hulaaa minna! bener2 cepet apdetnya! bedanya cuma sehari! ckck.. sejujurnya aku jg baru selese nulis chap 2nya, baruuuu bgt hahaha.

balesan review buat yang nggak log in: Ruki_ya: yup! pair baru~! semoga di chap ini menjawab semua pertanyaanmu ya ^^

Ok, enjoy this fic!

Namie Amalia present

special for Hari Persahabatan FFn:

~Summer~

Chapter 2:

Padang ilalang dekat panti, sore hari.

Yoruichi menendang Kuukaku. Kuukaku menunduk, melayangkan tonjokkannya. Sedang apa mereka? Bertengkar? Tidak, mereka… bertarung.

Hampir tiap hari, menjelang malam, mereka bertarung di padang ilalang. Tadinya padang itu penuh dengan ilalang tinggi, tapi mereka memotongnya dan menjadikannya lapangan kosong kecil diantara padang ilalang itu, untuk mereka bertarung.

"Hei, kau pikir kenapa si anak baru itu bisa tahu padang ini?" tanya Yoruichi sambil menghindar dari serangan Kuukaku.

"Entahlah, tapi dia mengingatkanku pada seseorang…. Kau ingat siapa?"

Yoruichi berpikir cukup lama. Duak! "Aww!! Pelan-pelan Kuukaku!"

"Kau yang bengong!" seru Kuukaku. "Konsentrasi!"

Yoruichi menghindar lagi. "Benar juga! Aku merasa déjà vu ketika bertatapan dengan matanya kemarin."

"Benarkah?"

Kedua gadis itu berhenti. Mereka menoleh. "Urahara?!"

Urahra memasukkan tangannya ke dalam kantong celana. "Hai. Sudah kuduga kalian disini. Sparing ya?"

"Kau bisa lihat sendiri," tukas Yoruichi.

"Boleh ikutan?"

"Dengan senang hati," jawab Yoruichi tersenyum meremehkan. Tak ada yang mengalahkannya di bela diri. Tiap ia dan Kuukaku bertarung, selalu ia yang menang. Seingatnya, Kuukaku baru menang sekali saja darinya.

Kuukaku berdiri di tengah-tengah antara Yoruichi dan Urahara. Ia memasukkan kedua jarinya ke mulut dan meniupnya. "Mulai!"

15 menit kemudian.

"Jujur, aku tak ingin melukaimu, Yoruichi-chan," ucap Urahara menghindari serangan Yoruichi yang berapi-api.

"Jangan. Panggil. Aku. Yoruichi-chan!" seru Yoruichi melayangkan tangannya ke muka Urahara. Urahara hanya mengulurkan kepalanya ke kanan sedikit dan memegang lengan Yoruichi.

"Bagaimana kalau kita akhiri saja?"

"Tidak!! Aku ingin lihat siapa yang lebih kuat!" Yoruichi menendang perut Urahara dengan kakinya.

"Uakh!" jerit Urahara. Saat Yoruichi menendang perut Urahara dengan kaki kanannya, Urahara menyengkat kaki kiri Yoruichi.

"Akh!" Yoruichi terjatuh di atas tanah. Tunggu, bukan di atas tanah, tapi….

"Uff, untunglah," senyum Urahara mengembang. Badannya di tahan Urahara, 5 senti lagi mencapai tanah.

"Selesai! Pemenangnya Urahara!" seru Kuukaku yang segera berlari menuju Yoruichi dan Urahara.

"Terima kasih, Urahara-san!" ucap Kuukaku.

"Uukh… badanku kaku sekali…," kata Yoruichi. "Badanku tak bisa digerakkan."

"Sudah kubilang kan? Harusnya kau tak memforsir tenaga. Kau hanya bisa bertarung 30 menit, Yoruichi. Ini sudah 15 menit lebih, tadi denganku hampir 20 menit," ujar Kuukaku menolong Yoruichi bangun. Gadis berambut ungu itu pasrah saat badannya dipapah Kuukaku dan Urahara. Mereka istirahat di tepi padang ilalang. Yoruichi membaringkan badannya. Kuukaku pergi ke panti untuk mengambil obat merah, minum, dan handuk.

Napas Yoruichi masih ngos-ngosan. Sebelah tangannya ia letakkan diantara mata dan dahi. Badannya berpeluh keringat. Sementara Urahara hanya diam saja, memperhatikan Yoruichi.

"Te-terima… kasi-h," ucap Yoruichi akhirnya. Matanya ditutupi lengannya sendiri, tak menatap Urahara. Urahara tersenyum.

"Sama-sama," jawabnya. Ia mengelus lengan Yoruichi pelan.

"A-apa yang khau… ukh," Yoruichi dengan susah payah berusaha menyelesaikan kalimatnya.

"Sst, diam dulu," Jari telunjuk Urahara menutup bibir Yoruichi sementara tangannya yang lain menyusuri tangan Yoruichi.

"Kau… ini luka karena bertarung dengan Kuukaku?"

Urahara menjauhkan jari telunjuknya dari mulut Yoruichi, mengijinkan Yoruichi berbicara.

"Y-yah…."

"Hmm…," Urahara menggumam pelan. Bertarung tak bisa lama-lama, luka yang tak sembuh-sembuh….

"Kau pernah memeriksakan ke dokter?

Yoruichi berpikir sebentar. "Tidak…, entahlah, aku tak tahu. Seingatku belum pernah, tapi entah saat aku masih kecil. Memang kenapa sih?"

Urahara berpikir. "Ah, tidak."

"Yoruichi!! Urahara!" Kukaku memanggil dari kejauhan. Ia membawa 2 handuk (1 handuk dilingkarkan di lehernya), sekotak P3K, dan 3 botol minuman (yang salah satu botolnya sudah setengah habis). Ia meletakkan semua itu disebelah Yoruichi dan mulai mengobati luka-luka Yoruichi. Urahara ikut membantunya setelah minum dan istirahat sebentar. Sementara Yoruichi menahan napas sekaligus meringis kesakitan.

"Kukaku, ini… luka-luka kau bertarung dengan Yoruichi?" tanya Urahara dengan alis merengut.

"Ah? Iya, tapi yang itu sudah lama sekali," Kukaku menunjuk sebuah luka. "Kau malas mengurus diri sendiri sih, Yoruichi."

"Buat apa? Nanti toh luka lagi," jawab Yoruichi cuek.

"Kalau begitu siapa yang mau padamu, hahaha," Urahara menertawakan Yoruichi. Yoruichi ingin sekali meninju wajah itu, ia belum puas atas pertarungan tadi. Urahara selalu bisa menghindari serangannya, dan Yoruichi pun belum bisa meninju atau menendangnya sekali saja. Karena tubuhnya masih kaku, ia hanya mengumpat keras.

"Tidak pernah sembuh ya…," ucap Urahara.

"Memang kenapa sih?" tanya Yoruichi.

"Tidak…. Aku hanya mengkhawatirkanmu," jawab Urahara.

"Yap! Selesai! Kau sudah bisa berdiri?" tanya Kukaku berdiri merenggangkan otot. Yoruichi berusaha menggerakkan tangannya. Berhasil tapi… jatuh lagi.

"Haah…," keluh Yoruichi. Tiba-tiba di depan matanya, dua tangan terulur. Kukaku dan Urahara tersenyum padanya, mengulurkan tangan mereka, untuk Yoruichi. Yoruichi tersenyum, menyambutnya, sambil berusaha berdiri. Akhirnya ia berhasil berdiri namun….

"Ah!" ia hampir terjatuh lagi. Untung Urahara menangkapnya, dan merangkulnya, begitupula Kukaku. Mereka berdua memapah Yoruichi sampai panti. Tapi, baru sampai halaman depan panti, Urahara pamit.

"Maaf, aku hanya bisa mengantar kalian sampai sini," ujar Urahara, melepaskan rangkulannya.

"Kenapa? Masuk aja dulu," tawar Kukaku. Urahara mengeluarkan senyum misteriusnya, menggeleng, berjalan menjauh.

"Urahara!!" panggil Yoruichi saat Urahara menjauh. Urahara menoleh. "Siapa kau sebenarnya?!"

"Panggil aku Kisuke!" seru Urahara lagi, tak menjawab pertanyaan Yoruichi. Cowok itu menjauh, menghilang dari pandangan Yoruichi dan Kukaku.

"Ki… suke?" Yoruichi mengerutkan keningnya, berpikir. "sepertinya… aku tahu nama itu."

"Kisuke Urahara… Ki-su-ke…," pikir Kukaku. "Ah! Dr. Kisuke! Nama Dr. Kisuke kan Kisuke Urahara juga!"

Yoruichi dan Kukaku berpandangan, bingung sekaligus penasaran.

*

"Aku adalah anak yatim piatu. Lalu suatu hari ada seorang lelaki mengadopsiku bernama Kisuke Urahara. Ia adalah seorang dokter spesialis sekaligus pengajar bela diri di salah satu dojo (A/N:bener kan tulisannya? Apa on-nya 2?). Ia mengajarkanku semua hal yang diketahuinya. Aku diajari bela diri, ilmu kedokteran, olahraga, dan lainnya. Tapi makin lama, ia makin lemah, hingga aku dengan mudah mengalahkannya dalam latihan. Aku menanyakannya apa yang terjadi, memaksanya mengaku. Akhirnya ia mengaku, ia mempunyai penyakit jantung. Beberapa tahun kemudian, ia meninggal dunia," cerita Urahara. Setelah kemaren Urahara meninggalkan mereka dengan misteriusnya, pagi ini kedua gadis itu datang ke meja Urahara sambil menggebrak meja. Mereka meminta pertanggung jawaban Urahara (?) atas pertanyaan yang dilontarkan Yoruichi kemarin.

"Lalu? Kenapa namamu bisa sama dengan Dr. Kisuke?" tanya Yoruichi.

"Awalnya, aku sama sekali tak tahu namaku. Setelah aku diadopsi olehnya, ia membebaskanku memilih nama untukku sendiri. Ia sendiri memanggillku dengan Kisuke, namanya sendiri. Di akhir hidupnya, ia memintaku memakai namanya, dan aku pun menyetujuinya."

"Ooh…," Yoruichi dan Kukaku mengangguk mengerti.

Urahara menatap kedua gadis itu teduh. "Ia sering cerita kepadaku, suatu hari, ia pernah bertemu dengan 2 gadis kecil yang disakiti kakak kelasnya. Ia menolong kedua gadis itu, mengusir kakak kelas mereka. Akhirnya ia mengajarkan ilmu bela diri kepada kedua gadis itu agar mereka tidak saling menyakiti lagi. Selama sebulan mereka bertiga, selalu bertemu di padang ilalang dan saling berlatih satu sama lain. Sayangnya baru sebulan, ia harus pergi karena harus dirawat karena penyakit jantungnya…. Ia berpesan padaku agar menemui kedua gadis itu, menyampaikan salamnya, dan bersahabat dengan keduanya…."

Begitu Urahara selesai bercerita, cowok itu mengelus kepala kedua gadis itu, sayang. Yoruichi dan Kukaku membiarkan rambut mereka dielus Urahara, seperti dielus Dr. Kisuke dulu. Tanpa terasa air mata keluar dari mata mereka masing-masing. Urahara tersenyum menyodorkan tisu.

"Mau tisu? Aku sudah menyiapkannya dari semalam karena tahu kalian akan menangis hari ini," goda Urahara. Untung saat itu masih terlalu pagi, hingga yang datang baru mereka bertiga.

"Sok tau, kau!!" seru Kukaku dan Yoruichi bersamaan, menoyor kepala Urahara.

*

"Yoruichi!" panggil Urahara. Yoruichi yang sedang berjalan kaki pulang menuju panti menoleh. Ia melihat Urahara naik sepeda, sambil melambaikan tangannya.

"Kisuke? Sedang apa kau? Bukannya rumahmu arah sana ya?" Yoruichi menunjuk arah yang berlawanan.

Urahara menghentikan sepedanya tepat di sebalah Yoruichi. "Kebetulan aku mau mampir dulu. Kukaku mana?"

"Kukaku ada voli. Sedikit lagi kejuaraan olahraga nasional dan ia terpilih sebagai pemain voli di daerah ini," jelas Yoruichi. "Kau mau kemana?"

"Makam. Mau ikut?"

*

Yoruichi dan Urahara berjongkok sambil mengadahkan tangannya di depan makam itu. Mereka berdoa bersama-sama. Begitu selesai, Urahara mengelus batu nisan.

"Outo-san…," bisik Urahara. "Aku telah menepati janjiku. Aku telah memanggilmu Outo-san, aku telah memakai nama Kisuke, dan aku sudah menyampaikan salammu kepada kedua gadis itu. Sekarang mereka sudah seumurku dan salah satunya ada disebelahmu."

Yoruichi menabur bunga di sekitar makam. "Ya…. Terima kasih Dr. Kisuke…. Aku dan Kukaku sudah mendapat salammu, terima kasih karena kau telah menngajarkanku dan Kukaku bela diri… terima kasih atas nasihatmu, terima kasih atas belaianmu, terima kasih karena…," Yoruichi mengangkat wajahnya, menatap Urahara, "…telah mengirim Kisuke untuk menyampaikan salammu padaku dan Kukaku. Semoga kau tenang disana."

Yoruichi dan Urahara saling berpandangan, tersenyum dan berdiri, menyudahi doa mereka.

"Sekarang mau kemana?" tanya Yoruichi duduk dibelakang Urahara.

"Kau lapar, nggak?" Urahara balik nanya. Ia menggoes sepeda, membonceng Yoruichi.

"Mm… mau makan dimana?"

"Ke apartemenku ya? Kubuatkan kau makanan, tapi kita harus membeli bahan-bahannya dulu. Bagaimana?" tawar Urahara.

"Memangnya kau bisa masak?" ejek Yoruichi meremehkan. "Setuju! Aku ingin mencicipi makananmu. Tapi kalau tak enak kau tanggung jawab ya?"

Urahara tertawa. "Siapkan uang."

"Untuk?"

"Beli bahan makanan. Kau yang bayar, aku yang masak."

Alis Yoruichi berkerut kesal. "Lho? Kau itu bagaimana sih? Kenapa aku?"

"Karena aku tak punya uang. Lagipula kau sudah bilang setuju kok," tawa Urahara meledak.

"Kiii-suu-keeeee!!!!" teriakan Yoruichi membuat burung-burung gereja di jalanan terbang menjauh, diikuti tawa Urahara yang gila-gilaan membuat sepeda mereka oleng hampir jatuh.

***

Gimana? semoga kalian puas ya?

Untuk sahabat-sahabat FFn-ku tersayang, semoga persahabatan kita ini akan terus bertahan walaupun kita tak pernah bertemu sebelumnya.

akhir kata:

SELAMAT HARI PERSAHABATAN FFN

&

Review!!