Hampa
© Saya
Eyeshield 21 © Riichiro Inagaki and Yusuke Murata
Genre: FRIENDSHIP!!! –tereak pake TOA-
Warning!!! Lebay;Gaje;Chap yang amat sangat membosankan;Kotaro's POV;Sedikit mengarah ke Shonen ai =.=' tapii itu murni FRIENDSHIP!!
Timeline: Pas Akaba pindah ke Teikoku
Hampa.
Itulah yang kurasakan saat ini. Pernahkah kau mencoba bernafas di tempat hampa udara? Aku pernah, saat ini sedang kulakukan. Aku sedang bernafas tanpa udara sekarang. Tidak ada udara lagi di sekitarku. Karena dia telah pergi.
Dia sudah pergi. Meninggalkanku, meninggalkan Bando.
Aku tidak mengerti kenapa bisa merasa sesakit ini hanya karena kepergiannya. Seorang Sasaki Kotaro bermuram durja hanya karena ditinggal Akaba Hayato? Aku berani bertaruh seluruh Jepang bisa mentertawakanku jika itu terjadi. Singkatnya, itu hal yang sangat mustahil.
Seharusnya mustahil.
Tapi toh aku tetap merana juga sampai sekarang. Menyedihkan.
Selama ini kami selalu bertengkar, tidak pernah akur, selalu saling cela di setiap kesempatan. Aku tidak mengakuinya sebagai temanku, aku juga tidak menganggapnya sebagai musuhku, apalagi pasangan yaoi ku!! NEVER!!!
Abu-abu. Itulah selama ini penggambaranku tentang hubungan kami. Bukan putih, bukan hitam. Hanya abu-abu.
Membingungkan memang. Tapi satu hal yang aku tahu, sekuat apapun aku menghindar, dia sudah menjadi orang yang terpenting di hidupku. Hey, setelah Julie, tentu saja!
Yang ingin kulakukan saat ini hanyalah berteriak. Mengatakan; KAU TOLOL, AKABA!!!
Bando—yeah, dan aku juga—hancur tanpamu. Tidakkah kau lihat hasil dari kepergianmu ini? Sedangkal itukah kau anggap persahabatan kita? Apa kau pernah sekali saja berpikir tentang Bando sebelum memutuskan untuk pergi? HAH, tidak kurasa. Kau tidak pernah benar-benar menggunakan otakmu. Dasar idiot, sinting, gila! Aku benci padamu!
Aku benci padamu?
Apakah memang benar begitu? Apakah aku benar-benar membencinya? Membenci Akaba Hayato?
Yeah, mungkin. Tapi biar aku membencinya tiada tara sekalipun dia tetaplah salah satu yang terpenting di hidupku. Hubungan yang membingungkan, eh?
Pernahkah kau bernafas tanpa udara, Akaba? Bagiku kau itu seperti udara. Tidak terlihat, selama ini selalu di dekatku, namun tak pernah kupedulikan. Tapi ketika udara itu hilang—ketika kau pergi. Sakit bukan main yang kurasakan.
Dan pertanyaannya adalah: Bisakah aku hidup tanpa udara? Bisakah aku...hidup tanpamu?
"Kotaro?"
Suara Julie menyadarkan lamunanku, aku mendongak. Gadis berambut biru muda itu sudah berdiri di hadapanku. "Julie."
"Yang lain sudah berkumpul di lapangan, kenapa kau masih disini?" tanyanya sambil duduk di sebelahku.
"Sedang malas." Gumamku asal.
Julie menghela nafas, "Kau jadi selalu malas akhir-akhir ini, dan bahkan jadi hobi melamun. Kau yakin kau baik-baik saja?"
Aku diam sesaat mendengar pertanyaan Julie, apakah aku masih bisa baik-baik saja setelah sahabatku pergi meninggalkanku? Lalu sambil tersenyum lemah aku akhirnya menjawab. "Aku baik-baik saja."
Walau itu bohong.
Julie menyentuh bahuku, "Kotaro, aku sudah mengenalmu sejak kecil, dan aku sangat tau kau saat ini tidaklah baik-baik saja."
Wajahku memanas, "Aku—"
"Ini karena Akaba kan?" tebaknya tepat sasaran.
Aku hanya diam, tidak berusaha mengelak ataupun mengiyakan. "Aku benci dia." Desisku.
"Kau selalu mengatakan itu, mengatakan kau membencinya," gumam Julie, "tapi sekarang terbukti kan, biar kau membencinya sekalipun Akaba adalah orang yang penting di hidupmu."
Lagi-lagi tepat sasaran, aku angkat topi untuk Julie yang ternyata begitu mengenalku. Aku lalu membuka mulutku, "Dia—sebenci apapun aku padanya, tapi apabila aku sedang bersamanya, aku—kadang aku merasa seperti menemukan saudara laki-laki yang tak pernah kumiliki."
Julie tersenyum, "Akaba pun begitu, dia juga pernah mengatakan padaku kalau kadang dia sering merasa kau sudah seperti adiknya sendiri. Dia kan anak tunggal, hanya tinggal berdua dengan ayahnya, dan selalu kesepian. Lalu dia bertemu denganmu, kau merubah total hidupnya. Sejak pertama bertemu kalian seakan sudah ditakdirkan untuk saling benci. Tapi saat sedang bersamamu jugalah dia menemukan figur seorang teman, rival, rekan setim, dan bahkan adik laki-laki yang tak pernah dia miliki."
"Ohya?" tanyaku kaget, "Akaba curhat itu semua padamu? Kok dia gak pernah bilang apa-apa padaku, kupikir dia membenciku."
"Kau juga tidak pernah bilang apa-apa padanya, dia pikir kau membencinya." Balas Julie.
"Aku memang membencinya kok." Tegasku.
"Ya, kau benci padanya. Tapi kau juga sayang padanya."
Aku hanya memasang tampang cemberut, sekali lagi tepat sasaran. "Julie, jangan bilang siapa-siapa ya."
"Apa?"
"Aku—aku sebenarnya merindukannya." Ujarku malu.
Julie memandangku lekat-lekat, lalu tersenyum. "Yeah, aku juga." Gumamnya, lalu dia mendesah. "Kotaro, jujur saja, kadang aku merasa cemburu jika melihatmu dengan Akaba."
Aku melongo, "Hah? Cemburu? Gak salah tuh, memangnya kau pikir kami apaan?" seruku sebal, aku kan tidak pernah berniat menjadikan Akaba pasanganku.
"Bukan begitu maksudku. Aku hanya merasa iri saja melihat kedekatanmu dengannya, dan—aku merasa Akaba sudah merebutmu dariku."
Aku memandangnya heran sekarang,"Julie, kau lagi ngaco ya?"
"Aku serius, kau yang merupakan temanku sejak kecil, yang paling dekat denganku, yang selama ini selalu bergantung padaku. Tapi sejak bertemu Akaba, kau jadi seperti menjauh. Konyol memang, tapi aku merasa kau lebih menyukai Akaba daripada aku."
Seandainya di mulutku ada makanan, aku pasti sudah tersedak mendengar ucapan Julie tadi. "Jangan ngawur, aku tetap menyukaimu kok." Ujarku mantap. "Akaba memang penting, tapi bagiku kau jauh lebih penting dibandingkan dia."
Untuk pertama kalinya aku melihat Julie memerah setelah mendengar pernyataan cintaku.
FIN
Author: *nyanyi gaje*
Entah dimana, dirimu berada.
Hampa terasa hidupku tanpa dirimu.
Apakah disana, kau rindukan aku?
Seperti diriku yang selalu merindukanmu, selalu merindukanmu... *ditimpuk Ari Lasso* XDD
Huwaa~pasrah saya sama chap ini T_T maaf yg ngeripyu belum bisa saya bales (_ _)
Review?
