Fight Until The End

Part dua gabung sama parttiga digabung sekaligus, mwekekekek

Part Two ~

"Hei Reveline... apa kamu nggak ngerasa kayak ada yang ngikutin kita? -_-a", gumam Locke, pada malam sebelum kepergian mereka ke Glastheim. Mereka baru saja pulang dari bar, menuju rumah kontarakan mereka, melalui area tenggara Prontera yang sepi.

"Hmm... masak c? Coba sini aku periksa... Ruwach!", seru Reveline. Seketika itu juga muncullah bola bola cahaya yang mengelilingi Locke dan Reveline. Tak terlihat apa apa. Tapi saat Reveline mengehela napas, meremehkan insting Locke yang mungkin salah, Locke melihat sesosok bayangan perlahan muncul tepat di belakang tubuh Reveline.

"Reveline! Di belakangmu!", seru Locke seraya refleks mencabut Zweihandernya dan nyaris mengayunkannya menebas tubuh Reveline menjadi dua kalau tidak terdengar suara denting logam yang beradu dengan pedang dua tangannya.

"Hei hei Locke, jangan kasar kasar gitu... aku kan cuma mau becanda...", ujar sosok itu. Bayangan itu ternyata seorang Assassin Cross berambut merah berantakan, yang mengcounter zweihander Locke dengan kedua bilah assassin daggernya dengan wajah setengah panik. Reveline menoleh, mendapati suara yang sudah sangat familiar di telinganya.

"Aidan?! Kok baru sekarang dateng? Kamu sudah mau telat...", seru Reveline histeris, mengingat sampai sekarang Aidan bellum juga member kabar padanya dan Locke, padahal esok paginya mereka sudah harus berangkat.

"Jangan khawatir... aku ikut kok ", ujar Aidan menenangkan. Ia lalu menyibakkan scarf merah tua yang melilit lehernya dan menunjukkan emblem yang sama dengan milik Locke dan Reveline.

"Loh? Kok bisa? Kapan kamu...", tanya Locke heran.

"Gini loh... sebenernya aku udah pulang kemaren, buat surprise. Waktu aku datengin rumah kontrakan kalian, ternyata kosong. Trus aku tanya sama Reio, anak sebelah, tau kan? Yang udah kayak adiknya Locke itu loh Nah trus dia bilang kalian baru pergi ke Aldebaran, ngumpulin ransum. Trus juga dia bilang, kalo Locke cerita kalian ke kerajaan dan diterima dan langsung dapet misi, meski Locke ngga mau bilang misi apa sama Reio, jadi yah.... gitu deh", jelas Aidan.

"Oh, jadi kamu cerita ke Reio?", lirik Reveline sengit pada Locke.

"Loh, memang kenapa? Kan Ares ngga bilang klo ini misi rahasia, aku juga ngga kasih tau apa misinya sama Reio, lagian, klo aku ngga cerita ke Reio, mungkin kan Aidan nggak bakal bisa ikut kita?", jawab Locke ngeles.

"Soo... jadi? Lalu? And then?", tanya Aidan berikutnya pada Locke dan Reveline.

"Yaaa... besok kita berangkat bertiga...", ujar Reveline, tersenyum pada ketiga sahabatnya. Locke berteriak penuh semangat, mungkin karena pengaruh alkohol yang belum lama hilang rasa dari mulutnya.

Mereka bertiga tidak tahu apa yang menanti mereka, dan apa yang akan mengkhianati mereka.

***

"Nah... jadi kalian akan berangkat ke sana melalui rute yang sudah ada di peta ini. Sebisa mungkin bergeraklah tanpa diketahui orang banyak, dan jangan sampai ada orang lain yang tahu misi kalian ini. Kalian sanggup hanya bertiga saja?", tanya Adrianne.

Di depannya Locke mengangguk senang, tak sabar memulai perjalanannya. Di sebelahnya Reveline sibuk menghitung blue gemstone yang ia bawa dalam sebuah kantung kulit. Di belakang mereka Aidan tertidur di bawah sebuah pohon elm yang rindang, tepat di depan Valkyrie Freya.

Adrianne tersenyum, memandang Aidan yang masih tertidur dengan tatapan lucu.

"Baiklah, ini peta kalian. Sampai di sana baru kalian akan tahu apa yang harus kalian lakukan selanjutnya, jadi... tolong jangan mati, karena misi ini sangat penting. Nah sekarang aku harus kembali bekerja, selamat jalan", lanjut Adrianne, dan detik berikutnya ia sudah berjalan kembali ke arah kantornya yang gelap dan membosankan.

Locke menghela napas, membuka perkamen bergambar peta kasar Rune Midgard itu, dan memeriksa rute mereka. Reveline membangunkan Aidan untuk memulai perjalanan.

"Baiklah, menurut rute kita harus terus ke utara, memasuki kastil utama dan keluar di pegunungan Mjollnir", ujar Locke tegas berikutnya. Aidan menggaruk garuk kepalanya.

"Kau bercanda?! Kenapa kita harus jauh jauh lewat sana? Bukannya Glastheim akan lebih dekat kalau kita lewat jalur selatan Geffen?!", seru Revelinne mendengar rute yang baru saja dijelaskan oleh Locke.

"Meneketehe! Di sini rutenya memang gitu kok!", ujar Locke membela diri, menyerahkan peta itu ke tangan Reveline. Reveline mengamatinya sejenak dan menutup peta itu lalu menyerahkannya kembali ke Locke dengan mimik tak percaya.

"Misi ini benar benar rahasia yah -_-a", gumam Reveline.

"Hei... tak bisakah kita berangkat sekarang?", tanya Aidan cuek dari belakang mereka.

"Ohya baru ingat... sekeluarnya kita dari kastil utama menuju pegunungan Mjollnir, kita dapet fasilitas tambahan loh! ", seru Locke riang.

"Apa itu? -_-a", tanya Reveline ragu.

***

"TOLONGG~~!!!!! TURUNKAN AKU DARI BINATANG BERBULU INI!!!!! GHYAAA~~~!!!!!", seru Reveline dari atas grand peco yang ditungganginya. Tangannya diikat ke kendalinya dan Reveline tak bisa turun sendiri dari punggung grand peco yang lebih tinggi dan besar dari peco biasa.

"Hei... Locke... bisa kau tenangkan dia? Berisik sekali", ujar Aidan yang berkendara paling depan.

"Tenang saja... ini soal gampang", jawab Locke yang berkendara tepat di sebelah Reveline, menjaga agar high priest itu tidak memilih untuk membunuh dirinya sendiri daripada menaiki grand peco itu.

"Kalau begitu tenangkan dia", ujar Aidan lagi, masih cuek.

"Maafkan aku yah Reveline ^^ daripada kamu tereak tereak begini terus ^^", gumam Locke. Lalu ia menghadapkan tubuh Reveline yang masih histeris ke arahnya dan meninju perutnya. Setelah tangannya menangkap Reveline yang sudah terkulai lemas, ia mengembalikan posisi Reveline bersandar pada punggung grand peconya. Ia lalu menarik grand peco Reveline agar maju menjajari posisi Aidan yang paling depan.

Lalu mereka bertiga berkendara dalam kesunyian, menembus hutan pegunungan Mjollnir yang penuh dengan tanaman sihir dan pepohonan lebat. Angin lembut berdesir di telinga mereka seiring kecepatan mengantarkan mereka ke tujuan. Terdengar bunyi liar serangga serangga ganas penghuni gunung Mjollnir di sekitar mereka, tapi mereka bertiga tahu, dengan grand peco yang kualitasnya tak diragukan lagi, mereka telah melampaui kecepatan yang bisa dikejar serangga berkaki banyak yang lamban itu.

Setelah beberapa lama mereka berkendara, dengan Reveline masih tertidur di punggung grand peconya, Aidan menarik kendali grand peconya, menhentikan lajunya.

"Lihat... perjalanan kita sesuai arah... kita sudah sampai di sungai besar... setelah ini kita harus kemana, Locke?", tanya Aidan pada Locke. Sedikit di belakangnya, Locke mengeluarkan peta dari tasnya dan membentangkannya persis di depan hidung.

"Mmm.... kayaknya kita harus menyebrangi sungai, trus ikutin aja sungai ini terussss sampai ke danau besar", jawab Locke, jari jemarinya menelusuri goresan di peta yang sudah ditetapkan sebagai rute mereka.

"Loh? Bukannya danau besar itu Geffen? Katanya misi ini rahasia? Kadang kadang kan utara Geffen ramai juga?", tanya Aidan lagi, berusaha mencerna apa sebetulnya maksud Ares menyuruh mereka melewati rute yang jelas aneh itu. Tapi Locke tersenyum.

"Lalu apa gunanya assassin cross kayak kamu ini? Ayo... kita teruskan perjalanan. Mungkin malam akan menjadi berkat bagi kita...", ujar Locke lagi, lalu menghela grand peconya mendahului Aidan yang masih terdiam bengong di belakangnya.

"Kamu masih punya otak juga ternyata...", gumam Aidan pelan sambil tersenyum tipis.

"Whad did u seii???!!!"

***

"Locke...", panggil Aidan perlahan. Yang dipanggil hanya menjawab dengan deheman lirih.

"Reveline masih pingsan?", tanya Aidan.

"Yup. Aku sengaja memberinya tenaga ekstra tadi. Klo nggak mungkin dia masih heboh sekarang Memang kenapa?", tanya locke balik. Mereka bertiga masih menelusuri sisi utara dari sungai besar, menuju ke danau besar dimana terdapat kota sihir, Geffen di tengahnya. Hutan di sekeliling mereka mengeluarkan suara khas yang membuat hati terasa damai. Tupai tupai, serigala, dan babi hutan berkeliaran bebas di sekitar mereka, begitu juga lebah lebah besar dengan sengat beracun. Tapi mereka tak perduli. Kalau ratu lebah ganas penghuni hutan pegunungan ini alias Mistres keluar, baru mereka akan mengeluarkan senjata.

"Nggak sih. Aku cuma ngerasa ada yang sedikit aneh... dalam misi ini. Apa aku bisa percaya padamu?", ujar Aidan ragu ragu, menatap Locke yang berkendara menjajarinya. Locke tersenyum dengan senyum khasnya yang ceria dan tak dibuat buat itu pada Aidan.

"Yah. Kamu masih, terus bisa percaya padaku. Aku tahu memang sesuatu di masa lalumu membuat kamu sulit untuk percaya pada orang lain. Tapi cobalah untuk percaya, setidaknya padaku, pada Reveline. Bisa kan?", jawab Locke, sebisa mungkin meyakinkan assassin cross minim ekspresi di sampingnya untuk percaya.

Aidan tersenyum, tipis sekali sampai sampai kalau sinar matahari yang kuning cerah tidak menimpa wajahnya saat itu, senyumnya tidak akan terlihat.

"Aku tahu. Akan kucoba. Begini. Pertama tama, Ares menyuruh kita bertiga pergi, hanya bertiga. Kedua, misi ini rahasia. Ketiga, misi ini HANYA pergi ke Glastheim. Keempat, kalau misi rahasia ini memang hanya pergi ke Glastheim, mengapa Ares sampai memberikan emblem ini pada kita?", ujar Aidan menjelaskan keanehannya.

"Lah? Memang emblem apa ini? Perasaan biasa aja... sebuah emblem dengan simbol kerajaan, menandakan kalau kita ini Kingdom Guardian. Reveline juga nggak ngerasa ada yang aneh dengan emblem ini", kata Locke sambil memeriksa emblemnya lagi dengan lebih cermat.

Aidan menggeleng gelengkan kepalanya dan membuat rambut merahnya yang lemas jatuh terjuntai menutupi matanya yang hitam.

"Wajar kalau Reveline tidak tahu. Seumur hidupnya – kecuali saat saat itu – hanya dihabiskan di Prontera atau Aldebaran yang damai. Sangat wajar kalau ia tidak tahu apa arti angka Runic ini kalau ia tidak pernah mengunjungi makam para pejuang Dark War di daerah Umbala yang masih terpencil, atau membaca baca buku kuno yang terlarang tentang asal mula munculnya kekuatan kegelapan pertama di Rune Midgard", terang Aidan. Locke menunjukkan ekspresi kebingungan yang mendalam.

"Apa... maksudmu...?", tanya Locke.

Aidan menunduk, menatap tanah yang berlalu di bawah kaki cepat Grand Peconya.

"Angka Runic yang umum diketahui orang sebagai angka tiga ini memiliki empat makna. Pertama, makna yang umum diketahui orang orang kerajaan, yaitu angka tiga, yang berarti akses level tiga, atau dengan kata lain, akses penuh ke tempat tempat terlarang di seluruh Rune Midgard. Kedua, kalau simbol ini diputar 90o ke kiri, akan didapatkan huruf Rune yang berarti cahaya, menyimbolkan prajurit cahaya yang memang mengemban tugas untuk melenyapkan kegelapan di hati manusia dan alam ini. Ketiga, kalau diputar 180o, maka akan didapakan kata pilihan atau pilih. Dan yang keempat, entah ini suatu keanehan atau hanya kebetulan saja, akan didapatkan huruf kuno, bukan runic, yang berarti gelap. Aku tidak tahu... emblem ini benar benar penuh makna....", jelas Aidan lagi, menatap Locke yang masih sibuk memutar mutar emblemnya begitu Aidan menjelaskan tadi.

"Apa ini berarti...", tanya Locke berikutnya.

"Mungkin kita akan dihadapkan pada sebuah pilihan..."

"Atau jawaban..."

"Jawaban mengapa kita berlima bisa berada di Glastheim setelah Dark War..."

"Dan mengapa kita tidak mati saat itu..."

Part Three ~

Malam menjelang. Langit di kejauhan memendarkan cahaya yang diterimanya dari kehidupan di bawahnya. Puncak Geffen Tower yang meruncing terlihat jelas bahkan dari mata Reveline yang seharusnya minus.

Reveline, Locke, dan Aidan sedang mengamati Geffen dari balik pepohonan paling rimbun yang dapat mereka temukan di area utara Geffen, di atas sebuah bukit. Di area yang datar di antara posisi mereka dan Geffen, banyak orang yang berkemah melewatkan malam indah yang penuh bintang ini ataupun hanya sekedar berjalan jalan. Terlihat juga beberapa pengembara atau pedagang yang keluar dari gerbang utara Geffen, mungkin menuju Aldebaran atau Prontera.

"Heran... sudah lama sekali sejak teknomagi warp portal ditemukan, kenapa orang orang masih suka berjalan kaki? Atau menaiki hewan sebagai tunggangan?", gerutu Reveline mengomentari ramainya malam itu.

"Kenapa? Banyak alasan mengenai itu. Salah satunya adalah orang orang itu tidak mau tubuh mereka menjadi lembek atau keahlian mereka mengendalikan hewan sebagai tunggangan berkurang. Bagaimana?", bisik Locke sambil melirik Reveline sinis. Yang dilirik hanya membuang muka sebal.

"Hei hei... sudah kalian berdua. Ada yang akan melewati kita", bisik Aidan dengan suara paling rendah yang ia bisa. Aidan yang diapit Locke dan Reveline pun buru buru menjejalkan kepala kedua sahabatnya itu ke dalam semak semak yang akan menutupi mereka. Mereka bertiga pun diam, mendengarkan, dan melihat apapun yang bisa mereka lihat.

.................

"Sayang... serem banget sih tempatnya. Kamu yakin disini ada tempat bagus?", tanya seorang mage cewek yang digandeng oleh – mungkin pacarnya – seorang knight. Knight itu mengangguk mantap.

"Yeah... malam ini bakal indah sekali", jawab knight itu dengan nada agak menggoda. Sesekali mata knight itu melirik nakal pada tubuh mage di sampingnya yang memang sebagian besar tidak tertutup. Di sekitar kanan bawah kaki mereka, Locke, Reveline, dan Aidan bersembunyi. Mereka bertiga (mau tidak mau) mendengarkan dengan wajah memerah.

"Oh... terus dimana tempat bagus itu? Perasaanku, disekitar sini hanya ada hutan saja", ujar mage itu sambil menyibak nyibakkan semak persis di atas kepala Locke.

"Kamu mau tahu?", tanya knight itu. Si mage mengangguk mengiyakan. Perlahan si knight mendekati mage itu dan serta merta memeluk tubuhnya. Kedua orang itu jadi sangat mepet dengan persembunyian Locke dkk.

"Yuk... kita lakukan sesuatu yang indah disini. Tidak ada orang kan disini?", gumam knight itu bernapsu. Ia lalu memojokkan tubuh mage itu ke pohon terdekat dan mulai menggerayangi tubuhnya. Si mage tak berdaya menghadapi knight yang lebih kuat darinya dan mulutnya dibekap pula.

"Hmmphhhhh....mmhhhhhh", mage itu mencoba berteriak, tapi ia tak bisa. Bekapan di mulut dan tubuhnya terlalu kuat, sementara knight itu mulai melepaskan mufflernya dan menciumi lehernya.

"ini udah kebangetan...", bisik Locke sesaat sebelum ia berdiri tiba tiba dan keluar dari tempat persembunyiannya dan menghardik keras keras knight mesum itu.

"Aduhh... Locke...", gumam Reveline putus asa.

"HUOI!!! KALAO MAU PERKOSA CEWEK JANGAN DISINI DUONK! BIKIN KACO RENCANA AJA!!!", teriaknya keras keras pada knight itu yang kaget dan langsung melepaskan pelukannya pada mage di depannya. Tapi detik berikutnya knight itu menghunuskan pedangnya dan menantang Locke.

"Kamu! Dasar orang kurang ajar! Kalu mau giliran bilang aja! Maju kalo berani!", seru knight itu. Mage di sebelahnya jatuh terduduk dan langsung membetulkan pakaiannya.

"Ini tipe knight yang paling aku benci sok kuat tapi ngga punya otak ngga liat bajuku apa", gerutu Locke penuh kemarahan.

Knight itu maju, mengayunkan pedangnya tepat ke kepala Locke. Namun Locke, yang jelas jauh lebih berpengalaman dari knight itu, segera menghindar ke samping dan dengan gerakan yang sanat cepat untuk ukuran Lord Knight, Locke sudah berpindah tempat ke balakang knight itu dan memukul tengkuknya. Knight itu langsung terjatuh pingsan di depan kaki Locke.

"Hmph... bahkan aku nggak perlu ngeluari sepersemilyar kekuatanku -_-a", gumam Locke, memandang sinis pada knight yang tepar itu.

"Lockeeeeeeeee............", ujar sebuah suara tiba tiba. Locke menoleh ke kanannya dan melihat Reveline menatap marah ke arah dirinya.

"Eeh... iya sorry... saya refleks melihat ini.... /sry "

...........

"Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang?", tanya Aidan, melihat knight yang tepar di tanah dan mage cewek yang masih sesenggukan bersandar di sebatang pohon.

"Aku dismember aja deh -_-a gitu aja kok repot. Iya kan Locke?", tanya Reveline pada Locke. Locke hanya bisa mengangguk, tak bisa berkata apa apa karena Reveline men silencenya.

Reveline pun berjongkok tepat di depan kepala knight itu, bibirnya komat kamit merapalkan sesuatu, dan saat sepercik sinar kuning pucat muncul di telapak tangan kanannya ia mengarahkannya ke kepala knight itu. Saat knight itu sudah selesai dibereskan ia pun berdiri dan menghampiri mage itu. Tapi saat ia mendekati mae itu dan menemukan mage itu masih menangis sesenggukan Reveline pun jatuh kasihan. Kemudian diusapnya ke kepala mage itu lembut.

"Sudah sudah... nggak usah nangis lagi. Kamu masih shock yah?", tanya Reveline perlahan. Mage itu menyeka air matanya dan mengangguk.

"Memang banyak orang mesum kayak gitu di dunia. Jadi kalau besok besok kamu diajak ke tempat sepi berduaan kayak tadi lagi jangan mau yah?", ujar Reveline lagi. Mage itu mengangguk dan menengadahkan kepalanya, menatap Reveline.

"M..makasih...", ucapnya terbata bata. Reveline tersenyum.

"Errhhh.... aku mau men dismember kamu yah? Biar kamu nggak inget kejadian tadi lagi...", ujar Reveline seraya mulai mengucapkan spell untuk mendismember seseorang. Mage itu hanya menatapnya bingung.

"Reveline! Tunggu! Lihat itu!", seru Aidan tiba tiba. Reveline yang sudah siap mengarahkan tangannya ke dahi mage itu pun berhenti.

"Ada apa?", tanya Reveline. Spontan Aidan pun menunjuk kerah muffler mage itu yang agak tersembunyi. Reveline pun memeriksa bagian itu setelah sebelumnya meminta izin pada mage itu. Dan ternyata di sana tersemat sebuah emblem. Emblem khas yang sangat amat familier bagi mereka bertiga.

"Verenity? Verenity Guild?", gumam Locke perlahan, seolah bertanya pada dirinya sendiri. Mage itu mengernyitkan matanya, namun kemudian menjawab.

"Bukan Verenity. Tidak ada guild dengan nama itu. Ini adalah lambang guildku, Ralve United. Itu adalah guild yang paling besar di Geffen dan menguasai kelima kastil Britoniah sekaligus. Kalian pernah dengar?", ujar mage itu.

"Siapa... siapa ketua guildmu?", tanya Reveline dengan raut wajah agak serius.

"Aku tidak tahu nama lengkapnya, ia juga jarang muncul dan hanya beberapa di antara kami yang pernah bertemu langsung dengannya. Tapi yang kutahu nama belakangnya adalah Blackburn...", jawab mage itu.

Serempak Locke, Reveline, dan Aidan berpandang pandangan.

"Baiklah, aku tidak akan mendismemberku, tapi kau harus mengantarkanku ke tempat dimana ketua guildmu itu bisa ditemui", ujar Reveline kemudian.

Mage itu mengangguk.

***

"Sudah sampai... disinilah tempat dimana biasanya para petinggi dari guild kami berkumpul", ujar mage itu. Di depannya berdiri sebuah bangunan megah yang berasitektur khas Britoniah, kastil sihir yang mengutamakan kebesaran Odin sebagai pelindungnya.

"Hmm... ternyata itu memang bukan lambang Verenity, Reveline. Lihat, huruf Rune nya tidak bertuliskan Forever Eternity. Tapi karena garis di sebelah lingkaran itu tidak tegak, memang bisa dibaca Ralve", ujar Aidan tiba tiba sambil menunjuk ke panji panji guild yang tergantung di tiang kayu persis di depan gerbang kastil. Reveline hanya diam saja mengamati.

"Lalu, dimana tuan Blackburn itu bisa ditemui?", tanya Locke pada mage yang memimpin jalan mereka. Jauh di belakang mereka kota Geffen mulai meredup, malam larut telah turun.

"Aku tidak tahu pasti. Tapi wakil ketua Eunisse Hilliard selalu tinggal di bangunan ini. Mungkin kalian ingin bicara dengannya?", tanya mage itu lagi.

"Antarkan kami padanya", ujar Reveline.

Mereka lalu masuk ke teras bangunan itu dan memasuki lorong panjang di sayap utara gedung yang gelap meski megah itu. Lorong panjang dan lembap itu terasa begitu tak nyaman pada malam hari yang seharusnya terasa sejuk ini. Lorong itu berujung di sebuah pintu besar yang terbuat dari batu. Di depan pintu inilah mereka berempat berhenti.

"Tunggu sebentar", ujar mage itu. Ia melepaskan emblem dari mufflernya, dan menggunakannya sebagai kunci untuk membuka pintu itu. Lalu mereka bertiga masuk disambut kegelapan yang seakan tak berujung. Mage itu mengcast fireball dan Reveline mengcast Ruwach. Cahaya tipis namun menghangatkan menerangi bagian dalam gedung itu. Sebuah aula besar dan dingin menaungi kepala mereka. Tidak semegah aula utama Valkyrie, meski aula ini lebih besar. Aula ini terkesan sangat dingin dan kejam. Aroma amis darah meski tak begitu kentara masih terasa mengambang di udara. Mengingat begitu banyaknya perang yang telah terjadi hanya untuk memperebutkan kastil ini, hal itu terasa masuk akal.

"Pintar sekali... dengan sistem kunci seperti ini, maka hanya anggota guild yang bisa masuk, atau setidaknya membawa orang masuk", komentar Reveline yang ditujukan pada mage itu yang membuka hampir semua pintu dengan emblem key itu. Mage itu tersenyum.

"Tidak juga. Emblem ini hanya emblem bagi member biasa. Tidak punya akses ke semua ruangan di kastil ini maupun di kastil Britoniah lain. Emblemku ini hanya bisa dipakai untuk membuka pintu ruang ruang utama dan umum di kastil Britoniah pusat", terang mage itu lagi.

"Oh... lalu di mana ruangan wakil ketua guildmu itu?", tanya Locke.

"Tepat di sebelah ruangan ketua guild. Kalian juga lihat kan? Ruangan yang ventilasinya memancarkan cahaya lilin itu? Sebentar lagi kita sampai", ujar mage itu. Tapi belum sempat mereka berempat berjalan lagi, sebuah suara mengagetkan mereka.

"Tak perlu jauh jauh, aku sudah ada disini. Ngomong ngomong, siapa mereka ini?", ujar suara itu mendadak. Mereka menoleh ke arah sumber suara. Seorang high wizard wanita, dengan mini glasses bertengger di hidungnya. Fireball fireball kecil terlihat mengelilingi tubuhnya sehingga membuat ruangan lebih terang. Rambut high wizard itu hitam berantakan, matanya sayu, tangan kirinya menggenggam mug berisi entah minuman apa.

"Eh... tuan tuan ini datang dari Valkyrie. Mereka memaksa saya untuk membawa mereka ke ketua guild, tapi karena saya tidak tahu dimana ketua berada, saya membawa mereka kesini", terang mage itu agak gugup. High wizard itu mengangguk angguk khidmat lalu menyeruput sedikit dari mug yang digenggamnya.

"Ya ya aku tahu. Kamu boleh pergi", jawab high wizard itu. Lalu mereka pun menunggu sampai sosok mage itu menghilang dalam kegelapan.

"Well... apakah sekarang aku bisa tahu siapa kalian ini sebenarnya?", tanya high wizard itu, masih belum bergerak dari tempatnya berdiri semula.

"Apa kau benar Eunisse Hilliard?", tanya Reveline. High wizard bernama Eunisse itu mengangguk.

"Yap. Aku wakil ketua guild ini. Eltrand sedang tidak ada di tempat kalau kalian mencarinya. Tapi kalian belum menjawab pertanyaanku, siapa kalian?", tanya Eunisse lagi.

"Aku Reveline Sherridan", jawab Reveline singkat.

"Aidan Fairburn", ujar assassin cross itu lebih singkat.

"Ehh.. aku Locke Rosenheim. Lord Knight paling tampan yang pernah ada", jawab Locke jauh lebih panjang dari teman temannya.

"Baiklah tuan high priest, assassin cross, dan lord knight yang narsis. Kita bicara di ruang kerjaku, tidak enak berdiri lama lama di ruangan lembap dan apak begini", ajak Eunisse. Reveline, Aidan, dan Locke pun mengikuti langkah pelan pelan Eunisse yang berjalan santai sambil menyeruput minumannya. Tak berani mendahului saking lemotnya Eunisse berjalan, bukan apa apa, hanya takut dikira tidak sopan.

Mereka bertiga pun masuk ke ruang kerja Eunisse. Ruang kerja itu suasananya jauh dari kastil bagian luar. Ruangan itu hangat dan nyaman, lengkap dengan perapian yang suhunya bisa diatur panas dinginnya, sofa biru muda yang empuk dan lembut, vas bunga berisi bunga lily merah yang nyaman dilihat, dan sederetan barang lainnya yang membuat ruang ini terasa lebih pantas disebut ruang santai daripada ruang kerja. Namun mereka bertiga sama sekali tak menyesal berkunjung ke sana.

"Mau kopi? Atau teh?", tawar Eunisse setelah mereka bertiga melesakkan diri tenggelam dalam sofa yang memang sangat nyaman itu.

"Eh, aku kopi dengan banyak creamer. Kalau Aidan kopi pahit kan?", seru Locke bersemangat sambil melirik ke arah Aidan. Aidan hanya mengangguk saja, mungkin karena setuju mungkin karena ngantuk.

"Aku segelas teh saja. Kopi tidak baik untuk kesehatan", ujar Reveline.

Eunisse tersenyum tipis, mengambil sebuah teko dari keramik dari meja di sudut ruangan. Lalu ia menggenggam teko itu dan beberapa detik kemudian dari mulut teko itu mengepullah asap tipis. Air panas sudah siap. Locke tertawa pelan melihat hal itu.

"Praktis yah jadi wizard?", komentarnya lucu. Eunisse tersenyum lagi, disiapkannya tiga mug dan mengisinya sesuai dengan minuman permintaan dari masing masing orang. Setelah jadi ia pun memberikannya kepada ketiga orang yang kelihatannya terbuai di dalam sofa empuk itu.

"Jadi... mengapa kalian ingin sekali bertemu Eltrand? Toh, dia hanya ketua guild biasa yang selalu sibuk setiap saat", ujar Eunisse.

"Tidak, bukan itu. Emblem guild ini... sepertinya kami bertiga pernah melihatnya, dan kami kenal orang bermarga Blackburn itu, maksudku, sedikit sekali orang dengan nama marga itu di Rune Midgard", terang Reveline.

"Lalu? Dimana kalian pernah melihat emblem guild Ralve ini? Ini juga hanya lambang biasa, konvensional. Seekor kuda hitam yang terbang dengan sayap dilatar belakangi bintang segi lima dengan angka angka runic di tiap sudutnya. Angka yang berada di sudut atas bintang ini juga hanya menunjukkan level akses key yan dimiliki emblem tersebut. Angka angka tersebut memang aneh. Kode aksesnya adalah angka 1, 3, 6, 7, dan 9 sebagai kode akses tertinggi. Apa ada yang aneh?", tanya Eunisse sambil menggambarkan emblem guild mereka dengan kata kata.

Tiba tiba Aidan, yang dari tadi hanya bersandar sambil merem melek menyeruput kopi pahitnya angkat bicara.

"Itu bukan kuda biasa. Kuda itu berkaki enam kalau mau kau cermati. Sangat aneh kalau kau tidak mengenali kuda siapa yang berkaki enam. Juga angka angka itu. Kalau angka iitu tidak berada di sudut paling atas angka itu tidak dicetak tegak kan? Aku bisa membayangkannya, beberapa angka itu, kalau diputar balik dan digabungkan menurut aturan tertentu akan membentuk sebuah kata, setidaknya huruf dalam bahasa kuno. Emblem kalian benar benar memiliki banyak arti, meski aku yakin, masih banyak sesuatu yang tersembunyi dalam penampakan konvensional emblem ini", jelas Aidan panjang lebar. Setelah itu Aidan menyeruput kopi pahitya lagi, dan kembali menyandarkan diri ke sofa dengan mata setengah tertutup.

Raut wajah Eunisse berubah seakan tak percaya.

"Dan satu lagi. Kami pernah melihat emblem yang sama seperti itu, di dada pasukan khusus yang dikirim untuk menumpas musuh di Dark War tiga tahun lalu. Jujur saja, kami ada di sana waktu itu, dan kami kenal pemimpin pasukan itu, yang mati saat berusaha keluar dari sana bersama kami. Dan saat itu, mereka yang mengusung panji panji yang bergambar sama dengan emblem ini mengaku berasal dari sebuah guild besar bernama Verenity", kata Reveline dengan singkat, langsung, dan cepat. Eunisse tampak bingung.

"Apa? Apa itu Glast Heim? Dark War? Aku tidak tahu apa yang kalian bicarakan!", seru Eunisse kebingungan.

"Wajar saja. Setelah seal terakhir dilepaskan, semua orang yang berada di luar Glast Heim tidak akan pernah mengingat ingat kota itu lagi. Sebuah akhir yang sangat tragis untuk kota sebesar itu", lanjut Reveline lagi.

"Sebuah kota? Lalu kenapa kalian masih bisa mengingat kota itu kalau kota itu memang ada?", tanya Eunisse, masih bingung.

"Itu karena kami masih berada di dalam kota itu setelah penyegelan terakhir oleh high priest kerajaan. Aku tahu kau bingung, makanya, antarkan kami pada Eltrand, dan mungkin kau akan tahu semuanya tentang hal yang baru mengusik benakmu malam ini. Aku tahu rasa penasaran tak akan mudah diusir dari otak high wizard sepertimu. Makanya kami butuh kau untuk mengungkap semua yang terjadi malam itu. Kemanakah Eltrand pergi sekarang ini?", tanya Reveline langsung, menuju pokok pembicaraan.

Locke menggenggam mugnya erat erat, seakan takut mug itu akan terlepas dari tangannya. Aidan terlihat terkantuk kantuk di tempatnya duduk, namun matanya menatap tajam ke depan memperhatikan apa yang terjadi di sekelilingnya.

"Well yeah, jujur saja aku sangat tertarik dengan semua ini. Aku yakin banyak sekali hal hal yang rakyat Midgard tidak tahu namun kalian mengetahuinya. Dari cerita kalian... aku bisa menyimpulkan bahwa kalian mengenal Eltrand saat itu, dan kalian melihat Eltrand sudah mati pada akhir perang itu. Apakah aku benar?", tanya Eunisse balik. Aidan mengangguk perlahan. Locke terlihat lebih gugup.

"Lebih tepatnya kami tidak melihat ia mati...", sahut Locke perlahan.

"Namun kami yang membunuhnya...", sambung Aidan, berbisik dengan sangat pelan.