Yeaaahhh!! akhirnyaaa.. chap depan (chap 5) adalah chap terakhir!!! cihuuuyy!!!! maaf karena mungkin akulah author paling lama ngeapdet ni' fic sbg fic buat Hari Persahabatan FFn.. =.=;;

Hahahaha... pada kaget yaa??? *ngarep* hh.. kasian bgt Yoruichi... ckckck. Saya memang author tega.. HUAHAHAHAHAHAHA *ketawa kaya orang gila*

Oh iya, di chap ini mungkin bahasanya rada 'tinggi' gitu.. pengen aja ngegambarin perasaannya Yourichi... Jadi maaf kalo kalian jadi ga ngerti.

Yosh! silakan dibaca!!

Chap 4

"Sulit bagiku untuk mengatakannya, tapi kau…, terkena penyakit HIV/AIDS."

Kalimat itu menggema di kepala Yoruichi, berulang-ulang. Kalimat itu menjadi jawaban atas segala pertanyaan yang mendesaknya sekaligus menjadi pertanyaan-pertanyaan baru di hatinya.

"HIV/AIDS di tularkan dengan cara berhubungan seks. Iitu bisa tertular ke anaknya yang nanti lahir lewat hubungan itu atau lewat pasangannya," Yoruichi teringat penjelasan soal HIV/AIDS di majalah yang pernah ia baca dulu. Lalu? Lalu?? Jangan-jangan… kedua orang tuanya adalah… wanita malam? Atau pemakai narkoba? Atau segala hal yang berhubungan dengan dunia malam??

Yoruichi's POV:

Siapa orangtuaku? Mengapa aku dibuang? Kenapa badanku lemah? Mengapa aku sakit-sakitan? Semua terjawab dengan satu kalimat. Orangtuaku adalah penderita HIV. Aku dibuang (mungkin) karena aku anak haram. Badanku lemah karena HIV. Aku sakit-sakitan karena HIV (pula).

Lalu dengan mudahnya, muncul pertanyaan-pertanyaan baru; apakah orang tuaku pelacur? Atau pengguna narkoba? Kenapa Bunda—pengurus panti asuhan—tidak pernah memeriksakanku ke dokter? Kenapa Kukaku tak pernah curiga atas sakitku ini—padahal ia adalah orang yang terdekat denganku? Apa Kisuke sudah tau sebelumnya? Kenapa baru sekarang Kisuke mengajakku memeriksakan diri? Kenapa aku tak pernah curiga pada diriku sendiri? Siapa aku? Dimana aku harusnya? Dimana aku kalau tidak dibuang? Kapan aku akan mati?

Aku tak peduli lagi pada Kisuke yang dari tadi menyapaku cemas, ataupun pasien-pasien di ruang tunggu yang memperhatikan kami. Dr. Shihouin bilang, kematian akibat HIV itu bisa diperpanjang menggunakan obat, tetapi jika sekali saja aku lalai tak memakai obat itu, aku bisa langsung mati. Aku tak suka bergantung dengan sesuatu, baik obat maupun manusia. Aku berkata seperti itu, padahal aku masih bergantung pada panti, pada Kukaku, pada Kisuke. Munafik ya? Orang sepertiku memang pantas mati, apalagi karena virus HIV itu.

Haruskah aku pasrah? Atau berusaha untuk mendapatkan obat itu, walaupun harga obat itu selangit? Yang mana yang harus kupilih? Aku memang mempunyai uang tabungan di bank, tapi tinggal 2.000 yen—tunggu—tinggal 1.000 yen! 1.000 yen sisanya dipakai untuk taruhan dengan Kukaku! Kini, hatiku menggerutu, memaki-maki Kukaku. Sebagian diriku juga memaki-maki diriku sendiri; kenapa aku mau bertaruh yang tak jelas seperti itu?

Sejak keluar dari ruang Dr. Shihouin itu, aku merasakan perasaan yang susah digambarkan…. Terlalu sakit untuk diceritakan. Tangan kananku menyentuh dada ini. Mataku terpejam, merasakan sakitnya. Nyeri di dada ini. Perih di hati ini. Pusing di otak ini. Adakah yang bisa mengobatinya? Kumohon… kumohon…, jikalau benar adanya penyembuh sakit ini, kumohon… berikanlah padaku sekarang. Rasanya… seolah paku ditancapkan di tulang rusukku dan paku itu ditimpa oleh palu godam nan besar. Meretakkan rangkaian tulang rusukku, menghancurkan hatiku, menusuk jantungku, memorak-porandakan paru-paruku, mengacaukan aliran darahku.

Perih… perih…, rasanya lebih perih daripada mengoleskan betadine ke lukamu. Nyeri… rasanya lebih nyeri dibanding saat orang memijat kaki yang kram. Pusingnya otakku memikirkan ini bisa kau lihat oleh kata-kata diatas. Sakitnya….

Aku benci menangis. Bagiku menangis tak ada gunanya. Hanya untuk mengekspresikan perasaan saja. Tapi tentu aku pernah menangis. Mungkin kalian menatapku sebagai cewek tomboy yang sangat menyukai olahraga, bahkan mungkin awalnya kalian menyangkaku lelaki. Bagiku itu sudah biasa, bahkan aku tersanjung dengan itu semua… tapi jangan kira aku bukan perempuan. Aku perempuan biasa, yang bisa menangis, yang perlu dilindungi. Aku hanya menangis disaat memang perlu. Misalnya disaat Kisuke menceritakan tentang Dr. Kisuke padaku dan Kukaku. Aku menangis karena Dr. Kisuke sangat berarti di hidupku, bagai ayahku sendiri, bagai guruku sendiri, bagai kakakku sendiri.

Munafik? Ya, lagi-lagi aku munafik. Aku benci mengatakan ini, tapi… aku menangis sekarang. Mungkin karena rasa sakitnya, mungkin karena dorongan emosi di tubuhku, mungkin karena… karena penyakitku.

"Yoruichi? Yoruichi, kita harus berteduh dulu!" Kisuke mengembalikanku ke alam sadar. Aku terkejut, menoleh menatap Kisuke. Aku tak boleh menangis di hadapannya. Ia sudah terlalu banyak menyusahkanku. Aku menghapus air mataku, berharap agar Kisuke tak sadar aku menangis.

"Ya!" Aku menyahut semangat sebagaimana biasanya. Aku yakin, Kisuke takkan tahu aku menangis. Akting ini sudah sering kupakai dan hanya Kukaku yang bisa menebakknya.

"Kau menangis, Yoruichi?" Kisuke panik.

Eh? Dia bisa tahu?? Ba-bagaimana bisa? Sekarang pasti wajahku sudah tak menentu lagi. Aku masih bisa merasakan senyum di mulutku, raut wajahku pun masih gembira. Tapi…. Setetes air jatuh, menggelincir dari mata ke pipiku. Aku menghapus sebutir air mataku, sambil tersenyum perih.

"Tidak—ya, aku menangis," bisikku tak jelas.

"Kita harus menepi, hujan," kata Kisuke lagi, memarkin sepedanya masuk halte. Plastik putih berisi beberapa kaleng entah apa, bergoyang-goyang di stang sepeda Kisuke. Aku tercenung menatap halte kusam yang tak terpakai, halte yang sama dengan halte saat kami berdua hujan-hujanan kemarin. Halte yang ada di jalanan sepi, tepat di belakang hutan buatan. Aku merasa… déjà vu. Apalagi sekarang juga hujan.

End of Yoruichi's POV

Urahara menatap sahabatnya itu cemas. Yoruichi duduk di bangku halte dengan wajah tertunduk, dengan tangan di dadanya, seolah ia sedang menikmati rasa sakitnya.

Darimana Urahara tau rasa sakit itu? Tentu saja ia tahu. Rasa yang tak bisa dibayangkan, yang terlalu sakit hingga susah diceritakan.

"Yoruichi…," bisik Urahara pelan, duduk di sebelah Yoruichi.

"Hn…," terdengar isak tangis dari Yoruichi. Ia masih menunduk, sambil menghapus air matanya. "Kau sudah tahu kan?"

Urahara tak kaget, ia diam saja. Setelah lama terdiam, ia baru menjawab, "Ya."

Sedetik kemudian, Yoruichi mengangkat wajahnya, menarik kerah Urahara cepat. "Kenapa?? Kenapa kau tak pernah memberitahuku?? Kenapa baru sekarang??"

"Yoruichi…."

"Apa kau tahu rasanya?? Apa kau tahu betapa putus asanya aku sekarang??"

"Yoruichi…."

"Jangan kasihani aku! Jangan sok simpati! Memangnya kau pernah merasakannya?? Ini lebih sakit daripada yang kau bayangkan!!"

"Dengarkan aku Yoruichi!!" seru Urahara keras, agar Yoruichi berhenti berbicara. "Karena aku tak punya uang—"

"Kau pikr aku tak punya uang? Jangan remehkan aku!!"

"Yoruichi!!" seru Urahara. "Dengarkan aku dulu! Tak semudah itu memberitahumu! Sebenarnya, aku sudah mendunganya sejak aku bertemu denganmu di padang ilalang. Tapi bisa saja kau kena Hemofilia, bukan HIV. Dan dugaanku menguat ketika kau sakit 2 bulan itu. Saat ada uang aku baru mengajakmu ke dokter, bukannya aku meremehkanmu, tapi kalau aku bilang langsung padamu, bisa saja kau tak mau atau bahkan mejauhiku. Dan, ya, aku tahu rasanya. Aku tahu betapa putus asanya. Aku tak mengasihanimu, aku memang simpati padamu. Aku memang pernah merasakannya. Aku tahu rasa sakitnya tanpa harus kubayangkan."

Yoruichi tercengang mendengar penjelasana Urahara.

"Aku mempunyai penyakit Sistinotis. Sisnotis adalah penyakit keturunan langka yang masih belum diobati sepenuhnya dimana zat cystine diproduksi berlebihan, membuat sel-sel memadat dan bergabung membentuk kristal. Salah-salah makan obat atau dosis, aku bisa mati membatu," jawab Urahara.

Yoruichi menatap Urahara tak percaya, tapi Urahara menangguk, tersenyum menenangkan.

Urahara melanjutkan. "Sejak Dr. Kisuke meninggal, aku giat berlatih bela diri dan ikut lomba dimana-mana. Kalau aku menang lomba, uangnya langsung kubelanjakan membeli obat ini," Urahara menepuk plastik putih di stang sepedanya, "makanya aku selalu berusaha agar menang lomba. Agar bisa mempertahankan hidupku. Sekarang kau pasti memikirkan soal obat itu kan?"

Yoruichi mengangguk. Walaupun obat itu hanya memperpanjang waktu hidupnya, bukan menyembuhkannya.

"Kenapa kau tidak ikut klub bela diri saja? Nanti kalau menang, uangnya untuk obat itu," kata Urahara. Yoruichi terdiam, mempertimbangkan. "Ya, memang berisiko tinggi ya? Tapi aku bersyukur karena memilih jalan ini. Karena justru itu yang membuatku bersemangat berlatih, terus dan terus."

Yoruichi masih terdiam mempertimbangan, apa yang harus ia pilih. Urahara diam, membiarkannya berpikir.

Lama sekali mereka terdiam, menunggu hujan. Urahara menatap Yoruichi, tepatnya rambut Yoruichi. Tak sadar, ia menyentuh ujung rambutnya. Yoruichi yang masih berpikir terkejut, sampai melompat kaget.

"Eh?"

"Ma-maaf!" ujar Urahara ikut terkejut juga (?). "Aku hanya memperhatikan rambutmu saja."

"Memang kenapa rambutku?"

"Indah sekali. Sayang, pendek. Kenapa tidak dipanjangkan?"

Yoruichi membuang muka. "Susah ngurusnya. Selain itu pasti panas. Aku benci panas."

Urahara tertawa kecil. "Kau benci panas? Benarkah?"

"Benci. Aku benci panas, musim panas, suhu panas, atau apapun yang berhubungan dengan panas. Aku benci musim panas. Mungkin kebanyakan orang menyukai musim panas dengan alasan yang beragam. Liburanlah, menyenangkanlah, apalah. Tapi tetap saja aku tak suka. Bagiku musim panas tak berarti. Membuatku tak bebas karena kepanasan, membuatku jengah karena keringatan. Aku membeci segala sesuatu yang berhubungan dengan musim panas, baik itu matahari, pantai, berjemur, atau yang lainnya. Di musim panas aku lebih suka berdiam di kamar, menyalakan kipas angin, memakai baju mini, sambil minum segala sesuatu yang mengandung es."

"Kebalikan denganku," sahut Urahara santai. "Jangan berkata seperti itu. Bisa kualat, lho. Kalau tak ada matahari, bumi akan gelap, sepi, dingin dan tak ada kehidupan di dunia ini. Kau mau begitu? Aku suka musim panas, terutama mataharinya, walaupun aku tak pernah bisa melihat matahari. Karena di musim panas adalah saat-saat istirahat. Musim panas dan musim semi adalah saat-saat kita bersantai, menikmati indahnya dunia, berpanas-panas ria sesudah menaklukkan musim dingin. Lalu saat musim gugur dan musim dingin tiba, kita harus berkerja keras, melawan dingin, agar dapat menikmati musim panas dan musim semi nanti. Seperti itulah hidup, bagiku."

Yoruichi mendengus tak peduli. "Yah, selera orang kan beda-beda."

Urahara lagi-lagi tertawa santai. "Betul. Kau tahu? Seperti itulah tanggapanku saat diberitahu aku mempunyai penyakit sistinotis. Lalu aku terus berusaha keras, melawan penyakitku ini, melawan emosiku yang labil, melawan kemalasan, melawan keputus asaan. Saat aku bertemu denganmu, aku merenungi tanggapanku waktu itu, dan akhirnya aku sadar. Saat bertemu denganmu dan Kukaku, aku sadar, filosofiku telah berubah. Tau kenapa?"

Kepala Yoruichi menegak begitu namanya disebut. Ia berpikir sebentar. Sedetik kemudian ia menyerah dan menggeleng.

"Karena kau dan Kukaku. Tadinya kalian hanyalah amanat outo-san yang harus disampaikan olehku. Tetapi kalian mengajarkan padaku apa artinya sahabat walaupun tak secara langsung. Terutama kau, Yoruichi. Saat kau ngotot memberikanku sphagetti, aku tersadar, kalau sahabat itu ada untuk berbagi dan untuk membagi. Saat kuajak kau ke apartemenku, kau langsung setuju, padahal aku adalah cowok yang belum begitu kau kenal, bisa saja kan aku berbuat yang tak senooh padamu? Itu membuatku sadar, kalau kita harus mempercayai dan dipercayai sahabat. Mungkin kau tak sadar, mungkin kau lupa, tapi bagiku itu pelajaran yang sangat berarti. "

Yoruichi terdiam. Ia mengingat kejadian demi kejadian yang dituturkan Urahara.

"Bagiku, saat bersama kau adalah musim panas dan saat aku sendiri, memikirkan masa depanku yang tinggal beberapa tahun lagi adalah musim dingin. Bagiku, kau adalah matahariku, yang selalu ada untukku, tersenyum, marah, cemberut, atau menangis untukku. Kau secerah sinar mentari yang menyinariku saat pikiranku buntu, yang menyadarkan mataku dengan silaunya cahayamu hingga mataku menyipit, yang tak bisa kulihat dengan jelas namun sangat berarti bagiku. Seperti itulah dirimu, Yoruichi. Dan kuharap kau bisa menjadi matahariku—atau matahari semua orang—selamanya."

Yoruichi mengartikan kalimat terakhir Urahara sebagai "maukah kau bersahabat denganku selamanya?" atau "kita sahabat selamanya kan?". Ia menutup matanya, terdiam. Tak lama kemudian, ia menatap Urahara, tersenyum semangat.

"Tentu saja!" jawab Yoruichi. Urahara tertawa bahagia. Mereka menatap rintik hujan yang makin sedikit.

"Heeii!! Sedang apa kalian?" sapa sebuah suara, ceria dan penuh semangat. Kukaku. Gadis berambut hitam berantakan itu memarkir sepedanya di sebelah sepeda Urahara, dan duduk di antara mereka.

"Huu… curang kalian, nggak ngajak-ngajak," celoteh Kukaku. Urahara dan Yoruichi hanya tertawa meledek. Urahara lalu memberi intruksi pada Yoruichi agar menceritakan semuanya, dari check up sampai arti persahabatan bagi Urahara, pada Kukaku. Kukaku diam mendengarkan dengan seksama, terkadang ia terkejut, kadang ia tertawa, kadang ia meledek.

"Hahaha…," tawa Kukaku meledak. "Bagiku itu bukan pernyataan persahabatan, tapi lebih ke arah percintaan ya? Gombal sekali kau Urahara!"

Urahara dan Yoruichi ikut tertawa. Muka mereka memang tak memerah—oke, memerah sedikit—walaupun diledek seperti itu. Alasannya, karena mereka sahabat. Itu saja. Jawaban dari semua tingkah laku, bahasa tubuh, ledekkan, dan hubungan mereka.

"Kalau Yoruichi matahariku, kau jadi bulanku ya, Kukaku?" tambah Urahara. Kukaku pura-pura muntah. Yoruichi membuang ludah.

"Benar-benar playboy," bisik Yoruichi keras, sengaja agar terdengar Urahara.

"Ya, jadi kalau Yoruichi tak ada, kau jadi ban serepnya, Kukaku," canda Urahara lagi.

Mereka tertawa bersama.

"Kisuke," sapa Kukaku tanpa menatap wajah Urahara, "apa kau tak malu bersahabat dengan anak perempuan seperti kami? Maksudku…."

"Ya aku tahu," potong Urahara. "Tapi aku tak peduli, siapa sahabatku. Entah itu perempuan, laki-laki, atau bencong sekalian, aku tak peduli. Yang penting adalah kalian sahabatku dan aku sahabat kalian itu saja. Hanya itu, tak lain dan tak bukan. Mungkin akan muncul sahabat-sahabat baru dalam hidupku tapi aku takkan melupakan kalian. Karena kalian sahabatku. Itu adalah jawaban dari semua pertanyaan yang ada di otak kalian sekarang."

"Baik, Paaak," koor Yoruichi dan Kukaku kompak.

"Lagipula, kalian kan bukan perempuan," kata Urahara kalem. Ia langsung di hajar oleh Kukaku dan Yoruichi sampai babak belur.

Akhirnya, mereka terdiam lama sampai menunggu hujan. Lama kelamaan rintik hujan itu menjauh…, makin sedikit, sedikit, dan akhirnya berhenti.

"Akhirnyaa…," desah Yoruichi, Kukaku, dan Urahara bersamaan.

"Hei, hei, tau tidak? Aku punya kabar bagus!" Kukaku berbicara sambil mengeluarkan sepedanya. "Pak Shiba menawarkanku untuk menjadi atlet cadangan di Kejuaraan Junior Internasional bulan depan!"

"Bagus!" sahut Yoruichi dan Kisuke. Mereka bertiga membereskan tas-tas dan sepeda mereka.

"Ah, pelangi," Yoruichi memandang langit. Di sana, dengan warna dasar putih kebiruan, Tuhan melukiskan 7 warna dengan indahnya berserta daun-daun dari pohon-pohon yang ada di hutan buatan di bawahnya bersama genangan air di jalan beraspal. Seolah pelangi itu mengikat persahabatan mereka.

"Yoruichi!" panggil Urahara.

"Ayo, cepat!" tambah Kukaku. Mereka berdua sudah siap dengan sepeda mereka masing-masing. Siap menggoes sepeda, siap meninggalkan Yoruichi yang bengong.

"Yoo…," jawab Yoruichi tak jelas. Matanya tetap menatap pelangi itu tetapi kakinya berjalan lurus menuju Urahara dan Kukaku.

Urahara dan Kukaku berpandangan dengan mata berkilat-kilat.

"Cepat Yoruichi!"

"Kalau tidak…."

"Kami tinggal!!" seru Urahara dan Kukaku ngebut dengan sepedanya meninggalkan Yoruichi.

"Hooi! Sialan kalian!! Tunggu! ****, !$$%^#%!!" Yoruichi mengumpat dengan kata-kata yang tidak senooh hingga terpaksa membuat Author mensensornya.

Ya. Jawaban dari semua pertanyaan Yoruichi soal Urahara dan Kukaku hanya ada satu; sahabat. Karena mereka sahabat. Hanya itu. Tak lebih dan tak kurang.

Yoruichi percaya pada mereka, karena mereka sahabatnya. Urahara mendadak gombal karena mereka bersahabat. Kukaku selalu ceria dan menolong Urahara dan Yoruichi karena mereka sahabat.

Sahabat… jawaban dari semua pertanyaan. Lalu? Apa masa depan mereka? Apa jawabannya juga sahabat?

***

Give me R

Give me E

Give me V

Give me I

Give me E

Give me W

R-E-V-I-E-W!!!!