Mohon maap updatenya lama! DX selain saya menderita penyakit 'tidak-bisa-mengetik-karena-ide-tidak-dapat-disalurkan', sekolah menjadikan bulan yang seharusnya penuh dengan cinta menjadi bulan yang penuh dengan TO! Tiap minggu pasti ada TO! Maap buat semua yang nunggu! (Ada ngak ya? Semoga ada)
Err… saya masih bingung sama penggunaan tanda baca, jadi mungkin masih ada yang ngaco di sini. Tolong dikasih tau yang mana salahnya ya… Ngomong2, chapter ini jauh lebih panjang dari chapter sebelumnya. Maaf kalau bikin ngantuk m(_ _)m
Review Reply :
Dei~ Saya seneng banget dibilang deskripsinya bagus ^v^ padahal menurut saya kurang gimanaaa gitu. Dei klo dah main bagi2 progressnya yah ^o^
Teacupz~ Tenkyu buat saran n reviewnya! XD saya sudah coba perbaiki, klo ada yang salah2 lagi tolong kasih tau yah ^^;
LastName~ Tenkyu repiewnya v lagi UAS? Klo saya lagi TO (serius ngak minat blajar sama skali!) Silahkan maen, ngak nyesel kok maennya :D menurut saya gamenya menantang karena banyak yang harus 'dibuka' dan perlu syarat yang lumayan susah juga.
Vi chan~ ada cheatnya yah? Saya coba cari2 tapi ngak nemu2 cheatnya. Boleh bagi2? Bachelor pertama di pulau kan Elliot, dari awal saya udah ngak minat sama dia. Jadi dari pada buang2 duit ngasih dia cokelat, diajak ngobrol aja tiap hari. Buat bachelor yang lain, hampir semuanya saya kasih hadiah tiap hari (apalagi yang cuman dateng 2x seminggu! Susah bgt naikkin hatinya). Rune Factory ya? Pengen coba, tapi ntar yang IoH terlantar… Pairing? Silahkan tebak2 dulu, biar saya bilang udah nentuin dari awal sebenernya masih terpaku pada 2 pilihan… Masih bingung…
Yue Ecchi~ makasih dah direpiew gpp kok telat, saya updatenya juga telat bgt... mahap yah saya ngak bisa nepatin janji buat chapter ini… Kemunculan ###### terpaksa digeser ke chapter berikutnya…
Kalau Harvest Moon punya saya, pasti ngak bakal terkenal kayak sekarang.
--=Phone Call=--
~*.-*-.*~
-= 9 Spring=-
DOK! DOK! DOK!
"HEY! APA ADA ORANG DI DALAM?" sebuah suara yang besar mengejutkanku yang sedang tertidur lelap. Dengan tidak rela aku menyeret tubuhku turun dari ranjang kecilku dan berjalan menuju pintu masuk. Begitu kubuka, hampir saja aku berteriak karena merasa melihat seekor gorila! Seorang pria bertubuh sangat besar berdiri di depanku. Kulihat dia mempunyai lengan yang besar dan kekar, mengenakan baju putih yang sepertinya sangat tipis dan celana pendek berwarna hitam.
"Aaa… Ada apa ya?" dengan takut-takut aku berbicara.
"Hey! Chen memberitahuku orang-orang mulai datang ke pulau ini. Kupikir kalian akan membutuhkan seorang tukang kayu. Namaku Gannon! Senang bertemu denganmu!" dia memperkenalkan diri padaku sambil mengulurkan tangannya yang besar dan dengan raut wajah yang tergolong cukup untuk membuat anak kecil menangis ketakutan.
"Aaa… Senang bertemu denganmu, Gannon. Ah, namaku Chelsea," kujulurkan tanganku untuk menyambut uluran tangannya. Mmm… tanganku seperti tangan bayi di dalam genggaman tangannya yang sangat besar...
"Jangan berwajah menyeramkan seperti itu, ayah," Tiba-tiba terdengar sebuah suara kecil dari balik tubuh besar Gannon. Sebuah pita merah yang besar, itu yang pertama kali masuk dalam penglihatanku. Dan sesosok anak perempuan yang bagai boneka muncul dari balik badan Gannon. Pita merah yang besar menghiasi rambut pirang keritingnya, matanya besar dan berwarna hijau, pakaiannya pun manis seperti boneka dengan warna-warna orange, coklat dan kuning. Setelah mataku memperhatikan makhluk kecil yang baru saja muncul ini dari atas ke bawah, otakku mulai mencerna apa yang dikatakannya barusan.
"Ayah?" tanpa sengaja aku menyuarakan pikiranku dan sepertinya cukup keras untuk didengar oleh kedua lawan bicaraku.
"Hai, kakak. Namaku Eliza, senang bertemu denganmu. Walau terlihat mustahil, tapi aku benar-benar anak dari ayahku ini kok!" anak yang bernama Eliza itu memperkenalkan dirinya padaku sambil tersenyum dengan manisnya. Secara penampilan memang rasanya mustahil anak yang seperti boneka ini mempunyai darah yang sama dengan Gannon.
"Ah, h-hai," sapaku pada Eliza, masih sedikit shock dengan fakta yang baru saja diungkapkannya.
"Ahahaha. Maaf, Chelsea wajahku memang sudah seperti ini dari dulu," kata Gannon sambil tertawa, ia terlihat lebih ramah dari sebelumnya.
"Iya, kakak, ayahku ini sebenarnya baik hati kok hanya wajahnya saja yang agak menakutkan," mungkin Eliza tidak bermaksud buruk? Tapi mendengar hal itu dari putrinya wajah Gannon tertunduk.
"Eliza…" rintih Gannon dengan suara kecil, kemudian ia mengangkat wajahnya dan menghadap ke arahku dengan ekspresi yang seperti sebelumnya "Yah… Bila kau perlu membangun sesuatu di peternakanmu, bilang saja padaku. Tentunya kau harus membayar dan aku juga memerlukan bahan untuk membangunnya!"
"Mmm… Maaf, Gannon, apa kau dapat memperbaiki rumahku ini? Ada beberapa bagian dari rumah ini yang perlu perbaikan dari orang yang lebih ahli," kataku sambil melihat-lihat bagian rumah yang perlu diperbaiki seperti beberapa lubang di dinding, lantai kayu yang berantakan, atap yang bocor dan lainnya.
"Ya, tentu saja! Sebagai salam perkenalan aku akan memperbaiki semua rumah penduduk di pulau ini dan memasang saluran telepon di setiap rumah penduduk."
"Kau akan memasang saluran telepon juga?"
"Ya! Tenang saja, bila aku mulai bekerja sekarang, aku yakin sore nanti sudah selesai semuanya."
"Terima kasih banyak Gannon!" seruku dengan menampilkan sebuah senyuman, akhirnya aku bisa menghubungi Celia! Dia pasti sangat khawatir karena aku tidak menghubunginya lebih dari 1 minggu.
"Eliza" panggil Gannon pada Eliza yang ada di sebelahnya. "Kau pergilah bermain dengan Charlie, sore nanti akan ayah jemput."
"Aku bisa pulang sendiri kok ayah, pulau ini kan tidak seluas kota tempat tinggal kita dulu," kata Eliza, dia tampak sedikit kesal.
"Baiklah…" kata Gannon dengan kepala yang tertunduk kembali. " Oh, aku juga telah merobohkan batu yang menghalangi jalan ke sebelah timur pulau, kau bisa melewatinya sekarang. Dan aku tinggal tepat di seberang toko Chen, datanglah kapan saja! Nah, sekarang aku akan mulai bekerja," kata Gannon sambil membalikkan badannya dan berjalan menuju bagian samping rumahku.
"Aku juga akan ke tempat Charlie, sampai jumpa nanti kak!" seru Eliza sambil berlari ke arah selatan, tempat rumah Taro, Chen, dan Gannon berada.
"Hmm… Kalau begitu aku juga akan mulai bekerja!"
Aku melangkah keluar dari rumah kecilku dan berjalan menuju ladang yang sudah kutanami turnip. Kulihat beberapa lembar daun berwarna hijau segar sudah mencuat keluar, dari ceramah yang diberikan Taro dan bantuan Noe, kusimpulkan turnip ini sudah bisa dipanen. Kuletakkan sebagian turnipku di shipment box yang terletak tidak jauh dari rumah. Lalu melanjutkan pekerjaan, menyirami tanaman, menanam 2 petak potato di lahan bekas turnip tadi, dan membelah ranting-ranting kecil yang tersebar di ladangku. Tidak banyak kayu yang dapat kukumpulkan karena staminaku tidak begitu besar, tetapi setidaknya sedikit demi sedikit aku dapat mengumpulkan jumlah yang cukup untuk memperbesar rumahku. Untunglah Gannon datang ke pulau ini.
~*.-*-.*~
Waktu berjalan begitu cepat bila kau menikmatinya, tidak terasa aku telah bekerja hingga tengah hari. Gannon juga tampak masih bekerja dengan rajin memperbaiki rumahku. Hmm… Kuputuskan untuk pergi berbelanja di toko Chen sekaligus membagikan hasil panenku pada penduduk lainnya.
Saat sedang berjalan menuju toko Chen, aku melihat Charlie dan Eliza sedang bermain bersama di depan toko lalu mereka berjalan bergandengan tangan menuju pantai. Aku berdecak kagum, anak sekarang agresif sekali ya? Atau lebih tepatnya Eliza yang agresif karena dia yang menarik Charlie menuju pantai? Ah, mungkin pikiranku saja yang terlalu berlebihan. Untuk anak kecil saling bergandengan tangan tentu bukan masalah besar. Kulangkahkan kakiku menuju toko Chen, memberikan beberapa buah turnip padanya dan membeli beberapa bibit potato serta turnip.
Hari masih panjang, selesai berbelanja aku berjalan menuju pantai, mengumpulkan beberapa herb yang tumbuh di pesisir pantai dan rumput laut yang tumbuh di sebuah batu besar di pantai. Setelah menaruh semuanya di shipment box di sebelah rumah Taro, aku masuk ke dalam rumah Taro, memberikan beberapa buah turnip pada Felicia.
"Hai," sapa Natalie saat aku menyerahkan turnip yang kubawa pada Felicia.
"Selamat siang, Natalie," sapaku
"Kau datang tepat waktu, Elliot baru saja selesai memasak makan siang. Duduklah di meja makan, aku mau memanggil kakek dulu," katanya sambil mengarah pada meja makan di mana Elliot dan Felicia sedang membereskan peralatan makan. Lalu Natalie beranjak keluar dari rumahnya.
Aku berjalan menuju meja makan, sudah seminggu lebih ini aku melewati saat-saat makan bersama dengan keluarga Taro. Mengingatkanku pada saat-saat dulu anggota keluargaku berkumpul bersama, dari hal yang sederhana seperti saat kami berkumpul di meja makan, menonton televisi, hingga saat ayah meluangkan waktu liburnya untuk pergi bersama ke taman bermain, kebun binatang dan terkadang piknik.
"Chelsea, kau tidak apa-apa?" suara Elliot menyadarkanku, ternyata tanpa sadar setetes air mata telah mengalir keluar dari pelupuk mataku.
"Ah, ini, tidak. Aku tidak apa-apa kok, hanya sedikit mengantuk," kataku sambil menghapus air mata yang keluar tadi.
BRAKK
"Makan siang sudah siap?" suara Taro terdengar dari arah pintu depan. Seperti biasa, suaranya kencang sekali.
"Sudah, ayah. Duduklah, makan siang hari ini omelet rice, miso eggplant, dan chop suey."
Setelahnya makan siang kami berlangsung dengan damai. Taro berceloteh ria tentang masa-masa jayanya dulu sebagai seorang peternak terhebat. Sedangkan kami dengan tenang mendengarkan cerita tentang 'The Great Rancher' aku sudah cukup terbiasa dengan kebiasaan Taro. Suasana di meja makan ini jarang sekali dapat kurasakan setelah kepergian ayah dan ibu, paman dan bibi yang merawatku keduanya sangatlah sibuk. Tidak jarang aku menemukan makanan di atas meja dengan secarik kertas yang berisikan pesan dari paman maupun bibi saat aku pulang dari sekolah.
~*.-*-.*~
Selesai makan siang, aku berpamitan dengan Taro dan keluarganya dan berjalan keluar dari rumah itu. Saat aku berada di luar, aku melihat sebuah jalan menuju sebelah timur pulau yang tidak lagi tertutup batu besar. Seingatku tadi pagi Gannon bilang ia telah merobohkan batu itu. Hmmm… Matahari masih tetap menghiasi langit biru, walau posisinya sudah agak turun dari puncak. Pekerjaanku sudah selesai, tidak ada salahnya menjelajahi daerah baru kan?
Aku melangkahkan kakiku menuju tempat yang tadinya terhalangi itu. Setelah aku tiba di sebelah timur pulau, berbagai rerumputan, bunga, dan pohon menghiasi sekitar daerah itu. Daerah ini sangat luas, mungkin sekitar 2 kali lipat besar daerah pulau yang sekarang ditinggali Taro dan lainnya. Persamaan tempat ini dengan daerah sebelumnya yaitu beberapa bangunan terbengkalai yang tercecer dimana-mana, juga sebuah sumur yang terletak di tengah-tengah daerah ini.
Aku berjalan mengikuti jalan setapak yang ada. Ternyata di sebelah timur lagi dari daerah ini masih ada tempat lain. Kelihatannya seperti padang rumput, aku tidak bisa pergi ke padang rumput itu karena terhalang oleh sebuah sungai yang cukup lebar. Perlu sebuah jembatan untuk dapat pergi ke seberang sana, mungkin Gannon bisa membuatnya.
Perjalanan kulanjutkan, kini aku berjalan menuju arah utara. Sungai besar tadi juga berasal dari arah utara pulau, dan kembali menghalangi jalan menuju tempat di sebelah utara lagi daerah ini. Tempat itu tampak seperti hutan, bahkan pepohonan yang ada tampak lebih lebat dari pepohonan yang ada di hutan sebelah barat pulau. Belum lagi, samar-samar aku dapat mendengar suara hewan dari seberang sana. Semoga saja tidak ada hewan buas di pulau ini…
Saat aku membalikkan badanku, tiba-tiba sebuah suara kecil memanggilku dari belakang.
"Hei!"
Aku terkejut, dan segera membalikkan badanku. "Siapa?"
"Aku adalah Harvest Sprite yang menjaga daerah ini! Namaku, Ben! Salam kenal, Chelsea!" salam makhluk yang mirip dengan Noe, hanya saja ia mengenakan baju berwarna biru dari topi, baju, dan celana.
"Ah, salam kenal, Ben. Kau tahu dari mana namaku?" kenapa dia bisa tahu namaku padahal aku belum memperkenalkan diri padanya?
"Kami, Harvest Sprite, mempunyai jaringan komunikasi tersendiri! Jadi walaupun kami terpisah-pisah, kami dapat saling berhubungan satu sama lain!" jelas Ben. "Kuharap daerah ini dapat menjadi lebih hidup seperti sedia kala! Itu tergantung pada usahamu, Chelsea!"
"Tergantung padaku? Kenapa?"
"Karena kau yang mengurus peternakan itu sekarang! Dulu, peternakan itu adalah pusat dari pulau ini. Bila kau mau menghidupkan kembali pulau ini, itu berarti mengembangkan peternakanmu itu! Jadi, berusahalah! Sampai jumpa!" setelah itu Ben menghilang dari hadapanku. Aku bahkan belum sempat mengucapkan 'sampai jumpa' padanya.
Setelah perjumpaan singkat dengan Ben, aku berjalan menuju peternakanku. Hari sudah sore, langit berwarna orange dengan beberapa garis berwarna jingga dan ungu. Tetapi matahari masih berada cukup jauh dari garis cakrawala, belum menunjukkan tanda-tanda ia akan terbenam. Saat berjalan melewati rumah Taro, aku kembali melihat Charlie dan Eliza sedang bermain-main di depan rumah Chen. Mereka tampak sangat senang, terutama Charlie. Dia pasti kesepian bermain seorang diri sejak dia pindah ke pulau ini. Bila pulau ini sudah lebih banyak penduduknya, pasti teman bermain mereka akan bertambah. Aku teringat kembali akan kata-kata Ben, bila peternakanku menjadi lebih besar, maka akan semakin banyak orang yang datang ke pulau ini.
"Ya, aku akan berusaha!" seruku pada diriku sendiri. Dengan semangat yang kembali mengebu-gebu, aku melanjutkan perjalananku.
~*.-*-.*~
Saat aku tiba di peternakan, kulihat Gannon baru saja turun dari atap rumahku dengan menggunakan sebuah tangga lipat.
"Gannon, kau sudah selesai?" tanyaku melihat Gannon sedang membereskan peralatannya.
"Hey, Chelsea! Semua sudah beres! Rumahmu sudah kubetulkan dan aku juga sudah memasang telepon di rumahmu, kau bisa menggunakannya sekarang," katanya sambil tersenyum.
Aku tertegun. Semua? Dalam waktu tidak sampai 12 jam? "Terima kasih banyak, Gannon!" kataku sambil membungkukkan tubuhku. "Oh iya, ini untukmu," aku mengeluarkan beberapa turnip yang masih ada di dalam ranselku dan memberikannya pada Gannon. "Anggaplah sebagai ucapan selamat atas kepindahanmu dan terima kasih atas bantuannya," kataku sambil tersenyum.
"Terima kasih juga, Chelsea. Baiklah, aku pulang sekarang," kata Gannon sambil mengambil tas peralatannya dan berjalan menuju pintu keluar peternakan.
"Sampai jumpa lagi, Gannon!" seruku sambil melambaikan tangan pada Gannon.
"Ya!"
Setelah Gannon menghilang dari pandangan, aku membalikkan badan dan berjalan menuju rumahku yang telah diperbaiki. Semua lubang, lantai yang terkelupas, atap yang bocor, sudah tidak ada! Aku mengamati rumahku dari ujung hingga ujung satunya, dan mataku tertuju pada benda berwarna hitam di atas sebuah meja kecil di dekat ranjang. Sebuah telepon! Dengan segera, aku menuju mengangkat telepon itu dan menekan sederet nomor.
TRRR….TRRR…TRRR..
Tersambung! Benar-benar tersambung!
"Halo. Perkebunan Vesta disini, ada yang bisa kami bantu?" terdengar suara wanita yang sangat aku kenal dari seberang sana.
"Celia!" seruku.
"Ka-kakak?" kedengarannya dia terkejut. Wajar saja, sudah seminggu lebih aku tidak menghubunginya.
"Iya, ini aku, Chelsea. Maaf aku baru bisa menghubungimu sekarang, banyak hal yang terjadi di tahun baru ini," aku pun mulai menceritakan seluruh kejadian yang bisa kuingat dari kapal yang kutumpangi, terdampar di pulau, orang-orang yang datang ke pulau, semuanya.
~*.-*-.*~
"Jadi… Kakak sekarang mengurus peternakan di pulau itu? Kakak berarti tidak jadi kemari?"
"Mmm… Memang awalnya aku ingin berkerja bersamamu di perkebunan Bibi Vesta, tetapi sekarang aku mengemban tugas di pulau ini. Aku akan menghidupkan kembali pulau ini, menanam lebih banyak tanaman, memelihara hewan-hewan ternak, dan lainnya! Dengan begitu orang-orang akan berdatangan kemari. Lagipula, aku tidak bisa meninggalkan pulau ini dan orang-orang yang telah pindah kemari begitu saja. Mungkin bila aku mempunyai waktu luang, aku akan pergi ke tempatmu."
"Baiklah, aku akan memberitahu Bibi Vesta. Semua orang khawatir karena tidak ada kabar dari kakak, bahkan beberapa hari yang lalu ada kabar bahwa kapal yang kakak tumpangi ternggelam karena badai…" suaranya terdengar lirih, seperti mau menangis.
"Maaf, Celia… Sampaikan maafku pada yang lain ya?"
"Iya, tentu saja!" aku tidak dapat melihat wajahnya saat ini, tapi aku yakin dia sedang tersenyum sekarang. "Kak, apa-"
PRANG!
Suara Celia tertimbun dengan suara kencang lainnya, kedengarannya seperti suara sesuatu yang pecah. "Halo? Celia? Ada apa?" hampir tidak terdengar apa-apa dari seberang sana, tetapi ada sedikit suara yang dapat kutangkap.
"Ma-maaf! Aku tidak sengaja! Sungguh!"
"Gawat... Ini kan-… ke-…Bi-… ta…"
CEKLEK
"Bi-Bibi!"
"Hm? A-… Cel.. dan… li-…takut-… tu?"
"Ves-… maaf… aku…"
Uukh… Tidak terdengar… Suaranya terlu kecil… Tapi aku yakin tadi ada suara Bibi Vesta dan seorang pria! Apa yang terjadi sih? Kenapa lama sekali?
"Ya… ti-… apa.... nang… bi-… ju-..."
"Terima kasih, Vesta!"
"Teri-… Bi-..."
" Ngo-… Celia. Kau… me-… orang?"
"Ah!"
Tap.. Tap.. Tap..
Terdengar suara seperti seseorang sedang berlari, mendekati telepon.
"Halo? Kakak, maaf!"
"Ah, akhirnya. Memang apa yang terjadi?"
"Tadi-"
BZZZTT
…
…
…
Tunggu! Kenapa tidak ada suara apa-apa? Aku memeriksa kabel telepon yang terpasang di diding barat rumahku. "Tidak putus."
Kucoba untuk menutup gagang telepon yang kupegang dan mengangkatnya lagi.
…
"Tidak ada suara."
Kuangkat telepon berwarna hitam kelam itu dan mencoba mengoyang-goyangkannya dan mengangkatnya lagi.
…
"Tetap tidak ada suara!"
Kututup gagang telepon itu dan memijat dahiku. Lalu menghela napas panjang, mencoba untuk tenang. Hingga sebuah ide terlintas dalam otakku, aku berlari keluar dari rumah menuju rumah Gannon.
BRAK
"Gannon!" seruku.
"Ya?" kata Gannon, terkejut. "Ada apa, Chelsea? Kau perlu sesuatu?"
"Telepon di rumahku tiba-tiba tidak ada suaranya! Padahal aku sedang berbicara dengan adikku yang ada di Forget-Me-Not-Valley! Apa kau bisa memperbaikinya?"
"Hmm… Akan kuambil dulu peralatanku, setelah ini kita ke rumahmu."
"Terima kasih banyak, Gannon!"
~*.-*-.*~
Setelah Gannon mengambil peralatan yang dibutuhkannya, kami berjalan menuju rumahku. Gannon memeriksa telepon yang baru saja dipasangnya siang hari ini.
"Hmm… Teleponmu tidak apa-apa. Mungkin…" Gannon lalu berjalan keluar dari rumahku. Aku mengikutinya dari belakang.
"Mungkin apa?"
"Hmm… Akan kuperiksa dulu sebentar," lalu Gannon kembali ke rumahnya, mengangkat telepon miliknya yang terletak tidak jauh dari pintu masuk dan menutupnya kembali. "Sepertinya benar dugaanku, ada masalah pada pemancarnya."
"Pemancar?"
"Tiang besar yang baru kubangun tidak jauh dari rumah Taro, itu sebagai pemancar gelombang. Coba kulihat di mana kerusakannya," Gannon kembali keluar dari rumahnya dan berjalan menuju rumah Taro.
Aku tidak menyadari ada tiang ini sebelumnya, ukurannya memang tidak sebesar yang ada di kota tetapi bentuknya mirip. Gannon memanjat ke atas tiang itu dan mulai memeriksanya. Tidak berapa lama, ia turun dan menghela napas panjang.
"Ada apa, Gannon? Tidak bisa diperbaiki?"
"Ya. Ternyata kabel yang kugunakan terputus, mungkin berbebihan muatan."
Aku memiringkan kepalaku, tidak mengerti apa yang dimaksud Gannon dengan berlebihan muatan. "Mmm… Jadi bagaimana? Kau tidak punya kabel cadangan untuk menggantikannya?"
"Sialnya, ya. Kabel yang kuperlukan untuk menggantikannya sudah habis, yang ini adalah yang terakhir yang kupunya. Mungkin aku bisa meminta Chen untuk memesannya dari kota."
"Kira-kira akan memakan waktu berapa hari?"
"Tergantung. Kapal hanya datang ke pulau ini hari Rabu dan Jumat, jadi 3 hari lagi Chen baru bisa memesan stok barang yang diperlukan. Dan kemungkinan paling cepat hari Jumat kita mendapat barangnya."
"Uh.. Baiklah… Kuharap Celia tidak berpikir yang tidak-tidak dengan kejadian tadi…" kataku dengan suara kecil. "Umm… terima kasih lagi, Gannon."
"Ya, tidak apa-apa. Aku akan memberitahukan hal ini pada penduduk yang lainnya. Sampai nanti, Chelsea."
"Ya, sampai nanti, Gannon."
Aku kembali menghela napas panjang, dan berjalan menuju rumahku. Telepon yang baru saja dipasang itu sekarang tidak lebih dari sebuah hiasan saja, hingga dapat digunakan kembali tentunya. Aku menyeret badanku menuju ranjang, dan menjatuhkan tubuhku begitu saja. Hari ini lebih melelahkan dari biasanya… Dan aku harus bersabar hingga hari Jumat nanti untuk dapat menghubungi Celia lagi… Berbagai hal memenuhi kepalaku, dan aku tertidur dengan posisi yang sama.
-Chapter 2- End
Mmm… Menu makan siangnya saya ngasal, ngak tau itu cocok buat dimakan bareng-bareng atau ngak.. Yang pasti saya nyari yang bahan dasarnya sayuran.
Tentang Gannon, dia itu tukang kayu paling sakti di game, tiap dikasih pekerjaan besok paginya udah slese T_T dan saya emang ngak ngerti sistem saluran telepon tu kyk gimana, anggap aja Gannon bikin tiang pemancarnya (perlu pemancar kyk radio gt kan?) sehari jadi. Masalah biaya juga kurang ngerti… Dan saya juga ngak ngerti kenapa bisa putus gitu. Intinya, anggap aja semua permasalahan dengan telepon yang saya tulis ini benar! Masalah ngak penting! Ngak usah diurusin! Cuekin aja! Pokoknya saya butuh asalan supaya tuh percakapan Chelsea n Celia keputus di tengah jalan! (author ngak bertanggung jawab)
Apa percakapan di teleponnya dapat dimengerti? Waktu ada gangguan itu, kan Celia menjauh dari telepon, jadi suara yang terdengar Cuma sedikit-sedikit. Dan suara yang kecil ngak kedengaran, Cuma beberapa kata yang ada penekanan dan yang memang dibunyikan dengan kencang yang terdengar. Dan yang maen HM DS mungkin udah pada tau itu event apa. Saya mengubah sedikit heart event nya Celia, jadi yang ngeganggu itu si ####.
OOT~ ada yang pernah main HM: Sunshine Island? Mirip2 sama IoH, tapi byk penambahannya dan lagi bachelor n bachelortessnya nambah 1! XD pengen bgt main~ apalagi pas lebih mengenal bachelor baru di SI XD pangeran berkuda putih lho! Lengkap dengan rambut pirang, mata biru, n perilakunya yg gentleman! Pengen main~ pengen main~ tapi ntar yang IoH terlantar… Huhuhu…
Yok, diripiew. Diflame juga gpp, saya lagi kedinginan di sini.
