Try Out pertama udah slese! XD neraka belajar mati-matian buat TO bisa dilewati juga... Walau tidak menjamin saya akan update fict ini lebih cepat... Baru selesai TO, guru-guru berbondong-bondong ngasih tugas TT_TT teganya...

Review Reply :

Dei : Tenkyu Dei! XD Tepatnya baru mereka n kurcaci itu di pulau (klo maen pasti tau sebenernya masih ada yang laen). Makasih sarannya, saya coba perbaiki :D makasih juga dukungannya ^o^

Yue Ecchi : Tenkyu XD Jadi malu dibilang ngak kayak newbie… Sebenernya saya banyak mencontoh dari fict HM yang Inggris. Hehehe…

Vi Chan : Tenkyu dah review XD Yei! Ada yang maen juga! Udah sampai mana maennya? Saya masih winter tahun pertama nih, hati cowok-cowoknya juga masih ungu… Fict ini kurang lebih progressnya berdasarkan yang saya maenin juga. Hahaha..

Thank you for all who read and review my story ^^ can you imagine how happy I was when I read your reviews? I WANT TO SCREAM AS LOUD AS I CAN! XD

Oops. Off with the chitchat, on with the story.

Wondering when Harvest Moon will be mine…

--=Starting Up=--

~*.-*-.*~

-=2 Spring=-

Dimana ini? Sepanjang penglihatanku, hanya ada bunga-bunga berwarna putih dan kuning menghiasi rerumputan dan kelopak-kelopak bunga berwarna merah muda bertebaran di sekitarku. Padang bunga? Kenapa aku bisa ada di sini? Angin dengan lembut bertiup, mengontrol kelopak-kelopak bunga itu untuk terbang menari di udara. Tanganku tanpa sadar meraihnya, dan dengan lincah kelopak-kelopak bunga itu mengitari tanganku tanpa dapat kutangkap. Padang bunga yang indah, tetapi terasa sepi…

"Chelsea!" Seseorang memanggilku, aku mengenal suara itu! Kuedarkan pandanganku ke segala penjuru, mencari pemilik suara yang telah memanggilku tadi.

"Hey." Lagi! Suara yang kukenal! Aku mencoba berjalan menuju arah 2 suara yang kedengar tadi. Hingga mataku menemukannya, di sebuah bukit. Disana, berdiri 2 orang yang kucari, pemilik suara-suara yang sangat kurindukan.

"Ibu! Ayah!" Aku berteriak, melangkahkan kakiku secepat mungkin, menuju tempat ibu dan ayahku. Aku berlari sekuat yang aku bisa, tetapi tiba-tiba sekitarku menjadi hitam. Padang bunga tadi lenyap, juga kedua orang tuaku.

Langkahku terhenti. Gelap… Sepi…

"Ibu, ada apa dengan ayah?" Samar-samar terdengar suara seseorang. Sebuah pemandangan muncul di depanku. Seorang anak kecil berambut coklat muda dengan bandana merah di kepalanya, sedang menarik-narik celana ibunya sambil menggandeng seorang anak kecil lainnya berambut coklat tua.

Itu aku! Aku dan adikku sewaktu kecil!

"Ayah…" Ibuku tertahan sebentar sebelum melanjutkan perkataannya, "Ayah… Tidak bisa… Pu-pulang… Ke rumah…"

"Kenapa ayah tidak bisa pulang? Apa dia ditahan oleh kakek buyut lagi?"

"Tidak…" Ibuku memelukku dan adikku yang masih kecil, pundaknya bergetar, air mata sudah tak kuasa dibendungnya.

"Ibu…" Suaranya menjauh, pemandangan di depanku pun menghilang lagi. Kembali hitam…

PIP.. PIP… PIIIPPPP….

Sebuah suara yang nyaring terdengar. Kali ini pemandangan yang muncul adalah ibuku yang terbaring di rumah sakit, matanya tertutup, sebuah senyum terukir di wajahnya. Aku, adikku dan ayahku sangat menyukai senyuman itu, sangat tulus, kami bahkan menjuluki ibu 'malaikat', bukan hanya karena senyumannya tetapi sikap dan tingkah lakunya pun bagaikan malaikat di mata kami. Aku dan adikku berdiri di samping ranjang ibuku. Kami menangis… Karena ibu kami, sudah tidak dapat bersama kami lagi.. Ia menyusul kepergian ayah…

DOK! DOK! DOK!

Sebuah suara yang kencang membangunkanku. Napasku memburu, keringat dingin keluar dari sekujur tubuhku, setetes air mata jatuh membasahi bajuku. Mimpi… Sudah 12 tahun berlalu sejak kepergian ibu... 15 tahun, sejak kepergian ayah...

DOK! DOK! DOK!

Suara kencang itu menyadarkanku dari lamunan. Aku segera bangkit dari tempat tidurku, menghapus air mataku dan berjalan menuju ambang pintu dan membukanya. Taro berdiri di sana, membawa sebuah keranjang di tangan kirinya.

"Akhirnya kau bangun juga! Ini ada sedikit makanan. Kau pasti belum makan dari kemarin" Dia menyodorkan keranjang yang dibawanya.

"Terima kasih Taro" Kuraih keranjang tersebut dan memberi sebuah senyuman tanda terima kasihku padanya. Memang sejak di kapal aku belum makan apa-apa…

"Aku yakin masih ada hal yang harus kau bereskan karena kita tidak membersihkan rumahmu seluruhnya kemarin. Bila kau butuh sesuatu, datang saja ke rumahku. Di dekat rumahku ada sebuah sumur, kau bisa mengambil air untuk minum disana. Aku akan datang lagi nanti untuk mengajarimu tentang beternak." Dengan itu dia membalikkan badannya dan berjalan menuju rumahnya.

Kututup pintu rumahku, meletakkan keranjang pemberian Taro di atas meja dan menyantap isinya. Selesai sarapan aku mulai melanjutkan membereskan rumah, tidak banyak yang harus dilakukan, hanya memperbaiki lemari kecil yang ada di sudut ruangan, merapihkan barang-barang, menata rumah, dan hal-hal kecil lainnya.

Hampir tengah hari, tugasku membersihkan rumah selesai. Lemari kecil yang terletak di sudut ruangan sudah kuperbaiki, barang-barangku sudah kuletakkan pada tempat yang pantas, seluruh sudut sudah disapu hingga bersih. Yup, jauh lebih baik, tinggal memperbaiki beberapa bagian rumah yang rusak tetapi karena aku tidak mempunyai peralatan untuk memperbaikinya terpaksa kudiamkan begitu saja.

Aku mulai membersihkan diriku, mengganti bajuku dengan kaus panjang berwarna kuning, dilapisi kemeja orange dan celana pendek berwarna biru. Untunglah aku membawa 1 set baju di ranselku untuk berjaga-jaga.. Aku menyisir rambut coklatku dan mengikat bandanaku sambil mengingat-ngingat hal yang harus dilakukan hari ini. Nanti Taro akan datang untuk mengajari tentang beternak, lalu aku harus membereskan ladang, bagaimana caranya aku menghubungi Celia? Hmm…

DOK! DOK! DOK!

Pintu rumahku kembali diketuk, membuyarkan pemikiranku. Aku berjalan menuju pintu dan membukanya, kembali aku melihat Taro berdiri di depan pintu rumahku.

"Hei Chelsea! Aku lupa memberitahumu tadi pagi, sebenarnya kemarin kami berhasil menghubungi kapal terdekat dan memberitahukan kondisi kita di sini dengan menggunakan radio komunikasi, sekarang ada orang yang datang ke pulau ini dan sedang berada di pantai, segeralah kesana!" Taro kemudian berbalik, dan berjalan menuju pantai.

Aku masih tertegun sejenak. Pendatang baru? Cepat sekali ada orang yang datang ke pulau ini? Aku kemudian kembali memasuki rumah, meraih ransel merahku, mengenakan sepatu bootku yang juga berwarna merah dan beranjak keluar menuju pantai. Kemarin aku tidak begitu memperhatikan, tetapi bila dilihat baik-baik pulau ini mempunyai tidak terlalu tandus juga. Di sekitar sungai ada beberapa rumput yang tumbuh dan di seberang sungai ada hutan yang lebat, sayang jembatan yang menghubungkan rusak.. Di sebelah timur jalan menyempit dan terhalang oleh batu besar. Aku mengerutkan dahiku, kenapa bisa ada batu besar di situ? Kembali ke tujuan awalku, aku melangkah menuju pantai dan melihat Taro dengan Felicia di sampingnya dan 2 orang lain yang belum pernah kulihat.

~*.-*-.*~

"Hey! Lama sekali kau!" Taro memanggilku dari kejauhan.

"Ah, kau pasti Chelsea." Seorang pria dengan ikat kepala berwarna abu-abu, mengenakan baju putih dan ungu menyapa kami. "Namaku Chen, dan ini anakku, Charlie." Dia menunjuk kepada anak kecil yang ada di sampingnya.

"Salam kenal!" Anak ini juga mengenakan ikat kepala yang sama dan mengenakan rompi berwarna coklat di atas baju berwarna abu-abu.

"Kami pedagang, senang bertemu denganmu. Sebenarnya aku baru saja menjual toko lamaku di kota dan berniat untuk mengganti suasana. Dan aku sedang mencari pulau untuk membuka toko baru, dan kupikir pulau ini yang paling berpotensi. Aku tahu pulau ini terlihat sepi sekarang, tetapi kudengar dulu tempat ini merupakan kota yang ramai. Sekarang karena ada kau menjadi peternak di sini, Chelsea aku rasa bisnis akan mulai berjalan kembali."

"Chen bahkan telah mengatur agar kapal barang dapat berlabuh di sini secara rutin! Sekarang kita bisa menjual hasil-hasil dari ladangmu Chelsea." Felicia menambahkan.

"Lihat? Aku tahu semua akan berjalan dengan baik!" Taro berkata dengan bangganya.

"Dan karena kau akan mengurus ladang akan kupastikan untuk mempunyai stok benih di tokoku." Chen kembali berbicara.

"Itu hebat! Kuakui awalnya aku tidak yakin bagaimana kau akan mengurus ladangmu. Tetapi karena Chen sudah ada di sini, kau mempunyai semua yang kau butuhkan untuk memulai bertani!"

"Tapi bila kau ingin membuat sebuah peternakan, kau membutuhkan hewan-hewan ternak. Aku mengenal beberapa penjual hewan ternak, akan kucoba yang aku bisa."

"Sempurna! Terima kasih banyak, Chen!" Taro terlihat sangat senang karena semuanya berjalan dengan lancar.

"Ah, terima kasih, Chen. Kedatanganmu sangat membantu. Aku tidak habis pikir bagaimana jadinya bila kau tidak datang ke pulau ini." Hanya itu yang dapat kukatakan sedari tadi. Kedatangan Chen ke pulau ini sungguh tak pernah kupikirkan! Aku bersyukur dari lubuk hatiku yang paling dalam karena semua dapat berjalan dengan mulus. Mungkinkah ini berkat dari Harvest Goddess?

"Tidak, tidak. Terima kasih. Bila kalian tidak tidak memberitahukan kondisi kalian kemarin, aku tidak akan tahu ada pulau yang bagus seperti ini dan entah dimana toko baruku akan kubuka." Hening sejenak, lalu dia kembali melanjutkan. "Kapal ini dapat pergi ke kota hari ini. Mungkin kalian mau pergi untuk mencari sesuatu?"

"Itu bagus! Aku dapat mulai mencari pembeli di kota!" Felicia tampak gembira. "Kalau begitu aku akan kembali ke rumah dulu untuk membereskan barang-barangku. Ayah, tolong jaga anak-anak selama aku pergi ke kota ya?"

"Tenang saja!" Taro menjawab dengan mantap.

"Ah! Felicia, bisakah kau mengatur sambungan telepon untuk pulau ini?" Aku teringat akan hal penting yang kupikirkan dari kemarin malam.

"Tentu, akan kuusahakan. Terima kasih sudah mengingatkan, Chelsea. Aku sama sekali lupa pulau ini tidak memungkinkan kita untuk menelepon orang di luar pulau."

"Nah, sekarang kita hanya perlu menemukan tempat yang bagus untuk membuka toko." Chen kembali berbicara.

"Di dekat rumahku masih ada beberapa bangunan lainnya yang dapat kau rombak. Ayo, ikuti aku!" Taro membalikkan badannya dan berjalan ke utara, kami semua mengikutinya.

~*.-*-.*~

Kami berhenti di sebuah bangunan kecil tidak jauh dari rumah Taro, sedikit ke arah barat daya dan di sebelah selatan sumur, Chen memutuskan untuk membuka tokonya di sana. Felicia masuk ke dalam rumahnya untuk membereskan barang-barang. Sedangkan Taro mengajakku untuk kembali ke peternakan untuk mengajariku tentang menanam tanaman di ladang.

Sisa hari kupenuhi dengan menanam 3 lahan turnip berukuran 3x3 yang kudapat dari Taro setelah mendengarkan 'ceramah'nya tentang menanam, mengurus dan memanen tanaman, selesai menceramahiku Taro kembali ke rumahnya, lalu aku juga mencabuti rumput-rumput liar yang tumbuh di seluruh ladangku, bukan pekerjaan yang mudah walau Noe datang dan menawarkan bantuan padaku karena jumlahnya terlalu banyak. Taro juga memberiku peralatan-peralatan lamanya, dan peralatan-peralatan tersebut masih dapat digunakan dengan baik. Tidak ada tanda-tanda berkarat sama sekali! Ladang sudah lebih bersih dari sebelumnya setidaknya seperempat bagian ladang atau lebih tepatnya sebelah utara rumahku, dan aku beranjak masuk ke dalam rumah kecilku dan merebahkan diri di atas tempat tidur.

Hari ini juga rasanya lelah sekali… Padahal rasanya hanya melakukan sedikit aktivitas, mungkin belum terbiasa saja… Chen mungkin akan membuka tokonya besok, sebaiknya aku mampir dan membeli beberapa barang untuk mengisi rumahku. Apa nanti juga akan datang orang yang menjual hewan ternak? Lalu tukang kayu? Taro tadi mengatakan tiupan angin memberitahukannya besok akan hujan lebat, sehingga aku tidak perlu menyirami tanamanku besok. Jujur aku kurang yakin. Tiupan angin? Taro bisa mendengar suara angin atau semacamnya? Apa itu kemampuan khusus yang didapat setelah sekian lama menjadi seorang peternak? Pikiranku mulai melayang-layang tidak tentu arah, hingga tanpa sadar aku tertidur..

-Chapter 1- End

Akhirnya selesai… Bagian akhir agak maksa nih.. Huhuhu…

Mmm… Ada yang bisa nebak siapa ortu Chelsea? Saya ngasih hint yang agak kurang jelas juga sih. Yang pasti mereka tokoh HM juga dari seri lainnya :D

Saya kurang bisa deskripsiin Chen dan Charlie, ngak ngerti model baju mereka. Sebenarnya chara-chara yang lain deskripsi penampilannya juga kurang jelas.. Mohon maaf, mungkin bisa dibantu oleh Om Google? ^^;

Beberapa kata tetap saya pakai dalam bahasa Inggris, soalnya lebih pas.. Klo ngomong menanam lobak, rasanya gimanaaa gitu..

Silahkan hina sepuasnya fict yang masih belum tentu arah ini… Di flame sampai tetangga kecipratan apinya juga boleh..

Next chapter Chelsea akan kedatangan bachelor baru :3