Hmm, inilah chapter duanya.

Maaf kalo udah ada yang nunggu-nunggu ~ke-PD-an banget~

Hehehehheeehehehee. ..

Sampai sekarang yang review chapter 1 cuman 2 orang. Yang ngasih tanggapan juga cuman beberapa. Meski udah Kentona publish di facebook, yang mau bener-bener baca cuman beberapa aja. Hmmmpfff. ..

Entahlah, mungkin karena salah Kentona juga, habis anonymousnya disabled, jadi yang review sedikit banget. 2 saudara-saudara!!!

Walau begitu, Kentona sangat berterima kasih pada orang-orang yang masih menganggap cerita Kentona. Special thanks to Hellen, Aless serta Abel yang ternyata menghargai pemikiran Kentona. Thank you to my cousin yang udah menguliahi gratis saya. Terima kasih pula pada teman-teman sekelas Kentona yang mau ngebaca walau nggak ngasih komen. Thank you, thank you!!

Dan, meski dengan 2 review itu, Kentona akan tetap semangat membuat fic! Heaaaaaa!!!


Hellowind

Disclaimer

Naruto ~ Masashi Kishimoto

Hellowind ~ Masa sih Kishimoto? ~ Kentona Seizaburo

Warning : OOC, too many chara may make you stress.

~o0o~

Apa yang akan dilakukan Konoha Gakuen saat Halloween? Akankah terjadi pertumpahan darah atau malah pertumpahan daki?

CHAPTER TWO

Battle!!

"Mari teman-teman, kita berganti kostum!" ajak Kiba serak-serak parau.

"Wuih, Kiba! Suaramu udah mirip kakek-kakek tuh. Penuaan dini ya?" ejek Kimimaro.

"Heh, tulang! Kumakan kau!"

Akhirnya, Kiba jadi werewolf, Ino jadi sadako, Naruto jadi bangkai musang, Shino jadi Boboho, dan Kidomaru jadi spiderman. Yang lain lebih memilih menyamar menjadi guru-guru mereka yang seram seperti Kurenai si mantan atlet lempar bandul timbangan, Orochimaru pedofil rambut smoothing, dan Hibiki yang mukanya coreng moreng codet nggak karuan gitu. Ada yang pilih kostum Jack'o-lover, malaikat pencabut uban, dan bahkan ada yang nekad jadi tante Lucy (Lucifer maksudnya). Bener-bener mirip tante-tante yang habis gagal rebonding dari salon.

Malam pun tiba.

"AUUUUUUUUUU. .. UOHOK, UOHOKK!!" tak kapok-kapok Kiba melolong seperti serigala lagi-lagi dengan toa curiannya, tapi gagal.

"Acara Halloween, mulai!"

Aba-aba dari Tsunade memulai pesta menuju kematian itu. tiap ninja dipaksa berpencar dalam hutan dan saling bertarung. Tak sungkan dan tak ragu mereka segera mempersiapkan senjata mereka masing-masing demi mendapatkan hadiah yang telah ditunjukkan dengan jelas : sebuah pedang. Bukan pedang biasa, pedang legendaris. Pedang pusaka Konoha Gakuen, Shikifujin. Pedang yang diwariskan oleh almarhum kepala sekolah ke tiga yang dipakai sebagai lambang keberanian dan kebenaran. Pedang Penjara Dewa Kematian. Selangkah menuju kematian pun sudah terbentang jelas di depan mata.

Psssst. .. sebenarnya pedang itu gak bakal bener-bener dikasih, kok. Cuman buat penglaris aja, biar semua pada semangat bunuh-bunuhan. Palingan nanti kalo udah menang cuman dikasih vocer gratis 1 porsi dango dan semangkuk ramen. GUBRAAAAK!! Gak sebanding banget sama pengorbanan nyawanya.

Namun toh mereka nggak tahu.

~o0o~

SREK!!

"Ugh. .."

Kimimaro terengah. Kostum drakulanya kini basah oleh keringat. Setelah berhasil melewati monster ulat bulu landak yang nyaris membuat duri landak sungguhan nyangkut di tenggorokannya, kini ia harus menghadapi sesuatu yang baru. Gawatnya, ia tidak tahu apa itu. Guru yang menyamar menjadi hantu, atau malah hantu yang menyamar menjadi guru?

SREK!!

Dengan cekatan ia menggunakan kemampuan khususnya, melempar salah satu tulang jarinya kearah semak.

ZLEB!!

Nguuuuung. ..

Muncul 3, 4, 6, 13, 47, 98, 137!! Aaaargh! Banyaaaaaak!!!

"GYAAAAAAAAAAAAA!!!!!!" Kimimaro lari terborot-borot dikejar kawanan tawon.

"INI JAUH LEBIH PARAH DARIPADA DIKEJAR FANS-FANSKUUUUUUUUU!!"

Cih, udah terdesak, masih sempat-sempatnya dia ke-PD-an begitu.

~o0o~

Sementara itu, yang dihadapi Ten Ten, Haku, dan Ayame -yang sebelumnya bertemu di dalam hutan, yang arena takut akhirnya memutuskan untuk melewati rintangan bersama saja- adalah dua Barbie dengan wajah hancur. Salah satunya seperti Barbie yang telah dikubur selama 1 abad dalam gumpalan pupuk kandang, dan yang lain lebih parah, seperti Barbie palsu yang rambutnya sudah teruwel-uwel karena disisir pake mixer. Entah bagaimana kedua hantu ini bisa disebut Barbie. Pencipta Barbie bisa depresi melihat produknya ditiru dengan nista.

"Girl's battle, rupanya. Khukhukhu. .." ujar Barbie yang jari tengahnya diperban.

"Seru juga."

"Woi, sadar, dong. Kalo udah nenek-nenek diterima aja, nggak usah pake nyebut-nyebut 'girl's battle segala'!" sanggah Barbie satunya pedas.

Mak JLEBB!!

"Aduh, neeng~ Muke lo ancur banget seh?!! Nenek gue yang udah kempot aja masih lebih cantik! Mau gue maskerin gag ney? Gratis!" rayu Ten Ten. Gak sadar apa kalo dia itu mencetuskan Barbie VS triocewecewecewe. Apa? Trio WC-WC-WC??

Hinata sudah gemetar hebat di tempat, sedangkan Ayame masih belum paham apa sebenarnya yang mereka hadapi, apa yang barusan dikatakan Ten Ten ,dimana, dan siapa dia.

"Grrrrr. .." geraman seram sudah terdengar mengancam nyawa mereka.

"GRRRRRRRR!!!"

Nafas mereka bertiga minus Ayame sudah memburu sekarang.

"GRRRRRRRRRRATIIIIIIISS????!!!"

Kedua gadis dan satu pemuda cantik itu sweatdrop semuanya.

"Kyaaaaaaaaaa!!! Woooooy!! Wooooooooy!! Gratis nih? Beneran? Gue paling demen nih yang gratis-gratis. Gyaaaaaahahahahahaaa!!!" Tsunade menjerit-jerit histeris dan sukses membuat warga-warga penghuni hutan alias para kera, monyet, lutung, babon, aye-aye, -PLETAAAAKK!! Apa, sih bedanya?! Toh semuanya keluarga primata!- melempari mereka dengan batu, bata, kerikil, dan kerakal.

Ten Ten, Hinata, dan Haku pun menjalani pekerjaan mereka yang baru. Ten Ten dan Hinata jadi kapster salon, sedangkan Haku jadi banci salon.

~o0o~

"Woi, Sakon! Jalannya cepet dikit napa?!!" keluh Ukon.

"Berisik lu! Lu tau gak, badan lu tu berat!" balas Sakon tanpa mempercepat langkahnya.

Yah, dari lahir memang takdir Sakon untuk menggendong Ukon kemana-mana.

"Uhuk uhuk! Uhuk uhuk uhukk!!"

"U-Ukon. .."

". .."

"Uhuk, uhuk uhuk, uohoook!!"

"Sa. .."

"UOHO UOHOKK!! HOEEEEEKZZ!!! HUACHIIII!! UOHOK UOHOOOOKKK!!!"

"Buset buu!! Kencengnya gak tanggung!! Muke gue sampe belepotan virus!!" terjang Sakon di tengah-tengah tak mengenakkannya suara yang merusak telinga itu.

"Tadaaaaaaa~"

"Ha-Hayate si penyakitaaaan!!!" pekik kedua kembar siam itu refleks ketika melihat penampakan itu.

"Uhuk uhuk uhuukk!!" serang Hayate maksa.

"Gyaaaa!! Nih, nih, nih!!" Sakon menggunakan tubuh Ukon sebagai tameng terhadap virus-virus Hayate yang mematekkan.

Tiba-tiba muncul seorang pahlawan. Ia berkostum Tarzan. Tarzan itu meneriaki kuping Hayate. Tumbanglah monster penyakitan itu.

"Kamu tak apa, Sakon?" tanya Si Tarzan Alis Tebal sok khawatir.

"Gakpapa tuh," balas Sakon tak tahu balas budi.

Ukon tidak terima. Dia yang harus termuncrati oleh virus-virus Hayate, tapi kenapa si genjimayu itu malah memperhatikan Sakon, si penggendong malas yang tak becus itu?

Akhirnya Ukon minta digendong Temari yang kebetulan sedang numpang lewat daerah situ.

~o0o~

KRESEK!!

". .."

Kini giliran Karin, Ino, dan Sakura. Mereka bertiga tadi mengikuti insting membunuh masing-masing. Dan kini? Mereka bertemu dan rewel sendiri masalah siapa yang paling pantas mendapatkan Sasuke.

"Ya gue lah! Secara, tubuh gue tu paling sempurna gitu lho! Liat nih, perut gue flat. Gak kaya perut lu tuh, *nunjuk Karin* buncit, sampe yang biasa lu liatin cuman pusernya doang. Dan wajah gue tu proporsional gitu lho, gak kaya lu, *nunjuk Sakura* muke kok isinya jidat doang," aku Ino sombong.

"Heh, mak lampir! Ngaca dong! Rambut lo tu udah bisa buat ngepel lantai saking panjang en gombalnya. Secara, kulit gue tuh paling mulus gitu lho! Gak kaya kulit lo, bulukan!" balas Sakura tak mau kalah sambil menunjuk Ino dan Karin secara bergantian.

"Heh! Udah jelas, ya! Sasuke itu pasti milih gue! Liat, nih! Muka artis gini! Muka eksotis!" Pembelaan diri Karin pun muncul.

"Iya, eksotis, EKStra Ordinary auTIS! Udah nggak ada bedanya tuh muke sama tampang orang blo'on!!"

JEDUAK!!

Terdengar suara seperti benturan. Salah satu ranting pohon di dekat mereka bertiga ternyata patah dengan bayangan sesosok makhluk di belakangnya.

"U-UGYAAAAAAAAAAAAAA!!!" Ketiga gadis ini pun langsung berpelukan layaknya teletubies.

"Sakiiiiiit. .. Ini memalukan," kata makhluk itu datar.

"Guy! Turunkan aku!"

"???"

"Diam, Kakashi! Ini misi! Kita harus melaksanakannya dengan semangat masa muda!"

". .."

Tiba-tiba muncul tiga makhluk aneh: gerombolan pengamen jalanan. Ada perempuan berambut pink pembawa suling, laki-laki berkulit pucat yang menggunakan sebuah gentong sebagai kendang, dan sebuah benda mirip bangkai musang menyanyi dan menari bagai kera rabies.

"Gaara! Do = C minor 7 + 3 =13!!" perintah si bangkai musang.

"Gelap! Gak keliatan!" jawab laki-laki yang ternyata Gaara itu.

"Itu karena lu merem, o`on! Buka mata lu!" perintah bangkai musang itu lagi.

"Elo yang o`on, Nar! Gaara kan maen kendang! Mana ada tangga nadanya?!!" tau-tau gadis tak penting itu ikut-ikutan nimbrung.

"Nar? Emangnya nama gue Narto?"

"Bukannya nama lo mirip-mirip sama itu?"

"Eh, bener juga lu, Tayuya. Aaah!! Kita langsung aja serang tuh makhluk!" ujar bangkai musang yang ternyata Naruto setelah berbasa-basi yang jelas-jelas basi, jadi kita sebut saja berbasi-basi.

"Gaara!! Kakinya!! Kakinyaaa!!!" perintah Naruto.

SETT!!

"Wooooooyy!! Itu tangannya!! Bego amat sih luuu!!"

"Habis gelap, sih!" protes Gaara.

"Udah dibilangin, buka mata lu juga!!" bentak Naruto kesal.

BRUUUGH!!
Sedetik kemudian monster fusi dua sensei gaje itu tumbang.

"Guuuuuuuuuuyy!!!! Ini semua salahmuuuuu!!!!!!" teriak Kakashi histeris karena dirinya tertindih tubuh Guy dan Chouji yang tiba-tiba jatuh dari pohon. Lalu Jiroubo entah dari pohon yang mana juga ikut-ikutan jatuh dengan PW-nya, menimpa ketiga jasad itu tanpa rasa bersalah.

~o0o~

"Wwuaaaaaaaaa!! Pergi dari kutu-kutu gueeee!! Lu sennin katak mesuuuuum!!" jerit Shino yang biasanya cool dan sekarang tau-tau jadi autis sambil melempar gadget-gadgetnya yang mahal kearah Jiraiya. Biarlah benda-benda fana itu ia buang untuk menyelamatkan kutu-kutunya. Tak rela ia bila harus mengorbankan serangga-serangga tercintanya, Minah, Tukiyem, Inamin, Sumiyem, yang sedari ia kecil telah hidup bersamanya.

"Aku cuman mau makan yang betina aja kok!"

"Cuman?! Palalopeang!! Yang gue bawa ini semuanya betinaaaa!!!" jerit Shino tambah autis.

"Makan nih, nih, niiiihh!!!"

Fut, fuut, JLEB! Memang si sennin katak berhasil menghindari notebook dan i-Phone miliknya, namun seuntai kabel berhasil masuk ke lubang hidung Jiraiya dengan tepat. Tapi, apalah arti seuntai kabel itu? Jiraiya sudah pernah hampir mati karena tendangan Tsunade. Kabel itu sih, bisa dimakannya dalam satu suapan!

Tiba-tiba Shino muncul dan melewati gerombolan Sakura-Ino-Karin-Naruto-Gaara-Tayuya-Guy-Kakashi-Chouji-Jiroubo.

WUUUUUUSSSZZH!!

Tapi sayang, tak ada yang memperhatikannya.

Pada saat yang sama, Sai sedang berjuang dari kejaran Nenek Chiyo.

Flashback. ..

"Uhm, anak muda, lukis kakak, doong," goda seseorang bersuara seksi.

Begitu menoleh, Sai langsung tersentak. Seorang nenek-nenek berkostum Cinderella.

Meski begitu, tetap nampak seperti buyut lampir.

"Ugh. ..baiklah," ujar Sai memasang senyum palsunya, meski hatinya sudah nyaris mencolot dan keluar dari tubuhnya.

"Lho, mas? Kok jadi mirip ani-ani gini? Saya kan masih muda belia, seksi, en mulus!"

Ingin rasanya Sai melepar sebuah cermin pada nenek, eh, buyut ini. Namun, apa daya? Nenek itu sudah keburu mengejar Sai, mungkin niatnya mau menyobek-nyobek gambar itu lalu menyuruhnya menggambar ulang dirinya. Tapi Sai yang merasa terdesak memutuskan untuk lari terborot-borot.

Fin.

Sai berlari dan terus berlari, hingga dia menabrak seseorang yang mirip dirinya. Sasuke.

BRUUUUGGH!!

"Ugh!" keduanya merintih bersamaan.

"Eh?!" keduanya kaget bersamaan.

"Ngapain lu disini?" tanya mereka bersamaan.

"Diem lu!" perintah mereka bersamaan.

Lalu ke-identik-an keduanya berhenti sejenak saat Sasuke melihat buyut lampir berlari ke arah mereka, dan Sai mencari-cari jalan untuk kabur.

"OMG!!!!" Sasuke kaget bukan main. Nenek-nenek itu kini mengacungkan sebuah boneka dan bersiap melemparnya.

"Nanaaaa!!! Serang merekaaaa!!" Nenek itu berkata lantang pada bonekanya itu. Mungkin nenek itu kurang bahagia saat masih kecil.

~o0o~

Entah bagaimana, akhirnya Sasuke dan Sai berhasil lolos dari nenek itu.

Pssssst. .. sebenarnya Kentona cuman males aja buat adegan Sasuke dan Sai menjebak Nenek Chiyo sampe nyangkut di pohon.

Keesokan harinya, semua murid Konoha Gakuen yang berhasil selamat kembali aula sekolah dengan hati was-was. Jangan-jangan di sekolah mereka sudah dinanti oleh band kakak Sasuke, Akatsuki, yang isinya setan-setan semua. Ada Pain si ketua band yang mukanya kebanyakan ditindik sampe nggak keliatan bentuk aslinya, Hidan si zombie yang nggak bisa mati, Sasori si Chucky; boneka pembunuh, dan Itachi sendiri yang amit-amit, udah brother complex, keliatan udah muncul tanda-tanda penuaan dini, dan suaranya sungguh merdu; merusak dunia. Sudahlah.

Semua anak berkumpul dengan selamat, walau ada yang sudah tak berlengan, tak berkaki, tak berkelapa, malah ada yang sudah bukan perawa...t (Wahahahahaah!! Ketipu lu!!), tapi malah jadi korban.

Aula sunyi. Tak ada yang berani bersuara. Tiba-tiba para guru datang dengan muka horror.

"Kalian semua selamat kan? Kami masih berbaik hati rupanya," ujar Tsunade yang gak jelas arah pembicaraannya.

"Sebagai hadiah, masing-masing akan diberi vocer satu porsi dango dan gulali madu seukuran topeng Tobi," ujar Tsunade sambil menunjuk salah seorang personil ~OMG~ Akatsuki Band yang pake topeng untuk menutupi wajahnya yang lebar.

Sedetik sebelum Akatsuki Band mulai mempertunjukkan kenistaannya, Kimimaro muncul dengan arek-arek tawon di belakanganya.

"WWUAAAAAAAAAAAAAAA!!!! TOLOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOONG!!!!!"

Segera ruangan itu dipenuhi tawon-tawon yang mengamuk. Semua anak segera saja mencari perlindungan. Bagi kelas sembilan, mungkin hal ini bukan yang pertama, karena dulu hal serupa telah dilakukan Shino gengan brutal pada mereka.

Hanya satu anak yang dengan PD-nya berdiri tegak; Temari.

Dengan satu tebasan kipas supergede limited edition yang hanya satu di dunia itu, ia mengusir semua tawon pergi. Tidak hanya itu, semua guru dan teman-temannya ikut-ikutan terseret angin dari kipasnya. Mereka semua –kecuali Temari- mendarat di suatu tanah lapang.

"Ugh, tadi tu angin kipas apa badai gurun?" keluh Shizune.

"Eh, perasaanku gak enak,"ujar Jiraiya memecah pikiran masing-masing makhluk dari Konoha Gakuen tentang apa yang baru saja terjadi.

Dan benar saja, segera mereka dirubung hantu-hantu kuburan.

Esoknya, segerombolan arek hantu berjalan tertatih-tatih menuju sebuah sekolah; Konoha Gakuen. Mereka menuju satu titik yang sama dimana seorang perempuan yang nampak kebingungan beridiri.

"TEMARIIIIIIIII. ..." rintih mereka bersamaan.

Sungguh, Halloween tahun itu telah menjadikan Temari kapok dan bersumpah tidak akan pernah mengibaskan kipasnya di Konoha Gakuen. Karena bila tidak, kipasnya yang kini tinggal kerangka akan benar-benar tinggal kenangan.


Yah, segitu cukup.

Ternyata perencanaan yang telah dipikir seminggu lebih meleset dan berakhir di chapter dua. Padahal rencananya akan tiga chapter.

O iya, soal 'Barbie palsu yang rambutnya teruwel-uwel karena disisir mixer' itu,mungkin bagi kalian nggak menakutkan, tapi bagi Kentona, hal itu mengerikan. Soalnya Kentona punya temen yang nggak bisa makan kalo ngeliat rambut Barbie. Katanya serasa makan rambut Barbie itu. Setelah Kentona pikir, lama-lama Kentona juga jadi enek saat melihat rambut Barbie palsu milik saudara sepupu Kentona yang perempuan. Dan lama-lama Kentona mulai berpikir hal itu ngeri.

GYAAAAAAAAAAA!!!! Sekarang malah jadi ingat!!

GYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!

~maaf readers karena fic ini harus berakhir dengan teriakan memekakkan Kentona~

Review please?