Maaf update lama! DX jiwa author saya lagi merantau entah kemana di tengah2 pembuatan chapter ini dan karena udah libur jadi saya lebih tergoda buat main game… *dikeroyok reader*

Buat review, mulai chapter ini karena cuma byk2in words di chapter jadinya saya reply satu2 aja deh. Habis, kayaknya review reply saya panjang2 dan byk yang ngak penting, mana A/N juga lama2 tambah byk. Wkwkwk. Eh iya, klo ada yang ngak log-in dan saya ngak kenal ID nya baru tak taruh di sini. Trus klo ada pertanyaan2 yang mungkin perlu diberitahukan ke semua reader (padahal ngak semua mau tahu juga) juga saya taruh di sini deh. Klo ada yang ngak dapet review-replynya entah karena FFN error atau saya lupa (biasanya lupa) tolong kasih tahu ya ^^; kebiasaan menghapus email yang udah dibaca dan review alert banyak yang kehapus, jadinya saya ngak tahu reviewnya udah dibales atau ngak.

Buat pair, ada 2 pilihan. Si A dan si B -plak- lihat2 entar aja buat pair -.-;

Udah diedit sebisanya. Mungkin masih ada lagi?

Harvest Moon punya siapapun yang ngebuat dan itu bukan punya saya :( saya cuma memerintah chara2 pinjaman ini untuk menjalani aktifitas di luar kemauan mereka.

--=Relief=--

~*.-*-.*~

-=13 Spring=-

Hari Rabu kemarin, Felicia telah memesan kabel untuk pemancar telepon yang Gannon butuhkan. Bila semua berjalan lancar, hari ini barangnya akan kami terima! Keluarga Taro memutuskan untuk mengurus segala pengiriman barang ke luar maupun ke dalam Sunny Island. Ya, nama pulau ini sekarang adalah Sunny Island. Taro yang memutuskannya dan nama itu diambil dari nama peternakanku.

Sekarang aku sedang memancing di dermaga, setelah selesai mengurus ladang tentunya. Beberapa hari yang lalu, Taro memberiku sebuah pancingan dan sekarang memancing menjadi salah satu caraku untuk menghabiskan waktu. Taro mengajari dasar-dasar yang kuperlukan tetapi sejauh ini yang berhasil kutangkap hanya kaleng kosong, sepatu boot yang sudah rusak, botol kosong, tulang ikan, dan sampah-sampah lainnya. Sering membuat frustasi, memang. Terkadang aku menangkap ikan juga walau frekuensinya tidak sebanding dengan sampah-sampah yang kudapat…

Pluk.

"Ah!" Pancingan yang kupegang terasa tertarik, refleks aku menahannya dan berusaha untuk menarik apapun yang menyangkut di ujung kailku itu. "Hup!" kukerahkan seluruh tenagaku untuk mengeluarkan tangkapanku dari air, berharap akhirnya aku bisa mendapat ikan yang besar! Mungkin Tuna? Mahi-Mahi? Atau setidaknya Longtooth Grooper?

Ya… kenyataan dan harapan memang sulit bekerja sama. "Haah…" aku menghembuskan napas panjang, dan menaruh kantung plastik hasil tangkapanku ke tumpukan sampah lainnya yang sudah kutangkap. "Setidaknya ini membantu untuk membersihkan laut…" ucapku, mencoba untuk menghibur diri.

BOOOOONNNGGG… BOOOOOONNNGGG...

"Huh?" sebuah suara yang luar biasa besar datang dari arah laut. "Kapal kargo!" seruku, menyadari kapal itu adalah kapal yang kutunggu-tunggu sedari pagi!

Aku segera membereskan peralatan memancingku, menaruh semua sampah yang kudapat di tempat sampah dekat bangunan kecil di pantai, mengumpulkan ikan-ikan hasil tangkapanku dalam jaring dan menyimpan botol-botol kosong yang kutangkap karena masih bisa digunakan, sayang bila kubuang begitu saja.

"Turunkan jangkar!" seru seorang awak kapal. Kapal itu perlahan mendekati dermaga dan berhenti tepat sebelum menabrak dermaga kayu itu.

Tangga diturunkan, dan beberapa awak kapal mulai menurunkan barang-barang. Di antaranya ada dua orang wanita yang juga ikut menurunkan barang-barang, mereka tidak tampak seperti awak kapal, mungkin menumpang? Untuk apa mereka menumpang kapal kargo untuk datang ke pulau ini? Apa mereka berniat untuk pindah ke sini?

Mataku bertemu pandang dengan salah seorangnya, seorang wanita bertubuh bulat dengan baju oranye lengan panjang yang digulungnya hingga siku, onepiece berwarna biru tua melapisi baju orangenya dan ia mengenakan sepatu berwarna hitam. Rambut pendeknya berwarna pirang kecoklatan dan matanya berwarna biru jernih. Ia melambaikan tangan lalu berjalan ke arahku.

"Selamat siang!" sapanya dengan seulas senyuman hangat.

"Selamat siang," balasku, mengembalikan senyuman yang ia berikan.

"Apa kau yang bernama Chelsea?"

"Huh?" dari mana wanita ini tahu namaku? "Ya, namaku Chelsea. Maaf, anda tahu dari mana tentang namaku?"

"Aku mengetahuinya dari Felicia. Beberapa hari yang lalu, kami bertemu di kota dan ia menceritakan tentang pulau ini. Sunny Island, kan? Ia menceritakan tentang kau, peternak yang mengurus sebuah peternakan yang terlantar, keluarganya yang memulai bisnis pengiriman, Chen yang membuka toko serba ada, dan Gannon yang seorang tukang kayu. Kami kemudian memutuskan untuk pindah ke pulau ini dan membuka usahaku di sini. Panggil saja aku Mirabelle," jelasnya, diakhiri dengan sebuah senyuman lebar yang menghiasi wajahnya.

"Salam kenal, Mirabelle. Umm.. kami?"

"Oh, sebentar," ia seperti teringat akan sesuatu dan membalikkan badannya, menghadap kapal kargo itu. "Julia! Kemarilah!" seru Mirabelle.

"Ya! Ini yang terakhir!" jawab wanita satunya yang kulihat tadi. Ia terlihat lebih muda dari Mirabelle. Dan jujur saja, ia memiliki bentuk badan yang bagus, tidak dapat dibandingkan denganku… Ia mengenakan baju pendek berwarna putih, kemeja biru muda yang ia ikat di bawah dadanya, hot pants berwarna biru tua dan sepasang sepatu boot panjang berwarna putih. Umm… apa ada istilah cowgirl?

"Semua barang sudah diturunkan, Ibu. Katanya para pelaut itu yang akan mengantarkannya," setelah ia mendekat, aku baru dapat melihat warna rambut dan matanya, warnanya sama seperti Mirabelle, hanya saja rambutnya lebih panjang dan diikat pony tail di atas kepala.

"Oh, terima kasih. Nah, Julia, ini Chelsea, peternak di pulau ini," jelasnya sambil mengarahkan tangannya padaku.

"Salam kenal, Chelsea," sapanya sambil mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dan memberikan seulas senyuman hangat.

Aku membalas senyumannya dan meraih tangan yang ia julurkan. "Salam kenal, Julia."

"Hoi!" terdengar seseorang memanggil dari arah West Town, daerah yang berhubungan dengan pantai, tempat Taro, Chen, dan Gannon tinggal. Sesosok bertubuh besar yang langsung kukenali sebagai Gannon, berlari kecil ke arah kami. "Apa kau Mirabelle?" tanyanya pada wanita yang lebih tua.

"Ya, aku Mirabelle. Kudengar, kau yang akan membangun rumahku dan barn untuk ternakku? Gannon, kan?"

"Ya, ma'am. Aku baru saja menyelesaikan rumahmu. Untuk membangun barn, aku perlu sedikit waktu lagi, apa tidak apa-apa? Aku segera ke sini saat mendengar suara kapal."

"Tidak, tidak apa-apa," jawab Mirabelle sambil mengayun-ayunkan tangan di depan mukanya. "Hewan-hewan ternak kami memang belum sampai, yang hari ini datang baru kami berdua saja."

Sementara Gannon dan Mirabelle berbincang-bincang, kedua saudara berambut peach, Elliot dan Natalie muncul. "Yo! Chelsea!" panggil Natalie.

"Hai, Natalie! Mengurus kiriman?"

Natalie berjalan ke arahku sementara Elliot melambaikan tangannya dan memberi isyarat bahwa ia akan mengurus barang-barang terlebih dahulu.

"Yah, bisa dibilang seperti itu," Natalie kemudian memperhatikan Julia dari atas ke bawah, matanya lalu beralih pada Mirabelle yang sedang berbicara dengan Gannon. "Hm, kalian yang akan menjual hewan ternak di sebelah rumah kami ya?" tanyanya pada Julia.

"Ya, salam kenal, Natalie. Namaku Julia," jawab Julia sambil mengulurkan tangannya dan kembali memberikan seulas senyuman hangat.

"Ya," jawab Natalie sambil meraih tangan Julia. "Aku harus membantu kakakku, maaf tidak bisa lama-lama tapi dia tidak bisa dibiarkan bekerja sendiri. Bye, Chels! Julia!" Natalie lalu berlari kecil menuju kapal kargo, menghampiri kakaknya yang sedang berbincang dengan seorang awak kapal. Tampaknya Elliot lagi-lagi melakukan sesuatu yang membuat Natalie kesal, karena ia baru saja menerima sebuah pukulan di kepalanya… tabah ya, Elliot.

"Siapa pria berambut peach itu, Chelsea?" tanya Julia, memecah pikiranku atas kemalangan Elliot di depan mata.

"Ah, namanya Elliot, kakak Natalie. Keluarga mereka membuka usaha pengiriman, mereka yang mengurus barang-barang yang datang ke pulau ini, mereka juga yang mengurus hasil panenku dan hasil ternak bila nanti aku mempunyai hewan ternak."

"Oh." Julia tampak tertarik dengan kedua saudara itu, atau lebih tepat tertarik pada yang pria.

"Julia."

"Ya?"

"Kalian menjual hewan ternak?"

"Ya, karena sebagai seorang peternak, kau tentu akan merawat beberapa hewan ternak, bukan? Kami menjual ayam, sapi, dan domba, juga makanannya dan alat-alat yang kaubutuhkan untuk merawat mereka," jelas Julia.

"Hmm…" aku melipat kedua tanganku di atas dada, "Tapi aku belum membangun chicken coop maupun barn…" ucapku lirih. Hasil penjualan tanamanku memang cukup banyak… Tapi untuk membangun chicken coop… sigh… Karena tidak mengira akan ada orang yang menjual hewan ternak datang ke pulau ini, hampir semua uangku dialihkan untuk membeli bibit tanaman.

"Tenang saja. Kau kan baru memulai, jalani saja dulu secara perlahan."

"Mm… Ya, terima kasih, Julia."

"Julia," panggil Mirabelle.

"Ya, Ibu?"

"Ayo, kita harus membereskan rumah baru kita."

"Ah, baiklah. Sampai jumpa, Chelsea," Julia dan Mirabelle berjalan menuju West Town sambil melambaikan tangan padaku, dan aku membalas lambaian tangan mereka.

"Sampai jumpa!" mataku kemudian berusaha mencari sesuatu yang kurang. Rasanya tadi ada satu orang lagi… Gannon! Di mana dia?

"Mencari sesuatu, Chelsea?" terdengar suara Gannon dari belakang tubuhku, aku memutar badan dan menghadapnya.

"Whoa!"

"Hm? Kau kenapa?"

"A-a… tidak, tidak apa-apa kok. Ahahaha," kataku sambil tertawa. Mana mungkin aku bilang kalau tadi aku terkejut melihat sosoknya yang begitu besar dengan tampangnya yang seram itu berada tepat di belakangku? Tambah lagi, matahari berada tepat di belakang Gannon dan membuat tampangnya yang menghadap padaku tertutup bayangan.

Gannon tampak kebingungan dengan reaksiku, lalu ia kembali melanjutkan, "Aku sudah mendapat kabelnya, akan segera kupasang di pemancar. Mungkin nanti malam sudah selesai."

"Baiklah, hati-hati ya, Gannon,"

"Ya, tenang saja!" lalu Gannon melangkah menuju West Town, meninggalkanku bersama kapal kargo beserta beberapa awaknya dan hasil tangkapanku pagi itu di pantai. Ah, juga Natalie dan Elliot walau saat ini mereka sedang mengangkut kardus-kardus berisi entah-apapun-itu menuju West Town.

Aku mengangkut ikan-ikan yang berhasil kutangkap, ada sekitar 7 ikan kecil dan 2 ikan berukuran sedang. Setelah menaruh semuanya di dalam shipping bin di dekat rumah Taro, aku memutuskan untuk mengumpulkan herb dan benda-benda lain yang dapat dijual. East Town atau daerah yang tidak maupun belum berpenghuni di sebelah timur West Town, memiliki banyak tumbuhan liar yang berserakan di mana-mana. Ya, setiap kali aku mengambilnya, saat aku datang kembali mereka sudah tumbuh lagi. Entah itu rumput liar, beragam warna herb, bunga liar, bahkan kerikil dan ranting kayu kembali muncul di mana-mana.

~*.-*-.*~

"Fyuh," aku menyeka beberapa butir keringat yang mengalir keluar dari tubuhku. Tidak kusangka, hari ini cukup banyak herb dan bunga yang tumbuh. Bahkan tadi aku menemui beberapa buah berry liar berserakan di sekitar sungai dan semak-semak.

Setelah menaruh semua hasil 'buruan'ku di shipping bin, Charlie datang dan menyampaikan pesan dari ayahnya untuk makan malam bersama di rumahnya hari ini. Tentu aku menerimanya dengan senang hati! Aku tidak mempunyai fasilitas untuk memasak, dan selama ini aku menumpang makan entah di rumah Taro, terkadang Chen maupun Gannon juga mengajakku untuk makan malam bersama keluarga mereka. Tidak menutup kemungkinan suatu hari aku akan makan bersama di rumah Mirabelle juga. Satu hal yang paling menyenangkan bila berada dalam komunitas yang kecil, keakraban dapat dijalin dengan lebih mudah.

Makan malam hari ini adalah egg soup, steamed turnip, dan doria, buatan Chen ditambah stew dari Gannon. Bahkan Gannon membuatkan kami pudding untuk dessert! Siapa sangka Gannon ternyata seorang koki yang handal? Gannon juga telah memberitahuku bahwa pekerjaannya sudah selesai. Aku sudah dapat menghubungi Celia kembali dan semoga saja tidak ada masalah lagi.

Aku melangkahkan kaki menuju peternakanku. Memasuki rumah, dan segera beranjak menuju tempat telepon hitamku diletakkan. Sederet nomor kutekan dengan cepat. Aku sangat tidak sabar menunggu suara adikku di seberang sana.

TRRR… TRRR… TRRR…

"Selamat malam, di sini perkebunan Vesta. Maaf, tapi kami sudah tutup bila Anda ingin memesan sesuatu-" kali ini suara pria yang terdengar dari seberang telepon.

"Marlin?" tanyaku, sedikit tidak yakin karena sudah lama aku tidak mendengar suaranya.

"Hm? Ya, saya Marlin. Maaf, ini siapa?"

"Ini aku, Chelsea! Apa kabar?"

"Oh. Aku baik-baik saja. Apa kau mau berbicara dengan Celia? Sejak telepon terakhirmu itu dia sangat khawatir akan keadaanmu."

"Ah, iya. Tolong panggilkan Celia, ya."

"Sebentar."

Hening… hanya terdengar sedikit suara langkah Marlin.

Tap. Tap. Tap.

Suara langkah yang sepertinya sangat terburu-buru terdengar dari seberang telepon. Bisa kubayangkan Celia segera berlari turun dari kamarnya menuju lantai bawah.

"Kakak?"

"Hai, Celia. Maaf yang kemarin, ada sedikit gangguan di sini."

Aku kemudian menjelaskan tentang kabel telepon yang rusak itu. Celia mendengarkan dengan tenang. Selesai bercerita, aku menunggu Celia memberi respon.

"Celia?" tidak terdengar suara apa-apa dari seberang. Apa kabelnya rusak lagi?

"A-" oh, ternyata kabelnya tidak putus. "A-aku takut ada sesuatu yang buruk terjadi pada Kakak. Syukurlah Kakak tidak apa-apa…" nada suaranya terdengar lega.

"Ya, justru aku khawatir padamu."

"Huh? Khawatir kenapa?"

"Terakhir menelpon, ada suara barang pecah dan ada ribut-ribut dan lagi teleponnya terputus sebelum kau sempat menjelaskan apa-apa. Aku pikir ada pencuri atau semacamnya datang."

Celia tertawa kecil mendengar akhir kalimatku tadi. "Tidak, bukan pencuri kok. Kemarin Jack tidak sengaja memecahkan vas bunga Bibi Vesta, dan tiba-tiba Bibi Vesta datang. Jack mengaku kalu dia memecahkan vas bunga dan Bibi Vesta memaafkannya. Dan saat aku mau menjelaskan ke Kakak, telepon terputus."

"Umm… Jack?" sepanjang penjelasan singkat Celia tadi nama itu menarik perhatianku. "Apa di Forget-Me-Not Valley ada orang yang bernama 'Jack'?"

"Ah, aku lupa Kakak belum tahu tentang Jack. Dia seorang peternak, dia mengurus peternakan di Forget-Me-Not Valley ini."

"Eh? Rasanya nama orang yang mengurus peternakan itu bukan 'Jack'?"

"Dia peternak baru. Orang yang sebelumnya mengurus peternakan itu adalah ayahnya dan peternakan itu diwariskan pada Jack," jelas Celia.

"Mm-hmm… Lalu?"

"Lalu apa?"

"Apa… ada perasaan khusus?" tanyaku dengan nada menggoda.

"E-eh?" wajahnya saat ini pasti memerah.

"Apa? Benar ada perasaan khusus ya?" tanyaku lagi sambil tertawa kecil.

"Ti-tidak kok! Tidak ada apa-apa!"

"Pff.. Ahahahaha," tawaku tidak bisa ditahan lagi mendengar jawaban panik dari Celia. Firasatku mengatakan ada sesuatu di antara mereka berdua atau setidaknya dalam diri Celia.

Sisa percakapan kami setelah aku puas tertawa adalah tentang peternakanku. Aku memberitahukan Celia perkembangan ladang dan juga orang-orang yang datang ke pulau hari ini. Celia juga bercerita tentang orang-orang yang ada di desa itu. Entah ia sadar atau tidak, aku mendengar nama Jack disebutkan lebih dari 5 kali. Memutuskan aku sudah cukup menggodanya, hal itu tidak jadi kuberitahukan.

Bebanku berhari-hari ini sudah lepas. Sekarang aku bisa fokus pada peternakan kecilku ini. Aku tidur dengan lelap tidak lupa mengucapkan terima kasih pada Harvest Goddess atas hari ini juga berharap hari esok dapat berjalan dengan baik.

-Chapter 3- End

Err… suara kapal itu kayak gmn ya? Di bayangan saya sih "BOOOONNGG BOOOONNNGG" gitu, mohon jangan dibaca bo'ong -_-; artinya jadi beda.

Saya lupa apa yang dipecahin sama Jack waktu heart event Celia. Karena dia masuk dari pintu depan, jadi vas aja deh :P ceritanya kesenggol atau apapun yang penting pecah! *dihajar Vesta*

Ah, maaf lagi2 bachelornya kegeser karena saya nulis banyak hal ngak penting di chapter ini. Chapter depan pasti saya tebus kok! Janji! Menurut rencana chapter depan bachelornya bakal muncul tapi masalahnya yang 'jadi' di otak baru bagian pertemuan sisa harinya Chelsea ngapain itu belum kepikiran… Kayaknya update lama nih. Mohon tunggu ya? :)

Yosh2, angkat tangan yang belum dibales reviewnya! N, jangan lupa review chapter ini ya! :D