~Saia update, andapun REVIEW~

Nya~ akhirnya stelah perjuangan yang begitu panjang dan saia males nyeritain kronologis perjuangannya, chap kedua yang juga merupakan chap terakhir ini berhasil diapdet kawan-kawan! Jadi silahkan anda sekalian duduk manis dan menyiapkan sekotak tisu plus kresek hitam yang saia rekomendasikan di chap sebelomnya. Buat apaan sih?! Buat apa lagi kalau bukan buat muntah darah?

-

-

Disclaimer---

Akatsuki no Pindaho Rumaho © Avykuro Sabaku

Naruto © Bang Kishimoto

-

-

-

Akatsuki no Pindaho Rumaho

Masih di goa batu, kediaman Akatsuki

Deidara dan Sasori. Dua partner yang sekarang lagi pisah ranjang. Eh, maksudnya lagi berantem. Semua berawal dari perdebatan mereka saat rapat komersial tadi. Deidara berniat berganti partner dan akhirnya memilih untuk berkolaborasi dengan Konan. Sedangkan Sasori? Dia dengan acuhnya membuat orderan wayang yang dititipkan oleh seorang dalang, tidak peduli ada Deidara di sisinya atau tidak. Mereka sudah tidak saling peduli lagi.

"Aku tidak butuh dirimu, Saso. Aku bekerja denganmu saja, ya, Konan?" cerocos Deidara sambil rangkul-rangkul si Konan, kayaknya sih sedang pasang aksi manas-manasi Sasori.

"Huh! Pergi saja dengan si Konan, aku tak peduli." Ucap Sasori ketus. Ia segera berlalu dan mengunci diri di dalam kamarnya yang penuh dengan boneka, meninggalkan yang lainnya di ruang tamu.

"Lo kerjasama sama gue yah." Bujuk Deidara pada Konan yang masih sok jual mahal.

"Emang lo bisa apa?" Konan memandang sinis Deidara.

"Gue bisa bikin peledak..." Jawab Deidara tak terima diremehkan.

"Okeh. Gimana kalo kita bikin bom kertas aja? Gue bikin kertasnya, elu bikin bomnya." perintah Konan dengan nada sengak.

"Ide bagus atuh! Sekalian kita bikin petasan, ya. Nanti kita jual di SDN 01 Konoha." Deidara langsung sumringah mendengar usul si Konan. Jangan ditiru sodara-sodara, bermain petasan maupun membuatnya adalah hal yang sangat berbahaya!

Jadilah kedua partner sementara itu merakit petasan untuk bahan berdagang. Setelah selesai merakit petasan-petasan yang dihargai mulai gopekan sampai gocengan, Konan dan Deidara langsung cabut ke SDN 1 Konoha menaiki sebuah sepeda ontel karatan nan butut yang diparkir di mulut goa.

"Cabut Dei!" teriak Konan setelah memastikan dudukannya telah pas. Deidara langsung menarik persneleng (?) sepedanya penuh semangat dan meluncurkannya ke jalan raya.

-

-

"Aduh Dei, pelan-pelan!" protes Konan ketika Deidara semakin mengkebut sepeda ontelnya. "Tau gini mah gue naek bajaj Bajuri aja." Desahnya keki.

Gerbang SDN 01 sudah didepan mata. Terlihat kerumunan para anak SD yang sedang membeli jajan di luar gerbang. Konan dan Deidara datang tepat sewaktu anak-anak kecil itu sudah pada bubar sekolah.

"Rem Deeeiii...!!!" pekik Konan ketika menyadari sepeda yang mereka tumpangi malah menukik ke parit di sebelah sekolah.

"Aduuuh, kagak bisa Nan!" sahut Deidara was-was mengetahui sepeda butut tuanya itu tidak bisa di rem. Sepertinya bukan body sepeda itu saja yang sudah karatan, remnya pun karatan pula. Kedua orang itu hanya bisa pasrah pada nasib ketika sepeda ontel itu melesat dan makin mendekati mulut parit.

"AMPUUUNN...!!!!" pekik kedua penumpang sepeda itu bersamaan ketika tubuh mereka terlempar dan nyebur ke parit. Untung saja parit itu dangkal, jika tidak.... pikirlah sendiri akibatnya.

"Bweeeh! UHUK... UHUKK!" Konan terbatuk-batuk dan segera mengeluarkan dirinya dari parit, meninggalkan Deidara yang masih renang-renang gaje. Apa kagak malu tuh orang dijadiin tontonan para anak esde?

"Glupp... tidaaak... aku tenggelam..." Ronta Deidara seraya menggait-gait tepian parit. Konan sweatdrop ditempat melihat partner bodohnya itu kini memasang gaya surfing di atas air yang hanya sebatas lututnya.

"BERHENTI BERMAIN DAN PUNGUTILAH PETASAN YANG JATUH!!!" perintah Konan persis di telinga Deidara. Saking terkejutnya, cowok pirang itu kontan langsung memunguti petasan yang tersebar di dalam parit, lalu menaruhnya di keranjang yang dipegang Konan.

-

-

"Hiks, Dei. Petasannya rusak semua..." Konan tersedu-sedu di pelukan Deidara yang kini juga bermuka mewek namun gengsi untuk menangis. Masak ada cowok nangis di muka umum?!

"Cup... cup... Konan, ini sudah takdir kita." Kata Deidara lembut menenangkan Konan. Bweeks! Seluruh murid SD yang ada di situ berasa nonton sebuah operah sabun dan langsung muntah ditempat. Gila yah, ini orang dagang petasan aja lebay banget?

"Hiks... hiks..."

Kedua partner itu masih terisak di tempat. Saling berpelukan dan berbagi kesedihan. Apes sekali nasib mereka berdua, yah. Tapi anggap saja ini karma. karma karena kedua partner itu punya niatan laknat untuk menjerumuskan dan meracuni para anak SD yang masih pada polos itu, dengan permainan berbahaya macam petasan.

"Aduh, apaan nih gatel-gatel..." rintih Deidara disela-sela kesedihannya. Ia langsung berdiri dari jongkoknya dan meraba-raba dadanya yang mendadak berasa gatal.

"Kenapa Dei?" tanya Konan penasaran pada partnernya. Dilihatnya Deidara mengeluarkan sesuatu di balik kaosnya yang membuatnya gatal-gatal barusan.

"EUREKA..!" teriak Deidara Histeris laiknya menjiwai seorang Archimedes yang nemu sebuah teori.

"Kenapa Dei?" Konan mengulangi pertanyaannya. Namun untuk sejenak mulutnya menganga ketika menatap sebuah barang nista yang dipegang dan diagung-agungkan oleh Deidara.

"KONAN, PETASANNYA MASIH SISA SATUUU...!!!" Deidara memekik kegirangan sambil loncatan gaje plus goyang dombret. Partnernya, si Konan, ikut-ikutan njoget juga plus bergoyang ngebor.

"Bang, bang, boleh kubeli petasan itu?" seorang anak kecil berambut pirang jabrik dan berkumis kucing menarik ujung baju Deidara. Deidara langsung menghentikan ritual jogetnya dan menoleh, lalu menatap anak kecil itu dengan tatapan bersinar-sinar.

"Boleh dek. Harganya gocengan yah." Ucap Deidara lembut seraya memamerkan seringai ala salesman-nya.

"Beeh, masa petasan kagak mutu begituan mahal amat, bang?!" protes anak kecil itu sambil manyun. Deidara langsung memutar otaknya untuk mendapatkan ide.

"Eeehh,, jangan salah dek. Petasan ini yang ngerakit Nurdin M Top loh, dijamin mantep!" goda Deidara pada anak kecil kumisan itu. Dasar tidak berperasaan, beraninya ngibul sama anak kecil.

"Beneran bang? Ya udah ini duitnya! Yaaay!" anak kecil itu langsung main samber petasan yang disodorkan dan lari bersama teman-temannya setelah memberi selembar gocengan pada Deidara.

"Lumayan daripada gak dapet." Deidara tersenyum puas. "Cabut nyok Nan." Ajaknya pada sang partner.

"Yo."

Dan mereka berdua pun meninggalkan SDN 1 Konoha dengan keadaan yang sangat tragis serta basah kuyup, sembari menuntun sepeda ontel tua yang makin karatan.

Ironis memang, berjualan petasan sekeranjang namun hanya mendapatkan selembar uang gocengan sebagai hasilnya.

Hidup memang kejam. *sigh*

-

-

Oke dah. Setelah cerita dengan Konan dan Deidara selesai, mari kita mengintip saudara Sasori di dalam kamarnya. Sepertinya si cowok rambut merah ini sedang gundah gulana karena pekerjaannya diganggu oleh seseorang bertopeng lolipop yang nangkring disebelahnya. Siapa lagi si cowok lolipop itu kalau bukan Tobi?

"Aduh, kenapa boneka ini jelek sekali, Sasori-sama?!" protes Tobi sambil menjungkir-balikkan mahakarya Sasori, sebuah boneka wayang yang dipesan oleh seorang dalang.

"AAARGH!" pekik Sasori frustasi, "Bisa gak sih lo kagak nggangguin gue?!"

-

-

"Yah, cuman segini dapetnya kak?!" tanya Tobi pada Sasori dengan tampang innocent. Dipandangnya selembar lima ribuan yang tergeletak begitu saja di telapak tangan Sasori.

"Udah lo diem aja!" bentak Sasori kasar pada cowok lolipop itu. Hatinya dongkol dan seolah merutuki ketololan si Tobi yang tidak ada habis-habisnya. Terang saja, yang membuat wayang buatan Sasori dihargai gocengan oleh pemesannya itu adalah ulah Tobi sendiri. Dengan seenak hati Tobi menumpahkan cat warna pelangi ke atas wayang buah karya maestro Sasori, sehingga harganya merosot drastis dari lima puluh ribuan menjadi selembar lima ribuan.

"Tobi salah apa kak?!" tanya si Tobi cengok dengan muka memelas, sedangkan Sasori hanya bisa mengelus dadanya. 'sabar Saso, ente lagi puasa.' Batinnya dalam hati.

-

-

goa batu, kediaman Akatsuki

Untuk kesekian kalinya, Akatsuki menggelar rapat komersial lagi. Kali ini bukan naik banding anggota yang merasa teraniaya, namun sebuah acara kumpul-kumpul dan hitung duit hasil kerjaan sambilan yang masih diketuai oleh Konan.

"Che, bentar lagi kita bisa pindah rumah euy." kata si cowok imut Sasori semangat. Kedelapan anggota Akatsuki langsung membentuk sebuah lingkaran persis sekumpulan orang yang sedang bermain togel. Tapi si Pein dan Zetsu sama sekali tidak terlihat, ke manakah kedua doi berada?!

"Pein ama Zetsu masuk angin dan barusan tadi gue kerokin punggungnya." Ucap Dukun Kakuzu menjawab pertanyaan sang author.

"Gimana? Kita mulai saja hitung uangnya!" perintah Konan seraya mengeluarkan uang hasil kerjanya dengan Deidara tadi.

"Gocengan." Itachi melemparkan selembar lima ribuan lecek ke tengah-tengah lingkaran. Konan hanya menghela nafas dalam.

"Lima ribu." Sekarang giliran Kakuzu yang melemparkan hasil keringatnya. Yah, kini dua lembar lima ribuan tergeletak tak berdaya di tengah-tengah lingkaran. Konan menelan ludah.

"Er, lima ribu juga?" kata Sasori dengan ragu sambil melemparkan selembar lima ribuannya ke atas kembaran uangnya yang lain. Konan mulai sesak nafas.

"Lima ribu, gak kurang gak lebih." Deidara melemparkan uang hasilnya berjualan ketengah lingkaran menyusul lemparan Sasori. Terkumpul 4 lembar lima ribuan, yang berarti jumlah totalnya dua puluh ribu. Kali ini Konan serasa ingin jantungan ditempat.

"Sepertinya uang ini cukup kita belikan opor ayam untuk lebaran." Usul Hidan percaya diri, disusul suara gaduh Konan yang mendadak pingsan dengan pose memegang dadanya.

"Apa gue salah ngomong?" tanya Hidan dengan tampak idiot.

-

-

_______

OWARI

______

-

Busset... fic apaan ini?! *muntah darah* makin gaje aja jadinya. Lol *nglempar naskah fic keluar jendela*

Gimana? Udah ngerti kan gunanya sekotak tissu ama kresek? *noel-noel readers*

Peduli amat *sok cool* yang penting tanggunganku kelarr~~

Byebye FFN~ gue mudik dulu yah... *packing ransel*

MINAL AIDZIN WAL FAIDZIN!!! Untuk kesekian kalinya hamba mohon maaf atas segala kesalahan yang pernah diperbuat, sudah termasuk BASHING char dan membuat para char itu sendiri ber-OOC-ria. Hamba khilaf, bro. Tapi bukan berarti saya berhenti untuk melakukan hal-hal laknat seperti diatas *ditusuk golok*

Dan kalau ada seseorang baik readers maupun author yang sangat membenci saya, silakan kirim sebuah PM ke akun saya. Contoh:

'Vy, elo abal banget. Gue benci ama lo.'

Atau jika ada seseorang yang membenci fic saya, silahkan PM seperti ini:

'Vy, fic punya elo gak beda abalnya sama lo sendiri. Gue benci ama fic lo.'

Dan sebagainya. Tidak usah sungkan-sungkan memprotes asal kalimatnya masih di batas kewajaran.

-

Oke. Review dan duit lebaran (?) akan sangat diharapkan.

-

-

Wanna review? *puppy eyes*

-

-