hh... maaf ya kupikir bakal selesei di chap 3 ternyata... masih berlanjut.. apa aku yg nulisnya bertele2 atau gimana jg g ngerti deh.. =.= jadi maaf bgt kalo telat!

ok, chap 3.. enjoy it!

Chapter 3

"Awas kau, Kisuke, jangan sampai masakan buatanmu tak enak! Uangku tinggal sedikit jadinya," Yoruichi marah-marah, menunggu di meja makan. Apartemen Urahara tidaklah mewah, tidak pula bobrok, walaupun agak lusuh. Catnya bewarna krem kotor, tetapi lantainya bersih, sering disapu. Perabotannya tua, beberapa sudah keropos namun antik. Di ruang tamu ada pajangan beberapa kipas warna-warni berbagai ukuran dibingkai coklat kuno. Sofa di bawahnya berwarna hijau, udah bolong-bolong. Meja di depan sofa itu pun sudah rapuh. Apartemen itu terkesan kuno dan lusuh, walaupun termasuk bersih untuk ukuran apartemen seorang cowok.

"Ini makanannya," Urahara menghidangkan 2 piring sphagetti. Ia duduk di hadapan Yoruichi, menunggu Yoruichi memakannya.

"Apa?" tanya Yoruichi.

"Makanlah duluan. Aku ingin tahu komentarmu," suruh Urahara.

Yoruichi memakannya. Ia mengunyahnya pelan sambil memejamkan matanya. Sedetik kemudian, matanya bersinar-sinar ceria, "enaaak!!!"

Urahara tersenyum. "Benar kan? Aku tak harus tanggung jawab."

"Kau tetap harus tanggung jawab kalau aku nanti kekenyangan!" Yoruichi mengacungkan garpunya. Urahara tertawa senang.

Teng-tong, teng-tong.

Urahara menegakkan badannya. Ia bangkit menuju pintu. Yoruichi menoleh sedikit, melihat siapa yang datang.

2 orang anak, satu lelaki dan satu lagi perempuan, keduanya berbaju lusuh. Si lelaki berambut merah cerah, beraut wajah keras, sementara si perempuan berambut hitam dikuncir 2 dengan poni membelah wajahnya menjadi tiga, dan beraut wajah malu-malu dan ketakutan. Urahara terlihat bercakap-cakap sebentar dengan kedua anak itu dan mengijinkan mereka masuk.

"Aaaah!!" seru si anak perempuan, bersembunyi di belakang Urahara begitu melihat Yoruichi.

"Tenang saja, Ururu, dia Yoruichi, sahabatku," jelas Urahara.

Yoruichi tersenyum manis, mengulurkan tangannya pada si perempuan yang dipanggil Ururu itu. Ururu menyambut tangannya takut-takut.

"Mereka siapa?" tanya Yorucihi.

"Anak jalanan sekitar sini. Kalau kelebihan makanan, aku memberikannya pada mereka."

"Baik sekali kau," ujar Yoruichi cuek, kembali melanjutkan makanannya. Sementara itu Ururu dan Jinta—si anak lelaki—duduk di meja, disebelah Yoruichi. Urahara sendiri kembali ke dapur mengambil 2 piring. Ia memberikan kedua piring kosong itu kepada Ururu dan Jinta, lalu membagi sphagettinya sendiri sama rata pada kedua anak itu.

"Ini namanya apa?" tanya Jinta mengerutkan keningnya.

"Itu namanya sphagetti," jawab Urahara. Ia duduk kembali di tempatnya, menopang dagu, tersenyum melihat Ururu, Jinta, dan Yoruichi yang memakan sphagetti buatannya lahap.

"Kisuke, kau tak makan?" tanya Yoruichi. Urahara hanya menggeleng. Yoruichi bangkit, menuju dapur.

"Kau mau apa, Yoruichi?" tanya Urahara.

"Aku mau membuat makanan untukmu!" jawab Yoruichi. Ia membuka kulkas. Matanya seketika itu tebelalak. Kulkas itu kosong melompong, hanya berisi botol-botol air untuk minum. Ia melirik tong sampah. Disana hanya ada bungkus sphagetti, bungkus saos dan bungkus keju. Ia menoleh pada Urahara yang mengejarnya sampai dapur.

"Kau…."

"Maaf, tapi persediaan makananku sudah habis," jelas Urahara tersenyum pahit. Yoruichi menatap sahabatnya itu dalam. Mata itu kelelahan, wajah itu tirus cekung, badan itu kurus…. Yoruichi baru sadar, bagi Urahara, sesuap nasi amat susah dicari…, namun ia tetap memberi Jinta dan Ururu makanan.

Yoruichi keluar dapur, tak menatap Urahara. Lelaki itu mengikuti Yoruichi, ingin tahu apa yang gadis itu lakukan. Di ruang makan, Yoruichi menuangkan sphagettinya yang masih setengah ke piring Urahara.

"Eeh! Jangan!!" seru Urahara mencegah perbuatan Yoruichi dengan menahan tangannya. Yoruichi menepis tangan Urahara kasar.

"Tidak! Jangan! Ini punyamu Yoruichi!" Urahara berkata lagi. Tapi Yoruichi keukeh, tak menyerah. Mereka terus begitu sampai sphagetti yang dituang Yoruichi terjatuh sedikit.

"Ah… maaf," ucap Urahara dan Yoruichi bersamaan. Urahara mengambil pel dari pojok ruangan dan segera mengepelnya.

"Ma-maafkan aku, Kisuke, aku tak bermaksud…," ujar Yoruichi sambil terus menuangkan sphagettinya. Ia tak ingin menyia-nyiakan waktu, mumpung Urahara lagi ngepel dan tak melihatnya.

"Ya, tak apa-apa, Yoruichi," ujar Urahara tersenyum. Setelah mengepel, ia mengembalikan lagi pel ke tempat semula. Begitu berbalik, ia terkejut.

"Eh?" Urahara mundur sedikit saking terkejutnya. Di hadapannya, Yoruichi mengulurkan piring Urahara yang berisi sphagetti miliknya sambil menunduk.

"Kumohon! Makanlah!" mohon Yoruichi. Mata Urahara terbelalak. Awalnya ia ragu, tapi akhirnya ia tersenyum dan memakan sphagetti tersebut.

"Bagaimana?" Yoruichi menyambutnya dengan wajah secerah mentari. Urahara tertawa.

"Enak," jawabnya. "Tentu saja, ini kan buatanku."

Mereka tertawa. Seusai makan siang, Ururu dan Jinta pulang. Begitupula Yoruichi minta ijin untuk pulang.

"Kisuke, aku pulang dulu ya," Yoruichi mengambil tas selempangnya.

"Eeh, nanti dulu, Yoruichi!" Urahara menahannya. Ia telah berganti pakaian dan menenteng tas kecil. "Aku antar. Kebetulan searah."

"Kau mau kemana lagi?" tanya Yoruichi.

"Latihan. Aku juga harus ikut Kejuaraan Olahraga Nasional," kata Urahara menggaruk belakang kepalanya.

"Hah? Kau ikut cabang apa?" Yoruichi tersentak kaget.

"Bela diri," jawab Urahara cuek. Ia menuju belakang apartemen, mengambil sepatu. Yoruichi mengikutinya. Di sebelah rak sepatu, berdiri lemari besar terisi piala dan mendali. Yoruichi hanya bisa melongo.

Urahara tertawa melihat tingkah Yoruichi. "Kenapa? Kok melongo?"

"Kau…," Yoruichi berbalik, matanya berpapasan dengan tulisan ATLET NASIONAL BELA DIRI di tas kecil yang ditenteng Urahara. "Kau…. Kau atlet nasional??!"

"Memang. Kau tak tahu?" Urahara tertawa mengejek Yoruichi. "Dasar ketinggalan jaman!"

"Enak aja!" seru Yoruichi kesal. Mereka naik sepeda Urahara lagi, berboncengan menuju panti.

"Jadi atlet kan enak, dapet uang melulu. Kok… umm… maaf," Yoruichi tak melanjutkan kata-kata. Urahara hanya tertawa pahit.

"Aku mendapat beasiswa sampai kuliah nanti karena bela diri. Aku juga hidup karena uang dari bela diri. Karena duitku sudah menipis sekarang, aku harus berlatih giat agar bisa menang besok. Doakan aku!"

"Iyaa…."

"Ah, hujan!" Urhara menepi di halte. Yoruichi menggerutu kesal.

"Kenapa berhenti? Ujan-ujanan aja!" saran Yoruichi sesat (?).

"Tidak, nanti kau sakit! Aku juga yang susah," larang Urahara.

"Ayolah…," bujuk Yoruichi pasang muka memelas. "Kumohon…."

Uraha menatap mata Yoruichi, tak tega. Ia menghela napas. "Baiklah…."

"Yess!!" Yoruichi langsung keluar halte. Urahara menarik tangannya cepat.

"Tapi…," ujar Urahara cepat. Ia menoleh kiri dan kanan. Ada pohon pisang berdiri di kanan mereka. Ia menarik daun pisang yang terlebar dan terbesar disana beserta pelepahnya lalu memberikan pada Yoruichi. "Pakai ini."

"Buat apa?" dahi Yoruichi mengerut. Saat Urahara menyuruhnya naik, barulah ia mengerti. Pelepah berserta daunnya itu untuk payung bagi mereka berdua.

"Hei, kepalaku tak kena nih," protes Urahara. Yoruichi tertawa. "Kalau aku sakit dan tak bisa ikut kejuaran kau yang tanggung jawab ya?"

"Hahaha, tidak, kau yang tannggung jawab kalau aku sakit."

"Makanya berhenti dulu!"

"Aaah… tidak! Lanjut!!" Yoruichi memukul pundak Urahara.

"Kau tahu? Aku baru sadar, aku punya 2 kelemahan besar," cerita Urahara setelah lama terdiam.

"Apa?" tanya Yoruichi penasaran.

"Penyakit," Urahara tersenyum samar. "Aku tak tahan kalau sakit. Tak bebas. Makanya aku paling tak suka kalau ujan-ujanan."

"Yang kedua?"

"Yakin mau tahu?" Urahara menoleh sedikit pada Yoruichi sambil tersenyum khasnya. Yoruichi menngangguk, penasaran.

"Kau."

*

Esoknya, Yoruichi langsung tak masuk. Kukaku bercerita pada Urahara kalau gadis berambut ungu itu langsung sakit. Urahara mendesah kesal. Ia bercerita pada Kukaku dipaksa Yoruichi hujan-hujanan kemarin. Padahal besok Urahara harus ikut kejuaran, kalau Yoruichi sakit bisa-bisa ia tak konsentrasi. Kukaku hanya tertawa, ia bilang memang begitu sifat Yoruichi.

"Kau mau menjenguknya nanti?" tawar Kukaku. "Biar nanti kau bisa konsen di pertandingan."

Urahara berpikir. "Mm…. Ya, boleh!"

*

Panti Asuhan, pulang sekolah.

"Yoruichi!!" seru Kukaku membuka kamar Yoruichi keras.

"Kau itu kenapa sih? Berisik!" keluh Yoruichi.

"Lihat, siapa yang datang!" Kukaku menyilahkan Urahara masuk. Urahara masuk sambil membawa semangkuk bubur. Mereka berdua duduk disebelah kasur Yoruichi.

"Bubur? Buatan kau?" mata Yoruichi berbinar-binar. Urahara mengangguk. Yoruichi menegakkan badannya, duduk bersandar di tembok.

Yoruichi mengambil mangkok bubur itu. Ia mengambil sendoknya dan menyendok bubur itu. Baru ia memasukkan ke dalam mulutnya, ia berpikir sebentar. Tau-tau ia mendorong mangkok bubur itu menjauh.

"Kenapa?" tanya Kukaku.

"Aku tak akan makan bubur ini, kecuali KAU," Yoruichi menekannya suaranya di kata 'kau' sambil menunjuk Urahara, "ikut makan bubur ini."

"Tenang, aku membuat bubur ini cukup banyak kok," kata Urahara.

"Ya, lagipula kata Bunda kita akan makan bubur ini untuk makan malam," jelas Kukaku. Bunda adalah ibu pengasuh mereka. Kukaku melirik Urahara, "kau memang koki hebat, Kisuke!"

"Ayo kita makan bersama! Jangan aku saja yang makan," kata Yoruichi. Akhirnya Urahara dan Kukaku mengambil semangkok bubur masing-masing dan memakannya bersama.

"Tunggu dulu!" ujar Yoruichi lagi. "Ini bahan-bahan dari siapa?"

"Dari panti! Kau itu khawatir sekali sih. Sudah kau makan aja!" suruh Kukaku.

*

2 bulan kemudian.

"HAH?? Yoruichi belum sembuh juga?!" Urahara terkejut. Ia dan Kukaku baru balik dari kejuaran yang memang memakan waktu 2 bulan (A/N: kelamaan nggak sih, buat kejuaraan?). Sekarang mereka ada di padang ilalang tempat biasa mereka berkumpul.

"Yah, anak itu memang lama sakitnya. Ia itu sebenarnya sakit-sakitan, untung kulitnya hitam jadi wajahnya tak terlihat pucat. Kalau ia sakit, pasti lama sembuhnya,"' jelas Kukaku santai.

"Yoruichi….," Urahara berpikir keras. "Manusia biasa takkan selama itu sakitnya. Kenapa ia tak pernah memeriksakan diri ke dokter?"

Kukaku tertawa pahit. "Walaupun panti sanggup menghidupi kami, tapi panti kami tidaklah sebesar itu. Panti kami hanyalah panti kecil, yang hanya sanggup membiayayai anak-anaknya maksimal sampai SMA—itupun kalau beruntung—dan aku dan Yoruichi termasuk anak yang beruntung. Mungkin adik-adik kami nanti tak bisa seperti kami."

Urahara terdiam mendengar penjelasan Kukaku. Mereka berdua menatap langit sore, membuat gradasi kuning, oranye, merah, dan lama kelamaan hitam. Seolah menatap mereka sendiri, yang kesusahan menjalani hidup, menopang semua beban.

*

Akhirnya, Yoruichi masuk juga ke sekolah, walaupun terkadang sound effect menyertainya.

"Bagaiamana? Kau menang tidak?" tanya Yoruichi pagi hari.

Urahara tersenyum. "Ya, menang."

"Baguslah! Berarti doaku dikabulkan," Yoruichi tertawa senang. "Nanti kau harus belanja untuk keperluan sehari-hari! Aku tak tega melihat kulkasmu."

"Kau tak tega melihat kulkasku apa aku?"

"Kau sih, hehe," Yoruichi tertawa.

"Yah… sepertinya pulang sekolah nanti aku akan menghabiskan uang yang kudapat dari kejuaran," Urahara menatap Yoruichi, serius, "dan aku mau kau ikut denganku."

*

Rumah sakit, sepulang sekolah.

"Kau mau menghabiskan uangmu di rumah sakit?" Yoruichi menatap Urahara tak percaya. Urahara tak menjawab. Ia menarik tangan Yoruichi masuk suatu kamar. Yoruichi disuruh menunggu sebentar sementara Urahara berbicara seuatu pada dokter yang sepertinya kenalannya.

"Nah, masuk sana!" Urahara mendorong Yoruichi.

"Aku mau diapain?" tanya Yoruichi mundur.

"Hanya check up biasa," Urahara mendorong Yoruichi. "Kau harusnya berterima kasih karena tak usah menunggu lagi. Dokter itu adalah kenalanku, namanya dokter Sihouhin"

Seusai Yoruichi check up, giliran Urahra yang berbicara pada dokter itu. Yoruichi tak mendengarkan, karena sepertinya Urahara dan dokter janjian entah untuk apa dan entah kapan. Tiba-tiba, Yoruichi dipanggil masuk ke ruangan dokter tersebut.

"Nona Yoruichi," dokter itu menatap kertas di hadapannya, sambil membetulkan kacamatanya. Sementara itu, Urahara pergi ke toilet. "Sulit bagiku untuk mengatakannya, tapi kau…, terkena penyakit HIV/AIDS."

***

gimana? kagetkah anda sekalian?? huahahaha.. baiklah, ini balesan repiu:

Ruki_ya: ga bisa coment apa2? kenapaa??? *maksa* yosh, ora opo2!!

ok~ jangan lupa repiu ya sodara2 skalian! caranya, tinggal teken tombol ijo2 di bawah ini!!