For Hurt/Comfort no typo Challenge from FFN

~xXx~

C H O I C E

~xXx~

Naruto © Masashi Kishimoto

Choice © Akaneko

~xXx~

Warning : Yaoi, OOC, AU, lemon implisit. DON'T LIKE, PLEASE DON'T READ!!!
BASED ON TRUE STORY

~xXx~

Dedicated from Mr. R who inspired this fict from his true life.

~xXx~

Enjoy please…

l\_/l
(=^_^=)

~xXx~

Sasuke's POV

"Ngh…"

Aku mengerang pelan dan perlahan kubuka kelopak mataku. Memandang sekeliling ruangan yang ternyata adalah kamar tidurku. Kurasakan dengkuran lembut dan aku menoleh ke samping tempat tidurku. Dia masih terlelap dalam mimpi indahnya. Memperlihatkan wajah damainya yang indah diterpa sedikit cahaya yang masuk melalui pori-pori tirai jendela kamar. Kusibakkan poninya yang menutupi sebagian wajahnya. Membelai lembut pipi kecoklatannya. Dan kukecup bibir manisnya perlahan.

"Ohayou, Naruto," lirihku seraya tersenyum.

Dia membuka kelopak matanya, memperlihatkan iris mata sebiru langit cerah yang menyambut kami hari ini. Memandangku dalam senyuman manis yang menghiasi bibir mungil kemerahannya.

"Ohayou, Sasuke…" sahutnya dengan wajah yang masih mengantuk.

"Hn. Aku akan memesan makanan. Kau ingin makan apa?" tanyaku seraya mengenakan celana & hanya bertelanjang dada.

"Aku bisa membuatkannya kalau kau… Ouch…" ringisnya tiba-tiba.

Aku langsung menghampirinya. Kubelai rambutnya dengan lembut.

"Ah… Aku tidak apa-apa. Hanya sedikit rasa sakit pada bagian bawah tubuhku," ucapnya seraya tersenyum.

Aku pun membalas senyumannya dengan kecupan singkat pada bibir mungilnya. Dapat kulihat rona merah menghiasi pipi kecoklatannya.

"Kau manis," ucapku seraya memperlihatkan seringaian menggoda.

"Te-Teme… Aku tak menyangka kalau kau bisa mengatakan hal yang gombal seperti itu," ucapnya dengan menggembungkan pipinya dan rona merah yang semakin terlihat.

"Hn. Aku pun tak pernah menyangkanya. Mungkin karena dirimulah aku bisa mengatakan suatu hal yang gombal. Jadi, salahkan saja dirimu yang telah menarik hatiku."

"Temee…" sungutnya dengan wajah yang semakin memerah.

Aku hanya mendengus geli melihatnya. Menggodanya seperti ini tak pernah membuatku merasa bosan. Lebih dari itu, bersamanya selalu membuatku merasa senang. Saat aku akan beranjak dari ranjang, tiba-tiba lenganku ditarik olehnya. Wajahnya menunjukan suatu kegalauan yang dirasakannya.

"Ada apa?"

Dia masih diam seolah bisu. Melihatnya yang seperti itu, mungkin hal yang ingin dikatakannya begitu penting. Kubelai pipinya lembut sambil tersenyum.

"Ada apa?" tanyaku lagi lebih lembut.

"Ng… Ada 1 hal yang kukhawatirkan…" lirihnya.

Aku mengernyitkan dahiku.

"Ini… mengenai tunanganmu."

"Sakura?"

"Ya… Bagaimana jika dia mengetahui tentang hubungan kita? Apa yang akan kau lakukan? Apa kau akan menyembunyikan ini darinya?" tanyanya dengan nada khawatir.

Aku memandang ke dalam bola mata biru jernihnya.

Sakura, dia memang tunanganku saat ini. Wanita yang kelak akan menjadi pendamping hidupku. Seharusnya begitu, tapi aku menyadari bahwa selama ini kami bersama, tak pernah kurasakan rasa cinta yang sesungguhnya. Itu artinya aku tak sungguh-sungguh mencintainya. Aku justru merasakan cinta saat bersama dengan Naruto. Rasa cinta yang baru pertama kali kurasakan dalam hidupku. Dan kini aku percaya apa yang dikatakan banyak orang bahwa cinta dapat membuat hidupmu begitu indah. Jadi…

"Biarkan saja," ucapku.

"Eh?"

"Biarkan saja dia tahu. Sebaliknya, aku ingin memberitahukan padanya mengenai hubungan kita. Dan akan kuakhiri hubungan kami selama ini agar aku dapat bersamamu."

Naruto menatapku dengan tatapan tak percaya. Wajahnya tampak bodoh.

"Ta-tapi, Sasuke…" Naruto diam sejenak, lalu berkata dengan lirih. "Apa… kau tidak mencintainya? Bukankah selama ini kau selalu bersamanya? Bahkan kalian telah bertunangan. Itu berarti kalian saling men…"

"Tidak, Dobe," potongku cepat.

Mata birunya menatap ke dalam bola mata hitamku mencari maksud dari perkataanku.

"Entah bagaimana dengan dirinya, tapi aku tidak mencintainya. Aku sadar bahwa selama ini kami bersama, aku tidak pernah merasakan cinta untuknya. Tapi aku menemukannya ketika bersamamu, Naruto," jelasku. Kudekatkan wajahnya dengan kedua tanganku. "Kaulah yang mengajariku bagaimana indahnya jatuh cinta yang selama ini tak pernah kurasakan. Kaulah yang telah merebut hatiku ini. Dan kaulah yang mengisi kehampaan dalam hidupku sejak pertama kali kita bertemu."

Lalu kucium bibir kemerahannya. Menyusupkan lidahku diantara belahan bibir tipisnya memasuki rongga mulutnya. Menikmati setiap mili yang ada di dalamnya. Mengecap rasa manis yang telah membuatku mabuk kepayang.

"Mmh… Ngh… Puaaah…"

Tak lama Naruto langsung melepaskankan ciuman kami dan menarik nafas sebanyak yang dia bisa.

"Ba-baka Teme! Kau membuatku sulit bernafas!" serunya dengan wajah yang telah memerah.

Aku tertawa kecil melihat reaksinya yang menggemaskan. Lalu aku beranjak dari atas ranjang dan mengambil telepon yang ada di meja kecil di samping ranjang. Memesan makanan untuk sarapan kami. Lalu aku berjalan kearah kamar mandi. Tepat sebelum masuk, aku menoleh padanya.

"Hei, Dobe, mau mandi bersama?" tanyaku sambil menunjukkan seringaianku.

"Te-Teme hentai!!!" serunya sambil melemparkan sebuah bantal tak berdosa kearahku dengan wajah yang telah memerah seperti buah kesukaanku.

l\_/l
(=^_^=)

Di dalam lift yang lengang itu, kugenggam tangan hangatnya. Lift ini turun dari lantai 7 menuju lantai dasar basement. Hari ini kami bermaksud untuk berjalan-jalan ke taman bermain. Katanya ada kontes aeromodelling dan dia ingin melihatnya. Tadinya kupikir dia benar-benar ingin ke sana untuk bermain layaknya anak kecil, tapi dia langsung merengut kesal ketika aku mengatakannya. Benar-benar si Dobe ini sangat menggemaskan.

Selama berada di dalam lift, kami terus berpegangan tangan. Tanpa memperdulikan akan dilihat orang lain begitu keluar. Tepat saat kami keluar dari lift, terdengar suara orang yang kukenal.

"Sasuke-kun!"

Kami langsung menoleh kearah sumber suara dan mendapati Sakura yang berdiri di samping mobil Honda Jazz pink miliknya. Naruto bermaksud melepaskan genggaman tangan kami, tapi aku semakin menggenggam tangannya erat. Tak ingin melepaskannya. Aku sudah berniat untuk tidak menyembunyikan hubungan ini. Dan akan kuakhiri hubunganku dengan wanita ini. Lalu Sakura menghampiri kami.

"Sasuke-kun, kenapa kau tiba-tiba membatalkan kencan kita? Bukankah seharusnya hari ini kita mencari pakaian yang pantas kita kenakan untuk menghadiri undangan pernikahan Shikamaru dan Temari?" tanyanya dengan nada yang cukup emosi.

"Hn. Aku punya urusan yang lebih penting dari pada itu," sahutku datar.

"Apa? Urusan ap-…" perkataannya terpotong dan arah pandangnya mengarah pada tangan kami. "Ke-kenapa kalian berpegangan tangan seperti itu? Apa-apaan kalian ini?!" serunya marah.

Wajahnya tampak begitu marah. Dia menatapaku dengan pandangan aneh dan tak percaya. Sementara dapat kurasakan tangan Naruto yang gemetaran. Kugenggam dengan erat untuk menenangkannya.

"Memangnya kenapa?" sahutku dingin.

"Sa-Sasuke-kun… jangan katakan bahwa kau dan anak ini…"

"Ya. Kami telah menjalin hubungan," potongku.

Wajahnya menunjukan ekspresi terkejut, tidak percaya, marah, kecewa, galau, dan sebagainya. Semuanya tampak di wajahnya. Aku tahu bahwa ini akan terjadi, tapi aku sudah menetapkan hatiku pada Naruto. Walaupun aku disebut sebagai seorang bajingan yang telah mencampakkannya, aku tak perduli. Kulepas genggaman tanganku pada Naruto. Lalu kulepas cincin perak yang bersemat di jari manis kiriku.

"Ini, ambillah. Mulai sekarang, hubungan kita cukup sampai di sini. Aku sadar bahwa selama ini aku tak pernah mencintaimu. Dan kini aku telah menemukan cinta yang sesungguhnya bersama Naruto. Biarkan kami bahagia. Dan kau, carilah orang yang sungguh-sungguh mencintaimu. Karena aku tak pantas untukmu, Sakura," ucapku sambil menyerahkan cincin tunangan kami padanya.

Ditepisnya tanganku dengan dengan kasar sehingga cincin tak bersalah itu terlempar di sudut jalan dan menghasilkan dentingan halus ketika cincin itu terjatuh. Tubuh wanita itu gemetaran dan memandangku dengan mata yang berkaca-kaca. Amarah mulai menguasainya. Sedangkan aku tetap memasang wajah stoic-ku.

"KALIAN MENJIJIKKAN!!!" serunya sehingga menggema di setiap sudut tempat ini. "Pantas saja… Pantas saja aku merasa akhir-akhir ini kau menjadi aneh, Sasuke-kun! kau selalu menolak sms maupun telepon dariku! Dan ternyata… ternyata semua ini gara-gara dia?!" serunya sambil memandang kearah Naruto tajam dengan mata yang basah akan air matanya.

"A-aku…" ucap Naruto gemetaran.

"Kau! Apa yang kau lakukan pada Sasuke-kun?! Gara-gara kau… gara-gara bertemu denganmu, kau membuat hancur kehidupan kami! Seharusnya kau tak ada di antara kami! Enyah kau! Pergi dari kehidupan kami! Dasar makhluk rendah!"

Kulihat emosinya semakin memuncak dan dia sudah bersiap melayangkan sebuah tamparan pada Naruto. Dengan cepat kugenggam tangannya dan melindungi Naruto di belakangku.

"Hentikan, Sakura!" bentakku emosi.

Sakura tersentak mendengarnya. Mata emerald-nya yang memandangku terus mengeluarkan air mata bening yang membasahi pipinya.

"Kenapa… kenapa kau lakukan semua ini padaku, Sasuke-kun…?" tanyanya lirih.

Tersirat kekecewaan dan perasaan terluka yang dalam dari dirinya. Aku melepaskan genggaman tanganku padanya yang mengakibatkan bekas kemerahan pada pergelangan tangannya.

"Maafkan aku…" ucapku lirih. "Aku hanya ingin menggapai kebahagiaan yang selama ini kucari. Tetapi sayangnya kebahagiaan itu tak akan bisa kuraih jika bersamamu. Karena hatiku tidak memilihmu. Kau boleh mengatakan aku kejam, brengsek, ataupun menjijikkan, tapi ini adalah jalan yang telah kupilih. Dan aku berharap kau mengerti itu."

"Tidak… Aku tidak mengerti itu! Dan aku tidak mau mengerti hal itu!" serunya kembali histeris. "Kalian… kalian akan menyesal telah melakukan semua ini padaku! Kalian akan menyesal!!!"

Sakura langsung berlari menuju mobilnya dan segera pergi dari tempat ini. Kami hanya memperhatikannya dalam diam. Tempat ini kembali sepi, tapi kami belum juga beranjak dari sana. Mematung dalam kesunyian.

Menyesal?

Kuputar tubuhku dan memeluk tubuh Naruto yang gemetaran. Aku tahu bahwa dia sangat ketakutan akan kejadian ini. Hal ini mungkin akan mengusik hidupnya selama beberapa waktu dalam menjalani hubungan kami selanjutnya. Yang dapat kulakukan saat ini hanya menenangkan dirinya dalam dekapanku.

"Aku… tak akan menyesal," ucapku lirih. "Walaupun dunia menentang kita, aku tak akan menyesal. Karena ini adalah jalan yang kupilih untuk meraih kebahagiaan bersamamu. Karena itulah… Naruto…" Kudongakan wajahnya padaku. "Bersama… kita berdua hadapi semua yang akan terjadi setelah ini. Berdampingan berjalan bersama demi kebahagiaan kita berdua. Jangan pernah lepaskan dirimu dalam dekapanku. Begitupun diriku, tak akan pernah melepasmu jika kau ingin kita ingin terus bersama, Naruto."

Naruto langsung memelukku dengan erat. Membenamkan wajahnya dalam dada bidangku.

"Iya, Sasuke… iya…" lirihnya.

Aku membelai rambut pirangnya yang lembut. Mendekapnya seperti ini memberikan kehangatan pada hatiku untuk keberanian yang lebih dalam menghadapi cobaan yang akan kami hadapi setelah ini. Berharap kami dapat melewati semuanya dengan baik. Walaupun mungkin menyakitkan, tapi jika kami bersama pasti dapat kami lalui. Kami-sama, berikanlah kami kebahagiaan diujung penderitaan kami yang akan kami hadapi nanti. Biarkanlah kami tetap bersama demi kehidupan yang bahagia milik kami. Kabulkanlah permohonanku sekali ini saja.

l\_/l
(=^_^=)

Aku sudah siap dengan segala konsekuensi yang ada. Hinaan, cercaan, makian, dan lainnya, aku bersedia menanggungnya. Tekadku sudah bulat mengenai hal ini. Aku tak akn goyah walaupun kini aku harus berhadapan dengan ayahku, Uchiha Fugaku.

"Jelaskan semuanya, Sasuke," ujarnya datar tapi tetap menusuk.

Mata obisidian kami saling beradu dalam tatapan dingin. Jelas terpancar darinya bahwa dia tidak suka dengan keputusan yang telah kuambil secara sepihak ini. Rumor bahwa aku telah memutuskan pertunanganku dengan Sakura telah sampai di telinganya. Bisa kuduga bahwa Sakura-lah yang mengadukan hal ini padanya. Tapi itu tak berpengaruh bagiku. Karena memang awalnya aku ingin memberitahukan hal ini langsung padanya. Hanya saja aku masih mencari waktu yang tepat untuk mengatakannya. Jika sudah seperti ini, aku tidak akan menutup-nutupinya lagi.

"Aku telah menemukan orang yang sungguh-sungguh kucintai, Tousan."

Tousan tetap diam tanpa bereaksi apa-apa. Tapi aku tahu dalam benaknya ada banyak pertanyaan. Dan dia ingin aku menjelaskan lebih lengkap mengenai hal ini. Kami tetap diam hingga aku kembali bersuara.

"Aku… mungkin telah jatuh cinta padanya sejak pertama kali bertemu. Dia memang terlihat bodoh dengan keceriaannya itu. Tapi dia terlihat begitu menyilaukan dan tampak begitu indah," ucapku tanpa sadar menyunggingkan senyuman lembut ketika mengingat dirinya. "Dia selalu bisa membuatku senang dan tak pernah aku merasa bosan ketika bersamanya. Aku sadar bahwa dialah yang aku cinta. Sosok yang aku cari selama ini untuk mengisi setiap detik waktuku. Sayangnya semua yang kuinginkan itu tak pernah kutemukan dalam diri Sakura. Karena itulah aku memutuskan pertunangan ini dengannya," ujarku tegas.

Tousan diam sesaat sebelum angkat bicara.

"Apa kau tahu akibat dari keputusanmu yang sembrono ini?"

Aku menatap Tousan tanpa gentar.

"Aku tahu. Tapi ini jalan yang telah kupilih dalam kehidupanku. Aku… telah menetapkan hatiku untuk memilihnya. Aku ingin menjalani hidup ini bersamanya. Walaupun semua orang menentangku, aku akan tetap memilihnya. Tak perduli jika semua yang telah kumiliki harus kukorbankan demi dirinya. Karena ini adalah jalan hidupku. Aku hanya manusia yang ingin hidup bahagia… bersamanya."

Tiba-tiba Tousan bangkit dari duduknya dan berjalan menjauh. Aku cukup terkejut dengan sikapnya itu. Kenapa dia tidak berkata apapun? Kenapa dia tiba-tiba menyudahi pembicaraan ini dengan sikap seperti itu?

"Tousan…"

"Pergi kau!"

Aku terpaku mendengar nada dingin dari kata-katanya. Dia diam berdiri di sana tanpa menoleh kearahku sedikitpun. Membelakangiku dengan punggung dinginnya.

"Pergi kau dari sini! Dan jangan pernah menginjakan kakimu di rumah ini lagi! Aku tak ingin melihatmu lagi di hadapanku!" ujarnya dingin sambil berlalu.

Dadaku terasa sakit ketika mendengarnya. Aku tahu bahwa Tousan memang selalu bersikap dingin, tapi untuk kali ini saja aku merasa kata-katanya begitu menyakitkan. Dia marah. Tentu saja dia marah pada anaknya yang tak bisa diharapkan ini. Anaknya yang telah dibesarkannya tanpa sang pendamping hidup selama ini. Kaasan yang berada di surga pun pasti akan membenciku yang telah menyimpang dan mencoreng nama baik 'Uchiha'. Aku sangat tahu hal itu. Tapi…

"Gomennasai… Tousan…" ucapku lirih.

Aku tahu dia tak akan mendengarnya. Karena dia telah pergi melewati pintu kayu dingin itu. Membatasi antara dunia yang ditinggalinya dengan duniaku. Dunia kami telah berbeda. Lalu aku mulai beranjak dari tempatku. Berjalan dengan langkah gontai meninggalkan rumah yang 'dulu' merupakan tempat tinggalku. Tapi 'sekarang' rumah ini hanya milik Tousan dan Aniki saja yang boleh memasukinya. Karena aku bukanlah bagian dari 'Uchiha' lagi.

"Sayonara… Tousan… Aniki…"

l\_/l
(=^_^=)

"Teme… ada apa? Apa terjadi sesuatu padamu?" tanya Naruto dengan lembut seraya membelai rambutku lembut.

Aku tetap diam dalam pangkuannya yang hangat sambil memejamkan mata. Menikmati sentuhan lembutnya yang memanjakan diriku saat ini. Setelah kembali ke apartemen ini, aku langsung menghubungi Naruto untuk segera datang ke tempatku. Aku tak menjelaskan apapun padanya sejak tadi. Hanya terus diam dalam belaian lembutnya untuk menenangkan hatiku yang tengah kacau.

Pikiranku kembali melayang. Ini sudah menjadi keputusanku untuk memilih bersamanya dan resiko membuang segalanya yang telah kumiliki. Aku tahu bahwa semua ini tidaklah mudah. Tapi tetap saja rasa sakit itu terus menggerogoti hatiku. Membuatku merasa begitu pilu.

"Teme…" panggilnya lembut. "Sudah larut malam, aku harus pulang. Nanti Iruka-san mencariku," ujarnya.

Aku langsung menggenggam tangannya. Aku duduk di sampingnya masih tetap menggenggam tangannya. Memandang jauh ke dalam bola mata safirnya. Wajahnya menunjukkan ekspresi bertanya-tanya. Kudekatkan wajahku padanya. Menyatukan bibir dinginku dengan bibir mungilnya dalam sebuah kecupan lembut.

"Jangan pergi…" lirihku.

Kubenamkan wajahku dilekukan lehernya. Menghirup aroma citrus yang menguar dari dirinya. Aroma yang selalu membuatku mabuk kepayang dalam ketenangan. Memeluk tubuhnya yang ramping untuk berada di sisiku saat ini.

"Temani aku malam ini… Tetaplah di sisiku, Naruto…"

Kukecup lehernya dengan lembut yang menghasilkan desahan menggoda meluncur dari bibir kemerahannya.

"Nnngh… Sa-Sasuke…" desahnya.

Kembali malam ini kulewatkan bersama dirinya yang kucinta. Membiarkan jiwa dan raga kami menyatu dalam alunan bercinta. Berselimutkan langit malam berbintang dengan indahnya. Biarlah esok datang dan akan kami jalankan esok pula. Saat ini, aku hanya ingin menikmati waktu kami berdua saja. Hanya berdua…

-

-

~TBC~

-

-

Ya, silahkan yg mau protes, flame & segala macemnya gara2 fict ini kelamaan apdet. Salahkan aja sama ujian sialan itu! *nunjuk2 UAS*

Udah gitu lebih pendek dari sebelumnya lagi… *sigh*
Niatnya mau buat cuma 2 chap, tp malah kayaknya nambah nih. Soalnya ceritanya oom R emang panjang sih. =_=;

Udahlah, sekarang udah jam setengah 6 pagi. Neko belom tidur nih. Jd ga banyak cing-cong wae' lah…

Akaneko as the Demon Queen

MIND TO REVIEW?