalah pembunuhan berantai kan? Pasti akan ada korban lagi.. Berarti masih ada petunjuk"
"Hng.. ya.. kamu bener.. Kita tinggal tunggu kematian yang selanjutnya dan mendapat petunjuk lagi, ironis sekali..", mendengar kata-kata Lavi, Miranda merasa bersalah dan kelihatan mau menangis."Hy hy.. Miranda.. Kamu gak salah kok. Memang ini faktanya. Kita harus tunggu korban selajutnya.. Eng, ngomong-ngomong, gimana Allen dan Sebastian?"
"Mereka sedang tidur. Luka Allen masih baru tapi tidak terlalu dalam, dia hanya butuh waktu untuk sembuh. Sementara luka Sebastian adalah luka lama tapi terlalu banyak, dia juga butuh waktu. Tadi aku juga mencoba melakukan pertolongan pertama untuk Allen. Jadi kurasa mereka semua akan sembuh."
"Wah? Tumben kamu ngelakuin semuanya dengan benar.. mesti dirayain nih..", goda Lavi.
"Ah.. itu tadi yang mau ku omongin ke Ciel. Maaf yah waktu mau cari perban, aku mecahin beberapa perabotan.. ", Miranda mau nangis lagi. Pantas saja Ciel meresa ada beberapa barang yang hilang. Dua lukisan, tiga patung, dan satu guci. Enam memang bisa di sebut beberapa..
†+++++++†
Korban ke-dua..
"Wanita lagi..Dan pembunuhan yang bersih", kata Kanda.
"Tentu saja, sangat bersih.. Dasar Noah.. Lavi, kamu bisa liat petunjuknya?", kali ini, Ciel, Lavi dan Kanda menemukan korbannya lebih dulu dari pada polisi. Seorang wanita telah terbunuh dengan cara yang sama di sebuah gang kecil. Sekarang Lavi sedang memeriksa mayat tersebut.
"Cepet usagi.. repot kalau mereka melihat kita, bisa-bisa kita di curigai.", kata Kanda.
"Sabar Yuu-chan..", Lavi bisa merasakan aura membunuh setelah menyebut nama depan Kanda."Eng.. hei, coba kalian liad ini.."
Lavi membuka bagian kerah baju dan menemukan petunjuk di atas dada wanita itu."Ini.. angka tujuh?"
Mereka berjalan ke arah town house Ciel sambil berpikir tentang petunjuk yang mereka dapat..
"Garis vertikal dan angka tujuh..", Lavi menyebutkan kembali petunjuk yang mereka dapat."
"Apa hubungannya..?", Ciel berpikir keras.
"Hm.. apa kalian gak berpikir kalau garis vertikal itu maksudnya angka satu?", Kata Kanda tanpa menoleh. Dua orang yang di belakangnya langsung berbinar-binar.
"Yuu-chan!! Kamu pinter!! Tumben nih keren banget!", Lavi memeluk Kanda dari belakang, tanpa memperdulikan sorotan mata membunuh dari Kanda.
"Heh baka usagi! Kalau yang sederhana kaya gini aja aku gak bisa analisis, gimana aku bisa nyelesain misi-misi di Black Order?! Baka..", Kanda dorong Lavi jauh-jauh..
"Angka satu dan tujuh.. apa maksudnya?", Ciel membuat suasana jadi suram lagi. Tak terasa mereka sudah sampai di town house milik Ciel.
"Yah.. kita pikir di dalam saja. Sambil minum hot chocolate mungkin? Abis udaranya dingin banget.", kata Lavi senyum selebar-lebarnya sambil membuka pintu.
"Oi.. Miranda.. kita uda pulang nih..", tak ada jawaban,
"Miranda..?"
"Miranda..?!"
"Miranda !!", masih tak ada jawaban. Mereka semua berlari ke arah kamar dimana Allen dan Sebastian tidur. Disana, Allen terkapar di lantai.
"Allen! Allen sadarlah..!", Lavi mengangkat Allen dan menggoyang-goyangkan tubuhnya.
"Ugh.. Lavi.. Miranda.. dimana Miranda?", Allen menanyakan hal yang akan ditanyakan Lavi.
"Kami juga gak tau! Kami baru datang.. Bagaimana bisa kamu tiduran di lantai?"
"Tadi.. aku mendengar suara Miranda yang berteriak.. Namun karena tubuhku belum cukup kuat, aku pingsan.. maaf.. seharusnya aku.."
"Sudahlah.. tak apa Allen.. Apa Sebastian baik-baik saja?"
"Iya, kurasa karena pengaruh obat dia tetap tertidur.. Lukanya agak parah..", kata Allen. Ciel mendekat ke Sebastian.
"Miranda benar-benar gak ada dimanapun.", Kanda muncul dari balik pintu. Nampaknya dia sudah mengecek ke seluruh rumah."Che.. Dimana dia..?"
Hihihihihi...
Suara ini..
Hihihihihi..
"Malam semua..", ini suara Road!
"Road?! Jangan-jangan.. Kamu yang ambil Miranda?!", teriak Lavi.
"B-i-n-g-o.. memang aku yang ambil.. Oops? Apa aku lupa bilang kita punya batasan waktu?"
"Batasan waktu?"
"Ya.. Aku akan beri kalian waktu untuk menemukan Tyki sampai semua anggota dari kalian habis. Dengan kata lain, jika orang terakhir yang selamat gak bisa nemuin Tyki..", Road berhenti sejenak dan menyeringai lebar-lebar." Bang!~ kalian kalah.."
"Apa?! Brengsek! Kenapa gak bilang dari awal?!", teriak Kanda.
"Hahahaha.. ini permainanku.. apa yang kalian harapkan ha?", Road tertawa keras-keras."Anyway, orang-orang yang hilang akan kusekap di tempat Tyki. Jadi kalau kalian berhasil menemukan Tyki, kalian juga bisa menyelamatkan mereka. Adil kan? Janne..~"
Dengan itu, kesunyian memeluk mereka..
†+++++++†
Korban ke-tiga..
"Oi!! Ada kasus lagi..!", teriak Lavi setelah membuka pintu kamar. Kanda dan Ciel langsung beranjak."Kanda, kamu aja yang menjaga mereka ya? Kamu sendirian pasti cukup kuat. Lagipula, Allen uda lumayan sehat."
"Ya, bawa pulang aja petunjuknya.", kata Kanda.
Malam ini, hanya Ciel dan Lavi yang pergi..
Begitu sampai di TKP, seperti biasa tempat itu di kerumuni oleh polisi dan orang-orang yang menonton.
Tanpa harus bertanya, terlihat jelas petunjuknya di ukir di tangan kanan korban."Itu angka nol.."
Petunjuk sudah di tangan, mereka pulang ke town house Ciel.
"Satu, tujuh, nol? Angka apa itu?", Lavi memutar otaknya.
"Jumlah barang? Jumlah korban? Apa sebenarnya..", Ciel juga ikut bingung. Dia membuka pintu rumah dan masuk ke dalam. Mereka langsung menuju kamar Allen dan Sebastian, yang pasti Kanda juga ada di sana..
Pasti kan..?
Kanda pasti ada disana kan..?
"Tidakkk!!!", teriakan terdengar dari dalam kamar itu sebelum Ciel dan Lavi masuk ke dalamnya. Itu suara Allen! Ciel dan Lavi langsung membanting pintu kamar. Mereka melihat Sebastian mencoba berdiri dari posisi tidurnya dan Allen bersimpuh di lantai kamar.. Disana juga terdapat pecahan gelas..
"Allen.. jangan bilang..", Lavi sedikit merintih.
"Maaf..! Maaf!!", Allen sedikit terisak.
"Allen.. tenang kan dirimu.. katakan apa yang terjadi..", Ciel memegang pundak Allen.
"Tadi Kanda turun ke dapur untuk mengambilkan minum Sebastian. Namun saat kembali ke dalam kamar ini, tiba-tiba.. dia..", Allen tak sanggup meneruskan kalimatnya, dia tertunduk dan mulai terisak lagi. Tak perlu di beritahu mereka sudah tau apa yang terjadi.
Kanda menghilang..
Dia sudah bergabung dengan Miranda di tempat dimana Tyki berada..
†+++++++†
Korban ke-empat..
"Road benar-benar mempermainkan kita", Ciel menghangatkan dirinya perapian.
"Ya.. aku tau.. Kita benar-benar di buru waktu sebelum kita semua habis.. Apa sebaiknya kita berputar ke seluruh London? Sebaiknya kita gak cuma menunggu petunjuk..", kata Lavi. Allen mengangguk disampingnya. Nampaknya Allen sudah benar-benar sembuh.
"Ya, kurasa itu bukan ide yang buruk. Ayo kita pergi sekarang.", Ciel mulai berjalan ke arah pintu rumah.
"Lavi! Apa gak sebaiknya kita gantian? Kamu juga mesti istirahat sambil jagain Sebastian. Nanti kita bisa gantian sama Ciel..", usul Allen. Lavi hanya menurut. Dia kembali duduk dan memejamkan matanya, mendengarkan suara pintu yang di tutup perlahan.
Asap putih keluar dari mulut si pemilik rambut putih. Malam ini London sangat dingin. Namun suasana yang dingin itu belum bisa mengalahkan ekspresi dingin Ciel, dia sedang berpikir keras.
"Sebaiknya kita mulai dari mana Ciel?"
"Jika kamu jadi Tyki, kamu bakal sembunyi dimana?"
"Hng.. kalo diliat dari orangnya, mungkin dia mau sembunyi di tempat yang mahal dan glamor..haha.. atau tempat yang menarik buat dia?", Allen tertawa kecil.
"Definisi menarik buat Noah kaya dia terlalu rumit.. Mungkin-..", tiba-tiba kalimat Ciel terpotong karena dia di tabrak kerumunan orang. Sambil berlarian, mereka menyebut-nyebut soal kasus pembunuhan.
"Ah.. Timing yang bagus.. ", Allen dan Ciel langsung nyengir. Mereka mengikuti kerumunan orang itu.
Dan benar saja, memang terjadi kasus pembunuhan ke-empat oleh Jack the Ripper. Dan petunjuknya?
"Ciel, coba perhatikan pergelangan kakinya.."
"Ah ya.. itu.. angka tiga?"
Mereka kembali ke town house secepatnya untuk mendiskusikan petunjuk ke-empat ini. Namun saat Allen mau membuka pintu rumah, pintu itu terbuka lebih dulu.
"Ah! Kalian!! Syukurlah..", Lavi terlihat terengah-engah di balik pintu. Allen dan Ciel buru-buru masuk rumah.
"Oh gak Lavi.. jangan bilang..", Ciel mengerutkan dahinya.
"Sebastian.. hilang..", seperti yang sudah di duga, namun Lavi menyebutkannya agar semua jelas. Jelas bukan kabar yang menyenangkan..
Khususnya untuk Ciel, ini jelas-jelas membuatnya mendidih. Ciel yang lepas kontrol mendorong Lavi sampai ke tembok."Sial!! Kenapa kamu gak jaga dia baik-baik hah?!"
"Uhuk! Ciel.. maaf..", Lavi tak melawan, dia merasa pantas menerima hal ini.
"Maaf katamu hah?! Tanggung jawabmu adalah menjaganya!! Bagaimana kamu bisa-..", kata-kata Ciel terpotong dengan Allen yang menariknya mundur.
"Allen lepasin!!!"
"Ciel! Sabar! Dengerin aku! Aku yang uda pernah melihat langsung saat mereka menghilang. Waktu mereka hilang, mereka lenyap dalam sekejap di telan cahaya hitam.. Begitu cepat! Bahkan aku gak bisa menyelamatkan Kanda..", kata Allen sambil memejamkan mata, mencoba mengingat kembali ketika Kanda menghilang. Lavi menjatuhkan dirinya ke lantai dan Ciel menghela nafas panjang.
"Lavi maaf..", kata Ciel setengah berbisik.
"Gak Ciel.. ini salahku.. Maaf.."
"Ya sudahlah.. Yang berlalu sudah tidak bisa di ubah.. Sebaiknya kita berpikir tentang lokasi Tyki sebelum kita semua menghilang, mereka semua menaruh harapan pada kita..", kata Allen.
Ciel dan Lavi hanya bisa mengangguk..
†+++++++†
Korban ke-lima..
"Huah.. malam ini dingin banget.. Apalagi ini tengah malam..", Lavi nguap selebar-lebarnya. Allen hanya tertawa kecil melihat tingkah si rambut merah.
"Mau gimana lagi, kita harus ke TKP sekarang.. Kita mesti terima kasih sama orang-orang yang ribut soal pembunuhan di gang tadi, kalo gak kita bisa kehilangan petunjuk", kata Ciel dingin membuat Lavi tambah membeku.
"Iya iya.."
Akhir-akhir ini bulan tidak merasa bosan. Dia senang melihat tiga orang yang berkeliaran itu.. Yang pasti pasti tiga orang itu adalah Ciel, Allen, dan Lavi. Mereka selalu berputar-putar di tengah malam dan mencari kasus pembunuhan dimana-mana. Lucu sekali.. Dua orang itu memang menarik.. Eh, dua orang..?
"Lavi, menurutmu petunjuk selanjutnya apa?", tanya Allen. Namun Lavi tidak menjawab.
"Lavi?", Allen dan Ciel melihat ke belakang.. Si rambut merah.. tak ada..
"Hy?! Lavi kemana?!!", Allen benar-benar panik.
"Gak.. gak tau.. bukannya dia ada di belakang kita tadi?!"
"Oi!! LAVI ..!! jangan bercanda!!", mereka mencari ke seluruh jalan namun tak ada tanda-tanda dari Lavi.
Lavi lenyap..
Lavi sudah hilang..
"Sial !! ", Allen memukul tembok yang paling dekat dengannya.
"Allen! Kita sudah tak ada waktu lagi! Kita harus memecahkan kasus ini! Ayo kita harus segera ke TKP..!", Ciel menarik tangan Allen.
Mereka telah sampai di TKP dan seperti biasa, polisi sudah berada disana.. Jadi, dimana petunjuknnya?
"Allen, kamu bisa liat luka goresan atau apapun yang menjadi petunjuk?"
"Gak.. aneh banget.. tubuh korban yang ini bener-bener mulus..", tak ada petunjuk.. Ini benar-benar pukulan yang mengerikan untuk mereka. Bagaimana bisa?! Tapi Ciel tak menyerah..
"Pak polisi, apa penyebab kematian wanita ini?", tanya Ciel.
"Hah? Seperti biasa. Jantungnya hilang namun sama sekali tak ada darah yang menetes dari korban.. Aneh sekali..Jack the Ripper merepotkan.", mendengar jawaban dari polisi itu, Ciel dan Allen sama-sama sepakat kalau Tyki tetap pelakunya. Tapi kenapa dia tak meninggalkan petunjuk? Apa petunjuknya sudah habis?
"Eng.. Siapa nama wanita ini dan berapa umurnya?"
"Aduh anak kecil.. kamu terlalu banyak tanya.. Umurnya 23 tahun, namanya.. Marianne Blore.."
Dalam sekejap Ciel terpaku di tempat. Keringat dingin mengalir dari dahinya. Lalu tanpa berpikir panjang, dia menarik Allen keluar dari kerumunan.
"Ciel? Kamu kenapa?"
"Allen.. Aku tau dimana Tyki.."
Cliffhanger!!
HUAHAHAHA.. Jadi dimanakah Tyki Mikk sebenarnya?? Apakah mereka bisa menyelamatkan yang lain? Apa yang akan terjadi??
Find out what's next!
