Di atas Langit

By Sapphire Akaba

Eyeshield 21 Riichiro Inagaki and Yusuke Murata

Summary :

Percakapan Koutarou-Akaba di atas langit

.

.

.

"Hooahm, siapa sih pagi-pagi begini? Lho ngapain kau ada disini?"

"Kuberi waktu 10 menit, cepat siapkan dirimu."

"Oi Baka, keluar kau dari rumahku!!"

"Jangan banyak bicara Koutarou, waktu kita tidak banyak. Segera mandi dan berpakaian lah."

"Kenapa juga aku harus menuruti omonganmu?"

"15 menit. Cepat."

"Hei—"

"Cepat!!!"

"Okay, okay. Tak perlu memasang wajah menyeramkan begitu kan."

.

.

.

Pemuda yang sedang menyisir itu, Sasaki Koutarou, memandang jengah Pria di sebelahnya yang sekarang sedang sibuk dengan soulmate sehidup semati-nya itu (baca: gitar), siapa lagi kalau bukan Akaba Hayato. Tadi pagi, Akaba tanpa banyak bicara menyeretnya begitu saja dari rumah dan membawanya ke Airport. Beberapa menit kemudian mereka langsung take off. Dan disinilah akhirnya Koutarou sekarang, di dalam pesawat dan duduk bersebelahan dengan pria paling gak smart yang pernah dikenalnya.

"Hei baka, kita ini mau kemana sebenarnya?" Tanya Koutarou kesal. Bagaimana tidak kesal? Koutarou baru bangun tidur, Akaba sudah nyelonong masuk rumahnya dan memerintahnya supaya cepat mandi. Untung aku masih sempat membawa sisir. Koutarou bersyukur dalam hati, dan tentu saja sambil menyisir.

Akaba tidak menyahut, dan sibuk mengutak-atik gitarnya.

"Oi, jawab dong!!" Geram Koutarou sebal. Oh Tuhan, kau sedang membenciku atau apa? Kenapa Kau membuatku harus duduk disebelah guitar freak ini dalam pesawat. Keluh Koutarou.

Akaba melepas kacamata-nya dan menghela nafas. "Fuuh---Seingatku, namaku adalah Akaba Hayato. Bukan baka. Aku tidak mengerti mengapa harus menjawab pertanyaan yang bahkan tidak diajukan untukku." Jawabnya logis.

Koutarou memandang tak percaya pemuda tampan disebelahnya. "Mulai lagi deh, omongan gak smart mu itu. Baik, jadi sebenarnya kita ini mau kemana, Tuan Akaba Hayato?" Koutarou mengulangi pertanyaannya dengan nada sok manis sambil menekankan pada 3 kata terakhirnya.

"Ke Bali." Akaba menjawab sambil mulai memetik gitarnya. Beberapa pramugari dari tadi sudah takut-takut ingin menegur 'The red-eyed ace' itu supaya menyimpan gitarnya dan tidak membuat keributan. Tapi tak ada satupun yang berani. Pikiran mereka semua :

Pemuda itu sangat tampan, sangat menggairahkan, sangat Hot. Tapi auranya luar biasa mengerikan. Lebih baik jangan dekat-dekat dengannya.

Koutarou mengangkat alisnya. "He? Bali itu dimana?"

Akaba mengambil sebuah buku kecil di sampiran bangku pesawat, lalu menyerahkannya ke Koutarou. "Nih atlas, cari sendiri Bali itu ada dimana."

"Dasar gak smart, apa susahnya sih langsung ngasih tau? Bikin orang repot saja." Gerutu Koutarou sambil menyisir rambutnya. Dengan ogah-ogahan dia membaca atlas itu juga akhirnya.

Setelah beberapa menit, Koutarou tetap tidak menemukan tempat yang bernama Bali itu. "Bali yang mana sih? Kasih clue dong."

Akaba memutar matanya. "Pulau yang bentuknya mirip ayam."

Koutarou kembali mencari di atlas. Tidak sulit baginya menemukan 'Pulau yang bentuknya mirip ayam' itu. "Hoo yang ini. Hm, di Indonesia. Ooh, yang pernah ada bom itu ya. Jadi Bali yang itu toh." Koutarou bergumam sendiri.

"Norak." Gumam Akaba pelan.

Koutarou menjadi panas mendengarnya. "APA? Norak katamu?? Heh, baka, aku ini smart, SMART!!! Kau yang norak." Teriaknya kencang, hingga menarik perhatian seluruh penumpang.

Akaba masih tenang dengan permainan gitarnya. "Aku Akaba, bukan 'baka' ataupun 'norak'."

"Tch." Geramnya sebal sambil menyisir. "Bisa langsung beri tahu aku apa tujuan kita ke apalah-itu-namanya." Terlihat jelas ingatan lemahnya Koutarou.

"Kita ke Bali." Koreksi Akaba. "Aku menang undian yang berhadiah ke Bali untuk 2 orang, maka aku mengajakmu."

Koutarou mengerutkan kening. "Lalu kenapa kau mengajakku?" Tanyanya penuh curiga. Kemungkinan seorang Akaba untuk mengajak Koutarou pergi berdua sama dengan kemungkinan Hiruma Youichi tobat dan tidak mem blackmail orang lagi. (A/N: Kapan itu terjadi?? Kapan?????)

"Panjang ceritanya, aku meragukan kepekaan musikmu bisa mencerna tiap alunan kata-kataku." Akaba kembali berbicara dengan bahasa musik memusingkannya.

"Aku tak peduli dengan kepekaan musik-apapun-itu, yang penting beri tahu alasan kau menculikku pagi-pagi dari rumah dan sekarang malah hendak membawaku ke tempat apalah-itu-namanya!" Koutarou bereteriak sekarang. Omongannya bahkan nyaris menyaingi omongan gak jelasnya Akaba.

Akaba menghela nafas. "Fuuh, baik akan kukatakan." Ujar Akaba sambil berhenti memainkan gitarnya. "Jadi, aku—ukh bukan, Ayahku, dia membeli lotre dan memenangkan tiket ke Bali untuk 2 orang. Ayahku lalu memberikan 2 tiket itu padaku sebagai—ukh, sebut saja hadiah. Yeah, aku lalu menerimanya. Dan kuputuskan untuk mengajakmu juga."

"Kau masih belum menjawab, kenapa kau mengajakku? Heh, kau sendiri kan yang bilang kita ini tidak cocok." Koutarou menggerutu sambil menyisir.

Akaba mengangguk. "Memang benar, kepekaan musik kita tidak cocok. Tapi kau lah orang yang kubutuhkan untuk memenuhi hasrat musikku—oke, kau pasti tak mengerti maksudnya— keinginanku untuk pergi ke Bali gratisan."

Koutarou mengerutkan kening. "Dibutuhkan untuk apa?"

Akaba menghela nafas. "Fuu, hadiah itu sangat menarik—aku belum pernah ke Bali sebelumnya—tapi memiliki kecacatan. Itu hanya tiket untuk pergi, tidak ada untuk pulang. Dan yeah, aku tidak membawa uang sama sekali sekarang."

"HAH? MAKSUDMU KITA PERGI KE BALI TANPA MEMPUNYAI TIKET PULANG KE JEPANG???" Teriak Koutarou yang langsung membangunkan penumpang yang sedang tidur. "KEMBALIKAN AKU!! AKU MAU PULANG KE JEPANG!!! Akaba, aku tahu kita saling membenci. Tapi tega sekali kau melakukan ini padaku. TEGA SEKALI KAU!!! Ini hal yang sangat gak smart!!"

"Ssst, tenangkan dirimu Koutarou. Kau tau sendiri kan suara tenormu itu mengerikannya seperti apa." Akaba menyumpal mulut Koutarou dengan benda apapun yang ada di dekatnya (baca: dengan sangat terpaksa, ponselnya).

Koutarou mengeluarkan ponsel Akaba dari mulutnya. "Dasar baka, sinting, idiot. Kau memang manusia paling tidak smart yang pernah kutemui di muka bumi ini!! Akaba, nilai pelajaranmu memang jauh di atasku, IQ mu puluhan di atasku, jumlah fan girl mu ribuan di atasku. Tapi aku tak menyangka kau bisa melakukan tindakan egois seperti ini. Dan yang lebih gak smart lagi, kau melibatkanku juga!!" Sembur Koutarou. "Jika kau ingin ke Bali, kenapa pakai mengajakku segala!! Aku kan tidak ingin ke Bali, aku ingin pulang ke Jepang."

Akaba mengacuhkan kata-kata Koutarou dan memandang jijik ponselnya yang sekarang berlumuran liur Koutarou. ("Hei, jangan salahkan aku. Kau yang menyumpalnya ke mulutku kan."). Tatapan Akaba shock, kemudian setelah menghela nafas panjang dia mengelap ponselnya dengan baju Koutarou. ("Oi baka, mau apa kau?"). Setelah dirasanya cukup bersih, ponselnya dia simpan di tas. Habis ini akan kujual ponselku dan beli yang baru. Batin Akaba. Semoga Taki mau membelinya.

Akaba kembali mengotaki-atik gitarnya. "Kau harusnya tahu, aku bukanlah tipe orang yang tidak berpikir panjang seperti itu. Aku ingin ke Bali, tapi juga ingin bisa kembali ke Jepang. Dan semua itu harus tanpa keluar uang—jangan tanya kenapa alasannya. Setelah mendapat tiket itu, aku mencari di google tentang Bali, dan aku menemukan iklan bagus yang sangat pantas untukmu."

"Apa?" Tanya Koutarou masih kalut. Iklan untuk menjual diri? Iklan untuk menjadi pelayan di night club? Iklan untuk bekerja di panti pijat plus? Dan berbagai pekerjaan nista lainnya muncul di kepala Koutarou.

"Turnamen takraw api (1)." Jawab Akaba.

Koutarou memandangnya bingung. "He, apa itu?"

"Semacam permainan sepakbola, hanya saja memakai bola api." Jelasnya.

"Bola api? Kau gila ya? Kau mau kakiku yang sangat berharga ini terbakar, hah?" Semprot Koutarou sambil menunjuk kedua kakinya yang panjang.

"Tidak akan terbakar, aku jamin itu." Akaba berkata dengan nada yakin. "And you know what, hadiahnya jika menang adalah tiket pesawat ke Jepang."

"Serius?"

Akaba mengangguk. "Jika kau menang, kita bisa pulang ke Jepang."

Koutarou diam sesaat sambil menyisir. "Tapi apa tidak berbahaya? Maksudku, haloo itu bola api kan? Pasti bakal ada kemungkinan kakiku kena apinya."

"Tidak ada tuh, tenang sajalah." Jawab Akaba santai. ("Tentu saja kau bisa tenang, yang akan main bola api itu kan aku!!"). "Lagipula ini adalah latihan kick yang paling bagus untukmu, seorang Gen Takekura pun tidak akan memikirkan untuk berlatih kick dengan bola api."

Begitu mendengar nama Musashi dan Kick, Koutarou bagai kerasukan. "Oh, benar juga. SMART. Aku akan mendahului Musashi dalam masalah kick. Akaba, untuk saat ini kurasa kita cocok."

Akaba tersenyum puas. Bingo, gampang sekali menjebaknya. Gumam mantan MVP Tokyo ini dalam hati. Tinggal singgung sedikit tentang kick atau Gen Takekura, dia akan langsung berekasi.

"Tunggu sebentar." Koutarou seakan baru sadar. "Koreksi aku jika salah. Kau sudah merencanakan ini semua dari awal ya. Sejak dapat tiket untuk 2 orang tanpa dapat tiket pulang, kau memikirkan bagaimana bisa tetap ke Bali tapi bisa pulang ke Jepang tanpa mengeluarkan uang. Lalu agar bisa pulang, kau mengajakku untuk mengikuti turnamen apalah-itu-namanya yang berhadiah tiket pergi ke Jepang. Sejak awal kau sudah memikirkannya sejauh itu???" (2)

Akaba mengenakan kacamatanya. "Yeah begitulah."

Koutarou memandang bingung teammate nya itu. "Aku bingung harus mengomentari apa. Kau ini jenius sekaligus tolol ya."

Akaba mengangkat sedikit garis bibirnya. "Kuanggap itu pujian." Ujarnya datar. "Dan ngomong-ngomong, semuanya bergantung pada kakimu sekarang. Kau harus menang jika ingin pulang, okay."

Koutarou menyisir sambil bergumam sinis. "I know I hate you, Mr. Unsmart."

"Yeah, I hate you too Mr. Oh-so-smart."

FIN

(1) : Tau kan yang mana? Takraw tapi bolanya ada api. Aku lupa apa namanya, namanya emang kayak gitu kan? Kasih tau kalau salah ^^

(2) : bacanya bagian ini pelan-pelan aja, resapi maknanya. Emang membingungkan sih kata2 nya, aku aja yang nulis bingung (?)

A/N: Makin ga jelas aja ya *pundung di pojokan* aku kok suka bgt sih bikin fic yg ribet gini :(